25/07/2019
Skripsi Dulu, Bahagia kemudian.
MATAHARI bersinar cerah dibalut sejuknya embun pagi. Kala itu di depan kampus ushuluddin IAIBAFA, para mahasiswa sudah bersiap untuk mengikuti sidang skripsi. Para penguji terlihat sudah siap sejak jam tujuh. Mereka tampak fokus mengecek satu per-satu tumpukan skripsi di meja sidang, sementara para panitia menyambut serta melayani para dosen dan mahasiswa dengan sepenuh hati.
Pagi itu menjadi saat yang tak terlupakan di benak para mahasiswa yang mengikuti sidang skripsi. Untuk pertama kalinya prodi IAT menggelar sidang skripsi setelah berdiri empat tahun lalu. Tentu saja ini menjadi momen yang menegangkan karena mereka —para mahasiswa— belum punya pengalaman dari kakak kelas tentang ujian skripsi. Mereka hanya mendapatkan motivasi dan cerita dari para dosen pembimbing dan senior jurusan lain di kampus.
Saat ujian dimulai, moderator mulai membuka sidang itu. Satu mahasiswa duduk di kursi yang telah disediakan. Di hadapan mereka telah siap empat orang algojo yang sigap bertanya. Suasana masih berjalan kondusif meski beberapa pertanyaan sudah dilemparkan. Mahasiswa pertama itu nyatanya sudah siap betul dihujani pertanyaan. Akhirnya, dia keluar dari tempat sidang dengan wajah yang berseri-seri. Dia masuk kelas samping kantor dan langsung dikerumuni teman-temannya. Belum sempat dia duduk, dia sudah diinterogasi teman-temannya, "Piye-piye mau? Ditakoi opo wae?", (Bagaimana tadi ujiannya? Ditanya apa saja) Dia menceritakan satu per- satu, namun belum sampai selesai, peserta selanjutnya sudah dipanggil masuk ruang sidang.
Beberapa mahasiswa sukses memuaskan para penguji. Mereka keluar ruangan sidang dengan wajah berseri-seri, ashabul yamin, golongan yang selamat. Namun, ada golongan lain, ashabu syimal, yang sedikit kurang beruntung karena dikuliti para algojo. Saya juga menyaksikan dengan mata kepala serta mendengar apa yang dikatakan penguji kepada ashabu syimal, berupa kata-kata yang menikam dan menusuk. Hingga, wajah peserta mulai menghitam dan memerah. Ingusnya mendadak meler. Keringat dingin ndrodos di sana-sini. Mata berkunang kunang. Kata (ak uk ak uk) keluar dari bibir mereka. Gemetar, takut, cemas, panas dan dingin menjadi satu di tubuh.
Mereka, para peserta sidang, merasa diperkosa saat itu. Saya ingat betul kalimat tusukan dari para penguji. Misalnya, "Judulmu apa? Baca!, ulangi lagi! Lagi! Lagi! Apa yang salah?". Mana kitabmu? Baca sekarang? Betul itu?"Salah" Hapus saja! Kamu salah nulis nama kitab. "Sidang ini ndak usah dilanjutkan saja, sudah selesai", Kata seorang penguji. "Ini bentuk masdarnya apa?, ikut wazan apa?", Begitu penguji bertanya hingga ke akar katanya.
"Tau ndak, Saya itu penguji, menguji kamu itu serius, kamu kira saya ndak baca skripsi kamu, saya belajar sampai malam, saya baca satu per satu skripsi banyak ini. Saya baca semua dengan teliti, saya begadang. Eh, kamu ndak serius ujian", Dawuh Kiai Mustain, Seorang pakar tafsir yang menjadi penguji.
Sidang berlangsung dua hari. Ini tentu menjadi siang panjang bagi mahasiswa. Namun, mereka merasa puas setelah ujian. Mereka mendapatkan pengalaman dan pelajaran yang luar biasa. Beberapa mereka ada yang sudah mengajar di sekolah, ada yang melanjutkan kuliah, dan ada p**a yang sudah berkeluarga. Mereka pernah berkata, "Kami mendapatkan pendidikan tafsir yang mendalam ketika menjadi mahasiswa di ushuluddin IAIBAFA".
Ini sedikit kisah pelajaran untuk mahasiswa yang insyaAllah akan melaksanakan sidang minggu depan. Mereka adalah angkatan kedua prodi IAT Ushuluddin. Semoga mereka bisa menjalani sidang skripsi dengan sebaik-baiknya. Amin. Alfatihah.
By:Admin.