08/09/2013
Dalam agama Islam, mimpi dapat membawa pesan tertentu dimana pesan ini terkadang berasal dari badan dan panca indera lahiriah manusia atau berasal dari ruh dan panca indera batiniah manusia.
Di antara berbagai mimpi yang ada, pada dasarnya sebagiannya merupakan pengalaman ruh manusia itu sendiri yang memberitakan tentang rahasia yang masih belum terkuak atau peristiwa yang akan terjadi di masa mendatang. Mimpi yang semacam ini disebut mimpi yang benar atau "Ru'yah Shadiqah".
Ada tiga pembagian mimpi menurut penjelasan Imam Shadiq as. Beliau berkata, "Mimpi itu ada tiga jenis; kabar gembira Allah kepada orang mukmin, ketakutan yang ditebarkan setan dan kegelisahan." (Al-Kafi, 8/90/61. Muntakhab Mizan al-Hikmah, hal 226)
Nabi Muhammad Saw memberikan petunjuk kepada manusia yang terkadang dalam tidurnya bermimpi buruk atau baik. Beliau bersabda, "Setiap kalian seorang dari kalian bermimpi baik, maka hendaknya itu ditakbirkan lalu disampaikan kepada orang lain. Sebaliknya, bila yang terjadi adalah ia bermimpi buruk, maka itu tidak boleh ditakbirkan dan jangan juga disampaikan kepada orang lain." (Kanz al-Ummal, hadis 41392. Mizan al-Hikmah, hal 226)
Sekaitan dengan mengapa sebagian mimpi itu tidak menyenangkan, Rasulullah Saw bersabda, "Setiap kali Allah Swt menginginkan kebaikan seorang hamba, maka hamba itu akan diperingatkan dalam tidurnya." (Kanz al-Ummal, hadis 30765. Mizan al-Hikmah, hal 190)
Terkadang kita masih punya pertanyaan dalam diri tentang kepada siapa saja kita bisa mengungkapkan mimpi kita? Dalam hal ini Rasulullah Saw bersabda, "Mimpi hanya boleh diungkapkan kepada seorang mukmin yang tidak punya sifat hasud dan zalim." (Al-Kafi, 8/336/530. Muntakhab Mizan al-Hikmah, hal 226) (IRIB)