Pura Penataran Ped Nusasari

Pura  Penataran Ped Nusasari Pesimpangan dalem penataran ped banjar nusasari,desa pekraman nusasari, kecamatan melaya kabupaten j

Ngelanglang tapakan ida betara pura penataran ped nusasari 15 April 2017
16/04/2017

Ngelanglang tapakan ida betara pura penataran ped nusasari 15 April 2017

RAHAJENG RAHINE PAGERWESIHari Raya Pagerwesi jatuh setiap Rabu Kliwon wuku Sinta. Hari ini dirayakan untuk memuliakan Id...
25/01/2017

RAHAJENG RAHINE PAGERWESI

Hari Raya Pagerwesi jatuh setiap Rabu Kliwon wuku Sinta. Hari ini dirayakan untuk memuliakan Ida Sanghyang Widhi Wasa dengan manifestasinya sebagai Sanghyang Pramesti Guru (Tuhan sebagai guru alam semesta).

Memahami Mitology dan Simbolis Dewa GaneshaMitologi tentang Dewa GanesaGanesa adalah dewa ilmu pengetahuan. Dalam pewaya...
24/01/2017

Memahami Mitology dan Simbolis Dewa Ganesha

Mitologi tentang Dewa Ganesa

Ganesa adalah dewa ilmu pengetahuan. Dalam pewayangan disebut Batara Gana, merupakan salah satu putra Batara Guru (Siwa). Gana diwujudkan berkepala gajah dan berbadan manusia. Dalam pewayangan ia tinggal di kahyangan istananya disebut Glugu Tinatar.
Ganesha
Kenapa Beliau berkepala gajah ?
Dalam kitab Siwa Purana dikisahkan, suatu ketika Dewi Parwati (istri Dewa Siwa) ingin mandi. Karena tidak ingin diganggu, ia menciptakan seorang anak laki-laki dan diberi nama Ganesa. Ia berpesan agar anak tersebut tidak mengizinkan siapapun masuk ke rumahnya selagi Dewi Parwati mandi dan hanya boleh melaksanakan perintah Dewi Parwati saja. Perintah itu dilaksanakan Ganesa dengan baik.
Alkisah Dewa Siwa hendak masuk ke rumahnya, namun Beliau tidak dapat masuk karena dihadang oleh anak kecil yang menjaga rumahnya. Ganesa melarangnya karena ia melaksanakan perintah Dewi Parwati. Dewa Siwa menjelaskan bahwa ia suami dewi Parwati dan rumah yang dijaga ganesa adalah rumahnya juga. Namun Ganesa tidak mau mendengarkan perintah Dewa Siwa, sesuai dengan perintah ibunya untuk tidak mendengar perintah siapapun.
Akhirnya Dewa Siwa kehabisan kesabarannya dan bertarung dengan Ganesa. Pertarungan amat sengit sampai akhirnya Dewa Siwa menggunakan Trisulanya dan memenggal kepala Ganesa.
Ketika dewi Parwati selesai mandi, ia mendapati putranya sudah tak bernyawa. Ia marah kepada suaminya dan menuntut agar anaknya dihidupkan kembali. Dewa Siwa tersadar akan perbuatannya dan ia menyanggupi permohonan istrinya.
Atas saran Dewa Brahma, Beliau mengutus abdinya, Gana, untuk memenggal kepala makhluk apapun yang dilihatnya pertama kali yang menghadap ke utara. Ketika turun ke dunia, Gana mendapati seekor gajah dengan kepala menghadap utara. Kepala gajah itu pun dipenggal untuk mengganti kepala Ganesa.
Akhirnya Ganesa dihidupkan kembali oleh Dewa Siwa dan sejak itu diberi gelar Dewa keselamatan. Menyelamatkan seseorang sebelum ia memulai pekerjaanya, dengan memuja-muja Beliau
Makna Tikus Sebagai Wahana Dewa Ganesha
Sri Ganesha yang duduk dengan asananya sendiri yang kendaraanNya adalah tikus. Marilah kita memaknai arti dari kendaraan/wahanaNya Sri Ganesha yang unik ini.

“Tikus adalah kendaraan Vinayaka. Apa makna batiniah dari Tikus? Tikus memiliki indra penciuman yang tajam. Tikus adalah simbol dari lampiran kecenderungan duniawi (vaasanas). Telah diketahui bahwa jika Anda ingin menangkap tikus, Anda meletakkan berbau kuat yang dapat dimakan di dalam perangkap tikus. Tikus juga melambangkan kegelapan malam. Tikus dapat melihat dengan baik dalam kegelapan. Sebagai kendaraan Vinayaka, tikus menandakan sebuah bentuk yang menuntun manusia dari kegelapan kepada cahaya. Dengan demikian, berarti bahwa yang menghilangkan semua sifat-sifat buruk, dari segala kegiatan dan pikiran buruk kemudian akan menanamkan sifat-sifat baik menjadi berkelakuan baik dan berpikiran yang baik. ”
“Siapa Vinayaka? Dalam Sloka yang diawali dengan kata-kata,Suklaambaradharam Vishnum, hanya bentuk dewa digambarkan. Tetapi ada makna lain untuk nama “Vinayaka”. Suklaambaradharam berarti orang yang berpakaian putih. Vishnum berarti ia adalah segala-melingkupi. Sasivarnamberarti kulitnya berwarna abu-abu seperti abu. Chathurbhujam berarti ia mempunyai empat lengan. Prasannavadanam berarti dia selalu menyenangkan pikiran. Sarvavighnopasaanthaye berarti untuk menghilangkan semua hambatan.Dhyaayeth, meditasi (kepadanya). Vinayaka adalah dewa yang menghapus semua sifat-sifat buruk, menanamkan sifat-sifat baik dan menganugerahkan kedamaian pada hamba yang merenung kepadanya Vinayaka juga berarti bahwa ia benar-benar menguasai dirinya sendiri. Dia tidak memiliki master di atasnya. Dia tidak bergantung pada siapa pun. Ia juga disebut Ganapathi. Istilah ini berarti ia adalah penguasa yang ganas – suatu tingkatan kecemerlangan ilahi. Istilah ini juga berarti bahwa ia adalah penguasa intelek dan kekuasaan diskriminatif dalam manusia. Dia memiliki kecerdasan dan pengetahuan yang hebat. Pengetahuan seperti masalah dari pikiran murni dan suci. ”
“Apa makna esoteris gajah Ganesha kepala?” Gajah yang terkenal karena kecerdasannya. Kepala gajah Ganesha melambangkan ketajaman intelek dan kekuasaan tertinggi diskriminasi. Karena kemurnian inteleknya, Vinayaka juga disebut pemberi buddhi (intelek). Dia menjawab doa-doa umat dan oleh karenanya dikenal sebagai Siddhi Vinayaka ( memberikan apa yang dicari). Dalam sebuah hutan, ketika seekor gajah bergerak melalui hutan, ia membersihkan jalan bagi orang lain untuk mengikuti.Demikian juga, dengan menerapkan Ganesha, jalan akan dihapus untuk usaha kita. Kaki gajah begitu besar sehingga ketika ia bergerak dapat cap keluar dari jejak kaki hewan lainnya.Di sini, sekali lagi, makna simbolik adalah bahwa semua rintangan di jalan akan dihapus bila Ganesa diberikan tempat kehormatan. Perjalanan hidup dibuat lebih halus dan lebih bahagia dengan rahmat Ganesa. Ketika seekor gajah bergerak di antara semak-semak, dengan jalan setapak berubah menjadi bagian biasa untuk semua binatang. Dengan demikian sebuah pembuka jalan untuk semua binatang.
Demikian p**a, Ganesha membersihkan jalan menuju ke Kebijaksanaan, Akal, dan akan memunculkan kebahagiaan dari dalam.
Ganesha memiliki dua Siddhis (simbolis digambarkan sebagai istri atau selir): Siddhi (keberhasilan) dan Riddhi (kemakmuran). Dimana ada Ganesha disana ada Sukses dan Kesejahteraan ~ Dimana ada Sukses dan Kesejahteraan ….akan ada adalah Sri Ganesh.
Arti Lambang Dan Simbol Dewa Ganesha :
hindu-quotes-6
Ganesha adalah simbol Sang Hyang Widhi yang berkepalakan seekor gajah diceritakan bahwa Ganesha adalah anak dari bhatara guru atau bhatara siva. Beliau merupakan lambang kecerdasan kebijaksanaan, lambang dewa yang mampu dipuja untuk menyelesaikan segala rintangan, ini dapat dilihat pada perlambangnya yang menggunakan simbol gajah sebagai binatang terbesar dan tanpa ada yang berani melawannya.
Ganesha sebagai artian filosofi dapat dilihat pada bagian ini :
Ganesha, sosok Dewa berbadan gemuk dan berkepala gajah ini sudah tidak asing lagi dalam kehidupan kita sehari-hari. Ganesha menjadi ikon/simbol lembaga-lembaga penting, sekolah-sekolah, atau pusat studi sebagai simbol ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan.
Ganesha telah menjadi begitu populer, dan kepopulerannya tidak hanya pada kalangan Hindu, tetapi telah merambah dunia secara keseluruhan. Seluruh umat, dari Hindu, Islam, Kristen, hingga Budha melihat Ganesha sebagai sosok mahluk lucu dan unik.
Ganesha memiliki kepala yang besar dengan dua telinga besar dan mata yang sipit. Kepala besar melambangkan kita sebagai manusia seharusnya lebih banyak menggunakan akal daripada fisik dalam memecahkan masalah. Sedangkan mata yang sipit berarti konsentrasi. Pikiran harus diarahkan ke hal-hal positif untuk memperbaiki daya nalar dan pengetahuan.
Ganesha juga memiliki dua telinga besar yang mengajarkan supaya kita mendengarkan orang lain lebih banyak. Kita selalu mendengar, tetapi jarang sekali kita mendengarkan orang lain dengan baik: “Dengarkan ucapan-ucapan yang membersihkan jiwa dan seraplah pengetahuan dengan telingamu.”
Ganesha mematahkan satu gadingnya untuk menggurat Kitab Suci di atas daun tal. Satu gading berarti kesatuan. Simbol ini menyarankan manusia hendaknya bersatu untuk satu tujuan mulia & suci.
Lantas, Ganesha juga memiliki mulut yang kecil dan hampir tidak kelihatan karena tertutup belalainya yang dengan rakus ”menghirup rasa” manisan susu ilmu di tangannya. Mulut yang kecil itu mengajarkan agar kita mengontrol gerak mulut dan lidah. Maksudnya adalah bahwa kita harus mengurangi pembicaraan yang tidak-tidak. Sementara belalai yang menjulur melambangkan efisiensi dan adaptasi yang tinggi.
Beralih ke badan Ganesha yang besar: Hal pertama yang kita lihat pastilah perutnya, karena perut itu memang buncit. Ganesha memang selalu dimanja oleh ibu Parvati, istri Siva sebagai anak kesayangan. Perut buncit melambangkan keseimbangan dalam menerima baik-buruknya gejolak dunia. Dunia diliputi oleh sesuatu yang berpasangan, yakni pasangan dua hal yang bertolak belakang. Ada senang, ada p**a sedih. Ada siang, ada p**a malam.
Ada wajah suram kesedihan di balik tawa riang kita. Dan sebaliknya, ada keriangan dan semangat dibalik kesenduan kita. Itulah hidup, dan kita harus menyadarinya.
Simbol Ganesha memegang sebilah kapak. Kapak berarti menumpas segala halangan dalam karya. Sementara itu, di tangan kiri Ganesha terdapat semangkuk manisan susu.
Terakhir, ada seekor tikus yang selalu berada di dekat Ganesha. Tikus, seperti sifat hewan aslinya, adalah hewan yang penuh nafsu mengigit. Ia memakan apa saja untuk memenuhi hasrat perutnya. Demikianlah tikus dijadikan lambang nafsu dalam figur Ganesha. Lalu mengapa tikus itu menjadi tunggangan Ganesha yang berbadan berat & tinggi ini?
Tikus, atau nafsu harus ditundukkan. Kita harus bisa menjadikan nafsu sebagai kendaraan sehingga kita dapat mengendalikannya, namun banyak manusia kini menjadi kendaraan dari nafsunya sendiri.
Filosofi dan pelajaran hidup, yang ternyata dapat kita petik dari kisah si Ganesh ini, antara lain:
1) Cerita Ganesha mengajarkan kita agar teguh memegang amanah. Lihatlah betapa Ganesha yang sudah berjanji untuk melaksanakan perintah ibu (angkat)nya, benar-benar teguh dan bertanggung jawab sekalipun ia harus kehilangan kepalanya.
2) Cerita Ganesha juga mengingatkan kita agar jangan cepat mengambil keputusan atau bertindak ketika pikiran dan perasaan masih sedang diliputi emosi. Lihatlah Bhatara Shiwa yang akhirnya juga menyesal karena terlanjur memenggal kepala si Ganesha.
3) Kita diingatkan agar tidak mudah menyalahkan orang lain ataupun berburuk sangka atas apa yang menimpa diri kita. Ganesha tidak pernah menyesali Dewi Parwati yang telah membuat kepalanya terpancung, dan juga tidak menyalahkan Bhatara Siwa yang memancung kepalanya.
4) Ganesh juga mampu membuang jauh-jauh rasa dendam dalam hatinya atas apa yang telah terjadi dan menimpa dirinya.
5) Ganesha bekerja tanpa pamrih, walaupun fasilitas yang diterima kadang-kadang kurang sesuai dengan yang seharusnya, ia tetap bekerja sebaik-baiknya dan tidak menuntut macam-macam.
6) Ganesha boleh saja wajahnya si buruk rupa, tapi tidak untuk hatinya.
7) Ganesha mengajarkan agar hidup itu tetap dijalankan dengan ceria dan optimisme, dan berbuat yang terbaik sesuai kemampuan kita walaupun kita punya keterbatasan, baik keterbatasan fisik, pikiran, tenaga ataupun harta.
8) Ganesha mengajarkan agar kita tidak mudah menyerah, apalagi rendah diri dengan kekurangan yang ada, tetapi justru mengoptimalkan potensi yang dimiliki, tanpa perlu merasa sombong, hebat atau benar sendiri.
9) Ganesha juga mengajarkan bagaimana menjadi orang yang selalu berbuat baik dan bermanfaat bagi orang lain, dimanapun ia berada.
MAKNA SIMBOL GANESA
Ganapati digambarkan sebagai manusia berkepala gajah untuk menunjukkan kesatuan mahluk kecil (manusia) sebagai mikro kosmos dengan Yang Maha Agung sebagai makro kosmos. Gajah yang berkepala besar juga adalah simbol dari manusia yang seharusnya mempunyai volume otak yang besar dalam artian mempunyai kemampuan intelektual yang tinggi.
Telinga yang lebar adalah simbol laksana kebijaksanaan untuk banyak mendengarkan. Bagi para pelajar mendengarkan ucapan guru, bagi pemimpin mendengar pendapat bawahannya, bagi para cendekiawan mendengarkan kritik atau pendapat orang lain. Semuanya untuk didengar, dipikirkan, dan dipertimbangkan untuk mengambil langkah selanjutnya.
Berbelalai yang panjang, maknanya dapat memanfaatkan kemampuan yang ada untuk segala keperluan.Patung Ganesa ada yang belalainya menjulur ke kanan disebutWalamburi, dan ada yang menjulur kekiri, disebut Idamburi. Yang menjulur di tengah tidak diberi nama, karena dianggap sesuatu yang normal.
Taring yang patah menyebabkan Ganesa juga disebut sebagai Ekadanta artinya yang bertaring satu. Taring yang patah adalah taring yang di sebelah kanan merupakan simbul pendukung kehidupan yang sejati (berwujud nyata) yang melenyapkan ilusi, sehingga kedua taring itu yang patah dan ynag utuh adalah simbul kesatuan antara yang berwujud dan yang tidak berwujud.
Ganesa berbadan gemuk dengan perut yang buncit, melambangkan semua manifestasi Hyang Widhi ada di dalam diri-Nya.
Ganesa mengendarai tikus (musaka) simbol Atman (roh) yang menguasai semua bentuk perwujudan mahluk hidup.
Sikap tangan Ganesa yang memberikan anugerah (varamudra) sebagai tanda Ia yang memenuhi segala keinginan. Tangan lain yang bersikap mengusir kecemasan (abhayamudra) juga menolak segala halangan, bahaya, dan penderitaan. Sikap tangan yang membawa tali penjerat sebagai simbol penguasaan alam semesta oleh Hyang Widhi dan Ia juga mengatasi kehancuran (moha).
Bertangan empat, simbol penguasaan Catur Veda, penguasaan empat unsur alam semesta, atau segala penjuru alam semesta.
Menduduki tengkorak (kapala) artinya sebagai keluarga Siva (Dewa pralina).
Ciri lain dari Ganesa sebagai putra Dewa Siva adalah penggunaan permata di kening yang disebut sebagai trinetra atau cudamani yaitu mata ketiga Dewa Siva, lembu Nandini sebagai kendaraan Siva, dan Ular sebagai senjata Siva, serta hiasan candrakapala pada gelungan rambut/ mahkotanya.
Sumber : Mantrahindu

https://desaselumbung.wordpress.com/2015/12/02/memahami-mitology-dan-simbolis-dewa-ganesha/

NANGLUK MERANA Nangluk Merana Sasih Kanem dan Mitos Ida Ratu Gde MacalingSaat Sasih Kanem umumnya desa-desa di Bali Sela...
28/12/2016

NANGLUK MERANA

Nangluk Merana Sasih Kanem dan Mitos Ida Ratu Gde Macaling

Saat Sasih Kanem umumnya desa-desa di Bali Selatan menggelar upacara nangluk merana. Awam memahami upacara ini sebagai ritual untuk mengusir hama dan memohon anugerah Ida Ratu Gede Macaling, penguasa laut selatan yang berstana di Pura Penataran Ped, Nusa Penida, agar dijauhkan dari segala jenis penyakit.

Biasanya, upacara nangluk merana dilaksanakan saat Tilem Kanem yang saat ini jatuh pada kamis, 10 Desember 2015 . Namun, ada juga yang memilih melaksanakan upacara nangluk merana Kajeng Klwion Enyitan atau Kajeng Kliwon Uwudan Sasih Kanem..

Upacara nangluk merana umumnya dilaksanakan krama subak di seluruh Bali. Upacara dilaksanakan di pura-pura yang berstatus sebagai pura subak, terletak di tepi pantai. Karena itu p**a, upacara nangluk merana biasanya terkonsentrasi di P**a Watu Klotok, Pura Masceti, Pura Erjeruk, Pura Petitenget, Pura Rambut Siwi, Pura Tanah Lot, dan pura-pura sejenisnya.

Selain dilaksanakan oleh krama desa adat, upacara ini juga dilaksanakan oleh seluruh pengusaha di bali yang memiliki tempat pemujaan Hindu. Desa adat bakal menyediakan tirtha serta kober caru ganapati.

Namun, ritual nangluk merana semestinya dimaknai menyelusup jauh pada laku diri. Nangluk merana sebagai ritual menjaga keseimbangan alam semestinya ditindaklanjuti dengan laku diri secara nyata untuk menjaga lingkungan. Tak perlu yang berat-berat, mulailah dengan cara-cara teramat sederhana: jangan membuang sampah sembarangan, jaga kebersihan selokan, bersihkan sungai dan lainnya. Jika sudah begitu, tentu penyakit dengan sendirinya tak berani mendekat. Itulah anugerah paling nyata dari Ida Ratu Gde Mecaling.

Berdasarkan sumber yang di baca, Pelaksanaan Nangkluk Merana yang dilakukan masyarakat telah ada sejak zaman Rsi Markandya. Makna dan fungsinya sangat jelas untuk melaksanakan keselamatan lahir dan batin. Semua itu ada dalam sastra Lontar Purwaka Bumi. Di samping itu tujuan ritual tersebut juga untuk memohon berkah kesuburan. Terlebih lagi, dalam pergantian sasih ini harus dimaknai dengan baik, dilaksanakan dengan lascarya, ngaturan bakti dan banten, memohon keselamatan agar terjadi penetralan kesimbangan sesuai dengan ajaran dan Lontar Cuda Mani.

Mengacu pada sumber sastra lainnya, dalam hubungan dengan upacara nangluk merana di antaranya bersumber dari Purana Bali Dwipa. Pada intinya sumber itu mengatakan, ketika Raja Sri Aji Jayakasunu mendapat petunjuk dari Hyang Maha Kuasa berbunyi sebagai berikut: “Malih aja lali ring tatawur ring sagara, manca sanak, nista Madhya, uttama, nangken sasih kanem, kapitu, kaulu, pilih tunggil wenang maka panangluk mrana aranya. Yan sampun nangluk mrana, gring tatumpur tikus, walang sangit, mwah salwiring mrana ring desa, mwang ring sawah tan pa wisya, apan sampun hana labanya, wetning salwiring mrana saking samudra datengnya.”

Artinya, Dan jangan lupa melaksanakan kurban (tawur) di laut amanca sanak, tingkat kecil, sedang, utama, tiap-tiap bulan Desember, Januari, Februari salah satu di antaranya dapat dipilih untuk dilaksanakan sebagai penolak hama dan bencana. Bilamana sudah melaksanakan upacara nangluk merana, penolak hama dan penyakit di sawah, maka tikus walang sangit, segala bentuk hama di tingkat desa maupun sawah tidak akan berbahaya, karena sudah dibuatkan upacara. Oleh karena segala wabah dari laut sumbernya.

Kenapa Masyarakat Bali Memberi Perhatian Pada Saat Sasih Kenem?

Manusia Bali memberi perhatian khusus pada Sasih Kanem. Sasih Kanem kerap kali paling ”ditakuti”. Sasih Kanem dimaknai awam sebagai awal merebaknya aneka penyakit atau pun hama. Banyak orang jatuh sakit. Begitu juga tanaman tak sedikit yang rusak dimakan hama.

Memang, dalam tradisi wariga Bali, Sasih Kanem merupakan saat Dewi Durga beryoga. Sasih Kanem juga berada dalam naungan kuasa Batara Guru (Siwa). Kini, Dewa Siwa tengah menguasai arah barat daya.

Bila saat sasih Kanem terjadi gempa bumi, ramalan tradisional Bali menyebutkan akan banyak orang susah menjalani hidup. Manusia menjadi liar. Karena itulah, Anda diingatkan untuk waspada berbicara. Jika sampai pembicaraan Anda membuat telinga orang panas, keributan akan mudah tepantik. Bencana alam pun biasanya mengintai dan pencuri bergentayangan tanpa rasa takut.

Secara faktual, Sasih Kanem merupakan musim pancaroba, peralihan dari musim kemarau ke musim hujan. Hujan yang turun pada Sasih Kanem lebih lebat dari pada hujan saat Sasih Kalima. Musim pancaroba tentu saja berdampak pada kondisi alam. Pada akhirnya, kondisi alam yang berubah itu berakibat juga pada kondisi manusia. Jika daya tahan tubuh tidak cukup kuat, maka sakit akan amat mudah menghampiri. Lantaran hujan mulai turun, udara mulai terasa lembap. Matahari kerap p**a terselimuti mendung. Akibatnya suhu udara menjadi gerah. Kondisi ini tentu mudah memicu sakit flu, demam atau pun batuk-batuk.

Terlebih lagi, pada Sasih Kanem ini, lalat kian berbiak saja. Lalat merupakan salah satu spesies penyebar penyakit. Pasalnya, lalat dengan mudah hinggap di tempat-tempat paling kotor tetapi juga pada saat yang tidak lama bisa dengan mudah hinggap di tempat makanan.

Karena itu,sangat penting artinya memperhatikan kebersihan lingkungan sepanjang Sasih Kanem ini. Sanitasi mesti dijaga agar benar-benar bersih. Jangan juga membiarkan makanan terbuka hingga mudah dihinggapi lalat.

Pada Sasih Kanem bukan hanya manusia dan hewan yang mudah terserang penyakit. Tanam-tanaman juga amat gampang dirajam hama sepanjang Sasih Kanem ini. Karenanya, pada Sasih Kanem orang Bali biasanya melaksanakan upacara nangluk merana, upacara mengusir hama.

Akan tetapi, Sasih Kanem juga merupakan saat tepat untuk mulai meladang. Hujan pertama Sasih Kanem akan menyegarkan Ibu Bumi. Sang pengabdi Ibu Bumi, para petani, para peladang biasanya akan mencangkuli tanah pada Sasih Kanem.

Namun, untuk melaksanakan upacara yadnya yang direncanakan (ngewangun) semisal upacara pawiwahan (pernikahan), ngaben maupun ngenteg linggih, umumnya akan menghindari Sasih Kanem. Anda disarankan untuk menunda dulu upacara-upacara tersebut minimal sebulan dengan mencari Sasih Kapitu. Yang paling baik, disarankan mencari Sasih Kadasa. Sasih Kanem biasanya dijadikan saat tepat untuk melaksanakan upacara bhuta yadnya, seperti macaru. sasih karo baik untuk pitra yajña, sasih caitra baik untuk bhuta yajña. Sasih kapat dan kadasa baik untuk upacara dewa yajña, sehingga saat purnamaning kapat dan kadasa kita melihat umat Hindu melaksanakan upacara odalan pada pura-pura besar seperti : khayangan jagat, sad khayangan, dang khayangan, khayangan tiga dan sebagainya. Masih banyak lagi padewasan memperhitungkan ala ayuning sasih.

Semoga artikel ini dapat bermanfaat untuk semeton. Jika ada penjelasan yang kurang lengkap atau kurang tepat. Mohon dikoreksi bersama. Suksma…

04/10/2016

Pasupati tapakan

17/09/2016

Nglangnglang ring pura penataran ped nusasari

18/08/2016

Inilah Alasannya Dilarang Gunakan Saput Poleng Jika Sembahyang di Pura Penataran Ped Lika Putri Add Comment Wednesday, August 17, 2016       Pura Dalem Ped, Nusa Penida (nyoman ivandita/ www.flickr.com) PuraPenataran Ped yang memiliki daya tarik tersendiri adalah Pura Ratu Gede. Pura ini dipercaya s...

Address

Desa Nusasari, Melaya, Jembrana/
Jembrana
82252

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Pura Penataran Ped Nusasari posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category