GBKP Runggun Tiga Pancur

GBKP Runggun Tiga Pancur Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from GBKP Runggun Tiga Pancur, Church, Tiga Pancur, Kabanjahe.

  Minggu 9 Feb 2020SEPTUAGESIMAKebahagiaan Orang yang BenarMazmur 112:1-10---Minggu epifania telah berlalu. Kini kita ma...
08/02/2020

Minggu 9 Feb 2020
SEPTUAGESIMA
Kebahagiaan Orang yang Benar
Mazmur 112:1-10
---
Minggu epifania telah berlalu. Kini kita masuk ke masa transisi dua minggu lamanya dalam persiapan, sebelum memasuki minggu-minggu sengsara (passion). Minggu Septuagesima yang berarti 70 hari menjelang perayaan Paskah. Artinya spirit Septuagesima ini adalah transisi yang telah masuk dalam tabula paskah.

Kita mempersiapkan diri dengan berupaya mengenal Yesus dan perbuatan-perbuatanNya, sifat-sifatNya, yang menjadi pedoman berperilaku bagi kita sehari-hari. Sepetuagesima menghantar kita mendalami misi Allah bagi dunia, sehingga ketika nanti memasuki minggu-minggu sengsara;Kita dapat menghayati makna penderitaan Tuhan itu dengan mendalam: Betapa jauhnya rencana Allah dan respon manusia terhadap misi suciNya itu.
---
Banyak penafsir yang menyarankan, sebaiknya bacalah dan pahami dulu Mazmur 111 kemudian baca dan pahamilah Mazmur 112. Mazmur ini bergenre mazmur hikmat dalam pola penulisan sebab-akibat.

Mazmur 112 merupakan jawaban/sambutan bagi isi Mazmur 111. Di dalam Mazmur 111 TUHAN (Yahwe) digambarkan dengan jelas dalam sifat-sifat dan perbuatanNya. Dia adalah Tuhan yang melakukan perbuatan-perbuatan yang besar dalam karyaNya. Karyanya meneguhkan yang lemah, menegakkan keadilan/kebenaran, pendirianNya kokoh dan jujur, tidak menipu, memerdekakan bukan mengikat/menindas, dengan begitu namaNya menjadi kudus dan dasyat.

Perhatikan pengulangan terjadi dalam ayat 1 Mazmur 112 yang mentransformasi makna Mazmur 111: 10. Artinya: Orang yang berhikmat itu adalah orang yang Berbahagia.

Mazmur 112 memperlihatkan bagaimana orang Benar/Adil (tsadik) mengikuti pola laku, sifat dan karakter Yahwe (TUHAN) sebagai orang yang berbahagia. Sebagaimana Yahwe diperlihatkan dalam pasal 111 seperti itulah kesenangannya. Kesenangannya itu tidak dibuat-buat, bukan untuk topeng, sebab dia teguh pendirian seperti Tuhannya.

Dalam sastra hikmat, orang yang takut akan Tuhan adalah orang berhikmat. Itulah permulaaan dari segalanya yang menjadikan orang yang berhikmat itu seperti itu karakternya. Kepatuhannya penuh kepada Tuhan, tidak setengah-setengah, tidak ragu-ragu. Kebenaran dan keadilan selalu mengiringi laku hidupnya.

Penafsir-penafsir besar berkata, alangkah sulitnya membaca teks ini dengan tidak mengingat Yesus dan lakon hidupNya. Yesus memperlihatkan ketekunanNya menghidupi diriNya sebagai manusia berhikmat. Tidak ada keraguan sedikitpun kita dapati dalam diriNya dalam melaksakan kehendak BapaNya. Dia manusia merdeka dan selalu memerdekakan semua orag yang dijumpaiNya.
---
Kadang saya masih bertanya didalam hati saya, "Mengapa masih ragu-ragu untuk melakukan yang benar dan adil. Mengapa begitu kerdil diri ini untuk menjaga kenyamanan yang tidak seberapa artinya bila dibandingkan dengan kebaikan yang bisa terbagikan bagi banyak orang?"

"Mengapa tak memandang kepada Orang Berhikmat itu, melihat kasihNya yang besar, keteladanan dalam keberanianNya mengritik Farisi, Saduki, Essene, Zelot, apalagi terhadap kaum Herodian yang gila kuasa itu? Bukankah Yesus telah memperlihatkan keteladanNya dengan setia dan penuh taat?
----------
Lukisan: "Christ," By. Heinrich Hofmann, 1889.

  Minggu, 2 Februari 2020Minggu Epifania (akhir)Kebahagiaan SejatiMatius 5: 1-12---Di Minggu ini kita telah sampai di ak...
01/02/2020

Minggu, 2 Februari 2020
Minggu Epifania (akhir)
Kebahagiaan Sejati
Matius 5: 1-12
---
Di Minggu ini kita telah sampai di akhir perayaan epifania. Minggu-minggu yang menjembatani perayaan natal dengan permulaan perayaan paskah. Di puncak perayaan epifania ini kita dihantarkan pada renungan dan pemaknaan Allah yang telah menampakkan diri dalam rupa Yesus Kristus; Dan kita diminta untuk menyadari kehadiranNya itu dalam lakon hidup beriman kepadaNya.

Sebagai puncak refleksi atas kesadaran DIA yang telah datang ke dunia, kita diajak untuk melihat ke dalam diri kita sendiri, perbuatan dan sifat-sifat diri kita, dalam memaknai apa yang telah kita alami sebagai murid dan pengikut Yesus. Renungan dan pemaknaan berdasarkan Kotbah (Yesus) di bukit.
-
Puncak pertobatan dan pengenalan akan Yesus adalah kesadaran hidup yang penuh dosa. Tidak ada perasaan yang lebih rendah dari itu, tidak ada perasaan yang lebih miskin dari pada perasaan seperti itu. Tetapi di saat yang sama p**a, kita merasa telah diterimaNya dalam kasihNya yang besar, mengabaikan semua dosa-dosa yang telah kita perbuat.

Kemudian kita seperti diajak untuk melihat perbuat-perbuatan baik kita, bukan dalam rangka meraih sesuatu, mendapatkan upah atau hadiah; Tetapi secara inhern (dari dalam) tumbuh untuk melakukannya saja sebagai tindakan tulus, murni, berdiri atas perbuatan-perbuatan baik itu sendiri.

Saya contohkan begini: bila gigi mengunyah makanan maka gigi melakukan sifatnya/fungsinya untuk mengunyah. Tidak ada jasanya sama sekali di situ. Sebab tidak mungkin tangan, kaki atau mata melakukan tindakan mengunyah makanan.

Orang yang melakukan perbuatan-perbuatan baik dalam 10 ucapan bahagia ini, adalah orang yang hidup di dalam makna Kerajaan Allah. Mereka tidak melakukannya demi upah (bandingkan dengan pola hidup farisi yang dibahas di perikop selanjutnya) ataupun demi mendapat pengakuan maupun pujian dari manusia dan Allah.

Penulis Matiuspun nampaknya melihat p**a perbuatan-perbuatan baik itu memiliki potensi bahaya. Mereka yang berbuat baik lantaran mengikut Yesus akan mengalami berbagai penderitaan bahkan aniaya lantaran pilihan hidup seperti itu. Pilihan hidup seperti yang dipilih Yesus dalam lakon hidupNya di dalam dunia, tempat Allah menampakkan diriNya dalam rupa Yesus (epifania).
-
Puncak epifania rupanya mengajak kita menjadi orang yang berbahagia meski menderita. Ini semacam dialektika hidup memaknai peran dan pegalaman iman. Bahagia yang sejati itu rupanya kesediaan melakukan perbuatan baik dan merdeka dari penilaian dunia. Kebahagiaan sejati itu rupanya jauh dari makna kesuksesan secara dunia.

Hiduplah berbahagia dan rayakanlah epifania!
-----
Lukisan: "Sermon on Mount," By. Carl Bloch, 1877.

  Epifania I, 5 Januari 2020Kasih dan Kebenaran di dalam YesusYohanes 1:14-18---Spirit minggu epifania masih diwarnai ol...
02/01/2020

Epifania I, 5 Januari 2020
Kasih dan Kebenaran di dalam Yesus
Yohanes 1:14-18
---
Spirit minggu epifania masih diwarnai oleh Hari Raya Natal -- tetapi lebih sedikit maju sebagai penghubung ke Paskah -- berfokus pada tema: Allah yang "menampakkan" diriNya dalam "rupa" Yesus Kristus. Allah berkenan menampakkan rupaNya kepada dunia.

Dalam tradisi Epifania di permulaan Gereja Timur abad ke-3, epifania berarti hari raya "Tiga Raja", mengenang majusi yang mewakili seluruh manusia bangsa di luar Israel. Artinya Allah menampakkan diriNya, memproklamasikan diriNya, sebagai Juruselamat seluruh bangsa! Dimensi kemesiasanNya tidak dapat dikurung hanya untuk orang-orang di timur tengah kuno. Itu sebabnya mengapa di awal-awalperayaan epifania di abad ke-3 dirayakan dengan lebih semarak dari perayaan natal.

Pada perkembangannya kemudian, spirit Epifania diajadikan gereja sebagai ajakan kepada jemaat untuk merefleksian makna "kehadiran" juruselamat yang menampakkan diri bagi dunia. Gereja perlu hadir dalam persoalan-persoalan nyata kehidupan, sebagaimana keberpihakan firman yang telah mau menjadi manusia.
---
Sebagai mana dalam perayaan Epifania kuno, kotbah/renungan epifania selalu diisi dengan narasi pembaptisan Yesus oleh Yohanes seperti dalam pemberitaan firman di minggu ini. Allah telah sungguh-sungguh menjadi manusia, itu sebabnya Dia dibaptiskan. Karena tidak mungkinlah Allah dibaptiskan oleh manusia.
---
Yohanes menyaksikan bahwa Firman telah menjadi manusia/daging (Yunani:sarx) dan berada di dalam dunia manusia secara nyata. Dia sungguh-sungguh hadir, menampakan diriNya, secara terang-benderang. Dia tidak hanya "hadir" di dalam Tebernakel, ruang maha kudus di bait Allah, tetapi dengan kualitas yang sama dengan manusia mau berdiam di antara kita dengan menjadi manusia.

Dalam Targum (kitab suci kuna), firman itu (memra) , kata-kata Allah berkenan hadir dalam bait Suci; Tetapi di dalam Yesus Dia sungguh-sungguh berkenan hadir secara nyata di dunia, menjadi daging, menjadi manusia. Yesus adalah manusia, dalam perilaku dan tindakanNya kita melihat secara nyata perwujudan kasih dan kebenaran Allah di tengah-tengah kita.

Yohanes pembaptis membatiskan manusia supaya hidup di dalam pertobatan yang dijiwai spirit mempersiapkan jalan bagi mesias, tetapi dia juga menunjuk langsung kepada Yesus, Mesias itu; Bahwa hidup baru kita semua sempurna di dalam kepenuhanNya dengan menjadi manusia. Bagi Dialah makna hidup kita yang baru!

Taurat yang dibawa oleh Musa memberi petunjuk kehendak Allah bagi manusia; Tetapi Dia yang telah datang membawa kasih dan kebenaran itu secara langsung kepada manusia. Ini merupakan perubahan yang sangat drastis dalam pemahaman kemesiasan di jaman itu. Orang-orang Jahudi mengagung-agungkan taurat Musa, tetapi DIA yang telah datang sesungguhnya lebih agung dari taurat Musa. Tentulah ini sebuah benturan yang hebat dalam tradisi keimanan mereka.

Allah tak mungkin terpahami, Allah tak mungkin dihampiri oleh semua orang. Selalu ada batasan dalam dimensi kemuliaanNya. Tetapi DIA yang telah datang itu telah merombak semuanya, merevolusi seluruhnya. Di dalam kepenuhan Yesus p**a, Allah menghampiri kita, kita melihatNya, merabanya (seperti Thomas meraba lambungNya yang tertikam), dan siapa yang melihat kepadaNya sesungguhnya telah melihat sekualitas dengan Allah. Dengan begitu manusia telah berada sungguh-sungguh di dalam kasih dan kebenaranNya.
---
Pengenalan kita kepada Yesus yang telah kita rayakan kelahiranNya, seharusnya merombak total cara pandang kita yang sering masih terbatas memahami kasih dan kebenaran. Allah telah membuka diriNya tanpa batas kepada manusia, semestinya itulah yang membimbing kita untuk membuka sekat-sekat yang sering masih kita ciptakan.

Kasih dan kebenaran itu hendaknya secara total kita refleksikan, sebab kita telah berada di dalam kasih dan kebenaran Yesus. Hiduplah dalam hidup yang baru di dalam Yesus tanpa sekat eksklusivitas di tahun yang baru ini.
-----
Lukisan: "Adoration of The Magi" By. Heinrich Hofmann, 1887.

Address

Tiga Pancur
Kabanjahe

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when GBKP Runggun Tiga Pancur posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category