Deary muslimah

Deary muslimah menitipkan rasa pada kata,
agar yang sunyi pun punya cerita. 🌙 Renungan islami

15/08/2026

19.39 wib
Aku bukan merasa lagi. Tapi memang sdg jauh dariNya.
Lingkungan ku terlalu kapitalis. Hampir Ga lagi ada batasan. Ini udah jauh dari aku yg dulu. Aku sedikit² sudah terbawa suasana. Suasana yg terlalu kapitalis yang kata mereka realistis.

Aku takut hati ku menjadi mati rasa. Karena aku ga pernah lagi ngulang kajian ku yg selama ini ku pelajari ttg tauhid, fiqih, dll. Sangat jarang murojaah. Jangankan murojaah membaca Al-Qur'an hbis magrib pun aku hampir tidak pernah. Dan dzikir pagi petangpun udah kelewat.

Yah mgkin lingkungan kerjaku. Tinggal di kota juga. Jam kerja yg kadg ga beraturan. Dan juga teman² yg memang tak mengingat TPI mengajak untuk melakukan hal² yg mungkin dilarang syariat kayak pacaran dan mereka bilang akuu terlalu kaku dan kuno karena ga pernah pacaran. Bahasa yg kurang enak di dengar.
Aku juga sehari² dengerin musik pake speaker di kantor menggosipin org² juga. Dan kerja sampai hampir lupa waktu sholat.
Aku juga burnout parah. sering begadang. Bahkan subuh pun kesiangan.

Aku capekk lelah. Dan aku takut... hatiku terasa hampa.
Mgkin mereka mengira aku bahagia dg ajakan mereka untuk ikut nongkrong. Pulang larut hanya sekedar membuang-buang waktu yang mereka bilang refreshing dg hidangan makanan ya wah.
Aku terbawa arus. Aku ikut mereka sebagaimana anak kota gaul.
TPI ya ku akui urusan dunia mereka semua hebat, mereka sangggtttt baik klau ttg dunia. TPI aku juga butuh ttg akhirat.

Aku hampa. Aku krg s**a. TPI aku ga punya teman yg selalu mengingatkan ku seperti dulu lagiii. Aku rindu mereka sahabatku yang dulu.

Ya Allah help me please. Tolong Engkau jaga Iman hamba.
(يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ)
"Wahai Zat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu"

PKL, 20.28 Wib.Akhir-akhir ini aku sering bertanya kepada diriku sendiri, "Sebenarnya aku sedang mengejar apa?"Aku perna...
31/07/2026

PKL, 20.28 Wib.

Akhir-akhir ini aku sering bertanya kepada diriku sendiri, "Sebenarnya aku sedang mengejar apa?"

Aku pernah datang dengan harapan sederhana. Ingin belajar, bekerja dengan baik, lalu suatu saat melangkah ke tempat yang memang ingin kutuju. Tapi hidup ternyata punya alurnya sendiri. Semakin hari, aku justru semakin terlibat, semakin dipercaya, bahkan ikut menjadi bagian dari sesuatu yang besar. Dari luar mungkin terlihat seperti sebuah kesempatan. Namun di dalam hati, ada bagian dari diriku yang masih bertanya, "Apa ini benar-benar jalan yang kuinginkan?"

Banyak orang melihatku baik-baik saja. Mereka melihat aku bekerja, tersenyum, menjalankan tanggung jawab. Padahal, hanya Allah yang tahu berapa kali aku p**ang dengan hati yang lelah. Bukan karena pekerjaannya, tetapi karena aku merasa menjadi seseorang yang berbeda dari diriku sendiri.

Aku rindu menjadi diriku yang dulu. Diriku yang lebih tenang. Diriku yang tidak terlalu banyak menangis dalam diam. Diriku yang lebih dekat dengan Allah, yang menjalani hari tanpa begitu banyak beban di dada.

Aku sering merasa bersalah. Bersalah kalau ingin pergi. Bersalah kalau bertahan. Bersalah kalau mengecewakan orang lain. Sampai-sampai aku lupa bertanya, "Bagaimana dengan diriku sendiri?"

Mungkin itulah yang paling melelahkan. Bukan pekerjaannya. Bukan tanggung jawabnya. Tapi terus-menerus berperang dengan isi kepala dan hati sendiri.

Aku ingin pergi, tetapi rasa tidak enak menahanku. Aku ingin bertahan, tetapi hatiku semakin lelah. Aku berdiri di antara dua pilihan yang sama-sama membuatku menangis.

Entah sampai kapan cerita ini akan berlangsung. Yang aku tahu, aku masih berusaha menjalani semuanya sebaik mungkin. Meski sering kali aku merasa rapuh, aku masih percaya bahwa Allah tidak pernah salah menulis takdir hamba-Nya.

Barangkali hari ini aku masih berada di tempat yang tidak benar-benar kuinginkan. Namun aku berharap, suatu hari nanti aku akan menoleh ke belakang dan berkata,

"Terima kasih, ya Allah. Ternyata semua kebingungan, tangis, dan penantian ini bukan untuk menghancurkanku. Semuanya hanya sedang mengantarkanku menuju tempat yang memang telah Engkau siapkan untukku."

00.26 WIBAku seperti langit malam yang memeluk bulan dengan hati-hati, namun tetap tak mampu menghalangi awan datang men...
02/06/2026

00.26 WIB

Aku seperti langit malam yang memeluk bulan dengan hati-hati, namun tetap tak mampu menghalangi awan datang menutup cahayanya.

Di antara bintang-bintang yang berkilauan, ada sesal yang menggantung seperti kabut tipis, membuat dadaku redup meski malam tampak baik-baik saja.

Aku menatap bulan yang tenang itu, lalu menemukan diriku di sana tetap bersinar dari luar, tetapi diam-diam dipenuhi luka yang tak terdengar.

Malam berjalan perlahan, sementara hatiku masih tersangkut pada satu kejadian kecil yang tumbuh menjadi gerhana di dalam pikiranku.

Dan aku hanya bisa menjadi langit; membentangkan sunyi seluas mungkin, sambil menyimpan hujan yang tak sempat jatuh dari mata.

Ya Allah,,,,,
Sebagaimana Engkau menghadirkan bulan setelah gelapnya malam, hadirkanlah ketenangan setelah gelisah di hatiku.

Ampunilah kekuranganku, lembutkanlah hatiku, dan lembutkan p**a hati keluargaku.

Jadikanlah kami saling memahami, saling memaafkan, dan saling menyayangi karena-Mu.

Aamiin.

-Colotehan malam ku.

Address

Jayapura

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Deary muslimah posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share