Joshua Generation Church - GBI MTA

Joshua Generation Church - GBI MTA Ibadah Umum Pk 09.30 wib
Sunday School Pk 10.00 wib

Cool Mangga besar , setiap kamis minggu ke 2 & 4

Cool Persima , setiap jumat minggu ke 1 & 3

29/06/2016

MENCARI KEHENDAK TUHAN? BERLUTUTLAH!
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 29 Juni 2016

Baca: Mazmur 143:1-12

"Ajarlah aku melakukan kehendak-Mu, sebab Engkaulah Allahku! Kiranya Roh-Mu yang baik itu menuntun aku di tanah yang rata!" Mazmur 143:10

Dalam kehidupan sehari-hari seringkali kita dihadapkan pada masalah atau situasi sulit di mana kita harus membuat sebuah keputusan atau pilihan. Timbullah pertanyaan bagaimana caranya mengerti apakah ini kehendak Tuhan atau bukan. Mungkin ada yang berkata, "Aku seorang yang ber-IQ tinggi, bahkan jenius, jadi mencari kehendak Tuhan adalah hal mudah. Aku berpengalaman, sudah makan asam garam kehidupan, karena itu tidak perlu mengajariku untuk mencari kehendak Tuhan!" Jawaban semacam ini wajar apabila segala hal orang lebih mengandalkan kekuatan sendiri, mengandalkan akal atau logika, mengandalkan pengalaman dalam menganalisa suatu masalah.

Untuk mencari kehendak Tuhan kita tidak bisa mengandalkan nalar, logika atau isi otak, tetapi butuh kepekaan rohani. Bagaimana caranya? Melatih lutut Saudara untuk berdoa dan melatih pendengaran Saudara untuk mendengar firman Tuhan setiap hari adalah cara jitu untuk melatih kepekaan rohani kita. Inilah harga yang harus dibayar! Yesaya berkata, "Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid." (Yesaya 50:4b). Kalau kita berusaha dengan sungguh mencari kehendak Tuhan maka Tuhan pun tidak pernah kehilangan cara untuk menyatakan kehendak-Nya dalam kehidupan kita, sebab keinginan Tuhan untuk menyatakan kehendak-Nya itu jauh lebih besar daripada keinginan kita untuk mencari kehendak-Nya. "Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia." (2 Tawarikh 16:9a).

Inilah janji Tuhan kepada setiap orang yang bersungguh hati mencari Dia. "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan." (Matius 7:7-8).

Terhadap orang yang karib, perjanjian dan kehendak-Nya diberitahukan kepada mereka (baca Mazmur 25:14).

Happy Sunday, its a denim day :)
27/06/2016

Happy Sunday, its a denim day :)

Lunch at Bakmi Tanjung Duren Barat
27/06/2016

Lunch at Bakmi Tanjung Duren Barat

24/06/2016

PERTOBATAN ORANG FASIK, BUKAN KEMATIAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 24 Juni 2016

Baca: Yehezkiel 33:1-20

"Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup." Yehezkiel 33:11

Masalah, penderitaan, kesesakan, kemalangan atau malapetaka yang terjadi dalam kehidupan seseorang itu tidak semuanya disebabkan karena kesalahan atau dosa, seperti yang dialami oleh orang yang buta sejak lahir (baca Yohanes 9:1-3), dan juga Ayub. Alkitab jelas menyatakan bahwa Ayub "...saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan." (Ayub 1:1), tetapi harus mengalami penderitaan luar biasa.

Memang ada masalah dan penderitaan yang harus dialami orang akibat kesalahan dan dosa yang diperbuatnya, sebab ada tertulis: "Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya." (Galatia 6:7). Tak mudah bagi manusia untuk mengerti dan memahami kebijaksanaan Tuhan yang tak terbatas itu, "Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu." (Yesaya 55:8-9). Namun satu hal yang harus disadari adalah ada hal-hal dalam hidup ini yang harus dikoreksi dan diperbaiki oleh Tuhan, yang dapat tercapai hanya melalui penderitaan. Tetapi tentu saja penderitaan tersebut tidak berlangsung sepanjang masa. Apabila Tuhan menilai bahwa proses koreksi dan perbaikan itu dirasa cukup maka penderitaan tak perlu ditanggung lagi. Inilah faedah penderitaan, "Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya." (1 Petrus 5:10).

P**a terhadap orang berdosa yang sudah diperingatkan-Nya melalui firman-Nya atau teguran saudara yang lain tetap mengeraskan hati dan tetap melakukan dosa, seketika itu juga Tuhan ijinkan ia alami penderitaan, "...karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat." (2 Petrus 3:9).

"Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu." Mazmur 119:71

23/06/2016

MEMPERTAHANKAN GENGSI DAN REPUTASI DIRI
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 23 Juni 2016

Baca: 2 Raja-Raja 5:1-15

"'Bukankah Abana dan Parpar, sungai-sungai Damsyik, lebih baik dari segala sungai di Israel? Bukankah aku dapat mandi di sana dan menjadi tahir?' Kemudian berpalinglah ia dan pergi dengan panas hati." 2 Raja-Raja 5:12

Harta, jabatan, kehebatan, kepintaran, pop**aritas adalah hal-hal yang sangat berharga di mata dunia. Semua orang memimpikan dan berusaha meraihnya, sebab dengan memiliki semuanya orang akan dipandang 'besar dan berarti'. Contohnya adalah Naaman, seorang panglima raja Aram yang memiliki reputasi sangat baik bukan hanya di mata raja, tetapi juga di seluruh negeri, yang olehnya Tuhan memberikan kemenangan kepada orang Aram.

Sayang Naaman menderita kusta. Melalui kesaksian gadis kecil yang menjadi pelayan isterinya pergilah Naaman menemui abdi Tuhan (Elisa) untuk mencari kesembuhan. Betapa terkejut dan kecewanya Naaman sesampainya di kediaman Elisa, sebab abdi Tuhan tersebut tidak melakukan seperti yang diharapkan: menumpangkan tangan atau berdoa, malahan hanya mengutus orang suruhan untuk menemui dan menyampaikan pesan: "Pergilah mandi tujuh kali dalam sungai Yordan, maka tubuhmu akan pulih kembali, sehingga engkau menjadi tahir." (ayat 10). Sebagai orang berpangkat, terhormat dan punya reputasi, Naaman merasa dilecehkan dan direndahkan, apalagi disuruh mandi di sungai Yordan yang airnya keruh dan bukannya pergi ke sungai Abana dan Parpar.

Secara harafiah Abana berarti keahlian dan kepintaran manusia, sedangkan Parpar berarti kecukupan buatan manusia. Sesungguhnya Elisa menyuruh Naaman mandi ke sungai Yordan sebagai cara sederhana menguji ketaatan dan kerendahan hatinya. Selama kita mempertahankan gengsi, harga diri, reputasi dan semua 'atribut' yang melekat pada diri kita, kita sedang menghalangi kuasa Tuhan bekerja! Memang tidak mudah merendahkan diri, terlebih bagi mereka yang berada di 'atas' yang cenderung ingin dihormati, diprioritaskan, dilayani. Selama kita mengandalkan kekuatan dan kepintaran manusia kita meremehkan kuasa Tuhan. Ketika Naaman taat dan mau merendahkan hati membenamkan diri tujuh kali ke sungai Yordan, mujizat terjadi. "...pulihlah tubuhnya kembali seperti tubuh seorang anak dan ia menjadi tahir." (ayat 14).

Ketaatan dan kerendahan hati adalah langkah awal mengalami mujizat!

22/06/2016

KEHENDAK TUHAN HARUS UTAMA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 22 Juni 2016

Baca: Mazmur 143:1-12

"Ajarlah aku melakukan kehendak-Mu, sebab Engkaulah Allahku! Kiranya Roh-Mu yang baik itu menuntun aku di tanah yang rata!" Mazmur 143:10

Apa yang selalu ada di pikiran Saudara ketika menjalani kehidupan sehari-hari? Hal-hal duniawikah yang memenuhi pikiran Saudara, ataukah kita mengikuti nasihat rasul paulus: "Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi." (Kolose 3:2).

Ingatlah, arah hidup seseorang sangat ditentukan oleh pola pikirnya! Apa yang memenuhi pikiran kita akan menentukan arah hidup kita. Jika pikiran kita selalu dipenuhi hal-hal duniawi, perkataan dan tindakan kita akan terbentuk menjadi duniawi, yang kita pikirkan pun semata-mata tentang mengumpulkan harta duniawi, jabatan dan kekuasaan, padahal firman Tuhan memeringatkan dengan keras: "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." (Roma 12:2).

Jika kita menginginkan Tuhan dan kehendak-Nya menjadi fokus dalam hidup ini maka kita harus mengisi pikiran kita dengan firman Tuhan setiap hari. Mengapa kita harus menempatkan Tuhan dan kehendak-Nya sebagai yang terutama dalam hidup ini? Supaya langkah hidup kita senantiasa dipimpin dan dituntun oleh Tuhan, sebab kalau kita melakukan segala sesuatu menurut kehendak sendiri tanpa melibatkan Tuhan dan tanpa mengikuti kehendak-Nya, cepat atau lambat kita pasti akan jatuh dan tersesat. Oleh karena itu apa saja yang hendak kita kerjakan dan rencanakan biarlah kita serahkan sepenuhnya kepada kehendak Tuhan terlebih dahulu. "Sebenarnya kamu harus berkata: 'Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.'" (Yakobus 4:15), sebab tak seorang pun yang tahu apa yang ada di depannya, atau apa yang akan terjadi di kemudian hari.

Sebagai pengikut Kristus sudah selayaknya kita meneladani Tuhan Yesus yang menempatkan kehendak Bapa sebagai yang terutama. "...Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku." (Yohanes 5:30).

Apakah yang menjadi fokus hidup Saudara? Semata-mata hanya tertuju kepada perkara-perkara dunia, ataukah fokus kepada kehendak Tuhan?

20/06/2016
20/06/2016

TUHAN MEMANGGIL ORANG BERDOSA (3)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 Juni 2016

Baca: Lukas 19:1-10

"Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang." Lukas 19:10

Zakheus adalah contoh lain orang yang mengalami perjumpaan dengan Tuhan dan hidupnya mengalami perubahan 180 derajat. Dalam bahasa Ibrani nama Zakheus memiliki arti murni atau benar. Namun hal itu sangat kontradiktif dengan keseharian hidup Zakheus yang penuh ketidakmurnian dan ketidakbenaran.

Ditinjau dari segi materi Zakheus adalah orang yang sukses: kaya, punya jabatan dan kekuasaan. Selain mendapat gaji resmi dari pemerintah Romawi ia juga memperoleh gaji 'tidak resmi' yang merupakan ciri umum pejabat pemungut cukai, yang selalu identik dengan ketidakjujuran, manip**asi dan korupsi. Sebagai kepala pemungut cukai Zakheus punya jabatan dan kekuasaan karena memiliki banyak bawahan. Namun ia mengalami krisis identitas. Berlimpah harta, punya jabatan dan kekuasaan tidak membuatnya dihormati orang, sebaliknya ia malah dibenci dan dikucilkan lingkungan. Di ruang hatinya yang terdalam ada kehampaan dan kekosongan sehingga ia pun berupaya mencari sesuatu yang hilang itu! Begitu melihat Yesus sedang melintas kota Yerikho. "Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek. Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ." (ayat 3-4). Ia menghadapi kendala yang tidak mudah: kendala fisik (tubuhnya pendek) dan kendala sosial (dibenci, dimusuhi, dikucilkan). Namun hal itu tak mampu meredam hasratnya yang besar, bahkan ia rela memanjat pohon ara, hal yang tidak pantas dilakukan pejabat. Ketika orang lain tidak memedulikannya, mata Tuhan tertuju kepada Zakheus dan menyuruhnya segera turun karena Ia harus menumpang dirumahnya (ayat 5). Kata harus menyiratkan sebuah misi Ilahi Tuhan Yesus yaitu mencari dan menyelamatkan yang hilang.

Karena telah mengalami kasih Tuhan yang besar, harta kekayaan bukan lagi segala-galanya bagi Zakheus, terbukti dari kerelaannya membagikan hartanya kepada orang miskin secara s**arela, bahkan ia rela mengembalikan empat kali lipat.

Setelah mengalami kasih Tuhan hidup Zakheus diubahkan, harta bukan lagi segala-galanya, tapi Yesus adalah segala-galanya baginya!

Foto Keluarga
18/06/2016

Foto Keluarga

18/06/2016
17/06/2016

PENYESATAN DI AKHIR ZAMAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 Juni 2016

Baca: 2 Tesalonika 2:1-12

"Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan cara yang bagaimanapun juga! Sebab sebelum Hari itu haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka, yang harus binasa," 2 Tesalonika 2:3

Selama berada di dunia ini perjalanan hidup kekristenan kita tidak akan selalu berjalan dengan mulus, sebab ada banyak sekali tantangan, rintangan yang selalu menghadang langkah kita. Faktor-faktor inilah yang membuat banyak orang Kristen tidak lagi fokus kepada tujuan, mata mereka tidak lagi terarah kepada sasaran melainkan mulai menyimpang dari arah yang sesungguhnya. Ada p**a yang terseret arus dunia yang sangat menyesatkan. Akhir-akhir ini kita sering mendengar kabar atau berita yang aneh-aneh tentang berbagai jenis penyesatan yang menyerang iman Kristen. Ada gereja-gereja atau persekutuan doa yang tidak lagi memberitakan Injil Kristus secara murni, tetapi Injil sudah diselewengkan dan terkontaminasi dengan logika.

Sebenarnya kita tidak perlu terkejut lagi karena Alkitab sudah menyatakan jauh sebelumnya bahwa penyesatan, kedurhakaan dan berbagai penyimpangan akan banyak terjadi sebelum hari kedatangan Tuhan tiba, bahkan hal itu tidak lagi dilakukan secara sembunyi-sembunyi melainkan secara terang-terangan. Mengapa hal ini Tuhan ijinkan terjadi? Tujuannya adalah untuk menguji iman dan kesungguhan orang percaya dalam mengiring Tuhan. "Alat penampi sudah ditangan-Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan." (Matius 3:12).

Bukan waktunya lagi orang Kristen hidup santai-santai. Mari tingkatkan kualitas iman kita. Jangan sampai kita terjebak dalam rutinitas ibadah dan pelayanan, melainkan usahakanlah kita benar-benar menjadi pelaku firman, sebab "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga." (Matius 7:21). Salah satu faktor orang Kristen mudah sekali disesatkan dan diombang-ambingkan adalah karena mereka tidak tergembala dengan baik dan tidak tertanam di gereja lokal, yang dikarenakan mereka s**a sekali pindah-pindah gereja dan tidak memiliki komitmen!

Tingkatkan ibadah dan tertanamlah di gereja lokal agar tidak mudah disesatkan!

Address

Jakarta

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Joshua Generation Church - GBI MTA posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share