Yayasan BKS Marturia

Yayasan BKS Marturia VISI: “JEMAAT YANG BERSENDING UNTUK MENJADI BERKAT”

MISI :Penyadaran jemaat dan pelayan tentang keha

06/08/2026

JUMAT 07 AGUSTUS 2026

MEMBERI DENGAN TULUS DAN SUKACITA
“Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan s**acita.” (2 Kor. 9:7)

Ams. 17:1-14 BE. 122: 6+8 Mrk. 8:14-21

Rasul Paulus mengajarkan bahwa yang terutama dalam memberi bukanlah besar kecilnya pemberian, melainkan sikap hati. Segala sesuatu yang kita miliki berasal dari Tuhan. Karena itu, ketika kita memberi, sesungguhnya kita sedang mengembalikan sebagian dari berkat yang telah dipercayakan-Nya kepada kita.
Ayat ini mengajarkan bahwa kemurahan hati yang berkenan kepada Allah harus memenuhi tiga syarat. Pertama, tulus dan rela. Memberi harus sesuai dengan keputusan hati, bukan karena tekanan atau keinginan menyenangkan orang lain. Kedua, tidak terpaksa. Pemberian yang disertai rasa berat hati atau keluhan kehilangan nilai rohaninya. Ketiga, disertai s**acita. Allah mengasihi orang yang memberi dengan hati yang gembira, karena s**acita menunjukkan iman dan rasa syukur kepada-Nya.
Namun, memberi bukan hanya tentang uang. Kita juga dapat memberi waktu, perhatian, tenaga, penghiburan, pengampunan, dan kasih kepada sesama. Inilah wujud nyata kasih yang diajarkan Tuhan Yesus. Dalam Matius 22:39, Yesus berkata, "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Hukum ini sama pentingnya dengan mengasihi Allah. Karena itu, kita memberi bukan untuk pamer atau mencari pujian, melainkan sebagai ungkapan kasih dan kesempatan menjadi rekan sekerja Allah dalam memberkati dunia.
Ketika kita memberi dengan s**acita, kita sedang menabur benih kebaikan yang mendatangkan s**acita, baik bagi penerima maupun bagi diri kita sendiri. Marilah kita mengasihi sesama tanpa memandang suku, ras, latar belakang, ataupun status sosial. Relakan hati untuk berkorban dan mengampuni, sebab kasih kepada sesama adalah bukti nyata kasih kita kepada Allah yang tidak terlihat.
Yesus telah lebih dahulu mengasihi kita dengan mengorbankan diri-Nya di kayu salib. Karena itu, marilah kita melakukan perintah-Nya: "Supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu." (Yohanes 13:34).

Doa : Tuhan, ajar kami untuk memberi sesuai kehendak-Mu. Ampuni kami jika melenceng dari ajar-Mu. AMIN. (Del)

05/08/2026

KAMIS 06 AGUSTUS 2026

KEKAYAAN DAN KEMULIAAN BERASAL DARI ALLAH
Ya TUHAN, punya-Mulah kebesaran dan kejayaan, kehormatan, kemasyhuran dan keagungan, ya, segala-galanya yang ada di langit dan di bumi! Ya TUHAN, punya-Mulah kerajaan dan Engkau yang tertinggi itu melebihi segala-galanya sebagai kepala. Sebab kekayaan dan kemuliaan berasal dari pada-Mu dan Engkaulah yang berkuasa atas segala-galanya; dalam tangan-Mulah kekuatan dan kejayaan; dalam tangan-Mulah kuasa membesarkan dan mengokohkan segala-galanya. (1 Taw. 29:11-12)

Ams. 16:17-33 BE. 185:1+3 Mrk. 8:11-13

Doa syukur Raja Daud dalam 1 Tawarikh 29 mengajarkan bahwa Allah adalah Pemilik, Penguasa, dan Pemberi segala sesuatu. Karena itu, ketika bangsa Israel mempersembahkan harta bagi pembangunan Bait Allah, mereka menyadari bahwa mereka hanya mengembalikan kepada Tuhan apa yang lebih dahulu berasal dari tangan-Nya.
Sikap Daud dalam memberi persembahan ini menjadi teladan bagi setiap orang percaya. Pertama, memiliki kes**aan dan komitmen terhadap pekerjaan Kerajaan Allah (ay. 3,17). Kedua, rela mempersembahkan diri dan milik kepada Tuhan (ay. 5-6). Ketiga, memberi dengan s**arela dan penuh s**acita (ay. 9). Keempat, mengakui bahwa segala yang dimiliki berasal dari Allah (ay. 12). Kelima, hidup dalam kerendahan hati dan rasa syukur karena diberi hak istimewa mengambil bagian dalam karya Allah (ay. 13-15). Keenam, memberi dengan motivasi yang tulus dan hidup yang benar.
Ungkapan, "Punya-Mulah Kerajaan," menjadi dasar pujian yang juga kita ucapkan dalam doa Bapa Kami: "Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya." Kesadaran ini melahirkan penatalayanan yang benar. Seperti pengakuan Daud, "Dari tangan-Mu sendirilah persembahan yang kami berikan kepada-Mu." Semua yang kita miliki—waktu, talenta, harta, keluarga, bahkan hidup kita—adalah titipan Allah. Karena itu semuanya harus dipakai untuk kepentingan-Nya dan kemuliaan nama-Nya (Lukas 17:10).
Karena itu, jangan pernah merasa sebagai pemilik, melainkan sebagai pengelola yang setia. Ketika kita memberi dengan kasih, melayani dengan s**acita, dan menggunakan setiap berkat untuk memuliakan Tuhan, hidup kita menjadi persembahan yang berkenan di hadapan-Nya.

Doa : Ya Allah Bapa sumber kehidupan kami, berilah kami hati yang rela mempersembahkan diri dan milik kami karena apa yang kami miliki berasal dari Allah, Amin (PMS)

04/08/2026

RABU 05 AGUSTUS 2026

BERLARI MENUJU MAHKOTA ABADI
Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya! (1 Kor. 9:24)

Ams. 16:1-16 BE. 258:1 Mrk. 8:1-10

Bayangkan seorang atlet maraton yang sedang berada di lintasan. Ia tidak berlari dengan sembarangan atau ses**a hati; ia memiliki tujuan yang jelas, disiplin yang ketat, dan fokus yang tidak teralihkan oleh penonton di pinggir jalan. Setiap langkahnya diperhitungkan demi mencapai garis finis. Hidup kekristenan kita pun demikian, bukan sekadar jalan santai tanpa tujuan, melainkan sebuah perjuangan iman yang memerlukan kesungguhan hati yang percaya kepada TUHAN.
Rasul Paulus menggunakan analogi pertandingan olahraga untuk menekankan pentingnya disiplin rohani. Secara teologis, kita dipanggil bukan hanya untuk menjadi pengikut yang pasif, melainkan pejuang yang rindu memberikan yang terbaik bagi TUHAN. Motivasi kita berlari bukanlah untuk memuaskan ambisi diri, melainkan sebagai respons syukur atas kasih Allah Bapa yang telah menebus kita melalui Yesus Kristus. Di dalam Yesus Kristus, kita telah dimampukan untuk memiliki daya tahan menghadapi setiap rintangan hidup.
Sudahkah Anda memberikan kesungguhan terbaik dalam pekerjaan dan pelayanan Anda hari ini sebagai ibadah kepada TUHAN? Ataukah Anda berlari tanpa arah dan mudah menyerah saat menghadapi kesulitan? Mari kita praktikkan ketaatan dengan tetap fokus pada janji-Nya dan membuang segala beban yang menghambat langkah iman kita.
Sebab pada akhirnya, hidup kita hari ini dan di sisa umur kita adalah pertandingan iman yang berharga; larilah dengan penuh integritas karena hadiah kita bukanlah piala dunia yang fana, melainkan kemuliaan kekal bersama Sang Juru selamat kita di dalam surga.

Doa : Ya Bapa, berikanlah kami kekuatan dan ketekunan untuk tetap berlari di jalan-Mu dengan benar. Mampukan kami untuk selalu fokus pada garis finis, kekekalan dalam surga, dan tetap setia melakukan kehendak-Mu hari ini sebagai wujud syukur atas kasih-Mu di dalam Yesus Kristus yang telah menyelamatkan kami. Amin. (PSW)

03/08/2026

SELASA 04 AGUSTUS 2026

BERSERAHLAH KEPADA TUHAN
"Maka sekarang, ya TUHAN, Allah kami, selamatkanlah kiranya kami dari tangannya, supaya segala kerajaan di bumi mengetahui, bahwa hanya Engkau sendirilah Allah, ya TUHAN." (2 Raja 19:19)

Ams. 15:17-33 BE 453:1+3 Markus 7: 31-37

Doa Hizkia dalam ayat ini mengajarkan agar kita selalu berserah kepada Tuhan, merendahkan diri, dan tidak mengandalkan kekuatan diri sendiri, kekuatan manusia, atau kekuatan apa pun di dunia ini. Di tengah ancaman besar dari Sanherib, Hizkia tidak mengandalkan tentaranya, tetapi datang kepada Tuhan, memohon pertolongan-Nya. Bahkan, tujuan doanya bukan hanya agar dirinya selamat, melainkan supaya semua bangsa mengetahui bahwa hanya TUHAN adalah Allah yang sejati.
Doa adalah senjata orang beriman. Melalui doa, Allah memberikan kekuatan, ketenangan, pengharapan, dan jalan keluar yang sering kali melampaui akal manusia. Doa menjadi pelindung dalam menghadapi ketakutan, sumber pertolongan saat pencobaan, serta bagian dari ibadah yang menyatakan bahwa hidup kita sepenuhnya bergantung kepada Tuhan. Orang yang berdoa sadar bahwa dirinya adalah hamba yang tidak memiliki kekuatan apa pun tanpa pertolongan Allah.
Sebaliknya, kesombongan adalah akar kehancuran. Orang yang enggan berdoa pada hakikatnya sedang berkata bahwa ia tidak membutuhkan Tuhan. Sikap seperti ini menjauhkan manusia dari rahmat Allah dan membuka jalan menuju kejatuhan. Firman Tuhan mengingatkan bahwa "kecongkakan mendahului kehancuran" (Ams. 16:18).
Hidup adalah pilihan. Apakah kita akan berjalan dengan kekuatan doa yang membawa kita kepada perlindungan dan kemuliaan Allah, atau memilih kesombongan yang perlahan tetapi pasti menyeret kepada kejatuhan? Marilah kita meneladani Hizkia, tetap rendah hati, tekun berdoa, dan mengutamakan kehendak Tuhan, sehingga melalui hidup kita semakin banyak orang mengenal dan memuliakan nama-Nya..

Doa : Ya Tuhan, ajarlah kami untuk selalu rendah hati dan setia datang kepada-Mu dalam doa. Jauhkan kami dari kesombongan yang mengandalkan kekuatan sendiri. Mampukan kami hidup bersandar pada pertolongan-Mu, sehingga melalui hidup kami nama-Mu dimuliakan. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin. (Del)

02/08/2026

SENIN 03 AGUSTUS 2026

PERSEMBAHAN YANG HIDUP DAN KUDUS, DAN BERKENAN BAGI ALLAH
Karena itu saudara-saudara, demi kemurahan Allah, aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Rom 12:1-2)

Ams 15: 1-16 BE 467:4 Mrk 7:24-30

Ayat ini diambil dari perikop dengan judul: "Persembahan yang benar". Rasul Paulus dalam ayat ini mengajak kita untuk melihat hidup ini bukan sekedar milik sendiri, melainkan sebagai persembahan bagi Allah. Ia berkata supaya kita mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah. Ini menarik, karena biasanya persembahan identik dengan sesuatu yang mati, namun di sini kepada kita diminta justru hidup sepenuhnya bagi Tuhan. Artinya, setiap aspek kehidupan kita, pikiran kita, perkataan, dan tindakan kita, serta keputusan sehari-hari menjadi bentuk ibadah kita. Ibadah bukan hanya saat kita berdoa atau berada di tempat ibadah, tetapi ketika kita memilih jujur, mengampuni, bekerja dengan sungguh-sungguh, dan mengasihi sesama. Itulah "ibadah yang sejati".
Paulus juga memberikan peringatan penting, "jangan menjadi serupa dengan dunia ini". Dunia sering menawarkan pola pikir yang bertentangan dengan kehendak Allah dengan mengejar kepentingan diri sendiri, kompromi terhadap dosa, atau menilai segala sesuatu dari standar yang duniawi. Tanpa kita sadari, kita bisa terbawa arus ini. Karena itu, Paulus menekankan: "Berubahlah oleh pembaharuan budimu". Perubahan sejati dimulai dari dalam, dari cara kita berpikir. Ketika pikiran kita diperbaharui oleh firman Tuhan, kita mulai melihat hidup dari perspektif Allah. Kita tidak lagi hanya bertanya "apa yang kami mau", tetapi "apa yang Tuhan kehendaki"?
Proses ini tidak tiba-tiba atau instan. Pembaruan budi terjadi terus-menerus, seiring dengan kita membuka hati terhadap firman, berdoa, dan belajar taat. Hasilnya adalah kemampuan untuk membedakan mana yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna. Hari ini kita diajak untuk merenung, apakah hidup kita sudah menjadi persembahan bagi Tuhan? Apakah pola pikir kita masih dipengaruhi oleh dunia ini, atau sudah diperbarui oleh iman? Apakah kita sudah sungguh-sungguh mencari kehendak Tuhan dalam setiap keputusan?
Tuhan tidak menuntut kesempurnaan seketika, tetapi hati yang mau dibentuk. Ketika kita menyerahkan hidup kita kepada-Nya, Dia setia membaharui kita sedikit demi sedikit.

Doa : Tuhan Yesus yang penuh kasih. Perbaharuilah hidup kami untuk menjadi persembahan yang hidup bagi-Mu. Tolong kami untuk setia dalam setiap langkah, dan menjadikan hidup kami berkenan di hadapan-Mu. Amin. (RP)

01/08/2026

MINGGU 02 AGUSTUS 2026
Minggu Kesembilan Setelah Trinitatis
SEMUA JANJI Tuhan DIPENUHI
Ep. 2 Korintus 1: 15 - 24

Pernah terjadi kesalahpahaman sehingga sepasang kekasih hampir putus. Sang pemuda telah berjanji datang pada hari yang ditentukan untuk melamar, tetapi ia tidak datang dan tidak memberi kabar. Orang tua dan si gadis menganggap ia mengingkari janjinya. Seminggu kemudian barulah ia datang dan menjelaskan bahwa ia terjebak bencana alam di daerah proyek di tengah hutan, tanpa ada sinyal telepon untuk memberi kabar.
Kurang lebih demikianlah yang dialami Rasul Paulus. Ia pernah berjanji mengunjungi jemaat Korintus, tetapi rencananya berubah sehingga ia dituduh sebagai orang yang tidak menepati janji. Paulus menjelaskan perubahan itu bukan karena ia tidak setia, melainkan karena ia mau memberi kesempatan agar mereka bertobat dan memperbaiki hubungan, sehingga saat ia datang kembali, pertemuan mereka berlangsung dengan s**acita.
Melalui peristiwa ini, Paulus mengingatkan agar kita tidak terburu-buru menghakimi orang sebelum mengetahui keadaan yang sebenarnya.
Selanjutnya Paulus berbicara tentang kesetiaan Allah. Allah selalu setia pada janji-Nya (ay. 20). Sejak semula Allah adalah Allah yang mengikat perjanjian dengan umat-Nya, dan semua janji itu digenapi di dalam Yesus Kristus. Janji keselamatan setelah manusia jatuh ke dalam dosa, janji pengampunan dosa, janji penyertaan Tuhan setiap hari, hingga janji hidup yang kekal, semuanya telah dipastikan di dalam Kristus. Karena itu, tidak ada satu pun janji Allah yang gagal digenapi.
Respons kita adalah berkata, "Amin," bukan hanya dengan bibir, tetapi dengan iman dan ketaatan. Kita juga dipanggil menjadi orang yang setia pada setiap janji yang pernah kita ucapkan kepada Tuhan maupun kepada sesama. Ketika doa terasa belum dijawab atau Tuhan seolah-olah diam, tetaplah percaya. Allah tidak pernah berubah. Apa yang dijanjikan-Nya pasti akan digenapi pada waktu-Nya. Oleh sebab itu, marilah kita berkata dengan penuh iman, "Tuhan, Engkau setia. Aku percaya dan aku mau hidup di dalam janji-Mu."
Doa: Ya Tuhan Allah yang setia, teguhkan iman kami agar tetap percaya kepada setiap janji-Mu yang telah digenapi dalam Kristus. Mampukan kami hidup setia kepada-Mu dan kepada sesama.. Amin (STPS)

SEMUA JANJI Tuhan DIPENUHI

Ev. Yosua 21: 43 - 45

Salah satu momen terindah dalam hidup adalah ketika dua insan saling berjanji untuk setia seumur hidup. Namun, yang paling menyakitkan adalah ketika janji itu diingkari. Banyak orang mudah berjanji, tetapi gagal menepatinya. Dalam budaya Batak, orang seperti itu disebut parjanji koling. Sebaliknya, janji (padan) dipandang sebagai ikatan yang kudus dan harus ditepati.
Berbeda dengan manusia, Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya. Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, Allah berjanji mengutus Juru selamat (Kej. 3:15). Janji itu diteruskan kepada Abraham, bahwa keturunannya akan menjadi bangsa besar dan menerima tanah Kanaan. Meskipun harus menunggu ratusan tahun, melalui Musa dan Yosua Allah akhirnya menggenapi janji itu. Yosua 21:45 menegaskan, “Dari segala yang baik yang dijanjikan TUHAN kepada kaum Israel, tidak ada yang tidak dipenuhi; semuanya terpenuhi.”
Memang masih ada wilayah yang belum dikuasai Israel. Namun, itu bukan karena Allah gagal, melainkan karena Israel tidak taat dan tidak melakukan bagian mereka. Dari sini kita belajar bahwa ketika janji Tuhan tampak belum tergenapi, kita perlu lebih dahulu memeriksa ketaatan kita sendiri. Allah juga tidak selalu menggenapi janji-Nya dengan segera. Ia bekerja menurut waktu-Nya yang sempurna. Sering kali kita merasa Tuhan terlambat, padahal Ia sedang mempersiapkan yang lebih baik.
Puncak penggenapan janji Allah adalah Yesus Kristus. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Allah menggenapi janji keselamatan. Karena itu Paulus berkata, “Kristus adalah ‘Ya’ bagi semua janji Allah” (2Kor. 1:20).
Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, kita dapat berpegang pada kesetiaan Allah. Masih ada satu janji besar yang kita nantikan, yaitu kedatangan Kristus kembali. Sambil menantikannya, marilah kita tetap percaya, bertekun, dan hidup setia. Jika Allah setia menepati janji-Nya, sudah sepatutnya kita juga setia memenuhi setiap janji kepada Tuhan dan sesama. Jangan pernah menjadi parjanji koling.

Doa: Ya Tuhan Allah yang setia, teguhkan iman kami agar tetap percaya kepada setiap janji-Mu yang telah digenapi dalam Kristus. Mampukan kami hidup setia kepada-Mu dan kepada sesama. Amin (STPS).

31/07/2026

SABTU 01 AGUSTUS 2026

KASIH SETIA TUHAN KEPADA HAMBANYA
Lalu berkata: Ya Tuhan, Allah Israel! Tidak ada Allah seperti Engkau di langit di atas dan di bumi di bawah, Engkau yang memelihara perjanjian dan kasih setia kepada hamba-hambaMu yang dengan segenap hatinya hidup di hadapanMu (1 Raja 8:23)

Ams. 14:18-35 BE. 766:1 Mrk. 7:14-23

Setelah raja Salomo selesai membangun rumah Tuhan di Yerusalem sesuai dengan pesan ayahnya, raja Daud, dia mengundang para tua-tua Israel dan semua kepala suku dan meminta para imam-imam dan orang-orang Lewi mengangkat Tabut Perjanjian dari Kemah Pertemuan dan memasukkannya ke ruangan kudus di rumah Tuhan yang baru dibangun itu. Kemudian berdirilah raja Salomo di depan mezbah Tuhan di hadapan segenap jemaah Israel dan berdoa bersyukur dan memuji Tuhan Allah yang Maha Besar, Allah yang memelihara perjanjian dan kasih setia-Nya kepada hamba-hamba-Nya dan umat-Nya.
Raja Salomo bersyukur kepada Tuhan karena dia telah selesai melaksanakan tugas besar yang dipesankan ayahandanya, raja Daud membangun rumah Tuhan, sesuai dengan arahan Tuhan sendiri. Raja Salomo memuji memuliakan Tuhan, karena dalam iman Salomo, hanya Tuhanlah Allah yang Maha Besar di langit dan di atas bumi ini. Raja Salomo mengucap syukur, karena Tuhan telah menjanjikan pekerjaan besar bagi hamba-Nya, dan Tuhan setia memampukan hamba-Nya, raja Salomo, menyelesaikan tugas itu dengan baik, yaitu membangun rumah Tuhan. Raja Salomo juga memohon Tuhan mendengarkan doa-doa seluruh umat-Nya.
Sebagai orang percaya, kita semua adalah hamba Tuhan, yang mempunyai hubungan intim dengan Tuhan dan taat melaksanakan perintah-Nya. Sebagai hamba Tuhan, kita semua juga mendapat tugas dan harus taat melaksanakan perintah-Nya, sebagaimana Yesus sendiri mengatakan: “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku” (Yoh. 14:15). Kita juga mungkin mendapat tugas khusus di Gereja masing-masing dan atau tugas pelayanan seperti di YBKSM. Marilah melaksanakan tugas itu dengan sungguh-sungguh, dan Tuhan akan memberkatinya.

Doa : Tuhan, Engkau adalah Allah yang memelihara perjanjian dan kasih setia. Ajarlah kami untuk tetap setia dan taat melakukan perintah-Mu dan bersandar pada kasih setia-Mu. Amin. (PJS)

30/07/2026

JUMAT 31 JULI 2026

TUHAN MENGASIHI SEMUA ORANG
Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: "Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa mana pun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya.” (Kis.10:34-35)

Mzm.14:1-17 BE.648:1+3 Mrk.7:1-13

Nats ini merupakan bagian dari peristiwa ketika Tuhan meyakinkan Rasul Petrus bahwa kasih Allah tidak dibatasi oleh suku, bangsa, atau latar belakang seseorang.
Kornelius dan seisi rumahnya adalah orang non-Yahudi yang saleh. Ia senantiasa berdoa kepada Allah, memberi banyak sedekah kepada umat Yahudi, dan hidup takut akan Tuhan. Namun ia belum mengenal keselamatan di dalam Yesus Kristus. Karena kasih-Nya, Allah mengutus Petrus untuk memberitakan Injil kepada Kornelius. Melalui pemberitaan itu, Kornelius dan keluarganya menerima anugerah keselamatan dan menjadi keluarga non-Yahudi pertama yang dibaptis dalam nama Yesus Kristus.
Firman Tuhan ini mengingatkan bahwa di sekitar kita masih banyak "Kornelius-Kornelius". Mereka adalah orang-orang yang baik, saleh, s**a berbuat kebaikan, aktif melayani, murah hati, dan senantiasa berdoa kepada Allah, tetapi belum mengenal anugerah keselamatan di dalam Kristus Yesus. Karena itu mereka tetap membutuhkan Injil, sebab Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya.
Sebagaimana Petrus dipakai Tuhan, demikian juga kita yang telah menerima anugerah keselamatan dipanggil menjadi saksi-saksi Kristus dan perpanjangan tangan Allah untuk menjangkau mereka. Tuhan menghendaki kita memberitakan dan menyaksikan Injil Kabar Baik, bukan hanya melalui perkataan, tetapi juga melalui kehidupan yang penuh kasih, pelayanan, dan perbuatan baik yang memuliakan nama-Nya.
Marilah kita menguatkan hati dan meneguhkan iman untuk mengasihi semua orang tanpa membeda-bedakan, serta dengan setia membagikan kasih karunia yang telah kita terima di dalam Yesus Kristus. Sebab Tuhan mengasihi semua orang dan rindu supaya setiap orang datang kepada-Nya dan memperoleh keselamatan.

Doa: Ya Allah, kuatkan dan teguhkan hati kami untuk memberitakan dan menyaksikan kasih karunia-Mu kepada sesama. Pakailah hidup kami menjadi alat-Mu untuk membawa banyak orang mengenal Yesus Kristus dan menerima keselamatan. Amin (RPS)

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan. Kami kirim Ebook Renungan Harian Marturia Bulan Agustus 2026 dengan mengklik li...
30/07/2026

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan. Kami kirim Ebook Renungan Harian Marturia Bulan Agustus 2026 dengan mengklik link di bawah ini. Kiranya menjadi berkat

This interactive flipbook is created with FlippingBook, a service for streaming PDFs online. No download, no waiting. Open and start reading right away!

29/07/2026

KAMIS 30 JULI 2026

ALLAH PENYELAMAT KITA
Ia berkata: "Ya, TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyela-matku, Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku, tempat pelarianku, juruselamatku; Engkau menyelamatkan aku dari kekerasan. (2 Sam. 22:2-3)

Ams. 13:1-25 BE. 117:1-2 Mrk. 6:53-56

Daud adalah raja yang dipilih dan diurapi Tuhan. Ia memerintah atas kerajaan Israel selama empat puluh tahun. Di bawah pemerintahannya, kerajaan Israel dipersatukan, Yerusalem ditetapkan menjadi pusat pemerintahan dan rohani, serta musuh-musuh Israel, termasuk bangsa Filistin, ditaklukkan. Semua itu terjadi karena Tuhan berkenan kepada Daud. Bahkan, hanya kepada Daud Tuhan berulang kali menyebut, "hamba-Ku Daud." Sungguh Tuhan sangat mengasihinya.
Namun, kasih dan penyertaan Tuhan bukan berarti Daud tidak pernah mengalami penderitaan. Sepanjang hidupnya ia menghadapi banyak ancaman. Ia pernah dikejar-kejar Saul yang hendak membunuhnya sehingga harus bersembunyi di gua. Ia juga pernah dikhianati dan dikejar oleh anak kandungnya sendiri, Absalom, hingga terpaksa meninggalkan Yerusalem. Meski demikian, Daud tidak mengandalkan kekuatan sendiri. Ia tetap bertekun dan hanya kepada Tuhan ia berserah memohon pertolongan.
Karena itulah Daud dapat bersaksi, "TUHAN adalah gunung batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku. Allahku adalah gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku dan tanduk keselamatanku." Bagi Daud, Tuhan bukan sekadar penolong, tetapi sumber kekuatan dan keselamatan. Sebanyak apa pun musuhnya, ia tetap mengandalkan Tuhan. Itulah sebabnya Daud selalu memperoleh kemenangan.
Firman Tuhan ini mengingatkan kita bahwa hidup orang percaya tidak selalu bebas dari masalah. Namun kita memiliki Allah, Penyelamat kita. Ia tetap menjadi gunung batu, kubu pertahanan, tempat berlindung, dan perisai bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya.
Karena itu, jangan mengandalkan kekuatan sendiri. Berserahlah kepada Tuhan seperti Daud. Di dalam Dia ada perlindungan, pertolongan, dan kemenangan. Allah yang menyertai Daud tetap setia menyertai dan menyelamatkan kita hari ini..

Doa: Ya Tuhan Yesus, Engkau sumber kekuatan dan keselamatan kami, luputkanlah kami dari segala musuh-musuh kami, Amin. (SA)

Address

Jalan Delima Raya Rt 13/Rw 3 No 3 Kel Malaka Sari, Kec. Duren Sawit Jakarta Timur
Jakarta
13460

Opening Hours

Monday 15:00 - 17:00
Thursday 10:00 - 15:00

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Yayasan BKS Marturia posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to Yayasan BKS Marturia:

Shortcuts

Share