Yayasan Al-Munir Hasanah Indonesia

Yayasan Al-Munir Hasanah Indonesia Bergerak di Bidang Sosial Kemasyarakatan, membantu kaum lemah/dhuafa,Bedah Musholla,Santunan Yatim/Fakir/Janda tua. Dll

16/08/2022

Aib Yang Tertutup

Ketika Nabi Musa 'alaihissalam dan Bani Israil berkumpul untuk melaksanakan shalat istisqo' (sholat yang dilaksanakan untuk meminta hujan ketika paceklik), dan merekapun shalat. Keanehan pun terjadi. Tidak ada setetespun hujan yang turun. Lalu Nabi Musa menanyakan hal itu kepada Allah.

Allah berfirman: "Wahai Musa aku tidak akan mengabulkan do'amu dan do'a orang-prang yang bersamamu. Karena di antara kalian ada seorang hamba yang bermaksiat padaku selama 40 tahun dan akupun mencegah turunnya hujan pada kalian"

Nabi Musa pun bertanya: "Lalu Ya Robb apa yang harus kami lakukan?"

Allah pun berfirman: "Keluarkan (usir) dia dari kalian!"

Nabi Musa pun berkata pada Bani Israil :
"Wahai Bani Israil! di antara kita ada seseorang yang bermaksiat pada Allah selama 40 tahun, hujan pun tak akan pernah turun sampai dia keluar dan pergi!"

Maka sadarlah hamba itu akan dirinya dan dia pun berkata dalam hatinya : "Yaa Robb hari ini aku berada di kalangan orang banyak, jika aku keluar maka aku akan merasa malu, dan tiada pilihan untukku hari ini kecuali bertaubat pada-Mu, ampunilah aku dan tutuplah aib aibku"

Dan tak berselang lama hujan pun turun, lalu Nabi Musa berkata : "Ya Robb, hujan telah turun dan tak ada satupun yang keluar di antara kita?"

Allah pun berfirman : "Wahai Musa, hujan aku turunkan sebab rasa senangku terhadap seorang hamba yang telah bertaubat setelah bermaksiat padaku selama 40 tahun.

Nabi Musa pun berkata : "Siapa dia Yaa Robb? Tunjukkanlah padaku agar aku bisa bergembira untuknya.

Allah pun menjawab: "Wahai Musa, dia bermaksiat pada-KU selama 40 tahun aku tutupi, dan hari ini dia bertaubat padaku lalu aku akan mempermalukan dia?

Sekian

22/06/2020

Filosofi Hidup ala Gus Baha : Hidup Itu Asal Tidak Maksiat dan Bermanfaat kepada Orang Banyak

Posisi apapun sama sekali bukan tujuan. Tidak menjadi apapun juga tidak masalah. Tidak dikenal orang juga tidak masalah. Tidak diakui keberadaannya juga tidak masalah. Tidak dihormati juga tidak masalah. Justru bisa bersembunyi dari perhatian banyak orang malah lebih leluasa dan santai.
Mendapatkan penghormatan bukan bukti kesuksesan. Menghormati belum tentu karena betul-betul memiliki rasa hormat. Bisa saja orang menghormati kita karena takut, karena diharuskan, karena mereka bekerja untuk kita, mereka butuh sama kita, atau supaya terlihat pantas saja.

Hidup gak usah dibuat sulit, gak usah “ruwet”.
Asal tidak maksiat, bisa menjadi pribadi yang menyenangkan dan bermanfaat bagi banyak orang, serta tidak mengusik hidup orang lain, itu sudah cukup.

01/06/2020

12 PENYAKIT BERUMAH TANGGA

Oleh : KHR. MOCH CHOLIL AS'AD

1. KUTILAN:
KURANG TAHU ILMU PERNIKAHAN.

Rumah tangga akan sukses jika dipandu dengan ilmu agama. Ilmu agama suami istri yang mumpuni akan diberi kebaikan dalam rumah tangganya. Rasul bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّين

Artinya: “Barangsiapa dikehendaki Allah kebaikan, maka akan dipahamkan ia dalam ilmu agama.”(HR. Bukhari)

2. KUTUAN:
KURANG TAHU ARAH DAN TUJUAN PERNIKAHAN.

Tujuan pernikahan Seperti dalam Surah Rum ayat 21, adalah supaya kita bisa hidup damai penuh ketenangan, saling jaga, saling melengkapi saling membahagiakan.

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu tenteram..(Ar-rum: 21)

3. KUSTA :
KURANG SABAR MERAIH CITA.

Naik tangga mesti dari tangga pertama dulu! Kebanyakan kita ingin langsung ingin langsung sampai ditangga puncak.

Tentu tidak mungkin! Maka sabarlah berproses dalam berumah tangga in syaa allah akan sampai p**a ketangga puncak akhirnya. Allah berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung.” (Aali ‘Imraan: 200)

4. KUDIS:
KURANG URUS DUIT SELALU HABIS.

Manajamen keuangan yang tidak cakap, tidak bisa menentukan skala prioritas, tidak bisa menahan diri untuk belanja yang tidak penting dan mengabaikan kebutuhan yang pokok dan jangka panjang, biasanya karena sipat boros maka rumah tangga akhirnya akan oleng.

Maka cakap lah dalam mengelola uang,dan tidak boros. In syaa allah kelarga akan damai dan mapan. Allah swt berfirman:

وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’: 26-27).

5. KANGKER:
KANTONG KERING

Karena boros, karena malas, karena tidak mau belajar untuk cerdas akhirnya kita miskin. Maka keadaan miskin akan banyak bisikan setan, banyak percekcokan, sering terjadi pertikaian dan lain sebagainya.

Maka banyaklah belajar, jangan boros dan bekerja keraslah in syaa allah kita akan terbebas dari kemiskinan yang sangat menyesakan:
Rasulullah saw bersabda:

كادَ الفَقْرُ أنْ يَكُوْنَ كُفْرًا

“Hampir-hampir kefakiran (kemiskinan) itu menjadi kekafiran”
( Imam al-Baihaqi dalam kitab “Syu’abul Iman” (no. 6612)

6. SEMBELIT:
SEDEKAH DAN MEMBERI SANGAT SULIT.

Jika seluruh anggota keluarga pelit maka rizki akan sulit.

Jikapun ada keluarga yang pelit tapi rizki terus melangit pasti itu istidraj. Pelit membuat semua urusan rumah tangga akan rumit.

Tapi jika dermawan semua urusan rumah tangga akan penuh kebaikan dankeberkahan.
Rosululloh bersabda:

مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ – وَلاَ يَقْبَلُ اللَّهُ إِلاَّ الطَّيِّبَ – فَإِنَّ اللَّهَ يَتَقَبَّلُهَا بِيَمِيْنِهِ، ثُمَّ يُرَبِّيْهَا لِصَاحِبِهِاَ كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ أَوْ فَصِيْلَهُ، حَتَّى تَكُوْنَ مِثْلَ الْجَبَلِ

“Barangsiapa bersedekah dengan sebutir kurma dari hasil usaha yang baik -dan Alloh tidak akan menerima kecuali yang baik- maka Alloh akan menerima dengan tangan kanan-Nya, lalu mengembangkan untuk pemiliknya (yang berinfak) sebagaimana salah seorang kalian mengembang biakkan anak kuda atau anak untanya, sampai harta itu menjadi sepenuh bukit”. (HR. Bukhori)

7. MERIANG:
“MENENGOK” ISTRI ATAU SUAMI JARANG

Salahsatu hak pasangan yang jadi kewajiban bagi pasangan lainnya yang mesti ditunai oleh masing-masing pasangan adalah kebutuhan badaniyah.
Maka jika hal ini diabaikan akan menjadi celah keretakan. Makanya Allah memerintahkan dalam Al-Qur’an:

فَإِذَا تَطَهَّرۡنَ فَأۡتُوهُنَّ مِنۡ حَيۡثُ أَمَرَكُمُ ٱللَّهُۚ

“..Apabila mereka (istri) telah bersuci (mandi besar) maka “datangilah” mereka itu (istri) di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu..” (QS Al-Baqarah: 222)

8. TIPES:
TIDAK PEDULI PERASAAN.

Tidak saling pengertian dan tidak peduli perasan masing-masing pasangan akan membuat pasangan saling menyakiti dan tersakiti.
Rasulullah Saw bersabda:

خيركم خيركم لأهله وأنا خيركم لأهلي

“Orang terbaik diantara kamu adalah yang terbaik dalam hal memperlakukan keluarganya, dan aku adalah yang terbaik dalam memperlakukan keluarga.” (HR Ibnu Majah)

9. MALARIA:
MENCARI LAIN PRIA/MENCARI LAIN WANITA.

Penyakit berumah tangga lainnya adalah sifat bosan kepada pasangan. Baik bosan kepada fisiknya, sikapnya dan kebersamaannya. Maka jika tidak bisa menundukan rasa bosan itu.

Akhirnya ada yg sampai berbuat selingkuh dg mencerai atau menggugat cerai. Yang sedang berfikir untuk cerai Takutlah sabda nabi saw:

أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا طَلاقًا فِيغَيْرِ مَا بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّة

“Siapa saja wanita yang meminta (menuntut) cerai kepada suaminya tanpa alasan yang dibenarkan maka diharamkan bau surga atas wanita tersebut.” (HR. Abu Dawud)

10. KURAP:
KURANG RAPIH.

Banyak istri dan suami tergoda kepada selain pasangannya gara-gara suami dan istri dirumah tidak memperhatikan kerapihan, kebersihan, kepantasan dan keindahan.

Maka perbaikilah penampilan kita dengan tampil didepan pasangan kita dg tampilan terbaik. Rosul bersabda:

خَيْرُ النِّسَاءِ مَنْ تَسُرُّكَ إِذَا أَبْصَرْتَ، وَتُطِيْعُكَ إِذَا أَمَرْتَ، وَتَحْفَظُ غَيْبَتَكَ فِيْ نَفْسِهَا وَمَالِكَ

“Sebaik-baik isteri adalah yang menyenangkan jika engkau melihatnya, taat jika engkau menyuruhnya, serta menjaga dirinya dan hartamu di saat engkau pergi.” (HR. Thabrani)

11. MUAL:
MENGABAIKAN URUSAN HALAL.

Jika suami/ istri sudah ngaji, sudah umrah, sudah haji dsb tapi masih tetap bermasalah dirumah tangganya.

Maka periksalah kehalalan rizki keluarganya, karena rizki haram pembawaannya panas. Rasul bersabda:

َ لاَ يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحتٍ إلاَّ كَانَتِ النَّارُ أَولَى بِهِ

"Tidaklah daging manusia tumbuh dari barang yang haram kecuali neraka lebih utama atasnya. [HR. Tirmidzi]

12. JERAWAT:
JARANG BERDOA LEWAT SHALAT.

Jangan sepelekan doa supaya kebaikan berumah tangga. Karena doa adalah energi yg menghidupkan keluarga, doa adalah benteng yg melindungi keluarga, doa adalah embun yang akan menyejukan keluarga. Amalkanlah doa ma'tsur dari al-qur'an untuk kebaikan rumah tangga dibawah ini:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. Al Furqan: 74).

SEMOGA KITA DIJAUHKAN DARI 12 PENYAKIT RUMAH TANGGA DIATAS. DAN SEMOGA ALLAH SWT ANUGERAHI KITA DENGAN KELUARGA SAKINAH Aamiin. 🤲🤲🤲

Suatu waktu ada seseorang yang mengadukan masalahnya kepada Gus Dur: “Gus, mohon solusinya, saya sedang punya masalah be...
18/04/2020

Suatu waktu ada seseorang yang mengadukan masalahnya kepada Gus Dur: “Gus, mohon solusinya, saya sedang punya masalah besar. Usaha saya bangkrut, anak-anak butuh biaya untuk sekolah mereka dan istri saya akhirnya minta cerai.”
Gus Dur balik nanya: “Kira-kira bisa diatasi apa tidak?”

Dijawab: “Insya Allah bisa Gus!”

16/04/2020
TUHAN MENJAMIN RIZKIMUDulu aku pernah menulis ini :Ada sebuah kisah. Konon ada seorang yang tengah mengalami kesulitan d...
13/01/2020

TUHAN MENJAMIN RIZKIMU

Dulu aku pernah menulis ini :

Ada sebuah kisah. Konon ada seorang yang tengah mengalami kesulitan dalam urusan ekonomi. Telah lama sekali ia berada dalam kesusahan dan kepayahan karena hal itu. Lalu ia keluar dengan wajah tanpa gairah, seperti hampir putus asa. Dengan kaki telanjang dia menyusuri jalan dan memasuki padang pasir yang maha luas. Di sana dia melihat puing-puing istana yang sudah hancur. Semula istana itu tertimbun debu pasir, lalu angin kencang menerbangkannya sehingga tersingkap. Tiba-tiba ia menemukan di dalamnya sebuah prasasti di tembok berupa puisi-puisi yang indah :

لما رأيتك جالساً مستقبلاً ...
أيقنت أنك للهموم قرين

مالا يقدر لا يكون بحيلة ...
أبداً وما هو كائن سيكون

سيكون ما هو كائن في وقته ...
وأخو الجهالة متعب محزون

يجرى الحريص ولا ينال بحرصه ...
شيئاً ويحظى عاجز ومهين

فدع الهموم وتعر من أثوابها ..
أن كان عندك بالقضاء يقين

هون عليك وكن بربك واثقاً ...
فأخو الحقيقة شأنه التهوين

طرح الأذى عن نفسه في رزقه
لما تيقن أنه مضمون

Manakala aku melihatmu duduk menghadap kiblat
Aku lihat kau sedang ditemani kegelisahan

Apa yang telah ditetapkan
Tak bisa direkayasa

Apa yang ditetapkan ada, ia akan ada
Apa yang akan ada niscaya ada pada saatnya
Teman kebodohan itu selalu melelahkan dan menderitakan

Ada orang yang berlelah-lelah mencari Rizki
Tetapi ia tak memeroleh apapun
Ada orang yang tak berdaya dan tersisihkan
Tetapi ia memeroleh keberuntungan

Tinggalkan gelisah hatimu
Lepaskan bajunya
Jika kau yakin pada ketetapan Tuhan

Janganlah gelisah
Percayakanlah kepada Tuhanmu
Orang yang tahu hakikat
akan senantiasa tenang
Ia membuang segala duka
dalam urusan rizki
Karena ia yakin bahwa Tuhan menjaminnya

HM

09/01/2020

NABI TAK PERNAH MENCACI-MAKI

(Kenangan, tahun lalu)

Para sahabat Nabi saw. Memberikan kesaksian bahwa Nabi Muhammad Saw, adalah manusia yang tidak pernah berkata-kata buruk, apalagi mengutuk atau mencaci-maki orang lain:

لَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَاحِشًا وَلاَ لَعَّاناً ولا سباباً

“Nabi saw. bukanlah orang yang biasa mengucapkan kata-kata jorok, bukan pengutuk dan bukan p**a tukang cacimaki,” [HR. Muslim dari Anas].

Sahabat Abu Hurairah pernah meminta kepada Nabi agar mendoakan kecelakaan, keburukan atau kesengsaraan bagi orang-orang musyrik. Nabi Saw, mengatakan :

إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا ، وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً (رواه مسلم . حديث رقم 2599)
“Aku tidak diutus Tuhan untuk mengutuk orang. Aku diutus hanya untuk menyebarkan kasih sayang”. (HR. Muslim).

Tuhan telah memberikan pernyataan yang menegaskan tentang kasih sayang dan kelembutan pribadi Nabi saw. yang agung tersebut. Allah mengatakan:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ .

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya,” [QS. Ãli Imrân (3): 159].

Pernyataan Tuhan di atas menunjukkan dengan sangat jelas bahwa Nabi kaum muslimin: Muhammad saw. adalah orang yang berhati lembut dan tidak berlaku kasar terhadap orang lain, termasuk terhadap mereka yang menolak agamanya. Tuhan bahkan menegaskan bahwa penyebaran agama (dakwah) dengan cara-cara kekerasan justru bukan hanya akan gagal tetapi juga membuat orang lari dan menimbulkan kebencian masyarakat. Tuhan bahkan menyuruh Nabi saw. agar memaafkan mereka yang bertindak kasar terhadapnya. Perbedaan pandangan dalam masyarakat atas suatu masalah, menurut ayat tersebut tidak diselesaikan dengan cara-cara kekerasan, melainkan dengan jalan musyawarah dan dialog.

Pada ayat yang lain Tuhan menyatakan:

وَلَا تَسْتَوِى الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَة. إِدْفَعْ بِالَّتِى هِىَ أَحْسَنُ. فَإِذَا الَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ.

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan dia ada permusuhan seolah-olah menjadi teman yang sangat setia,” [QS. Fushshilat (41): 34].

Sebaliknya dakwah dengan cara menyakiti atau melukai hati orang-orang beriman adalah sebuah dosa besar. Al-Qur`an menyatakan:

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا.

“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti hati orang-orang yang beriman baik laki-laki maupun perempuan, maka dia benar-benar telah melakukan kedustaan dan dosa yang nyata,” [QS. al-Ahzâb (33): 58].

Aisyah bint Abi Bakr, isteri Nabi mengatakan : “bila Nabi mendengar orang lain, tokoh atau pemimpin yang bertindak kasar, atau kekeliruan, dan ingin menegurnya, atau memperbaikinya, beliau tidak menyebutkan namanya. Beliau hanya bilang :
ما بال قوم يفعلون كذا وكذا
ما بال قوم يشترطون هذا وهذا

“Maa Baalu Qawmin yaf’aluna kadza wa kadza”, “Maa Baalu al-Naas Yasytarithuna hadza wa hadza”. (Ada suatu kaum atau ada seseorang yang bertindak begini atau begitu/Ada orang-orang yang mensyaratkan ini dan itu). Ini dilakukan untuk tidak mempermalukannya di depan publik. Tujuan utamanya adalah memperbaiki perbuatannya, bukan menyakiti orangnya).

09.01.20
BUYA HUSEIN MUHAMMAD

Istighfar merupakan salah satu sebab adanya cahaya hati. Ia juga diantara wirid Rasulullah yang tak pernah beliau tingga...
03/01/2020

Istighfar merupakan salah satu sebab adanya cahaya hati. Ia juga diantara wirid Rasulullah yang tak pernah beliau tinggalkan. karenanya kamu selalu melihat Ahlullah (orang-orang salih) mengarahkan kita agar memiliki wirid harian.

Wirid harian pasti dimulai dengan bacaan Istighfar. Kitapun beristighfar 100 kali setiap hari pada waktu pagi dan sore. Nabi Bersabda: "Barangsiapa yang senantiasa membaca Istighfar, Allah pasti menjadikan di setiap kedukaannya kelapangan dan di setiap masalahhya jalan keluar.

○ Maulana Syaikh Ali Jum'ah

Renungan pagi:KEBAIKAN MENGHAPUS KEBURUKAN- Bersyukur menghapus kesedihan- Bersabar menghapus cobaan- Memandang anugerah...
15/06/2019

Renungan pagi:

KEBAIKAN MENGHAPUS KEBURUKAN

- Bersyukur menghapus kesedihan

- Bersabar menghapus cobaan

- Memandang anugerah menghapus ego dan klaim-klaim

- Cinta menghapus putus asa

- Sillaturrahim menghapus dendam

- Tombo ati iku limo sak wernane, katanya ditambah lagi senyum istri.

KHM Lukman Hakim

QANA'AH MEMBUAT HATIMU MERDEKAانت حر مما انت عنه ايس وعبد لما انت له طامع Kau merdeka dari segala yang tidak kau inginka...
16/05/2019

QANA'AH MEMBUAT HATIMU MERDEKA

انت حر مما انت عنه ايس وعبد لما انت له طامع
Kau merdeka dari segala yang tidak kau inginkan dan kau adalah budak dari segala yang kau inginkan. --Syekh Ibnu Atha'illah, Al-Hikam

Sahabatku, menurut Syekh Abdullah Asy-Syarqawi, ini merupakan dalil yang menunjukkan betapa buruknya ketamakan dan betapa terpujinya sikap qana'ah terhadap rezeki yang sudah dibagi oleh Allah.

Ketamakan pada sesuatu sama saja dengan penghambaan terhadap sesuatu itu. Sedangkan keengganan terhadap sesuatu adalah bentuk kebebasan dari hal itu.
Orang yang tamak akan menjadi budak, sedangkan orang yang enggan terhadap sesuatu akan menjadi orang yang merdeka. Maka tepat jika dikatakan, "Seorang budak akan merdeka selama ia merasa puas. Seorang yang merdeka akan menjadi budak selama dia tamak. Sifat qana'ah adalah sikap tenang saat hilangnya sesuatu yang biasa pada dirinya. Ini adalah awal langkah zuhud.

--Disarikan dari kitab Al-Hikam karya Syekh Ibnu Atha'illah, syarah Syekh Abdullah Asy-Syarqawi.

QANA'AH MEMBUAT HATI TENANG DAN DAMAI Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan: “Wahai saudaraku, mengertikah engkau apak...
06/05/2019

QANA'AH MEMBUAT HATI TENANG DAN DAMAI

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan:
“Wahai saudaraku, mengertikah engkau apakah yang dimaksud dengan qana'ah? Qana'ah adalah merasa puas atas pemberian yang sudah diterimanya. Puas dengan memperbanyak bersyukur dan menghindari sifat rakus. Itulah yang disebut qana'ah. Berhentinya keinginan terhadap ара yang sudah diberikan kepadamu, dan tidak ada lagi keinginan untuk memintah tambahan lagi, maka itulah sikap orang arif (ma'rifat).

Hendaknya engkau yakin bahwa qana'ah adalah sikap yang harus dimiliki oleh setiap muslim, sebab dengan qana'ah hatimu menjadi tenang. Bahkan sifat itu merupakan modal yang tak bisa habis dalarn kondisi ара pun.

Rasulullah Saw. bersabda: “Qana 'ah itu adalah harta yang tak akan hilang dan simpanan yang tak akan lenyap,” (HR. At Thabarani). Syaikh Abu Zakaria Al-Anshari berkata, "Qana'ah itu adalah merasa cukup dengan ара yang sudah diterima dan memenuhi kepentingannya, baik berupa makanan, minuman, pakaian atau yang lainnya. Sedangkan Abu Sulaiman Darani berkata, "Qana'ah adalah merupakan bagian dari ridha, dan wara' adalah merupakan bagian dari zuhud."

Ketahuilah bahwa sifat qana'ah merupakan sifat yang didambakan oleh kaum sufi. Karena dengan sifat itu, mereka berharap bisa terhindar dari bahaya hawa nafsunya. Di mana hawa nafsu itu selalu mengejar dan mendambakan kesenangan duniawi. Keinginan nafsu terhadap duniawi tidak akan pernah berhenti, bahkan membawa manusia menjadi sibuk dengan urusan duniawi yang tak berarti. Jika manusia telah tenggelam dalam kesibukan duniawi, maka ia cenderung lupa untuk mempersiapkan bekal buat kehidupan akhirat. Dan tentunya lupa p**a ia kepada Tuhan-Nya.

Wahai saudaraku, sifat qana'ah dapat mendidikmu untuk pandai bersyukur. Artinya, dengan sifat qana'ah itu engkau akan senantiasa mensyukuri kenikmatan Allah yang telah diberikan kepadamu. Jika manusia banyak bersyukur, tentu akan memiliki gairah dalam beribadah. Nabi Saw. bersabda: “Jadilah kamu orang yang wara' pasti kamu menjadi orang yang banyak beribadah, dan jadilah kamu orang yang qana 'ah pasti kamu menjadi orang yang banyak bersyukur.” (HR. Bukhari)

Abu Bakar Al-Maghribi berpendapat, "Orang yang berakal ialah yang dapat mengatur urusan dunianya dengan sikap qana'ah dan urusan akhirat dengan keinginan yang menggelora; urusan agamanya dengan ilmu dan ijtihad. Sedangkan, Muhammad bin Tirmidzi mengatakan, "Qana'ah adalah jiwa merasa lapang dengan rezeki yang diberikan Allah kepadanya dan menghilangkan rasa tamak terhadap yang tidak tercapai."

Wahai saudaraku, engkau tidak dilarang mencari rezeki. Juga tidak disuruh bermalas-malasan dan berpangku tangan. Namun ketahuilah bahwa Allah menyuruhmu berikhtiar, bekerja, karena manusia hidup di dunia ini untuk beribadah kepada Allah. Bekerja merupakan amal ibadah. Engkau harus yakin dalam bekerja ada kalah dan ada menang. Kalah dalam menghadapi rayuan dan menang dalam melawan ajakan setan. Karenanya, bekerjalah dengan tekun dan bersungguh-sungguh. Hati-hatilah terhadap tipu daya nafsumu dan tipu daya setanmu agar tidak terjerumus mengais rezeki haram.

Wahai saudaraku, Islam mengharapkan engkau menjadi manusia cerdas. Mampu menggunakan akal pikiranmu. Islam tidak ingin pemeluknya bodoh. Oleh karena itu jangan seperti orang awam yang menganggap ibadah hanyalah tepekur di masjid, shalat dan berzikir. Mereka menganggap Islam memundurkan akal pikiran manusia dalam bekerja. Padahal orang Islam harus cerdas dan harus bekerja, sebab bekerja merupakan ibadah. Islam tidak menyukai orang muslim menjadi pemalas.

Anggapan yang demikian itu salah besar, mereka menyangka bahwa yang disebut qana'ah itu adalah menerima ара saja yang ada, sehingga mereka tidak berusaha dan berikhtiar lagi, padahal agama menyuruh manusia agar bekerja keras mencari keutamaan Ilahi, agar bisa bersedekah, berinfak, bisa membangun masjid, membangun pondok-pondok pesantren, dan membangun majelis-majelis ta'lim dan lain-lain. agar umat Islam tidak terbelakang. Ingat sejarah perjuangan Nabi dan para sahabatnya, mereka berusaha dan bekerja mencari rezeki. Bahkan mereka bersifat dermawan terhadap sesamanya meskipun harta yang di dapatnya cukup bagi keluarganya saja. Wahai manusia, sesungguhnya agama menyuruh umatnya untuk qana'ah (qana'ah hati bukan qana'ah ikhtiar/ usaha).

Wahai saudaraku, makna qana'ah itu amat luas. Qana'ah menyuruh manusia agar benar-benar percaya terhadap 'kekuasaan' yang melebihi kekuasaan manusia. Qana'ah menyuruh manusia untuk bersabar menerima ketentuan Allah swt. Jika ketentuan itu tidak menyenangkan, maka Allah tetap menyuruhnya untuk menerimanya, karena itulah cobaan dari-Nya.

Dalam keadaan demikian, manusia masih tetap disuruh untuk berikhtiar dan berdaya upaya sekuat tenaganya. Selama nyawa dikandung badan, engkau wajib berusaha mencari rezeki. Engkau bekerja bukan berarti minta tambahan yang telah engkau terima, dan bukan berarti merasa tidak cukup dari ара yang telah engkau terima, melainkan engkau bekerja sebab masih hidup. Inilah yang dimaksudkan dengan qana'ah.

Jelaslah bagimu sekarang, bahwa orang-orang yang mengatakan bahwa sifat qana'ah dapat melemahkan hati dan pikiran, itu salah. Qana'ah merupakan modal yang tidak pernah hilang. Qana'ah bisa membangkitkan kesungguhan hidup. Qana'ah tidak mengenal takut dan gentar, tidak mengenal ragu dan bimbang.
Allah swt. berfirman: “Tiada sesuatu yang melata di bumi, melainkan di tangan Allahlah rezekinya.” (QS Hûd (11) : 6). Rasulullah Saw. bersabda: “Kekayaan itu bukan karena banyaknya harta benda, tapi kekayaan yang sebenarnya itu adalah kaya hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah Saw. juga bersabda: “Sungguh beruntung orang yang masuk Islam dan rezekinya cukup, dan merasa cukup dengan apa-apa yang diberikan Allah kepadanya.” (HR. Muslim)
Dalam riwayat lain diterangkan bahwa Hakim bin Hizam ra. berkata, "Aku memohon kepada Rasulullah. Kemudian beliau mengabulkan permohonanku (permintaanku). Lalu aku meminta lagi, beliau juga mengabulkannya. Kemudian beliau bersabda, "Wahai Hakim bin Hizam, harta memang indah dan manis, maka barangsiapa mengambilnya dengan lapang dada, maka ia mendapat berkah. Sebaliknya, barangsiapa menerimanya dengan kerakusan, maka harta itu tidak akan memberi berkah kepadanya; bagaikan orang makan yang tak pernah merasa kenyang. Tangan di atas itu lebih baik daripada tangan yang berada di bawah". Kemudian Hakim bin Hazim berkata: "Ya Rasulullah, demi Allah yang telah mengutus engkau dengan haq aku tidak akan menerima apapun dari seseorang sepeninggalmu sampai akhir hayatku."

Rasulullah SAW bersabda, “Tangan yang di atas itu lebih baik daripada tangan yang di bawah, dahulukanlah dalam bersedekah kepada orang-orang yang menjadi tanggunganmu, sebaik-baik sedekah itu adalah yang masih ada kekayaan. Dan barangsiapayang sopan, maka Allah akan memelihara kesopanannya. Dan barangsiapayang mencukupkan dengan kekayaannya yang ada maka Allah akan mencukupkannya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Wahai saudaraku, Islam mendidik umatnya untuk bersifat qana'ah dan tidak rakus, Islam menyuruh umatnya untuk maju, dengan kemajuan itu akan bisa memberikan sesuatu kepada sesamanya, bukan meminta-minta. Sebab tiada kekayaan yang dihasilkan tanpa disertai dengan ikhtiar atau usaha, tak menjadi orang yang berilmu bila ia tidak menuntut ilmu.

Perhatikanlah kisah Maryam, tatkala hendak melahirkan Nabi Isa a.s. di tengah-tengah padang pasir, dia diperintahkan oleh Allah untuk menggapai dahan pohon kurma agar buahnya tersebut jatuh. Kalau Allah menyuruh qana'ah dengan hanya menunggu tanpa berusaha tentunya Siti Maryam selamanya akan merasa haus dan lapar.

Allah swt.berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian disuruh untuk menunaikan pada hari Jum'at, maka segeralah kamu untuk mengingat Allah, dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah menunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu semua di atas bumi, dan carilah anugerah Allah sebanyak-banyaknya agar supaya kamu semua beruntung.” (QS. Al Jumu'ah (62) : 9-10).

Ketahuilah wahai saudaraku, bahwasanya Allah menyuruhmu untuk mencari harta sebanyak-banyaknya, dengan syarat harus dilakukan setelah shalat. Carilah kehidupan kembali sambil mengingat Allah sebanyak-banyaknya dalam melakukan segala pekerjaan agar kamu mendapatkan keberuntungan di dunia dan akhirat.”

--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Fath Ar-Rabbani

PUASA SYARIAT DAN PUASA TAREKAT Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, “Puasa syariat adalah menahan diri dari makan, min...
05/05/2019

PUASA SYARIAT DAN PUASA TAREKAT
Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, “Puasa syariat adalah menahan diri dari makan, minum, dan bersetubuh di siang hari. Sedangkan puasa tarekat adalah menahan seluruh anggota tubuh—secara lahir maupun batin, siang maupun malam—dari segala perbuatan yang diharamkan, yang dilarang dan sifat-sifat tercela, seperti ‘ujub, sombong, bakhil dan sebagainya. Semua itu dapat membatalkan puasa syariat. Puasa syariat terbatas waktu, sedang puasa tarekat selama hidup.
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صَوْمِهِ إِلَّا الْجُوْعُ وَالْعَطْشُ (رواه ابن ماجه)

Rasulullah SAW bersabda, “Betapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain hanya lapar dan dahaga.” (HR. Ibnu Majah)
Oleh karena itu ada p**a ungkapan, “Banyak yang berpuasa, tetapi berbuka. Banyak yang berbuka, tetapi berpuasa.” Artinya, orang yang perutnya tidak berpuasa, tetapi ia menjaga anggota tubuhnya dari perbuatan terlarang dan menyakiti orang lain.

كَمَا قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ الْحَدِيْثِ الْقُدْسِيِّ إِنَّ الصَّوْمَ لِيْ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ (رواه مسلم) وَقَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ الْحَدِيْثِ الْقُدْسِيِّ يَصِيْرُ لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ الْإِفْطَارِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ رُؤْيَةِ جَمَالِيْ

Sebagaimana firman Allah SWT dalam Hadis Qudsi, “Puasa itu untukku dan Akulah yang akan membalasnya.” (HR. Muslim). Allah juga berfirman dalam Hadis Qudsi, “Bagi orang yang berpuasa akan mendapat dua kebahagiaan. Pertama, yaitu ketika berbuka. Kedua, ketika melihat Allah.”
Menurut ahli syariat ialah yang dimaksud dengan berbuka adalah makan pada saat matahari tenggelam. Sedangkan, ru’yah yang mereka maksud adalah melihat hilal untuk menentukan jatuhnya hari raya Idul Fitri.
Adapun pengertian menurut ahli tarekat, berbuka (al-ifthâr) ialah kebahagiaan saat masuk surga, saat mencicipi semua kenikmatan surga. Semoga Allah SWT memberikannya kepada kita. Kedua, yang dimaksud dengan ru’yah (menurut ahli tarekat) ialah melihat Allah SWT secara nyata pada Hari Kiamat dengan pandangan sirri. Semoga dengan kemuliaan dan keutaman Allah SWT, Dia menganugerahkan kepada kita semua untuk bisa melihat-Nya.
Adapun puasa hakikat ialah menjaga hati dari mencintai selain Allah SWT dan menjaga rasa (sirri) agar tidak mencintai musyâhadah pada selain Allah SWT. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Hadis Qudsi, “Manusia adalah rahasia-Ku dan Aku rahasianya.”

اَلْإِنْسَانُ سِرِّيْ وَأَنَا سِرُّهُ

Sirr itu berasal dari cahaya Allah, sehingga tidak mungkin condong kepada selain Allah SWT. Baginya, di dunia ini maupun di akhirat, tidak ada yang dicintai, diingini, dan dicari selain Allah. Jika hati dan sirri terjatuh untuk mencintai selain Allah, maka batallah puasa hakikatnya dan ia harus melakukan qadha dengan kembali mencintai Allah SWT dan menemui-Nya. Pahala dari puasa hakikat ini adalah bertemu dengan Allah SWT. Sesuai firman Allah SWT dalam Hadis Qudsi, "Puasa itu untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya.” (HR. At-Tirmidzi)
اَلصَّوْمُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ (رواه الترمذي)

--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Sirrul Asrar.

Address

Jalan Pondok Pinang 6 Rt. 08 Rw. 02 Keb. Lama Jakarta Selatan
Jakarta
12310

Telephone

+6281553535252

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Yayasan Al-Munir Hasanah Indonesia posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share