03/03/2021
3 Maret
A: Markus 8 : 31-36
(31) Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari. (32) Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia. (33) Maka berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia memarahi Petrus, kata-Nya: "Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia." (34) Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. (35) Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya. (36) Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya.
K : Perikop ini udah gak asing buat kita. Tafsir yang sederhana tentang perikop ini adalah syarat menjadi Murid Yesus adalah menyangkal diri, mengangkat dan memikul Salib; baru bisa mengikut Kristus. Syarat ini menjadi begitu bermakna, jika kita merenungkan “perbedaan” cara pandang Yesus dan Petrus dalam memandang Penolakan dan Penderitaan.
Bagi Petrus seorang Mesias harus menjadi pemimpin politis dan membawa perubahan bagi bangsa Yahudi yang sedang dikuasai oleh Bangsa Romawi. Akan tetapi bagi Yesus, penolakan dan penderitaan-Nya adalah karena Ia harus melakukan apa yang Allah kehendaki bagi hidup-Nya.
Dua perbedaan paradigma ini juga selalu hadir dalam keseharian kita yaitu memuaskan keinginan kita sendiri atau memaknai arti kehadiran kita di dunia dalam kerangka Kehendak Allah. Kita seringkali berhadapan dengan bermacam-macam situasi yang membuat kita harus memilih untuk memuaskan hasrat kita (kekayaan, harga diri, kekuasaan,dll) atau memilih untuk memaknai arti kehadiran kita dalam terang Kehendak Allah.
Kalau kita masih menomorsatukan diri dan hasrat kita, agak sulit rasanya untuk melakukan Kehendak Allah dalam kehidupan kita masing-masing.
Sebagai contoh : lebih sulit mana: mengampuni atau membenci karena harga diri yang terusik? Lebih sulit mana: menghargai perbedaan dalam keluarga atau menomorsatukan pendapat kita sendiri? Lebih sulit mana: berbagi dari apa yang kita miliki atau membelanjakan uang untuk keinginan kita sendiri?
Satu hal lagi, ayat 35-36 juga memberi makna yang mendalam bagi perbedaan ini, dimana kata kehilangan nyawa (dalam bahasa aslinya bisa berarti destroy atau hancur) mempunyai makna bahwa ketika kita memusatkan hidup untuk memenuhi hasrat diri sendiri, pada saat yang sama kita kehilangan nyawa (atau hal utama) dalam kehidupan kita; yaitu Hidup yang sesuai dengan Kehendak Allah.
A : Melalui perikop hari ini kita diajak untuk memaknai lagi hidup kita sebagai Murid Yesus, yaitu hidup yang menolak hasrat dan keinginan diri sendiri dan memikul Salib yang berat itu untuk berjalan dalam Terang Kehendak Allah. Melakukan apa yang Allah Kehendaki merupakan Salib yang sangat tidak mudah tapi itulah yang harus kita lakukan dalam kehidupan kita.
R : Ya Bapa mampukan kami untuk memaknai dan melakukan Kehendak-Mu layaknya Yesus yang telah setia untuk melakukannya walaupun harus menderita dan ditolak oleh banyak orang. Kiranya Roh Kudus terus mengingatkan dan memampukan Kami. Amin