01/10/2016
نفوذ الدعوة للأوليآء التسعة الجاوية
"Kesuksesan Dakwah Walisanga"
Jika memakai ilmu perbandingan, bisa dibilang Candi Prambanan dan Candi Borobudur sebanding dengan Masjidil Haram. Hal itulah yang membuat Walisanga semakin dikagumi.
Maksudnya begini, kalau ada “Masjidil Haram”, berarti logikanya ada puluhan “masjid kecil” yang lain kan? Kalau ada tempat ibadah Hindu dan Budha selevel “Masjidil Haram”, berarti bukan tidak mungkin Indonesia zaman dahulu sudah dipenuhi ribuan “candi kecil” tempat ibadah umat Hindu dan Budha.
Orang tidak mungkin bisa membuat sesuatu berskala besar tanpa membuat sesuatu yang berskala kecil terlebih dulu.
Tentu kita jadi bisa membayangkan kalau umat beragama Hindu dan Budha zaman dahulu adalah golongan mayoritas. Kalau umat beragama Hindu dan Budha zaman dahulu sangat mendominasi, bagaimana bisa Walisanga membalik kondisi tersebut?
***
Kalau kita belajar sejarah, kita pasti makin heran dengan Walisanga. Menurut catatan Dinasti Tang China, pada waktu itu (abad ke-6 M), jumlah orang Islam di nusantara (Indonesia) hanya kisaran ribuan orang. Dengan klasifikasi yang beragama Islam hanya orang Arab, Persia, dan China. Para penduduk pribumi tidak ada yang mau memeluk agama Islam.
Bukti sejarah kedua, catatan Marco Polo singgah ke Indonesia pada tahun 1200-an M. Dalam catatannya, komposisi umat beragama di nusantara masih sama persis dengan catatan Dinasti Tang, penduduk lokal nusantara tetap tidak ada yang memeluk agama Islam.
Bukti sejarah ketiga, dalam catatan Laksamana Cheng Ho pada tahun 1433 M, tetap tercatat hanya orang asing yang memeluk agama Islam. Jadi, kalau kita kalkulasi ketiga catatan tersebut, sudah lebih dari 8 abad agama Islam tidak diterima penduduk pribumi. Agama Islam hanya dipeluk oleh orang asing.
Selang beberapa tahun setelah kedatangan Laksamana Cheng Ho, rombongan Sunan Ampel datang dari daerah Champa (Kamboja).
Beberapa dekade sejak hari kedatangan Sunan Ampel, terutamanya setelah kedua putranya tumbuh dewasa (Sunan Bonang dan Sunan Drajat) dan beberapa muridnya juga sudah tumbuh dewasa (misalnya Sunan Giri), maka dibentuklah suatu dewan dakwah yang bernama Walisanga. Misi utamanya adalah mengenalkan agama Islam ke penduduk pribumi.
Anehnya, sekali lagi anehnya, pada dua catatan para penjelajah dari Benua Eropa yang ditulis pada tahun 1515 M dan 1522 M, disebutkan bahwa bangsa nusantara adalah sebuah bangsa yang mayoritas memeluk agama Islam.
Para sejarawan dunia hingga kini masih bingung, kenapa dalam tempo tak sampai 50 tahun, Walisanga berhasil mengislamkan banyak sekali manusia nusantara ini.
Harap diingat zaman dahulu belum ada pesawat terbang dan telepon genggam apalagi medsos. Jalanan kala itu pun tidak ada yang diaspal, motor dan mobil pun belum ada. Dari segi ruang maupun dari segi waktu, derajat kesukarannya luar biasa. Tantangan dakwah Walisanga luar biasa berat.
Para sejarawan dunia angkat tangan saat disuruh menerangkan bagaimana bisa Walisanga melakukan mission impossible, Membalikkan keadaan dalam waktu kurang dari 50 tahun, padahal sudah terbukti 800 tahun lebih bangsa nusantara selalu menolak agama Islam.
Para sejarawan dunia akhirnya bersepakat bahwa cara pendekatan dakwah melalui kebudayaanlah yang membuat Walisanga sukses besar.
Menurut para sejarawan dunia memang betul, tapi masih kurang lengkap. Pendekatan dakwah dengan kebudayaan cuma “bungkusnya” saja, yang benar-benar bikin beda adalah “isi” dakwah Walisanga.
***
Walisanga menyebarkan agama Islam meniru persis “bungkus” dan “isi” yang dahulu dilakukan Rasulullah SAW. Benar-benar menjiplak mutlak metode dakwahnya Kanjeng Nabi SAW. Pasalnya, kondisinya hampir serupa, Walisanga kala itu ibaratnya “satu-satunya”.
Dahulu Nabi Muhammad SAW adalah satu-satunya orang yang berada di jalan yang benar. Sayyidatina Khadijah Istri Beliau, sahabat Abu Bakar r.a., sahabat Umar r.a., sahabat Utsman r.a., sahabat Ali r.a., dan semua orang di muka Bumi waktu itu tersesat semua. Kanjeng Nabi benar-benar The Only One yang tidak sesat.
Tetapi, berkat ruh dakwah yang penuh kasih sayang, banyak orang akhirnya mau mengikuti agama baru yang dibawa Kanjeng Nabi SAW. Dengan dilandasi perasaan yang tulus, Nabi Muhammad SAW amat sangat sabar menerangi orang-orang yang tersesat.
Meski kepala beliau dilumuri kotoran, meski wajah beliau diludahi, bahkan berkali-kali hendak dibunuh, Kanjeng Nabi SAW selalu tersenyum memaafkan. Walisanga pun mencontoh akhlak Kanjeng Nabi SAW. Berdakwah dengan penuh kasih sayang.
Pernah suatu hari ada penduduk desa bertanya hukumnya menaruh sesajen di suatu sudut rumah. Tanpa terkesan menggurui dan menunjukkan kesalahan, Sunan tersebut berkata, “Boleh, malah sebaiknya jumlahnya 20 piring, tapi dimakan bersama para tetangga terdekat ya.”
Pernah juga ada murid salah satu anggota Walisanga yang ragu pada konsep tauhid bertanya, “Tuhan kok jumlahnya satu? Apa nanti tidak kerepotan dan ada yang terlewat tidak diurus?”
Sunan yang ditanyai hal tersebut hanya tersenyum sejuk mendengarnya. Justru beliau minta ditemani murid tersebut menonton pagelaran wayang kulit.
Singkat cerita, Sunan tersebut berkata pada muridnya, “Bagus ya cerita wayangnya…” Si murid pun menjawab penuh semangat tentang keseruan lakon wayang malam itu. “Oh iya, bagaimana menurutmu kalau dalangnya ada dua atau empat orang?” tanya Sunan tersebut. Si murid langsung menjawab, “Justru lakon wayangnya bisa bubar. Dalang satu ambil wayang ini, dalang lain ambil wayang yang lain, bisa-bisa tabrakan.”
Sang guru hanya tersenyum dan mengangguk-angguk mendengar jawaban polos tersebut. Seketika itu p**a si murid beristighfar dan mengaku sudah paham konsep tauhid. Begitulah “isi” dakwah Walisanga, menjaga perasaan orang lain.
Pernah suatu hari ada salah satu anggota lain dari Walisanga mengumpulkan masyarakat. Sunan tersebut dengan sangat bijaksana menghimbau para muridnya untuk tidak menyembelih hewan sapi saat Idul Adha. Walaupun syariat Islam jelas menghalalkan, menjaga perasaan orang lain lebih diutamakan.
Di atas ilmu fikih, masih ada ilmu ushul fikih, dan di atasnya lagi masih ada ilmu tashawuf. Maksudnya, menghargai perasaan orang lain lebih diutamakan, daripada sekadar halal-haram. Kebaikan lebih utama daripada kebenaran.
Dengan bercanda, beliau berkomentar bahwa daging kerbau dan sapi sama saja, makan daging kerbau saja juga enak. Tidak perlu cari gara-gara dan cari benarnya sendiri, jika ada barang halal lain tapi lebih kecil madharatnya.
Kemudian, ketika berbicara di depan khalayak umum, beliau menyampaikan bahwa agama Islam juga memuliakan hewan sapi. Sunan tersebut kemudian memberikan bukti bahwa kitab suci umat Islam ada yang namanya Surat Al-Baqarah (Sapi Betina).
Dengan nuansa kekeluargaan, Sunan tersebut memetikkan beberapa ilmu hikmah dari surat tersebut, untuk dijadikan pegangan hidup siapapun yang mendengarnya.
Perlu diketahui, prilaku Walisanga seperti Nabi Muhammad SAW zaman dahulu, Walisanga tidak hanya menjadi guru orang-orang yang beragama Islam. Walisanga berakhlak baik pada siapa saja dan apapun agamanya.
Justru karena kelembutan dakwah Sunan tersebut, masyarakat yang saat itu belum masuk Islam, justru gotong-royong membantu para murid beliau melaksanakan ibadah qurban.
***
Kalau kita amati, betapa gaya berdakwah para anggota Walisanga sangat mirip gaya dakwah Kanjeng Nabi SAW. Metode dakwah tersebut sesuai Surat An-Nahl Ayat ke-125.
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِين.
Allah SWT berfirman:
"Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasehat yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah dzat yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui mereka yang mendapat petunjuk."
Menurut ulama' ahli tafsir, penjelasan ayat dakwah tersebut adalah seperti berikut:
ادع الى سبيل ربك
“Ajaklah ke jalan Tuhanmu”, Kata kerja atau fiil pada potongan ayat tersebut tidak memiliki objek. Hal tersebut karena Gusti Allah berfirman menggunakan pola kalimat sastra.
Siapa yang diajak? Tentunya orang-orang yang belum di jalan Tuhan. Misalnya, ajaklah ke Jakarta, ya berarti yang diajak adalah orang-orang yang belum di Jakarta.
Dakwah artinya adalah “mengajak”, bukan perintah. Jadi cara berdakwah yang betul adalah dengan hikmah dan nasehat yang baik. Apabila harus berdebat, pendakwah harus menggunakan cara membantah yang lebih baik. Sifat “lebih baik” di sini bisa diartikan lebih sopan, lebih lembut, dan dengan kasih sayang. Sekali lagi, apabila harus berdebat, harap diperhatikan.
Berdakwah tidak boleh berlandaskan hawa nafsu. Harus ditikari ilmu, diselimuti rasa kasih sayang, dan berangkat niat yang tulus.
Apalagi ayat dakwah ditutup dengan kalimat penegasan bahwa hanya Tuhan yang mengetahui kebenaran sejati. Hanya Allah SWT yang tahu hamba-Nya yang masih tersesat dan hamba-Nya yang sudah mendapat petunjuk.
Firman dari Allah SWT tersebut sudah merupakan warning atau peringatan untuk para pendakwah jangan pernah merasa sudah suci, apalagi menganggap objek dakwah sebagai orang-orang yang tersesat. Anggaplah objek dakwah sebagai sesama manusia yang sama-sama berusaha menuju jalan Allah.
Ayat dakwah itulah yang dipegang Nabi Muhammad SAW dan para pewarisnya saat berdakwah. Maka dari itu, kita jangan kagetan seperti para sejarawan dunia, karena kesuksesan dakwah Walisanga sebenarnya bukanlah hal yang aneh.
***
Kanjeng Nabi SAW saja bisa mengubah Jazirah Arab hanya dalam waktu 23 tahun, apalagi Walisanga yang hanya ditugaskan Allah SWT untuk mengislamkan sebuah bangsa.
Dakwah bisa sukses pada dasarnya dikarenakan dua faktor saja.
Pertama, karena niat yang tulus. Walisanga menyayangi bangsa Indonesia, maka dari itu bangsa nusantara dirayu-rayu dengan penuh kelembutan untuk mau masuk agama Islam. Bila ada kalangan yang menolak, tetap sangat disayangi.
Sekalipun orang tersebut enggan masuk agama Islam, tapi bila ada yang sedang sakit, ia tetap dijenguk dan dicarikan obat. Kalau orang tersebut sedang membangun rumah, maka Walisanga mengerahkan para santrinya untuk menyumbang tenaga. Bahkan, kepada pihak-pihak yang tidak hanya menolak agama Islam, tapi juga mencela sekalipun, Walisanga tetap bersikap ramah.
Kedua, karena “satu kata satu perbuatan”. Walisanga membawa ajaran agama Islam ke nusantara, tentu kesembilan alim ulama' tersebut harus menjadi pihak pertama yang mempraktekkannya.
Agama Islam adalah agama anugerah untuk umat manusia, maka para wali tersebut selalu berusaha praktek menjadi anugerah bagi umat manusia di sekitarnya.
Semuanya dimanusiakan, karena Walisanga mempraktekkan inti ajaran agama Islam, "rahmatan lil ‘aalamiin". Islam tidak mengenal konsep rahmatan lil muslimiin.
Semoga kita bisa meniru jejak langkah Rasulullah dan Walisanga dalam berdakwah.
Jum'at Pon, 29 Dzulhijjah 1437 H/ 30 September 2016 M.