16/03/2026
"MENGALAHKAN MID & POST POWER SYNDROME"
Daud walaupun ia adalah seorang raja yang sudah dipilih Tuhan sendiri, dan yang sudah diurapi oleh Samuel, dalam kehidupannya memang menunjukkan kepada Tuhan, bahwa Dia tidak salah memilihnya. Hati Daud yang selalu berpaut pada Tuhan, tidaklah berubah, baik sebelum menjadi raja, yang dahulu hanya rakyat kecil biasa yang menggembalakan kambing domba, maupun sesudah diangkat menjadi raja. Walaupun Daud tak lepas dari kesalahan dan pelanggaran, namun Tuhan mendapatkan hati Daud yang berkenan kepada-Nya.
Cara Daud Memperlakukan Saul Menunjukkan Integritas Moral dan Kasih
Saul menjadikan Daud sebagai saingan beratnya dalam mempertahankan tahta dan kehormatan, yang berujung menganggap Daud adalah musuhnya yang harus dibunuh. Namun kita melihat integritas moral dan kasih yang begitu tinggi dari Daud, karena Daud tidak membalas dendam kepada Saul untuk membunuhnya, walaupun kesempatan itu berkali-kali terbuka lebar baginya. Daud hanya menghindar dari kejaran Saul. Namun apa respon terbaik Daud kepada Saul? Daud tidak berusaha merebut tahta Saul, walaupun Daud sudah diurapi menjadi raja Israel menggantikan Saul. Daud tetap memanggil dengan hormat Saul sebagai "Tuanku raja", walaupun Daud telah diurapi sebagai raja pengganti Saul. Daud juga menganggap Saul sebagai orang yang telah diurapi Tuhan, sehingga Daud tidak mau menjamah/mengusiknya.
Daud bahkan memanggil Saul ayahku, di mana di masa awal Daud merasa diterima bagaikan seorang anak, di mana hal ini mungkin juga menjelaskan tafsiran yang menyatakan bahwa Daud adalah anak yang tidak diinginkan oleh ayah dan saudara-saudaranya karena masalah anggapan bahwa Daud adalah anak haram, sehingga di masa kecilnya Daud dibiarkan dan dikucilkan serta dianggap remeh. Menurut tafsiran Midrash Yahudi, Daud memang kehilangan kasih dari ayahnya, juga tidak mendapatkan kasih persaudaraan dari semua kakaknya. Oleh karena itulah Daud begitu mengasihi Yonatan anak Saul sebagai saudara lelakinya.
Cara Daud Memperlakukan Yonatan dan Para Bawahan Saul Menunjukkan Integritas Etika
Daud bisa saja menganggap Yonatan sebagai saingan beratnya dalam memperebutkan tahta, lalu bisa saja Daud membunuh Yonatan, karena Yonatan adalah pewaris tahta Saul. Kalau Daud membunuh Saul dan Yonatan maka urusan beres dan kelar, tahta akan jadi miliknya. Namun integritas etika yang tinggi dari hati Daud mengabaikan semua dendam dan ambisi pribadinya. Demikian juga Daud memperlakukan para bawahan Saul khususnya panglima Abner dengan hormat sebagai kawan.
Rhema yang bisa kita ambil dan renungkan
Kisah Daud yang tidak berambisi merebut tahta Saul dan menyingkirkan Saul dan keluarganya, walaupun Daud telah menerima pengurapan, mengajarkan kerendahan hati dan kasih yang luar biasa. Masa awal Daud setelah diurapi sebagai raja dan masa pemerintahannya menunjukkan kepercayaan dan kebergantungannya kepada Tuhan sepenuhnya. Daud menyerahkan pembalasan dan penghakiman kepada Allah sepenuhnya.
> Daud menyerahkan pembalasan kepada Tuhan. Daud paham betul nyanyian pengajaran Musa. Pembalasan adalah hak Tuhan (Ulangan 32:35).
Sebaliknya Saul, menderita yang dinamakan Mid dan Post Power Syndrome. Saul merasa dialah orang yang diurapi Tuhan, Saul merasa ia sudah punya kuasa dan wewenang tertinggi, ia memilih jalan ninjanya sendiri, yaitu memuaskan rasa iri hati dan ketakutan kehilangan "tahta/jabatan" dengan cara kedagingannya sendiri, tanpa meminta hikmat dan mengandalkan Tuhan, sehingga Saul membenarkan segala cara untuk menyingkirkan penghalang semua jalannya, yaitu Daud.
> Amsal 18:12 (TB) Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan.
Biarlah Pengurapan dan kasih yang kita terima dari Tuhan membuat kita menjadi hamba yang rendah hati dan tidak ambisius secara tidak terhormat, sebaliknya mengandalkan Tuhan dalam segala jalan kita. Blessing! (SL 👑)