GP. Ansor Kedungcino "Official"

GP. Ansor Kedungcino "Official" Menjaga,Memelihara dan Mempertahankan Paham Aqidah Ahlus Sunnah Waljama'ah.

KYAI SAHAL DAN DUIT NU ...__________________________________________ Suatu hari PBNU mengadakan sebuah acara di Surabaya...
02/11/2022

KYAI SAHAL DAN DUIT NU ...
__________________________________________

Suatu hari PBNU mengadakan sebuah acara di Surabaya, mengundang duta-duta besar negara sahabat, dan pelayanan-nya pun VVIP.
Lebih-lebih KH. Sahal Mahfudz, sebagai Ra'is Aam PBNU, tentu bisa mendapatkan pelayanan yg lebih. Di Kota Pahlawan ini, Mbah Sahal -sapaan mulianya, selama dua hari bermalam di sebuah hotel berbintang. Tapi, ketika panitia acara ingin membayar kamar hotel yg ditempati Kyai Sahal, beliau bilang:
"Ndak usah, aku jek duwe duet dewe," (Tidak, saya masih punya uang sendiri), sambil berjalan ke kasir . Panitia pun masih merayu Kyai Sahal agar mau dibayari oleh panitia.
Mbah Kyai Sahal tetap bilang "Ndak usah" sambil beliau mengeluarkan uang dari tasnya .
Setelah itu panitia masih berkata:
"Mana bon-nya yai, biar kami ganti."

Mbah Sahal dawuh: "Ndak usah, aku moh nganggo duite NU. Aku gowo duetku dewe ae. Nek NU iku urip-urip NU, ojo sepisan-pisan golek urip nok NU." (Tidak, saya tidak mau menggunakan duitnya NU. Saya pakai uang saya sendiri saja. Di NU itu harus menghidupi NU, jangan sekali-kali mencari hidup di NU) .
Sifat Mbah Kyai Sahal patut kita contoh. Beliau benar-benar tulus, ikhlas mengabdi untuk NU. Padahal sekelas Ra'is Aam seperti Mbah Sahal tentu mudah sekali bagi beliau untuk mendapat fasilitas dari NU. Allah Kariim...
Semoga amal ibadah beliau diterima Allah. Aamiin..... له الفاتحة

-------------

31/10/2022

SOLUSI NIAT SHALAT BAGI YANG WAS WAS
------------------------------------------------
Waktu niat shalat menurut madzhab Syafi’i adalah pada saat melafadzkan takbir. Jadi, ketika kita mengucapkan takbir, harus bersamaan dgn niat di dalam hati.
Lalu kpn penempatan niat dalam hati? ulama khilaf:
Pendapat pertama: Lafadz niat (misal: Ushalli fardhal-Ashri) harus bertepatan waktu mulai mengucapkan alif lafadz ALLAH, dan berakhir tepat pada ra’ lafadz AKBAR.
Pendapat kedua: Yang penting ada sebagian niat yang bertepatan waktu mengucap Allahu Akbar, baik di awal atau di akhir takbir.
Ada satu pendapat yg sangat berbeda dengan kedua pendapat diatas, yaitu pendapat Imam Isnawi yang mengadopsi dari tiga Imam Besar (selain Imam Syafi’i). Dan Imam Abu Makhramah menganjurkan mengikuti pendapat ini bagi orang was-was. Yakni: Boleh mengucapkan niat di dalam hati sebelum pelafadzan takbir! Jadi, kita niat dalam hati dulu, lalu langsung takbir, ALLAHU AKBAR!!

___________
Sumber: Fawaaidul Janiyyah khasyiyah Mawaahibus-saniyyah syarah Faraaidul-bahiyyah karya Syaikh Yasin al-Fadani. Halaman 103-157 cetakan Darul-fikr.

Mbah Madun Pondowan: Menjawab Masalah Sebelum Sa'il Bertanya ___________________________________KH. Muhammadun (Mbah Mad...
27/10/2022

Mbah Madun Pondowan:
Menjawab Masalah Sebelum Sa'il Bertanya
___________________________________

KH. Muhammadun (Mbah Madun) Pondowan, Pati, adalah sosok ulama' yang unik dan penuh cerita karomah. Saya mendapatkan kesempatan baik mendengarkan kisah Mbah Madun saat sowan ke Kiai Mawahib di rumahnya, Suwawal, Pakisaji, Jepara, pada Rabu siang, 22 Desember 2021. Ia hanya mondok sebentar saja (7 bulan) di sana, tapi percikan kisahnya menarik ditulis. Sengaja sowan ke beliau karena orangtua saya adalah konco masak Kiai Mawahib saat mondok di Mbah Madun Pondowan, Tayu, Pati, Jawa Tengah.

Meski alim, Mbah Madun tidak pernah mengisi pengajian panggung. Alfiyah selalu bisa digunakan beliau untuk mengungkap hikmah. Misalnya, saat beliau mengisyaratkan tugas putra seorang kiai yang harus bisa menggantikan orangtuanya saat udzur atau wafat, beliau menggunakan nadham Alfiyah, yang berbunyi:

وَمَا يَلِي المُضَافَ يَأتِي خَلَفَا - عَنْهُ فِي الإعْرَابِ إذَا مَا حُذِفَا

Arti hikmah:
"Santri/putra yang mengikuti kiai/orangtua akan menyusul menggantikannya dalam mensyiarkan ilmu, ketika beliau wafat". (Alfiyah Ibnu Malik - Bab Idlafah).

Oleh karena itulah, Mbah Madun berpesan kepada murid-muridnya agar selalu mengajar saat boyong dari pondok. Itu adalah bagian dari خَلَفَا عَنْهُ فِي الإعْرَابِ (menggantikannya dalam mensyiarkan ilmu) ketika المُضَافَ (orang yang diikuti) sudah حُذِفَ (wafat).

Buktinya, meski hanya tujuh bulan mondok (sebelum disuruh pulang), selama lima tahun terakhir, Kiai Mawahib mampu mendaras dan membaca Kitab Al-Hikam bersama jama'ahnya di pesantren Kiai Jolo, Suwawal, Pakisaji. Ia ingat betul, saat itu, Mbah Madun tiba-tiba meminta pulang kepada semua santrinya. Walaupun ada santri yang baru sehari di pondok, dia harus pulang (boyong). Yang panting di rumah mau mulang (mengajar ngaji). Kiai Mawahib jadi korban perintah boyongan ini.

Mbah Madun memang berbeda dari kiai sekarang, yang seolah mati-matian mempertahankan jumlah kuantitas santrinya. Ngabdi seolah jadi tradisi sebelum santri diperbolehkan boyongan oleh kiainya. Mbah Madun bukan tipe kiai begitu.

Jumlah santri Mbah Madun pun tidak pernah lebih dari 40 orang. "Kalau jumlahnya kurang 40 iya, pernah. Tapi kalau lebih dari itu, setahu saya, tidak pernah. Bila ada santri yang boyongan, santri baru bakalan datang menggantikan santri lama. Begitu seterusnya," ujar Kiai Mawahib.

Ada kejadian unik di pondok. Mawahib santri mengaku pernah mendapati ada seorang santri yang kalau ngaji bandongan bersama dengan Mbah Madun, ia tidak bisa melihat kitabnya. Matanya seolah tertutup hijab. Akhirnya, ia tidak bisa menyimak. Anehnya, usai ngaji ditutup, matanya terbuka kembali dan bisa membaca redaksi kitab kuningnya, lagi. Siapa yang menututupinya? Wallahu a'lam.

Beberapa santri Mbah Madun memang ada yang tidak menjadi kiai. Tapi, Kiai Mawahib memastikan, semuanya bertabiat santri. Minimal bergelar haji. Di Jepara, contohnya ada, meski jumlahnya tidak begitu banyak. Populernya, siapa saja yang nyantri ke Mbah Madun minimal tiga tahun, ia pulang jadi orang alim.

Dijawab Sebelum Tanya
Suatu kali, ada tamu sowan ke Mbah Kiai Madun hendak menanyakan masa'il fiqhiyyah. "Ikut ngaji saja nanti yah," jawab Mbah Madun kepada tamu. Usai tamu ikut ngaji Mbah Madun, Mawahib santri mengingatkannya agar sowan. Tapi si tamu bablas pulang. Tidak jadi sowan. Alasannya, masalah yang hendak ia tanyakan itu ternyata sudah dijawab oleh Mbah Madun langsung saat ngaji, barusan, tanpa menyebut nama si sa'il (penanya).

Mawahib santri juga berkisah tentang tamu Mbah Madun yang menanyakan hukum halal haram kepiting. Ia mengantarkan si tamu sowan ke ndalem. Begitu uluk salam, Mbah Madun ternyata menyuguhkan hidangan kepiting ke si tamu. "Monggo, niki loh eco sanget," kata beliau, didengar langsung oleh Mawahib santri. Mbah Madun lagi-lagi menjawab masalah tanpa si sa'il mengeluarkan pertanyaannya dulu.

Menurut Kiai Mawahib, Mbah Madun tipe kiai yang tidak s**a mbulet. Menjelaskan dalil-dalil hukum fiqih syariat kepada orang awam bisa dianggap tidak pas karena ada potensi salah tafsir bila mereka tidak memahami bahasa yang digunakan oleh Mbah Madun. Mungkin, karena alasan inilah Mbah Madun lebih sering menjawab masalah bukan dengan ajwibah qauliyah (ucapan) melainkan haliyah (tindakan), seperti hukum kepiting itu.

Mbah Madun pernah menyatakan agar santri manjauhi perkara syubhat (tidak jelas halal haramnya). Bagi beliau, syubhat itu "itung-itungane luwih angel daripada sing halal lan sing haram". Demikian cerita Kiai Mawahib.

Banyak orang menyebut, Mbah Madun menutupi kewalian beliau dengan ilmu syariat fiqhiyyah. Kiai Mawahib bercerita, ia pernah mengikuti Mbah Madun ke sebuah makam tak terawat. Dengan tongkat sepuhnya, Mbah Madun menyebut nama Mbah Rozak dan Mbah Musthofa sebagai orang shalih, dan memerintahkan agar titik lokasi yang ditunjuknya dirawat dengan baik oleh warga. "La ya'riful wali illa wali," kata Kiai Mawahib.

SALAH SATU DAWUH IMAM GHAZALI YG SANGAT DIBENCI OLEH 'MEREKA' YANG ANTI MAULIDMenurut imam Imam Ghazali salah satu safar...
26/10/2022

SALAH SATU DAWUH IMAM GHAZALI YG SANGAT DIBENCI OLEH 'MEREKA' YANG ANTI MAULID

Menurut imam Imam Ghazali salah satu safar (bepergian) yg bernilai ibadah adalah bepergian krn bertujuan ziarah kubur dalam rangka ngalap berkah, baik itu berziarah ke makam para nabi, para wali ataupun orang² shalih. Bahkan beliau dgn tegas menyatakan:

وَكُلُّ مَنْ يُتَبَّرَّكُ بِمُشَاهَدَتِهِ فِيْ حَيَاتِهِ يُتَبَّرَكُ بِزِيَارَتٍهِ بَعْدَ وَفَاتِهِ وَيَجُوْزُ شَدُّ الرِّحَالِ لَهَذَا الغَرَضِ
Setiap orang yang diambil keberkahanya ketika masih hidup, maka juga bisa diambil keberkahanya setelah wafatnya dengan menziarahi kuburnya. Dan boleh juga bersegera untuk tujuan ini.

Pernyataan Imam Ghazali tersebut tidaklah bertentang dgn sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

وَلاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ، إِلَّا إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ مَسْجِدِ الحَرَامِ، وَمَسْجِدِ الأَقْصَى وَمَسْجِدِي
“Dan jangan mengencangkan pelana (melakukan perjalanan jauh) kecuali untuk mengunjungi tiga masjid: Masjidil Haram, Masjidil Aqsha, dan Masjidku (Masjid Nabawi)," (HR Bukhari).

Karena ada segelintir tokoh, di antaranya adalah Syekh Ibnu Taimiyah, yang memaknai dilarang ziarah kubur ataupun ngalap berkah ke tempat mana-pun kecuali kalau berziarah ke tiga masjid di atas. Akhirnya para pengikut yang bertaklid kepadanya menganggap ziarah ke makam nabi, orang² shalih spt wali songo dan semacamnya sebagai tindakan maksiat.

Padahal maksud hadits tersebut adalah semua masjid di dunia ini setara, tak ada yang lebih spesial atau lebih besar pahala shalat di sana kecuali tiga masjid saja, yakni Masjidil Haram, Masjidil Aqsha, dan Masjid Nabawi.

Dari uraian ini menjadi jelas bahwa yang dimaksud oleh Nabi Muhammad Saw. adalah soal tempat shalat. Hadits itu sama sekali tdk ada hubungannya dengan ziarah kubur ataupun keperluan lainnya secara umum.
Sumber: Kitab Ihya ulumiddin juz 2 hal 270

Wallohu a'lam....

26/10/2022

SAHABAT NABI TIDAK MENGADAKAN PERINGATAN MAULID. KENAPA KITA MELAKUKANNYA?

Akhir maulid ini al faqir ingin menulis sedikit ttg judul di atas, krn nanti malam sdh masuk tgl 1 bulan Rabiuts tsani. Anda terima Alhamdulillah, tidak juga tidak masalah, yg penting hidup rukun dan damai 🙂🙂.
Semua umat Islam meyakini bahwa para sahabat Nabi adalah golongan terbaik yg tak diragukan cintanya kepada Rasulullah Saw.
Lalu kenapa kita mengadakan maulid, sementara para sahabat tidak?
Bahkan ada yg mengatakan..!
Apakah cintanya para sahabat kalah dgn kita? Hanya karena kita saat ini memperingati kelahiran nabi. Sedangkan para sahabat tidak? (Begitu kira² yg sering dikatakan 'mereka')
Maka coba akan kami jawab.
Begini saudara² 🙂🙂. Kita ini hidup diakhir zaman yg tak pernah berjumpa dengan Nabi, justru inilah yg harusnya kita lakukan, yaitu mengenal lebih dekat dgn memperingati maulid Nabi.
Tahu gak sih.. Memperingati maulid Nabi itu isinya adalah membaca kisah hidup perjuangan beliau, sejak mulai lahir hingga beliau wafat.
Nah pertanyannya.. Apakah salah kita membaca kisah hidup sang Nabi akhir zaman kekasih Allah ini?
Harusnya malah menjadi wajib membaca dan mempelajari sejarah hidup Nabi Muhammad SAW, agar tumbuh rasa cinta dan sayang kapada beliau.
Makanya ketika acara maulid Nabi yg dibaca adalah sejarah ttg Rasulullah Saw, seperti Simtud Duror, Barzanji, Addiba’i, Qashidah Burdah dll,
ADAPUN PARA SAHABAT TIDAK MENGADAKAN PERINGATAN MAULID NABI KENAPA?
Para Sahabat Nabi tidak perlu diceritakan perjuangan kisah hidup beliau. Karena para Sahabat justru menjadi saksi dan melihat langsung bagaimana Nabi Muhammad SAW berjuang dan berdakwah. Sehingga tak ada yg meragukan bagaimana cinta mereka kepada Rasulullah Saw. Bahkan buku² kisah Nabi itu bersumber dari lisan² mulia mereka yg kemudian ditulis oleh para Ulama setelahnya.
Harusnya kita yg banyak membaca kisah² hidup Nabi Muhammad SAW, agar hati kita dipupuk dan dipenuhi rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW.
Bahkan Allah Swt. memerintahkan kita utk mempelajari kisah hidup para Nabi² sebelum Nabi Muhammad SAW.
Sebagaimana firman Allah berikut ini;
> Surat Maryam ayat 41:
(وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيمَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا)
Ceritakanlah (Hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi.”
> Surat Maryam ayat 51:
(وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ مُوسَىٰ ۚ إِنَّهُ كَانَ مُخْلَصًا وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا)
Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka), kisah Musa di dalam Al Kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang dipilih dan seorang rasul dan nabi.
> Surat Maryam ayat 54:
(وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا)
Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi.
> Surat Maryam ayat 56:
(وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِدْرِيسَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا)
Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi.
Coba perhatikan ayat² di atas. Bagaimana Allah Swt. memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW, Utk menceritakan kisah² para Nabi terdahulu dalam rangka menguatkan Iman dan Islamnya para sahabat ketika itu, krn memang para sahabat tidak pernah tahu apalagi melihat langsung kehidupan Nabi terdahulu.
Maka dari itu, kisah hidup perjuangan Nabi Muhammad SAW pun patut juga untuk kita pelajari dan baca kembali.
Wal hasil..
Kita mengadakan acara Maulid Nabi ini adalah sebagai media untuk mengenal lebih dekat kpd baginda Nabi melalui berbagai kitab maulid dan Qashidah yg kita baca. Sehingga dgn itu semua tumbuhlah rasa cinta kita beliau, sang pemimpin alam semesta.
Jika dari pejelasan di atas masih ada saja membenci maulid, melarangnya, bahkan menyesatkannya dgn bid'ah dhalalah. Maka firman Allah Swt ini rasanya tepat utk menjawabnya:
(وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ وَقَالُوا لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ لَا نَبْتَغِي الْجَاهِلِينَ)
Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: "Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil. [Al Qoshos: 55]

Wallahu’alam.

Renungan Kematian Bersama Gus BahaJika ada orang yang meninggal karena minum oplosan, bagaimana menghikmatinya? Kalau ad...
25/10/2022

Renungan Kematian Bersama Gus Baha
Jika ada orang yang meninggal karena minum oplosan, bagaimana menghikmatinya? Kalau ada kejadian seperti itu, cara berpikir kita secara spiritual adalah mungkin dengan cara seperti itu Tuhan tidak ingin memperpanjang kekeliruan orang yang bersangkutan. Dengan begitu, potensi kekeliruannya disetop. Dipungkasi. Dan kita tak perlu menjadi hakim bahwa itu kematian yg buruk. Kita tidak pernah tahu posisi orang itu dihadapan Tuhan.
Kalau ada orang yang meninggal dunia karena kecelakaan pesawat, lalu ada orang yg selamat karena terlambat naik pesawat. Secara pandangan manusiawi orang yg terlambat beruntung dan yg kecelakaan tidak beruntung. Tapi di mata Tuhan belum tentu begitu. Bisa saja semua beruntung. Yg terlambat dan selamat diberi waktu untuk menambah amal kebaikannya, sementara yg meninggal dunia dicukupkan kebaikannya.
Gus Baha yg saya ketahui dari ceramah-ceramah beliau, mengidap sakit. Dia berobat juga. Tapi punya kesadaran bahwa berobatnya sebagai bagian dari syariat ikhtiar. Tapi beliau tetap punya kesadaran hakikat. Karena kalau memang beliau mesti meninggal dunia karena penyakitnya, bisa jadi itu cara yang baik. Dgn rendah hati beliau berkata: Siapa tahu kehadirannya di dunia tidak baik lagi sehingga Tuhan memutuskannya kematiannya lebih baik.
Suatu saat Gus Baha ditanya orang. “Gus, meninggal hari Jumat itu baik ya…”
“Ya baik. Meninggal di hari lain juga baik.”
“Ya, Gus. Tapi kan Nabi yang bilang bahwa meninggal dunia hari Jumat itu baik.”
“Ya, tapi Nabi meninggalnya tidak di hari Jumat.”
Menurut Gus Baha , itu menunjukkan bahwa Nabi itu nabi bagi semua orang. Hikmahnya adalah semua orang yg meninggal di hari selain hari Jumat tidak perlu disikapi sebagai hal yg tidak baik.
Tidak perlu berlebihan menilai manusia. Tugas manusia bukan menilai sesama manusia. Manusia bukan hakim bagi manusia lain. Apalagi menghakimi hal yg sangat sakral itu dgn kata-kata seperti azab dan hukuman Tuhan. Padahal kita tak tahu apa-apa tentang salah satu misteri terbesar manusia: kematian. Dan tak perlu merasa paling mengerti cara berpikir Tuhan. Memangnya kita ini siapa?

Alhamduliiah, fans page resmi GP. Ansor Kedungcino "Official" semoga memberi kemanfaatan dan kemaslahatan.
25/10/2022

Alhamduliiah, fans page resmi GP. Ansor Kedungcino "Official" semoga memberi kemanfaatan dan kemaslahatan.

Address

Kedungcino
Jepara
59432

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when GP. Ansor Kedungcino "Official" posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share