Remaja Masjid Agung Baitul Makmur Jepara

Remaja Masjid Agung Baitul Makmur Jepara Remaja masjid adalah perkump**an pemuda masjid yang melakukan aktivitas sosial dan ibadah di lingkun mengusahakan kerja pengurus yang baik dan profesional

3.

VIsi

Organisasi remaja islam berbasis tempat tinggal yang kuat dan mengakar serta berorientasi pada pembinaan membentuk remaja islam dengan akidah yang benar, akhlaq yang baik dan wawasan yang luas

Misi

1. Pengadaan kegiatan yang berorientasi pada pembinaan remaja islam dan memiliki nilai positif

2. membina hubungan silaturrahim yang baik antar pengurus, Dewan kemakmuran masjid, masyarakat sekitar dan pihak luar

4. kaderisasi terencana guna meneruskan kelanjutan organisasi

11/05/2026

Ngaji Tafsir Al-Quran dan Hadits Bukhori,
Remaja Masjid Agung Baitul Makmur Jepara

Pengaosan RutinTafsir Al-Qur'an & Hadits BukhoriBersama KH. Chasan Basri (Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatussalam Rau K...
14/12/2025

Pengaosan Rutin
Tafsir Al-Qur'an & Hadits Bukhori
Bersama KH. Chasan Basri (Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatussalam Rau Kedung Jepara)

Hari : Senin malam Selasa
Tgl : 15 Desember 2025
Waktu : 20.00 WIB (Ba'da Isyak) - Selesai
Tempat : Serambi Masjid Agung Baitul Makmur Jepara

NANTI MALAM!! Pengaosan Rutin Tafsir Al-Qur'an & Hadits BukhoriBersama KH. Chasan Basri S. Pd, pengasuh Pondok Pesantren...
30/06/2025

NANTI MALAM!!
Pengaosan Rutin Tafsir Al-Qur'an & Hadits Bukhori
Bersama KH. Chasan Basri S. Pd, pengasuh Pondok Pesantren Hidayatussalam, Rau, Kedung Jepara.

Mari Mengawali Tahun Hijriyah ini dengan istiqomah mengaji, đŸ€ČđŸ»

HABIS GELAP TERBITLAH TERANG(Terbukanya Tabir Gelap Dengan Mempelajari dan Mengamalkan Al Qur'an)RA. Kartini adalah sese...
21/04/2025

HABIS GELAP TERBITLAH TERANG
(Terbukanya Tabir Gelap Dengan Mempelajari dan Mengamalkan Al Qur'an)

RA. Kartini adalah seseorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa, putri RM. Adipati Ario Sosroningrat, Bupati Jepara.

Ia adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama.

Ibunya bernama MA. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan KH. Madirono, seorang guru agama di Teluk Awur, Jepara.

Dari sisi ayahnya, silsilah RA. Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI. Ayah RA. Kartini pada mulanya adalah seorang Wedana di Mayong.

Peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang Bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena MA. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura.

Setelah perkawinan itu, maka ayah RA. Kartini diangkat menjadi Bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung RA. Woerjan, RAA. Tjitrowikromo.

RA. Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, RA. Kartini adalah anak perempuan tertua.

Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun.

Kakak RA. Kartini, RM. Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa.

Sampai usia 12 tahun, RA. Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School).

Di sini antara lain RA. Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit.

SURAT CURHAT GALAU

Dalam suratnya kepada Stella Zihandelaar bertanggal 6 November 1899, RA Kartini menulis;

Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa?

Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain.

Lagi p**a, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam.

Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?

Al-Qur'an terlalu suci; tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap Muslim.

Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab.

Di sini, orang belajar Al-Qur'an tapi tidak memahami apa yang dibaca.

Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca.

Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal Bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya.

Aku pikir, tidak jadi orang soleh pun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?

RA Kartini melanjutkan curhat-nya, tapi kali ini dalam surat bertanggal 15 Agustus 1902 yang dikirim ke Ny Abendanon.

Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlu dan manfaatnya.
Aku tidak mau lagi membaca Al-Qur'an, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya.

Jangan-jangan, guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepada aku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja.
Aku berdosa.
Kita ini teralu suci, sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya.

BERTEMU MBAH KYAI SHOLEH DARAT

Kalau membaca surat surat Kartini yang diterbitkan oleh Abendanon dari Belanda, terkesan Raden Ajeng Kartini sudah jadi sekuler dan penganut feminisme. Namun kisah berikut ini semoga bisa memberi informasi baru mengenai apresiasi Kartini pada Islam dan Ilmu Tasawuf.

Mengapa? Karena dalam surat surat RA Kartini yang notabene sudah diedit dan dalam pengawasan Ny Abendanon yang notabene merupakan aparat pemerintah kolonial Belanda plus Orientalis itu, dalam surat surat RA. Kartini beliu sama sekali tidak menceritakan pertemuannya dengan Kyai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang — lebih dikenal dengan sebutan Kyai Sholeh Darat.

Alhamdullilah, Ibu Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat, tergerak menuliskan kisah ini.

Takdir, menurut Ny Fadhila Sholeh, mempertemukan RA. Kartini dengan Kyai Sholel Darat.
Pertemuan terjadi dalam acara pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga pamannya.

Kemudian ketika berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati Demak, RA. Kartini menyempatkan diri mengikuti pengajian yang diberikan oleh Mbah Kyai Sholeh Darat.

Saat itu beliau sedang mengajarkan tafsir Surat al-Fatihah. RA Kartini menjadi amat tertarik dengan Mbah Sholeh Darat.

Kyai Sholeh Darat memberikan ceramah tentang tafsir Al-Fatihah. Kartini tertegun.
Sepanjang pengajian, RA. Kartini seakan tak sempat memalingkan mata dari sosok Kyai Sholeh Darat, dan telinganya menangkap kata demi kata yang disampaikan sang penceramah.

Ini bisa dipahami karena selama ini RA. Kartini hanya tahu membaca Al Fatihah, tanpa pernah tahu makna ayat-ayat itu.

Setelah pengajian, RA. Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kyai Sholeh Darat. Sang paman tak bisa mengelak, karena RA. Kartini merengek-rengek seperti anak kecil. Berikut dialog RA. Kartini dengan Mbah Kyai Sholeh.

“Kyai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka dialog.

Kyai Sholeh tertegun, tapi tak lama.
“Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” Mbah Kyai Sholeh balik bertanya.

“Kyai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al Fatihah, surat pertama dan induk Al-Quran. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar Kartini.

Kyai Sholeh tertegun. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. RA. Kartini melanjutkan;

*“Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Alloh. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al Quran ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al Qur'an adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”*

Dialog berhenti sampai di situ. Ny Fadhila menulis Kyai Sholeh tak bisa berkata apa-apa kecuali subhanalloh.

RA. Kartini telah menggugah kesadaran Kyai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar; menerjemahkan Al-Qur'an ke dalam bahasa Jawa.

*Habis Gelap Terbitlah Terang*

Dalam pertemuan itu RA. Kartini meminta agar Al Qur'an diterjemahkan karena menurutnya tidak ada gunanya membaca kitab suci yang tidak diketahui artinya.

Tetapi pada waktu itu penjajah Belanda secara resmi melarang orang menerjemahkan al-Qur’an. Mbah Sholeh Darat melanggar larangan ini, Beliau menerjemahkan Qur’an dengan ditulis dalam huruf *“arab gundul” (pegon)* sehingga tak dicurigai penjajah.

Kitab tafsir dan terjemahan Qur’an ini diberi nama Kitab Faidhur-Rohman, tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab.
Kitab ini p**a yang dihadiahkannya kepada R.A. Kartini pada saat dia menikah dengan *R.M. Joyodiningrat*, seorang Bupati Rembang. RA. Kartini amat menyukai hadiah itu dan mengatakan:

“Selama ini Al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa yang saya pahami.”

{inilah dasar dari buku “Habis gelap terbitlah terang” bukan dari sekump**an surat menyurat beliau,.. sejarah telah di simpangkan, (penulis red)}.
Melalui terjemahan Romo KH. Sholeh Darat itulah RA. Kartini menemukan ayat yang amat menyentuh nuraninya yaitu:

*Orang-orang beriman dibimbing Alloh dari gelap menuju cahaya*

(Q.S. al-Baqoroh: 257).

Dalam banyak suratnya kepada Ny Abendanon, RA. Kartini banyak mengulang kata *“Dari gelap menuju cahaya”* yang ditulisnya dalam bahasa Belanda:
*“Door Duisternis Toot Licht"*

Oleh Armijn Pane ungkapan ini diterjemahkan menjadi *“Habis Gelap Terbitlah Terang,”* yang menjadi judul untuk buku kump**an surat-menyuratnya.

Surat yang diterjemahkan KH. Sholeh Darat adalah *surat Al Fatihah sampai surat Ibrahim*.

RA. Kartini mempelajarinya secara serius, hampir di setiap waktu luangnya.

Namun sayangnya penerjemahan *Kitab Faidhur-Rohman* ini tidak selesai karena Mbah Kyai Sholeh Darat keburu wafat.

Kyai Sholeh membawa RA. Kartini ke perjalanan transformasi spiritual. Pandangan RA. Kartini tentang Barat (*Eropa*) berubah.

Perhatikan surat Kartini bertanggal 27 Oktober 1902 kepada Ny. Abendanon.

*"Sudah lewat masanya, semula kami mengira masyarakat Eropa itu benar-benar yang terbaik, tiada tara. Ma'afkan kami, apakah ibu menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban.Tidak sekali-kali kami hendak menjadikan murid-murid kami sebagai orang setengah Eropa, atau orang Jawa kebarat-baratan"*.

Dalam suratnya kepada Ny Van Kol, tanggal 21 Juli 1902, Kartini juga menulis;

*"Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah.Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama disukai"*.

Lalu dalam surat ke Ny Abendanon, bertanggal 1 Agustus 1903, RA. Kartini menulis;

*Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Alloh*.

*SIAPA SEBENARNYA SIMBAH KH. SHOLEH DARAT SEMARANG?*

Salah seorang tokoh ulama’ kharismatik yang merupakan gurunya para ulama di Jawa beliau adalah KH. Sholeh Darat, seorang waliyulloh yg menjadi guru dari ulama-ulama’ yang mendirikan NU dan Muhammadiyah, seperti ;
1. KH. Hasyim Asy’ari,
2. KH. Mahfuzd (pendiri Ponpes Termas, Pacitan),
3. KH. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah),
4. KH. Idris (pendiri Ponpes Jamsaren, Solo),
5. KH. Sya’ban (ulama ahli falaq dari Semarang),
6. Penghulu Tafsir Anom dari Keraton Surakarta,
7. KH. Dalhar (pendiri Ponpes Watucongol, Muntilan),
8. dan Kiai Moenawir (Krapyak Yogyakarta),

*Selain itu, beliau juga merupakan guru spiritual RA. Kartini*.

Dengan demikian dapat dikatakan, KH. Sholeh Darat merupakan guru bagi ulama-ulama besar di Tanah Jawa, bahkan di Nusantara. Memang, KH. Sholeh Darat.

*PERJALANAN SPIRITUAL ROMO KH. SHOLEH DARAT*

Semasa hidupnya, KH. Sholeh Darat mashur di seantero Tanah Jawa, Nusantara, bahkan Asia Tenggara sebagai penulis kitab-kitab fikih, teologi, tassawuf, serta ilmu falak dengan gaya pegon (berhuruf Arab dengan bahasa Jawa).

Perjalanan Intelektual beliau KH.Sholeh Darat merupakan sosok ulama yang memilki andil besar dalam penyebaran Islam di pantai utara Jawa khususnnya di Semarang.

Kyai Sholeh Darat, lahir di *Desa Kedung Jumbleng, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara* pada sekitar tahun 1820 dengan nama *Muhammad Sholeh*.

Dalam kitab-kitab yang ditulisnya, dia acap menggunakan nama *Syeikh Haji Muhammad Sholih ibn Umar Al Samarani*.

Pemberian nama Darat diselempangkan ke pundak beliau karena tinggal di kawasan dekat pantai utara Semarang yakni, tempat berlabuhnya orang-orang dari luar Jawa. Kini, nama Darat tetap lestari dan dijadikan prasasti nama kampung, *Nipah Darat dan Darat Tirto*.

Saat ini kampung Darat masuk dalam wilayah Kelurahan Dadapsari, Kecamatan Semarang Utara.

Ayahnya, KH. Umar, adalah ulama terkemuka yang dipercaya *Pangeran Diponegoro* dalam perang Jawa melawan Belanda di wilayah pesisir utara Jawa.

Setelah mendapat bekal ilmu agama dari ayahnya, Sholeh kecil mulai mengembara, belajar dari satu ulama ke ulama lain.
Tercatat, *KH Syahid Watu Rejo* (belajar kitab fiqih, seperti Fath al-Qarib, Fath Al Mu’in, Minhaj al-Qawim, dan Syarb al-Khatib).

Kyai Sholeh Darat, menimba ilmu di pesantren-pesantren pada jamannya, beliau banyak berjumpa dengan *Kyai masyhur* yang dikenal memiliki kedalaman serta keluasan ilmu batin, dan kemudian menjadi gurunya.

Di antara nama kondang tersebut salah satunya adalah KH. M. Sahid yang merupakan cucu dari *Syaikh Ahmad Mutamakkin*, seorang ulama asal Desa Kajen, Margoyoso, Pati Jawa Tengah yang hidup di jaman Mataram Kartosuro pada sekitar abad ke-18.

Dari Syaikhnya itulah, ia belajar beberapa kitab fiqh, seperti ;
1. Fath al-Qarib,
2. Fath al-Mu’in,
3. Minhaj al-Qowim,
4. Syarh al-Khotib.

Terdapat catatan bahwa, karena kitab-kitab tersebut bukanlah “kelas” pengantar, maka mempelajarinya tak pelak membutuhkan waktu relatif lama.

Safari perjalanan keilmuannya berlanjut kepada *Kyai Raden Haji Muhammad Sholeh ibn Asnawi*, di Kudus. Dari padanya beliau mengkaji Kitab *Al-Jalalain al-Suyuti*.

Di Semarang beliau mendalami nahwu dan sharaf dari Kyai Iskak Damaran, kemudian belajar ilmu falak dari Kyai Abu Abdillah Muhammad al-Hadi ibn Baquni.
Berlanjut kepada Ahmad Bafaqih Ba’lawi demi mengkritisi kajian *Jauharah at-Tauhid* buah karya Syaikh Ibrahim al-Laqani dan *Minhaj al-Abidin* karya Al-Ghozali.

Masih di kota Loenpia, Semarang-lah, kitab *Masa’il as-Sittin* karya Abu al-Abbas Ahmad al-Misri, sebuah depiksi tentang ajaran dasar Islam populer di Jawa sekitar abad ke- 19, dicernanya dengan tuntas dari Syaikh Abdul al-Ghoni.
Tak pernah puas, haus ilmu, itulah sifat setiap ulama.

Demikian p**a beliau, nyantri kepada Kyai Syada’ dan Kyai Murtadlo’ pun dijalaninya yang kemudian menjadikannya sebagai menantu.

Setelah menikah, Sholeh Darat merantau ke Mekah, Di tanah haram, beliau berguru kepada ulama-ulama besar, antara lain ;
1. Syaikh Muhammad Al Marqi,
2. Syaikh Muhammad Sulaiman Hasballoh,
3. Syaikh Sayid Muhammad Zein Dahlan,
4. Syaikh Zahid,
5. Syaikh Umar Assyani,
6. Syaikh Yusuf Al Misri
7. Syaikh Jamal M***i Hanafi.
Beberapa santri seangkatannya, antara lain ;
1. KH. Muhamad Nawawi Banten (Syaikh Nawawi Aljawi)
2. KH. Cholil Bangkalan.

Sep**ang dari Mekah, Muhammad Sholeh mengajar di Pondok Pesantren Darat milik mertuanya KH. Murtadlo.

Semenjak kedatangannya, pesantren itu berkembang pesat.
Di pesantren inilah ulama’-ulama’ seperti ;
1. KH Sya’ban,
2. Kyai Moenawir,
3. KH. Ahmad Dahlan,
4. KH. Idris,
5. KH. Hasyim Asy’ari,
6. KH. Mahfuzd
yang menjadi santri dengan menuntut ilmu kepada beliau romo KH. Sholeh Darat.

*KEPRIBADIAN KH. SHOLEH DARAT*

Beliau adalah sosok yang sederhana dan bersahaja, Kesederhanaan yang ditopang kebersahajaan pribadinya, membuatnya selalu merendah dan menyebut dirinya sendiri sebagai orang Jawa yang tak faham seluk-beluk centang-perenang bahasa Arab.

İni terlihat dari setiap karya beliau, dimana pada setiap prolog selalu tertulis;

*“Buku ini dipersembahkan kepada orang awam dan orang-orang bodoh seperti saya”*.

Dalam terjemahan *Matan al-Hikam* pada pendahuluannya tertera begini;

*“Ini kitab ringkasan dari matan al-Hikam karya Al-Alamah al-Arif billah Asy-Syaikh Ahmad Ibn Ato’illah, saya ringkas sepertiga dari asal, agar memudahkan terhadap orang awam seperti saya, saya terjemahkan dengan bahasa Jawa agar cepat paham bagi orang yang belajar agama atau mengaji*.

Ternyata, basis pemikiran sederhana ini, justru memotivasinya untuk melahirkan beragam karya intelektual yang bertujuan terarah yakni, pembelajaran murah-meriah dan sederhana kepada orang Jawa yang tak mengerti benar bahasa Arab.

Niat tulus inilah yang di kemudian hari diwujudkannya dalam bentuk buku tafsir atas kitab berbahasa Arab yang telah disuntingnya ke dalam bahasa Jawa.

Pemikiran dan ajaran romo KH. Sholeh Darat, dikenal sebagai pemikir di bidang ilmu kalam.
Beliau adalah pendukung paham teologi Asy’ariyah dan Maturidiyah.

Pembelaannya terhadap paham ini jelas kelihatan dalam bukunya, terjemah *Sabil al-’Abid ‘ala Jauhar at-Tauhid*.
Dalam buku ini, beliau mengemukakan penafsirannya terhadap sabda Rosululloh SAW mengenai :
*terpecahnya umat islam menjadi 73 golongan sepeninggal Beliau, dan hanya satu golongan yang selamat*.

Menurut KH. Sholeh Darat, yang dimaksud Nabi Muhammad SAW dengan *golongan yang selamat* adalah mereka yang berkelakuan seperti yang dilakukan oleh Rosululloh SAW, yaitu :
*Melaksanakan pokok-pokok kepercayaan Ahlussunah Waljama'ah, Asy’ariyah, dan Maturidiyah*.

Beliau juga mengajak masyarakat untuk gemar menuntut ilmu.
KH. Sholeh Darat selalu menekankan kepada para muridnya untuk giat menuntut ilmu.

Beliau berkata ;
*“Inti sari Al-Qur'an adalah dorongan kepada umat manusia agar mempergunakan akalnya untuk memenuhi tuntutan hidupnya di dunia dan akhirat”*.

KH. Sholeh Darat, memperingatkan kepada orang yang tidak memiliki ilmu pengetahuan dalam keimanannya, bahwa ia akan jatuh pada paham atau keyakinan sesat.

Dalam kitab terjamah *Sabil al-‘Abid ‘Ala Jauharah al-Tauhid,* KH Sholeh Darat menasehati bahwa, orang yang tidak mempunyai ilmu pengetahuan sama sekali dalam keimanannya, akan jatuh pada paham dan pemahaman yang sesat.

Sebagai misal, paham kebatinan menegaskan bahwa amal yang diterima oleh Alloh Ta ’Ala adalah amaliyah hati yang dipararelkan dengan paham manunggaling kawulo Gusti-nya Syaikh Siti Jenar dan berakhir tragis pada perilaku taklid buta. Iman orang taklid tidak sah menurut ulama muhaqqiqin, demikian tegasnya.

Lebih jauh diperingatkan juga, agar masyarakat awam tak terpesona oleh kelakuan orang yang mengaku memiliki ilmu hakekat tapi meninggalkan amalan-amalan syari'at lainnya, seperti sholat dan amalan fardhu lainnya.
*Kemaksiatan berbungkus kebaikan tetap saja namanya kebatilan*, demikian inti petuah religius beliau.

Sebagai ulama yang berpikiran maju, beliau senantiasa menekankan perlunya ikhtiar dan kerja keras, setelah itu baru bertawakal, menyerahkan semuanya pada Alloh SWT.

Romo KH. Sholeh Darat sangat mencela orang yang tidak mau bekerja keras karena memandang segala nasibnya telah ditakdirkan oleh Alloh SWT.

Beliau juga tidak setuju dengan teori kebebasan manusia yang menempatkan manusia sebagai pencipta hakiki atas segala perbuatan.

Tradisi berpikir kritis dan mengajarkan ilmu agama ini terus dikembangkan hingga akhir hayatnya.

Kitab karangan beliau romo KH. Sholeh Darat, banyak ditulis dengan menggunakan *bahasa Pegon*(hurup Arab dengan menggunakan bahasa Jawa).

Bahkan beliau merupakan seorang pelopor penulisan buku-buku agama dalam bahasa Jawa.

Beliau p**a yg menerjemahkan Al-Qur'an yakni Kitab *Faid ar-Rahman* yang merupakan tafsir pertama di Nusantara yang ditulis dengan hurup pegon, terjemahan Al-Qur'an dalam aneka versi bahasa, bukan hal asing lagi sekarang. Tapi, tidak di era akhir tahun 1800-an.

Penjajah Belanda tidak melarang orang mempelajari Al-Qur'an, asal jangan diterjemahkan.

Beliau menabrak larangan tak tertulis itu dengan mengakalinya, yakni dengan menulisnya menggunakan *Arab Jawa atau Pegon* sehingga tidak diketahui oleh Belanda.

Kitab inilah yang beliau hadiahkan kepada RA Kartini sebagai kado pernikahannya dengan RM Joyodiningrat yang menjabat sebagai Bupati Rembang.
RA. Kartini sungguh girang menerima hadiah itu.

*HABIS GELAP TERBITLAH TERANG*

*”Selama ini surat Al Fatihah gelap bagi saya, saya tidak mengerti sedikit pun akan maknanya, tetapi sejak hari ini ia menjadi terang benderang sampai kepada makna yang tersirat sekali pun, karena Romo Kiai menjelaskannya dalam bahasa Jawa yang saya pahami”* demikian RA. Kartini berujar saat ia mengikuti pengajian Soleh Darat di pendopo Kesultanan Demak.

Beberapa karya beliau adalah :
1. Kitab Majmu’ah asy-Syariah,
2. Al Kafiyah li al-’Awwam (Kump**an syari'at yang pantas bagi orang awam),
3. Kitab Munjiyat (Buku tentang Penyelamat) yang merupakan saduran dari buku *Ihya’ ‘Ulum ad-Din*, karya Imam Al Ghozali,
4. Kitab Al Hikam,
5. Kitab Lata’if at-Toharoh (Rahasia Bersuci),
6. Kitab Manasik al-Hajj,
7. Kitab Pasholatan,
8. Tarjamah Sabil Al-’Abid ‘ala Jauharah at-Tauhid,
9. Mursyid al Wajiz,
10. Minhaj al-Atqiya’,
11. Kitab hadis al-Mi’raj,
12. Kitab Asrar as-Salah.

Hingga kini Karya-karya beliau masih di baca di pondok-pondok pesantren di Jawa.

WAFAT

Wafatnya beliau *Kyai Soleh Darat* wafat di Semarang pada hari *“Jum’at Wage”* tanggal 28 Romandhon 1321 H/ 18 Desember 1903 dan dimakamkan di pemakaman umum *“Bergota”* Semarang, dalam usia 83 tahun.

Meski demikian, haul-nya dilaksanakan baru pada 10 Syawal. Itu semata-mata agar masyarakat bisa mengikutinya dengan leluasa, setelah merayakan Lebaran dan Syawalan.

Pada hari itu masyarakat dari berbagai penjuru kota menghadiri haul *Kiyai Soleh Darat* di kompleks pemakaman umum Bergota Semarang.

Banyaknya umat yang hadir dalam acara itu, seolah menjadi tengara kebesaran namanya.

Tak dapat dipungkiri, ulama agung itu memang telah menjadi ikon Semarang di masa lalu.

Kegiatan Santunan Yatama dan Dhuafa Ramadhan Mubarok XXVI tahun 1446 HRemaja Masjid Agung Baitul Makmur JeparaTerimakasi...
26/03/2025

Kegiatan Santunan Yatama dan Dhuafa Ramadhan Mubarok XXVI tahun 1446 H
Remaja Masjid Agung Baitul Makmur Jepara

Terimakasih kami ucapkan kepada seluruh donatur yang sudah menyisihkan sedikit Rizkinya untuk disalurkan dalam kegiatan Santunan Yatama dan Dhuafa di Masjid Agung Baitul Makmur Jepara, semoga Allah senantiasa melimpahkan kesehatan dan Rizki yang barokah kepada seluruh donatur â˜șđŸ€ČđŸ»
Alhamdulillah Ramadhan tahun ini memberikan santunan kepada 110 anak Yatim, (30 anak dihadirkan, dan 80 anak santunan diberikan ke rumah secara langsung)
Serta memberikan santunan berupa paket sembako kepada 150 dhuafa,
Sekali lagi terimakasih atas dukungannya sehingga kegiatan ini berjalan dengan lancar, đŸ€ČđŸ»đŸ€ČđŸ»

Kunjungan Syekh Amjad dari Palestina di Masjid Agung Baitul Makmur Jepara
25/03/2025

Kunjungan Syekh Amjad dari Palestina di Masjid Agung Baitul Makmur Jepara

Nuzulul Qur'an Masjid Agung Baitul Makmur Jepara
25/03/2025

Nuzulul Qur'an Masjid Agung Baitul Makmur Jepara

Khotmil Qur'an bil GhoibRamadhan Mubaroh XXVI Tahun 2025
22/03/2025

Khotmil Qur'an bil Ghoib
Ramadhan Mubaroh XXVI Tahun 2025

MARI Berbagi Kebahagiaan bersama anak Yatim dan DhuafaSalurkan Donasi anda untuk Kegiatan Santunan Yatama di Masjid Agun...
07/03/2025

MARI Berbagi Kebahagiaan bersama anak Yatim dan Dhuafa
Salurkan Donasi anda untuk Kegiatan Santunan Yatama di Masjid Agung Baitul Makmur Kabupaten Jepara

*Pelaksanaan Buka bersama dan Santunan Ramadhan 2025 :
Hari : Ahad
Tgl : 16 Maret 2025
Waktu : 16.00 WIB - selesai
Tempat : Masjid Agung Jepara

Donasi Tunai bisa melalui kotak Yatama di Gerbang Masjid Agung Jepara

Terimakasih, semoga keberkahan selalu tercurah kepada kita semua,, Aamiinn. đŸ€ČđŸ»


Facebook pengikut semua orang berat Maftukh Zainal Abidin Parina Pujiati Naluru Ngilmu Ahmad Syakirin Grend Saidina Ali Remaja Masjid Agung Baitul Makmur Jepara

Address

Jalan Kartini No. 1
Jepara
59417

Opening Hours

Monday 19:30 - 00:00
Wednesday 20:00 - 17:00
Saturday 19:30 - 00:00

Telephone

085290333260

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Remaja Masjid Agung Baitul Makmur Jepara posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share