GBKP Tigapancur

GBKP Tigapancur Gereja GBKP di desa Tigapancur

Natal Umum Runggun Tigapancur
25/12/2022

Natal Umum Runggun Tigapancur

Natal PJJ Sektor Jerusalem
20/12/2022

Natal PJJ Sektor Jerusalem

Natal PJJ sektor Roma
17/12/2022

Natal PJJ sektor Roma

Natal PJJ sektor Pilipi 2022
12/12/2022

Natal PJJ sektor Pilipi 2022

Natal sektor Betlehem 2022
10/12/2022

Natal sektor Betlehem 2022

Natal KAKR 5 Desember 2022.
04/12/2022

Natal KAKR 5 Desember 2022.

Pengadaan sumur bor untuk gereja kita dari dana ADD desa Tigapancur. Trimakasih kepada Pemerintahan Desa yang telah pedu...
17/09/2021

Pengadaan sumur bor untuk gereja kita dari dana ADD desa Tigapancur. Trimakasih kepada Pemerintahan Desa yang telah peduli pada kebutuhan ini. Selanjutnya gereja kita tidak akan membeli air lagi. Bersyukur sekali.

  Minggu, 1 Maret 2020Passion 2: InvokavitAku berseru kepadaNya dan DIA menjawabkuMatius 9:27-31---Sebagai introit menuj...
29/02/2020

Minggu, 1 Maret 2020
Passion 2: Invokavit
Aku berseru kepadaNya dan DIA menjawabku
Matius 9:27-31
---
Sebagai introit menuju paskah, invocavit disemangati oleh teks Mazmur 91:15a, "When he calls me (or invokes Me, erlebuh ia ku Aku), I will answer him." Spiritnya kira-kira begini: penderitaan Yesus memanggil kita untuk melihat penderitaan kita (penderitaan di sekitar hidup kita) dan berseru padaNya. Semacam kebersediaan kita untuk melihat berbagai penderitaan dalam perspektif penderitaan Yesus.
---
Di penulisan ketiga injil sinoptis (Matius, Markus, Lukas) tindakan Yesus secara langsung kadang-kadang memiliki makna rohani dari makna sebenarnya. Seperti cara yang sama dalam memaknai beberapa perumpamaanNya yang tak bisa ditarik begitu saja. Begitupun dalam beberapa mujizat yang dimaksudkan oleh penulis Matius.

Di bagian terdahulu, 6:22 secara lepas Matius menulis begini, "Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu." Matius memiliki pengertian seperti itu tentang mata, sama sekali bukan sekedar indrawi untuk melihat. Mata yang baik akan menerangi seluruh tubuh. Mata menjadi sesuatu yang lain, tentulah ini majas (makna kiasan).
---
Perikop 9:27-31 berisikan kisah perjalanan Yesus (di sekitar Yerikho) yang berjumpa dengan dua orang buta yang berseru kepadaNya meminta tolong, "Kasihanilah kami hai, Anak Daud." Tetapi Yesus berlalu begitu saja. Ini seperti memberi ujian tambahankah? Saya tidak tau.

Ungkapan "anak Daud" itu sesungguhnya bukan merupakan bukti pengenalan secara keluarga (merga) terhadap Yesus. Tetapi barangkali lebih sebagai berita yang telah mereka dengar tentang Dia yang telah banyak membuat mujizat. Anak Daud berarti ungkapan iman, bahwa Yesus dianggap mereka sebagai Mesias!

Ujian itu selesai seketika Yesus sampai di sebuah rumah. Dua orang buta itu tampaknya masih saja mengikutiNya dengan berteriak-teriak, "Kasihanilah kami hai, Anak Daud!" Teriakan mereka berhasil menarik perhatian Yesus. Dan Yesus kemudian bertanya memastikan permohonan mereka, "Percayakah kamu, bahwa Aku dapat (melakukannya) menyembuhkan kebutaanmu?" Ini sebagai pertanyaan meminta konfirmasi atas gelar "Anak Daud" yang mereka teriakkan. Dan lihatlah mereka mengungkapkan iman mereka secara jelas, "Ya Tuhan (Tuhan!) kami percaya (kepadaMu)!"

Yesus merespon pengakuan iman mereka, lalu menjamah mata mereka berdua sambil berkata,"Jadilah kepadamu menurut imanmu." Maka terjadilah mujizat itu di atas iman percaya mereka kepada Yesus.

Perhatikan gaya penulisan Matius yang merangkaikan dengan harmonis sedemikian rupa, hubungan di antara yang rohani dengan yang indrawi; Hubungan yang sama di antara yang imani dengan kemerdekaan penderitaan fisik. Iman kepada Yesus memberi pengharapan, selanjutnya melampaui penderitaan fisik mereka.

Dan setelah menerima anugerah iman itu, bagaimanakah caranya menahan gejolak untuk tidak memberitakan kabar sukacita yang dilakukan oleh Yesus ketika mereka berseru kepadanya? Yesus sudah melarang, supaya mujizat itu dirahasikan. Tapi bagaimanakah cara merahasikannya? Seandainya dirahasiakanpun, bukankah semua orang yang mengenal dua orang yang tadinya buta itu akan bertanya? Beritakanlah! Mengapa harus takut? Bukankah ini berita bahagia?
---
Jaman sekarang buta itu tak seberat jaman dulu. Sudah banyak alat bantu! Saya mengenal seorang penyanyi tenar, Bang RP. Dua kali saya telah berkunjung ke rumahnya, dan saya terperagah beberapa kali, mendapati bahwa saya jauh lebih buta dari beliau.

Indra peraba dan perasanya di atas rata-rata, pendengarannya apa lagi. Dia bisa memainkan gitar dengan terbalik, memainkan dengan tangan kiri maupun kanan tanpa mengubah posisi tali gitar. Membedakan lebih dari 30 chanel bunyi di mixer rekaman dengan presisi, kupingku seperti orang tuli saja bila dibandingkan ketajaman pendengarannya. Dan ketika listrik PLN padam, saya berjalan dari studio belakang ke ruang tamunya menabrak dua kursi. Bang RP tertawa, "Mari kutuntun kam."
---
Banyak orang yang mampu melihat tetapi buta rohaninya. Malah matanyalah yang telah membuatnya buta. Kekayaan bendawi, kedudukan dan pangkat dengan penampilan mencerminkan semuanya. Glamour! Mungkin penglihatan seperti itu bisa membuat buta.

Buta, mata yang tak baik, maka gelaplah seluruh tubuh. Seperti pribahasa, "Mata adalah guru, tetapi (mata) Hati mempertimbangkan semua hal." Tetapi ketika mata hati dikalahkan, maka semua aspek pemuasan tubuh akan menjadi tujuan hidup. Hedonis dan glamour. Sampai kapankah?

Ketika kita menyadari bahwa kita sesungguhnya buta, berserulah memanggil Dia, maka Dia akan menyembuhkanmu.
Selamat merayakan Minggu Invokavit!
----------
"The healing of two blind men in Jericho.," Museum of Ravena.

  Minggu, 23 Februari 2020Passion 1: Estomihi Tuhanlah Gunung Batu tempatku Berlindung Mazmur 31:1-9---Minggu ini kita m...
21/02/2020

Minggu, 23 Februari 2020
Passion 1: Estomihi
Tuhanlah Gunung Batu tempatku Berlindung
Mazmur 31:1-9
---
Minggu ini kita masuk ke dalam masa Quinquagesima, yang artinya masa tujuh minggu lamanya untuk merenungkan kesengsaraan yang ditanggung Yesus demi menjalankan misi penyelamatan Allah bagi dunia. Kita dihantar untuk menghayati penderitaanNya itu selama tujuh minggu lamanya sebelum merayakan kematian dan kebangkitanNya dalam menghidupi makna Paskah (manusia merdeka).
Esto mihi in Deum protectorem, et in locum refugii, ut salvum me facias, demikian kutipan yang diambil dari Mazmur 31:3 bahasa Latin; Yang artinya, Jadilah bagiku gunung batuku tempat perlindungan. Dua kata pertama dirangkai menjadi satu: esto - mihi: estomihi, "Jadilah bagiku" sebagai pusat makna yang memperlihatkan ketabahan, keteguhan, berpendirian teguh yang bersandar kepada TUHAN (Yahwe).

Estomihi menjadi pembuka pembabakan tujuh Minggu Passion (Quinquagesima) memaknai penderitaan Yesus. "Jadilah bagiku.."
---
Perikop kotbah ini merupakan puisi doa yang mengekspresikan makna ketabahan yang mendalam sekaligus keteguhan pendirian pemazmur yang berupaya melampaui kelemahan-kelemahan diri. Beberapa penafsir percaya bahwa latar teks ini memperlihatkan kesengsaraan Daud ketika dikejar-kejar oleh Saul.

Seperti Daud dikejar-kejar oleh mertuanya Saul hingga ke ujung negeri melintasi jejeran gunung-gunung batu dan gurun tandus, begitulah kiranya sengsara yang diderita pemazmur. Bukankah Saul adalah mertuanya sendiri, pihak pemberi istri di dalam keluarga batih Daud? Dan bukankah kalimbubu adalah pemberi hidup dalam nilai sosial kita? Dan bagai manakah caranya hendak melawannya, selain terus berlari menghindari pertikaian keluarga? Sebab siapakah yang tega melawan mertua? Siapakah yang mampu melawan orang tua?

Ini merupakan dilema. Dilema Daud melawan Saul mertuanya yang tentulah merupakan persoalan yang jauh lebih berat dibandingkan melawan Goliat. Daud tak bisa membalas, dia tak mungkin melakukan perlawanan. Tapi bahaya sangat mengancam, sebab prajurit kerajaan telah diperintahkan untuk membunuhnya. Daud hanya bisa berlari menjauhi Saul, bersembunyi menyelamatkan diri, menanggung malu lantaran dikejar-kejar mertuanya. Melawan? Melawan mertua sendiri tentulah jauh lebih memalukan. Itu bukanlah gayanya!

Doa dan permohonan Daud kepada TUHAN seperti yang diutaran Mazmur 31. Hanya mengandalkan Tuhan tempat berlindung, berserah penuh pada kasih sayangNya yang diharapkan akan membelaNya. Dan apakah Tuhan akan membelanya? Ah, itu urusan Tuhan sepenuhnya. Siapakah yang bisa memaksaNya? Tapi setidaknya, tidakkah TUHAN berkasihan untuk membiarkan dia terus berlari meskipun lelah dan selalu luput dari jeratan (jaring) yang selalu siap untuk menangkapnya?
---
Tuhanlah Gunung Batu sebagi tempat perlindungan bagi orang yang benar; orang yang tak membalas kejahatan dengan kejahatan.

  Minggu 16 Februari 2020SEXAGESIMAPatuhilah Hukum AllahMarkus 7:1-8---Hari ini kita telah memasuki masa akhir transisi ...
15/02/2020

Minggu 16 Februari 2020
SEXAGESIMA
Patuhilah Hukum Allah
Markus 7:1-8
---
Hari ini kita telah memasuki masa akhir transisi Pra-Paskah, di mana minggu depan kita akan memasuki babak baru minggu-minggu sengsara (passion). Yesus yang menjadi model teguh beriman melaksanakan hukum Allah, ditampilkan dengan mengkontraskan kecenderungan manusia yang menjadi munafik justeru dengan imannya p**a. Apa motifnya?
---
Ada baiknya membaca perikop 6:53-56 sebelum membahas 7:1-8. Itu merupakan rangkaian peristiwa yang berkelanjutan. Dikisahkan bahwa kehadiran Yesus di Genesaret disambut dengan antusias oleh penduduk setempat. Mereka berduyun-duyun membawa orang-orang sakit untuk "disentuh" Yesus dengan tanganNya untuk beroleh kesembuhan.

Perhatikan bahwa para pewaris tradisi Farisi lokal demikian jeli memotret peristiwa mujizat kesembuhan yang dilakukan Yesus dengan menyentuhkan tanganNya. Mereka mencari celah untuk menyerang Yesus dan gerombolanNya, dengan menyalahkan mereka, dengan nilai sosial (adat kebiasaan) umum di tempat itu.

Sesungguhnya kebiasaan membasuh tangan adalah aturan Musa untuk para imam yang bekerja di Bait Allah. Tetapi para farisi di daerah-daerah telah mengembangkan 'tafsirnya' atas hukum Musa itu, menjadi kebiasaan (adat) setempat yang dilaksakan setiap hari.

Hukum Musa dicomot begitu saja, lalu ditafsirkan berbeda dengan dalih menjaga kekudusan umat. Tahyul diciptakan supaya umat tidak bersinggungan dengan yang haram/kafir, dengan begitu yang terangkat adalah manusianya, bukan lagi Allahnya. Perhatikan pergeseran nilai itu.

Orang-orang Genesaret terbiasa membasuh tangan sebelum makan ataupun sebelum masuk ke rumah, seperti tatacara pembasuhan tangan imam sebelum masuk dan bekerja di Bait Allah. Caranya adalah demikian, tangan kanan mengambil air lalu mengucurkannya ke ujung jari tangan sebelah kiri mengaliri lengan, membasunya berulang dan bergantian dengan tangan kiri. Ini sama sekali tidak sama dengan cara kita mencuci tangan di mangkuk tempat pencuci tangan. Sama sekali bukan sekedar soal higienis.

Farisi melihat murid-murid tak membasuh tangannya seperti kebiasaan mereka. Dengan demikian tangan mereka dianggap najis ketika makan. Protes itu sesungguhnya mengandung tuduhan serius; Tentulah Yesus menyembuhkan banyak orang dengan tangan najis! Tangan najis tak diperkenan Allah, bagai mana mungkin kuasa Allah-lah yang telah menyembuhkan banyak orang yang berduyun-duyun itu?

Yesus menghardik mereka dengan mengutip Yesaya yang ditulis dalam bahasa Yunani (septuaginta). Artinya, teks Yesaya yang dikutipNya itu merupakan tradisi para imam. Ini merupakan sindiran keras terhadap tafsir para farisi yang menjadikan tradisi imam menjadi adat setempat.

Yesus sama sekali bukan menghina hukum Musa, tetapi memperlihatkan kebiasaan Farisi yang memelintir teks demi makna dan maksud yang lain. Pembasuhan itu bukan lagi untuk memuliakan Allah yang kudus (di bait Allah); Tetapi seperti telah merampasnya dari Allah untuk menempatkan diri istimewa, kudus, terhormat, mengangkat nilai diri seakan sebagai manusia yang lebih rohani. Pembasuhan tangan itu adalah praktek kemunafikan.

Dan lihatlah kegilaan yang telah ditimbulkannya. Tak hanya manusia dengan tubuhnya, makna kudus-najis itupun telah merembet ke barang-barang miliknya. Tampaknya seperti sangat rohani memang, tetapi lihatlah pergeseran nilainya, hukum Allah telah dijadikan hukum manusia. Apa yang seharusnya untuk memuliakan Allah telah dijadikan komoditas pemuas ego sektoral sekaligus individual.
---
Kemunafikan masih kita temukan hingga hari ini dalam semangat keagamaan. Tanpa sadar atau dengan sadar, kita telah mengubah aturan Allah menjadi manusia demi melayani egoisme kita. Kitalah manusia munafik itu, ketika memakai teks alkitab, atau simbol-simbol kekristenan itu demi memuaskan dan mengangkatkan citra diri kita.

Tanggalkanlah kemunafikan, berhentilah memelitir hukum Allah menjadi hukum manusia, lakukanlah apa yang menjadi kehendak Allah sebagi hukum yang harus dipatuhi. Selamat merayakan Minggu Sexagesima!

  Minggu 12 Januari 2020EpifaniaHamba Tuhan yang Menerangi Bangsa-BangsaYesaya 42:1-9---Tampaknya TUHAN mulai muak denga...
11/01/2020

Minggu 12 Januari 2020
Epifania
Hamba Tuhan yang Menerangi Bangsa-Bangsa
Yesaya 42:1-9
---
Tampaknya TUHAN mulai muak dengan sikap kesemena-menaan manusia yang memunggungi keadilan hukum dan hukum keadilan. Ya, secara substantif tampaknya hukum tengah dipermainkan dalam perlombaan perang antar bangsa di kala Israel tertawan di Babel. Itu merupakan perlombaan unjuk kekuasaan dan keperkasaan yang takkan perduli dengan penderitaan masyarakat lapis bawah sebagai korban.

Sikap Yahwe diperlihatkan sangat dramatik dan penuh kekuatan. Tampaknya Dia marah tapi penuh dengan wibawa dan hormat. Dia tak gegabah dan pongah, tak seperti peran yang tengah diperankan raja-raja dunia di kala itu yang tampak seperti sedang unjuk kekuatan di hadapan TUHAN Pencipta Langit dan Bumi; dengan menginjak-injak kaum yang lemah.

Tuhan menghunjuk HAMBA-Nya, untuk turun dan menegakkan hukum keadilan dan keadilan hukum bagi bangsa-bangsa.

Perhatikan, Dia bukan untuk Israel saja. Dia untuk bangsa-bangsa. Dia Juruselamat Dunia! Dialah mesias terjanji yang mengemban misi penyelamatan dunia. Dia tegas sekaligus berhati lembut, memanggil dan merangkul semua untuk bersama-sama dengan Dia menegakkan hukum keadilan dan keadilan hukum yang diperkenan TUHAN.

Hukum TUHAN itu berpihak kepada orang-orang yang lemah, orang-orang yang miskin yang diperlakukan semena-mena menjadi tawanan, orang-orang buta yang tidak merdeka untuk melihat terangNya. Tindakan mesianik seperti itu yang dilihat sebagai memuliakan Allah, memashurkan NamaNya melawan tindakan penyembah-penyembah patung bendawi (yang menawan orang kepada kegelapan).
---
Melihat karakter mesias yang ditampilkan dengan begitu kuat dalam tokoh Hamba Tuhan di perikop ini, rasanya amat sulit mengesampingkan sosok Yesus yang menjadi pusat perayaan dan perenungan epifania. Yesus menampakkan diriNya dalam karakter memenuhi nubuatan deutro-Yesaya ini.

Dia tegas dalam bersikap, menampilkan pemihakan kepada orang-orang yang lemah, keberpihakan kepada korban dunia yang pongah. Yesus menegakkan hukum keadilan dan keadilan hukum di dunia. Dialah yang kita teladani.

Gereja sangat penting meneladani Yesus dalam menjalankan fungsi dan perannya. Terangilah bangsa-bangsa, terangilah orang yang masih tertawan di dalam kegelapan. Layanilah yang sakit dan belalah kepentingan orang-orang yang dipinggirkan, dikucilkan, bahkan telah menjadi korban kesemena-menaan dari orang yang congkak di hadapan Tuhan.
-----
Lukisan : "Sur la montagne Jésus guérit les aveugles et les boiteux," By. James Tissot.

Address

Tiga Pancur
Kabanjahe
22153

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when GBKP Tigapancur posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to GBKP Tigapancur:

Share