02/11/2014
KEISTIMEWAAN BULAN MUHARRAM
Keutamaan Bulan Muharram dan Hari Asyura
Muharram adalah bulan di mana umat Islam mengawali tahun kalender
Hijriah berdasarkan peredaran bulan.
Muharram menjadi salah satu dari
empat bulan suci yang tersebut dalam
Al-Quran. "Jumlah bulan menurut Allah
adalah dua belas bulan, tersebut dalam Kitab Allah
pada hari Dia menciptakan langit dan
bumi. Di antara kedua belas bulan itu
ada empat bulan yang disucikan." Keempat bulan itu adalah, Zulqaidah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab. Semua ahli tafsir Al-Quran sepakat
dengan hal ini karena Rasululullah Saw
dalam haji kesempatan haji
terakhirnya
mendeklarasikan, "Satu tahun terdiri
dari dua belas bulan, empat di antaranya adalah bulan suci. Tiga di
antaranya berurutan yaitu Zulqaidah,
Zulhijjah, Muharram dan ke empat
adalah bulan Rajab." Selain keempat bulan khusus itu,
bukan berarti bulan-bulan lainnya tidak
memiliki keutamaan, karena masih
ada bulan Ramadhan yang diakui
sebagai bulan paling suci dalam satu
satu tahun. Keempat bulan tersebut secara khusus disebut bulan-bulan
yang disucikan karena ada
alasan-alasan khusus p**a, bahkan
para penganut paganisme di Makkah
mengakui keempat bulan tersebut
disucikan. Pada dasarnya setiap bulan adalah
sama satu dengan yang lainnya dan
tidak ada perbedaan dalam
kesuciannya dibandingkan dengan
bulan- bulan lain. Ketika Allah Swt
memilih bulan khusus untuk menurunkan rahmatnya, maka Allah
Swt lah yang memiliki kebesaran itu
atas
kehendakNya.
Keutamaan Bulan Muharram Nabi Muhammad Saw bersabda,
"Ibadah puasa yang paling baik setelah
puasa Ramadan adalah berpuasa di
bulan Muharram." Meski puasa di bulan Muharram bukan
puasa wajib, tapi mereka yang
berpuasa pada bulan Muharram akan
mendapatkan pahala yang besar dari
Allah Swt. Khususnya pada tanggal 10
Muharram yang dikenal dengan hari 'Asyura. Ibnu Abbas mengatakan, ketika Nabi
Muhammad Saw hijrah dari Makkah ke
Madinah, beliau menjumpai orang-
orang Yahudi di Madinah biasa
berpuasa pada tanggal 10 Muharram.
Menurut orang-orang Yahudi itu, tanggal 10 Muharram bertepatan
dengan hari ketika Nabi Musa dan
pengikutnya diselamatkan dari kejaran
bala tentara Firaun dengan melewati
Laut Merah, sementara Firaun dan
tentaranya tewas tenggelam. Mendengar hal ini, Nabi Muhammad
Saw mengatakan, "Kami lebih dekat
hubungannya dengan Musa daripada
kalian" dan langsung menyarankan
agar umat Islam berpuasa pada hari
'Asyura. Bahkan dalam sejumlah tradisi umat Islam, pada awalnya
berpuasa pada hari 'Asyura
diwajibkan. Kemudian, puasa bulan
Ramadhan-lah yang diwajibkan
sementara puasa pada hari 'Asyura
disunahkan. Dikisahkan bahwa Aisyah
mengatakan, "Ketika Rasullullah tiba di
Madinah, ia berpuasa pada hari
'Asyura dan memerintahkan umatnya
untuk berpuasa. Tapi ketika puasa
bulan Ramadhan menjadi puasa wajib, kewajiban berpuasa itu dibatasi pada
bulan Ramadhan saja dan
kewajiban puasa pada hari 'Asyura
dihilangkan. Umat Islam boleh
berpuasa pada hari itu jika dia mau
atau boleh juga tidak berpuasa, jika ia mau." Namun, Rasulullah Saw biasa
berpuasa pada hari 'Asyura bahkan
setelah melaksanakan puasa wajib di
bulan Ramadhan. Abdullah Ibn Mas'ud mengatakan,
"Nabi Muhammad lebih memilih
berpuasa pada hari 'Asyura
dibandingkan hari lainnya dan lebih
memilih berpuasa Ramadhan
dibandingkan puasa 'Asyura." (HR Bukhari dan Muslim). Pendek kata,
disebutkan dalam sejumlah hadist
bahwa puasa di hari 'Asyura
hukumnya sunnah. Beberapa hadits menyarankan agar
puasa hari 'Asyura diikuti oleh puasa
satu hari sebelum atau sesudah puasa
hari 'Asyura. Alasannya, seperti
diungkapkan oleh Nabi Muhammad
Saw, orang Yahudi hanya berpuasa pada hari 'Asyura saja dan Rasulullah
ingin membedakan puasa umat Islam
dengan puasa orang Yahudi. Oleh
sebab itu ia menyarankan umat Islam berpuasa pada hari 'Asyura
ditambah puasa satu hari
sebelumnya atau satu hari
sesudahnya (tanggal 9 dan 10
Muharram atau tanggal 10 dan 11
Muharram). Selain berpuasa, umat Islam
disarankan untuk banyak bersedekah
dan menyediakan lebih banyak
makanan untuk keluarganya pada 10
Muharram. Tradisi ini memang tidak
disebutkan dalam hadist, namun ulama seperti Baihaqi dan Ibnu Hibban
menyatakan bahwa hal itu boleh
dilakukan.
Legenda dan Mitos Hari 'Asyura Meski demikian banyak legenda dari
salah pengertian yang terjadi di
kalangan umat Islam menyangkut hari
'Asyura, meskipun tidak ada sumber
otentiknya dalam Islam. Beberapa hal
yang masih menjadi keyakinan di kalangan umat Islam adalah legenda
bahwa pada hari'Asyura Nabi Adam
diciptakan, pada hari 'Asyura Nabi
Ibrahim dilahirkan, pada hari 'Asyura
Allah Swt menerima tobat Nabi
Ibrahim, pada hari 'Asyura Kiamat akan terjadi dan siapa yang mandi
pada
hari 'Asyura diyakini tidak akan mudah
terkena penyakit. Semua legenda itu
sama sekali tidak ada dasarnya dalam
Islam. Begitu juga dengan keyakinan bahwa disunnahkan bagi mereka
untuk menyiapkan makanan khusus
untuk hari 'Asyura. Sejumlah umat Islam mengaitkan
kesucian hari 'Asyura dengan
kematian cucu Nabi Muhmmad Saw,
Husain saat berperang melawan
tentara Suriah. Kematian Husain
memang salah satu peristiwa tragis dalam sejarah Islam. Namun kesucian
hari 'Asyura tidak bisa dikaitkan
dengan
peristiwa ini dengan alasan yang
sederhana bahwa kesucian hari
'Asyura sudah ditegakkan sejak zaman Nabi Muhammad Saw jauh
sebelum kelahiran Sayidina Husain.
Sebaliknya, adalah kemuliaan bagi
Husain yang kematiannya dalam
pertempuran itu bersamaan dengan
hari 'Asyura. Anggapan-anggapan yang salah
lainnya tentang bulan Muharram
adalah kepercayaan bahwa bulan
Muharram adalah bulan yang tidak
membawa keberuntungan, karena
Husain terbunuh pada bulan itu. Akibat adanya anggapan yang salah ini,
banyak umat Islam yang tidak
melaksanakan pernikahan pada bulan
Muharram dan melakukan upacara
khusus sebagai
tanda ikut berduka atas tewasnya Husain dalam peperangan di Karbala,
apalagi disertai dengan ritual
merobek-robek baju atau memukuli
dada sendiri. Nabi Muhammad sangat melarang
umatnya melakukan upacara duka
karena meninggalnya seseorang
dengan cara seperti itu, karena
tindakan itu adalah warisan orang-
orang pada zaman jahiliyah. Rasulullah bersabda, "Bukanlah
termasuk umatku yang memukuli
dadanya, merobek bajunya dan
menangis seperti orang-orang pada
zaman jahiliyah."
Bulan Pengampunan Dosa Bulan Muharram adalah bulan pertama
dalam sistem kalender Islam. Kata
Muharram artinya 'dilarang'. Sebelum
datangnya ajaran Islam, bulan
Muharram sudah dikenal sebagai bulan
suci dan pada bulan ini dilarang untuk melakukan hal-hal seperti peperangan
dan pertumpahan
darah. Seperti sudah disinggung di atas,
bahwa bulan Muharram banyak
memiliki keistimewaan. Khususnya
pada tanggal 10 Muharram. Beberapa
kemuliaan tanggal 10 Muharram
antara lain Allah Swt akan mengampuni dosa-dosa setahun
sebelumnya dan setahun ke depan.
(Tarmizi)