Majelis Surga Jepara

Majelis Surga Jepara Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Majelis Surga Jepara, Religious organisation, Jepara.

  INGKAR TERHADAP  AYAT-AYAT  ALLAHALLAH TAALA berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Kami, kel...
03/06/2026



INGKAR TERHADAP AYAT-AYAT ALLAH

ALLAH TAALA berfirman,
“Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami mengganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan (kerasnya) azab.”
(TQS An-Nisa’: 56).

📌 Azab neraka tersebut disediakan bagi orang yang mendustakan petunjuk ALLAH SUBHANAHU WATAALA dan berpaling dari-Nya, serta yang gemar berbuat dosa dan maksiat kepada-Nya.
Begitu berat azab yang diberikan bagi orang-orang yang mengingkari ayat-ayat-Nya, tetapi masih saja aturan manusia yang digunakan untuk mengatur kehidupan bernegara.

📌Tidakkah ayat di atas menjadi cambukan bagi para pemangku kebijakan yang tidak menerapkan syariat-Nya?

Semoga bermanfaat.
Selamat beraktifitas.
Semoga amal sholih kita diterima oleh ALLAH.
=================

Sumber : Muslimah News

  MENYEDEKAHKAN SELURUH HARTARasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda,“Kelak di akhirat, Abdurrahman bin Auf akan ...
03/06/2026




MENYEDEKAHKAN SELURUH HARTA

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda,
“Kelak di akhirat, Abdurrahman bin Auf akan masuk surga dalam keadaan merangkak (karena hartanya yang banyak akan merepotkan penghisabannya di hadapan ALLAH SUBHANAHU WATAALA , pen.).”
(HR Ahmad dan Ath-Thabarani).

📌 Mendengar sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam tersebut, seketika Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu anhu pun menyedekahkan seluruh hartanya.
Ini termasuk emas dan perak yang diangkut dengan 700 ekor unta, berikut seluruh untanya itu. Padahal harta itu baru saja tiba di Madinah sebagai hasil sekian lama ia berbisnis di Syam.

📌 Sejak saat itu, ia banyak menyedekahkan hartanya di jalan ALLAH.
ALLAH SUBHANAHU WATAALA. pun melipatgandakan balasannya di dunia dan akhirat.
Suatu hari, ia pernah menjual tanah seharga 40.000 dinar (lebih dari Rp80 miliar), lalu membagikan semuanya untuk keluarganya, yaitu Bani Zahrah, juga untuk Ummahatul Mukminin dan kaum fakir dari kalangan kaum muslim.

📌 Sejatinya para pejuang Islam harus meneladan sahabat Rasul Shalallahu Alaihi Wasallam, yakni Abdurrahman bin Auf dalam menyedekahkan harta di jalan ALLAH untuk mendukung dakwah Islam.

Semoga bermanfaat.
Selamat beraktifitas.
Semoga amal sholih kita diterima oleh ALLAH.
=================

Sumber : Muslimah News

DARI IBADAH HAJI MENUJU PERSATUAN UMAT DAN KEJAYAAN ISLAMBuletin Kaffah Edisi 444 (5 Dzulhijjah 1447 H/22 Mei 2026 M)Set...
22/05/2026

DARI IBADAH HAJI MENUJU PERSATUAN UMAT DAN KEJAYAAN ISLAM

Buletin Kaffah Edisi 444 (5 Dzulhijjah 1447 H/22 Mei 2026 M)

Setiap kali datang Bulan Dzulhijjah, kita akan selalu diingatkan dengan dua sosok agung, yakni Nabi Ibrahim as. dan Nabi Ismail as. Dari kedua utusan Allah SWT ini kita juga diingatkan dengan dua peristiwa besar dalam Islam, yakni ibadah haji dan kurban. Keduanya juga Allah SWT perintahkan untuk membangun Ka’bah. Dengan penuh ketaatan keduanya membangun Ka’bah seraya berdoa kepada Allah SWT. Peristiwa ini diabadikan dalam firman-Nya:

وَإِذۡ يَرۡفَعُ إِبۡرَٰهِ‍ۧمُ ٱلۡقَوَاعِدَ مِنَ ٱلۡبَيۡتِ وَإِسۡمَٰعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلۡ مِنَّآۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ

(Ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan (membangun) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), "Duhai Tuhan kami, terimalah dari kami (amal-amal kami). Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (TQS al-Baqarah [2]: 127).

Baitullah yang disebut sebagai Ka’bah inilah yang berikutnya menjadi pusat pelaksanaan ibadah haji kaum Muslim seluruh dunia.

Ibadah haji adalah bagian dari Rukun Islam yang hukumnya wajib bagi Muslim yang memiliki kemampuan. Ibadah haji juga menjadi simbol tentang ketaatan kepada Allah, pengorbanan sekaligus persatuan kaum Muslim sedunia. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT:

وَأَذِّن فِي ٱلنَّاسِ بِٱلۡحَجِّ يَأۡتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأۡتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ

Serulah manusia untuk mengerjakan haji! Niscaya mereka akan datang kepada kamu dengan berjalan kaki, juga dengan mengendarai unta kurus, yang datang dari segenap penjuru yang jauh (TQS al-Hajj [22]: 27).

Simbol Ketaatan

Ibadah haji merupakan salah satu syariah agung dalam Islam. Ibadah haji mengandung makna mendalam tentang ketaatan seorang hamba kepada Allah SWT. Seluruh rangkaian ibadah haji mengajarkan bahwa seorang Muslim harus tunduk sepenuhnya pada perintah Allah SWT. Padahal kadang secara logika manusia tidak selalu memahami hikmah di balik setiap perintah-Nya, khususnya dalam ibadah haji dan kurban.

Kisah Nabi Ibrahim as., Siti Hajar, dan Nabi Ismail as. menjadi fondasi spiritual ibadah haji yang menunjukkan puncak ketaatan kepada Allah SWT. Nabi Ibrahim as. rela meninggalkan keluarganya di padang tandus Makkah. Ia bahkan bersedia mengorbankan putranya karena ketaatan pada perintah Allah SWT. Dari sinilah ibadah haji mengajarkan bahwa keimanan sejati menuntut kepasrahan total pada kehendak Ilahi. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT:

وَأَتِمُّواْ ٱلۡحَجَّ وَٱلۡعُمۡرَةَ لِلَّهِۚ

Sempurnakanlah oleh kalian ibadah haji dan umrah semata-mata karena Allah (TQS al-Baqarah [2]: 196).

Simbol Pengorbanan

Selain simbol ketaatan, Ibadah haji juga merupakan simbol pengorbanan. Seorang Muslim yang berhaji harus mengorbankan harta, tenaga, waktu dan kenyamanan demi memenuhi panggilan Allah SWT. Pakaian ihram yang sederhana mengajarkan pelepasan atribut duniawi seperti status sosial, kekayaan dan kebanggaan diri. Semua jamaah tampil setara di hadapan Allah SWT. Nilai pengorbanan ini juga mengingatkan manusia bahwa kehidupan dunia tidak boleh menjadikan seseorang sombong dan lalai dari tujuan akhirat. Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

Siapa saja yang menunaikan ibadah haji semata-mata ikhlas karena Allah, lalu tidak berkata kotor dan tidak berbuat fasik, maka ia kembali seperti hari dilahirkan oleh ibunya (HR al-Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menunjukkan bahwa haji bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga proses penyucian jiwa melalui pengorbanan dan keikhlasan.

Simbol Persatuan

Ibadah haji juga menjadi simbol persatuan umat Islam sedunia. Jutaan Muslim dari berbagai negara, dengan ragam bahasa dan warna kulit, berkumpul di Masjidil Haram dengan tujuan yang sama, yaitu beribadah kepada Allah SWT.

Dengan demikian ibadah haji juga harus dipahami sebagai melting point (titik lebur) kaum Muslim dari berbagai penjuru dunia. Mereka melebur menjadi satu tanpa lagi melihat suku bangsa, warna kulit, bahasa serta status ekonomi dan sosialnya. Semua menghamba hanya pada Rabb Yang Satu, Allah SWT.

Mereka menghadap kiblat yang sama. Mereka mengenakan pakaian ihram yang sama. Mereka melaksanakan ritual yang sama. Tanpa membedakan status sosial maupun kebangsaan.

Momentum ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama persaudaraan yang menyatukan umat Muslim di seluruh dunia di atas dasar tauhid. Dalam hal ini, Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٌ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَ أَخَوَيۡكُمۡۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ

Sesungguhnya kaum Mukmin itu bersaudara. Sebab itu, damaikanlah di antara sesama saudara kalian itu, dan takutlah kepada Allah, supaya kalian mendapat rahmat (TQS al-Hujurat [49]: 10).

Dengan demikian spirit ketaatan, pengorbanan dan persatuan yang terkandung dalam ibadah haji seharusnya tidak berhenti pada dimensi ritual individual semata. Ia juga seharusnya melahirkan kesadaran kolektif umat Islam dalam aspek sosial, politik dan peradaban. Ibadah haji mempertemukan jutaan kaum Muslim dari berbagai bangsa, bahasa dan mazhab dalam satu kiblat dan satu tujuan: penghambaan kepada Allah SWT. Momentum ini menunjukkan bahwa Islam adalah fondasi persatuan Muslim seluruh dunia yang melampaui batas etnis maupun nasionalisme sempit.

Dalam sejarah Islam, semangat persatuan ini pernah menjadi kekuatan besar yang melahirkan solidaritas politik dan peradaban Dunia Islam. Marshall Hodgson dalam The Venture of Islam menjelaskan bahwa salah satu kekuatan utama peradaban Islam klasik adalah kesadaran kolektif umat sebagai satu komunitas global (ummah), yang terhubung oleh akidah, hukum dan budaya intelektual yang sama. Kekuatan utama peradaban Islam yang menyatukan negeri-negeri Muslim itulah Khilafah Islamiyah.

Realitas Umat Hari Ini

Akan tetapi, realitas Dunia Islam kontemporer menunjukkan kondisi yang berlawanan. Persatuan umat melemah akibat konflik politik, nasionalisme, sektarianisme dan kepentingan geopolitik global. Krisis kemanusiaan di Gaza Palestina menjadi salah satu contoh nyata lemah dan buruknya solidaritas politik Dunia Islam. Ribuan warga sipil terbunuh. Infrastruktur dihancurkan. Blokade berkepanjangan menimbulkan penderitaan kemanusiaan yang besar.

PBB dan berbagai lembaga kemanusiaan internasional berkali-kali melaporkan tingginya korban sipil dan kerusakan fasilitas publik di Gaza akibat genosida yang berkepanjangan. Kondisi ini memperlihatkan adanya jurang antara simbol persatuan umat dalam ibadah dengan realitas politik Dunia Islam yang masih terfragmentasi.

Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah juga memperlihatkan kompleksitas hubungan antarnegara Muslim. Konflik yang melibatkan Iran, Israel dan Amerika Serikat pada tahun 2026 ini sering dipengaruhi oleh kepentingan politik regional maupun global. Dalam situasi tersebut, sebagian negara Arab memiliki posisi politik yang berbeda-beda berdasarkan aliansi keamanan dan kepentingan nasional masing-masing.

Menuju Persatuan Umat Sedunia

Karena itu ibadah haji seharusnya tidak hanya dipahami sebagai ritual spiritual tahunan, tetapi juga sebagai momentum pembuktian ketaatan dan persatuan umat Islam sedunia. Jutaan kaum Muslim yang berkumpul di Masjidil Haram menunjukkan bahwa Islam memiliki potensi persatuan global yang sangat besar. Dengan jumlah pop**asi lebih dari dua miliar jiwa, umat Islam sesungguhnya merupakan salah satu kekuatan demografis terbesar di dunia. Jika potensi tersebut disatukan dalam satu kepemimpinan politik, maka umat Islam dapat menjadi kekuatan peradaban yang disegani dunia. Allah SWT berfirman:

وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ

Berpegang teguhlah kalian semuanya pada tali (agama) Allah dan janganlah bercerai-berai (TQS Ali ‘Imran [3]: 103).

Selain memiliki jumlah penduduk yang besar, Dunia Islam juga dianugerahi dengan sumber daya alam dan posisi geopolitik yang sangat strategis. Banyak negara Muslim berada di kawasan kaya minyak, gas, jalur perdagangan internasional dan lintasan transportasi global. Data Organization of the Petroleum Exporting Countries menunjukkan bahwa sebagian besar cadangan minyak dunia berada di negara-negara mayoritas Muslim.

Sejarah menunjukkan bahwa peradaban Islam pernah menjadi kekuatan besar dunia ketika umat bersatu dalam visi dan kepemimpinan yang kuat, yakni Khilafah Islamiyah, di bawah kepemimpinan seorang khalifah.

Demikian p**a di tanah air. Kaum Muslim harus menjaga persatuan dan memelihara ukhuwah islamiyah di tengah berbagai perbedaan politik, organisasi, maupun mazhab. Persatuan umat sangat penting agar masyarakat tidak mudah dipecah-belah oleh kepentingan sempit yang dapat melemahkan kekuatan mereka. Islam mengajarkan bahwa kaum Muslim adalah saudara yang harus saling menolong dalam kebaikan dan ketakwaan.

Karena itu perjuangan memperbaiki kondisi negeri harus dilakukan dengan semangat persaudaraan, dakwah, pendidikan dan kesadaran politik Islam.
Dengan demikian spirit ketaatan dan persatuan ibadah haji harusnya menjadi energi besar untuk menggerakkan umat menuju suatu perintah agung; menegakkan Khilafah Islamiyah yang akan melaksanakan hukum-hukum Allah secara kaaffah yang selama ini terabaikan. Khilafah Islamiyah juga akan menyatukan umat Islam sedunia serta melindungi mereka dari berbagai kezaliman yang menimpa mereka.

Semoga Allah SWT senantiasa menolong dan meridhai perjuangan umat Islam di seluruh dunia untuk menegakkan kembali kejayaan peradaban Islam di bawah naungan Khilafah Islamiyah. Amin.

WalLaahu a’lam bi ash-shawaab.

---*---

Hikmah:

Rasulullah saw. bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

Perumpamaan kaum Mukmin dalam hal saling mencintai, mengasihi dan menyayangi seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh juga ikut merasakannya dengan tidak dapat tidur dan demam. (HR al-Bukhari dan Muslim).

---*---

1905 UPDATE KAFFAH

*Pembunuhan Terus Berlanjut di Bulan Dzulhijjah*

Di saat kaum Muslimin memasuki bulan suci Dzulhijjah dengan harapan meraih ampunan dan rahmat Allah, darah umat Islam di Palestina dan Lebanon justru terus mengalir tanpa henti di tangan Zionis Yahudi. Di Gaza, jeritan para ibu tak pernah reda, anak-anak syahid bergelimpangan di bawah reruntuhan rumah yang dibombardir, sementara banyak jasad masih tertimbun puing dan belum mampu dijangkau tim medis yang serba terbatas. Dalam 48 jam terakhir saja, 13 Muslim kembali syahid dan puluhan lainnya terluka, menambah deretan panjang tragedi sejak 7 Oktober 2023 yang telah merenggut lebih dari 72 ribu nyawa dan melukai ratusan ribu lainnya. Di Lebanon, dentuman rudal dan serangan drone terus menghantam wilayah selatan; kendaraan sipil dibakar, anak-anak dibunuh, dan keluarga-keluarga tercerai-berai oleh serangan brutal yang tak mengenal belas kasihan.

Timur Tengah kembali berada di ambang eskalasi besar setelah Donald Trump mengancam Iran dan menyebut “waktu terus berdetak” untuk mencapai kesepakatan dengan AS, sementara Israel berada dalam status siaga tinggi dan siap bergabung dalam kemungkinan serangan baru terhadap Iran. Pembicaraan Trump dengan Benjamin Netanyahu semakin memperkuat sinyal perang, terlebih Israel disebut tengah menyiapkan serangan terhadap infrastruktur energi Iran.

Peristiwa penting lainnya adalah pertemuan menteri luar negeri BRICS di India yang membahas perang Iran dan kembali memunculkan perdebatan tentang posisi dunia Islam di tengah persaingan global. Pandangan ini menegaskan bahwa umat Islam sebenarnya memiliki kekayaan alam, posisi strategis, kekuatan militer, dan sumber daya manusia yang cukup untuk mandiri tanpa bergantung pada organisasi internasional seperti G20, G7, G8 maupun PBB. Namun, kelemahan umat saat ini justru berasal dari ketergantungan para penguasa Muslim kepada kekuatan Barat dan Timur sehingga kemandirian politik umat terus melemah.

Yang dibutuhkan umat hanyalah bersatu kembali untuk membentuk kekuatan besar yang layak memimpin dunia. Namun, para penguasa saat ini tidak akan membiarkan hal itu terjadi selama mereka tetap mempertahankan keyakinan dan kekuasaan mereka. Karena itu, umat harus bergerak untuk menyingkirkan mereka dari singgasana kekuasaan dan mengangkat seorang khalifah yang lurus, yang akan mengembalikan persatuan, kekuatan, dan kemuliaan umat Islam. Allah SWT berfirman:

﴿وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَـٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾

“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf: 96).Allahu Akbar.

 MEMBANGUN PERADABAN EMAS HANYA DENGAN PENDIDIKAN ISLAMBuletin Kaffah Edisi 442 (21 Dzul Qa’dah 1447 H/8 Mei 2026 M)Indo...
08/05/2026



MEMBANGUN PERADABAN EMAS HANYA DENGAN PENDIDIKAN ISLAM

Buletin Kaffah Edisi 442 (21 Dzul Qa’dah 1447 H/8 Mei 2026 M)

Indonesia baru saja memperingati Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2026. Peringatan Hardiknas ini seharusnya membawa harapan masa depan pendidikan. Akan tetapi, realitas di lapangan masih menyisakan berbagai kecemasan publik dan ironi struktural.

Kebijakan efisiensi anggaran melalui Instruksi Presiden No. 1 Tahun 2025, misalnya, memangkas belanja negara hingga ratusan triliun rupiah. Hal ini berdampak luas pada berbagai sektor, termasuk pendidikan. Program lain seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) juga berpotensi menekan ruang fiskal pendidikan. Sementara itu, kesejahteraan guru masih menjadi persoalan klasik. Banyak guru honorer menerima pendapatan di bawah standar kelayakan hidup. Hal ini memengaruhi kualitas pengajaran dan motivasi profesional.

Data Kementerian Pendidikan juga mengungkap masih banyak sekolah di Indonesia yang mengalami kerusakan infrastruktur, mulai dari ruang kelas rusak hingga keterbatasan fasilitas dasar. Hal ini mencerminkan ketimpangan akses pendidikan yang belum terselesaikan secara sistemik.

Ilusi Generasi Emas

Arah kebijakan pendidikan tinggi juga memunculkan kegelisahan baru. Misalnya, ada wacana penutupan program studi yang alumninya dinilai tidak terserap oleh dunia industri. Demikian sebagaimana disampaikan oleh Menteri Pendidikan Tinggi pada momentum Hardiknas 2026. Ini menunjukkan adanya pergeseran orientasi dan esensi pendidikan ke satu arah: pasar tenaga kerja.

Pendekatan ini berisiko mereduksi fungsi pendidikan hanya sebagai penyedia tenaga kerja. Padahal seharusnya pendidikan dijadikan sebagai sarana pembentukan peradaban dan pembentukan manusia yang bertakwa.

Dengan kondisi ini, Visi Indonesia Emas 2045—yang hendak mewujudkan generasi unggul secara menyeluruh: memiliki kualitas intelektual tinggi, karakter kuat, sehat fisik dan mental, serta mampu berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa—tampaknya hanya akan menjadi ilusi belaka. Apalagi jika melihat berbagai kasus amoralitas yang terjadi di lembaga-lembaga pendidikan belakangan ini. Seolah-olah negeri ini semakin jauh dari cita-cita untuk melahirkan generasi emas tersebut.

Lahirnya “generasi emas” yang menjadi cita-cita Indonesia menuju Indonesia Emas 2045 akan semakin terasa jauh jika problem mendasar pendidikan tidak segera ditangani secara serius. Salah satunya adalah pengurangan anggaran perpustakaan yang berpotensi melemahkan budaya literasi pelajar. Padahal berbagai kajian akademik menegaskan bahwa budaya literasi merupakan salah satu fondasi utama bagi kualitas pembelajaran sepanjang hayat. Tanpa akses bahan bacaan yang memadai dan lingkungan literasi yang hidup, sulit membangun generasi yang kritis, kreatif dan inovatif.

Persoalan berikutnya menyangkut kesejahteraan dan distribusi tenaga pendidik. Masih banyak guru honorer yang menerima upah jauh di bawah standar kelayakan. Padahal mereka memegang peran strategis dalam proses pendidikan. Ketimpangan ini tidak hanya berdampak pada kesejahteraan individu guru, tetapi juga pada kualitas pembelajaran secara keseluruhan.

Di sisi lain, di berbagai daerah masih ditemukan sekolah dengan jumlah tenaga pengajar yang minim serta kondisi bangunan yang tidak layak. Data dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia dalam beberapa tahun terakhir juga menunjukkan masih adanya ruang kelas rusak yang belum tertangani secara optimal.

Lebih mencemaskan lagi, dunia pendidikan di negeri juga menghadapi krisis moral yang semakin mengkhawatirkan. Kasus kekerasan di lingkungan pendidikan, termasuk perundungan dan pelecehan seksual, menunjukkan tren peningkatan, bahkan terjadi di tingkat perguruan tinggi. Fenomena ini menjadi alarm serius bahwa pendidikan belum sepenuhnya berhasil membangun lingkungan yang aman dan beradab.

Jika kondisi ini terus dibiarkan maka cita-cita melahirkan generasi emas bukan hanya tertunda, tetapi berisiko gagal. Pasalnya, pendidikan kehilangan esensi utamanya: membentuk manusia yang berilmu, berakhlak dan bermartabat yang merupakan pilar peradaban suatu bangsa.

Keunggulan Sistem Pendidikan Islam

Islam menawarkan paradigma pendidikan yang lebih komprehensif dan unggul. Ini karena Islam meletakkan ilmu sebagai kewajiban sekaligus jalan kemuliaan. Kewajiban menuntut ilmu ditegaskan dalam hadis Nabi ﷺ:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim (HR Ibnu Majah).

Al-Quran juga menegaskan kemuliaan orang berilmu:

يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتۚ

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan di antara kalian beberapa derajat (TQS al-Mujadilah [58]: 11).

Tujuan pendidikan dalam Islam tidak hanya sekadar untuk melahirkan saintis pembangun peradaban. Yang utama justru untuk membentuk kepribadian Islam yang utuh (syakhshiyyah islaamiyyah). Tujuan utama pendidikan dalam Islam sejalan dengan tujuan penciptaan manusia, yakni untuk mewujudkan hamba yang tunduk dan patuh kepada Allah SWT. Pendidikan harus melahirkan manusia yang menjadikan seluruh aktivitasnya sebagai bentuk pengabdian kepada Allah. Hal ini ditegaskan dalam al-Quran:

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ

Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku (TQS adz-Dzariyat [51]: 56).

Islam juga mewajibkan pemimpin negara untuk memuliakan ilmu, para pencari ilmu dan para pengajarnya. Dalam pandangan Islam, guru adalah profesi mulia dan wajib dimuliakan. Rasulullah ﷺ menegaskan keutamaan orang yang mengajarkan ilmu:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا، وَحَتَّى الْحُوتَ، لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ

Sesungguhnya Allah, para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, bahkan semut di lubangnya dan ikan di laut, semuanya mendoakan orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia (HR at-Tirmidzi).

Pesan utama hadis ini menegaskan bahwa profesi guru yang mengajarkan ilmu adalah amal yang sangat mulia. Dalam pandangan Islam, kemuliaan guru ditandai dengan mendapat doa dari seluruh makhluk.

Pemimpin negara juga wajib menyediakan infrastruktur pendidikan yang memadai. Prinsip kepemimpinan dalam Islam ditegaskan dalam Hadis Nabi saw.:

الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Imam (pemimpin negara) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya (HR al-Bukhari dan Muslim).

Tanggung jawab ini mencakup penyediaan sistem pendidikan yang berkualitas dan merata. Sejarah mencatat bagaimana lembaga-lembaga pendidikan seperti Baitul Hikmah menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia yang didukung penuh oleh Negara (Khilafah Islam). Dari lembaga-lembaga semacam ini lahir para ulama dan ilmuwan terkemuka yang berkontribusi besar pada berbagai disiplin ilmu.

Membangun Peradaban Emas

Islam juga mengarahkan pendidikan untuk membangun kekuatan umat. Tujuannya agar umat mandiri, berpengaruh di tingkat global, serta terbebas dari penjajahan ekonomi dan ketergantungan teknologi. Sistem pendidikan Islam dengan kekuatan landasannya yang sempurna akan mampu mewujudkan negara super power yang akan membawa arah peradaban dunia.

Peradaban besar yang lahir dari sistem pendidikan Islam akan menjadi kekuatan global yang mandiri dan mampu menghadapi hegemoni global peradaban sekuler kapitalistik saat ini. Islam menegaskan pentingnya menyiapkan kekuatan maksimal sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah SWT:

وَأَعِدُّواْ لَهُم مَّا ٱسۡتَطَعۡتُم مِّن قُوَّةٍ

Persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian mampu (TQS al-Anfal [8]: 60).

Fakta sejarah menunjukkan bahwa pada era Kekhalifahan Islam, umat Islam menjadi pusat inovasi dan peradaban dunia. Tanpa kehadiran para ilmuwan dan cendekiawan Muslim yang telah mewariskan peradaban yang sangat agung, kemajuan peradaban Barat saat ini tidak mungkin terjadi. Secara jujur, hal ini diakui oleh salah seorang cendekiawan Barat sendiri, yakni Montgomery Watt. Ia menyatakan, “Cukup beralasan jika kita menyatakan bahwa peradaban Eropa tidak dibangun oleh proses regenerasi mereka sendiri. Tanpa dukungan peradaban Islam yang menjadi ‘dinamo’-nya, Barat bukanlah apa-apa.”

Jacques C. Reister juga berkomentar, “Selama lima ratus tahun Islam menguasai dunia dengan kekuatannya, ilmu pengetahuan dan peradabannya yang tinggi.”

Bahkan yang menarik, sumbangsih peradaban Islam terhadap dunia, termasuk dunia Barat, juga pernah diakui oleh salah seorang mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama. Hal itu terungkap saat dia berpidato tanggal 5 Juli 2009. Dia antara lain menyatakan, “Peradaban berhutang besar pada Islam. Islamlah yang mengusung lentera ilmu selama berabad-abad serta membuka jalan bagi era Kebangkitan Kembali dan era Pencerahan di Eropa...” (http://jakarta.usembassy.gov.).

Hal ini menjadi bukti bahwa sistem pendidikan Islam yang mengintegrasikan iman, ilmu dan kekuasaan mampu melahirkan peradaban unggul. Hal ini membuktikan bahwa Islam, sebagai agama sempurna dengan seluruh perangkat ajarannya, mampu mewujudkan peradaban maju dan mulia.

Alhasil, jika Indonesia ingin menjadi negara yang mengusung peradaban emas sekaligus menjadi negara adidaya yang maju dan kuat, tak ada jalan lain, kecuali negeri ini harus menerapkan sistem pendidikan Islam. Tentu dalam naungan institusi pemerintahan yang menjadikan Aqidah Islam sebagai asasnya, sebagaimana pada era kekhilafahan Islam dulu.

WalLaahu a’lam bi ash-shawaab.

---*---

Hikmah:

Allah SWT berfirman:

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ وَمَا ٱخۡتَلَفَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ إِلَّا مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَهُمُ ٱلۡعِلۡمُ بَغۡيَۢا بَيۡنَهُمۡۗ وَمَن يَكۡفُرۡ بِ‍َٔايَٰتِ ٱللَّهِ فَإِنَّ ٱللَّهَ سَرِيعُ ٱلۡحِسَابِ

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi al-Kitab, kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Siapa saja yang mengingkari ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. (TQS Ali Imran [3]: 19). []

---*---

0505 UPDATE KAFFAH

Bagaimana Kita Mengalahkan Amerika?

Ketegangan di kawasan Teluk kembali meningkat tajam pada hari ke-67 konflik Iran, terutama di sekitar Selat Hormuz. Uni Emirat Arab mengklaim berhasil mencegat rudal Iran dan melaporkan kebakaran di fasilitas minyak Fujairah akibat dugaan serangan drone. Sejumlah negara seperti Qatar, Arab Saudi, Yordania, Kuwait, dan Uni Eropa mengecam insiden tersebut. Dampaknya juga mulai terasa dengan adanya korban luka di UEA dan Oman serta kerusakan pada fasilitas energi dan infrastruktur sipil.

Di tengah eskalasi tersebut, Amerika Serikat meluncurkan operasi “Project Freedom” untuk mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz, dengan klaim menenggelamkan kapal kecil Iran dan mengawal kapal dagang. Namun, Iran membantah klaim tersebut dan menegaskan bahwa mereka memiliki hak penuh atas kontrol Hormuz. Presiden AS Donald Trump juga mengancam Iran akan “dilenyapkan” jika menyerang kapal AS, sementara Iran menyatakan tidak ada solusi militer untuk krisis ini. Ketegangan yang terus meningkat ini turut mendorong kenaikan harga minyak dunia lebih dari 5 persen dan mengganggu stabilitas energi global.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza melaporkan bahwa dalam 24 jam terakhir terdapat tiga korban jiwa (dua korban baru dan satu korban yang sebelumnya tertimbun puing) serta 11 orang terluka akibat serangan Israel. Sejumlah korban lainnya masih terjebak di bawah reruntuhan dan belum dapat dijangkau oleh tim penyelamat. Sejak gencatan senjata pada 11 Oktober, total korban tercatat mencapai 834 orang tewas dan 2.365 orang luka-luka. Secara keseluruhan sejak 7 Oktober 2023, jumlah korban jiwa mencapai 72.615 orang dengan 172.468 orang terluka (Kementerian Kesehatan Gaza, 5 Mei 2030).

Salah satu pertanyaan penting dalam perang Iran–AS (Amerika–Israel) adalah apakah Iran bisa mengalahkan Amerika. Dalam hal ini perlu dibedakan antara kemampuan bertahan dan kemampuan menang secara total. Iran terbukti mampu memberikan perlawanan dan menyulitkan AS, terutama melalui strategi perang asimetris dan pertahanan regional, namun belum memiliki kapasitas untuk mengalahkan Amerika sebagai kekuatan global. Hal ini karena AS masih unggul dalam militer, ekonomi, aliansi, dan pengaruh sistem internasional. Selama tatanan global yang dipimpin Barat masih berlaku, Iran maupun negara-negara Islam lainnya belum berada pada posisi untuk mengalahkan Amerika secara menyeluruh.

Dengan sistem Iran sekarang ini yang berbasis republik (nation-state), ditambah lagi paham sektarian yang diadopsi negara, Iran tidak akan bisa melakukan itu. Kecuali Iran bersama dunia Islam lain mencampakkan semua aturan Barat yang menjerat, membangun kekuatan dan jaringan global sendiri dengan sistem politik yang benar-benar lepas dari Barat. Dan itu hanya akan terwujud jika umat Islam memiliki Khilafah ala Minhaj an-Nubuwwah. Dan itulah yang harus diperjuangkan bersama umat Islam. Allahu Akbar.

 CARA ISLAM MEMBERANTAS KEJAHATAN SEKSUALBuletin Kaffah Edisi 440 (7 Dzul Qa’dah 1447 H/24 April 2026 M)Kejahatan seksua...
24/04/2026



CARA ISLAM MEMBERANTAS KEJAHATAN SEKSUAL

Buletin Kaffah Edisi 440 (7 Dzul Qa’dah 1447 H/24 April 2026 M)

Kejahatan seksual di tanah air kembali mencuat. Ironinya kali ini terjadi di lingkungan pendidikan. Sejumlah civitas akademika di beberapa kampus ternama terlibat kejahatan seksual berupa pelecehan. Pelakunya bukan saja mahasiswa, tetapi juga melibatkan guru besar.

Namun bukan hanya kampus perguruan tinggi yang terpapar kejahatan seksual, tapi di hampir semua institusi pendidikan. Mulai dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Lebih memilukan lagi, lingkungan pesantren juga tidak aman dari predator seksual. Sejumlah pengelola pondok pesantren ditangkap polisi karena melakukan kejahatan seksual terhadap para santri.

Terus Meningkat

Belakangan semakin banyak perempuan melapor menjadi korban pelecehan di tempat-tempat umum seperti kampus, kantor, jalan serta di angkutan umum seperti bus dan kereta. Mulai dari cat-calling (pelecehan secara verbal dan non-verbal) hingga kekerasan seksual. Pada tahun 2025 jumlah kekerasan seksual yang tercatat ada 6.767 kasus. Mayoritas korbannya perempuan (5.832 orang).

Kejahatan seksual di dunia maya juga makin bertambah. Data Komnas Perempuan mencatat lonjakan kasus dari 940 kasus pada 2020. Angka ini terus meningkat hingga mencapai 1.721 kasus pada 2021, lalu meningkat lagi menjadi 1.791 kasus pada 2024 dan mencapai 1.846 kasus pada 2025.

Di lingkungan pendidikan kejahatan seksual justru mendominasi. Data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) menunjukkan, pada tahun 2025 sebanyak 57,65% kasus kekerasan di satuan pendidikan merupakan kekerasan seksual. Lebih banyak dari perundungan sebesar 22,31% dan kekerasan fisik 18,89%.

Prihatinnya, sebagian pelaku adalah kalangan yang terdidik dan punya kedudukan terhormat. Kasus pelecehan di kampus dilakukan oleh mahasiswa sampai guru besar. Di sekolah ada yang melibatkan guru hingga kepala sekolah. Bahkan pondok pesantren pun tidak aman dari predator seksual. Pelakunya mulai dari tenaga pengajar sampai pimpinan pondok. Lebih keji lagi di antara pelakunya adalah sejenis, alias homoseksual.

Bahkan kasus kekerasan seksual pun terjadi di lingkungan rumah. Banyak pelaku kejahatan seksual justru anggota keluarga, seperti paman, saudara kandung dan ayah kandung. Sejumlah korban bahkan sampai hamil akibat diperkosa oleh ayah kandungnya sendiri.

Akar Masalah

Hal ini menunjukkan negara dan sistem hukum di tanah air gagal melindungi warga. Padahal Pemerintah sudah mengeluarkan sejumlah aturan seperti UU No. 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS). UU ini disebut bertujuan mencegah, menangani, melindungi dan memulihkan hak korban kekerasan seksual; sekaligus menegakkan hukum dan merehabilitasi pelaku. Akan tetapi, faktanya kekerasan seksual terus terjadi.

Soal pemberian sanksi pun masih jadi perdebatan. Sebagian pihak, termasuk praktisi hukum, menghendaki pemberian sanksi kebiri bagi pelaku kejahatan kekerasan seksual. Sebagian pihak lagi menentang dengan alasan melanggar hak asasi manusia dan rehabilitasi pelaku. Adapun sanksi penjara bagi pelaku dinyatakan masih ringan. Rata-rata vonis penjara yang diterapkan untuk pelaku pemerkosaan adalah 87 bulan atau 7 tahun 3 bulan.

Jika ditelusuri, kejahatan seksual meningkat bukan semata soal sanksi yang ringan, tetapi karena akar masalahnya tidak ditumpas. Negara hanya mengobati penyakit, bukan penyebabnya. Negara sekuler seperti Indonesia hanya fokus pada tindakan kuratif, bukan preventif. Bahkan tindak kuratifnya pun gagal memberikan efek jera. Terbukti kejahatan seksual itu terjadi berulang-ulang.

Yang menjadi akar penyebabnya adalah kaum perempuan dicitrakan sebagai obyek pelampiasan hawa nafsu lelaki. Itulah pandangan khas ideologi kapitalisme-sekularisme dengan paham liberalismenya. Imej ini dilekatkan pada wanita, lewat bacaan, film-film, termasuk konten p***ografi. Celakanya hari ini Indonesia termasuk negara yang tinggi dalam mengakses konten p***ografi. Akibatnya, kekerasan dan kejahatan seksual terhadap perempuan terus meningkat.

Lebih celaka lagi, tidak sedikit kaum perempuan yang sukarela mengeksploitasi tubuh mereka. Termasuk menjadi foto model dan bintang film p***o. Inilah doktrin ’my body is my right’ yang ditanamkan pada kaum perempuan di seluruh dunia. Padahal kaumnya sendiri akhirnya yang banyak menjadi korban.

Solusi Islam

Ideologi Islam mengatasi kejahatan seksual dari preventif hingga kuratif. Dari akar persoalan hingga sanksi tegas bagi para pelakunya. Pertama: Islam meletakkan iman dan takwa sebagai landasan interaksi pria-wanita. Allah SWT berfirman:

وَٱلْمُؤْمِنُونَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ

Kaum Mukmin, lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain. Mereka melakukan amar makruf nahi mungkar (TQS at-Taubah [9]: 71).

Nabi Muhammad saw. juga bersabda:

اِتَّقُوا اللهَ فِـي النِّسَـاءِ...

Bertakwalah pada Allah dalam urusan kaum perempuan... (HR Muslim).

Dengan begitu pria maupun wanita akan menjaga diri mereka dalam ketakwaan, senantiasa berakhlak mulia, serta saling menjaga kehormatan diri. Dalam Islam perempuan bukanlah subordinasi kaum lelaki yang direndahkan apalagi dilecehkan. Sebabnya, perempuan hakikatnya adalah saudara kaum lelaki. Nabi saw. bersabda:

إِنَّمَا النِّسَاءُ شَقَائِقُ الرِّجَالِ

Perempuan itu saudara kandung laki-laki (HR Abu Dawud).

Dengan begini maka tidak ada tempat bagi peredaran p***ografi di tengah-tengah masyarakat karena haram dan merusak interaksi pria-wanita.

Kedua: Islam mewajibkan kaum Muslim dan Muslimah untuk menutup aurat saat berinteraksi dan saling menjaga pandangan. Pandangan terhadap aurat lawan jenis terbukti menjadi sarana ampuh yang merusak pikiran lelaki dan perempuan. Allah SWT berfirman:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

Katakanlah kepada kaum Mukmin, ”Hendaklah mereka menahan pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka. Yang demikian adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Mahatahu atas apa saja yang mereka perbuat.” (TQS an-Nur [24]: 30).

Musuh-musuh Islam sering menuding hukum Islam tentang kewajiban menutup aurat dan menjaga pandangan adalah tindakan mendiskreditkan perempuan dan mencitrakan perempuan sebagai sumber kejahatan seksual. Padahal hukum ini justru ditujukan untuk melindungi interaksi pria-wanita tetap sehat dan menghindarkan keduanya dari kejahatan seksual. Sebabnya, di antara hal yang dapat mendorong kejahatan itu terjadi adalah pandangan yang tidak terjaga dan aurat yang ditampakkan di tempat umum. Hukum ini bukan saja berlaku bagi perempuan, tetapi juga untuk kaum lelaki.

Ketiga: Islam melarang interaksi antara pria dan wanita yang bisa membuka celah kejahatan seksual terjadi seperti pesta dansa, klub-klub malam, dsb. Islam juga melarang khalwat (berdua-duaan) antara pria dan wanita yang belum menikah tanpa disertai mahramnya. Islam mewajibkan negara untuk mengawasi interaksi pria-wanita di media sosial agar tidak terjadi pelanggaran terhadap hukum syariah seperti rayuan, pelecehan dan p***ografi.

Keempat: Islam mengharamkan perbuatan mendekati zina dan perzinaan sekalipun dilakukan dengan consent (mau sama mau). Perzinaan merusak kehormatan pria dan wanita, merusak nasab, serta mengundang bencana. Allah SWT berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَـٰحِشَةًۭ وَسَآءَ سَبِيلًۭا

Janganlah kalian mendekati zina. Sesungguhnya zina itu perbuatan keji dan jalan yang buruk (TQS al-Isra’ [17]: 32).

Lagi p**a Islam telah menghalalkan pernikahan untuk pria dan wanita.

Kelima: Syariah Islam menetapkan sanksi berat atas pelaku kejahatan seksual. Baik kejahatan secara verbal maupun kekerasan secara fisik. Dalam kasus pelecehan seksual seperti cat-calling ataupun perlakuan fisik maka berlaku sanksi ta’zîr bagi para pelakunya. Pelaku bisa dikenakan sanksi penjara, hukuman cambuk dan diasingkan (Abdurrahman Al-Maliki, Nizhâm al- Uqûbât fî al-Islâm, hlm. 93).

Adapun pelaku pemerkosaan dikenai hukuman cambuk 100 kali jika belum menikah (ghayru muhshan) atau hukuman rajam hingga mati jika pelaku sudah menikah (muhshan). Sanksi bisa ditambah lagi jika pelaku terbukti terlebih dulu melakukan tindak kekerasan seperti menculik korban, memukuli korban, dsb. Adapun korbannya wajib dilindungi dan direhabilitasi oleh negara.

Hukuman ini berlaku baik pelakunya pria ataupun wanita. Setiap perempuan yang melakukan pelecehan terhadap pria seperti cat-calling, membuat komentar asusila terhadap pria di media sosial, merayu atau melakukan tindak pemerkosaan maka akan dihukum sesuai syariah Islam.

Adapun hukuman kebiri bagi pelaku kejahatan seksual bertentangan dengan syariah Islam. Keharaman kebiri berlaku umum bagi pria maupun wanita. Dalam hadis riwayat Imam al-Bukhari dinyatakan bahwa Nabi saw. menolak permintaan para Sahabat untuk melakukan kebiri.

Tentu saja pemberantasan tindak kejahatan seksual tidak mungkin bisa dilakukan dalam sistem liberalisme-sekularisme seperti hari ini. Semua hanya bisa dilakukan dengan pemberlakuan syariah Islam secara kâffah dalam institusi pemerintahan Islam (Khilafah). Keberadaan Khalifah dalam sistem Khilafah akan menjadi junnah (perisai) yang melindungi rakyatnya.

WalLâhu a’lam bi ash-shawâb.

---*---

Hikmah:

Nabi Muhammad saw. bersabda:

إِنِّيْ أُحَرِّجُ عَلَيْكُمْ حَقَّ الضَّعِيْفَيْنِ: اَلْيَتِيْمِ وَالْمَرْأَةِ

Sesungguhnya aku mengkhawatirkan hak dua orang yang lemah atas kalian, yaitu: anak yatim dan wanita. (HR Ibnu Majah).

---*---

2104 UPDATE KAFFAH

NARASI PERANG SALIB DALAM PERANG TIMUR TENGAH

Dalam 24 jam terakhir, eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah masih menelan korban jiwa meskipun gencatan senjata telah diberlakukan. Dua orang dilaporkan tewas—satu korban baru dan satu lainnya akibat luka sebelumnya—sementara banyak korban lain masih tertimbun puing dan belum dapat dijangkau tim penyelamat. Sejak gencatan senjata pada 11 Oktober, total korban mencapai 775 tewas dan 2.171 luka-luka.

Angka ini meningkat tajam jika ditarik sejak 7 Oktober 2023, dengan total 72.551 korban tewas dan 172.274 luka-luka. Di tengah kondisi tersebut, perkembangan di Gaza menunjukkan stagnasi rekonstruksi Rafah yang didukung AS, sementara Israel justru memperluas kontrol wilayah dan membangun pangkalan militer permanen, menjadikan batas-batas baru sebagai garis de facto yang semakin memperumit situasi di lapangan.

Di sisi lain, konflik yang lebih luas antara AS dan Iran dengan dinamika antara diplomasi dan ancaman militer yang berjalan beriringan. Tidak diragukan, agresi tanpa batas Amerika-Zionis di dunia Islam, terutama Timur Tengah, adalah bermotif kapitalisme. Negara imperialis ini benar-benar ingin menguasai kekayaan alam di Timur Tengah yang melimpah. Trump mengungkap maksud Amerika sebenarnya, kepada surat kabar The Financial Times Trump menyatakan dia ingin "mengambil minyak" di Iran.

Meskipun motif ideologi kapitalisme merupakan pendorong utama Amerika, namun hal ini tidak bisa dilepaskan dari misi keagamaan, perang Salib. Perang yang penuh kebencian terhadap Islam dan umat Islam. Para komandan militer Amerika sendiri telah menggunakan retorika Kristen ekstrem yang berpusat pada “akhir zaman” dalam Alkitab untuk membenarkan partisipasi dalam perang melawan Iran.

Menurut laporan The Guardian komandan tersebut memerintahkan mereka untuk mengatakan kepada para prajurit bahwa perang itu adalah “bagian dari rencana ilahi Tuhan,” dengan secara eksplisit mengutip beberapa ayat dari Kitab Wahyu yang merujuk pada Armageddon dan kembalinya Yesus Kristus ke bumi dalam waktu dekat.

Perwira tersebut juga melaporkan bahwa sang komandan menyatakan, “Presiden Donald Trump telah diurapi oleh Yesus untuk menyalakan api sinyal di Iran guna memicu Armageddon dan menandai kembalinya-Nya ke bumi.” Di samping itu dalam beberapa kesempatan, elit politik Yahudi bicara tentang ambisi membentuk “Greater Israel” (Israel Raya), gagasan wilayah Israel yang mencakup area yang lebih luas (merujuk pada wilayah dalam Tanakh seperti dari Sungai Nil sampai Efrat).

Semua ini menunjukkan permusuhan ini melampaui batas negara Iran; Ini adalah pertarungan antara Haqq (kebenaran) dan Batil (kesesatan), sebuah perang salib modern, benturan peradaban. Hanya dengan berdirinya Khilafah, delusi Hegseth akan bisa dilawan. Delusi yang dia kira bisa mencegah janji Allah Subhanahu wa ta'ala.

Umat Islam sudah seharusnya meyakini kabar gembira akan kembalinya Khilafah ala minhajin nubuwah. Semua upaya mereka untuk membendung kembalinya Khilafah, untuk memadamkan cahaya Islam, akan gagal. Sebagaimana firman Allah SWT: “Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai” QS At-Taubah: 32. Allahu Akbar. []Farid Wadjdi

Address

Jepara

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Majelis Surga Jepara posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share