Departemen Sekolah Minggu PGBWP

Departemen Sekolah Minggu PGBWP Motto : Ajarlah Mereka ( Matius 28 : 20 )

28/05/2026

ISTRI TETAP BERHARGA MESKIPUN TIDAK PERNAH MELAHIRKAN?

Di banyak tempat, nilai seorang istri masih sering diukur dari satu hal: apakah ia sudah memiliki anak atau belum. Seolah-olah rahim menjadi penentu harga diri, dan kemampuan melahirkan menjadi ukuran keberhasilan seorang wanita. Akibatnya, tidak sedikit istri yang harus memikul beban yang berat. Mereka menghadapi pertanyaan yang tidak pernah berhenti, tatapan yang menghakimi, bisikan yang melukai, bahkan tekanan dari keluarga, lingkungan, atau suami sendiri. Seakan-akan kehidupan tanpa anak adalah kehidupan yang kurang berarti.

Namun, benarkah demikian?

Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa martabat seorang perempuan atau seorang istri ditentukan oleh kemampuannya melahirkan. Sejak awal, nilai manusia tidak pernah berasal dari apa yang dapat ia hasilkan, melainkan dari fakta bahwa ia diciptakan menurut gambar Allah. Di mata Tuhan, seorang perempuan tidak menjadi lebih berharga karena memiliki anak, dan tidak menjadi kurang berharga karena tidak memilikinya. Dunia sering menilai dari hasil yang terlihat, tetapi Tuhan melihat hati.

Ketika Alkitab mencatat kisah wanita-wanita mandul yang akhirnya melahirkan, fokus utama kisah itu bukanlah keberhasilan memiliki anak. Fokusnya adalah kesetiaan kepada Tuhan di tengah keadaan yang tidak dimengerti. Yang dipuji Alkitab bukan sekadar hasil akhirnya, tetapi iman yang tetap bertahan sebelum mujizat itu datang. Karena itu, seorang istri tidak menjadi mulia karena berhasil melahirkan. Ia menjadi mulia ketika hidupnya berkenan kepada Tuhan.

Amsal 31:30 berkata:
"Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji." Perhatikan bahwa ayat ini tidak berkata bahwa istri yang memiliki anak akan dipuji-puji. Yang dipuji adalah istri yang takut akan Tuhan.

Masyarakat bisa saja memberikan label yang kejam. Ada perempuan yang dianggap tidak lengkap karena belum memiliki anak. Ada yang dijadikan bahan pembicaraan, dipandang rendah, bahkan diperlakukan seolah-olah hidupnya kurang bernilai. Namun Tuhan tidak pernah memakai standar manusia dalam menilai seseorang.

Firman Tuhan berkata dalam 1 Samuel 16:7 bahwa manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.

Ketika Tuhan melihat hati seorang istri yang hidup dalam kekudusan, kesetiaan, kasih, dan takut akan Dia, dan di waktu yang sama Tuhan sedang melihat seorang wanita yang berharga, meskipun dunia tidak menghargainya.

Bahkan sering kali, justru di dalam penderitaan yang panjang kemurnian iman seorang istri terlihat. Ketika doanya belum dijawab, bahkan mungkin tidak dijawab seperti yang diharapkannya, ia tetap percaya kepada Tuhan. Ketika harapannya belum terwujud, ia tetap setia. Ketika banyak orang menghakimi dan merendahkannya, ia tetap mengasihi Tuhan. Di sanalah karakter yang mulia dibentuk, dan di sanalah iman seorang istri dimurnikan seperti emas di dalam api.

Istri yang takut akan Tuhan tidak menggantungkan identitasnya pada penilaian manusia. Ia tidak membutuhkan pengakuan dunia untuk mengetahui nilainya. Ia tidak mencari harga dirinya dari pujian manusia, sebab ia tahu bahwa kemuliaannya ada di dalam Tuhan.

Karena itu, kepada setiap istri yang belum memiliki anak, atau mungkin tidak akan pernah memiliki anak, dengarlah ini dengan jelas: Anda tidak kurang berharga. Anda tidak gagal sebagai wanita. Anda tidak kehilangan martabat Anda.

Nilai Anda tidak ditentukan oleh rahim yang bisa melahirkan, tetapi oleh hati yang takut akan Tuhan.

Sebab kehormatan seorang istri tidak ditentukan oleh kesuburan rahimnya, melainkan oleh kesetiaannya kepada Tuhan. Baik memiliki anak maupun tidak, ia tetap berharga ketika hidupnya berjalan dalam takut akan Allah.

[Pdt. Samuel Pasaribu

Renungan: Senin,18 Mei 2026        Oleh Pdt.Ithomy KogoyaBUKAN TIDAK ADA PENGAJARAN/FIRMAN  "Segala tulisan yang diilham...
18/05/2026

Renungan: Senin,18 Mei 2026
Oleh Pdt.Ithomy Kogoya

BUKAN TIDAK ADA PENGAJARAN/FIRMAN

"Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan, dan untuk mendidik orang dalam kebenaran." (2 Timotius 3:16).

Saudaraku yang dikasihi Tuhan dan saya kasihi di dalam Tuhan Yesus.

Kehidupan manusia penuh dengan konflik, pembunuhan, penindasan, dan berbagai bentuk kejahatan. Dengan fenomena seperti ini banyak orang bertanya: mengapa semua ini terjadi? mengapa para hamba Tuhan atau pemimpin rohani dari organisasi tertentu tidak mendidik Jemaat dengan baik Apakah Tuhan tidak memberi peringatan? Jawabannya jelas: bukan karena tidak ada Pengajaran firman, nasehat, melainkan karena manusia yang menolak pengajaran atau nasehat firman Tuhan itu. Firman Tuhan terus disampaikan melalui para hamba-Nya, tetapi hati yang keras dan pemberontakan membuat banyak orang menutup telinga terhadap suara kebenaran.

Firman Tuhan adalah pelita bagi kaki kita dan terang bagi jalan kita. Namun, ketika manusia memilih berjalan dalam kegelapan, akibatnya adalah kehancuran. Alkitab mencatat banyak contoh nyata: pertma,Saul yang menolak perintah Tuhan meski sudah diurapi sebagai raja, akhirnya ditolak oleh Tuhan. Kedua,Yudas Iskariot yang hidup bersama Yesus, mendengar pengajaran langsung, tetapi hatinya memberontak karena cinta uang.Ketiga,Bangsa Israel yang berulang kali menolak suara nabi-nabi, dan akhirnya menuai pembuangan serta penderitaan.

Namun, Alkitab juga menunjukkan sisi lain: orang yang mendengar Firman dan bertobat. Pertama,Daud yang setelah ditegur Nabi Natan, tidak menolak, melainkan bertobat dengan hati hancur (Mazmur 51).Kedua,Penduduk Niniwe yang setelah mendengar pemberitaan Yunus, segera berpuasa dan berdoa, sehingga Tuhan menahan hukuman. Ketiga,Rasul Paulus yang sebelumnya penganiaya jemaat, tetapi setelah bertemu Kristus di jalan ke Damsyik, bertobat dan menjadi rasul besar.

Konteks Zaman Sekarang.Di zaman modern ini, ketika terjadi konflik, peperangan, atau kejahatan, seringkali masyarakat langsung mempersalahkan para pemimpin rohani — gembala, pendeta, atau hamba Tuhan — seolah-olah mereka tidak pernah memberi nasehat tentang Pengajaran Firman Tuhan. Padahal, Firman Tuhan selalu disampaikan di dalam gereja,dimimbar -mimbar pesta rohani, melalui khotbah, pengajaran, dan pelayanan pastoral. Masalahnya bukan kurangnya nasehat, melainkan pada sikap hati jemaat yang menolak atau mengabaikan Firman atau suara Tuhan.

Semua anggota jemaat pasti mendengar Firman karena mereka semua dari gereja, bukan dari luar gereja. Tetapi apakah mereka sungguh melakukannya? Itulah pertanyaan yang harus dijawab dengan jujur. Firman yang didengar tanpa ketaatan hanya menjadi informasi, bukan transformasi. Maka, tanggung jawab setiap orang percaya adalah membuka hati, menerima Firman, dan menjadikannya pedoman hidup.

Kejahatan bukan karena tidak ada nasehat atau firman melainkan karena hati manusia yang keras menolak kebenaran. Firman Tuhan sudah disampaikan, tetapi apakah kita mau mendengar dan melakukannya? Janganlah kita menjadi orang yang hanya mendengar tetapi tidak taat, sebab itu sama saja dengan menolak Tuhan. Mari kita membuka hati, menerima Firman, dan menjadikannya pedoman hidup. Dengan demikian, kita bukan hanya pendengar, tetapi pelaku Firman yang membawa damai dan terang di tengah dunia yang gelap.

"Hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu." (Ibrani 3:15).

Selamat pagi,Tuhan Yesus memberkati kita sekalian.Waa..

Penulis:
Ketua Dep.PP & Misi PGBWP

16/05/2026

SETIAP MASALAH PUNYA JALAN KELUAR
BAGAIMANA CARA MENEMUKANNYA

Ada tiga kekuatan penting untuk menemukan jalan keluar dalam hidup.

1. Pandangan yang Luas

Orang yang terjebak di dalam masalah biasanya melihat hidup hanya dari satu titik: penderitaannya sendiri.
Ia merasa semuanya selesai.
Ia merasa tidak ada harapan.
Ia merasa dunia berhenti di masalah itu.

Padahal hidup lebih luas daripada satu kegagalan.
Lebih besar daripada satu pengkhianatan.
Lebih panjang daripada satu masa sulit.

Pandangan yang luas membuat engkau mampu melihat kemungkinan lain.
Mungkin pintu yang tertutup sedang mengarahkanmu ke pintu yang lebih benar.
Mungkin kehilangan sedang memaksamu bertumbuh.
Mungkin Tuhan sedang memindahkanmu dari tempat yang salah menuju tujuan yang lebih baik.

Burung elang tidak bisa melihat luas kalau kepalanya terus menunduk ke tanah.
Begitu juga manusia.
Selama pikiranmu hanya terkunci pada luka, maka engkau tidak akan melihat arah keluar.

Kadang masalah tidak membutuhkan kepanikan.
Masalah membutuhkan cara pandang yang lebih tinggi.

2. Roh Kepekaan

Tidak semua jalan keluar datang dengan suara keras.
Kadang jawabannya hadir lewat hal kecil yang sering diabaikan.
Lewat nasehat sederhana.
Lewat kesempatan kecil.
Lewat pertemuan dengan seseorang.
Lewat dorongan hati untuk berhenti, berubah, meminta maaf, atau memulai lagi.

Tetapi banyak orang kehilangan jalan keluar karena hati mereka terlalu ribut.
Emosi terlalu penuh.
Ego terlalu tinggi.
Amarah terlalu besar.

Roh kepekaan membuat engkau mampu membaca kehidupan dengan hati yang jernih.
Engkau mulai peka melihat mana jalan yang membangun dan mana yang menghancurkan.
Mana suara Tuhan dan mana suara emosi.
Mana langkah yang harus dilanjutkan dan mana yang harus dihentikan.

Kadang jalan keluar bukan tentang berlari lebih cepat, tetapi tentang berhenti sejenak dan mendengar dengan benar.

Karena orang yang peka tidak hanya melihat masalah dengan mata.
Ia melihat dengan hikmat.

3. Fokus pada Tujuan Menemukan Jalan Keluar

Banyak orang gagal keluar dari masalah karena mereka lebih fokus pada rasa sakit daripada tujuan keluar.

Mereka terus mengulang luka.
Mengulang cerita.
Mengulang kemarahan.
Mengulang kekecewaan.

Akhirnya energi habis untuk meratapi masalah, bukan menyelesaikannya.

Kalau engkau ingin keluar dari masalah, maka fokuslah pada tujuan: menemukan jalan keluar.
Bukan membesarkan luka.
Bukan memenangkan ego.
Bukan membalas sakit hati.

Orang yang fokus pada tujuan akan mulai bertanya: “Apa yang harus saya lakukan supaya hidup saya bergerak maju?”

Ia mulai berpikir jernih.
Mulai menyusun langkah.
Mulai memperbaiki diri.
Mulai memilih keputusan yang sehat.

Karena jalan keluar tidak selalu datang secara ajaib.
Kadang Tuhan menunjukkan jalan, tetapi manusia harus berjalan di atasnya.

Hidup ini keras.
Masalah akan tetap datang.
Tetapi jangan biarkan masalah lebih besar daripada cara berpikirmu.

Angkat kepala.
Luaskan pandangan.
Hidupkan roh kepekaan.
Dan fokuslah menemukan jalan keluar.

Sebab badai sebesar apa pun tidak pernah berlangsung selamanya.
Dan sekuat apa pun gelap, selalu ada celah tempat cahaya masuk.

Penulis : Ibu. Pdt. Nelince Wanna ( Konselor)

13/05/2026

Semoga kita semua adalah orang yang mudah mengampuni..
Sebab :

MENGAMPUNI BERPENGARUH BAGI KESEHATAN MENTAL.

Kadang yang paling melelahkan dalam hidup bukanlah pekerjaan, perjalanan, atau banyaknya aktivitas…
tetapi luka yang terus dibiarkan diam-diam di dalam hati. ❤‍🩹

Marah, kecewa, dendam, dan sakit hati yang disimpan terlalu lama tidak hanya melukai pikiran, tetapi juga perlahan memengaruhi tubuh.
Dalam dunia psikologi dan kesehatan, hati yang terus dipenuhi kemarahan membuat tubuh berada dalam keadaan “siaga dan tegang” terus-menerus. Hormon stres meningkat, tidur terganggu, pikiran gelisah, bahkan tubuh ikut merasakan dampaknya.

Jantung bekerja lebih keras karena tekanan emosi yang terus dipendam.
Hati dan ginjal ikut terbebani karena tubuh berada dalam kondisi stres berkepanjangan.
Tubuh mudah lelah, kepala sering berat, emosi mudah meledak, dan jiwa kehilangan damai.❤

Itulah sebabnya mengampuni sangat penting bagi kesehatan mental.
Mengampuni bukan berarti membenarkan kesalahan orang lain, bukan juga melupakan semua luka.

Mengampuni adalah melepaskan dirimu dari penjara rasa sakit yang terus mengikat batinmu.

Saat seseorang belajar mengampuni, perlahan pikirannya menjadi lebih tenang, tidur lebih baik, tekanan batin berkurang, dan tubuh ikut merasakan pemulihan. Hati terasa lebih ringan, napas lebih lega, dan jiwa mulai menemukan damai yang lama hilang.

Kadang pengampunan tidak langsung menghapus luka, tetapi pengampunan menghentikan luka itu menguasai hidupmu.

Mari belajar mengampuni…
bukan karena mereka pantas menerimanya,
tetapi karena dirimu pantas hidup dengan damai, sehat, dan tenang. 🌿

Penulis : Ibu Pdt. Wanna ( Konselor)

09/05/2026

TANDA & PENGAJARAN ITU SELALU MENYERTAI KITA
# # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # #

Kalau kita lihat sejarah, hampir semua nabi mengalami penolakan dari semua kalangan orang bahkan sampai orang dekatnya, karena ajarannya.

I. Kenapa nabi sering ditolak?

*1. Mengganggu status quo*
Nabi biasanya datang bawa ajaran yang merombak tatanan/aturan yang sudah ada. Mulai dari soal keadilan sosial, aturan organisasi gereja sampai kritik ke penguasa atau pemuka agama saat itu. Yang diuntungkan dan tergantung sama sistem yang lama jelas bakal menolak ajaran Nabi.

*2. Datang dari kalangan "biasa"*
Banyak nabi bukan dari keluarga raja atau bangsawan. Contohnya; Nabi Musa yang sempat jadi pelarian, atau Yesus yang anak tukang kayu. Masyarakat waktu itu susah menerima kalau "orang biasa" tiba-tiba bawa pewayuhan.

*3. Ajarannya dianggap aneh/baru*
Karena Nabi menyampaikan langsung kehendak Allah, mengadakan mukjizat, bernubuat, memutus kutuk dan pemulihan bangsa.
Ajaran itu dianggap baru dan beda itu menakutkan. Lebih gampang dicap sebagai "gila", "tukang sihir", Nabi palsu, antikris atau "pemecah belah".
sehingga melarang orang untuk ikut-ikutan.

II. BERIKUT INI TENTANG NABI-NABI DIDALAM PERJANJIAN LAMA & PERJANJIAN BARU

_Total ada 17 kitab nabi di Perjanjian Lama: 5 Nabi Besar & 12 Nabi Kecil._

1. Daftar lengkap & tema pengajaran utama

*Nabi Besar*
Yesaya – Nubuat soal kelahiran Mesias: "Seorang anak telah lahir" Yes 9:5. Mengajakan soal kekudusan Allah.

Yeremia – Dijuluki “nabi peratap” karena menangisi Yerusalem. Meajarkan perjanjian baru di hati, bukan di loh batu.

Yehezkiel – Banyak penglihatan simbolik. Mengajarkan tanggung jawab pribadi di hadapan Allah.
Daniel – Di pembuangan Babel. Ngajarin kesetiaan waktu dianiaya + nubuat akhir zaman.

*Nabi Kecil*
Hosea – Disuruh menikahi pelacur buat gambar kasih Allah ke Israel yang s**a selingkuh rohani.

Yoel – Nubuat soal pencurahan Roh Kudus, digenapi di Kisah Para Rasul 2.

Amos – Petani yang galak nyindir korupsi: "Biarlah keadilan bergulung-gulung" Amos 5:24.

Obaja – Kitab 1 pasal saja, isinya nubuat lawan Edom.

Yunus – Kabur dari panggilan, ketelen ikan, akhirnya tobat. mengajarkn Allah sayang semua bangsa, bukan cuma Israel.

Mikha – Nubuat Mesias lahir di Betlehem Mi 5:1. Nyindir penguasa serakah.

Nahum, Habakuk, Zefanya – Fokus ke penghakiman Allah atas bangsa-bangsa.

Hagai, Zakharia, Maleakhi – Nabi pasca-pembuangan. Dorong bangun Bait Allah lagi & siapin jalan buat Mesias.

*Nabi penting lain*
Musa – Bawa 10 Perintah Allah, nabi terbesar PL menurut Ulangan 34:10.

Elia & Elisa – Mukjizatnya banyak: turunin api, bangkitkan orang mati. Lawan penyembahan Baal.

Natan – Berani menegur Raja Daud pas zinah dengan Batsyeba.

Yohanes Pembaptis – Nabi terakhir sebelum Yesus. "Jembatan" PL ke PB. mengajarkan pertobatan.

2. Pola penolakan yang sama "keberadaan nabi selalu ditolak" — di Alkitab juga begitu:

*Yeremia* dimas**an sumur lumpur Yer 38:6

*Yesaya* tradisi bilang digergaji sama Raja Manasye

*Zakharia* dibunuh di Bait Allah Mat 23:35

*Yohanes Pembaptis* dipenggal Herodes

*Yesus* sendiri disebut nabi Ul 18:15, dan ditolak sampai disalib.
Yesus bahkan bilang di Luk 13:34: "Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi..."

Jadi polanya konsisten: nabi datang → menyuarakan kebenaran → ganggu kepentingan → ditolak/dianiaya.

III. KESIMPULAN.

Saya mengajak kita semua untuk selalu berdoa.
Apapun yang terjadi didepan mata kita diakhir akhir ini adalah bukan kebetulan, tetapi sudh pernah ada pengajaran dan dan tanda-tanda sebelum terjadi sesuatu. Apa yang dinubuatkan Oleh Nabi *Lezebaoth* sedang terjadi karena itu tetap waspada dan berdoa. Kita juga berdoa untuk BPK Nabi bersama keluarga dan kita semua saling melindungi didalam doa.
Kita juga terus jaga dan pertahankan semua *Wene dan ajaran* yang disampaikan oleh Hamba Tuhan.

_Bagimana cara "menjaga" pengajaran ini?_
1. *Dengar* — Rutin baca kitab para nabi: Yesaya, Yeremia, Amos, Hosea, Maleakhi. Dengar dulu apa kata Tuhan.
2. *Uji* — 1 Yohanes 4:1 bilang "ujilah roh-roh". Tidak semua yang ngaku "dari Tuhan" itu benar. Cocokkan dengan Alkitab.
3. *Lakukan* — Yakobus 1:22 "hendaklah kamu menjadi pelaku firman". Nabi bukan cuma untuk dikagumi, tapi diteladani.
4. *Warisi* — Ulangan 6:7 "haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu". Ceritakan ke keluarga dan komunitas.

Kuncinya "dalam Tuhan" — bukan jaga ajaran dengan kekuatan sendiri. Yudas 1:24 bilang "Dialah, yang berkuasa menjaga kamu". Jadi kita minta Roh Kudus mampukan kita setia.

Demikian sedikit penjelasan dan kiranya bermanfaat bagi kita sekalian. Tuhan Yesus Kristus memberkati.

Ilekma, 09 mei 2026
Saya

Yosekat Kogoya S.KM

KAMI SEGENAP DEPARTEMEN PENGINJILAN,PEMURIDAN & MISI PGBWP             MENGUCAPKAN:Dengan penuh dukacita dan hormat, kam...
01/05/2026

KAMI SEGENAP DEPARTEMEN PENGINJILAN,PEMURIDAN & MISI PGBWP

MENGUCAPKAN:

Dengan penuh dukacita dan hormat, kami menyampaikan yang mendalam atas berp**angnya BPK LILENGGETAMBAN KOGOYA, salah satu penginjil pertama yang diutus ke bagian selatan Papua. Beliau adalah pahlawan iman yang melayani dengan kasih, seorang hamba Tuhan yang setia, yang telah menabur benih Injil dengan keberanian dan ketulusan hati.

Selamat jalan hamba Tuhan yang mulia. Selamat beristirahat dari segala jerih lelah dan perjuangan di ladang pelayanan. Pelayananmu tidak sia-sia, dan mahkota kehidupan telah tersedia bagimu di hadapan Allah.

Kiranya keluarga besar yang ditinggalkan diberi penghiburan dan kekuatan oleh Tuhan Yesus Kristus. Semoga semangat penginjilan yang beliau wariskan tetap menyala di tanah Papua, menjadi api yang membakar hati generasi Baptis West Papua, untuk terus memberitakan Injil.Terima kasih sudah memulai,kami siap melanjutkan warisan iman yang sangat berharga (INJIL KRISTUS).😭😭

28/03/2026
05/02/2026

Oleh Pdt.Ithomy Kogoya
CARA KERJA IBLIS

"Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu." (Matius 4:6).

Saudaraku yang dikasihi Tuhan dan saya kasihi di dalam Tuhan Yesus.

Bayangkan seseorang yang sedang berjalan di padang gurun, haus dan lapar, lalu datang suara yang terdengar rohani, bahkan mengutip ayat Alkitab. Suara itu seolah memberi solusi cepat, tetapi sebenarnya sedang menjerat. Inilah gambaran bagaimana iblis bekerja: ia tidak selalu datang dengan wajah menyeramkan, melainkan dengan kata-kata yang tampak benar. Dalam pencobaan Yesus, iblis mengutip Mazmur 91 untuk menjerat-Nya. Firman dipakai, tetapi dengan maksud menyesatkan. Inilah cara kerja iblis: memutarbalikkan kebenaran agar manusia jatuh dalam dosa.

Iblis tahu firman, tetapi ia menggunakannya tanpa roh kebenaran. Ia mengutip ayat untuk mendorong Yesus bertindak melawan kehendak Bapa. Cara kerja iblis adalah: Memelintir firman agar manusia salah mengerti. Memanfaatkan kelemahan dan kebutuhan manusia.Menawarkan jalan pintas yang tampak benar tetapi berujung pada kehancuran.

Tuhan Yesus menolak dengan tegas, menjawab: “Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu” (Matius 4:7). Ini teladan bagi kita: melawan tipu daya iblis dengan firman yang utuh dan benar.

Kasus Masa Kini Apakah ada manusia yang karakternya seperti iblis? Iya. Banyak orang zaman sekarang mengutip ayat Alkitab ses**a hati tanpa melihat konteks, menafsirkan dengan kehendaknya sendiri, asal jadi. Ada yang memakai ayat untuk membenarkan keserakahan, kekerasan, atau kepentingan pribadi. Di media sosial, ayat sering dipakai untuk menyerang sesama, bukan membangun iman. Yang jadi sasaran di zaman sekarang adalah para hamba Tuhan atau pelayan, baik yang melayani di gereja maupun di instansi lain. Maka itu, mari kita sama-sama waspada seperti Yesus berkata: “Waspadalah, supaya jangan ada orang menyesatkan kamu” (Matius 24:4).

Seperti seseorang yang berjalan di malam gelap dengan cahaya palsu, demikianlah tipu daya iblis: tampak benar, tetapi menyesatkan. Karena itu, kita harus waspada, berakar dalam firman, dan hidup dipimpin Roh Kudus. Mari kita belajar dari Yesus, yang menang bukan dengan kekuatan manusia, tetapi dengan firman yang benar. Dengan kewaspadaan dan iman yang teguh, kita dapat bertahan dan tetap setia kepada Allah, sekaligus melindungi pelayanan dari tipu daya zaman ini.

"Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya."( 1 Petrus 5:8).

Selamat pagi,semoga renungan diangkat ini bermanfaat bagi pembaca.Tuhan Yesus memberkati.

Hubula,05 Feb.2026
Penulis:
Ketua Dep.PP & Misi PGBWP

26/01/2026

Renungan: Senin,26 Januari 2026
DIKENAL DARI BUAHNYA

"Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri?"( Matius 7:16).

Saudaraku yang dikasihi Tuhan dan saya kasihi di dalam Tuhan Yesus.

Firman Tuhan menegaskan bahwa kehidupan orang percaya dikenal bukan dari kata-kata indah atau penampilan luar, melainkan dari buah yang nyata. Buah itu adalah hasil dari iman yang hidup dan hubungan yang benar dengan Kristus.

Pohon yang baik tidak mungkin menghasilkan buah yang buruk. Demikian p**a, hati yang dipenuhi Roh Kudus akan memancarkan kasih, s**acita, damai sejahtera, kesabaran, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri (Galatia 5:22-23).
Buah itu akan terlihat dalam kehidupan sehari-hari: apa yang dikatakan, apa yang dilakukan, bagaimana seseorang bersikap terhadap sesama. Itulah buah dari kehidupannya sendiri. Bukan hanya kata-kata indah, melainkan perilaku hidup yang mencerminkan Kristus. Dunia mengenal kita bukan dari status sosial atau jabatan rohani, melainkan dari buah kehidupan yang nyata: cara kita berbicara, menolong sesama, menjaga integritas, dan mengasihi tanpa pamrih. Bila buah yang keluar adalah iri hati, kebencian, atau kesombongan, itu tanda bahwa akar iman perlu diperiksa kembali.

Jadi,renungan ini mengajak kita untuk merenung: buah apa yang sedang kita hasilkan? Apakah hidup kita membawa orang lain semakin dekat kepada Kristus, atau justru menjauh? Mari kita terus bertumbuh sebagai pohon yang baik, menghasilkan buah yang manis, sehingga melalui hidup kita, nama Tuhan dimuliakan dan orang lain merasakan kasih-Nya.

"Tetapi buah Roh ialah: kasih, s**acita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu."( Galatia 5:22-23).

Selamat pagi,Tuhan Yesus memberkati kita sekalian.

Hubula,26 Januari 2026
Penulis:
Ketua Dep.PP & Misi PGBWP

GEREJA YANG TIDAK BERMISI PENGINJILANOleh Pdt. Ithomy Kogoya “Karena Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan...
20/11/2025

GEREJA YANG TIDAK BERMISI PENGINJILAN
Oleh Pdt. Ithomy Kogoya

“Karena Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” (Lukas 19:10).

Saudaraku yang dikasihi Tuhan dan saya kasihi di dalam nama Tuhan Yesus,

Tuhan Yesus datang dengan misi yang jelas: menyelamatkan jiwa-jiwa yang terhilang. Gereja sebagai tubuh Kristus dipanggil untuk melanjutkan misi itu. Tanpa penginjilan, gereja kehilangan arah dan tujuan ilahi. “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” (Markus 16:15)

Gereja dipanggil bukan hanya untuk berkumpul, bernyanyi, dan berdoa, tetapi untuk menjadi terang dan garam bagi dunia. Tuhan Yesus sendiri menegaskan Misi utama gereja: "memberitakan Injil". Gereja yang tidak bermisi penginjilan ibarat pelita yang ditutup tudung, kehilangan fungsi dan panggilannya. Tanpa penginjilan, gereja hanya menjadi komunitas sosial yang nyaman bagi anggotanya, tetapi tidak membawa kabar keselamatan bagi jiwa-jiwa yang terhilang.

Apa kehidupan gereja masa kini? Banyak yang lebih sibuk, berfoya-foya menghabiskan harta atau berkat Tuhan dengan hal-hal yang tidak diperintahkan oleh Tuhan. Gereja yang tidak memberitakan Injil adalah gereja yang sedang kehilangan misi Tuhan. Ketika gereja berhenti bermisi, ia sebenarnya berhenti hidup. Sebab misi adalah denyut nadi gereja. Rasul Paulus sebagai hamba Tuhan dan penginjil lintas budaya berkata:"Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil” (1 Korintus 9:16). Kata-kata ini menegaskan bahwa Injil bukan pilihan, melainkan kewajiban kudus.

Sebaliknya, gereja yang setia bermisi akan melihat kuasa Allah bekerja. Jiwa-jiwa diselamatkan, komunitas diubahkan, dan nama Tuhan dimuliakan. Mari kita bertanya dengan jujur: apakah gereja kita masih setia pada panggilan ini? Jangan biarkan kenyamanan dan kesibukan dunia menghalangi kita. Gereja hidup karena Injil, dan Injil harus terus diberitakan.

Kiranya gereja kita tidak kehilangan misi Tuhan, tetapi terus setia memberitakan Injil sampai ujung bumi, demi kemuliaan Kristus.

“Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia? Dan bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya?”
(Roma 10:14).

Selamat pagi,Tuhan Yesus memberkati kita semua. Waa...

Hubula, 21 Nov.2025
Penulis:
Ketua Departemen
Penginjilan, Pemuridan &
Misi PGBWP

Address

Itawakhu Purom No. 001, Kel. Hedam, Distrik Heram
Jayapura
99351

Opening Hours

Monday 09:00 - 17:00
Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 17:00
Friday 09:00 - 17:00

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Departemen Sekolah Minggu PGBWP posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category