Gereja Kemah Abraham Kelapa Gading

Gereja Kemah Abraham Kelapa Gading Gereja Kemah Abraham (GKA) Kelapa Gading

Jadwal pengkhotbah GKA Kelapa Gading, Juli 2016 http://www.kemahabraham.com/jadwal/kategori/ibadah-semitik/gka-kelapa-ga...
23/06/2016

Jadwal pengkhotbah GKA Kelapa Gading, Juli 2016

http://www.kemahabraham.com/jadwal/kategori/ibadah-semitik/gka-kelapa-gading/2016-07/

Find Event Navigasi Tampilan Event View As Event In Pencarian Event for Maret 2016 › GKA Kelapa Gading Kalender Bulan Navigasi April » Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Minggu 29 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 GKA Kelapa Gading GKA Kelapa Gading 21 22 23 24 25 Jumat Agung 26 27...

Pemuasan Melalui Substitusi Kerangka khotbah Abuna K.A.M. Jusuf Roni dalam ibadah Minggu, 3 April 2016
02/04/2016

Pemuasan Melalui Substitusi

Kerangka khotbah Abuna K.A.M. Jusuf Roni dalam ibadah Minggu, 3 April 2016

Penulis:Abuna K.A.M. Jusuf Roni
PENDAHULUAN

Dua kosakata teologis yang memunculkan banyak “pertanyaan” dan “kritik” yaitu “pemuasan” dan “substitusi”, saya sendiri tidak tahu berada dalam posisi “membela” dua kosakata ini atau sedang “mengkritisinya”, yang terpenting saya mengalir menjelaskan beberapa argumentasi dan pertanyaan-pertanyaan tentang dua kosakata ini yang digabung menjadi “pemuasan melalui substitusi”.

Bagaimana mungkin, orang bertanya, kita bisa percaya bahwa TUHAN membutuhkan semacam “pemuasan” sebelum TUHAN mengampuni dan bahwa Yesus Kristus menyediakannya dengan menjadi “pengganti” kita yang selayaknya kita harus menanggung hukuman sebagai orang berdosa.

Tidakkah gagasan-gagasan semacam ini tidak layak bagi TUHAN yang dinyatakan Alkitab, mungkin ini sisa-sisa mitos primitif.

Bahwa TUHAN bisa diredakan dengan kurban yang kejam dari tubuh yang teraniaya. Saya tidak bisa menerima hipotesis seperti ini bahwa kematian Yesus yang mengerikan adalah sebuah persembahan kurban di mata TUHAN bagi dosa-dosa dunia, atau bahwa TUHAN, di dalam wujud “yang menjadi Manusia” sedang menyakiti atau menyiksa diri-NYA untuk menebus kita.

Saya tidak bisa mengakui bahwa di dalam hati saya yang terdalam ada ide-ide seperti ini dalam kepercayaan kekristenan.

Apakah kedua kosakata teologi menjadi gangguan dalam kepercayaan kekristenan kita, dan memang “pemuasan” dan “substitusi” bukanlah kata-kata yang ada dalam alkitab, namun dalam kenyataannya kedua kata tersebut merupakan konsep yang alkitabiah, karena itu kita perlu menelusurinya dengan hati-hati.

Cranmer memasukan pernyataan yang jelas tentang hal tersebut dibagian awal Prayer of Consecration-nya (1549), sebagai hasilnya, selama 400 tahun kaum Anglikan telah menggambarkan bahwa di atas salib Yesus Kristus, dengan “satu persembahan diri-Nya yang diberikan satu kali”, telah memberikan “satu kurban, persembahan, dan pemuasan yang penuh, sempurna, dan cukup untuk dosa-dosa seluruh dunia”.

Tuntutan-tuntutan apakah yang diajukan dan yang menjadi penghambat sampai semuanya dipuaskan?

Dan siapakah yang sedang mengajukan tuntutan-tuntutan itu?

Ibliskah? Atau Tauratkah? Atau kehormatan dan keadilan TUHAN, atau tatanan moral?

Semuanya ini telah dikemukakan, akan tetapi saya akan berargumen bahwa “hambatan” primernya ada di dalam diri TUHAN sendiri.

TUHAN harus memuaskan diri-NYA sendiri dalam jalan keselamatan yang dirancang-NYA, TUHAN tidak dapat menyelamatkan kita dengan mengontradiksi diri-NYA.



MEMUASKAN IBLIS?

Gagasan bahwa Iblislah yang membuat salib menjadi niscaya tersebar luas di dalam gereja mula-mula.

Yang pasti, Yesus dan murid-murid-Nya memang membicarakan salib sebagai sarana untuk mengalahkan Iblis.

Bapa Gereja mula-mula kurang bijaksana di dalam cara-cara mereka merepresentasikan kuasa Iblis atau bagaimana salib melucuti kuasa itu darinya.

Mereka semua mengakui bahwa sejak kejatuhan manusia dalam dosa, dan karena kejatuhan itu, umat manusia telah ditawan bukan hanya oleh dosa dan kesalahan tetapi juga oleh Iblis.

Mereka memandang Iblis sebagai tuan atas dosa dan maut, dan sebagai tirani utama; dan tujuan kedatangan Yesus Kristus adalah membebaskan kita dari Iblis.

Pertama, mereka memberikan kepada Iblis kuasa lebih besar daripada yang sebenarnya, meskipun mereka melukiskannya sebagai pemberontak, perampok dan perebut kekuasaan, mereka cenderung berbicara seolah-olah Iblis telah memperoleh hak-hak tertentu atas manusia sehingga bahkan TUHAN sendiri berkewajiban untuk menghormatinya dan memuaskannya dengan membayar kurban.

Gregory dari Nazianzus di abad keempat adalah salah satu dari teolog-teolog awal yang dengan gigih menolak gagasan ini, Ia menyebut suatu “penghinaan”.

Kedua, mereka karenanya cenderung menganggap salib sebagai sebuah transaksi ilahi dengan Iblis; itu adalah harga tebusan yang dituntut oleh Iblis untuk membebaskan para tawanannya dan dibayarkan kepadanya untuk memenuhi hak-haknya.

Ketiga, beberapa orang bahkan melangkah lebih maju dan merepresentasikan transaksi itu sebagai penipuan, karena Iblis pernah menipu Adam dan Hawa.

Secara teologis, mereka menggambarkan Iblis sendiri gagal total, meskipun dalam berapa kasus kita sebagai orang-orang berdosa “ia berkuasa atas maut”

Ibrani 2: 14b

“supaya oleh [TB2: melalui] kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut.” [ἵνα διὰ τοῦ θανάτου καταργήσῃ τὸν τὸ κράτος ἔχοντα τοῦ θανάτου, τοῦτ᾽ ἔστιν τὸν διάβολον]

Harfiah: hina (supaya) dia (melalui) tou thanatou (kematian-Nya) katargêsê (ia meniadakan/ menyingkirkan / memusnahkan) ton to kratos ekhonta (dia yang memiliki / mempunyai kuasa/ kekuatan) tou thanatou (atas maut / kematian), tout estin (dia adalah) ton diabolon (Iblis / si pemfitnah)

Iblis tidak memiliki otoritas semacam itu atas Yesus yang tidak berdosa, dan di dalam memburu-Nya sampai mati, Iblis menumpahkan darah orang yang tidak bersalah.

Kita menyangkal bahwa Iblis memiliki hak apapun atas kita yang wajib dipuaskan TUHAN. Oleh karena itu gagasan apapun tentang kematian Kristus sebagai suatu transaksi yang niscaya dengan Iblis, apalagi menipun Iblis ditolak.

MEMUASKAN TAURAT

Cara lain untuk menjelaskan keniscayaan moral dari “pemuasan” ilahi di salib adalah untuk menjunjung Taurat.

Dosa adalah “pelanggaran hukum TUHAN” (1Yohanes 3: 4)

“Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum TUHAN, sebab dosa ialah pelanggaran hukum TUHAN” [πᾶς ὁ ποιῶν τὴν ἁμαρτίαν καὶ τὴν ἀνομίαν ποιεῖ, καὶ ἡ ἁμαρτία ἐστὶν ἡ ἀνομία]

Harfiah: pas (semua/ setiap) ho poiôn (yang melakukan/ berbuat tên hamartian (dosa) kai (dan) tên anomian poiei (yang melakukan/ berbuat sikap/ perbuatan tanpa hukum/ kefasikan), kai (dan) hê hamartia (dosa) estin (adalah) hê anomia (sikap/ perbuatan tanpa hukum/ kefasikan)

Tetapi Taurat tidak bisa dilanggar tanpa hukuman, oleh karena itu, orang-orang berdosa mengalami pinalti bagi pelanggaran hukum.

Ilustrasi bagi kebenaran dalam Kitab Daniel pasal 6.

TUHAN tidak bisa menghapuskan konstitusi moral dari hal-hal yang ditegakkkan-NYA, tetapi kita tidak berurusan dengan mesin sedang berurusan dengan Pribadi yang hidup, walaupun demikian TUHAN tidak mungkin menentang diri-NYA sendiri.

Galatia 3: 10

“Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk” [ὅσοι γὰρ ἐξ ἔργων νόμου εἰσίν, ὑπὸ κατάραν εἰσίν·]

Harfiah: hosoi gar (sebab semua) ex ergôn nomou eisin (yang hidup berdasarkan/ dari pekerjaan hukum), hupo kataran eisin (adalah di bawah kutuk)

“Sebab ada tertulis: ‘Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat’” [γέγραπται γὰρ ὅτι ἐπικατάρατος πᾶς ὃς οὐκ ἐμμένει πᾶσιν τοῖς γεγραμμένοις ἐν τῷ βιβλίῳ τοῦ νόμου τοῦ ποιῆσαι αὐτα]

Harfiah: gegraptai gar (sebab ada tertulis) hoti (:) epikataratos (terkutuklah) pas (semua) hos ouk emmenei (yang tidak tinggal di dalam/ bertahan pada) pasin (semua) tois gegrammenois (yang tertulis) en (di dalam) tô bibliô (kitab) tou nomou (hukum) tou poiêsai auta (untuk melakukannya/ dengan melakukannya)

Galatia 3: 13

“Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tretulis: ‘Terkutuk orang yang digantung pada kayu salib!’” [Χριστὸς ἡμᾶς ἐξηγόρασεν ἐκ τῆς κατάρας τοῦ νόμου γενόμενος ὑπὲρ ἡμῶν κατάρα, ὅτι γέγραπται· ἐπικατάρατος πᾶς ὁ κρεμάμενος ἐπὶ ξύλου]

Harfiah: Khristos (Kristus/ Mesias) hêmas exêgorasen (telah menebus kita) ek (dari) tês kataras (kutuk) tou nomou (hukum) genomenos (menjadi) huper hêmôn (atas kita) katara (kutuk), hoti gegrappai (sebab ada tertulis): epikataratos (terkutuklah) pas (semua) ho kremamenos (yang tergantung) epi (di atas) xulou (kayu/ tiang kayu/ pohon)—lihat Ul. 21: 22, 23

Bandingkan Kejadian 3: 17 “terkutuklah tanah karena engkau” [ ]

Nasehat Orang Tua Datanglah berkumpul, supaya kuberitahukan kepadamu, apa yang akan kamu alami di kemudian hari. (Kejadi...
31/03/2016

Nasehat Orang Tua

Datanglah berkumpul, supaya kuberitahukan kepadamu, apa yang akan kamu alami di kemudian hari. (Kejadian 49: 1)

"Kemudian Yakub memanggil anak-anaknya dan berkata: 'Datanglah berkumpul, supaya kuberitahukan kepadamu, apa yang akan kamu alami di kemudian hari'" (Kejadian 49: 1)
Orang tua adalah salah satu sumber didikan yang paling penting bagi anak-anaknya. Karena didikan orang tua pastilah mengarahkan anak-anak mereka pada kebaikan. Walaupun ada orang tua yang berprofesi tidak baik tetapi pastilah mereka akan mengajarkan agar anak-anak mereka tidak melakukan seperti yang orang tuanya lakukan bahkan lebih baik dari itu.

TUHAN juga memerintahkan kita untuk selalu menghormati orang tua kita. Bagaimana caranya menghormati mereka? Salah satunya adalah mendengar segala didikan orang tua kita. Memang didikan itu ada yang membuat kita senang hati, tetapi akan seringkali menyakitkan hati. Karena didikan itu bersifat meluruskan sesuatu yang bengkok.

Prinsipnya adalah bahwa didikan orangtua kita adalah kompas bagi hidup kita untuk mengarahkan kita pada kebaikan sehingga jika kita berpikir demikian maka kita akan dengan rela hati untuk mendengarkannya.

Itu sebabnya sebagai orang tua kita juga harus diperlengkapi untuk memperkaya pengetahuan kita. Agar apa yang kita ajarkan kepada anak­ anak kita adalah pengetahuan yang baik dan benar. Landasan utama didikan orang tua haruslah firman TUHAN. Tidak ada yang lain.

Menjadi orang tua harus mengajarkan firman TUHAN dan sebagai anak haruslah menghormati dan mendengarkan nasihat orang tua.

Kavod Lekha, YHWH Elohenu, kavod lekha
Segala kemuliaan bagi-MU, YHWH TUHAN kami, kemuliaan bagi-MU!

Kebahagiaan dan Mahkota Kehidupan TUHAN tidak membiarkan umat-NYA kalah. Bersyukurlah kita karena Kristus sudah menang d...
30/03/2016

Kebahagiaan dan Mahkota Kehidupan

TUHAN tidak membiarkan umat-NYA kalah. Bersyukurlah kita karena Kristus sudah menang dalam segala hal sehingga kita diberikan-Nya kekuatan dan kemenangan

Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada orang-orang yang mengasihi Dia (Yakobus 1: 12)
Pastilah orang di dunia ini ingin berbahagia. Bagaimana kita dapat berbahagia seperti ayat di atas? Dengan bertahan dalam pencobaan. Apa maksudnya? Ayat 14 dikatakan pencobaan itu datangnya dari keinginan sendiri bahkan keinginan itu dapat memikat dan menyeret orang yang punya keinginan itu sendiri. Setelah keinginan dilakukan maka itu bisa membuat kita berdosa.

Bertahan dalam pencobaan berarti kita bisa mempunyai keinginan daging yang salah tapi kita bisa melawannya atau tidak menuruti kenginan daging itu. Misalnya; tidak berfoya-foya, tidak bermalas-malas, tidak memaki-maki orang lain, tidak melepas tanggung jawab, dll.

Dikatakan juga kalau sudah tahan uji maka kita akan menerima mahkota kehidupan bagi yang mengasihi TUHAN. Apa maksudnya mengasihi TUHAN? Karena orang yang beriman pada Yesus mengenal Firman TUHAN, karena sudah mengenal Yesus yang telah menyelamatkan manusia, sehingga kita dimampukan untuk tahan uji atau menang melawan keinginan daging bahkan kita diupahi TUHAN dengan mahkota kehidupan.

Jadi, TUHAN tidak membiarkan umat-NYA kalah. Bersyukurlah kita karena Kristus sudah menang dalam segala hal sehingga kita diberikan-Nya kekuatan dan kemenangan. Amin!

Kavod Lekha, YHWH Elohenu, kavod lekha
Segala kemuliaan bagi-MU, YHWH TUHAN kami, kemuliaan bagi-MU!

Mata Yang Bisa Mencelakakan Yesus telah mengajarkan kepada kita untuk dapat mengalahkan kedagingan kita dan kita diberi ...
29/03/2016

Mata Yang Bisa Mencelakakan

Yesus telah mengajarkan kepada kita untuk dapat mengalahkan kedagingan kita dan kita diberi kekuatan-Nya. Sehingga kita dapat mengalahkan atau melawan keinginan daging atau nafsu yang mencelakan dengan tunduk kepada Dia saja

Aku melihat di antara barang-barang jarahan itu jubah yang indah, buatan Sinear, dan dua ratus syikal perak dan sebatang emas yang lima puluh syikal beratnya; aku mengingininya, maka kuambil; semuanya itu disembunyikan di dalam kemahku dalam tanah, dan perak itu di bawah sekali (Yosua 7: 21)
Pada ayat 20, Akhan menyadari kalau dia telah berdosa dengan tidak melakukan Firman TUHAN yakni mengambil barang yang dikhususkan untuk TUHAN. Mengapa dia berani berbuat dosa? Di ayat 21 dijelaskan dari matanya, ia dapat melihat keindahan barang-barang tersebut yang mengakibatkan timbul keinginan untuk memiliki barang­ barang tersebut.

Apa yang dilakukan Akhan ini bisa juga terjadi pada kita. Tidak jarang keinginan atau nafsu yang mencelakakan ini timbul dari mata. Misalnya, seseorang yang berpredikat suami atau istri walaupun sudah mempunyai keluarga, masih bisa melihat ke yang bukan pasangannya dan ingin memilikinya. Maka terjadilah perselingkuhan. Contoh yang lain, karena melihat keadaan orang lain lebih kaya dari dirinya, maka ia melakukan korupsi.

Karena Akhan ingin memuaskan keinginan hatinya, ia berdosa dan dihukum. Ia beserta keluarganya juga harta bendanya dimusnahkan. Bukankah kita yang bisa melakukan dosa seperti Akhan juga harus dimusnahkan?

Syukur kepada TUHAN kita yang hidup dan mengenal kasih karunia TUHAN melalui Yesus Kristus yang telah mengampuni dan menebus kita dari segala dosa. Bukan hanya itu saja tetapi Yesus telah mengajarkan kepada kita untuk dapat mengalahkan kedagingan kita dan kita diberi kekuatan-Nya. Sehingga kita dapat mengalahkan atau melawan keinginan daging atau nafsu yang mencelakan dengan tunduk kepada Dia saja. Amin!

Kavod Lekha, YHWH Elohenu, kavod lekha
Segala kemuliaan bagi-MU, YHWH TUHAN kami, kemuliaan bagi-MU!

Cobaan Bukan Halangan Ujian meskipun terasa tidak enak, seharusnya bukan menjadikan sebagai alasan untuk kita membatasi ...
27/03/2016

Cobaan Bukan Halangan

Ujian meskipun terasa tidak enak, seharusnya bukan menjadikan sebagai alasan untuk kita membatasi diri tapi justru menambah semangat bagi kita untuk mengandalkan, berharap dan mempererat hubungan kita dengan TUHAN

Selagi dicobai dengan berat dalam berbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan (2Korintus 8: 2)
Banyak orang menggunakan kesulitan atau masalah yang dihadapi menjadi alasan untuk menolak ajakan untuk melayani. Sepertinya lumrah dan manusiawi, karena bagaimana bisa melayani kalau kita sendiri menghadapi berbagai problem. Tapi pertanyaannya apakah kita pernah lepas dari suatu problem?

Dalam nats firman TUHAN hari ini, kita belajar, justru ketika menghadapi berbagai masalah bukannya malah terpuruk tetapi justru sebaliknya. Ini akan menjadi suatu kesaksian yang dahsyat bagi orang lain bahwa hidup kita bergantung sepenuhnya kepada TUHAN (bukan harta atau aset yg kita miliki) dan meyakinkan diri kita sendiri bahwa kita hidup dalam track yg benar.

Jadi, ujian sebenarnya adalah sarana bagi kita untuk menyelidiki apakah sejauh ini hati kita berpegang pada-NYA atau sebenarnya kita lebih menyayangi diri kita sendiri (Mzm. 26: 2, Yer. 17: 10), atau kita tidak sadar bahwa hubungan kita sebenarnya sudah jauh dari jalan-NYA (Ams. 16: 2, Ams. 21: 2, 1Kor. 3: 13)?

Jadi, ujian meskipun terasa tidak enak, seharusnya bukan menjadikan sebagai alasan untuk kita membatasi diri tapi justru menambah semangat bagi kita untuk mengandalkan, berharap dan mempererat hubungan kita dengan TUHAN, dan orang Kristen selayaknya sudah mengerti dan tidak menjadi marah atau bahkan menyalahkan TUHAN karena tujuan dari ujian itu adalah untuk manusia itu sendiri (Dan. 12: 10). Amin!

Kavod Lekha, YHWH Elohenu, kavod lekha
Segala kemuliaan bagi-MU, YHWH TUHAN kami, kemuliaan bagi-MU!

Tahan Uji Ujian memberikan kesempatan kepada manusia untuk hidup lebih baik/lebih kuat, bersinar seperti emas layaknya s...
26/03/2016

Tahan Uji

Ujian memberikan kesempatan kepada manusia untuk hidup lebih baik/lebih kuat, bersinar seperti emas layaknya sebagai citra TUHAN

Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah (1Korintus 3: 14)
Kata ujian tidak asing dari telinga kita sehari hari, dari sejak kecil kita sudah menghadapi ujian, seperti ujian nasional, ujian masuk perguruan tinggi, ujian kepangkatan, ujian sertifikasi dan berbagai ujian lainnya, sehingga ujian merupakan bagian dari kehidupan dan tidak dapat dihindari, yang penting bagaimana kita siap sehingga tidak gagal menghadapinya.

Bagaimana kita dapat tahan uji? Tentu caranya adalah terbiasa menghadapi ujian. Sejujurnya ujian itu umumnya tidaklah enak karena di dalamnya kita harus bekerja keras, berkorban, harus berdisiplin, bahkan merasakan kesengsaraan (Yes. 48: 10). Apakah dengan tantangan, kesulitan bahkan kesengsaraan ini kita akan menghindari bahkan menolak ujian tersebut? Tentu tidak, karena ujian digunakan TUHAN untuk memurnikan umat-NYA (Za. 13: 9).

Ujian bukan untuk menghancurkan seseorang sekalipun merasakan kesengsaraan (karena hal itu bersifat sementara), tetapi ujian memberikan kesempatan kepada manusia untuk hidup lebih baik/lebih kuat, bersinar seperti emas layaknya sebagai citra TUHAN (Ayb. 23: 10). "Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia" (Yak. 1: 12). Amin!

Kavod Lekha, YHWH Elohenu, kavod lekha
Segala kemuliaan bagi-MU, YHWH TUHAN kami, kemuliaan bagi-MU!

Belajar dari Iman Yusuf Setiap masalah dan pencobaan yang datang ke dalam hidup kita bukanlah terjadi begitu saja. Semua...
25/03/2016

Belajar dari Iman Yusuf

Setiap masalah dan pencobaan yang datang ke dalam hidup kita bukanlah terjadi begitu saja. Semuanya datang dengan seizin TUHAN

Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah; Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir (Kejadian 45: 8)
Yusuf melalui masa-masa ujiannya selama kurang lebih 13 tahun sejak dari mimpinya sampai kepada pengangkatan dirinya sebagai penguasa Mesir nomor dua setelah Firaun. Setelah melalui 7 tahun masa kelimpahan di Mesir dan memasuki 7 tahun masa kelaparan, barulah dia bertemu kembali dengan kakak-kakaknya dan mimpinya pun digenapi pada saat itu juga.

Yusuf menjadi seseorang yang sangat matang setelah bertahun-tahun melalui ujian demi ujian. Setiap ujian dijalaninya dengan ketekunan, tekun melakukan Firman TUHAN. Itulah kekuatan yang membawa Yusuf kepada kesempurnaan iman dan kedewasaan secara rohani. Ketika dia lulus dalam satu ujian iman, maka tingkat kerohaniannya bertambah. Ujian demi ujian yang dilalui membuat Yusuf semakin dekat kepada TUHAN dan TUHAN pun memberikan kepercayaan yang lebih besar lagi setiap kali Yusuf lulus dalam ujian imannya.

Demikian juga kita sebagai umat TUHAN mengalami ujian-ujian yang sama. TUHAN ingin membawa umat-NYA kepada kesempurnaan. Perlu diingat bahwa semakin tinggi tingkat kerohanian seseorang, maka semakin berat ujian yang akan dihadapinya.

Seorang anak SMP akan menjalani ujian yang lebih berat dibanding dengan tingkat SD. Seorang anak SMA akan menjalani ujian yang lebih berat lagi dibanding dengan tingkat SMP. Pada saat kuliah pun ujiannya akan jauh lebih berat dibanding saat masih SMA.

Ujian-ujian yang dialami juga akan memberikan tekanan yang semakin berat dan keadaan yang tidak nyaman bagi setiap pesertanya. Tetapi ketika lulus dari ujian tersebut, maka setiap siswa akan merasakan sukacita dan kelepasan yang luar biasa. Dan mereka akan naik kepada tingkat yang lebih tinggi dibanding sebelumnya.

Setiap masalah dan pencobaan yang datang ke dalam hidup kita bukanlah terjadi begitu saja. Semuanya datang dengan seizin TUHAN. TUHAN ingin membawa kita langkah demi langkah menuju kepada kesempurnaan hidup.

Kasih TUHAN Sempurna Kerangka khotbah Abuna K.A.M. Jusuf Roni dalam Ibadah Kebangkitan Yesus Kristus (Paskah) di Gereja ...
25/03/2016

Kasih TUHAN Sempurna

Kerangka khotbah Abuna K.A.M. Jusuf Roni dalam Ibadah Kebangkitan Yesus Kristus (Paskah) di Gereja Kemah Abraham

Penulis:
Abuna K.A.M. Jusuf Roni
PENGANTAR (band. Yoh. 3: 16)

(16b) “TUHAN adalah Kasih” [ὁ θεὸς ἀγάπη ἐστίν]

Harfiah: ho Theos (TUHAN) agapê estin (adalah kasih)

(16c) “dan siapa yang tetap berada di dalam kasih” [καὶ ὁ μένων ἐν τῇ ἀγάπῃ]

Harfiah: kai ho menôn (dan siapa yang tinggal / diam / menetap) en tê agapê (dalam kasih)

(16d) “ia tetap berada di dalam TUHAN dan TUHAN di dalam dia” [ἐν τῷ θεῷ μένει καὶ ὁ θεὸς ἐν αὐτῷ μένει]

Harfiah: en tô Theô (di dalam TUHAN) menei (ia tinggal / diam/ menetap) kai ho Theos (dan TUHAN) en autô (di dalam dia) menei (tinggal / diam / menetap)



KASIH TUHAN SEMPURNA

(17a) “Dalam hal inilah kasih TUHAN sempurna di dalam kita” [ἐν τούτῳ τετελείωται ἡ ἀγάπη μεθ᾽ ἡμῶν]

Harfiah: en toutô (dalam hal inilah) teteleiôtai (telah menjadi sempurna) hê agapê (kasih itu) m**h hêmôn (pada kita / di antara kita / dengan kita)

Frasa ἐν τούτῳ bisa mengacu pada kalimat sebelumnya (ay. 16b), bisa juga mengacu pada kalimat berikutnya.

(17b) “yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman” [ἵνα παρρησίαν ἔχωμεν ἐν τῇ ἡμέρᾳ τῆς κρίσεως]

Harfiah: hina (supaya/ sehingga / yaitu / bahwa) parrêsian ekhômen (kita mempunyai sikap terus terang / keberanian percaya / kepercayaan teguh / kepercayaan diri) en (di) tê hêmera tês kriseôs (hari penghakiman)

Terjemahan LAI menerjemahkan konjungsi ἵνα dengan kata “yaitu...”. Arti kata ini bergantung pada bagaimana kita menafsirkan frasa ἐν τούτῳ pada ay. 17a.

Jika kita menafsirkan frasa ini mengacu pada ay. 16b, maka konjungsi ἵνα seharusnya diterjemahkan “supaya” atau “sehingga” (band. terjemahan English Standard Version atau ESV atau lihat kasus seperti dalam Yoh. 6: 12 “supaya...” atau 9: 2 “sehingga...”).

Sebaliknya jika kita menafsirkan frasa ἐν τούτῳ mengacu pada kalimat berikutnya, maka konjungsi ἵνα bisa diterjemahkan “yaitu” atau “bahwa”, seperti terjemahan LAI.



KASIH TANPA KETAKUTAN

(18a) “Di dalam kasih tidak ada ketakutan” [φόβος οὐκ ἔστιν ἐν τῇ ἀγάπῃ]

Harfiah: fobos (ketakutan) ouk estin (tidak ada) en tê agapê (dalam kasih)

(18b) “kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan” [ἀλλ᾽ ἡ τελεία ἀγάπη ἔξω βάλλει τὸν φόβον]

Harfiah: all (tetapi) hê teleia agapê (kasih yang sempurna) exô ballei (melenyapkan) ton fobon (ketakutan)

(18c) “sebab ketakutan mengandung hukuman dan siapa yang takut...” [ὅτι ὁ φόβος κόλασιν ἔχει, ὁ δὲ φοβούμενος]

Harfiah: hoti (sebab) ho fobos (ketakutan) kolasin ekhei (mempunyai hukuman), ho de foboumenos (dan siapa yang takut...)

Kalimat ὁ φόβος κόλασιν ἔχει, yang secara harfiah berarti “ketakutan mempunyai hukuman” mengandung dua makna: Pertama, ketakutan menyebabkan hukuman atau siksaan; dan kedua, ketakutan menyebabkan seseorang berada dalam kondisi dikuasai oleh pikiran akan hukuman.

(18d) “ia tidak sempurna di dalam kasih” [οὐ τετελείωται ἐν τῇ ἀγάπη]

Harfiah: ou teteleiôtai (belum menjadi sempurna) en tê agapê (dalam kasih)

Kej. 17: 1 “AKU-lah TUHAN Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-KU dengan tidak bercela” [אנִי־אֵ֣ל שַׁדַּ֔י הִתְהַלֵּ֥ךְ לְפָנַ֖י וֶהְיֵ֥ה תָמִֽים׃]

Harfiah: anî-El Shadday (AKU EL SHADDAY), hithhallekh (berjalanlah) lefanay (di depan-KU) weheyê (dan jadilah) thamîm (sempurna)

Ams. 28: 14a “Berbahagialah orang yang senantiasa takut akan TUHAN” [אַשְׁרֵ֣י אָ֭דָם מְפַחֵ֣ד תָּמִ֑יד]

Harfiah: ashrê (berbahagialah) adham (manusia / orang) mefakhedh (yang takut) tamîdh (senantiasa / terus-menerus)

Kata מפחד (mefakhedh) adalah bentuk piel (intensif) dari kata פחד (pakhadh), artinya “takut yang menyebabkan guncangan” (band. penggunaan kata ini dalam Yer. 36: 16 dan Yes. 33: 14).

Kata ini biasanya digunakan untuk menunjukkan kondisi takut yang membuat seseorang “gemetar” (band. Mzm. 119: 161 dan Hos. 3: 5), dan lebih sering muncul dalam kitab-kitab puisi.

Penggunaan dalam bentuk piel, hanya muncul dua kali dalam keseluruhan Perjanjian Lama, yaitu di ayat ini (Ams. 28: 14) dan Yes. 51: 13 “terus gentar”. Keduanya selalu diikuti dengan kata תמיד (tamîdh) “terus-menerus” atau “senantiasa”.

Ams. 28: 14b “tetapi orang yang mengeraskan hatinya akan jatuh ke dalam malapetaka” [וּמַקְשֶׁ֥ה לִ֜בּ֗וֹ יִפּ֥וֹל בְּרָעָֽה]

Harfiah: ûmaqshê (dan yang mengeraskan) libbô (hatinya) yippôl (akan jatuh) bera‘â (ke dalam kejahatan / bencana / malapetaka)



KASIH ITU PASTI MENGALIR

(19) “Kita mengasihi, karena TUHAN lebih dahulu mengasihi kita” [ἡμεῖς ἀγαπῶμεν, ὅτι αὐτὸς πρῶτος ἠγάπησεν ἡμᾶς]

Harfiah: hemeis agapômen (kita mengasihi), hoti (sebab) autos (IA) prôtos (lebih dulu) êgapêsen (mengasihi) hêmas (kita)



ILUSTRASI KASIH

(20a) “Jikalau seseorang berkata: ‘Aku mengasihi TUHAN,’ tetapi ia membenci saudara seimannya, maka ia adalah pendusta” [ἐάν τις εἴπῃ ὅτι ἀγαπῶ τὸν θεὸν καὶ τὸν ἀδελφὸν αὐτοῦ μισῇ, ψεύστης ἐστίν]

Harfiah: ean (jika) tis eipê (seseorang berkata) hoti (:) agapô (aku mengasihi) ton Theon (TUHAN) kai (dan) ton adelfon autou (saudaranya) misê (ia benci), pseustês estin (ia adalah pembohong)

(20b) “karena siapa yang tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi TUHAN yang tidak dilihatnya” [ὁ γὰρ μὴ ἀγαπῶν τὸν ἀδελφὸν αὐτοῦ ὃν ἑώρακεν, τὸν θεὸν ὃν οὐχ ἑώρακεν οὐ δύναται ἀγαπᾶν]

Harfiah: ho gar (sebab siapa) mê agapôn (tidak mengasihi) ton adelfon autou (saudaranya) hon heôraken (yang ia lihat), tou Theon (TUHAN) hon oukh (yang tidak) heôraken (ia lihat) ou dunatai (tidak bisa) agapan (ia kasihi)



PERINTAH MENGASIHI

(21) “Inilah perintah yang kita terima dari Dia: Siapa yang mengasihi TUHAN, ia harus juga mengasihi saudara seimannya” [καὶ ταύτην τὴν ἐντολὴν ἔχομεν ἀπ᾽ αὐτοῦ, ἵνα ὁ ἀγαπῶν τὸν θεὸν ἀγαπᾷ καὶ τὸν ἀδελφὸν αὐτοῦ]

Harfiah: kai (dan) tautên tên entolên (inilah perintah) ekhomen (yang kita miliki) ap autou (dari DIA), hina (bahwa ia) ho agapôn (yang mengasihi) ton Theon (TUHAN) agapa kai (harus juga mengasihi) ton adelfon autou (saudaranya). [ ]

Rencana TUHAN Tidak Ada yang Gagal Sadari selalu bahwa TUHAN tidak pernah meninggalkan kita, dia ada selalu memperhatika...
24/03/2016

Rencana TUHAN Tidak Ada yang Gagal

Sadari selalu bahwa TUHAN tidak pernah meninggalkan kita, dia ada selalu memperhatikan kehidupan kita, dan rancangan TUHAN adalah yang terbaik. Tidak ada rancangan TUHAN yang gagal

Aku tahu, bahwa ENGKAU sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-MU yang gagal (Ayub 42: 2)
Kehidupan kekristenan juga sering diperhadapkan dengan berbagai ujian rohani. Terkadang ujian itu seakan-akan sesuatu yang di luar harapan kita sebagai sesorang yang dalam janji TUHAN, bahwa jika kita dalam TUHAN hidup kita akan dipenuhi secara berkelimpahan berkat dan damai sejahtera.

Belajar dari perjalanan hidup seorang Yusuf sebelum menjadi perdana menteri di Mesir, jika kita lihat ke belakang sebelum dia mencapai cita­-citanya, dia mengalami dan melalui banyak ujian hidup yang mungkin Yusuf pun seakan akan tidak percaya dengan apa yang dia alami, penghianatan dari saudaranya sendiri, difitnah, dipenjarakan. Tetapi setelah kita lihat akhir perjalananya sampai dia memperoleh tahta kerajaan, kita dapat melihat bahwa jalan jalan TUHAN itu beda dengan pola pikir kita.

Sebelum dia menjadi "raja" atas Mesir, dia diizinkan TUHAN melalui ujian-ujian, yang menurut penalaran kita sangat jauh dari mimpi yang sebelumnya, tapi TUHAN memberikan ujian yang dimana materi-materi ujian itu akan menjadi sebuah pelajaran buat Yusuf kelak jika dia menjadi raja. Berawal dari dia dijadikan budak, orang kepercayaan, masuk penjara, dan belajar banyak dari orang orang terdekat raja, menjadikan dia mengerti akan tugas-tugas seorang raja nantinya.

Mari kita sebagai orang yang percaya kepada TUHAN, jika kita sedang dalam ujian hidup, mari belajar dari Yusuf untuk sabar dalam rancangan jalan TUHAN, mungkin ini ujian yang akan menaikkan kita ke level yang lebih baik, dan sadari selalu bahwa TUHAN tidak pernah meninggalkan kita, dia ada selalu memperhatikan kehidupan kita, dan rancangan TUHAN adalah yang terbaik. Tidak ada rancangan TUHAN yang gagal. Amin!

Kavod Lekha, YHWH Elohenu, kavod lekha
Segala kemuliaan bagi-MU, YHWH TUHAN kami, kemuliaan bagi-MU!

Perjanjian Baru Kerangka khotbah Abuna K.A.M. Jusuf Roni dalam ibadah Jumat Agung di Gereja Kemah Abraham (GKA)
24/03/2016

Perjanjian Baru

Kerangka khotbah Abuna K.A.M. Jusuf Roni dalam ibadah Jumat Agung di Gereja Kemah Abraham (GKA)

Penulis:
Abuna K.A.M. Jusuf Roni
PENDAHULUAN

Yesus menghabiskan malam terakhir-Nya di bumi di dalam keheningan bersama murid-murid-Nya. Itu adalah adalah hari pertama dari Hari Raya Roti Tidak Beragi, mereka bertemu untuk menikmati perjamuan Paskah.

Tempat itu di Yerusalem digambarkan sebagai “ruangan atas yang besar, yang sudah lengkap dan tersedia”, dan dipinjamkan oleh salah seorang yang tidak ingin disebutkan namanya.

Dan kita bisa membayangkan mereka duduk mengelilingi meja makan yang rendah sambil duduk berselonjor di atas bantal-bantal yang tersedia di lantai.

Rupanya tidak ada hamba yang melayani mereka, sehingga tidak ada orang yang membasuh kaki mereka sebelum perjamuan itu dimulai.

Juga tidak satupun dari para murid yang cukup rela melayani pekerjaan itu, karena itu, mereka malu sekali ketika Yesus mengenakan kain lenan seorang hamba, menuang air ke dalam baskom, dan berkeliling sambal membasuh kaki-kaki mereka, dengan demikian melakukan apa yang tidak satupun dari mereka bersedia melakukan.

Bagaimana kasih yang otentik selalu mengekspresikan dirinya di dalam saling mendahului di dalam melayani bukti saling mengasihi, dan bagaimana dunia mengenali mereka sebagai murid-murid-Nya hanya jika mereka saling mengasihi.



PERJANJIAN BARU

(31a) “Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman TUHAN” [הִנֵּ֛ה יָמִ֥ים בָּאִ֖ים נְאֻם־יְהוָ֑ה]

Harfiah: hinnê (lihatlah / sesungguhnya) yamîm (waktu / hari-hari) ba’îm (datang) ne’um-YHWH (firman TUHAN)

(31b) “AKU akan mengadakan perjanjian baru…” [וְכָרַתִּ֗י אֶת־בֵּ֧ית יִשְׂרָאֵ֛ל וְאֶת־בֵּ֥ית יְהוּדָ֖ה בְּרִ֥ית חֲדָשָֽׁה׃]

Harfiah: wekharattî... (dan AKU akan membuat / mengadakan...) berîth khadhashâ (perjanjian baru)

Kata וכרתי (wekharattî) “dan AKU akan membuat / mengadakan...” berakar dari kata כרת (karath), yang secara harfiah berarti “memotong”. Ini berkaitan dengan ritual penyembelihan hewan pada saat orang-orang di kawasan Timur Dekat dan Timur Tengah (termasuk Israel dan sekitarnya) mengadakan perjanjian (kovenan) atau kesepakatan.



PERJANJIAN LAMA

(32a) “bukan seperti perjanjian yang telah KU-adakan dengan nenek moyang mereka pada waktu AKU memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir” [לֹ֣א כַבְּרִ֗ית אֲשֶׁ֤ר כָּרַ֙תִּי֙ אֶת־אֲבוֹתָ֔ם בְּיוֹם֙ הֶחֱזִיקִ֣י בְיָדָ֔ם לְהוֹצִיאָ֖ם מֵאֶ֖רֶץ מִצְרָ֑יִם]

Harfiah: lo’ (tidak / bukan) khabb­erîth (seperti perjanjian) asher (yang) karattî (AKU buat / adakan) eth-avôtham (dengan bapak-bapak / leluhur mereka) beyôm (pada hari / waktu) hekhezîqî (AKU memegang) veyadham (tangan mereka) lehôtsî’am (untuk membawa mereka keluar) me’erets (dari tanah / negeri) Mitsrayim (Mesir)

(32b) “perjanjian-KU telah mereka ingkari, meskipun AKU menjadi tuan yang berkuasa atas mereka” [אֲשֶׁר־הֵ֜מָּה הֵפֵ֣רוּ אֶת־בְּרִיתִ֗י וְאָנֹכִ֛י בָּעַ֥לְתִּי בָ֖ם]

Harfiah: ahser-hemmâ (yang mereka) heferû (telah rusakkan / langgar / ingkari) eth-berîthî (perjanjian-KU) we’anokhî (dan AKU) ba‘altî (menjadi tuan / suami) bam (bagi mereka)



TANDA-TANDA PERJANJIAN BARU

(33a) “Tetapi beginilah perjanjian yang KU-adakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu” [כִּ֣י זֹ֣את הַבְּרִ֡ית אֲשֶׁ֣ר אֶכְרֹת֩ אֶת־בֵּ֙ית יִשְׂרָאֵ֜ל אַחֲרֵ֙י הַיָּמִ֤ים הָהֵם֙]

Harfiah: kî (sebab) zoth (inilah) habberith (perjanjian) asher (yang) ekhroth (AKU buat / adakan) eth-bêth (dengan kaum / rumah) Yisra’el (Israel) akharê (sesudah) hayyamîm (hari-hari / waktu) hahem (itu)

(33b) “AKU akan menaruh Taurat-KU dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka” [נָתַ֤תִּי אֶת־תּֽוֹרָתִי֙ בְּקִרְבָּ֔ם וְעַל־לִבָּ֖ם אֶכְתֲּבֶ֑נָּה]

Harfiah: nathattî (AKU akan memberikan) eth-tôrathî (taurat-KU) beqirbam (di batin mereka) we‘al-libbam (dan di atas hati mereka) ekhtavennâ (menuliskannya)

(33c) “maka AKU akan menjadi TUHAN mereka dan mereka akan menjadi umat-KU” [וְהָיִ֤יתִי לָהֶם֙ לֵֽאלֹהִ֔ים וְהֵ֖מָּה יִֽהְיוּ־לִ֥י לְעָֽם׃]

Harfiah: wehayîthî (dan AKU akan menjadi) lahem (bagi mereka) l’Elohîm (TUHAN) wehemmâ (dan mereka) yihyû-lî (akan menjadi bagi-KU) le‘am (umat)

(34a) “Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN” [וְלֹ֧א יְלַמְּד֣וּ ע֗וֹד אִ֣ישׁ אֶת־רֵעֵ֜הוּ וְאִ֤ישׁ אֶת־אָחִיו֙ לֵאמֹ֔ר דְּע֖וּ אֶת־יְהוָ֑ה]

Harfiah: welo’ (dan tidak) yelammedhû (mereka mengajar) ‘ôdh (lagi) îsh (seorang) eth-re‘ehû (sesamanya / tetangganya) we’îsh (dan seorang) eth-akhîw (saudaranya) le’mor (dengan berkata) de‘û (kenallah / ketahuilah) eth-YHWH (TUHAN)

(34b) “Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal AKU, demikianlah firman TUHAN” [כִּֽי־כוּלָּם֩ יֵדְע֙וּ אוֹתִ֜י לְמִקְטַנָּ֤ם וְעַד־גְּדוֹלָם֙ נְאֻם־יְהוָ֔ה]

Harfiah: kî-khullam (sebab mereka semua) yedh‘û (akan mengenal) ôthî (AKU) lemiqtannam (mulai dari yang kecil dari mereka) we‘adh-gedhôlam (sampai yang besar) ne’um-YHWH (firman TUHAN)

(34c) “sebab AKU akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka” [כִּ֤י אֶסְלַח֙ לַֽעֲוֹנָ֔ם וּלְחַטָּאתָ֖ם לֹ֥א אֶזְכָּר־עֽוֹד]

Harfiah: kî eslakh (sebab AKU akan mengampuni) la‘awonam (kesalahan mereka) ûlekhatta’tham (dan dosa mereka) lo’ ezkhar-‘ôdh (tidak lagi AKU ingat)



PERJANJIAN BARU

Matius 26: 26

“Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku” [λάβετε φάγετε, τοῦτό ἐστιν τὸ σῶμά μου]

Harfiah: labete (ambillah / terimalah) fagete (makanlah) touto (ini) estin (adalah) to sôma mou (tubuh-Ku)

Matius 26: 27, 28

“Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa” [πίετε ἐξ αὐτοῦ πάντες, τοῦτο γάρ ἐστιν τὸ αἷμά μου τῆς διαθήκης τὸ περὶ πολλῶν ἐκχυννόμενον εἰς ἄφεσιν ἁμαρτιῶν]

Harfiah: piete (minumlah) ex autou (darinya) pantes (semua), touto gar (sebab ini) estin (adalah) to aima mou (darah-Ku) tês diathêkhês (perjanjian) to peri pollôn (bagi banyak orang) ekkhunnomenon (tercurah) eis (bagi) afesin (pengampunan) hamartiôn (dosa-dosa)

Matius 26: 29

“mulai dari sekarang Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur ini sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, bersama-sama dengan kamu dalam Kerajaan BAPA-Ku” [οὐ μὴ πίω ἀπ᾽ ἄρτι ἐκ τούτου τοῦ γενήματος τῆς ἀμπέλου ἕως τῆς ἡμέρας ἐκείνης ὅταν αὐτὸ πίνω μεθ᾽ ὑμῶν καινὸν ἐν τῇ βασιλείᾳ τοῦ πατρός μου]

Harfiah: ou mê (Aku tidak) piô (akan minum) ap arti (mulai dari sekarang) ek (dari) toutou tou genêmatos tês ampelou (hasil anggur ini) heôs (sampai) tês hêmeras (hari) ekeinês (itu) hotan (dimana) auto pinô (Aku meminumnya) m**h humôn (bersama-sama kalian) kainon (yang baru) en (di dalam) tê basileia tou patros mou (kerajaan BAPA-Ku)

Pelajaran pertama; sentralitas kematian-Nya.

Pelajaran kedua; tujuan kematian-Nya. [ ]

Address

Jakarta
14240

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Gereja Kemah Abraham Kelapa Gading posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share