09/11/2023
Bismillaahirrohmaanirrohiim Bacalah Alqur'an Niat Lillaahita'ala.
Pilu Nabi Muhammad Shollallohu 'Alaihi Wasallam Kepada anak Yatim Terlantar Karena Diusir oleh Bapak Tirinya.
KHAZANAH ISLAM – Di suatu hari raya Rosulullah Shollallohu 'alaihi wasallam keluar rumah untuk melaksanakan shalat Idul Fitri.
Sementara anak-anak kecil tengah bermain riang gembira di jalanan.
Tetapi tampak seorang anak kecil duduk menjauh berseberangan dengan mereka.
Dengan pakaian sangat sederhana dan tampak murung, ia menangis tersedu.
Melihat fenomena ini Rosululloh segera menghampiri anak tersebut.
“Nak, mengapa kau menangis?..
Kau tidak bermain bersama mereka?” membuka percakapan.
kecil yang tidak mengenali bahwa orang dewasa di hadapannya adalah Rosululloh , anak itu
menjawab,
“Paman, ayahku telah wafat.
Ia mengikuti Rosululloh dalam menghadapi musuh di sebuah pertempuran.
Tetapi ia gugur dalam medan perang tersebut.”...
Rosululloh Shollallohu 'alaihi Wasallam terus mengikuti cerita anak yang murung tersebut.
Sambil meraba ke mana ujung cerita,
Nabi mendengarkan dengan seksama rangkaian peristiwa dan nasib malang yang menimpa anak tersebut.
“Ibuku menikah lagi,
Ia memakan warisanku,
peninggalan ayah.
Sedangkan suaminya mengusirku dari rumahku sendiri.
Kini aku tak memiliki apa pun. Makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal.
Aku bukan siapa-siapa.
Tetapi hari ini,
aku melihat teman-teman sebayaku merayakan hari raya bersama ayah mereka.
Dan perasaanku dikuasai oleh nasib kehampaan tanpa ayah.
Untuk itulah aku menangis.”
Mendengar penuturan ini, batin Rasulullah terenyuh.
ada anak-anak yatim dari sahabat yang gugur membela agama dan Rasulnya di medan perang mengalami nasib malang begini.
Kemudian...
Rosulullah segera menguasai diri. yang duduk berhadapan dengan anak ini segera menggenggam lengannya.
“Nak, ?
dengarkan baik-baik.
Apakah kau sudi ,
bila aku menjadi ayah mu,
Aisyah menjadi ibumu,
Ali sebagai paman,
Hasan dan Husein sebagai saudaramu,
dan
Fatimah sebagai saudarimu?”
tanya Rosululloh.
tawaran itu,
anak ini mengerti seketika,
bahwa orang dewasa di hadapannya tidak lain adalah Nabi Muhammad Shollallohu 'Alaihi Wasallam.
yatim tersebut...menjawab:
“Kenapa tak sudi, ya Rosululloh?”
jawab anak ini dengan senyum terbuka.
Rosululloh kemudian membawa anak angkatnya pulang ke rumah.
sana anak ini diberikan pakaian terbaik.
Ia dipersilakan makan hingga kenyang.
Penampilannya diperhatikan lalu diberikan wangi-wangian.
beres semuanya,
ia pun keluar dari rumah Rosululloh dengan senyum dan wajah bahagia.
perubahan drastis pada anak ini,
para sahabatnya bertanya.?
“Sebelum ini kau menangis.
Tetapi kini kau tampak sangat gembira?” kata teman temannya,...
Yatim itu menjawab:
“Benar sahabatku....
Tadinya aku lapar, ?
Tetapi lihatlah, !?
Sekarang tidak lagi.
Aku sudah kenyang.
Dulunya aku memang tidak berpakaian yang layak ..,
Tetapi kini lihatlah. ?!
Sekarang aku mengenakan pakaian bagus.
Dulu memang aku ini yatim, tetapi sekarang aku memiliki keluarga yang sangat perhatian.
anak Yatim itu......
menjelaskan kepada teman temanya...".
Bahwa,
Rosululloh SAW ayahku, ...
Aisyah ibuku, ...
Hasan dan Husein saudaraku,..
Ali pamanku,....
dan Fatimah adalah saudariku...
Apakah aku tidak bahagia?”
Penjelasan itu ,
Teman temannya, "mereka" tampak menginginkan nasib serupa.
Seraya berkata: “Aduh, ...
cobalah ayah kita juga gugur pada peperangan itu sehingga kita juga diangkat sebagai anak oleh Rosululloh Shollallohu 'Alaihi Wasallam.”
***
Waktu terus berjalan.
Usia semakin bertambah. Kebahagiaan anak ini pun lenyap ketika selang beberapa tahun setelah itu , Rosululloh Shollallohu 'alaihi wasallam meninggal dunia.
Dan ...
Meratapi kepergian ayah angkat paling mulia ini,
ia keluar rumah seraya menaburkan debu di atas kepalanya.
“Celaka,
sungguh celaka.
Kini aku kembali terasing.
Aku bukan siapa-siapa lagi.
Aku kini menjadi yatim.
Sepi,” ...katanya terisak.
Kemudian,
Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq yang menyaksikan anak ini segera memeluknya.
Dan,
Sayyidina bu Bakar kemudian mengambil alih pengasuhannya… Wallohu 'alam.
***
Kisah ini dikutip dari Durratun Nashihin karya Syekh Usman bin Hasan bin Ahmad Syakir Al-Khubawi, tanpa tahun, Surabaya.