Gereja Regina Caeli, Pantai Indah Kapuk

Gereja Regina Caeli, Pantai Indah Kapuk ig Dibawah Keuskupan Agung Jakarta

Semboyan:
“Berakar dalam Iman, Bertumbuh dalam Persaudaraan, Berbuah dalam Pelayanan”

MASUK MELALUI KRISTUS, MENJADI GEMBALA BAGI SESAMADi tengah banyaknya “pintu” yang ditawarkan dunia—kesuksesan, pop**ari...
28/04/2026

MASUK MELALUI KRISTUS, MENJADI GEMBALA BAGI SESAMA

Di tengah banyaknya “pintu” yang ditawarkan dunia—kesuksesan, pop**aritas, kenyamanan—Yesus datang dengan satu klaim yang tegas: “Akulah Pintu” dan “Akulah Gembala yang Baik” (lih. Injil Yohanes 10:1–10). Ia bukan sekadar pilihan, tetapi jalan menuju hidup yang sejati.

Minggu Paskah IV, yang juga kita rayakan sebagai Hari Panggilan, mengajak kita melihat panggilan lebih luas: bukan hanya menjadi imam atau biarawan/biarawati, tetapi menjadi “pintu” yang membuka jalan bagi sesama dan “gembala” yang merawat dengan kasih.

Di tengah hidup yang bising, mampukah kita mengenali suara-Nya? Atau justru kita tersesat oleh banyak suara lain?

Homili ini mengajak kita berhenti sejenak, masuk dalam keheningan, dan bertanya: aku mengikuti pintu yang mana? Sudahkah aku menjadi tanda kasih Tuhan bagi orang lain?

Karena pada akhirnya, panggilan bukan soal posisi—tetapi relasi dengan Dia yang memanggil.

BELAJAR HENING DI TENGAH LITURGI YANG RAMAIDi tengah arus “budaya bising” yang tak pernah berhenti, kita perlahan kehila...
28/04/2026

BELAJAR HENING DI TENGAH LITURGI YANG RAMAI

Di tengah arus “budaya bising” yang tak pernah berhenti, kita perlahan kehilangan kemampuan untuk hening—bahkan dalam liturgi. Padahal, Gereja mengajarkan bahwa keheningan bukan sekadar jeda, melainkan ruang perjumpaan dengan Allah. Dalam diam, Sabda berakar, iman bertumbuh, dan hati disentuh oleh misteri Ilahi.

Namun, tanpa disadari, liturgi kita sering dipenuhi suara tanpa henti: lagu, komentar, dan aktivitas yang justru menutup ruang bagi Tuhan untuk berbicara. Seperti diingatkan oleh Paus Benediktus XVI, liturgi yang terlalu “ramai” bisa mengaburkan pusatnya—yakni karya Allah sendiri.

Artikel ini mengajak kita melihat kembali makna keheningan sebagai bagian penting dalam perayaan iman. Bukan kekosongan, tetapi kepenuhan. Bukan ketiadaan, tetapi kehadiran.

Mari belajar kembali untuk diam… karena sering kali, Tuhan berbicara justru dalam keheningan.

MENDENGAR DAN MENGIKUTI SUARANYADalam Injil Yohanes 10:1–10, Yesus menggambarkan diri-Nya sebagai pintu bagi domba-domba...
28/04/2026

MENDENGAR DAN MENGIKUTI SUARANYA

Dalam Injil Yohanes 10:1–10, Yesus menggambarkan diri-Nya sebagai pintu bagi domba-domba. Gambaran ini sederhana, namun sangat dalam. Domba mengenal suara gembalanya, dan hanya mengikuti dia yang mereka percaya. Begitu p**a kita: di tengah banyaknya “suara” dunia—ambisi, kekhawatiran, godaan—kita diajak untuk peka membedakan suara Tuhan yang membawa hidup.

Yesus bukan hanya menunjukkan jalan; Ia sendiri adalah pintu itu. Artinya, keselamatan dan kepenuhan hidup hanya ditemukan ketika kita masuk melalui Dia—dengan iman, kepercayaan, dan ketaatan. Ia tidak memaksa, tetapi memanggil dengan lembut. Suara-Nya tidak menakutkan, melainkan menuntun, menguatkan, dan memberi harapan.

Sering kali kita tergoda mencari jalan lain yang tampak lebih mudah atau cepat. Namun Yesus mengingatkan bahwa jalan di luar Dia justru menyesatkan dan merampas damai. Sebaliknya, ketika kita memilih mendengarkan dan mengikuti-Nya, kita akan menemukan “padang rumput” kehidupan—damai, sukacita, dan makna sejati.

Hari ini, marilah kita bertanya: suara siapa yang paling kita dengarkan? Semoga hati kita semakin peka mengenali suara Tuhan, berani masuk melalui “pintu”-Nya, dan setia berjalan bersama-Nya menuju hidup yang berkelimpahan. Simak tulisan Natalia Gunawaty Yala berikut ini.

DIA TERNYATA BERJALAN BERSAMA KITADua murid berjalan menuju Emaus dengan hati yang hancur. Harapan mereka runtuh bersama...
22/04/2026

DIA TERNYATA BERJALAN BERSAMA KITA

Dua murid berjalan menuju Emaus dengan hati yang hancur. Harapan mereka runtuh bersama wafatnya Yesus. Mereka melangkah, tetapi tanpa arah. Betapa sering kita juga seperti itu—tetap berjalan, tetapi kehilangan makna.

Menariknya, Yesus justru datang dan berjalan bersama mereka, meski mereka tidak mengenali-Nya. Ia mendengarkan kekecewaan mereka, lalu perlahan membuka pikiran mereka melalui Kitab Suci. Hingga akhirnya, saat roti dipecah, mata mereka terbuka—dan mereka sadar: Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka.

Renungan ini sederhana tapi kuat: sering kali kita tidak menyadari kehadiran Tuhan justru di saat kita merasa paling jauh dari-Nya. Ia hadir dalam perjalanan kita, dalam percakapan, dalam Sabda, dan terutama dalam Ekaristi.

Momen “roti dipecah” menjadi titik balik—dari putus asa menjadi harapan, dari menjauh menjadi kembali. Mereka yang tadinya ingin pergi, kini berbalik arah untuk bersaksi.

Hari ini, mungkin kita sedang berjalan dalam kebingungan atau kekecewaan. Jangan berhenti. Jangan menyerah. Bisa jadi, Tuhan sedang berjalan di sampingmu—menunggu hatimu terbuka untuk mengenali-Nya.

Dalam terang Minggu Panggilan, kisah ini mengingatkan bahwa panggilan Tuhan sering hadir di tengah perjalanan hidup yang biasa. Tuhan memanggil saat kita berjalan, mendengar, dan membuka hati. Ia mengubah arah hidup kita menjadi perutusan. Sudahkah kita peka mengenali panggilan-Nya hari ini? Simak tulisan Romo Alexius Widianto berikut ini.

TERANG YANG MENYELAMATKAN, BUKAN MENGHUKUMSeringkali kita membayangkan Allah sebagai hakim yang siap menghukum. Namun In...
17/04/2026

TERANG YANG MENYELAMATKAN, BUKAN MENGHUKUM

Seringkali kita membayangkan Allah sebagai hakim yang siap menghukum. Namun Injil Yohanes 3:16–21 justru mengungkapkan wajah Allah yang berbeda: Ia adalah Bapa yang lebih dulu mengasihi dan ingin menyelamatkan. Kasih-Nya tidak menunggu kita sempurna—justru datang saat kita masih bergumul dalam kegelapan.

Namun terang Kristus bukan sekadar menghibur, melainkan juga mengundang kita untuk jujur pada diri sendiri. Mengapa kita kadang menjauh dari doa? Mengapa kita menunda pertobatan? Karena terang menyingkapkan apa yang tersembunyi. Tapi ingat, terang itu tidak untuk mempermalukan—melainkan menyembuhkan.

Seperti kata Santo Agustinus dari Hippo, kita sering “terlambat” mencintai Tuhan, bukan karena Ia jauh, tetapi karena hati kita tertutup.

Hari ini, mari berani melangkah keluar dari kegelapan. Datanglah kepada terang Kristus—dan biarkan hidup kita perlahan menjadi terang bagi sesama.

DARI HENING PAGI KE MUKJIZAT KASIHDi tengah kesibukan dan kelelahan hidup, ada satu kerinduan yang sering tersembunyi: h...
17/04/2026

DARI HENING PAGI KE MUKJIZAT KASIH

Di tengah kesibukan dan kelelahan hidup, ada satu kerinduan yang sering tersembunyi: hati yang haus akan Tuhan dan jiwa yang lapar akan makna. Dua renungan bergaya mazmur ini mengajak kita berhenti sejenak—masuk dalam keheningan pagi, dan menyadari bahwa Tuhan hadir, menyapa, dan menguatkan.

Melalui gambaran sederhana—fajar yang terang, hati yang gelisah, hingga lima roti dan dua ikan—kita diingatkan bahwa Tuhan bekerja justru dari hal-hal kecil dalam hidup kita. Kerapuhan, keterbatasan, bahkan iman yang goyah, tidak pernah menjadi penghalang bagi-Nya untuk berkarya.

Renungan ini bukan sekadar doa, tetapi undangan untuk percaya, menyerahkan diri, dan berani memberi. Karena sering kali, mukjizat Tuhan dimulai dari langkah kecil yang kita persembahkan dengan tulus.

Mari temukan kembali damai, harapan, dan kekuatan dalam Tuhan. Bacalah dan biarkan hati Anda disentuh.

TUJUH ATAU DUA? MENGAPA SAKRAMEN JADI PERDEBATAN BESARPernahkah kita bertanya: mengapa Gereja Katolik memiliki tujuh sak...
16/04/2026

TUJUH ATAU DUA? MENGAPA SAKRAMEN JADI PERDEBATAN BESAR

Pernahkah kita bertanya: mengapa Gereja Katolik memiliki tujuh sakramen, sementara tradisi Reformasi Protestan hanya mengakui dua? Apakah ini sekadar soal jumlah—atau ada sesuatu yang lebih dalam?

Artikel reflektif karya Jacobus Tarigan ini mengajak kita masuk ke jantung iman: bagaimana Allah bekerja dalam hidup manusia melalui tanda-tanda nyata. Dari Konsili Trente hingga pemikiran Martin Luther dan John Calvin, kita diajak melihat bahwa perbedaan ini bukan sekadar tradisi, tetapi menyentuh cara memahami rahmat, Gereja, dan keselamatan.

Bagi Gereja Katolik, sakramen adalah perjumpaan nyata dengan Kristus. Bagi Reformasi, iman menjadi pusat utama. Lalu, di mana kita berdiri?

Temukan jawabannya dalam artikel ini—dan biarkan iman Anda diperdalam, bukan hanya dipahami.

SAAT TUHAN MENEMBUS PINTU TERTUTUPMUTakut, ragu, kecewa—pernahkah kita merasa seperti para murid dalam Injil Yohanes 20:...
14/04/2026

SAAT TUHAN MENEMBUS PINTU TERTUTUPMU

Takut, ragu, kecewa—pernahkah kita merasa seperti para murid dalam Injil Yohanes 20:19-31? Pintu terkunci rapat, hati pun tertutup. Namun justru di situ, Yesus datang… dan membawa damai.

Ia tidak menegur, tetapi menyapa. Tidak menghakimi, tetapi memulihkan. Bahkan luka-Nya menjadi tanda kasih yang hidup.

Dan Tomas? Ia ragu—seperti kita. Tapi Yesus tidak menjauh. Ia justru mendekat, mengundang, dan menjawab kerinduan terdalamnya.

Kabar baiknya: Tuhan yang sama juga datang dalam hidup kita hari ini. Ia menembus “pintu-pintu tertutup” dalam hati kita—ketakutan, luka, dan keraguan.

Jangan lewatkan renungan ini. Mungkin ini saatnya kita juga berkata: “Ya Tuhanku dan Allahku.”

Simak tulisan Ursulla Ann berikut ini dan temukan damai yang mengubah hidupmu.

14/04/2026
10/04/2026

Di Kana, kekurangan berubah jadi kelimpahan.
Saat Yesus hadir, yang biasa menjadi luar biasa.

08/04/2026

Regina Caeli Goes To Timor
10,000 Tas Sekolah 💼 🏫

🌟 Terima kasih kepada umat Regina Caeli atas persembahan penuh kasih, turut terlibat dan bergerak melayani sesama sampai ke Timor. 🌟

Salam dari NTT,
PSE Regina Caeli
🫶

07/04/2026

Dari salib lahir kasih,dari luka hadir pengampunan,
dan dari kebangkitan, kita menerima hidup yang baru.

Selamat merayakan Minggu Paskah.Terang-Nya mengalahkan gelap,dan kasih-Nya selalu lebih besar dari segalanya

Address

Jalan Mediterania Boulevard No. 1/Pantai Indah Kapuk
Jakarta
14460

Opening Hours

Monday 08:00 - 15:00
Tuesday 08:00 - 15:00
Wednesday 08:00 - 15:00
Thursday 08:00 - 15:00
Friday 08:00 - 03:00
Saturday 08:00 - 03:00
Sunday 10:30 - 13:00

Telephone

+628111080120

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Gereja Regina Caeli, Pantai Indah Kapuk posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share