KBNU Lampung Selatan

KBNU Lampung Selatan BUAH DUKU BUAH JAMBU, BERSAMA NU LAMPUNG SELATAN MAJU.

🌙 MAJELIS DZIKIR & TA’LIM ANNAHDLOH 🌙Mari bersama-sama menghidupkan malam dengan dzikir, shalawat, pengajian, dan istigh...
20/09/2026

🌙 MAJELIS DZIKIR & TA’LIM ANNAHDLOH 🌙

Mari bersama-sama menghidupkan malam dengan dzikir, shalawat, pengajian, dan istighotsah dalam suasana penuh keberkahan.

Bersama Kyai Abdul Aziz At-Tarmasie, Pimpinan PP Bahrul ‘Ulum Jatiagung, Lampung Selatan.

📅 Jumat, 25 September 2026
🕗 Pukul 20.00 WIB – Ba’da Isya’
📍 Masjid Safinatunnajah
Kompleks Kantor PCNU Lampung Selatan

🤲 Ayo Ngaji, Ayo Ngamal, Ayo Istiqomah.

Semoga langkah kita menuju majelis ilmu menjadi jalan meraih ridha Allah SWT dan keberkahan hidup.

Ngaji, ngalap berkah, p**ang membawa ilmu.Haul Akbar Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani & Khataman Tafsir Syekh Nawawi Banten....
15/09/2026

Ngaji, ngalap berkah, p**ang membawa ilmu.

Haul Akbar Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani & Khataman Tafsir Syekh Nawawi Banten.

Semoga langkah menuju majelis ini menjadi jalan p**ang yang lebih dekat kepada Allah.
berat

52 kader Nahdlatul Ulama (NU) dari Kabupaten Pesawaran dan Lampung Selatan bertolak menuju Jombang, Jawa Timur, Rabu (26...
26/08/2026

52 kader Nahdlatul Ulama (NU) dari Kabupaten Pesawaran dan Lampung Selatan bertolak menuju Jombang, Jawa Timur, Rabu (26/8/2026), untuk mengikuti rangkaian Muktamar Ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas.

Terdiri dari 30 kader Pesawaran dan 22 kader Lampung Selatan, perjalanan ini bukan sekadar menempuh jarak dari Lampung menuju Jombang. Ada niat lillahita'ala, semangat khidmah, silaturahmi, dan ikhtiar menjemput keberkahan dari para ulama.

“Kami berangkat dengan satu niat, yaitu khidmat mutlak lillahi ta'ala kepada ulama dan jam'iyyah.”

Setibanya di Jombang, rombongan Lampung Selatan juga mendapat tempat persinggahan di Masjid Al Mar'aa, sekitar tiga kilometer dari lokasi Muktamar. Sambutan dan fasilitas yang disiapkan menjadi bagian hangat dari perjalanan para kader.

Dari Lampung menuju Tambakberas, satu niat dibawa: lillahita'ala, berkhidmah, bersilaturahmi, dan menjaga adab.

Semoga perjalanan diberi kelancaran, Muktamar berjalan aman dan bahagia, serta seluruh rombongan kembali ke Lampung dengan selamat.

Dari Lampung untuk NU. Dari khidmah menuju keberkahan.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ 1448 HMinggu, 23 Agustus 2026, masyarakat Dusun Way Apus, Desa Bakauheni, Lampung Sela...
23/08/2026

Peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ 1448 H

Minggu, 23 Agustus 2026, masyarakat Dusun Way Apus, Desa Bakauheni, Lampung Selatan, berkumpul dalam suasana penuh kebersamaan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad ﷺ di halaman depan SMP/SMK Bakauheni.

Kegiatan dihadiri jajaran Syuriyah dan Tanfidziyah PCNU Lampung Selatan, MWCNU Bakauheni, UPZISNU Bakauheni, PAC Muslimat NU Bakauheni, kader NU, pemerintah desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta jamaah dari dua dusun.

Mauidzoh Hasanah disampaikan oleh Kyai Abdul Aziz At-Tarmasie, yang mengajak jamaah memahami sejarah perkembangan ilmu Islam sekaligus menghidupkan sunnah Rasulullah ﷺ dalam kehidupan sehari-hari.

Semoga kebersamaan dalam Maulid ini membawa keberkahan, mempererat ukhuwah, dan menumbuhkan kecintaan kita kepada Rasulullah ﷺ. Aamiin.

22/08/2026

Syuriyah PCNU Lampung Selatan Keluarkan Lima Maklumat Jelang Muktamar ke-35 NU

Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, Syuriyah PCNU Lampung Selatan menegaskan lima maklumat sebagai ikhtiar bersama untuk menjaga marwah, adab, ukhuwah, independensi, dan kemurnian proses permusyawaratan jam’iyah.

Maklumat tersebut ditegaskan dalam rangkaian Istighotsah Kubro bersama jajaran Syuriyah MWCNU se-Lampung Selatan di Pondok Pesantren Faatihul Buldaan, Jatimulyo, Jati Agung, Sabtu, 22 Agustus 2026.

Lima pesan tersebut mencakup komitmen menyukseskan Muktamar dengan aman, damai, bahagia, dan riang gembira; menempatkan Muktamar sebagai forum menentukan arah jam’iyah, bukan sekadar memilih kepemimpinan; menjaga kemurnian proses pengusulan AHWA; menolak segala bentuk intervensi terhadap independensi peserta; serta menjaga netralitas panitia Muktamar.

Sebuah ikhtiar agar perbedaan tetap berada dalam bingkai adab, persaudaraan, dan musyawarah demi menjaga marwah serta masa depan Nahdlatul Ulama.

"Muktamar adalah amanah. Kepemimpinan adalah khidmah. Musyawarah adalah jalan untuk menjaga keduanya."


berat

RISALAH YANG SEMPURNA, SUNNAH YANG JANGAN DIPERSEMPIT Ada saat-saat tertentu ketika kecintaan kepada Kanjeng Nabi Muhamm...
21/08/2026

RISALAH YANG SEMPURNA, SUNNAH YANG JANGAN DIPERSEMPIT

Ada saat-saat tertentu ketika kecintaan kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW ramai diwujudkan melalui simbol. Shalawat dilantunkan, maulid dibacakan, majelis dipenuhi pujian kepada Rasulullah SAW, dan berbagai bentuk ekspresi kecintaan hadir dalam kehidupan umat Islam. Semua itu tentu memiliki tempatnya sendiri dalam tradisi keagamaan.

Namun, ada satu pertanyaan yang jauh lebih mendasar: sejauh mana kecintaan kepada Kanjeng Nabi membuat kita memahami risalah yang beliau bawa?

Pertanyaan semacam itulah yang terasa relevan ketika Majelis Dzikir dan Ta’lim Annahdloh Lampung Selatan kembali menggelar pengajian Ngaji Kitab Shahih Bukhari di Masjid Safinatunnajah, Kompleks Kantor PCNU Lampung Selatan, Jumat malam, 21 Agustus 2026.

Di tengah suasana Rabi’ul Awal 1448 H, ketika umat Islam mulai menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW, majelis itu tidak hanya menjadi ruang untuk berdzikir dan bershalawat. Ia juga menjadi ruang untuk kembali menengok makna risalah kenabian.

Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum Jatiagung sekaligus Wakil Ketua PCNU Kabupaten Lampung Selatan, Kyai Abdul Aziz At-Tarmasie, mengingatkan bahwa syariat yang dibawa Kanjeng Nabi Muhammad SAW merupakan penyempurna risalah para nabi terdahulu, sejak Nabi Adam AS hingga nabi-nabi sebelum beliau.

Pernyataan itu penting karena terkadang umat memahami agama seolah-olah risalah Nabi Muhammad SAW berdiri sendiri dan terputus dari sejarah panjang kenabian. Padahal, tauhid yang dibawa Rasulullah SAW bukanlah tauhid yang muncul tanpa akar sejarah. Ia merupakan kelanjutan dari risalah yang telah dibawa para nabi.

“Maka sekalipun kita ikut ajaran Kanjeng Nabi Muhammad, tidak menafikan ajaran yang dibawa oleh nabi sebelum Nabi Muhammad,” tutur Kyai Abdul Aziz di hadapan jamaah.

Di titik inilah kesempurnaan risalah Nabi Muhammad SAW dapat dipahami secara lebih utuh. Kesempurnaan bukan berarti pengingkaran terhadap apa yang telah dibawa para nabi terdahulu, melainkan penyempurnaan risalah tauhid untuk umat manusia.

Puasa Nabi Daud AS, misalnya, menjadi salah satu contoh amalan yang dikenal dalam khazanah syariat, sementara ibadah haji memiliki hubungan yang kuat dengan napak tilas syariat Nabi Ibrahim AS. Jejak-jejak kenabian itu tetap hadir dalam kehidupan umat Islam, sekalipun umat Muhammad SAW memiliki syariat yang telah disempurnakan.

Karena itu, mencintai Kanjeng Nabi semestinya tidak membuat kita kehilangan kesadaran terhadap mata rantai panjang risalah kenabian. Justru melalui Rasulullah SAW, umat manusia diajak memahami kembali bahwa ajaran tauhid memiliki sejarah panjang yang bersambung dari satu nabi kepada nabi berikutnya.

Pembicaraan tentang Nabi Muhammad SAW kemudian membawa kita kepada persoalan lain yang tidak kalah penting: bagaimana memahami sunnah beliau?

Di tengah kehidupan keagamaan yang sering kali mudah terjebak pada apa yang tampak, sunnah terkadang dipahami sebatas simbol-simbol lahiriah. Jubah, imamah, gaya berpakaian, atau penampilan tertentu seakan-akan menjadi ukuran utama dalam menilai seseorang sebagai pengikut sunnah.

Padahal, keteladanan Rasulullah SAW jauh lebih luas daripada apa yang sekadar terlihat oleh mata.

Kyai Abdul Aziz mengingatkan agar sunnah Nabi dipahami secara proporsional. Simbol-simbol lahiriah tidak semestinya dijadikan satu-satunya ukuran untuk menilai tingkat keimanan maupun kesalehan seseorang.

Sebab, sunnah juga berbicara tentang ilmu, ibadah, kebersihan, akhlak, tanggung jawab, dan bagaimana seorang Muslim menjalani kehidupan.

Dalam hal ini, contoh yang disampaikan tentang thaharah terasa sederhana, tetapi justru sangat mendasar.

Pengetahuan tentang tata cara bersuci setelah buang air atau istinja’ mungkin tidak sepopuler pembicaraan tentang pakaian dan penampilan yang dinisbatkan kepada sunnah. Namun, ia berkaitan langsung dengan kesucian seseorang dan pada akhirnya berhubungan dengan keabsahan ibadah.

“Bagian sunnah thoharah yang sifatnya fi’li, seperti ilmu tata cara bersuci setelah buang air (istinja’), justru jauh lebih penting dan menjadi benteng keabsahan ibadah kita,” tegasnya.

Pesan tersebut mengandung kritik yang halus tetapi penting: jangan sampai kita sibuk memperdebatkan bentuk, sementara kehilangan substansi.

Jangan sampai seseorang begitu bersemangat menunjukkan simbol-simbol sunnah, tetapi kurang memperhatikan ilmu yang menjadi dasar pelaksanaan ibadah. Jangan sampai kecintaan kepada Nabi berhenti pada apa yang melekat di tubuh, tetapi tidak sampai kepada apa yang seharusnya melekat dalam perilaku.

Sebab sunnah bukan sekadar sesuatu yang dipakai untuk dikenali. Sunnah adalah sesuatu yang dipahami dan diamalkan.

Pada akhirnya, pembicaraan tentang sunnah akan membawa kita kepada satu kata penting: keteladanan.

Allah SWT menyebut Rasulullah SAW sebagai Uswatun Hasanah, teladan yang baik. Keteladanan Nabi tidak hanya berada dalam ruang ibadah mahdhah, tetapi juga dalam cara beliau memperlakukan manusia, menghadapi perbedaan, menjaga amanah, bersikap adil, dan menghadirkan akhlak mulia dalam kehidupan.

Ketaatan kepada Allah SWT tidak dapat dipisahkan dari ketaatan kepada Rasulullah SAW. Prinsip “Ati’ullah wa ati’urrasul” menunjukkan bahwa mengikuti Rasulullah SAW bukan sekadar pengakuan verbal, melainkan konsekuensi dari iman.

Di sinilah kecintaan kepada Kanjeng Nabi memperoleh maknanya yang lebih dalam.

Shalawat adalah cinta.

Maulid adalah cinta.

Menyebut nama Rasulullah dengan penuh penghormatan adalah cinta.

Tetapi cinta yang paling sempurna semestinya melahirkan keinginan untuk memahami risalahnya, mengikuti sunnahnya, dan meneladani akhlaknya.

Sebab apa gunanya seseorang begitu fasih berbicara tentang kecintaan kepada Rasulullah SAW jika lisannya masih mudah menyakiti? Apa maknanya mengaku mengikuti sunnah jika ilmu dan akhlak justru ditinggalkan?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu barangkali menjadi penting untuk direnungkan kembali, terutama ketika Rabi’ul Awal datang dan umat Islam kembali menyemarakkan berbagai majelis Maulid.

Majelis Dzikir dan Ta’lim Annahdloh Lampung Selatan sesungguhnya memperlihatkan satu wajah penting dari tradisi Nahdlatul Ulama: dzikir dan ilmu tidak perlu dipertentangkan.

Istighotsah Mbah Yai Hasyim Asy’ari, doa, munajat, shalawat, dan pengajian kitab dapat hadir dalam satu ruang yang sama. Spiritualitas berjalan bersama keilmuan. Tradisi berjalan bersama pembelajaran.

Malam itu, jamaah tidak hanya diajak memohon pertolongan dan perlindungan Allah SWT agar dijauhkan dari kezaliman dan kemunafikan. Mereka juga diajak kembali memahami bagaimana risalah Nabi Muhammad SAW seharusnya ditempatkan dalam kehidupan seorang Muslim.

Inilah yang membuat sebuah majelis tidak berhenti sebagai agenda rutin.

Ia menjadi ruang untuk merawat ingatan.

Ingatan bahwa Islam memiliki mata rantai keilmuan.

Ingatan bahwa risalah Nabi Muhammad SAW memiliki kesinambungan dengan risalah para nabi terdahulu.

Ingatan bahwa sunnah tidak boleh dipersempit menjadi simbol.

Dan yang paling penting, ingatan bahwa Rasulullah SAW hadir sebagai Uswatun Hasanah yang keteladanannya harus terus dihidupkan.

Momentum Rabi’ul Awal tahun ini hadir bersamaan dengan suasana peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia dan menjelang Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama di Jombang.

Di tengah berbagai dinamika umat dan organisasi, pesan tentang Nabi Muhammad SAW justru terasa semakin relevan.

Sebab pada akhirnya, organisasi, tradisi, dan berbagai aktivitas sosial-keagamaan membutuhkan fondasi akhlak. Perbedaan pandangan membutuhkan adab. Perjuangan membutuhkan keikhlasan. Kekuasaan membutuhkan amanah. Dan setiap orang yang mengaku mencintai Rasulullah SAW membutuhkan keteladanan beliau sebagai cermin.

Mungkin itulah makna terdalam dari menghidupkan Maulid.

Bukan sekadar membuat nama Nabi semakin sering disebut, tetapi membuat ajaran dan akhlaknya semakin nyata dalam kehidupan.

Bukan sekadar memperbanyak simbol, tetapi memperdalam pemahaman.

Bukan sekadar menunjukkan kecintaan, tetapi membuktikannya melalui ilmu, ibadah, dan akhlak.

Sebab risalah Nabi Muhammad SAW telah sempurna. Yang belum sempurna adalah cara kita memahami dan mengamalkannya.

Dan barangkali, di situlah tugas kita sebagai umat: bukan hanya terus mengucapkan bahwa kita mencintai Kanjeng Nabi, tetapi perlahan-lahan menjadikan kehidupan kita lebih dekat dengan nilai-nilai yang beliau wariskan.

Ketika Cinta kepada Rasulullah ﷺ Tidak Berhenti di Lisan.SUMBER AGUNG, 19 Agustus 2026.Ratusan jamaah berkumpul di Musho...
20/08/2026

Ketika Cinta kepada Rasulullah ﷺ Tidak Berhenti di Lisan.

SUMBER AGUNG, 19 Agustus 2026.

Ratusan jamaah berkumpul di Musholla Al-Muhajirin, Desa Sumber Agung, Rabu malam itu. Sejak sekitar pukul 20.00 WIB hingga menjelang 23.30 WIB, lantunan shalawat, pembacaan maulid, doa, dan mauizah hasanah mengisi malam peringatan kelahiran Nabi Muhammad ﷺ.

Di antara ratusan jamaah itu ada sebuah pertanyaan yang sebenarnya jauh lebih penting daripada sekadar meriah atau tidaknya sebuah peringatan Maulid: apa yang berubah dalam diri kita setelah kita memperingati kelahiran Rasulullah ﷺ?

Sebab Maulid tidak semestinya berhenti sebagai sebuah acara. Ia seharusnya menjadi ruang untuk mengingat kembali siapa yang kita cintai, sekaligus bercermin apakah kecintaan itu benar-benar telah menemukan bentuknya dalam kehidupan.

Pesan itulah yang terasa kuat dari mauizah hasanah yang disampaikan Sahrullah, S.Pd., M.Pd., dai Aksi Indonesia dan MUI Pusat.

Ia mengajak jamaah mensyukuri kedudukan sebagai umat Nabi Muhammad ﷺ dan memperbanyak shalawat. Namun kecintaan kepada Rasulullah ﷺ, menurutnya, tidak cukup dibuktikan dengan ucapan.

Ada ukuran yang lebih nyata: ibadah dan perilaku.

Salah satu yang ditekankannya adalah salat. Di tengah kehidupan yang dipenuhi pekerjaan, kesibukan, urusan keluarga, dan berbagai keperluan dunia, kewajiban salat tidak boleh tersisih.

“Sesibuk apa pun kita, sehebat apa pun kita, jangan sampai kita tinggalkan salat.”

Kalimat itu sederhana. Tetapi justru karena sederhana, ia menyentuh persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kita bisa begitu sibuk mengejar banyak hal, tetapi jangan sampai kesibukan membuat kita kehilangan hubungan dengan Allah SWT.

Dari sini, kecintaan kepada Rasulullah ﷺ tidak lagi sekadar persoalan perasaan. Ia menjadi pertanyaan tentang bagaimana seseorang menjalani kehidupannya.

Apakah salatnya terjaga?

Apakah akhlaknya semakin baik?

Apakah lisannya semakin terjaga?

Apakah hubungannya dengan sesama semakin baik?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu membuat peringatan Maulid memiliki makna yang lebih dalam.

Rasulullah ﷺ Bukan Sekadar Sosok yang Dicintai

Pesan tersebut kemudian mendapatkan penekanan berbeda dalam mauizah hasanah Kyai Abdul Aziz At-Tarmasie, pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum Jati Agung.

Ia mengajak jamaah melihat Rasulullah ﷺ sebagai uswatun hasanah—teladan yang baik.

Mencintai seseorang biasanya membuat kita ingin mengenal, meniru, dan mendekati apa yang ada pada dirinya. Begitu p**a kecintaan kepada Rasulullah ﷺ. Jika seseorang benar-benar mencintai beliau, semestinya ada bagian dari akhlak dan perilakunya yang berusaha mengikuti Rasulullah ﷺ.

Di sinilah kecintaan diuji.

Sebab mudah mengatakan cinta. Mudah bershalawat. Mudah menghadiri Maulid. Tetapi mengikuti keteladanan membutuhkan usaha yang terus-menerus.

Rasulullah ﷺ tidak hanya menjadi teladan dalam ibadah. Keteladanan beliau juga hadir dalam kehidupan sosial: bagaimana menghormati orang lain, menerima tamu, menjaga adab, memperhatikan masyarakat, dan menempatkan diri dalam hubungan dengan sesama.

Dengan demikian, keberagamaan tidak semestinya hanya tampak ketika seseorang berada di masjid atau majelis pengajian. Ia juga harus terlihat ketika seseorang kembali ke rumah, bekerja, bertetangga, bermasyarakat, dan berhadapan dengan orang yang berbeda kepentingan dengannya.

Kyai Abdul Aziz menyampaikannya dengan kalimat yang sederhana:

“Beragama itu sederhana.”

Sederhana bukan berarti tanpa aturan. Justru kesederhanaan itu dapat dimulai dari sesuatu yang paling dekat: menjalankan kewajiban, menjaga adab, menjaga aurat, menghormati sesama, dan berusaha meniru akhlak Rasulullah ﷺ.

Cinta Juga Membutuhkan Ilmu

Ada satu pesan lain yang tidak kalah penting: belajar sebelum menyampaikan ilmu.

Kyai Abdul Aziz mengingatkan agar ajaran agama tidak disampaikan secara serampangan. Termasuk dalam persoalan membaca Al-Qur'an, makhraj dan tajwid harus dipelajari dengan benar.

Ini menjadi pengingat bahwa semangat menyampaikan kebaikan harus berjalan bersama tanggung jawab terhadap ilmu.

Seseorang tidak cukup hanya memiliki niat baik. Ia juga perlu memastikan bahwa apa yang disampaikannya benar dan dipahami dengan baik.

Dalam kehidupan beragama, niat baik dan ilmu seharusnya berjalan beriringan.

Dari Musholla, Kembali kepada Kehidupan

Malam Maulid di Musholla Al-Muhajirin akhirnya meninggalkan pesan yang lebih luas daripada sekadar mengenang sebuah peristiwa sejarah.

Ia mengajak kita kembali kepada pertanyaan paling sederhana sekaligus paling sulit: apakah kita benar-benar mencintai Rasulullah ﷺ?

Jika jawabannya iya, maka cinta itu semestinya memiliki jejak.

Jejak itu bisa berupa salat yang lebih terjaga. Shalawat yang lebih sering dilantunkan. Akhlak yang lebih baik. Adab yang lebih terpelihara. Kesediaan menghormati orang lain. Kesungguhan menuntut ilmu. Dan keberanian untuk memperbaiki diri ketika menyadari masih banyak kekurangan.

Maulid kemudian tidak berhenti pada malam ketika jamaah berkumpul, shalawat dilantunkan, dan mauizah hasanah disampaikan.

Ia dibawa p**ang.

Dibawa ke rumah.

Dibawa ke tempat kerja.

Dibawa ke tengah masyarakat.

Sebab ukuran keberhasilan sebuah peringatan keagamaan mungkin bukan hanya seberapa banyak orang yang hadir di dalamnya, melainkan seberapa jauh pesan yang disampaikan mampu hidup setelah jamaah meninggalkan tempat acara.

Ratusan jamaah boleh memenuhi Musholla Al-Muhajirin pada malam itu. Namun setelah lampu-lampu dipadamkan dan majelis berakhir, masing-masing akan kembali kepada kehidupannya sendiri.

Di sanalah kecintaan kepada Rasulullah ﷺ kembali diuji.

Bukan di hadapan mikrofon.

Bukan hanya di tengah lantunan shalawat.

Melainkan dalam salat yang dijaga, akhlak yang diperbaiki, ilmu yang dipelajari, dan kehidupan sehari-hari yang berusaha diarahkan mengikuti keteladanan Rasulullah ﷺ.

Barangkali, di situlah makna Maulid yang paling penting: bukan sekadar membuat kita kembali mengingat Rasulullah ﷺ, tetapi membuat kita bertanya kepada diri sendiri setelah sekian banyak kita bershalawat dan mengatakan cinta, sudah sejauh mana kehidupan kita benar-benar mengikuti beliau?
( EYB119 ) berat

🌿 MAJELIS DZIKIR & TA’LIM ANNAHDLOH 🌿Di bulan kemerdekaan, mari kembali menguatkan hati dengan dzikir, istighotsah, shal...
18/08/2026

🌿 MAJELIS DZIKIR & TA’LIM ANNAHDLOH 🌿

Di bulan kemerdekaan, mari kembali menguatkan hati dengan dzikir, istighotsah, shalawat, dan ilmu.

Bersama Kyai Abdul Aziz At-Tarmasie, Pimpinan PP Bahrul ‘Ulum Jatiagung, Lampung Selatan, kita menyambung doa, merawat ukhuwah, dan meneguhkan semangat kebersamaan.

📖 Majahadah • Istighotsah • Ngaji Kitab Shahih Bukhari

🗓️ Jumat Kliwon, 21 Agustus 2026
🌙 Malam Sabtu Legi | 9 Rabi’ul Awal 1448 H
⏰ 20.00 WIB — ba’da Isya
📍 Masjid Safinatunnajah, Kompleks Kantor PCNU Lampung Selatan

Mari hadir dan menjadi bagian dari majelis yang menghidupkan hati, menerangi akal, serta menguatkan persatuan.

Ayo Ngaji. Ayo Berdzikir. Ayo Bershalawat. Ayo Merawat Indonesia. 🇮🇩💚

H-3 | Rabu, 5 Agustus 2026"Tidak semua perjalanan diukur oleh jarak. Ada yang hanya dapat ditempuh oleh hati yang telah ...
05/08/2026

H-3 | Rabu, 5 Agustus 2026

"Tidak semua perjalanan diukur oleh jarak. Ada yang hanya dapat ditempuh oleh hati yang telah siap. Tiga hari menuju Haul Akbar dan Istighotsah Kubro, mari melangkah dengan niat yang bersih, agar setiap langkah bernilai ibadah."



Tidak setiap perjalanan menuntun kita ke tempat yang baru. Sebagian justru membawa kita kembali kepada diri yang pernah ...
17/07/2026

Tidak setiap perjalanan menuntun kita ke tempat yang baru. Sebagian justru membawa kita kembali kepada diri yang pernah terlalu jauh.

Address

Jln. Lintas Sumatera, Way Lubuk Kalianda
Kalianda

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when KBNU Lampung Selatan posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share