29/02/2020
Minggu, 1 Maret 2020
Passion 2: Invokavit
Aku berseru kepadaNya dan DIA menjawabku
Matius 9:27-31
---
Sebagai introit menuju paskah, invocavit disemangati oleh teks Mazmur 91:15a, "When he calls me (or invokes Me, erlebuh ia ku Aku), I will answer him." Spiritnya kira-kira begini: penderitaan Yesus memanggil kita untuk melihat penderitaan kita (penderitaan di sekitar hidup kita) dan berseru padaNya. Semacam kebersediaan kita untuk melihat berbagai penderitaan dalam perspektif penderitaan Yesus.
---
Di penulisan ketiga injil sinoptis (Matius, Markus, Lukas) tindakan Yesus secara langsung kadang-kadang memiliki makna rohani dari makna sebenarnya. Seperti cara yang sama dalam memaknai beberapa perumpamaanNya yang tak bisa ditarik begitu saja. Begitupun dalam beberapa mujizat yang dimaksudkan oleh penulis Matius.
Di bagian terdahulu, 6:22 secara lepas Matius menulis begini, "Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu." Matius memiliki pengertian seperti itu tentang mata, sama sekali bukan sekedar indrawi untuk melihat. Mata yang baik akan menerangi seluruh tubuh. Mata menjadi sesuatu yang lain, tentulah ini majas (makna kiasan).
---
Perikop 9:27-31 berisikan kisah perjalanan Yesus (di sekitar Yerikho) yang berjumpa dengan dua orang buta yang berseru kepadaNya meminta tolong, "Kasihanilah kami hai, Anak Daud." Tetapi Yesus berlalu begitu saja. Ini seperti memberi ujian tambahankah? Saya tidak tau.
Ungkapan "anak Daud" itu sesungguhnya bukan merupakan bukti pengenalan secara keluarga (merga) terhadap Yesus. Tetapi barangkali lebih sebagai berita yang telah mereka dengar tentang Dia yang telah banyak membuat mujizat. Anak Daud berarti ungkapan iman, bahwa Yesus dianggap mereka sebagai Mesias!
Ujian itu selesai seketika Yesus sampai di sebuah rumah. Dua orang buta itu tampaknya masih saja mengikutiNya dengan berteriak-teriak, "Kasihanilah kami hai, Anak Daud!" Teriakan mereka berhasil menarik perhatian Yesus. Dan Yesus kemudian bertanya memastikan permohonan mereka, "Percayakah kamu, bahwa Aku dapat (melakukannya) menyembuhkan kebutaanmu?" Ini sebagai pertanyaan meminta konfirmasi atas gelar "Anak Daud" yang mereka teriakkan. Dan lihatlah mereka mengungkapkan iman mereka secara jelas, "Ya Tuhan (Tuhan!) kami percaya (kepadaMu)!"
Yesus merespon pengakuan iman mereka, lalu menjamah mata mereka berdua sambil berkata,"Jadilah kepadamu menurut imanmu." Maka terjadilah mujizat itu di atas iman percaya mereka kepada Yesus.
Perhatikan gaya penulisan Matius yang merangkaikan dengan harmonis sedemikian rupa, hubungan di antara yang rohani dengan yang indrawi; Hubungan yang sama di antara yang imani dengan kemerdekaan penderitaan fisik. Iman kepada Yesus memberi pengharapan, selanjutnya melampaui penderitaan fisik mereka.
Dan setelah menerima anugerah iman itu, bagaimanakah caranya menahan gejolak untuk tidak memberitakan kabar sukacita yang dilakukan oleh Yesus ketika mereka berseru kepadanya? Yesus sudah melarang, supaya mujizat itu dirahasikan. Tapi bagaimanakah cara merahasikannya? Seandainya dirahasiakanpun, bukankah semua orang yang mengenal dua orang yang tadinya buta itu akan bertanya? Beritakanlah! Mengapa harus takut? Bukankah ini berita bahagia?
---
Jaman sekarang buta itu tak seberat jaman dulu. Sudah banyak alat bantu! Saya mengenal seorang penyanyi tenar, Bang RP. Dua kali saya telah berkunjung ke rumahnya, dan saya terperagah beberapa kali, mendapati bahwa saya jauh lebih buta dari beliau.
Indra peraba dan perasanya di atas rata-rata, pendengarannya apa lagi. Dia bisa memainkan gitar dengan terbalik, memainkan dengan tangan kiri maupun kanan tanpa mengubah posisi tali gitar. Membedakan lebih dari 30 chanel bunyi di mixer rekaman dengan presisi, kupingku seperti orang tuli saja bila dibandingkan ketajaman pendengarannya. Dan ketika listrik PLN padam, saya berjalan dari studio belakang ke ruang tamunya menabrak dua kursi. Bang RP tertawa, "Mari kutuntun kam."
---
Banyak orang yang mampu melihat tetapi buta rohaninya. Malah matanyalah yang telah membuatnya buta. Kekayaan bendawi, kedudukan dan pangkat dengan penampilan mencerminkan semuanya. Glamour! Mungkin penglihatan seperti itu bisa membuat buta.
Buta, mata yang tak baik, maka gelaplah seluruh tubuh. Seperti pribahasa, "Mata adalah guru, tetapi (mata) Hati mempertimbangkan semua hal." Tetapi ketika mata hati dikalahkan, maka semua aspek pemuasan tubuh akan menjadi tujuan hidup. Hedonis dan glamour. Sampai kapankah?
Ketika kita menyadari bahwa kita sesungguhnya buta, berserulah memanggil Dia, maka Dia akan menyembuhkanmu.
Selamat merayakan Minggu Invokavit!
----------
"The healing of two blind men in Jericho.," Museum of Ravena.