14/02/2018
Komunikasi adalah koentji...
Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa lepas dari interaksi dengan orang lain, baik secara individu maupun berkelompok untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Untuk itu perlu membina hubungan dan membangun komunikasi yang baik dengan orang lain.
Demikian halnya dengan pemimpin, kemampuan dalam membangun komunikasi yang baik serta efektif mutlak diperlukan, bukan saja dengan anggota tim dalam organisasi yang dipimpinnya akan tetapi juga dengan semua pihak di luar organisasinya.
Sebenarnya teknik komunikasi sudah dikenal oleh sejak berabad abad yang lalu. Pada masa prasejarah, manusia berkomunikasi dengan suara, dengungan dan isyarat tangan sebagai simbol. Selanjutnya seiring semakin berkembangnya peradaban manusia semakin sempurna bentuk dan cara berkomunikasi untuk menyampaikan ide atau maksudnya kepada orang lain. Hingga sekarang teknik dan media komunikasi sudah semakin beragam dan canggih.
Inti dari komunikasi sejatinya adalah menyampaikan serta menerima apa yang disampaikan dengan baik.
Bagaimana seorang pemimpin dapat memiliki kemampuan berkomunikasi yang efektif?
Agar memiliki kemampuan berkomunikasi yang efektif, ada 5 hal dasar yang perlu dimiliki seorang pemimpin, diantaranya adalah:
1. Positif Thinking
Hubungan dalam tim yang dibangun berdasarkan kepercayaan dan saling menghormati tentunya akan menghasilkan suasana yang kondusif yang akan memberikan pengaruh positif terhadap kinerja tim secara keseluruhan. Seorang pemimpin wajib menanamkan serta menunjukkan rasa kepercayaan terhadap anggota tim dan selalu berpikiran positif, hindari prasangka buruk untuk kemajuan bersama. Tentu saja kepercayaan yang diberikan kepada anggota tim adalah kepercayaan yang bertanggung jawab. Semua anggota tim harus bisa menerima pesan ini dengan baik.
2. Menjadi Pendengar Yang Baik
Allah memberikan nikmat berupa indera pendengaran untuk dimanfaatkan dengan sebaik baiknya. Bagi seorang pemimpin, menjadi pendengar yang baik adalah bersabar untuk mendengarkan ketika orang lain berbicara, termasuk anggota timnya, tidak memotong pembicaraan serta berusaha menangkap maksud dari orang yang berbicara. Berusahalah mencerna apa yang dibicarakan oleh orang lain, mengajukan pertanyaan yang bersifat menggali tanpa bertujuan menggurui dan mendapatkan kesimp**an mengenai siapa, mengapa, apa, di mana, bagaimana, kapan.
3. Menahan Bicara
Siapa yang tak kenal Nelson Mandela, seorang pemimpin kharismatik yang disegani. Beliau merupakan salah satu tokoh yang sangat berpengaruh di dunia. Dan ternyata beliau belajar bagaimana menjadi pembicara yang handal dari sang ayah yang adalah seorang kepala suku. Nelson Mandela kecil sering kali ikut ayahnya dalam rapat antar suku. Dalam forum sang ayah selalu menjadi “orang terakhir “yang berbicara setelah semua orang dalam forum berbicara mengeluarkan pendapat. Sebagai pemimpin, sering kali “tergoda” untuk menjadi yang pertama berbicara, kemudian isi pembicaraannya menjadi titah. Padahal belum tentu apa yang disampaikan adalah merupakan penyelesaian yang paling tepat.
Dengan menahan bicara atau menjadi yang terakhir berbicara, beberapa keuntungan didapat, diantaranya memahami situasi, mendapat pandangan dan mengumpulkan ide ide dari orang- orang lain di dalam forum yang telah terlebih dahulu berbicara, memiliki lebih banyak waktu untuk berfikir, melakukan pertimbangan sehingga akhirnya kualitas pembicaraannya menjadi lebih baik.
4. Memupuk Empati
Empati adalah menempatkan diri terhadap situasi yang dihadapi orang lain, atau memahami kondisi orang lain serta memberikan respon yang tepat. Empati bisa juga dipahami sebagai kemampuan menerima umpan balik dan menyikapinya secara positif. Seorang pemimpin yang memiliki empati yang tinggi tentu akan lebih disukai tim nya daripada pemimpin yang bersifat otoriter dan tidak peduli akan kondisi yang dihadapi orang lain. Karena itu sikap empati ini mesti dipelihara untuk hubungan tim yang lebih baik. Empati terhadap lawan bicara membuat orang lain merasa dihargai sehingga hal serupa pun yang akan didapat oleh seorang pemimpin
5. Mengelola Emosi
Kemampuan mengelola emosi yang baik menunjukkan tingkat kecerdasan emosi seseorang. Tingkat keberhasilan seseorang bukan hanya ditentukan oleh faktor kecerdasan ilmiahnya saja melainkan ditunjang oleh kecerdasan emosi, bahkan menurut riset faktor kecerdasan emosi ini memegang peran terhadap kesuksesan hingga 85% sampai dengan 90 %.
Dengan kemampuan untuk mengenali, mengendalikan emosi diri memotivasi diri serta mengenali emosi orang lain akan memudahkan dalam membina hubungan sosial dengan orang lain. Seorang pemimpin harus memiliki kecerdasan emosi yang tinggi agar selain dapat membagun komunikasi yang baik juga akan memiliki tingkat kestabilan yang tinggi, mudah beradaptasi terhadap perubahan dan selalu termotivasi untuk mengembangkan diri dan organisasinya.
Pentingnya seorang pemimpin untuk memiliki kemampuan komunikasi yang baik dimaksudkan agar semua pesan, maksud dan tujuan orgainisasi atau tim dapat tersampaikan dengan jelas. Komunikasi yang baik dari seorang pemimpin juga akan menimbulkan rasa kepercayaan dari anggota tim terhadap kepemimpinannya serta memudahkan dalam mempengaruhi anggota tim untuk memberikan kontribusi yang maksimal.