Ranggon Kopling Al Akwan Dzikir wa Ta'lim

Ranggon Kopling Al Akwan Dzikir wa Ta'lim Media Silaturahim, Dzikir dan Ta'lim Abna'as Syaikh Ath Thoriqoh Asy Syadziliyah Al 'Uluwiyyah...

malam ini.ayo hadir ❤️❤️
29/11/2025

malam ini.
ayo hadir ❤️❤️

27/10/2025

*"Makna Lalai dalam Shalat Kajian Surat Al-Ma‘un".*

Oleh : *Elmarwiyy*

Surat Al-Ma‘un menggambarkan satu tipe manusia yang *secara lahiriah tampak beragama*, namun sejatinya hatinya *kosong dari makna ibadah*. Surat ini menjadi cermin bagi umat Islam agar menilai bukan sekadar apakah ia shalat, tetapi bagaimana shalat itu *mengubah perilaku dan akhlaknya*.

Allah sawt berfirman:

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ (١) فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ (٢) وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ (٣) فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ (٤) الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (٥) الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ (٦) وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ (٧)

Ayat kelima menyebut:

*الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ*

_“(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.”_

Para ulama menafsirkan bahwa _“lalai dari shalat”_ tidak berarti meninggalkan shalat awal waktu, tetapi melaksanakan shalat *tanpa kesadaran*, tanpa kekhusyukan, tanpa pengaruh dalam perilaku sehari-hari.

Imam Fakhrur Rozi dalam Tafsir Al Kabir menjelaskan:

*"السَّهْوُ عَنْ الصَّلَاةِ لَا يَعْنِي تَرْكَهَا بَلِ الْغَفْلَةَ عَنْ مَقْصُودِهَا"*

_“Lalai dari shalat bukan berarti meninggalkannya, tetapi lupa dari tujuan shalat itu sendiri.”_

Meninggalkan Shalat adalah kefasiqan bahkan bisa sampai pada kekufuran.

Dengan kata lain, orang ini tetap shalat, mungkin bahkan di awal waktu, tetapi ia *tidak menegakkan* hakikat shalat, yaitu menegakkan *kesadaran kepada Allah* dan menjauhi keburukan.

Dalam fiqih Syafi‘iyyah, memang dikenal *pembagian tiga waktu shalat*:

1. *Waktu Fadhillah* (utama) – awal waktu shalat, pahala terbesar.

2. *Waktu Ikhtiyar* (pilihan) – masih dalam batas waktu utama, namun agak ditunda.

3. *Waktu Jawaz* (boleh) – sebelum keluar waktu, masih sah tetapi kurang utama.

Namun, ketiga waktu ini hanya membedakan *keutamaan pahala*, bukan menentukan *“lalai”* yang dimaksud dalam Al-Ma‘un.

Sebab, orang yang shalat di waktu jawaz pun tidak bisa disebut “lalai” jika ia *menegakkan niat* yang ben

21/10/2025
20/10/2025

cooming soon �
Al akwan present �

Cooming soon 📌Al-akwan present 🎥
20/10/2025

Cooming soon 📌
Al-akwan present 🎥

𝗔𝗱𝗮𝗯 𝗠𝗲𝗺𝗯𝘂𝗻𝗴𝗸𝘂𝗸 𝗱𝗮𝗻 𝗠𝗲𝗻𝗰𝗶𝘂𝗺 𝗧𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗞𝗶𝗮𝗶 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗣𝗲𝗿𝘀𝗽𝗲𝗸𝘁𝗶𝗳 𝗦𝘆𝗮𝗿𝗶𝗮𝘁*Oleh : *Elmarwiyy*Dalam tradisi pesantren, ada satu pem...
18/10/2025

𝗔𝗱𝗮𝗯 𝗠𝗲𝗺𝗯𝘂𝗻𝗴𝗸𝘂𝗸 𝗱𝗮𝗻 𝗠𝗲𝗻𝗰𝗶𝘂𝗺 𝗧𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗞𝗶𝗮𝗶 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗣𝗲𝗿𝘀𝗽𝗲𝗸𝘁𝗶𝗳 𝗦𝘆𝗮𝗿𝗶𝗮𝘁*

Oleh : *Elmarwiyy*

Dalam tradisi pesantren, ada satu pemandangan yang sangat akrab bagi kita, yakni 𝘀𝗮𝗻𝘁𝗿𝗶 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗻𝘂𝗵 𝘁𝗮'𝗱𝘇𝗶𝗺 𝗺𝗲𝗺𝗯𝘂𝗻𝗴𝗸𝘂𝗸 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗺𝗲𝗻𝗰𝗶𝘂𝗺 𝘁𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝘀𝗮𝗻𝗴 𝗸𝘆𝗮𝗶. Sebagian orang mungkin bertanya-tanya, 𝙖𝙥𝙖𝙠𝙖𝙝 𝙞𝙣𝙞 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙚𝙧𝙪𝙥𝙖𝙞 𝙧𝙪𝙠𝙪 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙨𝙝𝙖𝙡𝙖𝙩? 𝘼𝙥𝙖𝙠𝙖𝙝 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙙𝙞𝙠𝙝𝙖𝙬𝙖𝙩𝙞𝙧𝙠𝙖𝙣 𝙩𝙚𝙧𝙢𝙖𝙨𝙪𝙠 𝙗𝙚𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙥𝙚𝙣𝙮𝙚𝙢𝙗𝙖𝙝𝙖𝙣?

Pertanyaan seperti ini wajar muncul, terutama dari mereka yang *belum memahami akar adab dan niat* yang mendasarinya. Sebab dalam Islam, segala amal perbuatan tidak pernah lepas dari niat, sebagaimana sabda Rasulullah saw:

*إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى*

_“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.”_ (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka, jika seseorang *membungkuk dengan niat ibadah* atau penyembahan, tentu hal itu haram bahkan bisa mengarah pada syirik. Namun bila dilakukan dengan *niat penghormatan (ta‘dzim)*, sebagaimana seorang murid menghormati gurunya, maka tidak termasuk ibadah dan hukumnya boleh.

Allah swt sendiri meninggikan derajat orang-orang yang berilmu, sebagaimana firman-Nya:

*يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ*

_“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”_

Ayat ini menjadi dasar bahwa memuliakan orang berilmu adalah *bagian dari ajaran agama*, dan bentuk penghormatan yang tidak berlebihan kepada mereka justru termasuk *adab yang dianjurkan*.

Jika kita mengharamkan semua bentuk membungkuk hanya karena *menyerupai ruku dalam shalat*, maka semestinya berdiri untuk menghormati juga harus dilarang, sebab *berdiri juga merupakan gerakan yang dilakukan dalam shalat*. Namun, Rasulullah saw justru bersabda:

*قُومُوا إِلَى سَيِّدِكُمْ*

_“Berdirilah kalian untuk menghormati pemimpin kalian (Sahabat Sa‘d bin Mu‘adz).”_ (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah saw *memerintahkan sahabat untuk berdiri*, yaitu sebuah isyarat bahwa gerakan tubuh *tidak otomatis bernilai ibadah*, tetapi bergantung pada niat. Berdiri, membungkuk ringan, atau mencium tangan, bisa menjadi ibadah atau sekadar adab *tergantung kepada apa yang diniatkan*.

Imam an-Nawawi dalam Al-Majmu' Syarah Muhadzdzab menjelaskan dengan sangat indah:

*وَأَمَّا تَقْبِيلُ الْيَدِ فَإِنْ كَانَ لِدِينِهِ أَوْ لِزُهْدِهِ أَوْ لِعِلْمِهِ أَوْ لِشَرَفِهِ فَهُوَ مَحْمُودٌ، وَإِنْ كَانَ لِدُنْيَاهُ وَجَاهِهِ فَهُوَ مَذْمُومٌ*

_“Adapun mencium tangan seseorang karena agamanya, kezuhudannya, ilmunya, atau kemuliaannya maka hal itu terpuji. Tapi bila karena dunia atau kedudukannya maka tercela.”_

Dengan tegas Imam an-Nawawi *membedakan* antara niat ta‘dzim karena agama (yang terpuji) dan ta‘dzim karena dunia (yang tercela). Maka mencium tangan ulama atau kyai karena menghormati ilmu dan ketakwaannya adalah *adab yang disunnahkan*.

Demikian p**a Syaikh Abu Bakr bin Muhammad Syatho ad-Dimyathi dalam I‘anatu Thalibin menegaskan:

*وَيُكْرَهُ الرُّكُوعُ لِغَيْرِ اللَّهِ تَعَالَى، وَيَحْرُمُ إِنْ نَوَى بِهِ التَّعَبُّدَ كَمَا فِي النِّهَايَةِ*

_“Dimakruhkan rukuk (seperti shalat) kepada selain Allah Ta‘ala, dan haram bila diniatkan sebagai ibadah.”_

Pendapat ini senada dengan Imam ar-Ramli dalam Nihayatu al-Muhtaj:

*إِنْ رَكَعَ لِغَيْرِ اللَّهِ تَعَالَى تَعْظِيمًا كَانَ مَكْرُوهًا، وَإِنْ قَصَدَ بِذَلِكَ الْعِبَادَةَ حَرُمَ*

_“Jika seseorang rukuk (seperti shalat) kepada selain Allah sebagai bentuk penghormatan, maka hukumnya makruh. Tetapi jika ia meniatkannya sebagai ibadah barulah dihukumi haram.”_

Di sini tampak jelas bahwa *para ulama membedakan antara* ruku‘ ta‘dzim (penghormatan) dan ruku‘ ta‘abbud (ibadah). Yang pertama hanya *makruh tanzih*, bukan terlarang, sedangkan yang kedua *haram dan termasuk perbuatan syirik kecil*.

*Kesimp**annya...!!!*

- Membungkuk seperti ruku‘ dengan niat ibadah kepada selain Allah adalah bentuk Ibadah, maka hukumnya Haram / Syirik kecil

- Membungkuk ringan dengan niat ta‘dzim (penghormatan) adalah bentuk Adab / penghormatan, maka hukumnya Makruh tanzih (boleh dilakukan)

- Mencium tangan ulama karena ilmunya dan ketakwaannya adalah bentuk Penghormatan syar‘i, maka hukumnya Sunnah / Terpuji

Dengan demikian, *tradisi santri* yang mencium tangan kyai sambil *sedikit menunduk* bukanlah bentuk penyembahan, tetapi *manifestasi* dari *adab dan penghormatan kepada ilmu*. Ia tidak hanya diperbolehkan, bahkan terpuji bila diniatkan karena Allah, demi *mengagungkan ilmu dan pemiliknya*.

Tradisi ini menjadi *simbol kerendahan hati* seorang penuntut ilmu di hadapan gurunya, adab yang justru menjadi *cahaya dalam perjalanan ruhani* menuju ilmu yang bermanfaat dan *keberkahan dari Allah swt*.
______
Ikuti saluran 𝕄𝕒𝕛𝕖𝕝𝕚𝕤 𝕂𝕠𝕡𝕝𝕚𝕟𝕘 𝔸𝕝 𝔸𝕜𝕨𝕒𝕟 di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029Vb3dbnv1noz8Afnf8k0E

*“Ketika Kita Sendiri yang Merobohkan Marwah Ulama”*Teruskanlah… teruskan saling serang itu. *Teruskan saling melemahkan...
14/10/2025

*“Ketika Kita Sendiri yang Merobohkan Marwah Ulama”*

Teruskanlah… teruskan saling serang itu. *Teruskan saling melemahkan antar sesama umat islam*. Teruskan saling dengki dan iri terhadap saudara sendiri. *Teruskan mencaci dan menjelekkan para ulama, guru, habaib dan panutan kita*, hanya karena perbedaan pandangan dan cara berdakwah.

Teruskan… hingga marwah dan kehormatan mereka *runtuh ke titik terendah*. Hingga nama-nama yang dulu kita muliakan kini menjadi bahan *ejekan di media sosial*. Dan lihatlah, ketika kita sendiri sibuk menjatuhkan, *datanglah mereka dari luar, orang-orang yang tak pernah mengerti nilai ilmu, adab, dan perjuangan para ulama*, ikut menertawakan dan merendahkan mereka.

Baru-baru ini, sebuah media besar seperti *Trans7 berani menayangkan konten hiburan yang sangat keterlaluan*, menggambarkan dunia pesantren, para kiai, habaib dan guru-guru kita dengan cara yang merendahkan dan tidak pantas. *_Tapi, siapakah yang paling bertanggung jawab atas keberanian mereka itu?_*

*Kita sendiri.*
*_Ya, ini hasil dari_* _kelakuan kita sendiri._

Ketika umat Islam kehilangan adab terhadap ulama, maka dunia pun akan *kehilangan hormat* kepada mereka. Ketika lidah kita ringan mencaci, maka *tangan-tangan di luar sana merasa bebas untuk menghina*.

*Maka sadarlah*, sebelum semua kehormatan itu benar-benar hilang. Saatnya kita berhenti saling menjatuhkan, dan *kembali memuliakan mereka* yang telah menjadi pewaris para nabi. Karena bila ulama telah direndahkan, siapa lagi yang akan membimbing kita menuju cahaya kebenaran?

*_"Rusak Susu Sebelanga Karena Nilai Setitik"_*

* *
________
Ikuti saluran 𝕄𝕒𝕛𝕖𝕝𝕚𝕤 𝕂𝕠𝕡𝕝𝕚𝕟𝕘 𝔸𝕝 𝔸𝕜𝕨𝕒𝕟 di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029Vb3dbnv1noz8Afnf8k0E

*Qolbu sebagai Jembatan Menuju Cahaya Ilahi*Oleh : *Elmarwiyy*Manusia dalam pandangan tasawuf bukanlah sekadar makhluk j...
07/10/2025

*Qolbu sebagai Jembatan Menuju Cahaya Ilahi*

Oleh : *Elmarwiyy*

Manusia dalam pandangan tasawuf bukanlah sekadar makhluk jasmani, tetapi *hakikatnya tersusun dari tiga unsur agung*, yaitu _Jasad, Jiwa, dan Ruh_. *Jasad* adalah wadah lahiriah yang tampak dan bergerak dalam ruang waktu, *Jiwa* adalah penggerak emosional dan keinginan yang menjadikan manusia hidup secara psikologis, sedangkan *Ruh* adalah hembusan Ilahi yang menautkan manusia dengan asal cahaya ketuhanan. Namun, ketiganya tidak akan menemukan keseimbangan tanpa *Qolbu, pusat spiritual* yang menjadi jembatan antara manusia dengan Tuhannya.

Qolbu dalam bahasa Arab berasal dari kata *qalaba (قلب)* yang berarti *“berbolak-balik”*. Inilah simbol hakikat qolbu manusia yang tidak pernah stabil, terkadang condong pada nur Ilahi, terkadang p**a terjerumus dalam kegelapan hawa nafsu. Oleh karena itu, *Qolbu disebut pusat kontrol spiritual*, sebab ia menentukan arah dari Jasad, Jiwa, dan Ruh. *Bila Qolbu condong pada Cahaya Allah*, maka seluruh sistem manusia, jasadnya, jiwanya, dan ruhnya, berjalan dalam keselarasan fitrah sebagai *‘abdullah (hamba Allah)*.

Namun *ketika Qolbu menjadi gelap*, ia kehilangan fungsi kendalinya. _Jasad menjadi alat syahwat, Jiwa menjadi sarang emosi dan keangkuhan, Ruh pun tertutup dari pancaran cahaya Rabbani_. Maka, sebagaimana diisyaratkan oleh para sufi, kerusakan lahiriah dan batiniah manusia bermula dari rusaknya Qolbu.

Oleh sebab itu, dzikir bukan sekadar lafadz di lisan, tetapi merupakan proses penyucian pusat kendali ini. *Dzikir* adalah upaya mengembalikan Qolbu agar kembali terhubung dengan Cahaya Ilahi. Setiap kali seseorang berdzikir, *getaran nama Allah mengalir ke seluruh lapisan keberadaannya*, menenangkan Jiwa, menundukkan Jasad, dan menyalakan Ruh. Maka benar firman Allah:

*أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ*

_“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”_

Dalam kedalaman makna ayat ini, *para arif billah memahami bahwa ketenangan Qolbu bukan hanya kondisi emosional*, melainkan keadaan spiritual ketika hati telah kembali kepada keseimbangannya, tunduk, pasrah, dan jernih memantulkan Cahaya-Nya.

Maka, *perjalanan sufistik sejati* adalah perjalanan menjernihkan Qolbu. Bukan hanya agar tenang, tetapi agar ia mampu menjadi cermin bagi Nur Ilahi, _tempat bersemayamnya makrifah, hikmah, dan kasih sayang_. *Jika Qolbu telah bening*, maka _Jasad akan menjadi pelayan yang taat, Jiwa menjadi tenang, Ruh menjadi bersinar, dan Akal berpikir dengan kejernihan Ilahiyah_.

*Shalat Qadha dan Shalat Muqamah*Oleh : *Elmarwiyy*Allah swt berfirman:*﴿فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّ...
05/10/2025

*Shalat Qadha dan Shalat Muqamah*

Oleh : *Elmarwiyy*

Allah swt berfirman:

*﴿فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ وَإِذَا اطْمَأْنَنتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ﴾*

Ayat ini tidak hanya memerintahkan ibadah lahiriah, tetapi menyingkap tabir perjalanan ruhani seorang hamba.

*Pertama*, ayat ini membuka dengan lafadz

*“فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ”*
_"Maka tatkala kalian telah menunaikan shalat"_

Kata qadha memberi isyarat pada shalat yang hanya menjadi rutinitas kewajiban. Ia seperti beban yang diselesaikan, bukan perjumpaan yang dinantikan. Inilah shalat yang oleh para sufi disebut *shalat ghafilin*, shalat orang-orang lalai. Geraknya hidup, tapi jiwanya mati, lidahnya membaca, tapi hatinya kosong. Shalat ini tidak melahirkan cahaya, sehingga pelakunya tetap *terseret dalam kelalaian, keburukan, dosa, bahkan idzaaun Naas (Menyakiti sesama)*.

*Kedua*, Allah swt kemudian berfirman:

*“فَاذْكُرُوا اللَّهَ”*
_"Maka kemudian berdzikirlah kepada Allah"_

Inilah jalan keluar dari keringnya shalat qadha. *Dzikir adalah nafas ruhani* yang menghidupkan kembali shalat. Dzikir bukan sekadar untaian lafadz di lidah, melainkan getaran yang menyalakan pelita hati. Dzikir membersihkan karat jiwa, membasuh resah, dan menanamkan ketenteraman, sebagaimana firman-Nya:

*﴿أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ﴾*
_"Ketahuilah, dengan dzikrullah qolbu akan menjadi tenang"_

Dzikir adalah jembatan, penghubung antara shalat yang sekadar kewajiban menuju shalat yang menjadi cahaya.

*Ketiga*, maka tibalah maqom yang tertinggi:

*“وَإِذَا اطْمَأْنَنتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ”*
_"Dan tatkala (qolbu) telah tenang, maka dirikanlah (Aqimu) Shalat"_

Shalat di sini tidak lagi qadha, melainkan muqamah yaitu shalat yang didirikan, ditegakkan, dan menghidupkan. Shalat yang bukan hanya gerakan tubuh, tapi kesadaran total. Shalat yang menegakkan keadilan, kelembutan, kasih sayang, dan amanah dalam seluruh aspek kehidupan. Inilah shalat yang benar-benar menjadi perisai dari perbuatan keji dan mungkar:

*﴿إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ﴾*
_"Sesungguhnya Shalat itu dapat mencegah dari perbuatan keji (menyakiti sesama) dan mungkar (perbuatan maksiat)"_

Bagi para arifin, *shalat muqamah adalah mi‘raj ruhani*, setiap takbir adalah pelepasan diri dari dunia, setiap rukuk adalah tunduknya ego, setiap sujud adalah fana dalam keagungan-Nya, dan setiap salam adalah kembali ke dunia dengan membawa cahaya.

Maka, retorika ayat ini mengajarkan... ada dua shalat, yaitu shalat qadha yang hanya menggugurkan kewajiban, dan shalat muqamah yang menegakkan kehidupan. Dan di antara keduanya, dzikrullah menjadi jembatan. Tanpa dzikir, shalat hanyalah jasad tanpa ruh. Dengan dzikir, shalat menjadi cahaya yang menuntun jiwa menuju Allah.

Karena itu, perintah Allah datang dengan lafadz *“أقيموا الصلاة”*. Yang dimaksud bukanlah shalat qadha, tetapi shalat muqamah. Dan karena shalat muqamah tidak mungkin ditegakkan tanpa dzikrullah, maka dzikir pun menjadi wajib berdasarkan kaidah ushul:

*“مَا لَا يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلَّا بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ”*
_"Suatu kewajiban yang tidak dapat sempurna kecuali dengan suatu perkara, maka perkara tersebut-pun dihukumi wajib"_

Shalat tanpa dzikir adalah tubuh tanpa ruh, dzikir tanpa shalat adalah ruh tanpa tubuh. Keduanya bertemu dalam harmoni, melahirkan hamba yang hidup dalam nafas ketundukan.
________
Ikuti saluran 𝕄𝕒𝕛𝕖𝕝𝕚𝕤 𝕂𝕠𝕡𝕝𝕚𝕟𝕘 𝔸𝕝 𝔸𝕜𝕨𝕒𝕟 di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029Vb3dbnv1noz8Afnf8k0E

05/10/2025

*Siapa yang Sebenarnya Yang Menghamba?*

Oleh : *Elmarwiyy*

Ketika lisan mengucap *“Lillaahi Ta’ala”* (semata-mata karena Allah Ta’ala) sungguh kalimat itu berat di hadapan langit. Sebab, kata para arifin, yang paling sulit dalam perjalanan seorang hamba bukanlah sujudnya, bukan p**a panjang rukuknya, melainkan keikhlasan hati di balik amalnya.

Sejatinya, banyak manusia meniatkan ibadah untuk Allah, tetapi hatinya diam-diam menoleh kepada dunia. Ia mengharapkan balasan harta, kemuliaan sosial, atau sekadar kenyamanan hidup. Maka ibadah yang tampak *lillah (karena Allah)*, berubah menjadi *linafsihi (karena dirinya sendiri)*. Inilah yang dimaksud oleh sebagian ulama: _“Betapa banyak amal yang bentuknya ibadah, namun hakikatnya adalah perdagangan.”_

Renungan yang paling dalam adalah ketika kita sadar, sepanjang 24 jam, waktu kita lebih banyak untuk diri sendiri, sementara Allah hanya diberi sisa. Bahkan dalam ibadah pun, sering kita letakkan Allah dalam posisi *“melayani”* kita:

Kita berdoa, berharap dunia yang lapang.

Kita shalat, berharap rezeki yang mudah.

Kita puasa, berharap keberhasilan urusan dunia.

Seakan-akan Allah menjadi pelayan keinginan, bukan Rabb yang disembah. Padahal, hakikat penghambaan adalah melepaskan segala pamrih diri, lalu ridho dengan segala takdir-Nya.

Maka timbullah pertanyaan yang seharusnya mengguncang qolbu:

Apakah kita yang menghambakan diri kepada Allah, ataukah kita sedang memaksa Allah untuk menghamba kepada kita?

Apakah ibadah kita jalan menuju-Nya, atau sekadar jalan melapangkan dunia kita?

Apakah kita benar-benar sujud karena cinta, atau hanya karena pamrih?

Kaum sufi mengajarkan, ibadah sejati adalah *ibadah mahabbah* (ibadah karena cinta). Bukan karena takut neraka, bukan p**a karena berharap surga. Imam Junaid al-Baghdadi berkata:

_“Seorang hamba yang ikhlas adalah yang menyembah Allah bukan karena pahala yang dijanjikan-Nya, dan bukan karena takut siksa-Nya, tetapi karena melihat bahwa Dia layak untuk disembah.”_

Jika kita menuntut kenyamanan agar bisa beribadah, itu tanda kita masih diikat oleh syarat. Padahal, Allah tidak butuh ibadah kita. Justru ibadah adalah kebutuhan kita sebagai jalan membersihkan ruh agar semakin dekat dengan-Nya.

Renungan ini hendaknya membawa kita pada doa:

_“Ya Allah, jadikan ibadah kami benar-benar karena-Mu, bukan karena diri kami. Jangan jadikan Engkau sebagai alat untuk dunia kami, tetapi jadikan dunia sebagai sarana menuju ridha-Mu.”_

Sebab, jika Allah hanya menjadi alat bagi dunia kita, maka kita belum benar-benar menghamba. Kita masih menjadikan diri sebagai *“tuhan kecil”* yang meminta Tuhan Yang Maha Besar *melayani nafsu kita*.

Ibadah sejati adalah penyerahan tanpa syarat. Ia tidak berhenti walau kenyamanan dunia diambil. Ia tidak menawar walau ujian menimpa. Ibadah yang benar adalah ketika hamba berkata dalam hati, sebagaimana lisannya berkata: *“Lillaahi Ta’ala”* (semata-mata karena Allah), bukan karena selain-Nya.
_________
Ikuti saluran 𝕄𝕒𝕛𝕖𝕝𝕚𝕤 𝕂𝕠𝕡𝕝𝕚𝕟𝕘 𝔸𝕝 𝔸𝕜𝕨𝕒𝕟 di WhatsApp:

*Seandainya Itu Adalah Kebenaran Sekalipun, Jika Berdampak Pada Perselisihan Dan Kemadhorotan Sebaiknya Disembunyikan Da...
05/10/2025

*Seandainya Itu Adalah Kebenaran Sekalipun, Jika Berdampak Pada Perselisihan Dan Kemadhorotan Sebaiknya Disembunyikan Dahulu.*

Dalam perjalanan keilmuan Islam, kita diajarkan adab dalam menyampaikan kebenaran. *Tidak setiap ilmu yang diketahui harus serta merta dipublikasikan*, apalagi jika berpotensi menimbulkan fitnah, keresahan, atau perselisihan di tengah umat. Sebab, kebenaran bukan hanya diukur dari segi isi, tetapi juga dari kemaslahatan dan dampaknya.

Sebagaimana dikatakan.. _“Seandainya itu adalah kebenaran sekalipun, jika bisa melahirkan kemadhorotan dan perselisihan di kalangan Umat, maka menyembunyikannya itu lebih utama.”_ Prinsip ini bukan berarti *menutupi agama*, tetapi lebih kepada *menjaga stabilitas, kemaslahatan, dan keutuhan umat.*

Contoh nyata hal ini dapat kita lihat dari sikap seorang sahabat agung, *Abu Hurairah ra*. Ia adalah perawi hadits yang paling banyak meriwayatkan sabda Rasulullah saw. Namun, meskipun beliau memiliki ilmu yang sangat luas, tidak semuanya beliau sebarkan kepada publik.

Dalam riwayat Imam Bukhari, Sahabat Abu Hurairah ra berkata:

_“Aku menghafal dari Nabi saw dua bejana ilmu. Bejana yang satu kusebarkan, sedangkan bejana yang satunya lagi, seandainya aku sebarkan, niscaya terputuslah tenggorokan ini.”_

Ungkapan ini menunjukkan bahwa Sahabat Abu Hurairah ra sangat berhati-hati dalam menyampaikan ilmu. Beliau tidak menyampaikan sebagian dari apa yang beliau dengar dari Nabi saw, karena bisa jadi ilmu itu *terkait fitnah, rahasia politik, atau hal-hal yang jika tersebar akan menimbulkan pertumpahan darah dan perpecahan di tengah umat.*

Dari sini kita belajar bahwa menyampaikan ilmu harus dengan *hikmah*. Tidak semua yang benar perlu dikatakan, dan tidak semua yang diketahui harus diungkapkan. Seorang alim wajib mempertimbangkan waktu, kondisi, serta kesiapan umat dalam menerima kebenaran. Sebab, ilmu tanpa kebijaksanaan bisa berubah menjadi *fitnah*, sedangkan ilmu yang disampaikan dengan adab akan menjadi *cahaya* yang menuntun manusia menuju jalan keselamatan.

*Ingat...* Fitnah besar yang akan melanda Umat Islam adalah perselisihan hingga saling menumpahkan darah, dan siapapun yang menjadi sebab datangnya fitnah tersebut *akan mempertanggung-jawabkannya dihadapan Allah dan Rasul-Nya kelak.*
_______
Ikuti saluran 𝕄𝕒𝕛𝕖𝕝𝕚𝕤 𝕂𝕠𝕡𝕝𝕚𝕟𝕘 𝔸𝕝 𝔸𝕜𝕨𝕒𝕟 di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029Vb3dbnv1noz8Afnf8k0E

Address

Perumahan Griya Cikampek, Blok A1 No 7. Ds. Pucung, Kec. Kotabaru
Karawang
41376

Telephone

+6281572737999

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Ranggon Kopling Al Akwan Dzikir wa Ta'lim posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to Ranggon Kopling Al Akwan Dzikir wa Ta'lim:

Share