15/06/2017
Belajar IBRAH DARI KISAH NYATA*
Dari Group WA
dr Armanto Sidohutomo adalah anak pertama dari dr Soendoko Sidohutomo Sp PA (pernah menjadi Purek II Unair). Keempat anak dokter Soendoko semua juga berprofesi sebagai dokter. Istri dr Soedoko yaitu Prof dr Roemwerdiniadi.
_Ini cerita nyata seorang bapak yang mengisahkan anaknya mahasiswa Madinah... Kawan² di Surabaya banyak kenal dengan bapak dan anak ini..._
_Teringat Pembicaraan Dengan Putraku ke 2, Ian, saat naik kelas 2 SMA, 6 tahun yang lalu, saat rutin makan malam bersama:_
I : _Bapak, maaf saya ijin, kalau boleh mau keluar dari SMA 5 setelah kenaikan kelas_
B : (makanan di mulut lansung hambar, datar dan tawar), (Gak kolu nelan) _maksudmu ???_
I : _saya ingin sekolah di Madinah, saya ingin jadi Ustadz_
B : (Yang dimulut langsung tak telan, minum buanyaaaak, sampek keselek) _Kamu jadi Ustadz siapa yang ngajak ??_(Nada Interogasi )
I : _Gak ada, saya sendiri yang pengen_
B : _Kamu gak pengen jadi dokter taaah ? Kan kamu pinter, lembut, baik budi bahasamu, ramah sama orang dan bisa banget melayani orang lain seperti Masmu_
I : (Sambil senyum) _Kan gak sama bapak, seperti Bapak bilang, semua manusia spesifik dan Istimewa_
B : (wuik, mak jleb, omonganku dipakai mengcounter aku) (cerdas ! Tapi mangkelno) _Kamu kalau jadi dokter akan sangat berguna dan bermanfaat menyembuhkan banyak orang pastinya_
I : _Dokter menyembuhkan badan, Ustadz menyembuhkan Hati kan Bapak, Insya Allah bermanfaat_
B : (Praaaaang, berkeping2 hatiku)(Air mata mulai menetes, aku nelongso anakku gak mau jadi dokter) _Sekolah di Arab itu sulit lho, bahasa, budaya beda dan puanasnyaaaaa luar biasa_
I : _Bapak yang ngajarin, GAK ADA YANG GAK BISA KALAU NIAT MENGGELORA_
B : (Mbrebes mili buanter) _Nanti kalau jadi Ustadz, penghasilanmu berapaaaa ? Sedikit sekali !!! (Nada meninggi) Istri dan anakmu gimana membiayainya ???_
I : _Bukannya Bapak yang mengajari hidup mandiri, seCUKUPnya, SeBUTUHnya, dan bahagia tidak ada korelasi dengan harta ???_
B : (Aku nangis pelan) _Apalagi alasanku supaya kamu jadi dokter ya Ian?_
I : _Ikhlaskan Ian jadi diri Ian sendiri ya Bapak, ini pilihan hidup Ian_
B : (Nangis banter) _Aku mau kamu tetap di SMALA sampai lulus, perjanjiannya gini aja, baru sesudah lulus SMA dengan nilai baik, kamu berhak menentukan kemanapun kamu mau_ (Wis gak duwe pilihan liyo, tapi berharap bisa merubah niat)
I : (perlahan memeluk dan mencium pipiku sambil ikut menangis) _Asal Bapak ikhlas dengan pilihan Ian, Saya tetap sekolah SMALA dan lulus dengan baik, Matur nuwun, pangestunya._
*Saat ini dia baru pulang dari Madinah, besar, tegap, gagah, hafal 27 Juz, sudah beberapa kali jadi Imam di banyak masjid, mengisi Khutbah Jumat, taraweh, Buka bersama dll, dan tiap kali aku melihat Ian jadi Imam, air mataku selalu tak terbendung lagi, Ian dengan segala kelebihan dan kekurangannya menyadarkanku akan kurangnya pengetahuan dan amalan agamaku, Allah mengutusnya untuk mengingatkanku.*
Tulisan dr Armanto Sidohutomo Terkadang sebagai orang tua kita menilai kesuksesan anak hanya dilihat dari faktor materi duniawi...
Sebanyak apa gelar berderet
Sebanyak apa harta diraih
Sebesar apa rumah yang dibeli
Secanggih apa mobil yang dimiliki
Dst...
Tapi kita lalai bahwa itu semua tidak lah akan dibawa mati...
*Padahal seorang anak yang mau mendoakan orang tuanya dengan ikhlas, berbakti kepada mereka, yang mengagungkan syiar² agamanya, walaupun di dunia tidak memiliki apa², namun dia akan menjadi aset terbesar bagi orang tuanya kelak di akhirat.*
_wal âkhirotu khoyrun wa abqo_,
*dan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal