02/04/2016
Pemuasan Melalui Substitusi
Kerangka khotbah Abuna K.A.M. Jusuf Roni dalam ibadah Minggu, 3 April 2016
Penulis:Abuna K.A.M. Jusuf Roni
PENDAHULUAN
Dua kosakata teologis yang memunculkan banyak “pertanyaan” dan “kritik” yaitu “pemuasan” dan “substitusi”, saya sendiri tidak tahu berada dalam posisi “membela” dua kosakata ini atau sedang “mengkritisinya”, yang terpenting saya mengalir menjelaskan beberapa argumentasi dan pertanyaan-pertanyaan tentang dua kosakata ini yang digabung menjadi “pemuasan melalui substitusi”.
Bagaimana mungkin, orang bertanya, kita bisa percaya bahwa TUHAN membutuhkan semacam “pemuasan” sebelum TUHAN mengampuni dan bahwa Yesus Kristus menyediakannya dengan menjadi “pengganti” kita yang selayaknya kita harus menanggung hukuman sebagai orang berdosa.
Tidakkah gagasan-gagasan semacam ini tidak layak bagi TUHAN yang dinyatakan Alkitab, mungkin ini sisa-sisa mitos primitif.
Bahwa TUHAN bisa diredakan dengan kurban yang kejam dari tubuh yang teraniaya. Saya tidak bisa menerima hipotesis seperti ini bahwa kematian Yesus yang mengerikan adalah sebuah persembahan kurban di mata TUHAN bagi dosa-dosa dunia, atau bahwa TUHAN, di dalam wujud “yang menjadi Manusia” sedang menyakiti atau menyiksa diri-NYA untuk menebus kita.
Saya tidak bisa mengakui bahwa di dalam hati saya yang terdalam ada ide-ide seperti ini dalam kepercayaan kekristenan.
Apakah kedua kosakata teologi menjadi gangguan dalam kepercayaan kekristenan kita, dan memang “pemuasan” dan “substitusi” bukanlah kata-kata yang ada dalam alkitab, namun dalam kenyataannya kedua kata tersebut merupakan konsep yang alkitabiah, karena itu kita perlu menelusurinya dengan hati-hati.
Cranmer memasukan pernyataan yang jelas tentang hal tersebut dibagian awal Prayer of Consecration-nya (1549), sebagai hasilnya, selama 400 tahun kaum Anglikan telah menggambarkan bahwa di atas salib Yesus Kristus, dengan “satu persembahan diri-Nya yang diberikan satu kali”, telah memberikan “satu kurban, persembahan, dan pemuasan yang penuh, sempurna, dan cukup untuk dosa-dosa seluruh dunia”.
Tuntutan-tuntutan apakah yang diajukan dan yang menjadi penghambat sampai semuanya dipuaskan?
Dan siapakah yang sedang mengajukan tuntutan-tuntutan itu?
Ibliskah? Atau Tauratkah? Atau kehormatan dan keadilan TUHAN, atau tatanan moral?
Semuanya ini telah dikemukakan, akan tetapi saya akan berargumen bahwa “hambatan” primernya ada di dalam diri TUHAN sendiri.
TUHAN harus memuaskan diri-NYA sendiri dalam jalan keselamatan yang dirancang-NYA, TUHAN tidak dapat menyelamatkan kita dengan mengontradiksi diri-NYA.
MEMUASKAN IBLIS?
Gagasan bahwa Iblislah yang membuat salib menjadi niscaya tersebar luas di dalam gereja mula-mula.
Yang pasti, Yesus dan murid-murid-Nya memang membicarakan salib sebagai sarana untuk mengalahkan Iblis.
Bapa Gereja mula-mula kurang bijaksana di dalam cara-cara mereka merepresentasikan kuasa Iblis atau bagaimana salib melucuti kuasa itu darinya.
Mereka semua mengakui bahwa sejak kejatuhan manusia dalam dosa, dan karena kejatuhan itu, umat manusia telah ditawan bukan hanya oleh dosa dan kesalahan tetapi juga oleh Iblis.
Mereka memandang Iblis sebagai tuan atas dosa dan maut, dan sebagai tirani utama; dan tujuan kedatangan Yesus Kristus adalah membebaskan kita dari Iblis.
Pertama, mereka memberikan kepada Iblis kuasa lebih besar daripada yang sebenarnya, meskipun mereka melukiskannya sebagai pemberontak, perampok dan perebut kekuasaan, mereka cenderung berbicara seolah-olah Iblis telah memperoleh hak-hak tertentu atas manusia sehingga bahkan TUHAN sendiri berkewajiban untuk menghormatinya dan memuaskannya dengan membayar kurban.
Gregory dari Nazianzus di abad keempat adalah salah satu dari teolog-teolog awal yang dengan gigih menolak gagasan ini, Ia menyebut suatu “penghinaan”.
Kedua, mereka karenanya cenderung menganggap salib sebagai sebuah transaksi ilahi dengan Iblis; itu adalah harga tebusan yang dituntut oleh Iblis untuk membebaskan para tawanannya dan dibayarkan kepadanya untuk memenuhi hak-haknya.
Ketiga, beberapa orang bahkan melangkah lebih maju dan merepresentasikan transaksi itu sebagai penipuan, karena Iblis pernah menipu Adam dan Hawa.
Secara teologis, mereka menggambarkan Iblis sendiri gagal total, meskipun dalam berapa kasus kita sebagai orang-orang berdosa “ia berkuasa atas maut”
Ibrani 2: 14b
“supaya oleh [TB2: melalui] kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut.” [ἵνα διὰ τοῦ θανάτου καταργήσῃ τὸν τὸ κράτος ἔχοντα τοῦ θανάτου, τοῦτ᾽ ἔστιν τὸν διάβολον]
Harfiah: hina (supaya) dia (melalui) tou thanatou (kematian-Nya) katargêsê (ia meniadakan/ menyingkirkan / memusnahkan) ton to kratos ekhonta (dia yang memiliki / mempunyai kuasa/ kekuatan) tou thanatou (atas maut / kematian), tout estin (dia adalah) ton diabolon (Iblis / si pemfitnah)
Iblis tidak memiliki otoritas semacam itu atas Yesus yang tidak berdosa, dan di dalam memburu-Nya sampai mati, Iblis menumpahkan darah orang yang tidak bersalah.
Kita menyangkal bahwa Iblis memiliki hak apapun atas kita yang wajib dipuaskan TUHAN. Oleh karena itu gagasan apapun tentang kematian Kristus sebagai suatu transaksi yang niscaya dengan Iblis, apalagi menipun Iblis ditolak.
MEMUASKAN TAURAT
Cara lain untuk menjelaskan keniscayaan moral dari “pemuasan” ilahi di salib adalah untuk menjunjung Taurat.
Dosa adalah “pelanggaran hukum TUHAN” (1Yohanes 3: 4)
“Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum TUHAN, sebab dosa ialah pelanggaran hukum TUHAN” [πᾶς ὁ ποιῶν τὴν ἁμαρτίαν καὶ τὴν ἀνομίαν ποιεῖ, καὶ ἡ ἁμαρτία ἐστὶν ἡ ἀνομία]
Harfiah: pas (semua/ setiap) ho poiôn (yang melakukan/ berbuat tên hamartian (dosa) kai (dan) tên anomian poiei (yang melakukan/ berbuat sikap/ perbuatan tanpa hukum/ kefasikan), kai (dan) hê hamartia (dosa) estin (adalah) hê anomia (sikap/ perbuatan tanpa hukum/ kefasikan)
Tetapi Taurat tidak bisa dilanggar tanpa hukuman, oleh karena itu, orang-orang berdosa mengalami pinalti bagi pelanggaran hukum.
Ilustrasi bagi kebenaran dalam Kitab Daniel pasal 6.
TUHAN tidak bisa menghapuskan konstitusi moral dari hal-hal yang ditegakkkan-NYA, tetapi kita tidak berurusan dengan mesin sedang berurusan dengan Pribadi yang hidup, walaupun demikian TUHAN tidak mungkin menentang diri-NYA sendiri.
Galatia 3: 10
“Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk” [ὅσοι γὰρ ἐξ ἔργων νόμου εἰσίν, ὑπὸ κατάραν εἰσίν·]
Harfiah: hosoi gar (sebab semua) ex ergôn nomou eisin (yang hidup berdasarkan/ dari pekerjaan hukum), hupo kataran eisin (adalah di bawah kutuk)
“Sebab ada tertulis: ‘Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat’” [γέγραπται γὰρ ὅτι ἐπικατάρατος πᾶς ὃς οὐκ ἐμμένει πᾶσιν τοῖς γεγραμμένοις ἐν τῷ βιβλίῳ τοῦ νόμου τοῦ ποιῆσαι αὐτα]
Harfiah: gegraptai gar (sebab ada tertulis) hoti (:) epikataratos (terkutuklah) pas (semua) hos ouk emmenei (yang tidak tinggal di dalam/ bertahan pada) pasin (semua) tois gegrammenois (yang tertulis) en (di dalam) tô bibliô (kitab) tou nomou (hukum) tou poiêsai auta (untuk melakukannya/ dengan melakukannya)
Galatia 3: 13
“Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tretulis: ‘Terkutuk orang yang digantung pada kayu salib!’” [Χριστὸς ἡμᾶς ἐξηγόρασεν ἐκ τῆς κατάρας τοῦ νόμου γενόμενος ὑπὲρ ἡμῶν κατάρα, ὅτι γέγραπται· ἐπικατάρατος πᾶς ὁ κρεμάμενος ἐπὶ ξύλου]
Harfiah: Khristos (Kristus/ Mesias) hêmas exêgorasen (telah menebus kita) ek (dari) tês kataras (kutuk) tou nomou (hukum) genomenos (menjadi) huper hêmôn (atas kita) katara (kutuk), hoti gegrappai (sebab ada tertulis): epikataratos (terkutuklah) pas (semua) ho kremamenos (yang tergantung) epi (di atas) xulou (kayu/ tiang kayu/ pohon)—lihat Ul. 21: 22, 23
Bandingkan Kejadian 3: 17 “terkutuklah tanah karena engkau” [ ]