10/08/2024
Sembahyang King Hoo Peng/𝗝𝗜𝗡𝗚 𝗛𝗘 𝗣𝗜𝗡𝗚 Membangun Ketakwaan Dan Tenggang Rasa.
Oleh: Xs. Tjandra R. Muljadi
* Pendahuluan
Dalam lingkungan masyarakat Tionghoa, sembahyang rebutan atau Chioko sudah dikenal sejak lama. Disebut sebagai sembahyang rebutan karena pada masa lalu, usai sembahyang, berbagai sajian yang terdapat di Altar sembahyang, diperebutkan. Namun seiring dengan perjalanan waktu, kebiasaan yang tidak tertib dan seringkali menimbulkan kekacauan itu, secara berangsur sudah ditinggalkan, lalu pembagian diatur dengan sistem kupon. Selain dikenal sebagai sembahyang rebutan, juga disebut sebagai sembahyang Tiong Gwan Ciat/Zhong Yuan Jie* yang biasanya dilaksanakan pada pertengahan bulan Tujuh, maka ada juga yang menyebutnya sebagai sembahyang Chiet Gwee Poa/Qi Yue Ban. Pada umumnya, sembahyang bersama ini digelar di Bio/Miao, yang populer dengan sebutan Kelenteng itu, berlangsung di sekitar pertengahan hingga di penghujung bulan ke-tujuh (Chiet Gwee/Qi Yue) Imlek/Yinli, saat memasuki musim Rontok (Chiu/Qiu).
Dalam pada itu, sembahyang yang dilakukan secara orang per orang dalam lingkup keluarga dilakukan di rumah masing- masing pada sekitar saat memasuki bulan ke-tujuh hingga di pertengahan bulan ke-tujuh, ditujukan kepada para Leluhur dan/atau orangtua yang telah marhum.
Bagi umat Ji/Ru (Khonghucu), sembahyang bersama itu disebut sebagai sembahyang King Hoo Ping/Jing He Ping. Oleh Haksu/Xueshi Tjhie Tjay Ing, Ketua Dewan Rohaniwan MATAKIN, King Hoo Ping bisa diartikan sebagai Jing Hao Peng (Sembahyang Umum Bagi Para Arwah Sahabat) atau Jing He Ping (Sembahyang untuk Kedamian Semua/dunia dan akhirat). Dalam persembahyangan ini dipanjatkan do’a bagi para Arwah dari orang-orang yang dianggap sebagai pemuka atau tokoh yang berjasa, juga bagi yang tidak lagi ‘disembahyangi’ oleh keluarga.
*Tiong Gwan Ciat/Zhong Yuan Jie terkait dengan Siang Gwan Ciat/Shang Yuan Jie yang dilaksanakan pada bulan Satu, dan He Gwan Ciat/Xia Yuan Jie yang dilaksanakan pada bulan Sepuluh, masing-masing pada saat Bulan Purnama.
* Aspek Religius
Dalam kitab Lee Ki/Li Ji XXII. Sempurnanya Persembahyangan.(12), tertulis: Sesungguhnya, sembahyang /ibadah ialah yang terbesar dari semua hal. Segala pirantinya disiapkan lengkap, tetapi kelengkapannya itu mengikuti keperluannya – bukankah ini menjadi pokok dari Agama? Maka, agama yang diamalkan seorang Kuncu/Junzi (Insan Kamil-pen), di luar dibimbingkan, bagaimana memuliakan pemimpin dan para tua, dan di dalam, dibimbingkan bagaimana berbakti kepada orangtuanya. Maka bila Raja/Pemimpin yang cerah batin di atas, para Menteri/Pembantunya akan tunduk mengikutinya. Jika penuh sujud dilakukan sembahyang di Miao Leluhur dan di hadapan altar Malaikat Bumi dan Gandum, tentulah anak cucunya akan patuh berbakti, sunguh-sungguh menempuh Jalan Suci, dengan tulus hidup dalam Kebenaran, dan akan semarak tumbuh ajaran agama. Maka seorang Kuncu/Junzi dalam melayani/mengabdi kepada pemimpin, pasti dilaksanakan sebagaimana diharapkan kepada diri sendiri. Apa yang tidak memberi kesentosaan/kepuasan dari atasannya, tidak akan dilakukan dalam menyuruh bawahannya. Dan apa yang tidak disukai dari bawahannya, tidak akan dilakukan dalam mengabdi kepada atasannya. Apa yang tidak disetujui dari orang lain, tetapi diri sendiri melakukannya, itu bukan Jalan Suci agama. Karena itu, amalan agama seorang Kuncu/Junzi pasti berlandas kepada yang pokok/yang akhir; diikuti dengan patuh sampai mencapai puncak (yang pokok) yaitu sembahyang/ibadah. Maka dikatakan “Sembahyang/ibadah, itulah pokok/ akar dari agama.”
Umat Ji/Ru (Khonghucu) melakukan persembahyangan pada empat musim, sebagaimana tercantum dalam kitab Lee Ki/Li Ji XXII. Sempurnanya Persembahyangan. (24): Upacara sembahyang diselenggarakan pada keempat musim. Upacara sembahyang pada musim Semi dinamai Yue. Upacara sembahyang pada musim Panas disebut Di. Upacara sembahyang pada musim Rontok dinamai Chang. Dan upacara sembahyang pada musim Dingin disebut Zheng.Upacara sembahyang sembahyang Yue dan Di mengungkapkan kebenaran sifat Yang (Positif, terang atau mengembang). Upacara sembahyang Chang dan Zheng mengungkapkan kebenaran sifat Yin (negatif, gelap, suram atau mengkerut). ……
Nabi Kong Zi bersabda: “Upacara sembahyang besar JIAO dan SHE (kepada Tuhan YME dan Malaikat Bumi) adalah bermakna kepada Yang Maha Roh (Gui Shen). Upacara sembahyang Di dan Chang (yang dilakukan pada musim Panas dan musim Rontok di kuil Leluhur) adalah bermakna menyampaikan rasa kasih kepada segenap jajaran keluarga ke kiri maupun ke kanan. …… (Lee Ki/Li Ji XXV.Zhong Ni Saat Santai Di Rumah. Ayat 6)
Sembahyang kepada Leluhur di musim Rontok, diamanatkan p**a dalam kitab Tiong Yong/Zhong Yong XVIII:3 bahwa Dalam sembahyang Musim Semi dan sembahyang Musim Rontok hendaknya dibangun kembali Bio/Miao Leluhur, diatur rapih barang-barang warisannya, diatur rapih pakaian-pakaiannya, dan disajikan makanan sesuai dengan musimnya.
Dalam kitab Lee Kie/Li Ji XXI. Makna Sembahyang. Bagian I (8) tertulis: Pada waktu Zhong Ni (Nabi Khong Cu/Kong Zi/Confucius, 551-479 SM) menyelenggarakan sembahyang Leluhur pada Musim Rontok (Chang), Beliau maju menaikkan sajian kepada orangtuanya yang telah marhum, tindak-lakunya begitu khusuk tulus ……….
* Aspek Sosial
Dalam kitab Lee Ki/Li Ji XXII. Sempurnanya Persembahyangan. Ayat 1& 3, dinyatakan bahwa Diantara semua Jalan Suci yang mengatur kehidupan manusia, tiada yang lebih penting dari Li (Kesusilaan). Li itu mempunyai Lima Pokok (Wu Jing: upacara S**acita, Dukacita, Ulang Tahun, Kemiliteran, Penyambutan Tamu). Dan darinya tiada yang lebih penting dari Sembahyang/Ibadah (Ji). Adapun Ji itu bukanlah sesuatu yang datang dari luar, melainkan dari tengah-tengah batin keluar dan lahir di hati. ………. Melakukan sembahyang kepada Leluhur bermaksud melanjutkan perawatan dan melestarikan Laku Bakti. Yang berbakti itu memberi perawatan. Dilaksanakan patuh-takwa dalam Jalan Suci (Shun Dao), tidak melawan tata jalinan hubungan (kemanusiaan), demikianlah yang dinamai memberikan perawatan. Maka seorang anak berbakti dalam mengabdi kepada orangtua, ada Tiga Jalan Suci (San Dao): Pada saat hidupnya, diberi perawatan. Ketika orangtua meninggal dunia, melakukan perkabungan. Dan setelah digenapkan perkabungan, diselenggarakan persembahyangan …….
Selanjutnya dalam kitab Lee Ki/Li Ji VIII. Peralatan Kesusilaan. Bag.I (1) ditegaskan, bahwa Tata Susila adalah sarana yang memberi kesiapan besar mengembangsuburkan Kebajikan. Makna mulia Kesusilaan: melepaskan manusia dari hal yang buruk dan mengembangkan jati dirinya yang indah, menjadikan orang lurus di dalam dirinya dan beroleh kelancaran dalam melakukan sesuatu untuk orang lain. Dalam diri manusia seperti panh dari bambu yang berkulit, seperti hati bagi pohon Song dan Bo (Pine dan Cypress). Kedua hal itu berperanan sebagai permulaan besar di bawah langit ini, maka memiliki ketahanan dalam melewati keempat musim, tanpa berubah cabang maupun daunnya. Maka seorang Junzi (Insan Kamil-pen) yang memiliki Kesusilaan itu, di luar menciptakan keharmonisan dan di dalam tidak menimbulkan penyesalan. Sesungguhnya tiada orang yang tidak mendambakan Cinta Kasih, dan Tuhan Yang Maha Roh (Gui Shen) berkenan menerima kebajikannya.
Berdasarkan peraturan para Raja Suci (Sheng Wang) tentang upacara sembahyang, sembahyang dilakukan p**a kepada orang yang menegakkan hukum bagi rakyat; kepada yang gugur menunaikan tugas; kepada orang yang telah berjerih payah membangun kemantapan dan kejayaan negara; kepada yang dengan gagah dan berhasil menghadapi dan mengatasi bencana besar; dan kepada orang yang mampu mencegah terjadinya kejahatan/penyesalan besar. (Lee Ki/Li Ji XX. Hukum Sembahyang. Ayat 9)
Sementara itu, kepada yang hidup terdapat 4 golongan yang perlu diberikan bantuan, yakni: Seseorang yang pada waktu muda sudah kehilangan ayah, dinamai yatim (Gu). Orang tua yang tidak mempunyai anak dinamai orang yang hidup sendiri (Du). Orang tua yang tidak mempunyai istri dinamai duda (Jin). Orang tua yang tidak mempunyai suami disebut Janda (Gua). Keempat golongan orang ini di antara rakyat Tuhan (TIAN Min) yang merana karena tidak ada seseorang sebagai tempat mereka menyampaikan keinginannya. Kepada mereka semua diberikan tunjangan tetap. (Lee Ki/Li Ji III. Peraturan Kerajaan. Bag.V. Ayat 13 > Beng Cu/Meng Zi I.B:5,3)
Dalam kitab Beng Cu/Meng Zi VI.B:7,2 dinyatakan, bahwa “Kalau Raja (tiap 12 tahun) berkunjung ke tempat raja-raja muda, itu dinamai pemeriksaan. Dan kalau rajamuda itu (tiap 6 tahun) menghadap ke istana raja, itu namanya laporan. Sudah menjadi kebiasaan pada waktu musim Semi sawah-sawah diperiksa, dan kepada yang berkekurangan benih diberi bantuan. Tiap musim Rontok juga diadakan pemeriksaan untuk membantu yang hasil panennya kurang. …….
* Kesimp**an & Penutup *
Bahwa sembahyang di bulan tujuh (Chiet Gwee/Qi Yue) bermakna sebagai ketakwaan (Shun) manusia sebagai rakyat Tuhan (TIAN Min) dan bakti (Hauw/Xiao) anak terhadap ayah-bundanya yang sudah marhum juga kepada Leluhurnya. Selain itu, mengingatkan kewajibannya untuk bertenggang rasa (Tiong Si/Zhong Su) membantu kepada sesama, yang memang perlu mendapatkan bantuan, maka usai sembahyang kepada yang merasa membutuhkan dibagikan sejumlah beras adap**a disertai dengan jenis sembako lainnya.
“Seorang yang berperi Cinta Kasih ingin dapat tegak, maka berusaha agar orang lain pun tegak. Ia ingin maju, maka berusaha agar orang lain pun maju.” (Lun Gi/Lun Yu VI:30,3)
“… seorang Kuncu/Junzi (Insan Kamil-pen) mengutamakan pokok. Sebab, setelah pokok itu tegak Jalan Suci akan tumbuh. Laku Bakti dan Rendah Hati itulah pokok Cinta Kasih.” (Lun Gi/Lun Yu I:2,2)
“Seorang yang penuh Cinta Kasih menggunakan harta untuk mengembangkan diri. Seorang yang tidak berperi Cinta Kasih mengabdikan diri untuk menumpuk harta.” (Tay Hak/ Da Xue X:20)
“Cinta Kasih itulah kemanusiaan. Dan kalau kata-kata itu telah satu dengan perbuatan, itulah Jalan Suci. (Beng Cu/Meng Zi VII.B:10)
“…pemerintahan itu bergantung pada orangnya, orang itu bergantung pada diri pribadinya. Untuk membina diri itu harus hidup dalam Jalan Suci, dan untuk membina Jalan Suci itu harus hidup dalam Cinta Kasih.” (Tiong Yong/Zhong Yong XIX:4)
Cu Lo/Zi Lu bertanya tentang seorang Kuncu/Junzi (Insan Kamil-pen). Nabi bersabda: “Ia membina dirinya dengan penuh hormat.” Cu Lo kembali bertanya: “Setelah dapat berbuat demikian, lalu bagaimana?” Nabi menjawab: “Ia membina diri untuk memberi sentosa kepada orang lain.” Cu Lo bertanya kembali: “Setelah dapat berbuat demikian, lalu bagaimana?” Nabi menegaskan: “Ia membina diri untuk memberi sentosa kepada segenap rakyat. ……. (Lun Gi/Lun Yu XIV:42)
“…manusia yang harus mengembangkan Jalan Suci. Bukan Jalan Suci yang mengembangkan manusia.” (Lun Gi/Lun Yu XV:29)
Maha Besar Huang Tian, Khalik semesta Alam. Segala Puja dan Puji bagi-Mu. Shanzai!
___________________________
拜 : YOKY Confucian (陳燕峰. 教生)
Khonghucu Indonesia (印 尼 孔 教)
Salam Kebajikan (惟德動天, 咸有一德)