28/02/2016
Ditemukan Candi Purba Di Sekitar Puncak Gunung Lawu
Bagi penduduk yang bermukim di sekitar lereng Gunung Lawu tak pernah menganggap berbagai kejadian baik yang nyata ataupun yang tidak nyata menjadi soal bagi mereka. Karena pada umumnya mereka sudah terbiasa bergelut dengan tradisi dan budaya mistis.
Gunung yang berada di jalur lintas propinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur ini di kenal sebagai gunung purba. Tidak hanya itu saja, di berbagai manuskrip kuna dikisahkan, gunung purba di jaman kadewatan yang dikenal dengan nama Wukir Mahendra tersebut, konon menjadi tempat hijrahnya para dewa dari Gunung Himalaya ke tanah Jawa. Oleh karena itu masyarakat Jawa meyakini, Gunung Lawu menjadi tempat berdirinya kerajaan yang pertama kali di tanah jawa, yang kala itu di kenal dengan nama kerajaan Medangkamulan.
Silih berganti raja raja di jaman kadewatan pernah bertahta di Gunung Lawu, hampir seluruhnya di yakini sebagai titisan Dewa Wisnu. Maka dari itu tidaklah mengherankan jika di dalam keyakinan adat masyarakat Jawa, sosok Dewa Wisnu dan Dewi Sri dianggap sebagai leluhur utama bagi masyarakat Jawa. Kedua sosok ini disimbolkan sebagai sebuah lambang keluhuran dan kemakmuran yang menyatu tak bisa di pisahkan. Sosok Wisnu dan Sri hingga kini tetap terus abadi sepanjang masa di dalam keyakinan adat tradisi masyarakat Jawa.
Kedua tokoh ini seringkali disimbolkan dalam bentuk sepasang kekasih (loro blonyo), kisah kesetiaan Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji, serta simbol- simbol lainya.
Banyaknya peninggalan peradaban kuna di Gunung Lawu sejak dari zaman kadewatan, Mataram Hindu, kejayaan Singosari, kejayaan Kediri dan Majapahit, yang semakin memperteguh keyakinan bahwa Gunung Lawu adalah ‘punjering tanah Jawi,’ atau pancer tanah jawa. Maka tidaklah mengherankan bila di atas puncak Gunung Lawu saat ini masih banyak di temukan candi candi purba sisa peradaban masa lalu. Dari ribuan peninggalan purbakala yang pernah di temukan di Gunung Lawu, salah satunya adalah situs candi purba yang belum lama ini di temukan oleh penduduk di lereng Gunung Lawu.
“Situs tersebut di juluki dengan nama Situs Cemara Pogog,” kata Baratha, salah satu petugas jagawana hutan Tahura yang turut mengekplorasi Situs Cemara Pogog.
Situs ini menurut Baratha diyakini adalah candi purba yang usianya lebih tua bila dibandingkan dengan seluruh candi yang ada di Gunung Lawu. Meski untuk menentukan seberapa tua usia Situs Cemara Pogog masih harus di perlukan kajian dan penelitian yang lebih lanjut oleh para ahli. Namun paling tidak, keberadaan situs yang tak jauh dari atas puncak lawu ini semakin menguatkan fakta sejarah adanya peradaban purba di atas puncak lawu.
Dari keterangan Barata diketahui, Situs Cemara Pogog ditemukan oleh Pak Polet, pria yang kerap di sapa dengan sebutan pak Po. Dari pengakuan Baratha, pria tersebut dianggap sebagai juru kunci Gunung Lawu oleh masyarakat yang bermukim di sekitar Candi Sukuh. Sejak kecil Pak Po naik turun Gunung Lawu setiap hari, sehingga sudah tidak terhitung lagi berapa banyak pak Po melakukan pendakian di Gunung Lawu
Diakui oleh Barata, Pak Po paham betul seluk beluk Gunung Lawu, tidak hanya yang terlihat secara kasat mata, tempat-tempat ghaib yang ada di sekitar Gunung Lawu pak Po paham sangat dan memahami. Sehingga tidak mengherankan bila Pak Po dianggap oleh warga masyarakat sekitar sebagai juru kunci Gunung Lawu.
Bagi Baratha, ditemukannya Situs Cemara Pogog bukanlah sesuatu hal yang aneh. Situs ini menurutnya, sudah diketahui sejak beberapa tahun yang silam, tetapi hanya berbentuk gundukan tanah dengan luas area sekitar 2500 m2. Daerah di mana situs tersebut ditemukan, oleh penduduk sekitar dipercaya bekas peradaban sebuah desa. Akan tetapi entah kenapa, desa tersebut kemudian hilang dari peradaban dunia.
Hanya beberapa peralatan dapur seperti tungku, tempayan, batu padasan, sumber mata air dan beberapa sisa peradaban yang tersisa pernah ditemukan oleh penduduk desa. Lenyapnya desa desa di sekitar Cemara Pogog dari peradaban diyakini karena moksa. Oleh karena itu jangan heran bila di kawasan sekitar Cemara Pogog kadang terlihat adanya aktivitas kehidupan layaknya kesibukan yang ada di desa-desa .
“Aktivitas itu di yakini adalah kehidupan alam ghaib dari desa desa yang pernah moksa,” ungkap Baratha
Menurut Barata, Situs Cemara Pogog ditemukan pada tahun 2012 yang lalu, hanya saja, situs tersebut masih belum terlihat bentuk sebuah candi.
“Situs ini pertama kali di temukan oleh Pak Po, pada saat ia bermalam di hutan di sekitar Pos III dari jalur pendakian Tahura,” ungkap Barata.
Sebagai seorang pinisepuh Gunung Lawu, hampir setiap hari Pak Po naik turun gunung melihat kawasan hutan Tahura. Pekerjaan seperti itu dijalani pak Po sejak ia masih muda, hingga tidak mengherankan bila Pak Po mengenal betul seluk beluk hutan Gunung Lawu dari sisi nyata maupun ghaib.
Kebiasaan berada di dalam hutan pak Po beristirahat di sebuah tempat peristirahatan didekat pohon Cemara yang ambruk akibat faktor usia. Sehingga ketinggian pohon cemara itu hanya sekitar 2 meter saja. Oleh karena bentuk pohon cemara yang pendek, maka kawasan tersebut lantas dikenal dengan nama Cemara Pogog. Berdasar pengakuan Pak Po, sebenarnya sudah lama ia mengetahui keberadaan gundukan yang di yakini adalah candi purba, namun Pak Po masih sengaja merahasiakanya.
“Situs tersebut di ketahui oleh Pak Po pada saat ia tengah membersihkan kawasan di sekitar Cemara Pogog,” ujar Barata menceritakan
Ditambahkan ceritanya oleh petugas Jagawana Tahura tersebut, pada saat Pak Po membersihkan semak semak, terlihat adanya batu yang menyerupai altar dan tangga berundak. Bagi Pak Po, apa yang di lihat tidak mungkin benda seperti itu di buat oleh penduduk desa di jaman seperti sekarang ini. Mengingat keberadaan kawasan Cemara Pogog berada di atas puncak gunung gung lewung-lewung yang jauh dari jamah tangan manusia.
Kabar ditemukannya tangga berundak dan beberapa batu andesit yang diyakini adalah situs candi purba, membuat para petugas jagawana Tahura lantas mencoba melihat dari dekat penemuan Pak Po. Setelah berada di Cemara Pogog, Pak Po dan para petugas jagawana lantas melakukan kerja bakti massal membersihkan rumput di sekitar Cemara Pogog.
“Hari itu meski belum sepenuhnya di rampungkan, tetapi sudah tampak pola pelataran bentuk sebuah candi. Bahkan ambang pintu candi di yakini berada di bagian sebelah barat,” ujar Baratha
Situs Cemara Pogog bagi Pak Po dan petugas Jagawana adalah kawasan keramat. Masyarakat sekitar meyakini Cemara Pogog merupakan gerbang ghaib pendakian ke puncak Gunung Lawu.
“Selain Situs Cemoro Pogog, di temukan juga sumber mata air Sendang Raja yang letaknya sekitar 300meter dari Cemoro Pogog,” Pungkas Bharata.