Santri Perguruan Islam

Santri Perguruan Islam Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Santri Perguruan Islam, Religious organisation, Bandungrejo Kalinyamatan Jepara, Jepara.
(1)

Support kami semoga jadi amal
♡ㅤ ❍ㅤ ⎙ㅤ ⌲
ˡⁱᵏᵉ ᶜᵒᵐᵐᵉⁿᵗ ˢᵃᵛᵉ ˢʰᵃʳᵉ. لولا مربي ما عرفت ربي

Artinya:

Andai tidak ada guru pembimbingku aku tidak akan tahu siapa Tuhanku

14/03/2026

KHATAMAN KITAB RIYADHUSH SHOLIKHIN & HAUL MASYAYIKH DI PONPES ASRAMA PENDIDIKAN ISLAM YANBU'UL QURA'AN BANDUNGREJO

08/03/2026

Pentingnya menyertakan NIAT dalam tingkah laku kita sehari hari biar menjadi ibadah

https://whatsapp.com/channel/0029VaaDuv33QxS95ltRqw1P
25/02/2026

https://whatsapp.com/channel/0029VaaDuv33QxS95ltRqw1P

Follow PONPES APIYQ SANTREN KALINYAMATAN's WhatsApp channel. Saluran ini kami buat sebagai ladang untuk menyimpan faedah-faedah yang terdapat dalam buku maupun kitab.

Tapi, yang lebih diutamakan di sini adalah topik ILMU FIQIH SYARI'AT ISLAM, pengembangan diri atau self improvement.

Nawainaa nasyrol ilmi.
Semoga berkah manfaat bagi kita semua. Amin. Semoga Allah meridloi apa yang kita kerjakan. Amin.

Jika menurut engkau saluran ini berfaedah, please, share ke teman-teman melalui grup dan status. Terima kasih karena telah sudi mampir di sini. Semoga engkau semua, Allah berikan kebahagiaan yang melimpah di dunia dan akhirat. Amin. 😃

Pondok Pesantren Asrama Pendidikan Islam Yanbu'ul Qur'an Bandungrejo Kalinyamatan Jepara Jawa Tengah Indonesia
Ikuti saluran PONPES APIYQ SANTREN KALINYAMATAN di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaaDuv33QxS95ltRqw1P
Support Kami Semoga Jadi Amal
♡ㅤ   ❍ㅤ     ⎙ㅤ     ⌲
ˡⁱᵏᵉ  ᶜᵒᵐᵐᵉⁿᵗ    ˢᵃᵛᵉ    ˢʰᵃʳᵉ. Join 110 followers for the latest updates.

24/02/2026

FADHILAH SHOLAWAT DAN CARA MEMIMPIKAN ORANG YANG TELAH MATI

Dikutip dari Kitab Riyadl Al-Badi'ah halaman 92, karya Syeikh Nawawi Al-Bantani dalam Khotimah (bab penutup) kitabnya, Syeikh Nawawi menganjurkan beberapa amalan agar senantiasa dilaksanakan kaum muslimin muslimat, salah satunya adalah membaca sholawat kepada baginda Nabi Muhammad SAW.
Dan berikut adalah salah satu faidah agung tentang FADHILAH SHOLAWAT :

حكي ان امرأة جاءت الي الحسن فقالت له توفيت لي ابنة واريد رؤيتها في النوم ،فقال لها صلي اربع ركعات بعد العشاء واقرئي في كل ركعة بعد الفاتحة سورة الهاكم مرة ثم اضطجعي وصلي علي النبي صعلم الي ان تنامي ففعلت فراتها في العقوبة مسلسلة ومغلولة، فجاءت اليه فاحبرته فاغتم وقال لها تصدقي عنها ففعلت ثم راي في تلك الليلة كانه في روضة من رياض الجنة وفيها سرير عليه جارية جميلة وعلي راشها تاج من نور فقالت له اعرفتني فقال لا ، فقالت له انا ابنة تلك المراة فقال لها بغير هذا وصفت لي امك حالك، فقالت كنت كذلك فقال ثم بماذا بلغت هذا، قالت كنا سبعين الف نفس في تلك العقوبة فعبر واحد من الصالحين علي قبورنا وصلي علي النبي صعلم مرة وجعل ثوابها لنا فاعتقنا الله من ذلك ببركته وبلغ نصيبي مارايت اه

Dikisahkan, ada seorang wanita (seorang ibu) datang kepada Syeikh Hasan, dan ia berkata: "Aku telah ditinggal wafat oleh anak perempuanku, dan aku ingin sekali memimpikan dia". Berkata Syeikh Hasan pada si ibu: "Lakukanlah sholat sunah empat roka'at setelah isya, dan bacalah pada setiap roka'atnya surat AT-TAKA-TSUR satu kali setelah fatihah, kemudian berbaringlah dan bacalah sholawat hingga engkau tertidur".
Si ibu ini melakukan apa apa yang telah disampaikan syeikh padanya. Maka malam itu si ibu memimpikan anak perempuannya sedang disiksa dengan kaki dan tangan terbelenggu rantai besi. Keesokannya si ibu datang lagi kepada syeikh dan mengabarkan mimpinya.
Sejenak Syeikh diam dan kemudian beliau berkata: "Shodaqohlah atas nama anak perempuanmu". Maka kemudian si ibu melaksanakan shodaqoh atas nama anak perempuannya (menghadiahkan ganjaran shodaqoh tersebut kepada anaknya). Kemudian pada malam berikutnya, Syeikh bermimpi seolah beliau berada di pertamanan syurga, Beliau melihat ada seorang gadis yang sangat cantik berada diatas sebuah ranjang dengan memakai mahkota dari cahaya dikepalanya. Gadis ini berkata kepada Syeikh: "Apakah engkau tidak mengenaliku wahai Syeikh ?" "Tidak !" jawab Syeikh. Berkata gadis itu: "Aku adalah anak perempuan dari wanita yang datang padamu" Syeikh berkata: "Tapi tidak dalam keadaan seperti yang aku lihat saat ini ibumu menceritakan keadaanmu". Berkata si gadis: "Sebelumnya aku memang seperti apa yang telah diceritakan ibuku". Syeikh berkata: "Lalu bagaimana engkau bisa seperti ini ?". Si gadis menjelaskan: "Aku adalah salah satu dari 70.000 orang yang sedang disiksa, Maka lewatlah diantara pekuburan kami seorang yang sholih,orang sholih tersebut membaca sholawat atas Nabi Muhammad SAW hanya satu kali, kemudian ia menghadiahkan pahala satu kali sholawat tersebut kepada kami, Kemudian Allah membebaskan kami (70.000 orang) dari siksaan tersebut dengan berkah Nabi SAW (sholawat), Dan hasil dari satu kali sholawat yang dihadiahkan pada kami adalah seperti apa yang engkau lihat padaku (seperti ini bagianku). Wallohu a'lam. [Al-Ustadz Rizalullah].

اللهم صل وسلم وبارك علي سيدنا محمد وعلي اله واصحابه وازواجه وذرياته واهل بيته الكرام اجمعين

23/02/2026

BAGAIMANA CARA MENINGKATKAN IMAN DAN AMAL SHOLIH

Untuk meningkatkan iman dan amal saleh menurut pandangan Islam, khususnya dalam madzhab Syafi'i, terdapat beberapa langkah yang dapat diambil. Langkah-langkah ini berdasarkan ajaran Al-Qur'an, Sunnah, serta nasihat para ulama dalam madzhab Syafi'i:

1. Meningkatkan Pemahaman Agama (Ta'lim dan Tafaqquh fi Ad-Din) Salah satu cara utama untuk meningkatkan iman adalah dengan memperdalam ilmu agama. Imam Syafi’i menekankan pentingnya ilmu sebagai dasar untuk meningkatkan iman dan amal. Belajarlah Al-Qur'an, tafsirnya, hadits, serta ilmu fiqih yang bermanfaat, karena dengan ilmu, seseorang dapat memahami apa yang Allah perintahkan dan larang. Imam Syafi'i berkata:
"Barang siapa yang ingin dunia, hendaklah dengan ilmu, dan barang siapa yang ingin akhirat, hendaklah dengan ilmu." (Al-Faqih wa Al-Mutafaqqih, jilid 1, halaman 17).

2. Memperbanyak Dzikir dan Tilawah Al-Qur’an Dalam madzhab Syafi'i, dzikir sangat dianjurkan sebagai sarana meningkatkan iman. Mengingat Allah (dzikrullah) baik dengan kalimat-kalimat tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil, atau membaca Al-Qur’an secara rutin dapat menumbuhkan ketenangan hati dan memperkuat keimanan. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar juga memberikan berbagai contoh dzikir harian yang bisa diamalkan oleh seorang Muslim.

3. Melakukan Ibadah Sunnah secara Rutin Selain ibadah wajib, memperbanyak ibadah sunnah, seperti shalat sunnah rawatib, tahajjud, dan puasa sunnah, adalah cara yang sangat efektif untuk meningkatkan iman. Ibadah sunnah ini juga membantu menambah kedekatan dengan Allah. Imam Syafi’i menganjurkan untuk konsisten dalam ibadah sunnah, karena konsistensi dalam ibadah mendekatkan kita kepada Allah. Hal ini berdasarkan hadits Nabi ﷺ:
"Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai selain dari apa yang telah Aku fardhukan atasnya, dan hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan nawafil (amalan sunnah) hingga Aku mencintainya." (HR. Bukhari).

4. Bergaul dengan Orang Shalih Menjaga pergaulan dengan orang-orang yang shalih dan alim juga menjadi salah satu cara efektif untuk meningkatkan iman. Lingkungan yang baik akan mempengaruhi seseorang untuk terus berada di jalan yang benar. Sebagaimana disebutkan dalam hadits:
“Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Maka, hendaklah salah seorang di antara kalian melihat siapa yang menjadi temannya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

5. Muhasabah (Introspeksi Diri) Imam Syafi'i juga menganjurkan untuk senantiasa bermuhasabah, yaitu introspeksi dan mengevaluasi amal serta kondisi iman kita setiap hari. Hal ini penting agar kita selalu sadar dan mengetahui kekurangan diri, sehingga bisa memperbaiki diri di masa depan.
Dalam Adab Dunia wa Ad-Din, Ibn Qayyim menjelaskan bahwa muhasabah diri akan membawa seseorang untuk semakin memperbaiki amal dan mendekatkan diri kepada Allah.

6. Tawakkal dan Berserah Diri kepada Allah Dalam meningkatkan iman, tawakkal atau menyerahkan segala urusan kepada Allah setelah berusaha adalah salah satu kunci penting. Imam Syafi'i dalam berbagai nasihatnya sering kali mengingatkan agar seorang mukmin tidak bersandar kepada kekuatan dirinya, tetapi selalu bersandar kepada kekuatan Allah. Firman Allah:
"Barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya." (QS. At-Thalaq: 3)

Dengan menjalankan langkah-langkah ini secara konsisten, iman seseorang akan terus bertambah dan amal salehnya akan semakin meningkat, insya Allah.

21/02/2026

SEKILAS TENTANG FIDYAH

- Kapankah waktu yang tepat untuk membayar FIDYAH??
- Dan siapa saja yang berkewajiban membayar FIDYAH ??
- Dan kepada siapa FIDYAH itu wajib diserahkan. Matur nuhun jawaban nya
Masalah : teman saya namanya mba ayu beliau bekerja di LN tepatnya taiwan, beliau bermaksud membayar fidyah karena merasa 2 kali puasanya di bulan ramadhan kurang sempurna (tinggal di rumah majikan mau ga mau bantu majikan cuci + klutek-klutek babi,dan dalam rumah majikan ada anjing nya yang otomatis kena air liurnya dan ke-2 hewan tersebut adalah haram), oleh sebab itu ia merasa puasanya 2 kali bulan ramadhan (30+30 = 60 hari kurang sempurna) dan kemudian dia berniat membayar fidyah, tapi ketika dia mengunjungi salah satu pesantren, kyai pesantrennya bilang kudu mbayar segitu, tanpa dikasih tahu hitungannya, tapi karena terlalu banyak (seperti kurang wajar), teman saya tidak jadi membayar dan memberikan sedkit sedekah ...next... gurunya mba ayu tadi bilang "ndak usah dibayar dulu.." sampai sekarang pun teman saya belum membayarnya karena tidak diperbolehkan oleh gurunya tadi. Nah, kalau tidak jadi membayar fidyah, bagaimana dengan niat awalnya tadi, apa tidak apa-apa niatnya tidak dilaksanakan dan bagaimana puasanya yang dia rasa kurang sempurna tadi?

1.Diperkenankan memilih antara membayarnya diakhir bulan Ramadhan atau setelah terbitnya fajar disetiap hari ramadhan (yang ia tinggalkan puasanya).
2.Orang tua renta, orang sakit keras yang sudah tidak dimungkinkan kesembuhannya dan wanita hamil atau menyusui saat meninggalkan puasa karena mengkhawatirkan anaknya karena disamping wajib Qadha bagi wanita tersebut juga diwajibkan membayar fidyah.

Dan orang yang meninggal dunia sebelum mengqadhai puasa karena tanpa adanya udzur, maka wajib bagi ahli warisnya memberikan sehari satu mud atas puasa yang ditinggalkan si Mayit. Dan fidyah tidak disyariatkan dalam kasus mereka yang telah menjalani puasa namun karena hati-hati mereka juga membayar fidyah.
3. Fakir Miskin
تعجيل الفدية :
13 - اختلف الفقهاء في مسألة ما إذا كان يجوز للشيخ العاجز والمريض الذي لا يرجى برؤه تعجيل الفدية ، فأجاز الحنفية دفع الفدية في أول الشهر كما يجوز دفعها في آخره . (1) وقال النووي : اتفق أصحابنا على أنه لا يجوز للشيخ العاجز والمريض الذي لا يرجى برؤه تعجيل الفدية قبل دخول رمضان ، ويجوز بعد طلوع فجر كل يوم ، وهل يجوز قبل الفجر في رمضان ؟ قطع الدارمي بالجواز وهو الصواب . (2)
__________
(1) حاشية ابن عابدين 2 / 119 .
(2) المجموع للنووي 6 / 260 .
TA’JIIL (MEMPERCEPAT WAKTU PEMBAYARAN) FIDYAH
Ulama Fiqh berbeda pendapat mengenai masalah Ta’jil Fidyah yang dikerjakan oleh orang tua renta dan orang sakit keras yang sudah tidak dimungkinkan kesembuhannya, Kalangan hanafiyah memperkenankan pembayaran Fidyah dilakukan oleh keduanya diawal bulan ramadhan seperti diperkenannkannya membayarnya diakhir bulan.
Imam An-nawawy berkata “Pengikut Madzhab Syafi’i sepakat bahwa bagi orang tua renta dan orang sakit keras yang sudah tidak dimungkinkan kesembuhannya tidak boleh menunaikan pembayaran fidyah sebelum memasuki bulan ramadhan dan boleh ditunaikan setelah terbitnya fajar disetiap hari ramadhan (yang ia tinggalkan puasanya), Apakah boleh ditunaikan sebelum terbitnya fajar ? Imam ad-Daroomi memastikan kebolehannya dan inilah pendapat yang benar. [ Al-Mausuu’ah al-Fiqhiyyah 32/68 ].
Dalam Kitab Fataawa ar-Romly dijelaskan :
قال الرملي الشافعي رحمه الله: ويتخير في إخراجها بين تأخيرها وبين إخراج قيمة كل يوم فيه أو بعد فراغه، ولا يجوز تعجيل شيء منها لما فيه من تقديمها على وجوبه. انتهى.
Imam ar-Romly dari madhab As-Syafi’i berpendapat “Dalam pelaksanaan pembayaran fidyah diperkenankan memilih waktunya antara mengakhirkannya (di akhir bulan ramadhan) dan antara mengeluarkan nilai harga fidyahnya disetiap hari atau setelah selesainya tiap hari ramadhan dan tidak diperbolehkan mempercepat pembayarannya karena artinya mendahulukan pelaksanaannya sebelum waktu diwajibkannya”
{ فرع } اتفق أصحابنا علي أنه لا يجوز للشيخ العاجز والمريض الذى لا يرجى برؤه تعجيل الفدية قبل دخول رمضان ويجوز بعد طلوع فجر كل يوم وهل يجوز قبل الفجر في رمضان قطع الدارمي بالجواز وهو الصواب وقال صاحب البحر فيه احتمالان لوالده وليس بشئ ودليله القياس علي تعجيل الزكاة
[ CABANG ] Pengikut Madzhab Syafi’i sepakat bahwa bagi orang tua renta dan orang sakit keras yang sudah tidak dimungkinkan kesembuhannya tidak boleh menunaikan pembayaran fidyah sebelum memasuki bulan ramadhan dan boleh ditunaikan setelah terbitnya fajar disetiap hari ramadhan (yang ia tinggalkan puasanya). Pengarang Kitab al-bahr berkata ”Didalamnya mengandung dua kemungkinan dan ini bukanlah sesuatu masalah dengan dikiyaskan pada ta’jil az-zakat” . [ Al-majmuu’ Alaa Syarh al-Muhadzdzab VI/260 ].
( كمفطر لكبر ) لا يطيق معه الصوم ، أو يلحقه به مشقة شديدة فإنه يجب عليه لكل يوم مد قال تعالى { وعلى الذين يطيقونه فدية طعام مسكين } المراد لا يطيقونه ، أو يطيقونه حال الشباب ثم يعجزون عنه بعد الكبر وروى البخاري أن ابن عباس وعائشة كانا يقرآن وعلى الذين يطوقونه ومعناه يكلفون الصوم فلا يطيقونه وكالكبير مريض لا يرجى برؤه... ( ، أو ) كذات ( حمل ، أو مرضع ) ولو لولد غيرها بأجرة ، أو دونها وقد أفطرتا فإنه يجب على كل منهما لكل يوم مد
(Keterangan seperti orang yang meninggalkan puasa karena ketuaannya) yang tidak kuat baginya menjalankan puasa, atau saat puasa ia menemukan kesulitan yang teramat sangat, maka wajib baginya setiap hri satu mud.
Allah berfirman “Dan atas orang yang tidak kuat menjalaninya wajib mengeluarkan fidyah makanan untuk orang-orang miskin” artinya tidak kuat menjalani puasa atau saat muda ia kuat kemudian setelah tua ia tidak kuat...
Seperti halnya orang tua renta adalah orang sakit yang tidak lagi diharapkan kesembuhannya. (atau bagi wanita hamil dan menyusui) meskipun menyusui anak orang lain karena diberi upah atau karena lainnya dan mereka berdua meninggalkan puasa maka wajib bagi mereka mengeluarkan setiap hari satu mud (disamping mengqadhai puasanya). [ Syarh al-Bahjah al-Wardiyyah VII/148 ].
ومن مات قبل أن يقضي فلا يخلو إما أن يفوته الصيام بعذر أو بغير عذر وعلى الأول فإن تمكن من القضاء بأن خلا عن السفر والمرض ولم يقض يأثم ويخرج من تركته لكل يوم مد
Barangsiapa meninggal dunia sebelum ia mengqadhai puasanya maka adakalanya peninggalan qadha tersebut karena udzur atau tanpa udzur... Bila ada kesempatan baginya menjalani qadha namun ia enggan melaksanakannya (hingga ia meninggal) maka ia berdosa dan ahli warisnya mengeluarkan harta peninggalannya setiap hari yang ia tidak puasai satu mud. [ I’aanah at-Thoolibiin II/237 ]

21/02/2026

MEMBAYAR ZAKAT FITRAH DENGAN UANG

Membayar zakat fitrah dengan uang, menurut Syafi’iyyah tidak diperbolehkan, sedangkan menurut Hanafiyyah diperbolehkan.
Catatan Penting : Berpijak pada pendapat yang memperbolehkan pembayaran zakat fitrah dengan uang (yakni hanya Hanafiyah) maka menurut kalangan ini, mengenai kadar uang yang dikeluarkan adalah disesuaikan nilai / harga bahan-bahan makanan yang manshush (disebutkan secara eksplisit dalam hadis) sebagai zakat fitrah, yakni :
1 sho’ tamr / kurma, atau
1 sho’ gandum sya’ir, atau
½ sho’ zabib / anggur, atau
½ sho’ gandum burr
Yang kesemuanya mengacu pada nilai harga saat mulai terkena beban kewajiban (waqtul wujub).

ZAKAT FITRAH DENGAN UANG SERTA UKURAN SHO’

Tiga madzhab sependapat bahwa tidak boleh zakat fitrah dengan uang. Madzhab hanafi memperbolehkan zakat fitrah dengan uang, namun harus seharga satu sho gandum, kurma, atau anggur kering (jenis-jenis fitrah yang tertera dalam hadits, bukan seharga satu sho’ makanan pokok). Ada pendapat dari kalangan Malikiyah yang memperbolehkan zakat fitrah dengan uang (seharga satu sho’ makanan pokok) namun makruh.
Perlu diketahui, pada umumnya masyarakat menilai mud dan sho’ dengan ukuran berat jenis suatu barang. Hal ini kurang tepat mengingat bahwa ukuran mud dan sho’ itu adalah takaran. Yang benar ukuran mud dan sho’ itu adalah memakai volume.

~ satu mud versi Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Malik = 0,766 lt / kubus berukuran kurang lebih 9,2 cm.

~ satu sho’ versi imam Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Malik = 3,145 lt / kubus berukuran kurang lebih 14,65 cm.

Bila dikonversi ke dalam bentuk berat jenis, maka hasilnya bisa berbeda tergantung dari kadar air benda yang kita timbang. KH. Ma’shum bin Ali Jombang pernah menimbang beras dari takaran mud dan sho’ yang beliau miliki, dan diketahui bahwa;

~ satu mud mud beras putih = 679,79 gr.
~ satu sho’ beras putih = 2719,19 gr.

Referensi :
·Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab VI/113
·Tarsyih al-Mustafîdîn, 154
·Al-Mughni li Ibn Qudâmah II/357
·Radd al-Mukhtâr II/286
·Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah XX/243
·Al-Inâyah Syarh al-Hidâyah III/245
·Al-Fiqh al-Islâmi wa Adillatuh II/909
Kenapa dalam madzhab Syafi'i tidak diperbolehkan mengeluarkan zakat dengan qimah ? Berikut jawaban dan paparan Imam Ghazali dalam kitab Ihya juz I halaman 213 dalam fasal :
في الأداء وشروطه الباطنة والظاهرة
والقسم الثالث: هو المركب الذي يقصد منه الأمران جميعاً وهو حظ العباد وامتحان المكلف بالاستعباد، فيجتمع فيه تعبد رمي الجمار وحظ رد الحقوق فهذا قسم في نفسه معقول، فإن ورد الشرع به وجب الجمع بين المعنيين
ولا ينبغي أن ينسى أدق المعنيين وهو التعبد والاسترقاق بسبب أجلاهما، ولعل الأدق هو الأهم والزكاة من هذا القبيل
ولم ينتبه له غير الشافعي رضي الله عنه فحظ الفقير مقصود في سد الخلة وهو جلي سابق إلى الأفهام وحق التعبد في اتباع التفاصيل مقصود للشرع. وباعتباره صارت الزكاة قرينة للصلاة والحج في كونها من مباني الإسلام.
ولاشك في أن على المكلف تعباً في تمييز أجناس ماله وإخراج حصة كل مال من نوعه وجنسه وصفته. ثم توزيعه على الأصناف الثمانية كما سيأتي. والتساهل فيه غير قادح في حظ الفقير لكنه قادح في التعبد

(الثالث) من الامور الخمس (ان لا يخرج بدلا) فى الزكاة (باعتبار القيمة) الوارد فى الحديث (المنصوص عليه) فلا يجزئ ورق) اي فضة بدلا (عن ذهب)اذا وجبت فيه (ولا ذهبا) بدلا (عن ورق) اذا وجبت فيه (وان زاد عليه فى القيمة) كما فى الهدايا والضحايا لان الشرع اوجب علينا والواجب ما لا يسع تركه ومتى ساغ غيره وسعه تركه فلا يكون واجبا وبه قال مالك واحمد وفال اصحابنا يجوز دفع القيمة فى الزكاة والكفارة وصدقة الفطر والعشر والخراج والنذر لان الامر بالاداء الى الفقير ايجاب للرزق الموعود فصار كالجزية بخلاف الهدايا والضحايا فإن المستحق فيه إراقة الدم وهى لا تعقل ووجه القربة فى المتنازع فيه سد خلة المحتاج وهو معقول اهـ، اتحاف السادات المتقين (الحنفية) ج 4 ص 94
***
)مسئلة) ان اخرج قيمة الصاع دراهم او ذهبا فانه يجزئ مع الكراهة كما قال الدردير في فصل مصرف الزكاة من اقرب المسالك الا العين عن حرث وماشية بالقيمة فتجزئ بكره وهذا شامل لزكاة الفطر اهـ وفي حاشية الصاوي في فصل زكاة الفطر نقلا عن تقرير الدردير انه ان اخرج قيمة الصاع عينا فالأظهر الإجزاء لأنه يسهل بالعين سد خلته في ذلك اليوم اهـ قرة العين بفتاوي علماء الحرمين (المالكية)/ 76
***
(أَوْ) دَفَعَ (جِنْسًا) مِمَّا فِيهِ الزَّكَاةُ (عَنْ غَيْرِهِ): مِمَّا فِيهِ زَكَاةٌ ; لَمْ تُجْزِئْهُ كَأَنْ دَفَعَ مَاشِيَةً عَنْ حَرْثٍ أَوْ عَكْسِهِ. وَمُرَادُهُ بِالْجِنْسِ: مَا يَشْمَلُ الصِّنْفَ ; فَلا يُجْزِئُ تَمْرٌ عَنْ زَبِيبٍ وَلا عَكْسُهُ. وَلا شَيْءٌ مِنْ الْقَطَّانِي عَنْ آخَرَ, وَلا زَيْتُ ذِي زَيْتٍ عَنْ آخَرَ, وَلا شَعِيرٌ عَنْ قَمْحٍ أَوْ سُلْتٍ أَوْ ذُرَةٍ أَوْ أُرْزٍ. (إلا الْعَيْنَ) ذَهَبًا أَوْ فِضَّةً يُخْرِجُهَا (عَنْ حَرْثٍ وَمَاشِيَةٍ) بِالْقِيمَةِ (فَتُجْزِئُ بِكُرْهٍ) أَيْ مَعَ كَرَاهَةٍ وَهَذَا شَامِلٌ لِزَكَاةِ الْفِطْرِ اهـ الشرح الصغير على أقرب المسالك، 1/581
***
فَيَتَعَيَّنُ الإِخْرَاجُ مِمَّا غَلَبَ الاقْتِيَاتُ مِنْهُ مِنْ هَذِهِ الأَصْنَافِ التِّسْعَةِ, فَلا يُجْزِئُ الإِخْرَاجُ مِنْ غَيْرِهَا ولا منها إن قتيت غيره منها إلا أن يخرج الأحسن؛ كما لو غلب اقتيات الشعير فأخرج قمحاً اهـ، الشرح الصغير على أقرب المسالك (المالكية)، 1/672
***
قَوْلُهُ: [ فَلا يُجْزِئُ الإِخْرَاجُ مِنْ غَيْرِهَا ]: أَيْ إذَا لَمْ يَكُنْ ذَلِكَ الْغَيْرُ عَيْنًا، وَإِلا فَالأَظْهَرُ الإِجْزَاءُ لأَنَّهُ يَسْهُلُ بِالْعَيْنِ سَدُّ خَلَّتِهِ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ اهـ، حاشية الصاوي على الشرح الصغير(المالكية)، 1/682
***
واتفق الائمة أنه لا يجوز إخراج القيمة في الفطرة في غير ما تقدم الا أبا حنيفة فقال يجوز بل هو أفضل في السعة، أما في الشدة فدفع العين أفضلز والتفقوا على أن الواجب صاع الا الحنفية فيجزئ عندهم من الزبيب نصف صاع، وكذلك البر ودقيقه وسويقه اهـ، فتح العلام بشرح مشيد الانام (الشافعية)، 3/302
***
( مسألة ) لا تجزئ القيمة في الفطرة عندنا . وبه قال مالك وأحمد وابن المنذر . وقال أبو حنيفة يجوز حكاه ابن المنذر عن الحسن البصري وعمر بن عبد العزيز والثوري قال وقال إسحاق وأبو ثور لا تجزئ إلا عند الضرورة اهـ المجموع شرح المهذب (الشافعية) الجزء السادس ص: 113
***
( 1966 ) مسألة : قال : ( ومن أعطى القيمة لم تجزئه ) قال أبو داود قيل لأحمد وأنا أسمع أعطي دراهم يعني في صدقة الفطر قال أخاف أن لا يجزئه خلاف سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم . وقال أبو طالب , قال لي أحمد لا يعطي قيمته , قيل له : قوم يقولون , عمر بن عبد العزيز كان يأخذ بالقيمة , قال يدعون قول رسول الله صلى الله عليه وسلم ويقولون قال فلان , قال ابن عمر : فرض رسول الله صلى الله عليه وسلم . وقال الله تعالى “أطيعوا الله وأطيعوا الرسول”. وقال قوم يردون السنن قال فلان قال فلان . وظاهر مذهبه أنه لا يجزئه إخراج القيمة في شيء من الزكوات . وبه قال مالك والشافعي وقال الثوري وأبو حنيفة يجوز . وقد روي ذلك عن عمر بن عبد العزيز والحسن وقد روي عن أحمد مثل قولهم فيما عدا الفطرة اهـ، المغني لابن قدامة (الحنابلة) الجزء الثاني ص: 357
Berikut ini ta’bir mengenai uang dalam madzahab maliki yang hukumnya sama dengan dirham, dinar, emas atau perak.
وَاعْلَمْ أَنَّ الْفُلُوسَ الْجُدُدَ هُنَا كَالْعَيْنِ فَلا يَجُوزُ سَلَمُ بَعْضِهَا فِي بَعْضٍ، حاشية الصاوي على الشرح الصغير(المالكية)، 3/261
***
قلت: ما قول مالك فيمن أسلم فلوساً في طعام؟ قال: لا بأس بذلك . قلت : ما قول مالك فيمن أسلم طعاماً في فلوس؟ قال: قال مالك: لا بأس بذلك. قلت : فإن أسلم دراهم في فلوس؟ قال: قال مالك: لا يصلح ذلك. قلت : وكذلك الدنانير إذا أسلمها في الفلوس؟ قال: نعم لا يصلح عند مالك. قلت : وكذلك لو باع فلوساً بدراهم إلى أجل وبدنانير إلى أجل لم يصلح ذلك؟ قال: نعم. قلت : لم؟ قال: لأن الفلوس عين ولأن هذا صرف اهـ، المدونة الكبرى(المالكية)، 9/19

21/02/2026

CARA QODHO PUASA JIKA DAHULU BANYAK BOLONG PUASA RAMADHAN

Wajib qodho serta bayar fidyah per hari 1 mud sebagai denda karena melewati ramadhan berikutnya belum qodho, jika melewati 2 kali ramadhan maka 2 mud per hari, dan seterusnya. Perhitungan harinya silahkan diperkirakan yang paling mendekati yakin, misal :
14 hari di ramadhan 12 tahun yang lalu (lewat 12 kali ramadhan berikutnya) = 14 x 12 mud = 168 mud
10 hari di ramadhan 11 tahun yang lalu = 10 x 11 mud = 110 mud
16 hari di ramadhan 10 tahun yang lalu = 16 x 10 mud = 160 mud
dan seterusnya...
kemudian dijumlah total hari nya berapa untuk diqodho puasanya, dan dijumlah total mud nya untuk bayar denda fidyahnya.
Kalau belum mampu bayar fidyah maka fidyah menjadi tanggungannya, sampai ia membayarnya.

Referensi :

- Kitab Safinah hal 121 :
والثانى الافطار مع تأخير قضاء )شيئ من رمضان (مع املكانه حتى يأتى رمضان آخر)لخبر من أدرك رمضان فأفطر لمرض ثم صح ولم يقضه حتى أدركه رمضان آخر صام الذي أدركه ثم يقضى ماعليه ثم يطعم عن كل يوم مسكينا رواه الدارقطنى والبيهقى

- Kitab Nihayatuz Zain :
نهاية الزين ص ١٩٢ مكتبة الشاملة
(وعَلى مُؤخر قَضَاء بِلَا عذر) أَي فِي التَّأْخِير بِأَن أمكنه الْقَضَاء فِي تِلْكَ السّنة (مد) وَإِنَّمَا جَازَ تَأْخِير قَضَاء الصَّلَاة إِلَى سِنِين لصِحَّته كل الْأَوْقَات وَتَأْخِير الصَّوْم إِلَى رَمَضَان آخر تَأْخِير لَهُ إِلَى نَظِيره الَّذِي لَا يقبله وَلَا يَصح فِيهِ وَكَانَ كتأخيرة عَن الْوَقْت فَإِن أخر الْقَضَاء بِعُذْر كَأَن اسْتمرّ سَفَره أَو نسيانه أَو جَهله الَّذِي يعْذر بِهِ أَو إكراهه أَو إِرْضَاع الْمَرْأَة إِلَى عَام قَابل فَلَا شَيْء عَلَيْهِ من الْفِدْيَة وَالْحُرْمَة مَا بَقِي الْعذر وَإِن اسْتمرّ سِنِين وَلَو كَانَ إفطاره بِغَيْر عذر إِذْ لَا يلْزم من الْإِثْم الْفِدْيَة وَخرج بالعذر خلوه عَن الْعذر بِقدر مَا عَلَيْهِ فَتلْزمهُ الْفِدْيَة ويتكرر الْمَدّ بِتَكَرُّر السنين فَيجب (لكل سنة) لِأَن الْحُقُوق الْمَالِيَّة لَا تتداخل بِخِلَافِهِ فِي نَحْو الْهَرم لَا يتَكَرَّر لعدم التَّقْصِير وَمن عجز عَن ذَلِك اسْتَقر فِي ذمَّته
Fokus:
وَمن عجز عَن ذَلِك اسْتَقر فِي ذمَّته

21/02/2026

WAJIBKAH QODHO PUASA BAGI ORANG YANG TIDUR 2 HARI DI BULAN RAMADHAN

Puasa di tidur hari pertama hukumnya sah bila niat puasa di malam harinya, sedang tidur hari kedua harus Qodho' puasanya karena dia di tidur hari kedua dia tidak niat puasa.

Referensi :

المجموع شرح المهذب
( أما الأحكام ) ففيها مسائل : ( إحداها ) إذا نام جميع النهار وكان قد نوى من الليل صح صومه على المذهب وبه قال الجمهور . وقال أبو الطيب بن سلمة وأبو سعيد الإصطخري : لا يصح ، حكاه البندنيجي عن ابن سريج أيضا ، ودليل الجميع في الكتاب ، وأجمعوا على أنه لو استيقظ لحظة من النهار ونام باقيه صح صومه ( الثانية ) لو نوى من الليل ولم ينم النهار ولكن كان غافلا عن الصوم في جميعه صح صومه بالإجماع ; لأن في تكليف ذكره حرجا .

المجموع شرح المهذب
( أما أحكام الفصل ) ففيه مسائل : ( إحداها ) قال الشافعي والأصحاب رحمهم الله تعالى : لا يصح صوم رمضان ولا غيره من الصيام الواجب والمندوب إلا بالنية ، وهذا لا خلاف فيه عندنا ، فلا يصح صوم في حال من الأحوال إلا بنية ; لما ذكره المصنف ، ومحل النية القلب ولا يشترط نطق اللسان بلا خلاف ، ولا يكفي عن نية القلب بلا خلاف ولكن يستحب التلفظ مع القلب كما سبق في الوضوء والصلاة ( الثانية ) تجب النية كل يوم ، سواء رمضان وغيره ، وهذا لا خلاف فيه عندنا ، فلو نوى في أول ليلة من رمضان صوم الشهر كله لم تصح هذه النية لغير اليوم الأول ; لما ذكره المصنف ، وهل تصح لليوم الأول ؟ فيه خلاف ، والمذهب صحتها له ، وبه قطع أبو الفضل بن عبدان وغيره ، وتردد فيه الشيخ أبو محمد الجويني من حيث إن النية قد فسد بعضها .
( الثالثة ) تبييت النية شرط في صوم رمضان وغيره من الصوم الواجب ، فلا يصح صوم رمضان ، ولا القضاء ، ولا الكفارة ، ولا صوم فدية الحج وغيرها من الصوم الواجب بنية من النهار بلا خلاف ، وفي صوم النذر طريقان ( المذهب ) وبه قطع الجمهور وهو المنصوص في المختصر : لا يصح بنية من النهار .

21/02/2026

HUKUM MEMBAYAR FIDYAH ATAU KAFARAT DENGAN NASI KOTAK

Menurut madzhab Syafi’i tidak diperbolehkan mengeluarkan Fidyah atau Kafarot berupa uang atau makanan cepat saji, sedangkan menurut madzhab Hanafi diperbolehkan membayar fidyah dengan cara memasak atau membuat makanan (termasuk nasi kotak tentunya), lalu mengundang fakir miskin sejumlah hari yang ditinggalkan selama bulan Ramadhan. Hal ini sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Sayidina Anas bin Malik رضي الله عنه ketika beliau sudah berusia senja dan tidak kuat lagi berpuasa. Dengan catatan, jika ingin taqlid madzhab Hanafi semua aturannya harus mengikuti Madzhab Hanafi meliputi cara pentasharrufan dan kadar yang harus dikeluarkan.

Ulama kontemporer Dr. Abdullah al-Faqih, musyrif dan m***i Syabakah Islamiyah menyatakan:

فإطعام ستين مسكيناً في الكفارات يكون بإعطاء كل مسكين نصف صاع من قمح أو تمر أو رز، أو غير ذلك من قوت البلد. ويكون ذلك غير مطبوح، ولو طبخت طعاماً لستين مسكيناً وجمعتهم عليه أجزأك ذلك

Artinya: Memberi makan 60 orang miskin dalam kafarat adalah dengan memberikan setiap orang miskin setengah sha' qumh, kurma, beras atau makanan pokok lainnya. Itu semua dalam bentuk mentahnya. Sendainya makanan itu dimasak untuk 60 orang miskin maka itu juga sah.

Fatwa Syaikh Ali Jum'ah juga memperbolehkan mengeluarkan kafaroh dalam bentuk makanan siap saji berpegang kepada ulama yang memperbolehkannya, meski yang utama adalah mengeluarkannya dalam bentuk mentah, agar keluar dari khilaf, karena keluar dari khilaf adalah mustahabb (sunnah). Kami menduga fatwa Syekh Ali Jum'ah mengadopsi Fiqih Hanafi, sehingga dalam fidyahnya harus taqlid Hanafiyyah. Tidak dengan cara Syafi'iyyah. Fidyah dengan makanan yang matang ada dalam Madzhab Hanafi, tapi harus difahami dulu beberapa hal:

1. Dalam madzhab Hanafi, ukuran fidyah adalah 1 sha' bukan 1 mud.
2. Bahkan, pembayaran fidyah dalam mazhab Hanafi ini dapat memilih di antara dua komoditas, yaitu setengah sha’ (2 mud) setara 1,9 kilogram gandum/tepung atau satu sha’ (4 mud) setara 3,8 kilogram kurma atau anggur.
3. Boleh dengan memberikan makan sampai kenyang untuk makan pagi dan makan sore, artinya boleh dengan makanan yang matang. Jadi harus dua kali makan dan tidak disyaratkan tamlik.
4. Di antara yang dijadikan sandaran adalah Riwayat Anas bin Malik saat beliau sudah tua dan tidak berpuasa maka beliau mengundang 30 orang makan di rumahnya dengan roti dan daging.
5. Jika tidak mampu harus istighfar dan minta ma'af kepada Allah atas ketidakmampuannya.
6. Dan beberapa persyaratan sesuai dengan beberapa 'ibarah di bawah.

Referensi :

- Mausuatul fiqih :

ذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ إِلَى أَنَّ الْمُجْزِئَ فِي الإِْطْعَامِ هُوَ الْبُرُّ، أَوِ الشَّعِيرُ، أَوِ التَّمْرُ، دَقِيقُ كُل وَاحِدٍ كَأَصْلِهِ كَيْلاً أَيْ نِصْفُ صَاعٍ فِي دَقِيقِ الْبُرِّ وَصَاعٌ فِي دَقِيقِ الشَّعِيرِ، وَقِيل: الْمُعْتَبَرُ فِي الدَّقِيقِ الْقِيمَةُ، لاَ الْكَيْل، وَيَجُوزُ إِخْرَاجُ الْقِيمَةِ مِنْ غَيْرِ هَذِهِ الأَْصْنَافِ (2) .
وَذَهَبَ الْمَالِكِيَّةُ إِلَى أَنَّ الإِْطْعَامَ يَكُونُ مِنَ الْقَمْحِ إِنِ اقْتَاتُوهُ، فَلاَ يُجْزِئُ غَيْرُهُ مِنْ شَعِيرٍ أَوْ ذُرَةٍ أَوْ غَيْرِهِمَا، فَإِنِ اقْتَاتُوا غَيْرَ الْقَمْحِ فَمَا يَعْدِلُهُ شِبَعًا لاَ كَيْلاً (3) .
وَذَهَبَ الشَّافِعِيَّةُ إِلَى أَنَّ الإِْطْعَامَ يَكُونُ مِنَ الْحُبُوبِ وَالثِّمَارِ الَّتِي تَجِبُ فِيهَا الزَّكَاةُ، لأَِنَّ الأَْبْدَانَ تَقُومُ بِهَا، وَيُشْتَرَطُ أَنْ يَكُونَ مِنْ غَالِبِ قوت الْبَلَدِ

- Sunan Ad Daruquthni Juz 1 hal 186:

٢٣٦٥ـ حدثنا أحمد بن عبد الله الوكيل ، ثنا بن عرفة، ثنا روح ، نا عمران ابن حدير، عن أيوب، عن أنس ابن مالك رضي الله عنه: " أَنَّهُ ضَعُفَ عَنِ الصَّوْمِ عَامًا، فَصَنَعَ جَفْنَةً مِنْ ثَرِيدٍ، وَدَعَا ثَلاثِينَ مِسْكِينًا فَأَشْبَعَهُمْ

- Fathul Bari, Juz 8 hal 29:

قوله (وَأَمَّا الشَّيْخُ الْكَبِيرُ إِذَا لَمْ يُطِقْ الصِّيَامَ فَقَدْ أَطْعَمَ أَنَسٌ بَعْدَ مَا كَبِرَ عَامًا أَوْ عَامَيْنِ كُلَّ يَوْمٍ مِسْكِينًا خُبْزًا وَلَحْمًا وَأَفْطَرَ)

بحر المذهب ص 302 ج 10
لا يجوز عند الشافعي في الاطعام إلا الحب نفسه كما قلنا في زكاة الفطر. وقال الأنماطي : يجزيه الدقيق وهو مذهب أحمد وهو اختيار ابن ابي هريرة ، وعن احمد في الخبز روايتان، وقال الانماطي وابن ابي هريرة :يجوز الخبز لانه مهيأ للاقتيات وبه نفتي. فأعطى إلى كب مسكين رطلين بالبغدادي ، ومن نصر المذهب الاقتيات أحد منافعه وقد عدم أكثر منافع الحب، وقال أبو حنيفة : يجزئه الدقيق لا على طريق القيمة ، ويجزئه الخبز وغيره على طريق القيمة.

المجموع شرح المهذب – (ج 6 / ص 372)
{ فرع } في حكم الفدية وبيانها سواء الفدية المخرجة عن الميت وعن المرضع والحامل والشيخ الكبير والمريض الذي لا يرجي برؤه ومن عصي بتأخير قضاء رمضان حتى دخل رمضان آخر ومن افطر عمدا والزمناه الفدية علي وجه ضعيف وغيرهم ممن تلزمه فدية في الصوم وهى مد من طعام لكل يوم جنسه جنس زكاة الفطر فيعتبر غالب قوت بلده في اصح الاوجه وفى الثاني قوت نفسه وفى الثالث يتخير بين جميع الاقوات ويجئ فيه الخلاف والتفريع السابق هناك ولا يجزئ الدقيق ولا السويق ولا الحب المعيب ولا القيمة ولا غير ذلك مما سبق هناك ومصرفها الفقراء أو المساكين وكل مد منها منفصل عن غيره فيجوز صرف أمداد كثيرة عن الشخص الواحد والشهر الواحد إلى مسكين واحد أو فقير واحد بخلاف امداد الكفارة فأنه يجب صرف كل مد الي مسكين ولا يصرف الي مسكين من كفارة واحدة مدان لان الكفارة شئ واحد (واما) الفدية عن ايام رمضان فكل يوم مستقل بنفسه لا يفسد بفساد ما قبله ولا ما بعده وممن صرح بمعنى هذه الجملة البغوي والرافعي

البيان للعمراني ج ١٠ صـــ ٢٥٦ دار الكتب العلمية
وإن أخرج من قوت لا تجب فيه الزكاة : فإن كان غير الأقط لم يجزه وإن كان من الأقط ففيه قولان كما قلنا في زكاة الفطر. وإن كان في بلد لاقوت لهم تجب فيه الزكاة : وجب من قوت أقرب البلاد اليه. وهل يجزئه إخراج الدقيق والخبز والسويق؟ فيه وجهان : أحدهما : يجزئه لأنه مهيأ للإقتيات. والثاني : لا يجزئه وهو الصحيح لأنه قد فوت فيه وجوها من المنفعة وإن أخرج القيمة لم يجزه كما قلنا في الزكاة.

الحاوي في فقه الشافعي ج ١٣ صـــ ٤٤٣ دار الفكر
مَسْأَلَةٌ : قَالَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : ” وَلَا يُجْزِئُهُ أَنْ يُعْطِيَهُمْ دَقِيقًا وَلَا سَوِيقًا وَلَا خُبْزًا حَتَّى يُعْطِيَهُمُوهُ حَبًّا في الكفارة ” . قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ : وَهَذَا صَحِيحٌ لِأَمْرَيْنِ : أَحَدُهُمَا : أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – نَصَّ عَلَى الْحُبُوبِ فَلَا يُجْزِيهِ غَيْرُهَا . وَالثَّانِي : أَنَّ الْحَبَّ أَكْثَرُ مَنْفَعَةً ؛ لِأَنَّهُ يُمْكِنُ ادِّخَارُهُ وَزَرْعُهُ وَاقْتِنَاؤُهُ ، فَإِذَا صَارَ دَقِيقًا أَوْ سَوِيقًا أَوْ خُبْزًا نَقَصَتْ مَنَافِعُهُ، وَإِخْرَاجُ النَّاقِصِ فِي مَوْضِعِ الْكَامِلِ غَيْرُ مُجْزِئٍ . وَقَالَ أَبُو الْقَاسِمِ الْأَنْمَاطِيُّ يَجُوزُ إِخْرَاجُ الْخُبْزِ لِأَنَّهُ مُهَيَّأٌ لِلِاقْتِيَاتِ، مُسْتَغْنٍ عَنْ مَؤُونَةٍ وَعَمَلٍ، وَهَذَا فَاسِدٌ لِأَنَّ الِاقْتِيَاتَ أَحَدُ مَنَافِعِهِ، وَإِذَا كَمُلَ اقْتِيَاتُهُ بِالْخُبْزِ فَقَدْ فَوَّتَ كَثِيرًا مِنْ مَنَافِعِهِ الَّتِي رُبَّمَا كَانَتِ الْحَاجَةُ إِلَيْهَا أَدْعَى وَالنَّفْسُ إِلَيْهَا أَشْهَى .

- Fatwa Syaih Ali Gomma :
دار الافتاء المصرية الرقم المسلسل : 132 التاريخ : 06/09/2008
هل تخرج الكفارة نيئة أم مطبوخة؟
الجواب : فضيلة الأستاذ الدكتور علي جمعة محمد
جمهور الفقهاء يشترطون في إخراج الكفارة التمليك، ولا تكفي عندهم الإباحة أو التمكين؛ لأن التكفير واجبٌ مالي، فلا بد أن يأخذه الفقيرُ معلومَ القدر، خلافًا للحنفية الذين يكفي عندهم في الكفارة تمكين الفقراء من الطعام بدعوتهم إلى غداء وعشاء؛ متمسكين بأصل معنى الإطعام في اللغة، وأنه اسم للتمكين من الطعام لا لتمليكه، كما أن الله تعالى قال: ﴿مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ﴾ [المائدة: 899]، وإطعام الأهلين إنما يكون على جهة الإباحة لا التمليك.
وبناءً على ذلك: فلا مانع من إخراج الكفارة في صورة طعام مطهي أخذًا بقول مَن أجاز ذلك من العلماء، وإن كان الأَولى إخراجه في صورة مواد جافة خروجًا مِن الخلاف؛ لأن الخروج من الخلاف مستحب. والله سبحانه وتعالى أعلم.

الحجة على أهل المدينة للشيبني ج ١ ص ٣٩٧ - ٣٩٩ :
بَاب الشَّيْخ الْكَبِير الَّذِي لَا يقدر على الصَّوْم
قَالَ ابو حنيفَة فِي الشَّيْخ الْكَبِير الَّذِي لَا يقدر على الصَّوْم لكبر يَأْتِي عَلَيْهِ شهر رَمَضَان انه يطعم مَكَان كل يَوْم مِسْكينا نصف صَاع من حِنْطَة اَوْ صَاعا من شعير اَوْ تمر
وَقَالَ اهل الْمَدِينَة لَا نرى الْفِدَاء وَاجِبا على الناسى واحب الينا ان يَقْضِيه من قوي عَلَيْهِ فَمن فدى فانما يطعم مَكَان كل يَوْم مدا بِمد النَّبِي صلى الله عَلَيْهِ وَسلم
وَقَالَ مُحَمَّد بن الْحسن انما قَالَ الله تبَارك وَتَعَالَى فِي كِتَابه {وعَلى الَّذين يطيقُونَهُ} فَفَسَّرَهَا عبد الله بن عَبَّاس يطوقونه فديَة طَعَام مِسْكين وَطَعَام الْمِسْكِين لَا يكون هَذَا الْقدر أَلَيْسَ قد قَالَ الله تَعَالَى فِي كِتَابه فِي اطعام الْيَمين {إطْعَام عشرَة مَسَاكِين} أفليس يطعم كل مِسْكين نصف صَاع من بر بِصَاع رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم اَوْ يشْبع مرَّتَيْنِ لغدائه وعشائه فَكَذَلِك يَنْبَغِي ان يطعم مَا يشبعه لغدائه وعشائه اَوْ يعْطى نصف صَاع من بر اَوْ صَاعا من تمر اَوْ شعير

فقه العبادات على المذهب الحنفي للحاجة نجاح الحلبي ج ١ ص ١٣٣ :
رابعاً - حالة الإفطار الجائز الموجب للفدية دون القضاء:
-١ - الشيخ الفاني إن عجز عن الأداء، لقول ابن عباس رضي الله عنهما في تفسير قوله تعالى: {وعلى الذين يطيقونه فدية طعام مسكين} (١) هو الشيخ الكبير، والمرأة الكبيرة، لا يستطيعان أن يصوما، فيطعمان مكان كل يوم مسكيناً (٢) وقد أطعم أنس رضي الله عنه بعد ما كَبِر عاماً أو عامين، كل يوم مسكيناً، خبزاً ولحماً، وأفطر (٣).
-٢ - المريض مرضاً مبيحاً للإفطار ولا يرجى شفاؤه
-٣ - العاجز عن أداء نذر صوم الدهر، يفطر ويفدي لاشتغاله بالمعيشة
ماهية الفدية:
إطعام مسكين نصف صاع من بُرّ، أو صاعاً من تمر أو شعير، أو قيمته، أو أكلتين مشبعتين عن كل يوم، ولا يشترط التمليك (٤).
فإن لم يقدر على الإطعام لعسرته يستغفر الله سبحانه ويطلب منه العفو عن تقصيره في حقه
ولا تجوز الفدية إلا عن صوم هو أصل بنفسه لا بدل عن غيره. حتى لو وجبت عليه كفارة يمين أو قتل أو ظهار أو إفطار، فلم يجد ما يكفر به عن عتق أو إطعام أو كسوة، وهو شيخ فان أو لم يصم حال قدرته على الصوم حتى صار فانياً، لا تجوز له الفدية لأن الصوم هنا بدل عن غير وهو التكفير بالمال. ولذا لا يجوز المصير إلى الصوم إلا عند العجز عما يكفر به من المال.
__________
(١) البقرة: ١٨٤.
(2) البخاري: ج ٤ / كتاب التفسير باب ٢٧/٤٢٣٥
والله أعلم

Address

Bandungrejo Kalinyamatan Jepara
Jepara
59467

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Santri Perguruan Islam posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share