Kelenteng KONG MIAO

Kelenteng KONG MIAO Kelenteng / Rumah Ibadat Agama Khonghucu

Nabi Kong Zi bersabda. " Bila diri telah lurus. dengan tanpa memerintah semuanya akan berjalan beres. Bila diri tidak lu...
05/11/2024

Nabi Kong Zi bersabda. " Bila diri telah lurus. dengan tanpa memerintah semuanya akan berjalan beres. Bila diri tidak lurus, sekalipun memerintah tidak akan diturut" (Lun Yu / Sabda Suci XIII:6).

Nabi Kong Zi bersabda. " Kalau seseorang dapat meluruskan diri, apa sukarnya mengurus pemerintahan? Kalau tidak dapat meluruskan diri, bagaimanakah mungkin meluruskan orang lain? (Lun Yu/ Sabda Suci XIIl:13).

___________________________
拜 : YOKY Confucian (陳燕峰. 教生)
Khonghucu Indonesia 印尼孔教
Salam Kebajikan (惟德動天, 咸有一德)

“Bagi seorang yang tidak berperi Cinta Kasih 仁, apa arti Kesusilaan 禮 ? Bagi seorang yang tidak berperi Cinta Kasih, apa...
11/09/2024

“Bagi seorang yang tidak berperi Cinta Kasih 仁, apa arti Kesusilaan 禮 ?

Bagi seorang yang tidak berperi Cinta Kasih, apa arti Musik 樂 ?”

Sabda Suci ( 論語. III.3 ).

✿ 永远祝福 𝗬Ǒɴɢ 𝗬ᴜǍɴ 𝗭ʜÙ 𝗙Ú ✿
善哉 𝐒𝐡à𝐧 𝐳ā𝐢.

Sembahyang King Hoo Peng/𝗝𝗜𝗡𝗚 𝗛𝗘 𝗣𝗜𝗡𝗚 Membangun Ketakwaan Dan Tenggang Rasa.Oleh: Xs. Tjandra R. Muljadi* PendahuluanDal...
10/08/2024

Sembahyang King Hoo Peng/𝗝𝗜𝗡𝗚 𝗛𝗘 𝗣𝗜𝗡𝗚 Membangun Ketakwaan Dan Tenggang Rasa.

Oleh: Xs. Tjandra R. Muljadi

* Pendahuluan

Dalam lingkungan masyarakat Tionghoa, sembahyang rebutan atau Chioko sudah dikenal sejak lama. Disebut sebagai sembahyang rebutan karena pada masa lalu, usai sembahyang, berbagai sajian yang terdapat di Altar sembahyang, diperebutkan. Namun seiring dengan perjalanan waktu, kebiasaan yang tidak tertib dan seringkali menimbulkan kekacauan itu, secara berangsur sudah ditinggalkan, lalu pembagian diatur dengan sistem kupon. Selain dikenal sebagai sembahyang rebutan, juga disebut sebagai sembahyang Tiong Gwan Ciat/Zhong Yuan Jie* yang biasanya dilaksanakan pada pertengahan bulan Tujuh, maka ada juga yang menyebutnya sebagai sembahyang Chiet Gwee Poa/Qi Yue Ban. Pada umumnya, sembahyang bersama ini digelar di Bio/Miao, yang populer dengan sebutan Kelenteng itu, berlangsung di sekitar pertengahan hingga di penghujung bulan ke-tujuh (Chiet Gwee/Qi Yue) Imlek/Yinli, saat memasuki musim Rontok (Chiu/Qiu).

Dalam pada itu, sembahyang yang dilakukan secara orang per orang dalam lingkup keluarga dilakukan di rumah masing- masing pada sekitar saat memasuki bulan ke-tujuh hingga di pertengahan bulan ke-tujuh, ditujukan kepada para Leluhur dan/atau orangtua yang telah marhum.

Bagi umat Ji/Ru (Khonghucu), sembahyang bersama itu disebut sebagai sembahyang King Hoo Ping/Jing He Ping. Oleh Haksu/Xueshi Tjhie Tjay Ing, Ketua Dewan Rohaniwan MATAKIN, King Hoo Ping bisa diartikan sebagai Jing Hao Peng (Sembahyang Umum Bagi Para Arwah Sahabat) atau Jing He Ping (Sembahyang untuk Kedamian Semua/dunia dan akhirat). Dalam persembahyangan ini dipanjatkan do’a bagi para Arwah dari orang-orang yang dianggap sebagai pemuka atau tokoh yang berjasa, juga bagi yang tidak lagi ‘disembahyangi’ oleh keluarga.

*Tiong Gwan Ciat/Zhong Yuan Jie terkait dengan Siang Gwan Ciat/Shang Yuan Jie yang dilaksanakan pada bulan Satu, dan He Gwan Ciat/Xia Yuan Jie yang dilaksanakan pada bulan Sepuluh, masing-masing pada saat Bulan Purnama.

* Aspek Religius

Dalam kitab Lee Ki/Li Ji XXII. Sempurnanya Persembahyangan.(12), tertulis: Sesungguhnya, sembahyang /ibadah ialah yang terbesar dari semua hal. Segala pirantinya disiapkan lengkap, tetapi kelengkapannya itu mengikuti keperluannya – bukankah ini menjadi pokok dari Agama? Maka, agama yang diamalkan seorang Kuncu/Junzi (Insan Kamil-pen), di luar dibimbingkan, bagaimana memuliakan pemimpin dan para tua, dan di dalam, dibimbingkan bagaimana berbakti kepada orangtuanya. Maka bila Raja/Pemimpin yang cerah batin di atas, para Menteri/Pembantunya akan tunduk mengikutinya. Jika penuh sujud dilakukan sembahyang di Miao Leluhur dan di hadapan altar Malaikat Bumi dan Gandum, tentulah anak cucunya akan patuh berbakti, sunguh-sungguh menempuh Jalan Suci, dengan tulus hidup dalam Kebenaran, dan akan semarak tumbuh ajaran agama. Maka seorang Kuncu/Junzi dalam melayani/mengabdi kepada pemimpin, pasti dilaksanakan sebagaimana diharapkan kepada diri sendiri. Apa yang tidak memberi kesentosaan/kepuasan dari atasannya, tidak akan dilakukan dalam menyuruh bawahannya. Dan apa yang tidak disukai dari bawahannya, tidak akan dilakukan dalam mengabdi kepada atasannya. Apa yang tidak disetujui dari orang lain, tetapi diri sendiri melakukannya, itu bukan Jalan Suci agama. Karena itu, amalan agama seorang Kuncu/Junzi pasti berlandas kepada yang pokok/yang akhir; diikuti dengan patuh sampai mencapai puncak (yang pokok) yaitu sembahyang/ibadah. Maka dikatakan “Sembahyang/ibadah, itulah pokok/ akar dari agama.”

Umat Ji/Ru (Khonghucu) melakukan persembahyangan pada empat musim, sebagaimana tercantum dalam kitab Lee Ki/Li Ji XXII. Sempurnanya Persembahyangan. (24): Upacara sembahyang diselenggarakan pada keempat musim. Upacara sembahyang pada musim Semi dinamai Yue. Upacara sembahyang pada musim Panas disebut Di. Upacara sembahyang pada musim Rontok dinamai Chang. Dan upacara sembahyang pada musim Dingin disebut Zheng.Upacara sembahyang sembahyang Yue dan Di mengungkapkan kebenaran sifat Yang (Positif, terang atau mengembang). Upacara sembahyang Chang dan Zheng mengungkapkan kebenaran sifat Yin (negatif, gelap, suram atau mengkerut). ……

Nabi Kong Zi bersabda: “Upacara sembahyang besar JIAO dan SHE (kepada Tuhan YME dan Malaikat Bumi) adalah bermakna kepada Yang Maha Roh (Gui Shen). Upacara sembahyang Di dan Chang (yang dilakukan pada musim Panas dan musim Rontok di kuil Leluhur) adalah bermakna menyampaikan rasa kasih kepada segenap jajaran keluarga ke kiri maupun ke kanan. …… (Lee Ki/Li Ji XXV.Zhong Ni Saat Santai Di Rumah. Ayat 6)
Sembahyang kepada Leluhur di musim Rontok, diamanatkan p**a dalam kitab Tiong Yong/Zhong Yong XVIII:3 bahwa Dalam sembahyang Musim Semi dan sembahyang Musim Rontok hendaknya dibangun kembali Bio/Miao Leluhur, diatur rapih barang-barang warisannya, diatur rapih pakaian-pakaiannya, dan disajikan makanan sesuai dengan musimnya.

Dalam kitab Lee Kie/Li Ji XXI. Makna Sembahyang. Bagian I (8) tertulis: Pada waktu Zhong Ni (Nabi Khong Cu/Kong Zi/Confucius, 551-479 SM) menyelenggarakan sembahyang Leluhur pada Musim Rontok (Chang), Beliau maju menaikkan sajian kepada orangtuanya yang telah marhum, tindak-lakunya begitu khusuk tulus ……….

* Aspek Sosial

Dalam kitab Lee Ki/Li Ji XXII. Sempurnanya Persembahyangan. Ayat 1& 3, dinyatakan bahwa Diantara semua Jalan Suci yang mengatur kehidupan manusia, tiada yang lebih penting dari Li (Kesusilaan). Li itu mempunyai Lima Pokok (Wu Jing: upacara S**acita, Dukacita, Ulang Tahun, Kemiliteran, Penyambutan Tamu). Dan darinya tiada yang lebih penting dari Sembahyang/Ibadah (Ji). Adapun Ji itu bukanlah sesuatu yang datang dari luar, melainkan dari tengah-tengah batin keluar dan lahir di hati. ………. Melakukan sembahyang kepada Leluhur bermaksud melanjutkan perawatan dan melestarikan Laku Bakti. Yang berbakti itu memberi perawatan. Dilaksanakan patuh-takwa dalam Jalan Suci (Shun Dao), tidak melawan tata jalinan hubungan (kemanusiaan), demikianlah yang dinamai memberikan perawatan. Maka seorang anak berbakti dalam mengabdi kepada orangtua, ada Tiga Jalan Suci (San Dao): Pada saat hidupnya, diberi perawatan. Ketika orangtua meninggal dunia, melakukan perkabungan. Dan setelah digenapkan perkabungan, diselenggarakan persembahyangan …….

Selanjutnya dalam kitab Lee Ki/Li Ji VIII. Peralatan Kesusilaan. Bag.I (1) ditegaskan, bahwa Tata Susila adalah sarana yang memberi kesiapan besar mengembangsuburkan Kebajikan. Makna mulia Kesusilaan: melepaskan manusia dari hal yang buruk dan mengembangkan jati dirinya yang indah, menjadikan orang lurus di dalam dirinya dan beroleh kelancaran dalam melakukan sesuatu untuk orang lain. Dalam diri manusia seperti panh dari bambu yang berkulit, seperti hati bagi pohon Song dan Bo (Pine dan Cypress). Kedua hal itu berperanan sebagai permulaan besar di bawah langit ini, maka memiliki ketahanan dalam melewati keempat musim, tanpa berubah cabang maupun daunnya. Maka seorang Junzi (Insan Kamil-pen) yang memiliki Kesusilaan itu, di luar menciptakan keharmonisan dan di dalam tidak menimbulkan penyesalan. Sesungguhnya tiada orang yang tidak mendambakan Cinta Kasih, dan Tuhan Yang Maha Roh (Gui Shen) berkenan menerima kebajikannya.

Berdasarkan peraturan para Raja Suci (Sheng Wang) tentang upacara sembahyang, sembahyang dilakukan p**a kepada orang yang menegakkan hukum bagi rakyat; kepada yang gugur menunaikan tugas; kepada orang yang telah berjerih payah membangun kemantapan dan kejayaan negara; kepada yang dengan gagah dan berhasil menghadapi dan mengatasi bencana besar; dan kepada orang yang mampu mencegah terjadinya kejahatan/penyesalan besar. (Lee Ki/Li Ji XX. Hukum Sembahyang. Ayat 9)
Sementara itu, kepada yang hidup terdapat 4 golongan yang perlu diberikan bantuan, yakni: Seseorang yang pada waktu muda sudah kehilangan ayah, dinamai yatim (Gu). Orang tua yang tidak mempunyai anak dinamai orang yang hidup sendiri (Du). Orang tua yang tidak mempunyai istri dinamai duda (Jin). Orang tua yang tidak mempunyai suami disebut Janda (Gua). Keempat golongan orang ini di antara rakyat Tuhan (TIAN Min) yang merana karena tidak ada seseorang sebagai tempat mereka menyampaikan keinginannya. Kepada mereka semua diberikan tunjangan tetap. (Lee Ki/Li Ji III. Peraturan Kerajaan. Bag.V. Ayat 13 > Beng Cu/Meng Zi I.B:5,3)

Dalam kitab Beng Cu/Meng Zi VI.B:7,2 dinyatakan, bahwa “Kalau Raja (tiap 12 tahun) berkunjung ke tempat raja-raja muda, itu dinamai pemeriksaan. Dan kalau rajamuda itu (tiap 6 tahun) menghadap ke istana raja, itu namanya laporan. Sudah menjadi kebiasaan pada waktu musim Semi sawah-sawah diperiksa, dan kepada yang berkekurangan benih diberi bantuan. Tiap musim Rontok juga diadakan pemeriksaan untuk membantu yang hasil panennya kurang. …….

* Kesimp**an & Penutup *

Bahwa sembahyang di bulan tujuh (Chiet Gwee/Qi Yue) bermakna sebagai ketakwaan (Shun) manusia sebagai rakyat Tuhan (TIAN Min) dan bakti (Hauw/Xiao) anak terhadap ayah-bundanya yang sudah marhum juga kepada Leluhurnya. Selain itu, mengingatkan kewajibannya untuk bertenggang rasa (Tiong Si/Zhong Su) membantu kepada sesama, yang memang perlu mendapatkan bantuan, maka usai sembahyang kepada yang merasa membutuhkan dibagikan sejumlah beras adap**a disertai dengan jenis sembako lainnya.

“Seorang yang berperi Cinta Kasih ingin dapat tegak, maka berusaha agar orang lain pun tegak. Ia ingin maju, maka berusaha agar orang lain pun maju.” (Lun Gi/Lun Yu VI:30,3)

“… seorang Kuncu/Junzi (Insan Kamil-pen) mengutamakan pokok. Sebab, setelah pokok itu tegak Jalan Suci akan tumbuh. Laku Bakti dan Rendah Hati itulah pokok Cinta Kasih.” (Lun Gi/Lun Yu I:2,2)

“Seorang yang penuh Cinta Kasih menggunakan harta untuk mengembangkan diri. Seorang yang tidak berperi Cinta Kasih mengabdikan diri untuk menumpuk harta.” (Tay Hak/ Da Xue X:20)

“Cinta Kasih itulah kemanusiaan. Dan kalau kata-kata itu telah satu dengan perbuatan, itulah Jalan Suci. (Beng Cu/Meng Zi VII.B:10)

“…pemerintahan itu bergantung pada orangnya, orang itu bergantung pada diri pribadinya. Untuk membina diri itu harus hidup dalam Jalan Suci, dan untuk membina Jalan Suci itu harus hidup dalam Cinta Kasih.” (Tiong Yong/Zhong Yong XIX:4)

Cu Lo/Zi Lu bertanya tentang seorang Kuncu/Junzi (Insan Kamil-pen). Nabi bersabda: “Ia membina dirinya dengan penuh hormat.” Cu Lo kembali bertanya: “Setelah dapat berbuat demikian, lalu bagaimana?” Nabi menjawab: “Ia membina diri untuk memberi sentosa kepada orang lain.” Cu Lo bertanya kembali: “Setelah dapat berbuat demikian, lalu bagaimana?” Nabi menegaskan: “Ia membina diri untuk memberi sentosa kepada segenap rakyat. ……. (Lun Gi/Lun Yu XIV:42)

“…manusia yang harus mengembangkan Jalan Suci. Bukan Jalan Suci yang mengembangkan manusia.” (Lun Gi/Lun Yu XV:29)

Maha Besar Huang Tian, Khalik semesta Alam. Segala Puja dan Puji bagi-Mu. Shanzai!

___________________________
拜 : YOKY Confucian (陳燕峰. 教生)
Khonghucu Indonesia (印 尼 孔 教)
Salam Kebajikan (惟德動天, 咸有一德)

MEMAKNAI KUE KERANJANGNian gao adalah kue keranjangdibungkus dengan daun pisangkeharumannya lebih merangsangdaripada dib...
16/01/2022

MEMAKNAI KUE KERANJANG

Nian gao adalah kue keranjang
dibungkus dengan daun pisang
keharumannya lebih merangsang
daripada dibungkus plastik seperti sekarang

pohon pisang berbuah hanya sekali
hewan dan manusia dapat menikmati
mengandung makna dalam filosofi
dalam hidupnya manusia menghasilkan karya yang berarti

isinya terbuat dari ketan
sifatnya lekat tidak rentan
jika disimak seakan suatu pesan
menyatu erat dalam persaudaraan

tahan berhari-hari tidak basi
dapat diolah secara bervariasi
hal itu dapat menjadi arti
menjalani hidupberdaya tahan tinggi

kue keranjang , penganan khas sin cia, ada yang bersusun
di bawah besar ke atas bentuknya kian mengecil
sebagai isyarat yang kuat mendukung dengan santun
supaya yang kecil tidak hidup terpencil

☀tiarem
150215 (Xs. Tjandra R. Muljadi).
Postingkan oleh : Yoky Confucian (陳燕峰。教生)

TEKS MAKNA HARI DUĀNYÁNG 端陽。 (五月 初五日 2571 年, 孔子曆) .Kamis, 25 juni 2020.Wéi Dé Dòng Tiān ! (惟德動天)Hari Raya Duānyáng ialah...
19/06/2020

TEKS MAKNA HARI DUĀNYÁNG 端陽。
(五月 初五日 2571 年, 孔子曆) .
Kamis, 25 juni 2020.

Wéi Dé Dòng Tiān ! (惟德動天)
Hari Raya Duānyáng ialah hari suci bersujud ke hadirat Tiān Yang Maha Esa yang telah dilakukan umat Khonghucu atau
Rújiào (儒教) sejak zaman purbakala. Di Indonesia kita lebih mengenalnya dengan sebutan dalam dialek Hokkian sebagai perayaan
Go Gwee Chee Go atau Hari Raya tanggal 5 bulan V Khongcu Lek.
Duān (端) artinya lurus, terkemuka, terang, yang menjadi pokok atau sumber, dan Yáng (陽) artinya sifat positif atau matahari,
jadi Duānyáng ialah saat matahari memancarkan Cahaya paling keras. Hari Raya ini dinamai p**a Hari Raya Duānwŭ (端午節).

Wŭ (午) artinya saat antara jam 11.00 s/d 13.00 siang, jadi perayaan ini tepatnya ialah pada saat tengah hari. Pada saat-saat
demikian pada hari Duānyáng , matahari benar-benar melambangkan curahnya rakhmat Tuhan. Cahaya matahari ialah sumber
kehidupan, lambang rakhmat dan kemurahan Tiān atas manusia dan segenap makhluk dunia.
Maka saat Duānyáng ialah saat untuk umat bersuci, bermandi, bersujud menyampaikan sembah dan syukur kepada-Nya. Pada
saat Duānyáng kita rasakan sebagai saat paling besar Tiān melimpahkan rakhmat karunia-Nya, khususnya pada saat Wŭ, saat
tengah hari. Oleh karena itu timbul kepercayaan pada saat Duanwu segala makhluk dan benda mendapat curahan karunia kekuatan
paling besar. Orang-orang percaya bahwa ramuan obat-obatan yang dipetik pada saat itu akan besar khasiatnya. Karena letak
matahari tegak lurus, orang percaya dan memang benar bahwa telur ayam pun bila ditegakkan saat itu akan dapat berdiri tegak lurus.
Bahkan sebagian masyarakat di beberapa daerah mempercayai dan melakukan penyimpanan air yang diambil pada saat Wŭ di hari
Duānyáng dan menjadikannya sebagai air berkhasiat.

Hari raya Duānyáng ini disebut p**a dengan dalam Dialek Hokkian sebagi hari Peh Cun yang artinya merengkuh Dayung (扒船)
atau Beratus Perahu (百船). Dinamai demikian karena pada hari itu sering diadakan perlombaan dengan banyak (beratus) perahu.
Tentang perlombaan dengan perahu di sungai-sungai itu dikaitkan dengan suatu peristiwa pada hari Duānyáng yang terjadi pada
zaman Zhànguó (戰國時代 zaman Peperangan Antar Negara, suatu zaman setelah wafat Nabi Kŏngzĭ, 403SM--231SM) di negeri
Chŭ (楚), kisahnya sebagai berikut :

Dinasti Zhōu (周) pada zaman Zhànguó sudah tidak berfungsi lagi sebagai negara pusat, pada
zaman itu ada tujuh negara besar, yakni negeri Qín (秦), Qí (齊), Chŭ (楚), Yàn (燕), Hán (韓), Zhào (趙), dan Wèi (魏). Negeri
Qín ialah negeri yang paling kuat dan agresif, maka enam negeri yang lain itu sering bersekutu untuk bersama menghadapi Qín.
Qū Yuán (屈原, 340SM--278SM) adalah seorang menteri besar dan setia dari negeri Chŭ, beliau seorang tokoh yang paling
berhasil menyatukan ke-enam negeri itu untuk menghadapi negeri Qín. Karena itu orang-orang negeri Qín terus-menerus berusaha
menjatuhkan nama baik Qū Yuán, terutama berhadapan raja negeri Chŭ, yakni Chǔ Huáiwáng (楚懷王). Di negeri Chŭ ternyata
banyak p**a menteri-menteri yang tidak setia, seperti Pangeran Gōngzi Lán (公子蘭), Qín Shàng (斳尚) Shàngguān Dàfū (上官大
夫), dan lain-lain. Dengan bantuan orang-orang itu, Zhāng Yí (張儀) seorang menteri negeri Qín yang cerdik dan licin berhasil
meretakkan hubungan Qū Yuán dengan raja negeri Chŭ. Qū Yuán dipecat dan berantakanlah persatuan ke enam negei itu. Chǔ
Huáiwáng bahkan terbujuk oleh janji-janji yang menyenangkan, mau datang ke negeri Qín. Di sana ia ditawan dan menyesali
perbuatannya sampai mangkatnya. Raja negeri Chŭ yang baru, Chǔ Qǐng Xiāngwáng (楚頃襄王), kini kembali memberikan
kepercayaan kepada Qū Yuán. Ke-enam negeri dapat dipersatukan kembali sekalipun tidak sekokoh dahulu. Pada tahun 293 SM
negeri Hán dan Wèi yang melawan negeri Qín dihancurkan dan 240.000 orang rakyatnya dibinasakan, oleh peristiwa ini Qū Yuán
kembali difitnah akan membawa negeri Chŭ mengalami nasib seperti negeri Hán dan Wèi. Chǔ Qǐng Xiāngwáng ternyata lebih
buruk kebijaksanaannya daripada raja yang marhum, ia tidak saja memecat Qū Yuán, bahkan kepadanya dijatuhi hukuman buang ke
daerah danau Dòngtíng (洞 庭), dekat sungai Mìluó(汨羅). Ditempat pembuangan ini Qū Yuán hampir-hampir tidak tahan, hanya
berkat kebijaksanaan kakak perempuannya yang bernama Nǚ Xū (女嬃), beliau dapat ditenteramkan dan rela menerima
keadaannya itu. Meski demikian beliau tidak selalu dapat serasi, maklum beliau seorang bangsawan negeri Chŭ sehingga tidak dapat
melupakan tanggung-jawab kepada negara dan leluhurnya, karena itu Qū Yuán sering merasa kesepian dan timbul kejemuan akan
suasana kehidupannya.
Dalam saat demikian itu, beliau beroleh kenalan seorang nelayan, yang ternyata seorang pandai yang menyembunyikan diri.
Orang itu menyembunyikan nama aslinya, hanya menyebut dirinya Yú Fū (漁夫 Bapak Nelayan). Dengan Yú Fū ini Qū Yuán
mendapatkan kawan bercakap meski pandangan hidupnya tak sejalan. Yú Fū berprinsip meninggalkan hidup bermasyarakat yang
buruk keadaannya, sedangkan Qū Yuán biarpun tidak mau tercemar oleh keserakahan dan kekotoran dunia tetapi tetap berharap
dapat mengembangkan kembali Jalan Suci Nabi Kŏngzĭ bagi kesejahteraan dan kebahagiaan rakyat. Demikianlah Qū Yuán sangat
akrab dengan nelayan itu. Suatu saat, ketenteraman Qū Yuán itu ternyata dihancurkan oleh berita hancur-binasanya ibu kota negeri
Chŭ, tempat Miào (廟) leluhurnya yang diserbu orang negeri Qín.
Hal ini menjadikan Qū Yuán yang telah lanjut usia itu merasa tiada arti bagi hidup pribadinya. Setelah dirundung kebimbangan
dan kesedihan, beliau memutuskan menjadikan dirinya yang telah tua itu biarlah menjadi tugu peringatan bagi rakyatnya akan
peristiwa yang sangat menyedihkan atas tanah air dan negerinya itu, semoga bangkit semangat rakyatnya menegakkan kebenaran
dan mencuci bersih aib yang menimpa negerinya. Ketika itu kebetulan ialah saat hari suci Duānyáng , beliau mendayung perahunya
ke tengah-tengah sungai Mìluó, dinyanyikan sanjak-sanjak ciptaannya (antara lain sanjak Lísāo 離騷) yang telah dikenal rakyat
sekitarnya, yang mencurahkan rasa cinta tanah air dan rakyatnya. Rakyat banyak tertegun mendengar semuanya itu. Pada saat itu
beliau sampai ke tempat yang jauh dari kerumunan orang, beliau menerjunkan diri ke dalam sungai yang deras aliran dan dalam itu.
Beberapa orang yang mengetahuinya segera berusaha menolongnya, tetapi hasilnya nihil, jenazahnyapun tidak diketemukan.
Seharian Yú Fū, nelayan kawan Qū Yuán itu, dengan perahu-perahu kecil mengerahkan kawan-kawannya mencari, hasilnya sia-sia
belaka. Pada tahun ke dua saat Duānyáng , ketika kembali orang merayakan hari suci Duānyáng , Yú Fū telah membawa sebuah
tempurung bambu berisi beras dituangkan ke dalam sungai untuk mengenang kembali dan menghormati Qū Yuán. Banyak orang
lalu mengikuti jejak Yú Fū itu. Demikianlah kepergian Qū Yuán tidak sia-sia, telah mampu menggerakkan hati rakyat kepada cita
yang luhur, bahkan telah mengubah sikap Yú Fū yang telah mengingkari duniawi itu. Inilah kemenangan pengorbanan Qū Yuán.
Pada tahun-tahun berikutnya, kebiasaan mempersembahkan beras di dalam tempurung bambu iu diganti dengan kue dari beras ketan
yang dibungkus daun bambu, yang disini kita kenal dengan nama bakcang dan kue cang. Diadakan perlombaan-perlombaan perahu
yang dihiasi gambar-gambar naga (lóngchuán 龍船), semuanya mengingatkan usaha mencari jenazah Qū Yuán pecinta tanah air,
setiawan dan pecinta rakyat itu.

Di dalam dirinya tercermin jiwa besar dan suci, yang satya kepada Firman Tiān, menggemilangkan
kebajikan dan mengasihi sesama manusia. Demikianlah tiap hari raya Duānyáng selalu diadakan p**a peringatan untuk Qū Yuán,
seorang yang berjiwa mulia dan luhur, berjiwa kuncu dari negeri Chŭ itu. Shànzāi (善哉) !

☀ Dipostingkan oleh: Yoky Confucian
Khonghucu Indonesia (印尼孔教)

01/06/2020

Zi Zhang (子 張) ingin belajar cara mendapatkan kedudukan.

Nabi Kong Zi 孔子 bersabda, “Banyaklah mendengar dan sisihkan hal yang meragukan serta berhati-hatilah jika membicarakan hal itu.

Dengan demikian akan dapat mengurangi orang lain menyalahkan (kita).

* Banyaklah melihat dan sisihkan hal yang membahayakan serta berhati-hatilah jika menjalankan hal itu.

Dengan demikian akan dapat mengurangi kekecewaan diri sendiri.

Jika dalam pembicaraan tidak banyak mengandung kesalahan dan dalam perbuatan tidak banyak menimbulkan kekecewaan, disitulah terletak rahasia untuk mendapatkan kedudukan.”


*Sabda Suci ( 論 語 II:18 ).

_______________________________

Nabi Kong Zi 孔子 bersabda, “Janganlah khawatir tidak mendapatkan kedudukan, akan tetapi khawatirlah kalau-kalau (diri sendiri) tidak mempunyai kecakapan untuk suatu kedudukan.

Janganlah khawatir tiada orang yang mengetahui/mengenal dirimu, akan tetapi berusahalah agar mempunyai kecakapan yang patut diketahui.”

( Sabda Suci 論語. IV.14 ).

______________________________
Wéi Dé Dòng Tiān !(惟 德 動 天)
(印 尼 孔 教)
拜 : (陳 燕 峰)

24/05/2020

TIAN atau SHANG DI adalah Tuhan Yang Maha Hidup, Menjadi Sumber dan Tempat Berp**ang bagi semua Yang Hidup,

Yang Maha Mengetahui, Yang Mencintai Rakyat CiptaanNya, Yang Meridhoi Kebajikan, Yang Menghukum Kejahatan. Tersurat di dalam Kitab Shu Jing 书 经:

● Sungguh TIAN Maha Mengetahui, dan hanya Nabi setiap saat mentaati hukumNya. ( Shu Jing IV. VIII.B; II: 3)

• TIAN mencintai rakyat, apa yang diinginkan rakyat, TIAN pasti meridhoi. (Shu Jing V. I.A; 11)

• TIAN melihat seperti rakyat melihat, TIAN mendengar seperti rakyat mendengar. (Shu Jing V. IB; 7)

• Jalan Suci TIAN memberkati kebaikan, dan menghukum kemaksiatan. (Shu Jing IV. III. II; 3)

● Tersurat p**a di dalam Kitab Mengzi:

• Yang gembira / bahagia di dalam TIAN, dapat melindungi dunia dan yang takut akan TIAN dapat melindungi negerinya (Mengzi I B : 3).

• Was-was dan hati-hatilah, apa yang keluar dari kamu akan kembali kepadamu (Mengzi I B : 12)

• Siapa menurut kepada TIAN akan terpelihara, yang melawan TIAN akan binasa (Mengzi IV A: 7).

Dan di dalam Kitab Sabda Suci tersurat:

• Siapa berbuat dosa kepada TIAN, tiada tempat (lain) ia dapat meminta doa (Sabda Suci III: 13).

• Tuhan Maha Tahu, ‘Siapakah yang hendak Ku kelabui? Apakah Aku akan mengelabui TIAN?’ demikian sabda Nabi (Sabda Suci IX: 12).

• Nabipun bersabda, “Aku tidak menggerutu kepada TIAN, tidak p**a menyesali manusia. Aku hanya belajar dari tempat rendah ini, terus maju menuju tinggi. TIAN-lah mengerti diriku!”

______________________________
Wéi Dé Dòng Tiān !(惟 德 動 天)
(印 尼 孔 教)
拜 : (陳 燕 峰)

16/05/2020

Meluruskan Hati Membina Diri

1. Adapun Dinamai 'untuk membina diri harus Lebih dahulu Meluruskan Hati, ialah:

Diri Yang diliputi Geram dan marah , tidak dapat berbuat lurus.

Yang diliputi Takut dan khawatir , tidak dapat berbuat lurus.

Yang meliputi S**a dan gemar , tidak dapat berbuat lurus, dan

Yang diliputi Sedih dan Sesal, tidak dapat berbuat lurus.

2. Hati yang Tidak pada tempatnya, sekalipun Melihat takkan tampak, Meski mendengar takkan terdengar dan meski makan takkan merasakan.

3. Ini lah sebabnya dikatakan,bahwa untuk membina diri itu berpangkal pada Meluruskan Hati.

*Da Xue* 大學.
(Ajaran Besar BAB Vll: 1-3)

______________________________
Wéi Dé Dòng Tiān !(惟 德 動 天)
(印尼孔教)
拜 : ( #陳燕峰)

24/04/2020

Carilah dan engkau akan mendapatkannya. Sia-siakanlah, dan engkau akan kehilangan.

Inilah mencari yang berfaedah untuk didapatkan, dan carilah itu DI DALAM DIRI. Carilah dengan Jalan Suci, akan hasilnya berserahlah kepada Firman.

Inilah mencari yang tidak terlalu berfaedah untuk didapatkan, dan carilah itu di luar diri.” (VII A: 3).

Nabi Kongzi menegaskan kepada kita,

“Yang tidak mengenal Firman tidak dapat menjadi seorang Susilawan. Yang tidak mengenal Kesusilaan, ia tidak dapat teguh pendirian. Dan yang tidak mengenal perkataan, ia tidak dapat mengenal manusia.” (Sabda Suci XX: 3).

______________________________

Wéi Dé Dòng Tiān !(惟 德 動 天)
(印尼孔教)
拜 : ( #陳燕峰)

16/04/2020

TIAN merakhmatkan FirmanNya kepada yang memiliki Kebajikan.” (Shu Jing II.III.IV.6).

- “TIAN melihat Kebajikan itu, dan mengaruniakan Firman Agung itu kepadanya.” (Shu Jing IV.V. i. 2).

- “Aku berkahi Kebajikan Yang Bercahaya yang tidak besar suara dan rupa itu.” demikian Firman TIAN kepada Raja Suci Wen yang tersurat di dalam (Shi Jing III.3.6.6).

- “Dia yang senantiasa tekun hormat membina kebajikan, kepadanya SHANG DI 上帝(Tuhan Yang Maha Tinggi) beserta.” (Shu Jing IV.V.iii.3).

- “Sungguh TIAN tidak memberkati / menyertai, (dia) yang tidak menggemilangkan kebajikan.” (Shu Jing V.XIV.11).

- “HUANG TIAN 皇天 (Tuhan Yang Maha Besar) tidak mengakrabi (seseorang / suatu golongan), hanya membantu yang berkebajikan.” (Shu Jing V.XVII.4).

______________________________

Wéi Dé Dòng Tiān !(惟 德 動 天)
(印尼孔教)
拜 : ( #陳燕峰)

25/02/2020

Nabi Kong Zi 孔子 bersabda, “Seorang muda, di rumah hendaklah berlaku Bakti 孝, diluar rumah hendaklah bersikap Rendah Hati 悌, berlaku hati-hati 謹 sehingga Dapat Dipercaya 信, menaruh cinta kepada masyarakat 愛眾 dan berhubungan erat (bergaul) dengan orang-orang yang berperi Cinta Kasih 親仁. Bila semua itu sudah dilakukan dan masih mempunyai kelebihan tenaga dan waktu, pergunakanlah untuk mempelajari kitab-kitab 學文.” (Sabda Suci I.6)

____________ ________ _________

Cita- Cita Nabi Kong Zi 孔子

Nabi Kong Zi 孔子 bersabda, “Aku ingin membahagiakan orang-orang yang sudah lanjut usia, bersikap Dapat Dipercaya dalam pergaulan dengan kawan dan sahabat, serta mengasuh kaum muda dengan kasih sayang.” (Sabda Suci V.26)

_________ __________ __________

Nabi Kong Zi 孔子 bersabda, “Kita harus hormat kepada angkatan muda, siapa tahu mereka tidak seperti angkatan yang sekarang. Tetapi bila sudah berumur empat puluh, lima puluh tahun dan belum juga terdengar perbuatannya yang baik, bolehlah dinilai memang tidak cukup syarat untuk dihormati.” (Sabda Suci IX.23)

_______ _______ ___________

Nabi Kong Zi 孔子 bersabda, “Ketika masih muda kamu tidak patuh, setelah dewasa tidak ada sesuatu yang dapat engkau berikan kepada masyarakat dan setelah tua tidak mau mati. Sesungguhnya engkau ini adalah pencuri (Kebajikan).” .... (Sabda Suci XIV.43.2)

__________ _______ _________

Kong Zi 孔子 bersabda, “Ada tiga hal yang sangat diperhatikan oleh seorang Junzi 君子 (Susilawan). Pada waktu muda, dikala semangat masih berkobar-kobar, ia senantiasa berhati-hati dalam masalah asmara. Setelah cukup dewasa, dikala badan sedang kuat-kuatnya dan semangat membaja, ia senantiasa menjaga diri menghindari perselisihan. Dan setelah tua, dikala semangat sudah lemah, ia senantiasa berhati-hati terhadap ketamakan.” (Sabda Suci XVI.7)

________ _______ _______
... "Kepada Pemuda pada saat terluang diberi pendidikan: Laku bakti; Rendah Hati; Satya; dan Dapat dipercaya.

Sehingga kedalam dapat mengabdi kepada ayah bunda serta saudara-saudaranya dan keluar dapat mengabdi kepada para tua-tua serta atasannya.

(Meng Zi 孟子 I A : 5.3 ).

____ _______ _________

Nabi Kong Zi 孔子 telah lepas dari Empat Cacat yakni : Tidak berangan-angan kosong, Tidak mengharuskan (orang lain), Tidak kukuh / keras (tidak mau menerima pendapat orang lain) dan Tidak menonjolkan aku-Nya. (Sabda Suci IX.4)

________ _______ _________

Adapun yang dinamakan mengimankan tekad itu adalah tidak mendustai diri sendiri, yakni seperti membenci bau busuk dan menyukai keelokan. Inilah yang dinamakan bahagia di dalam diri sejati. Maka seorang Junzi 君子 (Susilawan) sangat berhati-hati pada waktu seorang diri. (Ajaran Besar 6.1)

_______ _______ __________

☀( 儒教經書) � Sì Shū & Wǔ Jīng(四書五經)�

☀Bài ( 拜 ) : Yoky Confucian ( 陳 燕 峰 )

Address

Taman Mini Indonesia Indah (TMII)
Jakarta
13820

Opening Hours

Monday 09:00 - 17:00
Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 17:00
Friday 09:00 - 17:00
Saturday 09:00 - 17:00
Sunday 09:00 - 17:00

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Kelenteng KONG MIAO posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to Kelenteng KONG MIAO:

Share