11/10/2025
Buku Guru Sejati Hasyim Asy’ari
Rp. 60.000
Spesifikasi
Kategori : Sejarah
Berat : 400 gram
Kondisi buku baru dan asli
Deskripsi
Buku Langka - Masyamsul Huda - Guru Sejati KH Hasyim Asyari - Sejarah Hidup dan Perjuangan Pendiri Nahdlatul Ulama dan Pesantren Tebuireng - Buku Baru Original (Asli)
Tebal: 270 halaman
Info Pemesanan sms/wa: 0857-2189-9505,
Format pesan lewat sms/wa: Judul pesanan lengkap lengkap HP.
atau
Belanja di web kami :
https://shopee.co.id/tokonuonline
TENTANG BUKU
Disusun berdasarkan catatan sejarah dan informasi dari keturunan langsung tokoh-tokoh yang terlibat dalam kejadian, kisah ini mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi di masa-masa perjuangan melawan penjajah dan kerusakan moral. Buku ini mengungkap fakta-fakta tersembunyi dari sejarah berdirinya Pondok Pesantren Tebu Ireng.
Berlatar daerah Jombang, Masyamsul Huda menuliskan sejarah berdirinya pondok pesantren Tebu Ireng sekaligus perjuangan KH. Hasyim Asyari bersama beberapa tokoh yang membantu tersebarnya Islam di kawasan Tebu Ireng. Berawal dari kondisi Indonesia pada masa penjajahan Belanda ketika pabrik gula Cukir pertama kali didirikan.
Konflik masyarakat desa dan penjajah mulai tampak ketika pendirian pabrik gula. Dengan politik adu domba, Belanda menghasut dan mendorong warga sekitar Cukir untuk memperkuat eksistensi pabrik gula tersebut. Belanda mengadu domba masyarakat dan melumpuhkan perlawanan terhadap kolonial dengan mendirikan hiburan prostitusi yang dikawal perguruan silat ilmu hitam Kebo Kicak.
Keresahan warga dan ulama yang merupakan penduduk setempat menemukan jalannya ketika dipertemukan dengan Kyai Hasyim Asyari yang saat itu baru saja pulang ke Jombang setelah mencari ilmu di Makkah. Berbekal tekad, strategi, kebersamaan, persaudaraan, dan akhlakul karimah, Kyai Hasyim Asyari beserta beberapa pelopor lainnya mengawal pendirian pondok pesantren Tebu Ireng untuk mengembalikan masyarakat kepada jalan yang benar.
Detik-detik perjuangan dan segala rintangan yang dihadapi dalam berjuang berhasil diceritakan dengan begitu detail oleh Masyamsul Huda, yang tidak lain merupakan cucu dari Kyai Sakiban, salah satu pejuang yang membantu Kyai Hasyim dalam proses pendirian pondok pesantren Tebu Ireng. Mengambil sudut pandang orang ketiga, Masyamsul Huda menceritakan bagaimana Kyai Sakiban mengalami masa-masa transisi dari Kebo Ireng menuju Tebu Ireng, dari kegelapan menuju cahaya.
Dalam buku ini, banyak nilai-nilai mulia yang tercermin dari sosok mulia Kyai Hasyim Asyari baik dari sisi akhlak, keteguhan dalam perjuangan dan kesabaran beliau. Tidak hanya itu, pesan-pesan moral dari berbagai tokoh juga menjadikan buku ini memiliki nilai lebih. Dalam setiap babaknya, terdapat kisah dan pesan yang langka sebab merupakan bagian dari sejarah yang tidak banyak diketahui orang pada umumnya.
Meskipun dalam beberapa bagian di awal penulis belum terlalu mampu menyentuh pembaca dari deskripsi aktivitas dan suasana yang tidak begitu menarik, namun pada bab selanjutnya hingga akhir bagian buku ini, penulis berhasil menghanyutkan pembaca dengan membawa beberapa petik suara dan alur detail yang menegangkan.