Santri Perguruan Islam

Santri Perguruan Islam Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Santri Perguruan Islam, Religious organisation, Bandungrejo Kalinyamatan Jepara, Jepara.
(1)

Support kami semoga jadi amal
♡ㅤ ❍ㅤ ⎙ㅤ ⌲
ˡⁱᵏᵉ ᶜᵒᵐᵐᵉⁿᵗ ˢᵃᵛᵉ ˢʰᵃʳᵉ. لولا مربي ما عرفت ربي

Artinya:

Andai tidak ada guru pembimbingku aku tidak akan tahu siapa Tuhanku

༺ ⚜️ ⁠Menolak Jadi Priyayi Demi Mengaji: Kisah Tirakat Ekstrem KH. Ahmad Basyir Jekulo Kudus ⚜️ ༻Ada manusia-manusia yan...
23/05/2026

༺ ⚜️ ⁠Menolak Jadi Priyayi Demi Mengaji: Kisah Tirakat Ekstrem KH. Ahmad Basyir Jekulo Kudus ⚜️ ༻

Ada manusia-manusia yang dilahirkan ke dunia bukan untuk mengejar gemerlapnya dunia, melainkan untuk menjadi sumbu bagi lentera iman yang menerangi sekelilingnya.

Di tanah Kudus, sebuah daerah yang kental dengan aroma spiritualitas dan sejarah para wali, lahirlah seorang bocah bernama Abdul Bashir. Kelak, sejarah akan mencatatnya dengan tinta emas sebagai salah satu ulama paling kharismatik di Jawa Tengah.

⁠❦ Isyarat Sang Sayyid dan Pilihan Hati Bashir Kecil ⁠❦

Langkah hidup seorang kekasih Allah sering kali membawa tanda-tanda bahkan sebelum ia sempat menatap dunia. Saat ibundanya, Nyai Dasireh seorang pedagang kecil yang bersahaja sedang hamil tua, seorang Sayyid datang dan menitipkan sebuah nama: Abdul Bashir.

Ia tumbuh dalam kesederhanaan keluarga santri. Ayahandanya, Kiai Muhammad Mubin (Mbah Kasno), adalah seorang penjahit yang menyambung hidup dari deru mesin jahit icik tua.

Lahir pada 30 November 1924 sebagai putra kedua, Bashir kecil sudah menunjukkan keanehan yang indah. Di usia lima tahun, ketika anak-anak seusianya masih asyik bermain tanah, ia sudah mengerti hakikat salat dan wirid. Gerakan dan kekhusyukan batinnya menyerupai orang dewasa.
Takdir kemudian membawanya ke Veer Folexs Schooll, sekolah bentukan pemerintah kolonial Belanda. Bagi keluarga santri kala itu, menyekolahkan anak di lembaga modern tentu mengundang tanya. Namun, Mbah Mubin tampaknya memiliki pandangan batin yang jauh ke depan. Benar saja, Bashir tumbuh menjadi siswa terbaik.
Kecerdasannya memikat para guru. Sebuah tawaran menggiurkan datang, Bashir akan diambil untuk disekolahkan ke jenjang favorit, tempat berkumpulnya para anak priyayi dan calon pegawai.

Di titik inilah garis takdir itu berbelok arah. Di tengah kebimbangan ekonomi dan spiritual orang tuanya, kalimat magis keluar dari lisan Bashir kecil: "Aku kok kepingin ngaji, mondok neng Mbareng, Pak." (Saya kok kepingin mengaji, nyantri di Mbareng, Pak).

Kalimat sederhana itu meruntuhkan segala ambisi duniawi. Demi memantapkan hati, mereka “sowan”ke hadapan ulama sepuh, Mbah Yasin (Mbah Kandar). Sang guru memberikan petuah yang menjadi ramalan masa depannya: "Kowe ora usah sekolah guru, mondok wae, besuk kowe dadi guru." (Kamu tidak usah sekolah jadi guru, mondok saja, besuk kamu akan jadi guru).

Setelah melewati prosesi khitan, Bashir kecil melangkah mantap menuju dunia yang akan membesarkan namanya: dunia pesantren.

⁠❦ Menempa Diri di Bawah Bimbingan Para Kekasih Allah ⁠❦

Sebelum menetap di Pesantren Mbareng pada tahun 1940 (kini PP. Al-Qaumaniyah), perjalanan spiritual Abdul Bashir berkelana dari satu majelis ke majelis lain. Beliau sempat mereguk jernihnya ilmu di PP. Kenepan Langgar Dalem Kudus di bawah asuhan KH. Ma’mun Ahmad. Di sanalah beliau mengkhatamkan Al-Qur'an langsung di hadapan sang maestro qira'ah, KH. Arwani Amin Kudus.

Jiwa mudanya juga ditempa oleh keluasan ilmu para masyayikh Kudus, termasuk KH. Irsyad dan KH. Khandiq (kakak dari ahli falak legendaris, KH. Turaichan Adjhuri).
Namun, di Pesantren Mbareng-lah jiwa asketisnya benar-benar terbentuk. Menjadi murid kesayangan Mbah Yasin, Basyir muda tidak mendapat fasilitas mewah, melainkan tempaan riadah yang berat. Beliau pernah diajak sang guru untuk melakoni puasa “ngebleng” sebuah tirakat tanpa berbuka selama tiga hari berturut-turut. Lembaran-lembaran malamnya dihabiskan untuk wirid dan zikir, hingga akhirnya ia dipercaya mengemban amanah sebagai lurah pondok.

Tak hanya saleh secara ritual, Basyir muda adalah pemuda yang peka zaman. Di masa pergolakan kemerdekaan sekitar tahun 1944-1945, beliau ikut turun ke gelanggang perjuangan fisik dengan bergabung dalam Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) dan Badan Perjuangan Republik Indonesia (BPRI). Jiwa nasionalismenya menyatu dalam balutan sarung santri.

⁠❦ Menggantikan Guru dan Mendirikan Darul Falah ⁠❦

Kematangan ilmu dan spiritual Basyir muda tak bisa disembunyikan. Karena jumlah santri yang kian membengkak, Mbah Yasin mengutusnya untuk mulai mengajar santri-santri junior. Ketika sang guru tercinta berpulang ke haribaan Ilahi, beban dakwah itu berpindah ke pundaknya. Bersama Kiai Muhammad (putra Mbah Yasin) dan Kiai Hanafi (menantu Mbah Yasin), triumvirat muda ini bahu-membahu menjaga nyala api hidayah di Mbareng.

Waktu bergulir, Basyir muda kemudian menggenapkan separuh agamanya dengan menyunting seorang gadis belia bernama Sholehah, putri dari H. Abdul Ghoni. Pernikahan ini mengubah ritme hidupnya, beliau tak lagi mendiami kamar pondok, melainkan pulang ke rumah, hingga dua tahun kemudian mendirikan kediaman sendiri di Jekulo Kauman.

Tuhan selalu punya cara untuk memperluas kemanfaatan hamba-Nya. Di penghujung tahun 1960-an, seorang dermawan yang secara kebetulan memiliki nama yang sama dengan beliau, mewakafkan sebidang tanah beserta rumah sokowulu (arsitektur kayu khas Jawa) yang terletak tepat di utara Masjid Kauman. Di sinilah cikal bakal Pondok Pesantren Darul Falah berdiri. Yang awalnya hanya dikenal dengan sebutan bersahaja "Pondok D", perlahan tumbuh menjadi episentrum ilmu.

Atas kepekaan beliau terhadap pendidikan perempuan, pada tahun 1992 dibukalah asrama putri. Dimulai dari santri yang sangat sedikit 5 santri di tahun pertama, dan 9 santri di tahun kedua, pesantren ini bertransformasi menjadi sebuah lembaga besar yang kini mengasuh lebih dari 600 santriwati.

Dari pernikahannya dengan Nyai Sholehah, setelah dua tahun menanti dengan sabar di Hadiwarno, lahirlah buah hati pertama mereka, Dewi Umniyah. Kebahagiaan mereka digenapkan dengan kehadiran tujuh anak berikutnya: Inaroh, Amti’ah, Ahmad Badawi, Arikhah, Muhammad Jazuli, Muhammad Asyiq (almarhum), Nur Zakiyah Mabruroh, dan Muhammad Alamul Yaqin. Kepada anak-anaknya, Mbah Basyir menerapkan didikan yang jauh lebih disiplin dan keras dibandingkan kepada para santrinya sebuah bentuk tanggung jawab mutlak seorang ayah demi melahirkan generasi penerus yang tangguh.

⁠❦ Sang Ahli Zikir dan Teladan Kepatuhan ⁠❦

Jika ada satu hal yang paling melekat dalam ingatan siapa pun yang pernah menjumpai KH. Ahmad Basyir, itu adalah kesalehan yang memancar dari keramahannya. Beliau adalah potret kiai yang meletakkan kepatuhan kepada guru di atas segalanya. Sejak muda hingga usia senja, ziarah ke makam para wali dan ulama adalah kegemaran yang tak pernah ditinggalkannya.

Setiap harinya mengalir dalam ritme yang teratur dan penuh berkah, mengajar kitab, mutalaah lembaran-lembaran kuning, bercengkerama dengan kehangatan keluarga, dan menemui lautan tamu yang tak pernah surut. Beliau dikenal luas sebagai “Mujiz Dala’il al-Khairat” ulama yang memegang otoritas untuk mengijazahkan kitab salawat legendaris karya Syekh Al-Jazuli. Dengan senyuman khas yang menyejukkan hati, beliau dengan sabar menerima setiap tamu yang mengantre, demi menyalurkan berkah salawat kepada umat.

Kecintaannya pada sang guru, Mbah Yasin, dibawa hingga akhir hayat. Saban hari selepas salat Subuh, Mbah Basyir selalu melangkahkan kakinya, menyusuri jalan menuju pesarean sang guru. Di sana, beliau bersimpuh, mengirimkan doa untuk jiwa yang telah mengenalkannya pada rahasia keagungan Dala’il Khairat.

⁠❦ Kepulangan sang Kekasih menuju Keabadian ⁠❦

Setiap yang datang pasti akan kembali. Selama sembilan dekade, Mbah Basyir telah menghibahkan seluruh helai napasnya untuk ilmu, santri, dan zikir.

Pada hari Selasa dini hari, 18 Maret 2014 Masehi (bertepatan dengan 16 Jumadil Ula 1435 Hijriah), tepat pukul 00:15 WIB, ulama yang teduh itu mengembuskan napas terakhirnya di usia 90 tahun.
Kudus berduka, langit Jekulo seolah merunduk kelabu. Hari itu, kurang lebih 10.000 manusia berjubel, berdesakan memadati jalanan, berebut untuk mengusung keranda sang kiai menuju tempat peristirahatan terakhirnya. Isak tangis dan talqin salawat bersahut-sahutan di udara.

Mbah Basyir telah tiada secara fisik, namun bangunan spiritual, ribuan santri yang mengamalkan ilmunya, serta untaian salawat Dala’ilul Khairat yang terus menggema di bilik-bilik pesantren akan selalu menjaga namanya tetap hidup dalam keabadian.

Lahul Fatihah....

Address

Bandungrejo Kalinyamatan Jepara
Jepara
59467

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Santri Perguruan Islam posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share