MWC NU Jepara Kota

MWC NU Jepara Kota MWC NU Jepara Kota Organisasi ini dipimpin oleh KH. Hasyim Asy’ari sebagi Rais Akbar. Untuk menegaskan prisip dasar orgasnisai ini, maka KH.

Berangkat dari komite dan berbagai organisasi yang bersifat embrional dan ad hoc, maka setelah itu dirasa perlu untuk membentuk organisasi yang lebih mencakup dan lebih sistematis, untuk mengantisipasi perkembangan zaman. Maka setelah berkordinasi dengan berbagai kiai, akhirnya muncul kesepakatan untuk membentuk organisasi yang bernama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) pada 16 Rajab 1344 H (31 J

anuari 1926). Hasyim Asy’ari merumuskan Kitab Qanun Asasi (prinsip dasar), kemudian juga merumuskan kitab I’tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah. Kedua kitab tersebut kemudian diejawantahkan dalam Khittah NU , yang dijadikan dasar dan rujukan warga NU dalam berpikir dan bertindak dalam bidang sosial, keagamaan dan politik.

قال الفضيل بن عياض رضي الله عنه اتبع ولا تبتدع حتى في اللفظ "Ikutilah jalan petunjuk para ulama Ahlussunnah wal Jamaah, ...
06/09/2025

قال الفضيل بن عياض رضي الله عنه

اتبع ولا تبتدع حتى في اللفظ

"Ikutilah jalan petunjuk para ulama Ahlussunnah wal Jamaah, jangan keluar dari petunjuk mereka (ibtida') bahkan dalam berucap."

--Al Fudlail bin Iyadl rodliyallahu 'anhu.--

04/08/2025

قال الإمام البغوي رحمه الله:

‏الأقدار غالبةٌ، والعاقبة غائبةٌ، فلا ينبغي لأحدٍ أن يغترَّ بظاهر الحال. ولهذا شُرِعَ الدُّعاءُ بالثَّباتِ على الدِّين، وحُسنِ الخاتمة.

23/07/2025
Ketika dulu Fullday School di demo, sekarang, justru Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jepara Akhsan Muhyiddin m...
17/07/2025

Ketika dulu Fullday School di demo, sekarang, justru Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jepara Akhsan Muhyiddin meresmikan kampus fullday school dan hall di MI NU Matholibul Huda Mlonggo Jepara. Muhyidin juga menyampaikan pesan penting dalam acara peresmiannya pada Rabu (9/7/2025).

MI NU Mathalibul Huda Mlonggo Meresmikan Kampus Fullday School dan Hall tidak hanya fokus pada kecerdasan intelektual, tetapi juga pada pembentukan ka

23/05/2025

Kisah Hikmah tentang Barakah Sholawat Wahai Fulan, sesungguhnya engkau telah meninggalkan bacaan tasbih dan tahlil dan engkau selalu membaca shalawat

Maulid Nabi 1446 H 14واشوقاه ﷺBetapa sangat merindu Nabi ﷺ*Hadits Palsu di Maulid Nabi ﷺ, Nur Muhammad*Dari mana letak k...
15/09/2024

Maulid Nabi 1446 H 14

واشوقاه ﷺ
Betapa sangat merindu Nabi ﷺ

*Hadits Palsu di Maulid Nabi ﷺ, Nur Muhammad*

Dari mana letak kepalsuan hadits jabir?

Cukup dalam membantahnya bahwa hadits ini *menyalahi tiga hadits shahih* yang sudah dijelaskan. Adapaun penyandaran hadits Jabir ini kepada al-Bayhaqi maka tidak benar adanya, oleh karena penyandaran hadits itu hanya kepada Abdur-Razzaq.

Dan sesungguhnya hadits itu-pun tidak ada penyebutannya dalam Mushannaf Abdur-Razzaq, bahkan yang ada dalam tafsir Abdur-Razzaq kebalikan hadits ini. Yaitu di dalamnya disebutkan bahwa asal keberadaan segala sesuatu adalah dari air.

Al-Hafizh as-Suyuthi dalam kitab al-Hawi Li al-Fatawi berkata:

لَيْسَ لَهُ،-- أي حَدِيْث جَابر-- إسْنَدٌ يُعْتَمَدُ عَلَيْهِ

“Tidak ada baginya (bagi hadits Jabir) sanad yang dapat disandarkan atasnya”

Syaikh Abdullah al-Habasyi mengatakan: “Itu adalah hadits palsu (maudlu’) dengan pasti. Dan as-Suyuthi sendiri telah menegaskan dalam syarh-nya terhadap kitab at-Tirmidzi bahwa hadits Nur Muhammad sebagai makhluk pertama (Awwaliyyah an-Nur al-Muhammadi) adalah tidak benar.”

Kemudian, Syekh Abdullah al-Ghumari, Muhaddits wilayah Maroko, menegaskan bahwa penyandaran hadits Jabir ini kepada kitab Mushannaf Abdir-Razzaq adalah sebuah kesalahan. Terbukti tidak ada penyebutan hadits itu dalam Mushannaf Abdir-Razzaq, tidak ada dalam kitab Jami-nya, juga tidak ada dalam kitab Tafsir-nya. Dan memang demikian, tidak ada penyebutan hadits Jabir tersebut dalam karya-karya Abdir-Razzaq.

Demikian p**a seorang ahli hadits terkemuka pada masanya, al Hafizh Ahmad ibn ash-Shiddiq al-Ghumari menilai bahwa hadits Jabir tersebut adalah hadits palsu (mawdlu’). *Beliau berargumen bahwa redaksi hadits ini aneh dan asing (rakik), dan makna-maknanya mengandung kemunkaran-kemunkaran*.

Syekh Abdullah al-Habasyi mengatakan: Apa yang dikatakan oleh al-Hafizh Ahmad al-Ghumari adalah benar. Seandainya dalam matan hadits Jabir ini tidak ada redaksi apapun kecuali ungkapan ini:

(قيل) خَلَقَهُ اللّٰهُ مِنْ نُوْرِهِ قَبْلَ الأشيَاءِ
“Telah menciptakannya (terhadap Nur Muhammad) oleh Allah dari Nur-Nya sebelum segala sesuatu”;

Maka redaksi ini sudah lebih dari cukup untuk menetapkan bahwa hadits ini mengandung rakakah (keanehan). Oleh karena redaksi demikian itu mengandung problem yang sangat besar, ialah;

Apa saja rakakahnya?

*(satu)*; Seandainya kata ganti (dlamir) pada kata “min nurihi” (dari Nur-Nya) dengan makna “Nur” yang merupakan makhluk Allah maka pemahamannya terbalik dengan yang hendak dituju. Dengan pemahaman ini maka berarti yang “Nur” tersebutlah yang pertamakali diciptakan oleh Allah, bukan Nur Muhammad. Sementara Nur Muhammad adalah adalah yang makhluk yang kedua, (diciptakan dari “Nur” pertama tersebut).

*(Dua)*; dan jika dipahami dari kata “dari Nur-Nya” dalam pengertian “penyandaran bagian bagi bagian” (Idlafah al-Juz’ li al-juz’) maka maknanya jauh lebih buruk dan lebih rusak lagi. Karena dengan demikian maka berarti menetapkan “nur” tersebut sebagai bagian dari Allah. Dan mengartikan demikian menyebabkan kepada pemahaman bahwa Allah sebagai sesuatu yang memiliki susunan-susunan (at-tarkib) pada DzatNya. Dan *pemahaman adanya susunan-susunan (at-tarkib) pada Dzat Allah adalah di antara bentuk kekufuran yang sangat buruk*. Karena dengan demikian maka berarti menyandarkan kebaharuan bagi-Nya.

Dengan demikian, dari penjelasan terhadap hadits palsu ini dapat diketahui bahwa ia mengandung rakakah yang sangat buruk; yang ditolak oleh akal sehat (dzauq salim) dan tidak dapat diterima olehnya.

Catatan:
Materi ini akan lebih mudah dipahami dengan duduk di majlis musafahah talaqqi langsung dengan guru yang tsiqoh bersanad.

Bersambung

Intaha

Allah Ada Tanpa Tempat

Maulid Nabi 1446 H 13واشوقاه ﷺBetapa sangat merindu Nabi ﷺ*Hadits Palsu di Maulid Nabi ﷺ, Nur Muhammad*Kebatilan Pendapa...
15/09/2024

Maulid Nabi 1446 H 13

واشوقاه ﷺ
Betapa sangat merindu Nabi ﷺ

*Hadits Palsu di Maulid Nabi ﷺ, Nur Muhammad*

Kebatilan Pendapat Nur Muhammad sebagai makhluk pertama adalah karena menyalahi Al Qur'an. Selain menyalahi al quran juga menyalahi hadits shohih, yaitu hadits yang telah diriwayatkan oleh al-Bukhari dan al-Bayhaqi dari hadits Imran ibn al-Hushain bahwa sekelompok orang dari penduduk Yaman datang kepada Rasulullah, mereka berkata:
"Wahai Rasulullah, kami mendatangimu untuk tujuan belajar dalam agama. Maka beritakan kepada kami keberadaan segala makhluk ini tentang permulaannya? Rasulullah ﷺ bersabda:

كَانَ اللّٰهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ وَكَتَبَ فِي الدِّكْرِ كُلَّ شَيْءٍ ثُمَّ السَّمَوَاتِ وَالأرْضَ(رَوَاهُ البُخَارِيّ وَالبَيْهَقِيّ)

“Allah ada tanpa permulaan, dan tidak ada suatu apapun selain-Nya. *Dan adalah Arsy-Nya di atas air*. Dan Dia menetapkan dalam al-Lauh al-Mahfuzh segala sesuatu, kemudian Dia menciptakan langit-langit dan bumi”. (HR. al Bukhari dan al-Bayhaqi).

Ini adalah teks yang sangat jelas dalam menetapkan bahwa makhluk yang pertama kali diciptakan oleh Allah adalah air dan Arsy; di mana para penduduk Yaman yang tersebut bertanya kepada Rasulullah tentang permulaan alam ini.

Dalam sabda Rasulullah ﷺ tersebut: “Allah ada tanpa permulaan, dan *tidak ada suatu apapun selain-Nya* ”,
terdapat ketetapan ke-azali-an bagi Allah, artinya bahwa Allah tidak ada permulaan bagi wujud-Nya. Lalu dalam sabdanya:
“Dan adalah Arsy-Nya di atas air”,
menjelaskan bahwa dua benda (makhluk) inilah; air dan Arsy yang merupakan awal segala makhluk.

Adapaun Air maka makhluk yang mutlak diciptakan pertama kali oleh Allah, sementara Arsy sebagai makhluk awal artinya bagi segala makhluk yang diciptakan oleh Allah sesudahnya, sebagaimana dipahami demikian adanya dari sabda Nabi tersebut;
“Dan adalah Arsy-Nya di atas air”. Artinya bahwa Arsy diciptakan setelah air.

Ibnu Hibban telah meriwayatkan sebuah hadits yang dishahihkannya dari hadits Abu Hurairah, bahwa ia berkata:

يَارَسُوُلَ اللّٰهِ إِنّيِ إِذَا رَأَيْتُكَ طَابَتْ نَفْسِيْ وَقَرَّتْ عَيْنِيْ فَأَنبِئْنِيْ عَنْ كُلِّ شَيْءٍ، قَالَ:
*"كُلُّ شَيْءٍ خُلِقَ مِنَ الْمَاءِ، وفي لفظ: "إنَّ اللّٰهَ خَلَقَ كُلَّ شَيءٍ مِنَ الْمَاء"* (روَاهُ ابْنُ حبَّان).

"Wahai Rasulullaah, sungguh apabila aku melihat dirimu maka diriku ini sangat senang, dan hatiku sangat gembira, maka berita-kan-lah kepadaku tentang segala sesuatu", Rasulullah ﷺ bersabda: "Segala sesuatu diciptakan dari air". Dalam satu redaksi dengan: "Sesungguhnya Allah telah menciptakan segala sesuatu dari air "(HR. Ibnu Hibban).

As-Suddiy meriwayatkan dalam tafsirnya dengan jalur Sanad yang banyak dari sekelompok putra-putra para shahabat Rasulullah ﷺ :

إنَّ اللّٰهَ لَمْ يَخْلُقْ شَيْئًا مِمَّا خَلَقَ قَبْلَ الْمَاءِ (روَاهُ السُّدِّيّ)

"Sesungguhnya Allah belum menciptakan suatu apapun dari segala apa yang telah Dia ciptakan sebelum air".

Dalam hadits pertama di atas (dalam riwayat al-Bukhari dan al-Bayhaqi) ditetapkan bahwa air dan Arsy adalah makhluk Allah yang paling pertama diciptakan. Sementara pemahaman bahwa air diciptakan sebelum Arsy adalah diambil dari pemahaman dua hadits setelahnya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Syarh Shahih al-Bukhari menuliskan sebagai berikut:
قَالَ الطِّيْبِيّ هُوَ فََصْلٌ مُسْتَقِلٌّ لأنَّ القَدِيْمَ مَنْ لَمْ يَسبِقْهُ شَيءٌ وَلَمْ يُعَارِضْهُ الأوَّلِيَّةِ، لَكِنْ أشَارَ بقَولِهِ "وكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ" إلَى أنَّ الْمَاءَ والعَرْشَ كَانَا مَبْدَأ هذَا العَالَم لِكَونِهِمَا خُلِقَ قَبْلَ خَلْقِ السَّمَواتِ وَالأرضَ وَلَمْ يَكُن تَحْتَ العَرْش إذْ ذَاكََ إلاّ الْمَاء".اه‍

"Telah berkata al-Thibiyy: Ini adalah pasal tersendiri, karena sesungguhnya makna al-Qadim --bagi Allah-- adalah yang tidak didahului oleh suatu apapun, dan tidak ada apapun yang menyamai-Nya dalam azaliyyah-Nya. Dan dalam sabdanya: "Dan adalah Arsy-Nya di atas air" memberikan penjelasan bahwa air dan Arsy; keduanya adalah permulaan alam ini, karena keduanya diciptakan sebelum penciptaan langi-langit dan bumi, dan saat itu tidak ada suatu apapun di bawah Arsy kecuali air".

Dalam *Tafsir Abdur-Razzaq*, dari Qatadah dalam penjelasan firman Allah: "Wa Kana 'Arsyuhu 'Ala al-Ma" (QS. Hud: 7), tertulis sebagai berikut:

هَذَا بَدْأُ خَلْقِهِ قَبْلَ أنْ يَخْلُقَ السَّمَواتِ وَالأرْضَ

"Inilah permulaan ciptaan Allah sebelum Allah menciptakan langit-langit dan bumi".

*Ibn Jarir* meriwayatkan dari Mujahid dalam tafsir firman Allah: "Wa Kana 'Arsyuhu 'Ala al-Ma" (QS. Hud: 7), bahwa ia (Mujahid) berkata:

قَبْلَ أن يَخْلُقَ شَيْئا
..sebelum Allah menciptakan segala sesuatu”.

Bersambung

Intaha

Allah Ada Tanpa Tempat

Maulid Nabi 1446 H 12واشوقاه ﷺBetapa sangat merindu Nabi ﷺ*Haram menyebarkan Hadits Palsu di Maulid Nabi ﷺ*Ingat, menyeb...
15/09/2024

Maulid Nabi 1446 H 12

واشوقاه ﷺ
Betapa sangat merindu Nabi ﷺ

*Haram menyebarkan Hadits Palsu di Maulid Nabi ﷺ*

Ingat, menyebarkan hadits palsu hukumnya haram. Rasulullâh ﷺ bersabda:

إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ (رواه البخاري ومسلم)
"Sesungguhnya berdusta kepadaku tidak sama dengan berdusta kepada orang lain. Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaklah dia bersiap-siap mendapat tempatnya di neraka." (HR. Al Bukhari & Muslim)

Ada dan sangat banyak sekali hadits palsu yang bertebaran dimana-mana. Dalam masalah kata Sayyidina saja terdapat hadits palsu yang digunakan mereka untuk mengharamkan kata Sayyidina.

Berikut kita tampilkan dua hadits yang berkaitan dengan penyebutan gelar "SAYYID" untuk baginda Rasulullah ﷺ:

1. Hadits pertama :

قال رسول الله ﷺ؛ أنا سيد ولد أدم يوم القيامة رواه مسلم

Nabi ﷺ bersabda: "saya adalah sayyidnya anak cucu adam kelak di hari kiamat...". (HR. Muslim)

Hadits tersebut statusnya shahih, tertulis di shahih muslim dan kitab-kitab hadits yang lain.

2. Hadits kedua (awas palsu):

قال رسول الله ﷺ؛ لا تسيدوني فى صلاتكم (حديث موضوع)

Nabi bersabda: "jangan sebut saya dengan julukan sayyid dalam sholat/bersholawat kalian".

Hadits yang kedua ini adalah hadits palsu, yang tidak diketahui siapa perawinya maupun dari siapa saja sanadnya. Namun, masih ada aja orang-orang yang menyebarkan hadits palsu tersebut, dengan tujuan memprovokasi umat islam agar enggan menyematkan gelar Sayyid untuk Rasulullah ﷺ.

Hadits palsu tersebut yang juga dijadikan dalil oleh kaum sesat Wahabi, agar orang tidak menyebut Rasulullah dengan julukan Sayyid. Na'udzubillah

Dan diantara penyimpangan yang harus diluruskan juga yang tersebar di sebagian kalangan awam adalah apa yang sering dikumandangkan oleh sebagian orang dalam *pembacaan riwayat maulid Nabi*, dan oleh sebagian Mu’adzin, serta oleh beberapa orang lainnya, mengatakan bahwa Nabi Muhammad adalah awal seluruh makhluk. Penyebab utamanya adalah karena beredarnya *hadits palsu* yang disebutkan berasal dari riwayat Jabir, mengatakan:

(قيل) أوَّلُ مَا خَلَقَ اللهُ نُوْرَ نَبِيِّكَ يَا جَابِرُ

“Awal apa yang diciptakan oleh Allah adalah nur Nabi-mu wahai Jabir”

Berikut ini kami datangkan bantahan yang cukup terhadap pendapat tersebut dengan dalil-dalil ‘aqliyyah dan naqliyyah.

Kita Katakan:
Hadits Jabir tersebut di atas adalah hadits palsu (mawdlu’), tidak memiliki dasar, dan jelas menyalahi al-Qur’an dan hadits sahih.

Adapun segi menyalahi al-Qur’an adalah firman Allah:

وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَآءِ كُلَّ شَىْءٍ حَيٍّ (سورة الأنبياء: 30)

“Dan Kami telah menjadikan dari air segala sesuatu yang hidup” (QS. al-Anbiya: 30)

Bersambung

Intaha

Allah Ada Tanpa Tempat

Maulid Nabi 1446 H 11واشوقاه ﷺBetapa sangat merindu Nabi ﷺ*Makna Shalawat dan keutamaannya*Membaca shalawat adalah untuk...
14/09/2024

Maulid Nabi 1446 H 11

واشوقاه ﷺ
Betapa sangat merindu Nabi ﷺ

*Makna Shalawat dan keutamaannya*

Membaca shalawat adalah untuk mengikuti perintah al Qur'an, Allah ta'ala berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا
[Surat Al-Ahzab 56]
"Sesungguhnya Allah dan para malaikat bersholawat kepada Nabi, wahai orang-orang yang beriman bersholawat salamlah kalian kepadanya"

Makna dari ayat 56 surat al ahzab ini adalah:
✓Allah bersholawat kepada Nabi artinya Allah merahmati Nabi ﷺ.
✓Malaikat bershalawat kepada Nabi ﷺ artinya para malaikat beristighfar untuk Nabi ﷺ.
✓Orang-orang beriman bersholawat kepada Nabi artinya meminta kepada Allah tambahan keagungan dan kemuliaan untuk nabi Muhammad ﷺ.
✓Orang-orang mukmin mengucapkan salam kepada Nabi ﷺ artinya meminta kepada Allah agar hal-hal yang dikhawatirkan Nabi terjadi pada umatnya itu tidak terjadi.

من صلى علي صلاة صلى الله عليه بها عشرا (رواه مسلم)
اي رفعه عشر درجات
"Barangsiapa bersholawat kepadaku (Nabi) sekali, maka ALläh membalasnya dengan mengangkat derajatnya sepuluh derajat." (HR Muslim).

Jadi maknanya bukan ."maka Allah bersholawat kepadanya sepuluh kali dengan membaca sholawat, Tidak!" karena *kalam Allah tidak berupa bahasa, huruf, maupun suara*.

Dalam membaca shalawat dengan shighot اللهم صل على سيدنا محمد, tidak boleh memanjangkan harakat lam pada kata (صل) sehingga menjadi (صلي), karena bacaan seperti ini akan merubah makna.

Dalam bahasa Arab bentuk fiil Amr seperti itu untuk perintah pada perempuan. Sehingga seakan-akan orang yang membacanya meyakini bahwa Allah itu perempuan. Padahal dalam akidah Ahlussunnah wal Jama’ah, Allah bukan laki-laki juga bukan perempuan.

Adapun bentuk fiil Amr yang menggunakan bentuk mudzakkar (laki-laki) itu mengacu pada lafadz jalalah (الله) yang berbentuk mudzakkar, tidak berarti bahwa Allah itu laki-laki. Allah Tidak serupa apapun.

"مَن صلّى عليَّ عند قبري سمعتُهُ وَمَن صلّى عليَّ نائيًا (أي بعيدا) بُلِّغتُهُ". رواه السّخاوي

"Barangsiapa bersholawat kepadaku di dekat kuburku, maka aku mendengarnya. Dan barangsiapa bersholawat kepadaku dalam keadaan jauh dari ku, maka ada malaikat yang menyampaikannya kepada ku. " (HR. As Sakhowi)

Yang bersholawat kepada Nabi ﷺ dalam keadaan jauh dari kubur beliau, maka ada malaikat yang menyampaikan sholawat itu pada Nabi ﷺ dari fulan bin fulan. Dan Nabi ﷺ menjawab nya; mendoakan kebaikan kepadanya.

الملَكُ يُبلِّغه فيردّ عليكَ السّلامَ، فأكثروا من الصّلاةِ والسّلامِ على رسولِ الله

أكثِرُوا مِنَ الصَّلاةِ على النَّبيّ محمّد ﷺ

قال ابن الجوزي في بستان الواعظين: (اعْلَمُوا رحمكم الله أَن فِي الصَّلَاة على سيدنَا مُحَمَّد ﷺ عشر كرامات:

Ada sepuluh kemuliaan membaca sholawat menurut Al Hafidh Ibnul Jawzi --rahimahullah--.

إِحْدَاهُنَّ: صَلَاة الْملك الْجَبَّار.
1. Mendapat rohmat khusus dari Allah yang memiliki seluruh alam dan yang kehendak Nya senantiasa terjadi.

وَالثَّانيِة: شَفَاعَة النَّبِي الْمُخْتَار
2. Mendapat syafaat dari Nabi yang terpilih
وَالثَّالِثَة: الِاقْتِدَاء بِالْمَلَائِكَةِ الْأَبْرَار.
3. Mengikuti malaikat yang tidak pernah bermaksiat
وَالرَّابِعَة: مُخَالفَة الْمُنَافِقين وَالْكفَّار
4. Bersholawat tidak dilakukan oleh orang munafik dan kuffar
وَالْخَامِسَة: محو الْخَطَايَا والأوزار.
5. Dihapuskan berbagai kesalahan dan dosa dari catatan malaikat
وَالسَّادِسَة: قَضَاء الْحَوَائِج والأوطار.
6. Menjadi sebab dipenuhi banyak hajat dunia dan utama nya hajat akhirat
وَالسَّابِعَة: تنوير الظَّوَاهِر والأسرار.
7. Menjadi sebab bersinar nya lahir dan batin yang mudah menerima nasehat ( kebaikan)
وَالثَّامِنَة: النجَاة من عَذَاب دَار الْبَوَار.
8. Menjadi sebab selamat dari siksa neraka tempat kehinaan.
والتاسعة: دُخُول دَار الرَّاحَة والقرار.
9. Masuk ke tempat kebahagiaan yang abadi (surga)
والعاشرة: سَلام الْملك الْغفار)
10. Ridlo dari Allah yang memiliki segala sesuatu dan yang maha pengampun

اللهم صلِّ على محمّد النبيّ وأزواجه أمهات المؤمنين وذريتهِ وأهل بيته، كما صلّيت على ءال إبراهيم إنك حميد مجيد.

Bacalah sholawat dengan benar dan ikhlas.

Bersambung

Intaha

Allah Ada Tanpa Tempat

Maulid Nabi 1446 H 10واشوقاه ﷺBetapa sangat merindu Nabi ﷺ*Membaca Shalawat itu Membutuhkan Ilmu*Banyak orang bershalawa...
14/09/2024

Maulid Nabi 1446 H 10

واشوقاه ﷺ
Betapa sangat merindu Nabi ﷺ

*Membaca Shalawat itu Membutuhkan Ilmu*

Banyak orang bershalawat, akan tetapi, sholawatnya tertolak!! Kenapa??

Karena bacaan sholawatnya tidak benar.

Membaca shalawat dengan bacaan yang benar adalah salah satu syarat dapat pahala dan diterima bacaan shalawat. Bunyi huruf yang panjang mesti dibaca panjang dan yang bunyi huruf yang pendek; tanpa madd sama sekali mesti dibaca pendek; tanpa ada bunyi panjang sedikitpun. Termasuk saat melantunkan shalawat dengan lagu. Lagulah yang seharusnya tunduk pada kaidah-kaidah bacaan yang benar. Jangan mengorbankan bacaan yang benar (tartil) demi menyelaraskannya dengan lagu sehingga bacaannya menjadi morat-marit dan tercegahnya dapat pahala bahkan berdosa pelakunya. Seperti shalli; صل diucapkan shallii; صلي ...

Berikut Contoh shighotnya.

اللهم *صل على* سيدنا محمد وعلى ءاله وصحبه وسلم
Cara membaca sholawat dengan shighot ini YANG BENAR, yaitu:
✓ semua hurufnya harus dibaca benar makhraj & panjang-pendeknya (= dibaca tartil)
✓ nyatakan mim tasydid pada kalimah ALLAHUMMA (اللهم); ghunnah-2 harakat
⛔ Huruf lam pada kata shalli (صل)= tidak boleh dibaca panjang menjadi shallii (صلي)
⛔ mim ke-2 pada kata muhammad (محمد)= tidak dibaca panjang.
✓ nyatakan bunyi mim bertasydid (ghunnah; 2 harakat)

*Awas!!*
_Memanjangkan lam pada kata SHALLI; صل dalam bacaan shalawat adalah *satu kesalahan besar; TAHRIF; penyimpangan* dalam pengucapan shalawat yang merusak makna shalawat yang benar._

Tentang larangan dan rusaknya memanjangkan lam pada kata shalli ( صل ) menjadi shallii ( صلي ) saat bershalawat nabi disebutkan dalam kitab: _Bughyah al-Mustarsyidin, hlm 43, cet. Dar Ihya' al-Kutub al-'Arabiyyah Indonesia_

Di dalam kaedah bahasa Arab kata perintah/permohonan/doa (fiil amar) dibedakan antara laki-laki & perempuan, yaitu:
1) jika seseorang menyuruh kepada seorang laki-laki: tulislah pelajaran ini; maka bahasa Arabnya: اكتب هذا الدرس
2) jika seseorang menyuruh kepada seorang perempuan: tulislah pelajaran ini, maka bahasa Arabnya: اكتبي هذا الدرس
jadi untuk perempuan, kata perintah (fiil amar) fiilnya ditambah huruf ya' dan dibaca panjang 2 harakat.

Mengingat kalimat shalawat Nabi mengandung kalimat permohonan (fiil amar صل) kepada Allah, maka kata shalli (صل) tidak boleh dibaca panjang sehingga menjadi shallii (صلي) *karena Allah tidak dikhitab / tidak disandarkan kepada Muannats (perempuan)*. Dan juga, *janganlah ketika bershalawat berhenti pada kata shalli (اللهم صل)* karena tanpa sengaja akan mengakibatkan suara panjang. Jadi sambungkanlah dengan kalimat setelahnya, yaitu اللهم صل عل محمد

Jadi, bershalawatlah menurut Rasulullah & para ulama'.

اللهم *صل على* سيدنا محمد وعلى ءاله وصحبه وسلم
Mu'allim KH. M. Syafi'i Hadzami, Jakarta (w. 2006) menuturkan dalam _Tawdhih al-Adillah_ (3/208) terjemah nazhm az-Zubad, sebagai berikut :
*_"Dan tiap-tiap orang yang beramal tanpa ilmu, segala amalnya ditolak, tidaklah diterima"_.*

قال ما نصه: فكل من بغير علم يعمل ✨ أعماله مردودة لا تقبل.انتهى.

*كل عمل ليس عليه أمرنا (أي لا يوافق شريعتنا) فهو رد (أي لا يقبله الله)* (حديث شريف) *روى الإمام البخاري بلفظ: من عمل عملا*
_Jami' al-Khayrat 1/52 - 53_

Ref:
kitab at-Tahdzir asy-Syar'i al-Wajib, Cet: Dar al-Masyari', hlm. 148.
Kitab _Bughyah al-Mustarsyidin, hlm 43, cet. Dar Ihya' al-Kutub al-'Arabiyyah Indonesia_

Bersambung

Intaha

Allah Ada Tanpa Tempat

Maulid Nabi 1446 H 09واشوقاه ﷺBetapa sangat merindu Nabi ﷺ*Tidak Boleh Bermaksiat di Maulid Nabi ﷺ*Sekarang ini, terdapa...
18/08/2024

Maulid Nabi 1446 H 09

واشوقاه ﷺ
Betapa sangat merindu Nabi ﷺ

*Tidak Boleh Bermaksiat di Maulid Nabi ﷺ*

Sekarang ini, terdapat 3 golongan dalam masalah perayaan maulid nabi, yaitu:
1. Golongan orang yang membenci dan mengharamkan maulid nabi, yaitu golongan wahhabiyah dan sejenisnya. Kenapa mereka mengharamkan maulid? Akan kita bahas di episode selanjutnya.

2. Golongan orang yang merayakan maulid namun dicampur dengan maksiat (kemungkaran), golongan ini banyak sekali, sudah tak terhitung jumlahnya.

3. Golongan orang yang merayakan maulid namun berhati-hati dalam merayakan maulid agar tidak bermaksiat di dalamnya. Golongan ini golongan yang senantiasa berhati-hati dalam merayakan maulid, tidak boleh dengan kemungkaran, kesesatan dan kerusakan saat acara Maulid.

Untuk golongan pertama, kita sudah jelaskan di materi 01-07. Sekarang kita masuk di penjelasan golongan kedua ini.

Di antara bacaan wajib para pemimpin majelis maulid adalah kitab karya Hadratusy-Syaikh KH Muhammad Hasyim Asy'ari yang berjudul "at-Tanbihat al-Wajibat li Man Yashna' al-Maulid bil-Munkarat". Hal ini penting dibaca, agar tidak ada lagi penyimpangan yang mengatasnamakan shalawat atau maulid Nabi Muhammad ﷺ. Sebab yang demikian ini sangat memalukan sekali.

Walaupun kitab ini cukup populer di telinga santri, *tapi sangat disayangkan, praktiknya malah absen*. Hal ini banyak sekali majelis-majelis "konser" shalawat tertentu yang terdapat maksiat. Jadi, seharusnya, pakem dari majelis shalawat dan maulid yang sesuai dengan standar NU adalah yang sesuai dengan arahan yang ada di kitab Hadratusy-Syaikh ini.

Dan sangat disayangkan, kalau ada majelis shalawat dan maulid kok dengan bangganya membawa-bawa atribut ke-NU-an, namun malah ternyata jauh dari nilai kitab mbah Hasyim pendiri NU, contohnya sekarang sudah banyak majelis majelis sholawat yang melenceng jauh.

Dalam kitab ini disebutkan bahwa model maulid yang terdapat maksiat atau tercela yang disorot Kiai Hasyim di antaranya adalah: majelis yang terjadi ikhtilath (campur baur) antara laki-laki dan perempuan, terjadi judi, joget-joget, larut dalam kelalaian, jerit-jerit tak bermanfaat apalagi di dalam masjid, dan pakai alat musik yang diharamkan.

Hadratus syaikh Hasyim Asy'ari, Pendiri NU, memberikan standar:

فاعلم أن عمل المولد إذا أدى إلى معصية راجحة مثل المنكرات وجب تركه وحرم فعله.
Artinya:
*"Ketahuilah bahwa perayaan maulid yang mengantarkan pada maksiat yang unggul/besar, seperti perkara-perkara munkar, maka wajib meninggalkannya dan haram melaksanakannya."* (Hal. 19)

Sehingga jika ada majelis sholawat yang isinya campur baur Antara laki-laki dan perempuan alias tidak dipisah jaraknya, joget-joget seperti biduan, dan perempuan jerit-jerit layaknya tidak punya malu, maka majelis seperti ini adalah majelis mungkar, yang tidak boleh diadakan dan walaupun ada maka tidak boleh untuk kita hadiri.

Dan yang lebih parah lagi adalah di dalam maulid tersebut disebarkan hadita palsu. Seperti hadits penyebutan makhluk pertama nur muhammad dan penjelasan lengkapnya di episode berikutnya. Selain itu, banyak juga menyebarkan kisah-kisah dusta.

Ingat, menyebarkan hadits palsu hukumnya haram. Rasulullâh ﷺ bersabda:

إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ (رواه البخاري ومسلم)
_"Sesungguhnya berdusta kepadaku tidak sama dengan berdusta kepada orang lain. Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaklah dia bersiap-siap mendapat tempatnya di neraka." (HR. Al Bukhari & Muslim)_

Semoga mulai sekarang kehormatan majelis-majelis shalawat tidak ternodai oleh penyimpangan-penyimpangan orang zaman sekarang dan yang akan mendatang. Karena yang menanggung malu itu adalah NU yang mereka bawa-bawa. Bukan hanya NU, tapi setiap ulama yang antusias merayakan maulid dan shalawat. Maka berilmulah... Mengajilah sebelum beramal.

Bersambung

Intaha

Allah Ada Tanpa Tempat

Address

Jalan Ki Mangun Sarkoro No. 76
Jepara
59411

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when MWC NU Jepara Kota posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to MWC NU Jepara Kota:

Share