21/08/2026
RISALAH YANG SEMPURNA, SUNNAH YANG JANGAN DIPERSEMPIT
Ada saat-saat tertentu ketika kecintaan kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW ramai diwujudkan melalui simbol. Shalawat dilantunkan, maulid dibacakan, majelis dipenuhi pujian kepada Rasulullah SAW, dan berbagai bentuk ekspresi kecintaan hadir dalam kehidupan umat Islam. Semua itu tentu memiliki tempatnya sendiri dalam tradisi keagamaan.
Namun, ada satu pertanyaan yang jauh lebih mendasar: sejauh mana kecintaan kepada Kanjeng Nabi membuat kita memahami risalah yang beliau bawa?
Pertanyaan semacam itulah yang terasa relevan ketika Majelis Dzikir dan Ta’lim Annahdloh Lampung Selatan kembali menggelar pengajian Ngaji Kitab Shahih Bukhari di Masjid Safinatunnajah, Kompleks Kantor PCNU Lampung Selatan, Jumat malam, 21 Agustus 2026.
Di tengah suasana Rabi’ul Awal 1448 H, ketika umat Islam mulai menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW, majelis itu tidak hanya menjadi ruang untuk berdzikir dan bershalawat. Ia juga menjadi ruang untuk kembali menengok makna risalah kenabian.
Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum Jatiagung sekaligus Wakil Ketua PCNU Kabupaten Lampung Selatan, Kyai Abdul Aziz At-Tarmasie, mengingatkan bahwa syariat yang dibawa Kanjeng Nabi Muhammad SAW merupakan penyempurna risalah para nabi terdahulu, sejak Nabi Adam AS hingga nabi-nabi sebelum beliau.
Pernyataan itu penting karena terkadang umat memahami agama seolah-olah risalah Nabi Muhammad SAW berdiri sendiri dan terputus dari sejarah panjang kenabian. Padahal, tauhid yang dibawa Rasulullah SAW bukanlah tauhid yang muncul tanpa akar sejarah. Ia merupakan kelanjutan dari risalah yang telah dibawa para nabi.
“Maka sekalipun kita ikut ajaran Kanjeng Nabi Muhammad, tidak menafikan ajaran yang dibawa oleh nabi sebelum Nabi Muhammad,” tutur Kyai Abdul Aziz di hadapan jamaah.
Di titik inilah kesempurnaan risalah Nabi Muhammad SAW dapat dipahami secara lebih utuh. Kesempurnaan bukan berarti pengingkaran terhadap apa yang telah dibawa para nabi terdahulu, melainkan penyempurnaan risalah tauhid untuk umat manusia.
Puasa Nabi Daud AS, misalnya, menjadi salah satu contoh amalan yang dikenal dalam khazanah syariat, sementara ibadah haji memiliki hubungan yang kuat dengan napak tilas syariat Nabi Ibrahim AS. Jejak-jejak kenabian itu tetap hadir dalam kehidupan umat Islam, sekalipun umat Muhammad SAW memiliki syariat yang telah disempurnakan.
Karena itu, mencintai Kanjeng Nabi semestinya tidak membuat kita kehilangan kesadaran terhadap mata rantai panjang risalah kenabian. Justru melalui Rasulullah SAW, umat manusia diajak memahami kembali bahwa ajaran tauhid memiliki sejarah panjang yang bersambung dari satu nabi kepada nabi berikutnya.
Pembicaraan tentang Nabi Muhammad SAW kemudian membawa kita kepada persoalan lain yang tidak kalah penting: bagaimana memahami sunnah beliau?
Di tengah kehidupan keagamaan yang sering kali mudah terjebak pada apa yang tampak, sunnah terkadang dipahami sebatas simbol-simbol lahiriah. Jubah, imamah, gaya berpakaian, atau penampilan tertentu seakan-akan menjadi ukuran utama dalam menilai seseorang sebagai pengikut sunnah.
Padahal, keteladanan Rasulullah SAW jauh lebih luas daripada apa yang sekadar terlihat oleh mata.
Kyai Abdul Aziz mengingatkan agar sunnah Nabi dipahami secara proporsional. Simbol-simbol lahiriah tidak semestinya dijadikan satu-satunya ukuran untuk menilai tingkat keimanan maupun kesalehan seseorang.
Sebab, sunnah juga berbicara tentang ilmu, ibadah, kebersihan, akhlak, tanggung jawab, dan bagaimana seorang Muslim menjalani kehidupan.
Dalam hal ini, contoh yang disampaikan tentang thaharah terasa sederhana, tetapi justru sangat mendasar.
Pengetahuan tentang tata cara bersuci setelah buang air atau istinja’ mungkin tidak sepopuler pembicaraan tentang pakaian dan penampilan yang dinisbatkan kepada sunnah. Namun, ia berkaitan langsung dengan kesucian seseorang dan pada akhirnya berhubungan dengan keabsahan ibadah.
“Bagian sunnah thoharah yang sifatnya fi’li, seperti ilmu tata cara bersuci setelah buang air (istinja’), justru jauh lebih penting dan menjadi benteng keabsahan ibadah kita,” tegasnya.
Pesan tersebut mengandung kritik yang halus tetapi penting: jangan sampai kita sibuk memperdebatkan bentuk, sementara kehilangan substansi.
Jangan sampai seseorang begitu bersemangat menunjukkan simbol-simbol sunnah, tetapi kurang memperhatikan ilmu yang menjadi dasar pelaksanaan ibadah. Jangan sampai kecintaan kepada Nabi berhenti pada apa yang melekat di tubuh, tetapi tidak sampai kepada apa yang seharusnya melekat dalam perilaku.
Sebab sunnah bukan sekadar sesuatu yang dipakai untuk dikenali. Sunnah adalah sesuatu yang dipahami dan diamalkan.
Pada akhirnya, pembicaraan tentang sunnah akan membawa kita kepada satu kata penting: keteladanan.
Allah SWT menyebut Rasulullah SAW sebagai Uswatun Hasanah, teladan yang baik. Keteladanan Nabi tidak hanya berada dalam ruang ibadah mahdhah, tetapi juga dalam cara beliau memperlakukan manusia, menghadapi perbedaan, menjaga amanah, bersikap adil, dan menghadirkan akhlak mulia dalam kehidupan.
Ketaatan kepada Allah SWT tidak dapat dipisahkan dari ketaatan kepada Rasulullah SAW. Prinsip “Ati’ullah wa ati’urrasul” menunjukkan bahwa mengikuti Rasulullah SAW bukan sekadar pengakuan verbal, melainkan konsekuensi dari iman.
Di sinilah kecintaan kepada Kanjeng Nabi memperoleh maknanya yang lebih dalam.
Shalawat adalah cinta.
Maulid adalah cinta.
Menyebut nama Rasulullah dengan penuh penghormatan adalah cinta.
Tetapi cinta yang paling sempurna semestinya melahirkan keinginan untuk memahami risalahnya, mengikuti sunnahnya, dan meneladani akhlaknya.
Sebab apa gunanya seseorang begitu fasih berbicara tentang kecintaan kepada Rasulullah SAW jika lisannya masih mudah menyakiti? Apa maknanya mengaku mengikuti sunnah jika ilmu dan akhlak justru ditinggalkan?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu barangkali menjadi penting untuk direnungkan kembali, terutama ketika Rabi’ul Awal datang dan umat Islam kembali menyemarakkan berbagai majelis Maulid.
Majelis Dzikir dan Ta’lim Annahdloh Lampung Selatan sesungguhnya memperlihatkan satu wajah penting dari tradisi Nahdlatul Ulama: dzikir dan ilmu tidak perlu dipertentangkan.
Istighotsah Mbah Yai Hasyim Asy’ari, doa, munajat, shalawat, dan pengajian kitab dapat hadir dalam satu ruang yang sama. Spiritualitas berjalan bersama keilmuan. Tradisi berjalan bersama pembelajaran.
Malam itu, jamaah tidak hanya diajak memohon pertolongan dan perlindungan Allah SWT agar dijauhkan dari kezaliman dan kemunafikan. Mereka juga diajak kembali memahami bagaimana risalah Nabi Muhammad SAW seharusnya ditempatkan dalam kehidupan seorang Muslim.
Inilah yang membuat sebuah majelis tidak berhenti sebagai agenda rutin.
Ia menjadi ruang untuk merawat ingatan.
Ingatan bahwa Islam memiliki mata rantai keilmuan.
Ingatan bahwa risalah Nabi Muhammad SAW memiliki kesinambungan dengan risalah para nabi terdahulu.
Ingatan bahwa sunnah tidak boleh dipersempit menjadi simbol.
Dan yang paling penting, ingatan bahwa Rasulullah SAW hadir sebagai Uswatun Hasanah yang keteladanannya harus terus dihidupkan.
Momentum Rabi’ul Awal tahun ini hadir bersamaan dengan suasana peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia dan menjelang Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama di Jombang.
Di tengah berbagai dinamika umat dan organisasi, pesan tentang Nabi Muhammad SAW justru terasa semakin relevan.
Sebab pada akhirnya, organisasi, tradisi, dan berbagai aktivitas sosial-keagamaan membutuhkan fondasi akhlak. Perbedaan pandangan membutuhkan adab. Perjuangan membutuhkan keikhlasan. Kekuasaan membutuhkan amanah. Dan setiap orang yang mengaku mencintai Rasulullah SAW membutuhkan keteladanan beliau sebagai cermin.
Mungkin itulah makna terdalam dari menghidupkan Maulid.
Bukan sekadar membuat nama Nabi semakin sering disebut, tetapi membuat ajaran dan akhlaknya semakin nyata dalam kehidupan.
Bukan sekadar memperbanyak simbol, tetapi memperdalam pemahaman.
Bukan sekadar menunjukkan kecintaan, tetapi membuktikannya melalui ilmu, ibadah, dan akhlak.
Sebab risalah Nabi Muhammad SAW telah sempurna. Yang belum sempurna adalah cara kita memahami dan mengamalkannya.
Dan barangkali, di situlah tugas kita sebagai umat: bukan hanya terus mengucapkan bahwa kita mencintai Kanjeng Nabi, tetapi perlahan-lahan menjadikan kehidupan kita lebih dekat dengan nilai-nilai yang beliau wariskan.