31/01/2026
Sekali lagi : Kenabian, Tadzkirah, Imperialisme Inggris dan Jihad.
Tanggapan atas
Buku : Muslim Ahmadiyah dan Indonesia : 100 Tahun Keberagamaan & Kerja Kemanusiaan.
Ahmad Fuad Fanani menulis :
Kita memang bisa sangat tidak setuju dengan tiga ( ajaran) pokok Ahmadiyah yang menimbulkan kontroversi dari dulu hingga sekarang, yaitu Mirza Ghulam Ahmad yang dianggap sebagai Nabi, penggunaan kitab _Tadzkirah_ sebagai ajaran utama mereka, serta pemahaman Jihad yang mendukung imperialisme Inggris di negara-negara Islam. Namun, bukan berarti kita tidak boleh hidup toleran dengan mereka, dan ketidaksetujuan itu kemudian diwujudkan dengan tindakan kekerasan atau fatwa yang menganggap bahwa mereka " sesat " dan " menyesatkan ".
Mestinya, yang kita lakukan adalah mengkaji, meneliti, dan mempelajari aspek-aspek positif dari ajaran mereka guna memajukan peradaban umat. Misalnya, semangat keilmiahan mereka yang tinggi sehingga melahirkan sosok Abdus Salam yang memperoleh Nobel dan semangat filantropi mereka yang tinggi, sebetulnya bisa diteladani dan dikembangkan oleh umat Islam lainnya di seantero dunia guna memajukan peradaban Islam.
Bagian I, Sejarah, Spiritualitas, dan identitas Ahmadiyah.
Halan 51.
Tanggapan :
Kedudukan kenabian Mirza Ghulam Ahmad ( as) sesungguhnya tidak perlu dipersoalkan jika para ulama dan umat mengkaji pendapat Ibn Arabi seorang Sufi bergelar al-Syaikh al-Akbar dalam kitabnya Al-Futuhat Al-Makkiyyah yang menyebut kenabian ada dua jenis (1). Nunuwwah Tasyri' ( nabi yang membawa syariat) ; dan (2). Nubuwwah ghair Tasyri' ( nabi yang tidak membawa syariat).
Nah, dalam kedudukan _Nubuwwah ghair Tasyri_ ini lah yang disandang oleh Mirza Ghulam Ahmad ( as ), sebagaimana diyakini umat Islam kedatangan Nabi Isa as nanti tetap berkedudukan sebagai Nabi dan Rasul namun tidak membawa syariat baru, dan mengikuti syariat Nabi Muhammad saw.
Hal ini juga wajib dipercaya dalam keputusan Muktamar _Nahdlatul Ulama_ , bahwa Nabi Isa akhir Zaman datang tidak membawa syariat baru, dan mengikuti syariat Nabi Muhammad saw.
Mirza Ghulam Ahmad ( as ) menulis di buku Bahtera Nuh ( Seruan Keimanan) :
Aku mendengar ada sementara orang di antaramu yang sama sekali tidak menerima Hadis. Jika mereka berbuat demikian, mereka itu amat keliru. Aku tidak mengajarkan demikian, malahan pendirianku demikian : ada tiga hal yang Tuhan telah berikan kepadamu sebagai petunjuk. Yang pertama-tama adalah Al Quran, yang didalamnya diutarakan Ketahuidan, Kebesaran dan Keagungan Ilahi, juga didalamnya perselisihan-perselisihan yang ada di antara kaum Yahudi dan Kaun Nasrani diputuskan, seperti perselisihan dan kekeliruan mengenai terbunuhnya Isa Ibnu Maryam dengan perantaraan kayu salib dan menjadi seorang terkutuk; dan seperti nabi-nabi yang lain, beliau tidak diangkat ke langit. Begitu p**a di dalam Al Quran terdapat larangan untuk beribadah kepada sesuatu selain Tuhan: terlarang untuk menyembah manusia, hewan, matahari, bulan dan sesuatu planet lain; begitu p**a terlarang untuk memuja sarana-sarana duniawi dan dirimu sendiri.
Oleh karena itu, berhati-hatilah dan jangan lah melangkahkan kaki walau pun hanya selangkah tetapi bertentangan dengan ajaran Tuhan dan petunjuk Al-Quran. Aku berkata dengan sesungguh-sesungguhnya, bahwa barangsiapa mengabaikan suatu perintah sekecil-kecilnya di antara sejumlah tujuh ratus perintah Al-Quran, ia menutup pintu keselamatan bagi dirinya sendiri dengan tangannya sendiri. Jalan keselamatan yang sempurna dan hakiki dibuka oleh Al-Quran, sedang semua jalan lainnya adalah bayangannya.
Maka, bacalah Al-Quran dengan seksama dan hendaklah kamu sangat mencintainya, dan dengan demikian rupa cintanya sehingga kamu belum pernah mencintai sesuatu yang lain dari itu, karena sebagaimana Tuhan berfirman kepadaku : _alkhairu kulluhu fil Qur'an_ segala macam kebaikan terdapat di dalam Al-Quran.
Halaman 48-49 , Neratja Press, cetakan ke-5 Juli 2018.
Dukungan imperialisme Inggris perlu pengkajian lebih mendalam, bagaimana situasi politik atau kekuasaan pada masa Mirza Ghulam Ahmad ( as) masih hidup dan bagaimana sikap para ulama India yang hidup semasa Mirza Ghulam Ahmad (as). Ternyata ulama pada masa itu juga mempunyai fatwa yang sama, dilarang melakukan pemberontakan atau perlawanan secara fisik.
Kita tengok kebelakag sejarah Yesus as pun demikian. Walau beliau memiliki massa yang besar dan didukung sebagai Raja bagi bangsa Israel, namun dia menolak untuk memberontak kepada Romawi.
KH. Ahmad Dahlan pun demikian, alih-alih Jihad angkat senjata melawan penjajah, malah menjadi guru di sekolah kolonial Belanda.
Tadzkirah adalah sebuah buku yang dirangkum pada tahun 1935, yaitu di masa Khalifatul Ahmadiyah II, Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad r.a yang diterbitkan oleh Ta’lif wa Tasnif Jemaat Ahmadiyah Qadian, lembaga per cetakan dan penerbitan. Tadzkirah adalah catatan harian yang berisi himpunan wahyu, ilham-ilham, kasysyaf-kasysyaf, mimpi-mimpi dan rukya-rukya yang diterima oleh Mirza Ghulam Ahmad ( as) dari Allah Swt yang dikumpulkan dari berbagai buku, karangan, tulisan-tulisan dan selebaran-selebaran yang pernah beliau tulis di masa hayatnya, yang secara serial dan bertahap disusun oleh Maulana Muhammad Ismail, H.A; Syekh Abdul Qadir, Shd. dan Maulana Abdul Rasyidr.a., dan diterbitkan pertama kali pada 1935 , jadi 27 tahun kemudian setelah kewafatan Mirza Ghulam Ahmad ( as) pada 1908.
Seperti yang ditulis dalam buku Bahtera Nuh oleh Mirza Ghulam Ahmad ( as) dalam pesan kepada warga Jamaah Muslim Ahmadiyah rujukan utama mereka adalah Al-Quran dan Hadis , bukan Tadzkirah.
Di rumah-rumah seorang Ahmadi belum tentu ditemukan buku Tadzkirah, namun Al-Quran mereka pasti memiliki sebab itu sebagai rujukan dan ajaran utama kaum Muslim Ahmadi.
Jihad yang dilakukan Jamaah Muslim Ahmadiyah saat ini adalah angkat Pena, aksi Kemanusiaan Dan Sosial.
Depok, 31 Januari 2026
Darisman Broto