16/04/2026
Banyak kendala sehingga frater Christopher belum ditemukan
Hingga Rabu, 16 April 2026, tim SAR gabungan, Basarnas Ajibata, dan tim penyelam masih terus melakukan pencarian terhadap jasad Frater Christopher.
Kesulitannya banyak.
Titik pencarian di sekitar Air Terjun Situmurun diketahui memiliki palung sedalam 100 hingga 150 meter. Kedalaman ini melampaui batas kemampuan penyelaman konvensional, yang biasanya hanya efektif hingga kedalaman 40-50 meter.
Semakin dalam, suhu air biasanya semakin dingin secara drastis, yang bisa memicu hipotermia meski penyelam menggunakan baju khusus.
Kondisi air yang keruh di dasar danau menghambat jarak pandang para penyelam, sehingga menyulitkan deteksi objek secara visual. Partikel sedimen di dasar danau seringkali membuat jarak pandang menjadi nol (zero visibility) saat tersentuh
Dasar Danau Toba tidak rata; banyak terdapat celah bebatuan dan lumpur tebal yang bisa "menyembunyikan" objek.
Biasanya, untuk kedalaman seperti ini, tim penyelamat harus mengandalkan alat canggih seperti ROV (Remotely Operated Vehicle) atau robot bawah air dan side scan sonar untuk memetakan dasar danau tanpa membahayakan nyawa penyelam.
Adanya tebing batu dan arus bawah yang cukup kuat di area palung membuat penyelaman menjadi sangat berisiko bagi keselamatan tim SAR.
Tim SAR memaksimalkan penggunaan teknologi, seperti Aqua Eye dan sonar, untuk memindai dasar danau yang dalam tersebut.
Hingga hari keempat pencarian (15 April 2026), tim gabungan yang terdiri dari Basarnas, Kepolisian, dan unsur terkait terus berupaya memperluas radius pencarian
Frater Christopher dinyatakan tenggelam pada Sabtu, 11 April 2026, sekitar pukul 12.00 WIB, di kawasan Air Terjun Situmurun, Kecamatan Lumbanjulu, Kabupaten Toba, Sumatera Utara.π