08/06/2026
Kedurhakaan Rohani - Ketika Hati Mendua
Efraim, sebutan untuk kerajaan utara-Israel (terkadang disebut juga Samaria) seperti Malin Kundang anak yang durhaka kepada ibunya. Efraim, anak bungsu yang tak tau diri, walaupun sudah menerima 2 porsi berkat hak kesulungan. Dan dalam perjalanan sejarah Israel, suku Efraim kerap kali mencari masalah dan bergesekan dengan saudara suku lain. Hingga memberontak terhadap kerajaan Salomo, dan memisahkan diri dari Yehuda bersama sepuluh suku lainnya.
1. Kemenduaan Hati Kita, Kecemburuan-Nya
Saat Efraim mendua hati, bermain mata dengan sesembahan yang lain, yaitu Baal, membuat Tuhan menjadi cemburu (Hosea 13:1). Efraim berselingkuh dengan "suami" lain yaitu Baal. Dalam bahasa Ibrani, kata Baal ( בַּעַל ) selain mempunyai arti "Tuan/Pemilik" namun juga berarti "Suami". Dan anehnya, sampai hari ini orang Yahudi masih memakai kata "Baal" ( בַּעַל ) untuk sebutan suami, walaupun mereka memiliki kosakata lain, yaitu "Ish" ( אִישׁ ) untuk suami/lelaki. Mari tilik hati kita. Adakah kita telah menduakan Tuhan selama ini tanpa kita sadari?
> 1 Korintus 10:22: "Atau maukah kita membangkitkan cemburu Tuhan? Apakah kita lebih kuat dari pada Dia?"
2. Melupakan Dia, Kehilangan-Nya
Efraim begitu cepat melupakan Allah Israel, sekeluarnya dari Mesir. Ketika sudah menjadi makmur dan subur, lalu takabur. Ketika sudah merasa tinggi, lalu lupa diri. Penyelamatnya sudah tak di hati (Hosea 13:4-7). Tuhan merasa kehilangan akan mereka. Saat kita sudah di posisi bagus dan tinggi, apakah Dia masih ada di hati kita, atau sekedar pernah ingat nama-Nya di memori kita?
3. Keterikatan Kita, Kesusahan Hati-Nya
Efraim atau Israel sudah merasa nyaman dengan segala dosa pelanggaran mereka. Hosea 13 ayat 12 menyatakan bahwa Efraim terbungkus oleh dosa yang disimpan mereka. Frasa Ibraninya: Tzarur avon ( צָרוּר֙ עֲוֺ֣ן ) berarti terikat kejahatan/dosa dan Tzavuna hatato ( צְפוּנָ֖ה חַטָּאתֽוֹ ) yang berarti disembunyikan dosanya. Bahkan Efraim diumpamakan seperti bayi yang merasa nyaman dalam kandungan, tidak mau keluar walaupun sudah waktunya keluar, berarti Efraim merasa nyaman dalam dosanya, merasa tersembunyi dalam dosanya.
Jangan pernah merasa nyaman dalam dosa/pelanggaran kita!
4. Pemberontakan Kita, Kesedihan-Nya
Seperti Bapak yang menyayangi dan bahkan memanjakan anak bungsunya, namun malah akhirnya memberontak dan mendurhaka, yang tentu saja melukai hati bapaknya, demikian juga Efraim yang memberontak dan malah bersekutu dengan Asyur dan Mesir, seolah-olah Tuhan bukanlah satu-satunya Penolong mereka (Hosea 14:3).
Masihkah kita menganggap Tuhan sebagai satu-satunya Penolong kita, atau hanya sekedar object pelengkap saja yang kita letakkan di pojokan ketika kita sudah merasa mapan dengan segala pencapaian kita?
5. Kemabukan Kita, Percepatan Penghakiman-Nya
Dalam Kitab Yoel pasal 1 tentang penghukuman Tuhan, serbuan berbagai jenis belalang terhadap daerah Yehuda (Israel Selatan) bisa bermakna ganda, yaitu penghukuman Tuhan melalui perantaraan ribuan hewan belalang yang menyerang hasil bumi dan memusnahkannya, ataupun arti kiasan yang berarti serbuan pasukan musuh yang besar, yang membunuh banyak orang, dan menghancurkan Yerusalem. Hal ini karena umat Tuhan gagal dalam mendengarkan suara Tuhan, namun memilih melakukan keinginan sendiri yang bertentangan.
Kitab Yoel ini berbicara tentang teguran Tuhan terhadap kemabukan. Kemabukan di sini bukan sekedar kemabukan jasmani pada umumnya seperti halnya seorang pemabuk. Tetapi ini berbicara tentang "Kemabukan Rohani", maupun "Kemabukan Akan Hal-hal Rohani". Berhati-hatilah, kecenderungan kesukaan akan sesuatu yang bersifat rohani pun bisa menjadi berhala, yang juga bisa membuat Tuhan cemburu. Karena orang yang mabuk cenderung tidak aware, egois, dan self centre, walau kelihatannya rohani. Kemabukan akan hal rohani juga bisa membawa pada sifat gampang menghakimi orang lain. So, beware!
Blessing.
(SL)👑