Masjid Al Barkah Cengkareng Indah

Masjid Al Barkah Cengkareng Indah Meraih Jannah dengan Ukhuwah lewat

PERTEMANAN ITU HIDUP DAN MATIPertemanan bukan sekadar soal nafas yang masih berhembus atau jasad yang masih berjalan.Ada...
23/12/2025

PERTEMANAN ITU HIDUP DAN MATI

Pertemanan bukan sekadar soal nafas yang masih berhembus atau jasad yang masih berjalan.
Ada teman yang telah mati, namun ia tetap hidup dalam pertemanan—namanya disebut dalam doa, kebaikannya dikenang, nasihatnya terus membimbing, dan jasanya tak pernah dilupakan. Ia hidup melalui akhlak yang ia tinggalkan.
Namun ada p**a teman yang masih hidup, tetapi sejatinya telah mati.
Hilang kejujuran, padam kepedulian, lenyap empati. Saat hadir membawa luka, saat dekat menanamkan racun, dan saat dibutuhkan justru menghilang. Hidup raganya, mati nilai persahabatannya.
Karena itu, hidupkanlah pertemanan dengan keikhlasan, kesetiaan, dan kebaikan.
Sebab pertemanan sejati tidak diukur oleh lamanya kebersamaan, melainkan oleh nilai yang terus hidup meski jarak, waktu, bahkan kematian memisahkan.
Pilihlah menjadi teman yang tetap hidup meski telah tiada, bukan yang mati padahal masih ada.

“Padi yang dipanen hari ini bukanlah padi yang baru ditanam kemarin.”Pepatah ini mengajarkan bahwa hasil yang baik selal...
16/12/2025

“Padi yang dipanen hari ini bukanlah padi yang baru ditanam kemarin.”

Pepatah ini mengajarkan bahwa hasil yang baik selalu melalui proses yang panjang, sabar, dan terencana. Demikian p**a dalam kaderisasi kepemimpinan DKM masjid. Seorang pemimpin masjid yang kuat tidak lahir secara tiba-tiba, apalagi karena kebutuhan sesaat atau penunjukan instan.
Kepemimpinan yang sejati dibentuk melalui proses pembinaan, pengkaderan, pendampingan, dan pengalaman. Ia ditempa dengan amanah kecil sebelum memikul amanah besar, diuji dengan peran sederhana sebelum memimpin jamaah secara luas. Tanpa proses ini, yang lahir bukan pemimpin, melainkan sekadar figur.
Pemimpin yang dicetak secara instan ibarat padi kembung: terlihat besar, menguning, dan menjanjikan, namun ketika dipetik ternyata kosong dan busuk. Tampak meyakinkan di luar, tetapi tidak memberi manfaat bagi lumbung umat. Ia rapuh dalam ujian, lemah dalam manajerial, dan sering menjadikan masjid sebagai panggung, bukan ladang pengabdian.
Masjid membutuhkan pemimpin yang matang secara ruhiyah, kokoh secara akhlak, dan cakap secara kepemimpinan. Semua itu tidak lahir dari kebetulan, melainkan dari kaderisasi yang berkelanjutan. Karena itu, membangun DKM masjid bukan sekadar mencari siapa yang siap hari ini, tetapi menyiapkan siapa yang layak untuk esok hari.
Sebab masjid yang makmur bukan ditopang oleh pemimpin dadakan, melainkan oleh pemimpin hasil proses—seperti padi bernas, sederhana penampilannya, namun penuh isi dan memberi kehidupan.

Mengelola Masjid Bukan Hanya Kemauan, Tapi KemampuanMengelola masjid bukanlah sekadar kemauan, tetapi membutuhkan kemamp...
01/12/2025

Mengelola Masjid Bukan Hanya Kemauan, Tapi Kemampuan
Mengelola masjid bukanlah sekadar kemauan, tetapi membutuhkan kemampuan—kemampuan manajerial, kemampuan memimpin, kemampuan berkomunikasi, dan kemampuan menjaga harmoni di tengah jamaah. Masjid adalah rumah Allah, tempat ibadah, pusat pembinaan umat, dan wadah persatuan. Karena itu, pengelolaannya tidak bisa dilakukan secara asal-asalan atau sekadar berdasarkan semangat tanpa ilmu.
Dalam organisasi masjid, tidak boleh ada yang namanya one man show. Masjid bukan milik satu orang, bukan tempat seseorang menunjukkan kekuasaan, dan bukan p**a panggung untuk memperlihatkan siapa paling berjasa. Masjid harus dikelola bersama, dengan musyawarah, dengan saling menghargai, dan dengan pembagian tugas yang jelas sehingga setiap pengurus merasa terlibat dan bertanggung jawab.
Ketika semua pengurus bekerja bersama, saling menyempurnakan, dan saling menutupi kekurangan, maka masjid itu akan hidup. Setiap program berjalan efektif, setiap keputusan diambil dengan bijak, dan suasana masjid menjadi damai serta menggerakkan jamaah untuk lebih dekat kepada Allah.
Masjid yang baik adalah masjid yang dikelola seperti satu tubuh: jika satu bagian bekerja, yang lain mendukung; jika satu bagian lemah, yang lain menguatkan. Dengan begitu, pengelolaan masjid tidak hanya kuat secara struktur, tetapi juga kokoh secara ruhani, karena dikelola dengan kebersamaan, profesionalisme, dan keikhlasan.

Kadang orang yang paling keras mempertahankan pendapatnya bukan karena yakin, tapi karena takut terlihat salah. Riset da...
11/11/2025

Kadang orang yang paling keras mempertahankan pendapatnya bukan karena yakin, tapi karena takut terlihat salah. Riset dari University of Michigan menunjukkan bahwa otak manusia menolak koreksi yang mengancam ego, bukan logika. Artinya, ketika seseorang berdebat tanpa mau mengalah, masalahnya bukan pada fakta, tapi pada harga diri yang sedang ia lindungi.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering bertemu dengan orang yang salah tapi tetap merasa benar. Mereka bisa teman kerja, pasangan, bahkan keluarga. Setiap argumen terasa seperti tembok, bukan percakapan. Padahal, jika kamu ikut terpancing, kamu hanya memperbesar egonya. Kuncinya bukan membungkam mereka, tapi membuat mereka berpikir tanpa merasa kalah.

1. Jangan buru-buru membuktikan siapa yang benar

Begitu kamu langsung ingin “menang”, kamu sudah kalah dalam permainan ego. Orang yang keras kepala tidak mencari kebenaran, tapi pembenaran. Maka, fokuslah bukan pada siapa yang benar, tapi pada bagaimana percakapan bisa tetap logis. Diam sejenak sering lebih memotong tensi daripada membalas cepat.

Contohnya, ketika rekan kerjamu salah menghitung data tapi ngotot benar, jangan langsung mengoreksi. Katakan saja, “boleh kita cek ulang bareng?” Nada kolaboratif menurunkan resistensi.

2. Gunakan pertanyaan, bukan pernyataan untuk melunakkan ego

Pernyataan sering terasa seperti serangan, sedangkan pertanyaan memberi ruang berpikir. Ketika kamu bertanya, otak lawan bicara dipaksa mencari alasan, bukan bertahan. Teknik ini disebut Socratic questioning dalam psikologi komunikasi, dan terbukti lebih efektif membuka dialog daripada perdebatan langsung.

Contohnya, saat temanmu salah paham tapi tetap keras kepala, tanyakan, “menurutmu, kenapa hasilnya bisa beda dari data sebelumnya?” Pertanyaan lembut membuatnya meninjau ulang pendapat sendiri.

3. Jaga nada bicara agar tidak terdengar menggurui

Nada menentukan reaksi lebih cepat daripada isi kalimat. Semakin kamu terlihat ingin mengajari, semakin mereka menolak mendengar. Gunakan intonasi netral, seperti mengajak berdiskusi, bukan menilai. Ketenangan adalah bentuk otoritas yang paling elegan.

Contohnya, saat orang tua atau senior salah paham tapi enggan dikoreksi, katakan dengan lembut, “mungkin ada cara lain melihatnya.” Kalimat ini menjaga harga diri mereka tanpa kehilangan poinmu.

4. Fokus pada tujuan, bukan emosi percakapan

Dalam debat yang memanas, orang sering lupa alasan awal bicara. Padahal, tanpa arah, kamu hanya ikut dalam pusaran emosi orang lain. Tetapkan niat dari awal: apakah kamu ingin memperjelas, mengingatkan, atau menyadarkan. Dengan begitu, kamu tidak terseret dalam permainan menang-kalah.

Contohnya, saat bosmu menuduhmu salah meski tidak, tetap jelaskan dengan data. “Saya paham maksud Anda, ini datanya supaya kita sama pandangan.” Fokus pada fakta menjaga wibawa.

5. Akui bagian yang bisa kamu setujui terlebih dahulu

Orang yang keras kepala melemah ketika merasa didengarkan. Mengakui satu bagian kecil dari pendapatnya bisa menjadi celah logis untuk menurunkan pertahanan. Prinsip ini dikenal sebagai psychological mirroring, dan sering dipakai dalam negosiasi profesional.

Contohnya, ketika temanmu salah argumentasi tapi ada niat baik, katakan, “aku ngerti maksudmu, memang itu bisa terjadi. Tapi ada satu hal yang sering luput.” Kamu masuk tanpa benturan.

6. Tahu kapan berhenti adalah tanda kecerdasan sosial

Tidak semua percakapan pantas diperjuangkan sampai akhir. Ada saatnya mundur bukan karena kalah, tapi karena tahu lawan bicara belum siap untuk mengerti. Memilih diam di waktu tepat bukan kelemahan, melainkan bentuk kendali diri tertinggi.

Contohnya, saat orang terus menolak argumen rasional meski sudah dijelaskan, cukup katakan, “ya, mungkin kita punya sudut pandang berbeda.” Kalimat itu menutup dengan elegan tanpa kehilangan martabat.

7. Langkah terakhir menghadapi orang keras Kepala adalah Tinggalkan dia agar dia bisa merenung dan menghindarkan kita membuang energi sia sia .

Menghadapi orang yang salah tapi ingin menang adalah latihan kesabaran, logika, dan kedewasaan. Kamu tidak perlu membuktikan kecerdasan dengan debat, cukup tunjukkan lewat cara kamu menjaga kendali. Jadi, menurutmu, lebih kuat yang bisa mengalahkan orang lain, atau yang bisa mengalahkan egonya sendiri?

Sumber : Salim Akbar

“Niat yang buruk tidak akan melahirkan hasil yang baik, sebagaimana benih busuk tak akan tumbuh menjadi pohon yang berbu...
30/10/2025

“Niat yang buruk tidak akan melahirkan hasil yang baik, sebagaimana benih busuk tak akan tumbuh menjadi pohon yang berbuah.”

🕌 1. Dalil dari Hadits
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan.”
(HR. Bukhari & Muslim)
🔹 Maknanya:
Kalau niatnya buruk — misalnya untuk menipu, mencari dunia, atau menyakiti orang lain — maka amal itu tidak bernilai baik di sisi Allah, bahkan bisa menjadi dosa.
Niat adalah akar amal; bila akar rusak, maka buahnya pun rusak.
📖 2. Dalil dari Al-Qur’an
a. Surah Al-Baqarah ayat 9–10
“Di antara manusia ada yang mengatakan, ‘Kami beriman kepada Allah dan Hari Akhir,’ padahal mereka bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri mereka sendiri... Maka Allah menambah penyakit pada hati mereka.”
(QS. Al-Baqarah: 8–10)
🔹 Makna:
Niat mereka buruk — pura-pura beriman untuk kepentingan dunia. Akhirnya, hasilnya pun buruk: hati mereka bertambah sakit dan mereka mendapat azab.
b. Surah Muhammad ayat 8–9
“Dan orang-orang yang kafir itu, amal-amal mereka adalah sia-sia; yang demikian itu karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah, maka Allah menghapuskan amal-amal mereka.”
(QS. Muhammad: 8–9)
🔹 Makna:
Ketika niat dan hati tidak baik — benci kepada kebenaran — maka amal yang mereka lakukan tidak membuahkan hasil kebaikan.
⚖️ 3. Kaidah Fiqh
“Al-umur bi maqashidiha”
(Segala perkara tergantung pada tujuannya/niatnya)
🔹 Ini kaidah besar dalam Islam. Jika niat awal buruk (tujuan menipu, riya, atau zalim), maka hasilnya tidak akan mendatangkan keberkahan, bahkan bisa menjadi keburukan di dunia dan akhirat.
🌱 Kesimp**an Hikmah
Niat adalah akar dari setiap amal.
Jika akar (niat) busuk, pohonnya (amal) akan layu, dan buahnya (hasilnya) pun pahit.
Karena itu Rasulullah ﷺ menekankan untuk selalu meluruskan niat sebelum memulai sesuatu.

Muhasabah
27/10/2025

Muhasabah

14/10/2025

In syaa Allah Abis Lebaran 2026 Kita Kumpul Rihlah Lagi, yuk segera Daftar ajak Keluarga 🚎🏠

10/09/2025

Astaghfirullah...

Address

Jalan Melati Indah 3
Jakarta
11720

Telephone

081384691608

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Masjid Al Barkah Cengkareng Indah posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category