11/05/2018
Kesaksian tentang Yesus
(1) Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup--itulah yang kami tuliskan kepada kamu. (2) Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami. (3) Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus. (4) Dan semuanya ini kami tuliskan kepada kamu, supaya sukacita kami menjadi sempurna. (I Yohanes 1:1-4).
Kitab I Yohanes dalam pemikiean tradisional dianggap ditulis oleh rasul Yohanes, yang merupakan murid Yesus Kristus. Beliau juga yang menulis kitab II dan II Yohanes. Walaupun penulis tidak memperkenalkan dirinya secara langsung, dengan menyebutkan namanya; namun bapa-bapa gereja abad ke-2, seperti Papias, Ireneus, Tertulianus, dan Klemens; dengan tegas menyatakan bahwa Yohanes murid Yesus adalah penulis kitab I Yohanes. Diperkirakan kitab I Yohanes ditulis antara tahun 85-95M, namun para sarjana yang lebih kritis menyatakan bahwa kitab ini ditulis pada tahun 100-110 M. (lih. Harris, Stephen L., Understanding the Bible, “1 John”, hlm.355-356). Walaupun penulis tidak mencantumkan tempat atau alamat tujuan surat, namun banyak ahli menyatakan bahwa kitab I Yohanes ditulis di Efesus, dan tentunya ditujukan kepada jemaat Efesus dan juga jemaat-jemaat disekitarnya. Menariknya adalah tujuan penulisan dari kitab ini, yaitu eadaan kekristenan pada masa itu dimana gereja sedang mengalami tekanan pengajaran yang menyesatkan dari Gnostik. Sekedar diinformasikan bahwa Gnosticism (istilah Yunani: γνῶσις atau gnōsis, yang berarti knowledge); merupakan sebuah aliran yang mengagungkan pengetahuan non ilmiah, dan terdiri dari berbagai sistem kepercayaan yang secara umum mengajarkan bahwa dunia material diciptakan oleh semacam ‘allah’. Kelompok ini merasa memiliki pengetahuan lebih dari orang lain. Janganlah lupa bahwa sesungguhnya Gnostisisme merupakan kumpulan kesesatan yang ingin mencampurkan pemikiran dongeng Yunani dan Kekristenan. Semua pengikut Gnostik percaya pada mahluk menyerupai dewa, dan mereka percaya bahwa Kristus adalah satu dari mereka. Mereka percaya bahwa Allah dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru berbeda, dan Allah pada Perjanjian Lama itu jahat atau setidaknya bodoh dan sesat. Pengikut Gnostik menerima Injil tapi menolak sebagian atau seluruh tulisan-tulisan Paulus. Mereka memiliki kitab-kitab tambahan yang bervariasi. Ada dua jenis paham Gnostik, yaitu Libertin dan Pertapa. Semua pengikut Gnostik mengatakan bahwa tubuh jasmaniah bukanlah masalah, hanyalah pengetahuan spiritual yang bersifat esoterik. Paham Gnostik libertin berpendapat bahwa perbuatan dosa yang diinginkan pada tubuh jasmani tidak menjadi masalah. Paham Gnostik Pertapa berpendapat bahwa anda seharusnya hidup membujang, tidak pernah menikah dan memperlakukan tubuhmu dengan tegas. Selain itu, sekte Gnostik Basilidean memuja dewa agung mereka Abrasay. Hal ini dianggap magis sebagai mantra abrasadabra, yang lambat laun berubah menjadi "abrakadabra", yang merupakan kata yang sering digunakan pesulap sekarang ini. nampaknya sangatlah beralasan jika kitab 1 Yohanes membahas Gnostik. Kaum Gnostik menyerang kekristenan dengan serangan utamanya adalah dengan menyatakan bahwa Yesus tidak datang sebagai manusia sejati, melainkan hanya secara rohani. Tubuh yang dimiliki Yesus seakan-akan memang berwujud, tetapi sebenarnya tidak demikian. Dengan pernyataan tersebut maka banyak orang Kristen terpengaruh pada ajaran yang menyesatkan tersebut. Itulah sebabnya rasul Yohanes menulis kitab I Yohanes ini dimana ia memberikan pemahaman yang benar dengan menyatakan bahwa Yesus datang sebagai manusia, dalam daging. Tujuan lain dari penulisan kitab I Yohanes ini adalah untuk menolong orang Kristen dalam membedakan manakah pengajar-pengajar yang benar dan mana yang palsu; yaitu dengan melihat etika hidup mereka, pengajaran mereka tentang Yesus, dan kasih mereka kepada sesama. Yohanes juga menulis untuk mereka yang berusaha membuat orang-orang tersesat. Janganlah lupa bahwa aliran proto-Gnostik Libertine yang juga menyangkal Yesus datang dalam bentuk daging, memberikan pengajaran yang juga mempengaruhi gereja Kristen tersebut. Seorang tokoh gereja, Tertullian, pada tahun 208 mengatakan bahwa apa yang dilakukan Yohanes dalam tulisannya itu, yaitu I Yohanes merupakan sebuah bentuk dari usaha untuk melawan Antikristus. Dengan kenyataan itulah maka Yohanes mengajak jemaat Kristen untuk memberikan kesaksian yang nyata serta benar tentang siapakah Yesus Kristus itu? Berdasarkan I Yohanes 1:1-4, dinyatakan dengan jelas bahwa: Apakah tujuan dari sebuah kesaksian tentang Tuhan Yesus Kristus itu?
Pertama: Supaya Mengenal Yesus (ay. 1-2). Tujuan utama dari kesaksian tentang Kristua sangatlah sederhana, yaitu supaya orang mengenal Dia dengan sungguh. Beberapa orang telah mengenal Yesus, namun mereka tidak mengenalnya dengan sungguh-sungguh; dalam kaitan dengan kesaksian yang mereka teris, ada kemungkinan mereka tidak mengenal Yesus dengan sungguh. Beberapa orang yang mengaku dirinya sebagai orang Kristen, namun pola kehidupannya sama dengan orang yang tidak mengenal Allah. Rasul Yohanes berkata: “Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup--itulah yang kami tuliskan kepada kamu. Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami”. (I Yohanes 1:1-2). Yohanes memberikan kesaksian tentang Yesus, dengan mengatakan: Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup--itulah yang kami tuliskan kepada kamu.” (ay. 1), yang memberikan jaminan kepada penerima kitab ataupun kepada para pembaca; yaitu bahwa ia mengenal Yesus dengan sungguh. Ia berpengalaman dengan Yesus. Istilah saksi seringkali dikaitkan dengan peradilan umum, namun dalam tradisi Kekristenan saksi mempunyai arti yang lebih radikal lagi, yaitu seseorang yang secara keseluruhan dilibatkan dalam kesaksiannya. Seorang saksi Kristus diajukan ke pengadilan yang jahat, dia dianiaya, didera, bahkan disuruh berhadapan dengan binatang buas, untuk dimangsa. Sebagai seorang murid Yesus yang setia dia akan bersaksi, bahwa kasih Allah dalam Kristus akan membawanya kepada kemenangan. Konsep asli dalam bahasa Yunani tentang kesaksian atau martyria sebenarnya tidak perlu mencakup kematian fisik sebagai komponen konstitutifnya, namun asosiasi kesaksian dengan kematian yang mengerikan demi iman sudah berkembang sejak sangat awal dalam sejarah Kekristenan. Selama tiga abad pertama era Kekristenan, pengejaran dan penganiayaan atas umat Tuhan sangat sering terjadi. Pada masa itu banyak sekali orang percaya ditempatkan dalam keadaan di mana kesetiaan sebagai saksi Kristus secara langsung membawa mereka kepada kematian berdarah. Oleh karena itu istilah “martir” itu semakin sering terutama mengacu pada kesaksian Kristen yang mengakibatkan kematian. Apapun resiko yang harus ditanggung, seorang pengikut Kristus harus memberikan kesaksian tentang Tuhan. Tujuannya supaya banyak orang mengenal Yesus sebagai Tuhan dan juruselamatnya secara pribadi, dan mereka mau percaya. Inilah yang dilakukan rasul Yohanes, supaya banyak orang mau percaya kepada Kristus.
Sebuah laporan yang dipublikasikan oleh Religious Liberty Prayer List, No. 126, Wed 01 Aug, 2001; menyampaikan bahwa ada kegerakan di India di antara orang-orang Dalit untuk membebaskan diri dari kemiskinan dan sifat ketergantungan yang memalukan melalui peningkatan kemampuan baca tulis, pendidikan, perbaikan kesehatan dan kebebasan ekonomi yang baru. Tapi hal ini justru menyulut terjadinya kerusuhan rasial dan agama karena adanya sistem kasta di India. Padahal kasta Dalit dan beberapa kasta rendah lainnya di India memiliki populasi sebesar 75% dari seluruh populasi penduduk India. Kelompok orang Dalit tergolong dalam kasta terendah dalam sistim kasta di India. Mereka menderita diskriminasi sosial yang ekstrim bahkan pengucilan. Mereka seringkali juga menjadi korban kekerasan karena posisi kasta mereka yang rendah. Diperkirakan terdapat kurang lebih 160 juta orang Dalit yang ingin sekali bebas dari tekanan dan keburukan sistem kasta Hindu. Sejumlah besar kaum Dalit datang pada Kristus. Mereka tertarik dengan berita Injil, yang menunjukkan kasih yang tanpa syarat dan menjamin kedudukan yang sama bagi setiap orang di hadapan Allah. Inilah bentuk kemerdekaan tanpa syarat dan sikap yang tidak memihak yang ditawarkan Kristus kepada umat manusia. Dalam suatu pelayanan di India Selatan pada tanggal 29 Juni 2001, 1000 orang Dalit meninggalkan agama Hindu untuk memeluk agama Kristen. Pemimpin-pemimpin Dalit memimpin kampanye "Hentikan Hinduisme" yang terorganisir dan ini melahirkan respon yang luar biasa dari orang- orang Dalit di sepanjang India Utara, terutama di Orissa, Maharastra, Uttar Pradesh dan Bihar. Pada tanggal 27 Juli 2001, undang-undang larangan untuk beralih ke agama lain diperkenalkan dalam Parlemen Nasional India. Jika undang-undang ini disahkan, maka akan ada pengekangan kebebasan agama yang cukup berat dan hal ini dapat mempersulit organisasi Kristen untuk dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Di Orissa, kurang lebih ada 19 orang petobat baru yang memeluk agama Kristen dihukum. Hal ini sangat ironis karena mereka dianggap melanggar ketentuan-ketentuan Orissa Freedom of Religion Act atau Undang-undang Kebebasan Beragama Orissa. Akhirnya ke-19 orang itu gagal dalam usaha mereka memberikan penjelaskan kepada para penguasa tentang tujuan mereka menjadi Kristen. Dr. Joseph D'Sousa pemimpin All India Christian Council, menyampaikan bahwa: "Semua pemimpin Kristen yang diterjunkan di tengah kancah perubahan yang menggemparkan ini. Berdoalah untuk kebijaksanaan, belas kasihan dan keteguhan hati," bahkan Gladys Staines, yang suaminya terbunuh karena memberitakan Injil di India, berkata: "Saya ingin mendorong orang untuk berdoa bagi gereja di India, agar orang-orang Kristen di India mulai berdiri kokoh dan tidak menjadi takut, agar mereka tahu bahwa Tuhan yang mengendalikan mereka," mereka berjuang keras supaya banyak orang India menjadi percaya kepada Kristus. Sebagaimana rasul Yohanes yang menjadi saksi Kristus, demikian juga ada begitu banyak orang India yang ikut sebagai saksi bagk Kristus. Tujuannya supaya Kristus dikenal.
Kedua: Supaya Hidup dalam Persekutuan (ay. 3). Orang yang menjadi saksi Kristus, tidaklah dengan mudah karena ia harus hidup dalam kondisi yang memapukan orang untuk menjadi sama seperti dirinya. Yohanes berkata: “Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus.” (I Yohanes 1:3). Tujuan dari kesaksian sebagaimana yang disampaikan sebelumnya adalah supaya ada orang yang mau percaya kepada Kristus, lalu selanjutnya? Inilah yang ada dalam pemikiran Yohanes, dimana orang yang percaya kepada kristus, tidak berhenti sampai pada tahapan percaya samata. Perlu ada kehidupan yang lebih lanjut didalam Kristus, yaitu persekutuan sebagaimana yang disampaikannya dalam ayat 3. Ada poersekutuan diantara orang percaya, yang tentunya untuk saling menguatkan, namun ada juga persekutuan dengan Kristus sebagai bagian dari bentk kehidupan rohani dimana Kristus sebagai raja, dan orang percaya menjadi pengikutnya yang taat. Perlu diketahui bahwa Kristus adalah Poros Kehidupan Gereja dan Roh Kudus adalah daya kehidupan yang memberdayakannya. Untuk melaksanakan tugasnya di atas muka bumi ini, Gereja harus melakukan secara seimbang dan teratur sejumlah kegiatan bergereja, yaitu: hidup dalam persekutuan (Yunani: Koinonia; Latin: Communio); hidup doa (Yunani: leiturgia); karya pemberitaan Injil atau pewartaan (Yunani: kerygma); pelayanan sosial (Yunani: Diakonia); dan kesaksian tentang Kristus (Yunani: Martyria). Segalanya harus ada dalam Gereja dan terlaksana secara seimbang serta saling mendukung satu sama lain dalam menghadapi dunia sekeliling yang terus mengalami perubahan sesuai dengan perubahan zaman. Persekutuan bergereja akan membuat seseorang menjadi semakin kuat dan bertumbuh imannya karena dalam persekutuan itu, ada pengajaran dan bentuk kesaksian nyata. Itulah sebabnya masing-masing orang percaya dapat saling membangun melalui persekutuan berjemaat. Persekutuan spiritual juga harus nyata, dimana ada Kristus ditengah-tengahnya. Orang percaya harus sadar betul akan hal ini.
Pada bulan April 1967, sebuah gerakan “Yesus Untuk Dunia Komunis” atau Jesus To The Communist World yang kemudian berganti nama “Suara Martir” atau “Suara Syuhada” (The Voice of the Martyrs)], menjadi sebuah organisasi interdenominasi yang berkarya pada awalnya dengan dan untuk orang Kristen yang dianiaya di negara-negara Komunis, tetapi kemudian memperluas kegiatannya untuk membantu umat yang teraniaya di tempat lain, terutama di dunia Muslim. Hamba Tuhan, Richard Wurmbrand (1909-2001) menjadi sala satu pelopor berdirinya organisasi ini. ia adalah seorang pendeta Kristen Lutheran Rumania keturunan Yahudi, seorang penulis dan pendidik yang menghabiskan empat belas tahun dalam penjara komunis. Wurmbrand adalah seorang pemuda selama masa aktivitas yang anti-Semit (anti Yahudi) di Rumania, tapi kemudian, setelah menjadi orang percaya dalam Yesus Kristus sebagai Mesias, dan berani secara terbuka mengatakan bahwa Komunisme dan Kristen tidak kompatibel (tidak cocok dan bertentangan) satu dengan lainnya, dan akibat dari pernyataan itulah maka ia mengalami hukuman penjara dan penyiksaan. Dalam menjalani proses pemenjaraan dan dan penderitaannya, lebih lanjut Wurmbrand mengatakan: “Kaum atheis percaya bahwa mereka memenjarakan saya. Saya percaya bahwa Allah mengirimkan saya ke sana untuk mengizinkan saya menyelidiki kebenaran-kebenaran yang tersembunyi dalam FirmanNya secara lebih dalam. Keadaan luar, kesunyian yang total, keadaan yang tidak terganggu cahaya ataupun suara, semuanya itu sangat menguntungkan untuk pemikiran-pemikiran yang mendalam … Mereka ynag berbicara dalam penderitaan menyebut-nyebut kebenaran. Saya yakin, bahwa pikiran-pikiran yang disusun dalam kesunyian dan dipupuk dalam derita akan memungkinkan Anda untuk menyelidiki kebenaran dengan lebih mendalam, supaya mengenal Kebenaran itu”. Setelah menjalani masa pemenjaraan selama delapan tahun, Wurmbrand dibebaskan tahun 1956, Meskipun ia sudah diperingatkan untuk tidak berkhotbah, ia melanjutkan karyanya di gereja bawah tanah. Kemudian Ia ditangkap lagi pada tahun 1959 dan dijatuhi hukuman 25 tahun. Selama penahanannya, dia dipukuli dan disiksa. Penyiksaan psikologis termasuk penyiaran secara gencarnya kalimat-kalimat mengecam dan mengutuk Kekristenan dan memuji-muji Komunisme. Tubuhnya memiliki luka akibat penyiksaan fisik untuk seumur hidupnya. Sebagai contoh, ia kemudian menceritakan memiliki telapak-telapak kakinya dipukuli sampai dagingnya robek, kemudian hari berikutnya dipukul lagi ke tulang. Penulis yang produktif ini mengatakan tidak ada kata-kata lagi untuk menggambarkan rasa sakit itu. Namun, Wurmbrand menganggap lebih buruk daripada penyiksaan adalah dipaksa mengadukan orang tua oleh anak-anak mereka sendiri. Akhirnya, Wurmbrand adalah menerima amnesti pada tahun 1964. Prihatin dengan kemungkinan bahwa Wurmbrand akan dipaksa untuk menjalani hukuman penjara lebih lanjut, Misi Norwegia untuk orang-orang Yahudi dan Aliansi Kristen Yahudi bernegosiasi dengan pemerintah Komunis untuk pembebasannya dari Rumania sebesar $ 10.000, meskipun tarif untuk tahanan politik adalah $ 1900. setelah dibebaskan dengan uang tebusan yang cukup besar, rekan-rekannya di Rumania mendesaknya untuk meninggalkan negara itu dan berkarya bagi kebebasan beragama dari lokasi yang secara pribadi tidak berbahaya. setelah menghabiskan waktu di Norwegia dan Inggris, ia dan istrinya Sabina, yang juga pernah dipenjara, beremigrasi ke Amerika dan mendedikasikan sisa hidup mereka untuk mempublikasikan dan membantu orang Kristen yang dianiaya oleh karena iman mereka. Pasangan suami istri hamba Tuhan yang cukup disegani tersebut bisa terbebas dari penjara karena ada saudara seiman yang menolong mereka. Perlu sekali hidup dalam persekutuan Kristen supaya ada kasih dan pengertian, saling membangun dan membantu. Hiduplah dalam persekutuan Kristen.
Ketiga: Supaya Hidup dalam Kesempurnaan (ay. 4). Tujuan ketiga dari sebuah kesaksian adalah untuk kesempurnaan hidup, sebagaimana yang dinyatakan dalam ayat berikut ini: Dan semuanya ini kami tuliskan kepada kamu, supaya sukacita kami menjadi sempurna. (I Yohanes 1:4). Menarik untuk memperhatikan istilah “kesempurnaan”, dimana dalam Perjanjian Baru, kata "sempurna" merupakan transliterasi dari kata istilah bahasa Yunani teleios (τέλειος) atau teleiotes (τελειότης), dan teleioo (τελειόω), yang dipahami sebagai “kelengkapan” atau “kadar penuh” (lih. Lukas 8:14; 2 Korintus 12:9; Yakobus 1:4). Dengan menjadi saksi Kristus, maka kesempurnaan hidup sebagai seorang percaya, sebagai seorang murid Kristus menjadi nyata. Dikatakan bahwa: “.... supaya sukacita kami menjadi sempurna.” (ay. 4). Mengapa? Karena murid Kristus telah memberikan kesaksiannya, dalam konteks ini, Yohanes memberikan kesaksian melalui tulisannya itu. Kesempurnaan hanya ada dalam Kristus, dan ketika seseorang bersaksi tentang Dia, maka ia dianggap menjadi sempurna sebagai pengikut Kristus. Ingatlah bahwa dalam tahapan pertama, seseorang harus percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamatnya secara pribadi. Tahapan kedua adalah menunjukkan pola kehidupan yang bertanggung jawab, dan tahapan ketiga, dimana inilah tahapan yang membuat seseorang menjadi sempurna dalam mengikuti Yesus, adalah; bersaksi!. Yohanes menegaskan bahwa ia menjadi sempurna sukacitanya karena ia telah memberikan kesaksian tentang Kristus. Hidup seorang percaya harus sempurna didalam Tuhan, dan untuk itulah perlu sekali seseorang menjadi pengikut Kristus. Jadilah pengikut Kristus yang tidak setengah hati, melainkan pengikut Kristus yang sempurna.
Dengan demikian maka, apakah tujuan dari sebuah kesaksian tentang Tuhan Yesus Kristus itu? Ada tiga hal, yaitu: Pertama: Supaya Mengenal Yesus, Kedua: Supaya Hidup dalam Persekutuan dan Ketiga: Supaya Hidup dalam Kesempurnaan. Jadilah saksi bagi Kristus dan buatlah semua orang percaya kepadaNya. Tuhan memberkati. (Demsy Jura).