23/12/2024
SEBUAH KISAH DI BALIK SECANGKIR KOPI
Diceritakan bahwa Al Habib Alwi bin Syihab (Ayah dari ‘Ainut Tarim Al Habib Abdullah bin Alwi bin Syihab), di kala menuntut ilmu kepada Al Habib Abdurrahman Al Masyhur, Habib Alwi berperan sebagai khadim (orang yang s**a berkhidmah) kepada sang guru. Tugasnya ialah melayani dan memenuhi semua keperluan dan hajat yang diinginkan gurunya itu. Keadaan ini terus berlanjut hingga bertahun-tahun lamanya, bahkan setiap kali pelajaran dimulai, seluruh temannya mengkaji dan menelaah kitab bersama sang Habib Abdurrahaman, terkecuali Habib Alwi yang saat itu selalu disibukkan dengan menyediakan kopi untuk sang guru.
Terbesit dalam hati dan fikiran Habib Alwi saat itu, “Teman-temanku sedang memegang kitab dan menelaahnya bersama guruku, namun mengapa aku malah setiap harinya selalu disibukkan dengan membuat kopi, bagaimana aku bisa menjadi orang yang berilmu seperti teman-temanku.”
Tak lama setelah itu, Habib Abdurrahman Al-Masyhur menghampiri Habib Alwi seraya mendekatkan kepalanya kepada telinganya dan berbisik, “Suatu saat kamu akan melampaui seluruh teman-temanmu itu.”
Sontak, Habib Alwi pun terkejut tak terkira, mengapa suara hatinya mampu terdengar oleh sang guru. Lantas, ia pun malu dan kembali dalam berkhidmat ketimbang memikirkan hal yang tidak-tidak.
Selepas Habib Abdurrahman wafat, benarlah apa yang diucapkan gurunya dahulu kepadanya. Saat ini Habib Alwi bin Syihab menjadi ulama besar di zamannya, yang menjadi kiblat seluruh ulama dunia saat itu, dan Beliau menyandang gelar Mata Hati kota Tarim, julukan yang melampaui semua teman-temannya. Dan ia yakini bahwa ini berkah dari khidmahnya dahulu kepada sang guru.
Dalam foto:
As-Sayyid Al-Habib Abdurrahman Basyurro (Murid Al-Imam Al-Quthub Al-Habib Abdul Qodir bin Ahmad Assegaf, Jeddah) bersama salah satu muridnya