Majles ta'lim dan sholawat Hss

Majles ta'lim dan sholawat Hss menjalin silaturahmi

AMALAN MEMPERMUDAH MENDAPATKAN LAILATUL QADARDalam sebuah hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari dikatakan bahwa kita dianj...
01/04/2024

AMALAN MEMPERMUDAH MENDAPATKAN LAILATUL QADAR

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari dikatakan bahwa kita dianjurkan untuk mencari Lailatul Qadar pada malam ganjil dalam sepuluh terakhir bulan Ramadhan.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ.

Artinya, “Dari Aisyah RA bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Carilah Lailatul Qadar pada malam ganjil dalam sepuluh terakhir di bulan Ramadhan,” (HR Bukhari).

Untuk mendapatkan Lailatul Qadar memang tidak mudah. Karenanya tidak semua orang bisa mendapatkannya. Dibutuhkan usaha keras dan tidak kenal lelah untuk selalu meningkatkan intensitas ibadah terutama pada sepuluh akhir di bulan Ramadhan sebagaimana yang dipraktikan Rasulullah ﷺ. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan hadits riwayat Muslim.

عَنْ الْأَسْوَدِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ

Artinya, “Dari Aswad dari Aisyah ra ia berkata bahwa Nabi ﷺ meningkat amal-ibadah pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan melebihi di waktu yang lain,” (HR Muslim).

Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Rasulullah ﷺ mengencangkan kain bawahnya, menghidupkan malamnya dan membangungnkan keluarganya.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ اَلْعَشْرُ-أَيْ: اَلْعَشْرُ اَلْأَخِيرُ مِنْ رَمَضَانَ- شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ - مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Artinya, “Dari Aisyah RA, ia berkata, bahwa Rasulullah ﷺ ketika masuk sepuluh terakhir bulan Ramadhan, mengencangkan kain bawahnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya,” (Muttafaq ‘alaih).

Lantas apa yang dimaksud dengan mengencangkan kain bawahnya dalam hadits di atas? Menurut Ibnu Baththal, maksudnya ialah Rasulullah ﷺ tidak menggauli istrinya. Sedangkan yang dimaksud dengan membangunkan keluarganya adalah beliau menganjurkan dan mendorong keluarganya untuk melakukan mengingatkan keluarganya untuk melakukan amaliah sunah dan kebajikan lainya yang bukan fardhu.

وَقَالَ سُفْيَانُ الثَّوْرِىُّ : قَوْلُهُ : ( شَدَّ مِئْزَرَهُ ) فِى هَذَا الْحَدِيثِ يَعْنِى : لَمْ يَقْرَبِ النِّسَاءَ ، وَفِى قَوْلِهِ : ( أَيْقَظَ أَهْلَهُ ) مِنَ الْفِقْهِ أَنَّ لِلرَّجُلِ أَنْ يَحُضَّ أَهْلَهُ عَلَى عَمَلِ النَّوَافِلِ ، وَيَأْمُرَهُمْ بِغَيْرِ الْفَرَائِضِ مِنْ أَعْمَالِ الْبِرِّ ، وَيَحْمِلَهُمْ عَلَيْهَا

Artinya, “Sufyan Ats-Tsauri berkata maksud ‘mengencangkan kain atasnya’ dalam hadits di atas adalah Rasulullah ﷺ tidak melakukan hubungan badan dengan istrinya. Sedangkan pernyataan ‘Beliau (Nabi ﷺ) membangunkan keluarganya’ dapat dipahami bahwa suami dianjurkan mendorong keluarganya untuk mengerjakan amalan sunah dan amal kebajikan lainya selain yang wajib serta menekankan kepada mereka untuk melakukan hal tersebut,” (Lihat Ibnu Baththal, Syarhu Shahihil Bukhari, Riyadl-Maktabah Ar-Rusyd, cet ke-2, 1423 H/2003 M, juz IV, halaman 159).

Lantas bagaimana yang dimaksud dengan Rasulullah ﷺ menghidupkan malamnya? Apakah beribadah semalam suntuk sampai pagi? Jawaban yang tersedia adalah Rasulullah ﷺ tidak tidur tetapi disibukkan dengan ibadah pada sebagian besar malam, bukan semalam suntuk sampai pagi. Sebab, ada riwayat dari Aisyah RA yang menyatakan bahwa ia tidak pernah mengetahui Rasulullah ﷺ beribadah semalam penuh sampai pagi.

(وَأَحْيَا لَيْلَهُ) أَيْ تَرَكَ النَّوْمَ الَّذِي هُوَ أَخُو الْمَوتِ وَتَعَبَّدَ مُعْظَمَ اللَّيْلِ لَا كُلَّهُ بِقَرِينَةِ خَبَرِ عَائِشَةَ مَا عَلِمْتُهُ قَامَ لَيْلَةً حَتَّى الصَّبَاحِ

Artinya, “(dan menghidupkan malamnya) maksudnya adalah Rasulullah ﷺ tidak tidur di mana tidur adalah saudara kematian, dan beribadah pada sebagian besar malam bukan seluruhnya sebab ada riwayat dari Aisyah RA yang menyatakan: ‘Aku tidak pernah mengetahui Rasulullah ﷺ melakukan ibadah satu malam penuh sampai pagi hari,’” (Lihat, Abdurrauf al-Munawi, Faidlul Qadir, Bairut-Darul Kutub al-Ilmiyyah, cet ke-1, 1415 H/1994 M, juz V, halaman 168).

Dengan mengacu kepada penjelasan di atas maka setidaknya ada tiga amaliah yang bisa dilakukan. Amaliah itu diharapkan dapat mempermudah kita untuk mendapatkan Lailatul Qadar, yaitu pada sepuluh akhir Ramadhan. Pertama, untuk sementara tidak melakukan hubungan suami-istri. Kedua, meningkatkan intensitas beribadah terutama pada malam hari. Ketiga, mendorong atau meminta keluarga untuk melakukan amaliah sunah dan amal kebajikan selain yang fardhu.
Wallahu'alam

13/03/2023
Isra mi'raj
11/02/2023

Isra mi'raj

26/04/2022

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Bismillahirahmanirahiim

🌹HIKMAH PUASA & TANDA² MENDAPATKAN LAILATUL QODAR🌹

*Puasa adalah satu pintu Syukur,sehingga orang yg berpuasa sejatinya ia juga berSyukur kepada Allah,
*Karena ia mengetahui kadar Dzat sang pemberi nikmat Allah ta'ala*

( Al Habib Umar bin Hafidz)

*Jangan biatkan seharipymun berlalu di bulan Ramadhan & kamu tidak meminta pengampunan dari Allah*

(Al Habib Ali Al Jufri)

*Tanda² orang mukmin yg twlah memperoleh "LAILATUL QODAR". ;

*Hatinya lembut,
*Mudah menangis,
*Menyesali dosa² lalu
*Merasa malu pada Allah
*Rindu kepada Rasulullah
*Senantiasa merasa tenang & lapang dada
*Bertambah rajin beribadah & beramal Sholeh
*Rindu berjumpa dgn Allah

(Al Imam As Sayyid Muhammad Alwi Al Maliki)

*Smoga Allah mengampuni dosa² kita smua menerima Puasa & Amal ibadah kita serta mendapatkan Lailatul Qodar.....Aamiin🤲

*Allahumma Sjoli'ala Sayyidina Muhammad wa'ala ali Sayyidina Muhammad❤️💕

22/04/2022

Bagian 2
Tentang Lailatul Qadar

*Keutamaan Shalat dan Sedekah pada Malam Lailatul Qadar*

“Barang siapa mengerjakan shalat dua raka’at pada malam Lailatul Qadar, sedang pada tiap-tiap raka’at dia membaca al Fatihah sekali dan surat al Ikhlas tujuh kali, dan tatkala sudah salam dia membaca :
‘Astaqhfirullaaha wa atubu ilaih, saya mohon ampun kepada Allah SWT, dan saya bertobat kepadaNya’ sebanyak tujuh puluh kali, maka dia tidak berdiri sehingga Allah SWT mengampuni dia, dan kedua orang tuanya.
Dan Allah SWT mengirim para Malaikat ke surga guna menanam baginya beberapa pohon, membangunkan gedung istana dan mengalirkan air sungai. Dan dia tidak keluar dari dunia atau tidak mati sehingga dia melihat semua itu”. (Tafsir Hanafi)

▪Pada malam Lailatul Qadar, Allah menurunkan satu rahmat untuk semua orang-orang yang beriman dari dunia timur sampai dunia barat.
Dan masih ada dari rahmat itu yang ketinggalan atau tersisa. Maka, Malaikat Jibril ‘alaihis salam berkata :
“Wahai Tuhanku, rahmatMu telah sampai kepada semua orang-orang yang beriman dan masih ada keutamaan atau sisa yang tertinggal”.
Maka, Allah SWT berfirman: “Berikanlah kepada anak-anak yang dilahirkan malam ini (Lailatul Qadar)!”.
Malaikat Jibril juga memberikan rahmat atau keutamaan itu kepada anak-anak orang Islam dan anak-anak orang kafir. Dan ternyata, rahmat itu hanya khusus untuk anak-anak orang kafir.
Maka, rahmat itu menarik mereka ke kampung selamat dan mereka itu semua meninggal dunia dalam keadaan beriman dengan sebab rahmat itu.

▪Dialog Nabi Musa Tentang Lailatul Qadar

Sebagaimana kata Nabi Musa ‘alaihis salam dalam munajatnya:
“Tuhanku, aku ingin dekat dengan Engkau”.
Firman Allah SWT: “Aku dekat dengan orang yang bangun di malam Lailatul Qadar”.

Nabi Musa berkata lagi: “Tuhanku, aku ingin rahmatMu”.
Firman Allah SWT: “RahmatKu bagi orang yang kasih sayang kepada si miskin pada malam Lailatul Qadar”.

Kata Nabi Musa: “Tuhanku aku ingin bisa melewati jembatan Shirathal Mustaqim dengan cepat laksana halilintar”.
Allah SWT berfirman: “Yang demikian itu bagi orang yang bersedekah pada malam Lailatul Qadar”.

Nabi Musa berkata: “Aku ingin duduk di bawah teduhnya pohon-pohon surga, serta makan buah-buahannya”.
Firman Allah SWT: “Yang demikian itu bagi orang yang bertasbih dengan sungguh-sungguh pada malam Lailatul Qadar”.

Kata Nabi Musa: “Tuhanku, aku ingin selamat dari neraka”.
Firman Allah SWT: “Yang demikian itu bagi orang yang beristighfar atau memohon ampunan kepada Allah SWT pada malam Lailatul Qadar sampai Shubuh”.

Nabi Musa berkata: “Tuhanku, aku ingin keridhaanMu”.
Maka, Allah SWT berfirman: “KeridhaanKu bagi orang yang mengerjakan shalat dua raka’at pada malam Lailatul Qadar”.

▪Pintu-pintu semua langit dibuka pada malam Lailatul Qadar, tidak seorang hamba pun yang mengerjakan shalat pada malam itu kecuali Allah SWT menciptakan baginya dengan tiap-tiap takbirnya akan tanaman pohon di dalam surga.
Kalau sekiranya orang berkendaraan lewat di bayang-bayangnya atau di keteduhannya selama seratus tahun, maka tidak akan bisa menempuhnya.
Dan dengan tiap-tiap raka’atnya dibangunkan sebuah rumah dari bahan mutiara, batu permata merah,batu permata hijau dan permata berlian.
Dan dengan tiap tiap bacaannya dalam shalat akan diberikan sebuah mahkota di dalam surga.
Dan dengan tiap-tiap duduknya akan diangkat derajat dari beberapa derajat surga.
Dan dengan tiap-tiap salamnya akan diberi perhiasan dari surga.

Kitab: Durratun Nasihin, halaman 272

والله اعلم بالصواب .

Bersambung....

22/04/2022

Bagian 1.
Tentang Lailatul Qadar

*SHALAT LAILATUL QADAR*

Dalam kitab “Durratun Nashihiin fiil-Wa’dz wal Irsyaad” karya Syaikh ‘Utsman bin Hasan bin Ahmad Syakir al-Khuubawiy Ar-Ruumiy Al-Hanafiy (w.1224H) rahimahullah, pada majlis ke tujuh puluh tiga, pada keutamaan lailatul Qadr, hal. 285-286, disebutkan satu hadits:

عن ابن عباس عن النبي عليه الصلاة والسلام. انه قال: من صلى في ليلة القدر ركعتين، يقرا في كل ركعة بفاتحة الكتاب مرة والاخلاص سبع مرات فاذا سلم يقول استغفر الله واتوب اليه سبعين مرة فلا يقوم من مقامه حتى يغفر الله له ولابويه ويبعث الله تعالى ملاءكة الى الجنان يغرسون له الاشجار ويبنون القصور ويجرون الانهار ولا يخرج من الدنيا حتي يرى ذلك كله .

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu 'anhuma; Bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang menjalankan shalat pada malam Lailatul Qadr sebanyak 2 (dua) raka’at, di dalam setiap raka’atnya setelah membaca Al Fatihah (1) satu kali, kemudian membaca surat Al-Ikhlas 7 (tujuh) kali dan setelah salam membaca Astaghfirullahal azhiim wa atubu ilaih 70 (tujuh puluh) kali, maka selama dia mendirikannya Allah akan mengampuni dirinya dan kedua orang tuanya dan Allah Ta’ala akan mengutus Malaikat untuk menanam (untuknya) pepohonan di Surga, membangun gedung-gedung dan mengalirkan sungai-sungai di dalamnya, dan dia (orang yang menjalankan shalat Lailatul Qadr) tidak akan keluar dari dunia sehingga dia pernah melihat seluruhnya”

Niat Shalat Lailatul Qadar:

اصلي سنة ليلة القدر ركعتين مستقبل القبلة اماما/مأموما لله تعالى.

Usholli sunnata lailatil qodri rok'ataini mustaqbilal qiblati imaaman/makmuuman lillaahi ta'alaa.

Aku niat shalat sunah lailatul qadar dua rakaat menghadap kiblat menjadi imam/makmum karena Alloh Ta'ala.

Atau niat :
أُصَلّيْ سُنَّةَ المُطْلَقِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّه تعالَى

Ushalli sunnatal muthlaqi rak'ataini lillahi ta'ala.

Aku niat shalat sunah mutlak dua rakaat karena Allah Ta'ala.

والله اعلم بالصواب .
Bersambung.....

Assalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatuh The Power of Qiraah: SYAFA'AT di AKHIRATDari Abu Umamah al Bahili, Rasulullah...
22/04/2022

Assalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

The Power of Qiraah:
SYAFA'AT di AKHIRAT

Dari Abu Umamah al Bahili, Rasulullah SAW bersabda, “Bacalah Al-Qur’an, maka sesungguhnya ia akan datang di hari kiamat memberi syafaat kepada pembacanya.” (Hadis Shahih diriwayatkan oleh imam Muslim)

Penjelasan Hadis

Hadis ini memerintahkan agar menjadikan Al Qur’an sebagai bacaan utama harian kita. Kelak Al-Qur'an akan menjadi sahabat di akhirat jika kita sudah membersamainya sejak di dunia. Jika kita menjaga kelestariannya dengan membaca dan berpegang teguh pada isi kandungannya, niscaya Al-Qur’an akan menjaga kita dengan memberikan syafaat/pertolongan di akhirat kelak.

Kalimat “Bacalah Al-Qur’an” dapat dipahami perintah membaca secara tekstual maupun perintah tadabbur isi kandungannya. Mayoritas ulama memahami perintah ini dengan membaca secara tekstual secara istiqamah setiap hari berdasarkan hadis-hadis tentang keutamaan membaca Al-Qur’an. Salah satunya sabda Rasulullah SAW dari Anas bin Malik RA,

“Barangsiapa yang membaca Al-Qur’an siang atau malam 50 ayat niscaya tidak tergolong orang-orang yang melalaikan (Al-Qur’an), dan barangsiapa yang membaca Al-Qur’an 100 ayat niscaya tergolong orang yang taat, dan barangsiapa yang membaca Al-Qur’an 200 ayat niscaya Al-Qur’an tidak akan menghujatnya pada hari kiamat.” (HR. Ibnu Sinni)

Kalimat “memberi syafaat kepada pembacanya” menunjukkan kehadiran Al-Qur’an pada hari kiamat sebagai sahabat sejati pembacanya dengan tampil sebagai pemberi syafaat. Pada hari itu, Al-Qur’an akan tampil mengawal sahabatnya meniti jalan menuju surga. Syekh Abdul Fattah al-Qadi menjelaskan bahwa syafaat Al-Qur’an berbeda dengan syafaat lainnya di hari kiamat. Syafaat Al-Qur’an mencegah seseorang jatuh dalam kobaran api neraka, sedangkan syafaat yang lain mengangkat dan menyelamatkan seseorang dari kobaran api neraka. Artinya seorang yang mendapatkan syafaat Al-Qur’an, ia akan tercegah dan tidak sampai jatuh dalam kobaran api neraka meskipun ia divonis sebagai penghuni neraka. Sementara orang yang mendapatkan syafaat selain Al-Qur’an, maka ia diangkat dari dalam kobaran neraka setelah merasakan panasnya api neraka.

Pertama: Al-Qur’an Menjadi Tameng dari Siksa Kubur

Dalam sebuah riwayat, Amru bin Murrah menjelaskan Al-Qur'an akan melindungi pembacanya dari siksa kubur. Diriwayatkan, jika manusia masuk ke dalam kubur kemudian muncul semburan api sebagai siksa kubur yang akan melumatnya dari berbagai arah, maka Al-Qur'an datang untuk menyelamatkan.

“Jika manusia masuk ke dalam kubur, tiba-tiba keluar semburan api dari arah kepalanya, lalu Al-Qur’an datang untuk menghalanginya. Kemudian api itu keluar dari arah kakinya, lalu datanglah Al-Qur’an untuk menghalanginya. Kemudian keluar dari samping kanannya, lalu datanglah Al-Qur’an untuk menghalanginya. Lalu keluar dari sampai kirinya, maka datanglah Al-Qur’an untuk menghalanginya. Lalu api itu bertanya: Mengapa engkau berbuat demikian, demi Allah ia tidak pernah berbuat untukmu? Lalu Al-Qur’an berkata, “Bukankah dahulu aku berada di mulutnya.” Maka Al-Qur’an tak henti-hentinya melakukan pembelaan untuk menyelamatkan sahabatnya.

Kedua: Mahkota Bagi Orang Tua

Orang tua memiliki kewajiban terhadap anak-anaknya antara lain mengenalkan Allah dan Rasul-Nya, serta mengajarkan Al-Qur’an. Bagi orang tua yang memiliki kepandaian membaca Al-Qur’an wajib mengajarkannya kepada anak-anaknya dan membimbingnya bersahabat dengan Al-Qur’an. Namun, bagi orang tua yang tidak mahir atau tidak mampu membaca Al-Qur’an wajib menitipkan anak-anaknya kepada lembaga pendidikan yang menyelenggarakan pembelajaran baca tulis Al-Qur’an. Karena mengenalkan Al-Qur’an adalah kewajiban yang mutlak dipenuhi oleh setiap orangtua.

Bagi orang tua yang berhasil mendidik anak-anak cinta Al-Qur’an dengan mendawamkan tilawah setiap hari atau menjadi penghafal Al-Qur’an, maka Allah SWT memberikan penghargaan di surga berupa disematkan mahkota yang bersinar terang bagaikan sinar matahari. Rasulullah SAW bersabda:

“Siapa saja yang membaca Al-Qur’an, mengajarkannya, mengamalkan (kandungan)nya, niscaya di hari Kiamat kedua orangtuanya disematkan mahkota dari cahaya yang bersinar seperti sinar matahari, dan dipakaikan perhiasan yang belum dipakai keduanya di dunia, lalu keduanya berkata: Mengapa kami dipakaikan seperti ini, lalu diseru: Lantaran anak kalian bersahabat dengan Al-Qur’an.”

Ketiga: Memberi Syafaat 10 Anggota Keluarga

Di antara syafaat Al-Qur’an, setiap orang yang berusaha menjaga kebersamaan dengan Al-Qur’an akan memberikan pengaruh positif bagi 10 (sepuluh) anggota keluarganya yang muslim meskipun telah divonis menjadi penghuni neraka. Dari Ali bin Abi Thalib RA, Rasulullah SAW bersabda,

“Siapa saja yang membaca AlQur’an, lalu ia menghafalnya dan menjaganya niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga, dan menjadikannya dapat memberikan syafaat kepada 10 orang dari kalangan keluarganya meskipun semua telah ditetapkan masuk ke neraka.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Keempat: Penentu Derajat Surga

Ayat-ayat Al-Qur’an ibarat anak-anak tangga yang akan mengantarkan pembacanya kepada tangga tertinggi di sisi Allah SWT. Keindahan suara bacaan Al-Qur’an di dunia akan mengusik perhatian Allah SWT dan memunculkan kerinduan untuk mendengarkan kembali di surga. Inilah yang menjadikan Allah SWT memerintahkan pembaca Al-Qur’an untuk naik ke tangga kemuliaan hingga mencapai anak tangga sesuai dengan akhir ayat yang dibaca di dunia. Semakin bertambah ayat yang dibaca, semakin tinggi p**a anak-anak tangga kemuliaan yang dinaiki. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Dikatakan kepada sahabat Al-Qur’an, ‘Bacalah, naiklah, bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membaca dengan tartil di dunia, karena sesungguhnya derajatmu (di surga) menurut akhir ayat yang engkau baca.”

Dari uraian singkat ini dapat dipahami bahwa syafaat Al Qur’an pada hari kiamat adalah nyata dan tidak terbantahkan. Untuk mendapatkan syafaat Al-Qur’an, seseorang harus memiliki hati yang terikat kuat dengan Al-Qur’an, menjadikan Al-Qur’an sebagai bacaan utama dan berpegang teguh isi kandungannya. Tapi jika Al Qur’an hanya dijadikan sebagai penghias dinding, mahar pernikahan, atau pelengkap aksesoris rumah tanpa membacanya dan mengamalkan isi kandungannya, maka Al Qur’an akan menarik pemilik mushaf ke dalam kobaran api neraka.

Oleh karena itu, marilah kita memotivasi diri untuk istiqamah membaca Al Qur’an setiap hari baik di rumah, tempat kerja, masjid/mushalla, maupun tempat-tempat baik lainnya. Janganlan hari-hari berlalu tanpa membaca Al-Qur’an.

Demikian semoga bermanfaat.

Kisah Awal Mula Habib Ali Al-Jufri Jatuh Hati kepada Habib Umar bin HafidzKisah ini dari Ustadz Ziad Bakhomis dari Al Ha...
12/04/2022

Kisah Awal Mula Habib Ali Al-Jufri Jatuh Hati kepada Habib Umar bin Hafidz

Kisah ini dari Ustadz Ziad Bakhomis dari Al Habib Ali Al Jufri ketika datang ke Tarim pada pernikahan putra pertama Guru mulia Al Habib Umar Bin Hafidz.

Al Habib Ali Al Jufri ketika di usia belasan tahun mengabdikan dirinya kepada Al Habib Abdul Qodir Assegaf, Jeddah yang beliau anggap sebagai salah satu guru terpenting.

Saat itu pemuda Tarim bernama Al Habib Umar bin Hafidz datang pertama kali ke Jeddah mengunjungi Al Habib Abdul Qodir.

Singkat cerita, ketika sampai di Jeddah, Al Habib Umar datang kepada sebuah barrodah (seperti kulkas terbuka untuk minum air yang biasa ada di pinggir jalanan di Arab, lengkap dengan gelasnya).

Ketika itu Habib Umar mengisi gelasnya dengan air dan kebetulan tali yang mengikat gelas dan mesin pendingin tersebut sangatlah pendek sehingga orang-orang minum dalam keadaan berdiri.

Namun, tidak dengan Sayyidil Habib Umar ketika itu, beliau berusaha memaksakan dirinya untuk tetap duduk walaupun keadaan sulit untuk itu.
Kejadian inilah yang diam-diam dilihat seorang anak bernama Habib Ali Aljufri.

Ia kagum dan bertanya langsung kepada laki-laki yang baru pertama kali ia lihat itu: “mengapa kau lakukan itu?”

Al habib Umar menjawab: “ya, ini merupakan sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan aku tidak ingin luput dari sunnah Beliau hanya karena seutas tali”.

Dibuat kagum dengan jawaban tersebut, maka Habib Ali Jufri datang kepada gurunya Al Habib Abdul Qodir dan menceritakan perihal yang terjadi.

Maka gurunya menjawab, “ia adalah Umar Bin Muhammad bin Hafidz, seorang yang kelak akan memiliki martabat yang agung, kelak kau ikutlah bersamanya.”

Sejak saat itu Habib Ali Al Jufri kecil mulai jatuh cinta dengan Guru Mulia muda.
Cinta karena Allah.
Cinta karena satu sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Terkadang ribuan kalimat yang kita ucapkan akan kalah dengan satu tauladan yang kita contohkan.

Semoga kita mendapatkan pelajaran berharga dari kisah ini dan membuat kita mulai untuk minum dengan tangan kanan dan dalam keadaan duduk.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سيدنا إِبْرَاهِيْمَ وبَارِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سيدنا إِبْرَاهِيْمَ

في العالمين إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ

***

Address

Kandangan

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Majles ta'lim dan sholawat Hss posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share