28/05/2026
ISTRI TETAP BERHARGA MESKIPUN TIDAK PERNAH MELAHIRKAN?
Di banyak tempat, nilai seorang istri masih sering diukur dari satu hal: apakah ia sudah memiliki anak atau belum. Seolah-olah rahim menjadi penentu harga diri, dan kemampuan melahirkan menjadi ukuran keberhasilan seorang wanita. Akibatnya, tidak sedikit istri yang harus memikul beban yang berat. Mereka menghadapi pertanyaan yang tidak pernah berhenti, tatapan yang menghakimi, bisikan yang melukai, bahkan tekanan dari keluarga, lingkungan, atau suami sendiri. Seakan-akan kehidupan tanpa anak adalah kehidupan yang kurang berarti.
Namun, benarkah demikian?
Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa martabat seorang perempuan atau seorang istri ditentukan oleh kemampuannya melahirkan. Sejak awal, nilai manusia tidak pernah berasal dari apa yang dapat ia hasilkan, melainkan dari fakta bahwa ia diciptakan menurut gambar Allah. Di mata Tuhan, seorang perempuan tidak menjadi lebih berharga karena memiliki anak, dan tidak menjadi kurang berharga karena tidak memilikinya. Dunia sering menilai dari hasil yang terlihat, tetapi Tuhan melihat hati.
Ketika Alkitab mencatat kisah wanita-wanita mandul yang akhirnya melahirkan, fokus utama kisah itu bukanlah keberhasilan memiliki anak. Fokusnya adalah kesetiaan kepada Tuhan di tengah keadaan yang tidak dimengerti. Yang dipuji Alkitab bukan sekadar hasil akhirnya, tetapi iman yang tetap bertahan sebelum mujizat itu datang. Karena itu, seorang istri tidak menjadi mulia karena berhasil melahirkan. Ia menjadi mulia ketika hidupnya berkenan kepada Tuhan.
Amsal 31:30 berkata:
"Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji." Perhatikan bahwa ayat ini tidak berkata bahwa istri yang memiliki anak akan dipuji-puji. Yang dipuji adalah istri yang takut akan Tuhan.
Masyarakat bisa saja memberikan label yang kejam. Ada perempuan yang dianggap tidak lengkap karena belum memiliki anak. Ada yang dijadikan bahan pembicaraan, dipandang rendah, bahkan diperlakukan seolah-olah hidupnya kurang bernilai. Namun Tuhan tidak pernah memakai standar manusia dalam menilai seseorang.
Firman Tuhan berkata dalam 1 Samuel 16:7 bahwa manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.
Ketika Tuhan melihat hati seorang istri yang hidup dalam kekudusan, kesetiaan, kasih, dan takut akan Dia, dan di waktu yang sama Tuhan sedang melihat seorang wanita yang berharga, meskipun dunia tidak menghargainya.
Bahkan sering kali, justru di dalam penderitaan yang panjang kemurnian iman seorang istri terlihat. Ketika doanya belum dijawab, bahkan mungkin tidak dijawab seperti yang diharapkannya, ia tetap percaya kepada Tuhan. Ketika harapannya belum terwujud, ia tetap setia. Ketika banyak orang menghakimi dan merendahkannya, ia tetap mengasihi Tuhan. Di sanalah karakter yang mulia dibentuk, dan di sanalah iman seorang istri dimurnikan seperti emas di dalam api.
Istri yang takut akan Tuhan tidak menggantungkan identitasnya pada penilaian manusia. Ia tidak membutuhkan pengakuan dunia untuk mengetahui nilainya. Ia tidak mencari harga dirinya dari pujian manusia, sebab ia tahu bahwa kemuliaannya ada di dalam Tuhan.
Karena itu, kepada setiap istri yang belum memiliki anak, atau mungkin tidak akan pernah memiliki anak, dengarlah ini dengan jelas: Anda tidak kurang berharga. Anda tidak gagal sebagai wanita. Anda tidak kehilangan martabat Anda.
Nilai Anda tidak ditentukan oleh rahim yang bisa melahirkan, tetapi oleh hati yang takut akan Tuhan.
Sebab kehormatan seorang istri tidak ditentukan oleh kesuburan rahimnya, melainkan oleh kesetiaannya kepada Tuhan. Baik memiliki anak maupun tidak, ia tetap berharga ketika hidupnya berjalan dalam takut akan Allah.
[Pdt. Samuel Pasaribu