28/05/2026
Sahabat Alkitab, jika kita membaca berbagai tulisan mengenai surat Filipi, kita akan menemukan sejumlah paradoks – sesuatu yang berlawanan dengan pendapat umum. Bagaimana mungkin bersukacita dalam penderitaan? Bagaimana mungkin memberi dalam kekurangan? Bagaimana mungkin menghibur dalam kedukaan? Bagaimana mungkin peduli kepada persoalan orang lain dalam persoalan diri sendiri yang tidak kunjung usai?
Sahabat Alkitab jikalau kita perhatikan lebih lanjut bahwa surat kepada jemaat Filipi ini dikirimkan melalui Epafroditus. Ia diutus oleh Paulus untuk kembali ke Filipi setelah ia pulih dari sakitnya yang begitu parah, bahkan hampir mati (Fil. 2:25-28). Selayaknya dalam penjara, tentu saja Paulus juga mengalami berbagai pergumulan, keterbatasan, dan bahkan penderitaan. Kita bisa bandingkan saat Paulus di Filipi dan yang akhirnya dipenjarakan. Saat itu pakaiannya dikoyakkan, didera berulang-ulang, dan dipenjarakan dalam kondisi kaki terpasung (Kis. 16:22-24). Gambaran seperti ini tentu saja jauh berbeda dengan penjara saat ini.
Berkaca dari peristiwa itulah mengapa jemaat Filipi akhirnya mengirim Epafroditus untuk membantu Paulus dalam kesukarannya sekaligus menitipkan sejumlah uang yang akan sangat diperlukan oleh Paulus (Bdk. Fil. 2:25; 4:15-16; 18). Walau pemenjaraan di Filipi berbeda dengan pemenjaraan Paulus di Roma oleh karena di sana ia berada di tahanan rumah (Kis. 28:16, 30-31), kondisi Paulus tetap tidak mudah. Apalagi tradisi gereja meyakini bahwa Paulus akhirnya mati martir di Roma tidak terlalu lama setelah surat ini dikirimkan. Jadi, jika kita menarik situasi Paulus ini ke masa dimana kita berada, sangat sulit memahami Paulus akhirnya tetap bersyukur, bersukacita, dan tetap dikasihi dan dihormati.
untuk lebih lengkapnya tentang kitab Filipi dapat sahabat Alkitab baca dengan klik link dibawa ini https://play.google.com/store/books/details/Dr_I_Jin_Loh_Pedoman_Penafsiran_Alkitab?id=f-GaDwAAQBAJ&hl=id