GKMI Anugerah Rayon Kembangan

GKMI Anugerah Rayon Kembangan ELEGANT (Engaged, Loyal, Endurant, Grateful, Authentic, conteNT) We are a small yet dynamic Church which stands firm to the 5 Solas:

1.

Sola Scriptura ("by Scripture alone")

2. Sola Fide ("by Faith alone")

3. Sola Gratia ("by Grace alone")

4. Solus Christus or Solo Christo ("Christ alone" or "through Christ alone")

5. Soli Deo Gloria ("Glory to God alone")

Renungan Mezbah KeluargaSelasa, 2 Juni 2026Bacaan Alkitab: Ayub 5–7Perenungan: Ayub 6:14; 7:17–18=====================*“...
01/06/2026

Renungan Mezbah Keluarga
Selasa, 2 Juni 2026
Bacaan Alkitab: Ayub 5–7
Perenungan: Ayub 6:14; 7:17–18
=====================

*“Yang Dibutuhkan Orang Menderita Bukan Selalu Jawaban”*

Saudaraku...

Ketika seseorang sedang mengalami penderitaan, apa yang paling ia butuhkan? Apakah nasihat? Teori tentang penyakit ini atau itu?Penjelasan teologis? Ataukah ada seseorang yang mau duduk di sampingnya dan mendengarkan?

Nah, pasal 5–7 membawa kita masuk ke dalam percakapan yang sangat manusiawi. Elifas, sahabat Ayub, mulai memberikan penjelasan. Menurutnya, penderitaan tidak mungkin terjadi tanpa sebab. Kalau seseorang mengalami kesusahan besar, pasti ada sesuatu yang salah dalam hidupnya.

Sekilas terdengar masuk akal. Bukankah kita juga sering berpikir demikian?

Kalau seseorang sakit, mungkin kurang menjaga kesehatan. Kalau seseorang gagal, mungkin kurang bekerja keras. Kalau seseorang mengalami masalah, pasti ada kesalahan yang dibuatnya. Masalahnya, kehidupan tidak selalu sesederhana itu... Ferguso 😁

Kitab Ayub justru sedang membongkar cara berpikir yang terlalu sederhana tentang penderitaan. Tidak semua penderitaan adalah akibat dosa pribadi. Tidak semua kesulitan merupakan hukuman langsung dari Tuhan. Tidak semua air mata adalah tanda bahwa seseorang sedang dihukum Allah.

Dan seringkali ketika kita terlalu cepat memberi penjelasan, kita justru gagal memahami orang yang sedang terluka.

Ayub merasakan hal itu. Ia tidak membutuhkan teori baru. Ia tidak membutuhkan khotbah panjang. Ia sedang membutuhkan seorang sahabat.

Karena itu ia berkata:

_"Orang yang putus asa patut mendapat kasih setia dari sahabatnya..."_ (Ayub 6:14)

Kalimat ini manampar kita... Sebab Ayub tidak meminta solusi, ia tidak meminta penjelasan lengkap, ia hanya meminta kehadiran seorang teman.

Bukankah ini juga yang sering kita perlukan? Ada masa ketika hidup terasa berat. Dan yang paling menghibur bukan orang yang mampu menjelaskan semuanya. Melainkan orang yang mau hadir. Untuk apa?

Untuk mendengar... memahami...dan tidak menghakimi. Di sinilah kita belajar sesuatu yang penting tentang pelayanan kasih. Kadang kita terlalu cepat menjadi penasihat. Padahal yang dibutuhkan orang lain adalah "pendengar." Kita terlalu cepat ingin memberi jawaban. Padahal yang mereka perlukan adalah pelukan, doa, dan kehadiran.

Lalu pada pasal 7, Ayub mulai berbicara langsung kepada Tuhan.

Perhatikan baik-baik.. Ia tidak menyembunyikan perasaannya...ia tidak berpura-pura kuat...ia tidak memakai bahasa rohani yang dibuat-buat...ia mencurahkan isi hatinya dengan jujur. Dan Tuhan membiarkannya berbicara.

Ini menarik.

Karena seringkali kita berpikir doa harus selalu berisi kata-kata yang indah. Padahal kitab Ayub menunjukkan bahwa Tuhan juga sanggup menerima doa yang penuh air mata, pertanyaan, bahkan kebingungan. Tuhan tidak tersinggung oleh kejujuran anak-anak-Nya. Justru relasi yang sehat memungkinkan seseorang berbicara apa adanya.

Namun di tengah pergumulannya, Ayub mengucapkan satu pertanyaan yang mengejutkan:

_"Apakah manusia, sehingga Engkau menganggapnya penting?"_ (Ayub 7:17)

Saudara, biasanya kita mengenal ayat serupa dari Mazmur 8 sebagai pujian. Tetapi dari mulut Ayub, kalimat itu terdengar berbeda. Ia bertanya:

_"Tuhan, mengapa Engkau terus memperhatikan manusia?"_

_"Tuhan, mengapa hidup manusia begitu penting bagi-Mu?"_

Menariknya, walaupun Ayub sedang bergumul, jauh di dalam hatinya ia tetap sadar satu hal, bahwa Tuhan tidak pernah berhenti memperhatikan hidup manusia. Bahkan ketika ia tidak mengerti jalan Tuhan. Bahkan ketika ia merasa Tuhan diam. Bahkan ketika hidup terasa gelap.

Mungkin hari ini ada di antara kita yang sedang seperti Ayub, bukan sedang mencari jawaban besar. Ia hanya ingin dimengerti, hanya ingin didengar...hanya ingin tahu bahwa Tuhan masih peduli.

Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak selalu menjelaskan segala sesuatu dengan segera. Tetapi Tuhan tidak pernah berhenti memperhatikan anak-anak-Nya. Dan seringkali, kasih Tuhan hadir melalui orang-orang sederhana yang bersedia mendengar sebelum berbicara.

*Pertanyaan Refleksi*

1. Ketika melihat orang lain menderita, apakah saya lebih cepat memberi nasihat atau lebih dahulu belajar mendengarkan?

2. Apakah saya berani membawa isi hati saya yang sebenarnya kepada Tuhan, termasuk pertanyaan dan pergumulan yang belum terjawab?

*Mari kita berdoa:*

"Tuhan, ajari kami memiliki hati yang penuh belas kasih. Ketika orang lain terluka, tolong kami menjadi pendengar yang baik dan sahabat yang setia. Dan ketika kami sendiri sedang bergumul, berikan keberanian untuk datang kepada-Mu dengan jujur. Terima kasih karena Engkau tidak pernah berhenti memperhatikan hidup kami, bahkan di saat kami tidak mengerti jalan-Mu. Amin."

TAD – Ani

https://open.spotify.com/episode/4LaL0qNwEAEurZXcYI4e4r?si=gQ1DPZLlT_mHROK3LWA5ew

ARK Podcast · Episode

Renungan Mezbah KeluargaSenin, 1 Juni 2026Bacaan Alkitab: Ayub 1–4 Perenungan: Ayub 1:21; 2:10=====================*“Apa...
31/05/2026

Renungan Mezbah Keluarga
Senin, 1 Juni 2026
Bacaan Alkitab: Ayub 1–4 Perenungan: Ayub 1:21; 2:10
=====================

*“Apakah Ayub Hanya Korban?”*

Saudara...
Ketika membaca dua pasal pertama kitab Ayub, banyak orang merasa tidak nyaman.

Jujur saja... Adegan di surga itu terasa mengganggu. Allah kok berbicara dengan Iblis?Lalu nama Ayub muncul dalam percakapan.

Kemudian semua yang dimiliki Ayub mulai hilang satu demi satu.

Maka muncul pertanyaan kita..mengapa seolah-olah ada pertarungan antara Allah dan Setan yang melibatkan hidup Ayub?

Apakah Ayub hanya korban? Apakah Ayub sekadar pion dalam permainan yang lebih besar? Apakah Tuhan sedang "mempertaruhkan" hidup seorang manusia?

Pertanyaan2 spt itu tentu wajar. Tetapi menariknya, kitab Ayub tidak pernah memberikan jawaban dokmatis yang sederhana. Dan disinilah kita perlu dengan cermat memperhatikan...
Dalam percakapan itu, yang dipersoalkan Setan bukan kekayaan Ayub...bukan keluarganya..bukan kesehatannya. Yang dipersoalkan adalah *ketulusan iman Ayub.*

Setan berkata:

_"Apakah dengan tidak mendapat apa-apa Ayub takut akan Allah?"_ (Ayub 1:9)

Dalam bahasa sekarang:

_"Ayub itu mengasihi Tuhan sungguh-sungguh atau hanya karena hidupnya nyaman?"_

_"Kalau berkatnya dicabut, apakah dia masih percaya?"_

Ternyata inti kitab Ayub bukan soal penderitaan. Intinya adalah tentang *relasi* dengan Tuhan yang betul berakar dalam.

Apakah manusia mengasihi Tuhan karena Tuhan itu Tuhan? Ataukah karena Tuhan memberikan sesuatu (berkat)? Dengan kata lain, kitab Ayub sedang menguji sebuah pertanyaan yang sangat penting, yakni "apakah iman kita bergantung kepada Tuhan, atau kepada berkat Tuhan?"

Maka menurut saya, Ayub bukanlah korban. Ayub juga bukan kelinci percobaan. *Ayub adalah saksi.* Melalui hidupnya Tuhan sedang memperlihatkan bahwa ada manusia yang dapat tetap berpegang kepada-Nya bahkan ketika segala sesuatu hilang.

Dan itu berbeda sekali. Korban tidak memiliki makna. Tetapi saksi memiliki kesaksian.

Yang menarik, Ayub sendiri tidak pernah mengetahui percakapan yang terjadi di surga. Ia tidak tahu mengapa semuanya terjadi. Ia tidak tahu alasan di balik penderitaannya. Ia hanya mengalami kehilangan demi kehilangan... anak-anaknya meninggal...hartanya lenyap... tubuhnya sakit. Harga dirinya hancur.

Dan justru di sinilah kitab Ayub menjadi sangat dekat dengan kehidupan kita. Karena sebagian besar dari kita juga hidup seperti Ayub. Kita jarang mengetahui alasan di balik peristiwa-peristiwa yang kita alami.

Mengapa sakit itu datang? Mengapa usaha itu gagal? Mengapa orang yang kita kasihi pergi?Mengapa doa kita belum dijawab? Seringkali kita tidak tahu. Ayub juga tidak tahu.

Tetapi di tengah ketidaktahuan itu ia mengucapkan kalimat (iman) yang luar biasa:

_"TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN."_

Ayub tidak mengatakan kehilangan itu tidak menyakitkan... Oh..ia menangis...ia juga berkabung...ia bergumul. Namun ia menolak melepaskan Tuhan hanya karena hidupnya berubah.

Dan mungkin di situlah letak kedewasaan iman yang sesungguhnya. Bukan ketika kita mampu menjelaskan semua penderitaan. Tetapi ketika kita tetap mempercayai Tuhan meskipun belum mampu menjelaskan semuanya.

Mungkin saat ini ada bagian hidup yang tidak kita mengerti. Ada pertanyaan yang belum terjawab. Ada air mata yang belum kering. Firman Tuhan hari ini tidak mengajak kita berpura-pura kuat. Ayub sendiri tidak kuat. Tetapi satu hal yang tidak ia lepaskan adalah relasinya dengan Tuhan.

Karena pada akhirnya, iman bukanlah mengetahui semua jawaban. Iman adalah mempercayai Pribadi yang memegang seluruh jawaban.

*Pertanyaan Refleksi*

1. Apakah saya lebih mencintai berkat Tuhan, atau Tuhan yang memberi berkat?

2. Ketika saya tidak memahami apa yang sedang terjadi dalam hidup saya, apakah saya tetap mau berpegang kepada Tuhan?

*Mari kita berdoa:*

"Tuhan, seringkali kami ingin memahami semua alasan di balik setiap peristiwa dalam hidup kami. Namun hari ini kami belajar bahwa tidak semua misteri akan segera terbuka. Ajari kami untuk tetap percaya kepada-Mu ketika kami belum mengerti. Dan ketika kehilangan, sakit, atau pergumulan datang, jangan biarkan kami melepaskan tangan-Mu. Sebab Engkau tetap baik, bahkan ketika hidup tidak selalu mudah dipahami. Amin."

TAD – Ani

https://open.spotify.com/episode/0WwYowJUiNLDb2l0Qc6Kg5?si=fDNgBJL3SD6vQguu8rEFDw

ARK Podcast · Episode

Renungan Mezbah KeluargaMinggu, 31 Mei 2026Bacaan Alkitab: Ester 6–10Perenungan: Ester 6:1; 7:10; 9:1===================...
30/05/2026

Renungan Mezbah Keluarga
Minggu, 31 Mei 2026
Bacaan Alkitab: Ester 6–10
Perenungan: Ester 6:1; 7:10; 9:1
=====================

*“Jangan Menilai Cerita Sebelum Halamannya Selesai”*

(Sore hari. Leni sedang bekerja..membordir topi.. tiba-tiba ia teringat Murti, yang akhirnya akhir ini kok banyak diam.. lalu Leni lalu mengambil telepon dan menghubunginya.)

Murti:
Halo bu ada apa bu...

Leni:
Halo Murti. Lagi sibuk?

Murti:
Enggak sih. Lagi di rumah sama Julia...

Leni:
Masih rajin baca Alkitab?

Murti:
Hahaha... ini mau dimarahi dulu atau bagaimana bu? 😆

Leni:
Bukan dimarahi. Cuma ditanya. 😄

Murti:
Masih baca kok. Walau kadang ada bagian yang aku gak terlalu ngerti.

Leni:
Nah itu justru bagus. Yang penting dibaca terus. Kemarin aku ngobrol sama David soal kitab Ester. Dan aku dapat pelajaran yang bagus sekali.

Murti:
Apa tuh bu?

Leni:
Aku heran kenapa dalam kitab Ester nama Tuhan hampir tidak disebut. Tapi pak David bilang justru itu pesannya. Tuhan tidak terlihat, tetapi hadir di mana-mana.

Murti:
Hmm...gitu ya bu

Leni:
Dan hari ini aku lanjut baca Ester 6 sampai 10.
Malah makin terasa.

Murti:
Yang tentang Haman itu ya?

Leni:
Iya...Coba bayangkan.
Haman sudah begitu dekat dengan keberhasilannya. Tiang gantungan sudah dibuat.
Rencananya sudah hampir berhasil. Kelihatannya dia menang.

Murti:
Iya juga ya bu.

Leni:
Tapi semuanya berubah hanya karena satu malam. Satu malam raja tidak bisa tidur.
Dan aku jadi sadar sesuatu.
Kadang hidup kita juga begitu.

Murti:
Bagaimana bu?

Leni:
Kita sering menilai hidup terlalu cepat.

Murti:
Maksudnya?

Leni:
Baru ada masalah sedikit kita bilang:

_"Tuhan meninggalkan aku."_

Baru doa belum dijawab kita bilang:

_"Tuhan tidak bekerja."_

Baru keadaan tidak sesuai harapan kita merasa semuanya gagal.

Murti:
😶

Leni:
Padahal mungkin ceritanya belum selesai.
Kalau kitab Ester berhenti di pasal 5, kita akan mengira Haman menang.
Kalau berhenti di pasal 6 awal, kita belum tahu apa yang akan terjadi. Tapi karena kita bisa membaca sampai pasal terakhir, kita melihat Tuhan sedang bekerja sepanjang waktu.

Murti:
Aku belum pernah memikirkan itu.

Leni:
Nah itu yang aku pelajari. Seringkali kita sedang hidup di "pasal 5" kehidupan kita. Masih banyak yang belum selesai..Masih banyak yang belum kita mengerti. Tapi kita sudah membuat kesimpulan.

Murti:
Hmm... jadi jangan buru-buru menghakimi keadaan ya bu.

Leni:
Betul. Karena Tuhan belum selesai menulis ceritanya. Makanya aku mau bilang sama kamu..terus baca Alkitab ya.. Jangan berhenti. Karena semakin kita membaca Firman, semakin kita belajar melihat hidup dari sudut pandang Tuhan.

Murti:
Terima kasih ya bu Leni.
Aku memang lagi banyak pikiran akhir-akhir ini.

Leni:
Aku tahu. Makanya jangan lihat hanya apa yang terjadi hari ini. Lihat juga siapa yang memegang hari esok.

Murti:
Amin. 😌

(Setelah telepon ditutup, Leni tersenyum. Ia teringat kembali kisah Ester. Memang benar, Tuhan tidak pernah muncul sebagai tokoh utama yang berbicara dari langit. Tetapi setiap halaman kitab itu dipenuhi jejak tangan-Nya. Dan bukankah hidup kita sering seperti itu? Kita tidak selalu melihat apa yang sedang Tuhan kerjakan. Namun bukan berarti Ia diam. Kadang Tuhan bekerja melalui satu percakapan...Satu pertemuan..Satu penundaan...Satu malam yang tidak bisa tidur. Dan ketika waktunya tiba, kita baru menyadari bahwa ternyata selama ini Tuhan tidak pernah meninggalkan kita.

*Pertanyaan Refleksi*

1. Adakah bagian hidup saya yang saat ini terasa belum selesai sehingga saya mulai meragukan penyertaan Tuhan?

2. Apakah saya bersedia mempercayai bahwa Tuhan tetap bekerja, bahkan ketika saya belum melihat hasilnya?

*Mari kita berdoa:*

"Tuhan, seringkali kami menilai hidup hanya dari apa yang sedang terjadi hari ini. Ampuni kami jika kami terlalu cepat menyimpulkan bahwa Engkau diam atau meninggalkan kami. Ajari kami untuk percaya bahwa Engkau tetap bekerja di balik layar kehidupan kami. Berikan kami iman untuk terus berjalan bersama-Mu sampai kami melihat penggenapan rencana-Mu yang indah. Amin."

TAD – Ani

https://open.spotify.com/episode/5lGmBashjDIvg60SW4FAce?si=svxLItuaR6yTnW4eTlS8Yg

ARK Podcast · Episode

Shalom, Keluarga ARK!Mari mempersiapkan diri untuk mengikuti Ibadah Minggu GKMI Anugerah Rayon Kembangan, yang akan dise...
30/05/2026

Shalom, Keluarga ARK!

Mari mempersiapkan diri untuk mengikuti Ibadah Minggu GKMI Anugerah Rayon Kembangan, yang akan diselenggarakan pada:

🗓️ Minggu, 31 Mei 2026
🕗 08.30 WIB
💡 Menjadi Injil yang Terlihat
📖 Markus 12:30-31; Matius 5:16
🗣Pdt. Yonathan Chandra

Ajak teman, sahabat, serta keluarga untuk mendapatkan berkat Firman Tuhan dan persekutuan bersama saudara seiman.
Tuhan Yesus memberkati.



_________________________
Dapatkan informasi lengkap dan terkini pelayanan GKMI ARK di https://linktr.ee/gkmiark

Renungan Mezbah KeluargaSabtu, 30 Mei 2026Bacaan Alkitab: Ester 1–5Perenungan: Ester 4:14=====================“Ketika Tu...
29/05/2026

Renungan Mezbah Keluarga
Sabtu, 30 Mei 2026
Bacaan Alkitab: Ester 1–5
Perenungan: Ester 4:14
=====================

“Ketika Tuhan Tidak Disebut, Tetapi Hadir di Mana-Mana”

(Pagi hari di akhir pekan..
David sedang nonton youtube di HP nya sambil menikmati kopi. Leni datang membawa sepiring singkomg rebus dan duduk di sebelahnya).

*Leni:*
pi.., aku mau tanya.

*David:*
Nah... biasanya kalau habis baca Alkitab pasti ada pertanyaan. 😄

*Leni:*
Iya d**g. Kalau nggak bertanya, kapan pintarnya..ntar kalah pinter ama Ahun dan Feni? 😆

*David:*
Hahahaha..

*Leni:*
Aku heran sama kitab Ester.

*David:*
Knapa..?

*Leni:*
Ini kitab menarik sekali.
Ada raja. Ada ratu. Ada intrik politik. Ada perebutan kekuasaan. Ada tokoh jahat. Ada tokoh baik. Kayak drama serial televisi. 😄

*David:*
Hahaha... iya juga ya mi.

*Leni:*
Tapi aku baru sadar sesuatu. Nama Tuhan hampir tidak disebut.

*David:*
Nah... Aku juga dulu pernah bingung soal itu.

*Leni:*
Iya kan? Biasanya kitab Alkitab bicara soal Tuhan terus. Ini kok Tuhan seperti tidak muncul. Tidak ada mujizat besar. Tidak ada nabi. Tidak ada suara dari langit. Tidak ada laut terbelah..Tapi tetap masuk Alkitab.
Kenapa ya?

*David:*
Karena justru itu pesannya.

*Leni:*
Maksudnya?

*David:*
Kadang Tuhan bekerja tanpa banyak suara.

*Leni:*
Hmm...sok tahu ah..😄

*David:*
Lho bener.. wong aku pernah tanya juga ke pak TAD kok..Coba lihat kisah Ester. Awalnya Wasti disingkirkan..Lalu Ester dipilih menjadi ratu...Mordekhai kebetulan mendengar rencana pembunuhan raja...Haman muncul. Lalu Ester berada di posisi yang bisa menolong bangsanya...Kalau dibaca satu-satu, semuanya seperti kebetulan.

*Leni:*
Iya ya...

*David:*
Tapi kalau dilihat utuh, tidak mungkin semua itu kebetulan. Ada tangan Tuhan yang sedang bekerja di balik layar.

*Leni:*
Oh... jadi Tuhan tidak terlihat, tetapi jejak-Nya ada di mana-mana? Aku jadi ingat hidup kita sendiri ya pi.. Kadang kita juga tidak melihat Tuhan secara langsung.

*David:*
Betul. Tidak ada suara dari langit yang memberi petunjuk. Tidak ada mujizat spektakuler setiap hari.

*Leni:*
Tapi kalau melihat ke belakang... aku bisa melihat banyak peristiwa yang ternyata Tuhan pakai.

*David:*
Sama..👍
Ada pertemuan dengan orang tertentu..Ada pekerjaan tertentu..Ada kegagalan tertentu. Waktu itu tidak mengerti. Tapi sekarang baru sadar Tuhan sedang membentuk jalan hidup.

*Leni:*
Berarti sebenarnya Tuhan sering bekerja diam-diam ya.

*David:*
Bahkan mungkin lebih sering daripada yang kita sadari.

*Leni:*
Aku s**a kalimat Mordekhai kepada Ester:

_"Siapa tahu, justru untuk saat seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu."_

*David:*
Itu salah satu ayat paling kuat dalam kitab Ester.

*Leni:*
Karena kadang kita bertanya:

_"Tuhan, kenapa aku ada di tempat ini?"_

_"Tuhan, kenapa aku mengalami ini?"_

*David:*
Padahal mungkin Tuhan sedang mempersiapkan sesuatu yang belum kita lihat.

*Leni:*
Jadi bukan semua hal harus langsung dimengerti ya?

*David:*
Tidak.
Kadang tugas kita bukan memahami semuanya. Tetapi mempercayai Tuhan yang sedang bekerja.

*Leni:*
Wah... makin dibaca, kitab Ester ternyata makin menarik ya.

*David:*
Karena kitab Ester mengajarkan satu hal yang sangat penting, bahwa walaupun Tuhan tidak selalu terlihat... bukan berarti Tuhan tidak hadir.

(Mereka lalu terdiam sejenak.. Di luar rumah, matahari pagi mulai meninggi. Dan Leni masuk bersiap untuk berangkat kerja. Catatan penting hari ini: kadang memang begitu cara Tuhan bekerja. Tidak selalu dengan mujizat yang menggemparkan.
Tidak selalu dengan jawaban yang langsung terlihat. Tetapi melalui rangkaian peristiwa biasa yang perlahan memperlihatkan bahwa Ia tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Karena Tuhan yang bekerja di balik layar tetaplah Tuhan yang memegang seluruh cerita kehidupan).

*Pertanyaan Refleksi*

1. Pernahkah saya melihat kembali perjalanan hidup saya dan menemukan jejak penyertaan Tuhan yang dulu tidak saya sadari?

2. Apakah saya tetap percaya kepada Tuhan ketika saya belum melihat apa yang sedang Ia kerjakan?

*Mari kita berdoa:*

"Tuhan, seringkali kami ingin melihat-Mu bekerja dengan cara yang besar dan jelas. Namun ajari kami untuk mengenali penyertaan-Mu dalam hal-hal sederhana dan peristiwa sehari-hari. Ketika kami tidak mengerti jalan-Mu, berikan kami iman untuk tetap percaya bahwa Engkau sedang bekerja demi kebaikan kami. Sebab Engkau adalah Tuhan yang tidak pernah meninggalkan anak-anak-Mu. Amin."

TAD – Ani

https://open.spotify.com/episode/0PjEh0ivRCvyq2f2wZMsX1?si=8CSeiTFiQBu-8OKUQN-L0A

ARK Podcast · Episode

Renungan Mezbah KeluargaJumat, 29 Mei 2026Bacaan Alkitab: Nehemia 12–13Perenungan: Nehemia 13:11; 13:22; 13:29–30=======...
28/05/2026

Renungan Mezbah Keluarga
Jumat, 29 Mei 2026
Bacaan Alkitab: Nehemia 12–13
Perenungan: Nehemia 13:11; 13:22; 13:29–30
=====================

*“Mengapa Kita Mudah Kembali Jatuh?”*

(Siang hari.. Ahun menjemput Feni di rumah. Mereka berencana makan siang di warung bu Tatik yang terkenal dengan swieke Purwodadinya. Di perjalanan, setelah melewati beberapa menit obrolan ringan, Ahun tiba-tiba bertanya.)

*Ahun:*
Fen, aku mau tanya sesuatu.

*Feni:*
Waduh... tanya apa Hun? 😄

*Ahun:*
Karena td pagi aku baca Alkitab jadi banyak mikir. 😂 Mengapa ya manusia gampang sekali berubah?
Maksudku... ke arah yang buruk.

*Feni:*
Maksudnya?

*Ahun:*
Lihat Nehemia 12 dan 13.
Aku heran. Pasal 12 itu indah sekali. Tembok Yerusalem selesai..Semua bers**acita...Pujian dinaikkan...Bangsa itu menyembah Tuhan.. Rasanya seperti kebangunan rohani besar.

*Feni:*
Iya. trus..?

*Ahun:*
Tapi baru masuk pasal 13... eh... mulai kacau lagi. Ada kompromi lagi. Ada pelanggaran lagi. Ada yang mulai mengabaikan Tuhan lagi. Aku baca sambil geleng-geleng kepala. 😅

*Feni:*
Hahaha... Jadi kesal sama bangsa Israel?

*Ahun:*
Iya..lah. 😆 Aku sampai berpikir:

_"Ini orang-orang baru kemarin dipulihkan lho!"_

*Feni:*
Bukankah kita juga sering begitu Hun?

*Ahun:*
😶

*Feni:*
Waktu retret Pasutri kita jadi semangat. Waktu kebaktian kebangunan rohani semangat..Waktu ada pergumulan rajin doa. Tapi setelah semuanya baik...eh... pelan-pelan kembali ke kebiasaan lama.

*Ahun:*
Aduh... kena juga ternyata. 😅

*Feni:*
Karena masalah manusia bukan kurang pengalaman rohani. Masalah manusia adalah hati yang mudah lupa.

*Ahun:*
Hmm... itu dalam sih.

*Feni:*
Bangsa Israel sebenarnya tidak kekurangan mujizat.
Tidak kekurangan firman. Tidak kekurangan pengalaman bersama Tuhan.

*Ahun:*
Betul juga ya.

*Feni:*
Tapi mereka tetap bisa jatuh. Karena hati manusia tidak berubah sekali untuk selamanya. Hati harus terus dijaga.

*Ahun:*
Jadi pertobatan itu bukan sekali jadi?

*Feni:*
Bukan..lah. Pertobatan itu arah hidup yang terus diperbarui.

*Ahun:*
Wah...aku akan catet itu.

*Feni:*
Makanya Nehemia tidak hanya membangun tembok. Dia juga terus membenahi kehidupan umat. Karena tembok bisa selesai dibangun. Tapi hati manusia harus terus dipelihara.

*Ahun:*
Jadi sebenarnya musuh terbesar kita bukan selalu dunia luar ya?

*Feni:*
Seringkali justru hati kita sendiri.

*Ahun:*
Yang mulai kendor sedikit... lalu kompromi sedikit... lalu menjauh sedikit...

*Feni:*
Ya..seperti itu. Dosa jarang datang dengan pintu depan sambil mengetuk. Biasanya masuk lewat celah kecil yang kita biarkan terbuka.

(Mobil berhenti di lampu merah.)

*Ahun:*
Aku jadi teringat sesuatu. Dulu aku pikir orang yang sudah lama ikut Tuhan pasti aman. Pasti tidak mudah jatuh.

*Feni:*
Padahal semakin lama ikut Tuhan, semakin kita perlu rendah hati.

*Ahun:*
Karena kita tetap manusia.

*Feni:*
Dan karena itu kita tetap membutuhkan kasih karunia Tuhan setiap hari. Bukan hanya waktu pertama kali percaya.

(Beberapa saat kemudian mereka tiba di tempat bu Tatik..Namun pertanyaan Ahun masih terngiang di pikirannya. Mengapa manusia mudah kembali jatuh? Karena hati manusia mudah lupa. Karena itu Tuhan tidak hanya mengundang kita datang kepada-Nya sekali. Ia mengundang kita datang setiap hari. Bukan karena kasih karunia-Nya kurang kuat. Tetapi karena hati kita perlu terus diperbarui oleh kasih karunia itu... setiap hari).

*Pertanyaan Refleksi*

1. Adakah area dalam hidup saya yang mulai longgar dan perlahan menjauh dari Tuhan?

2. Apakah saya masih memelihara kebiasaan-kebiasaan rohani yang menjaga hati saya tetap dekat dengan Tuhan?

*Mari kita berdoa:*

"Tuhan, kami mengaku bahwa hati kami sering mudah lupa dan mudah menyimpang. Terima kasih karena kasih karunia-Mu tidak pernah habis bagi kami. Tolong kami untuk terus menjaga hati kami, hidup dalam pertobatan yang nyata, dan tetap dekat dengan-Mu setiap hari. Jangan biarkan kami mengandalkan kekuatan sendiri, tetapi ajar kami bergantung kepada-Mu sampai akhir perjalanan hidup kami. Amin."

TAD – Ani

https://open.spotify.com/episode/6pzvUCd7shxYvAEPqeNNHu?si=c08t7H-7QKW8L9kpYRc7YA

ARK Podcast · Episode

Renungan Mezbah KeluargaKamis, 28 Mei 2026Bacaan Alkitab: Nehemia 10–11Perenungan: Nehemia 10:29; 10:39; 11:2===========...
27/05/2026

Renungan Mezbah Keluarga
Kamis, 28 Mei 2026
Bacaan Alkitab: Nehemia 10–11
Perenungan: Nehemia 10:29; 10:39; 11:2
=====================

*“Jangan Berhenti pada Air Mata”*

(Pagi hari. Amin sedang menikmati kopi sebelum berangkat kerja. Feni duduk di sebelahnya sambil membuka Alkitab yang semalam belum selesai dibacanya.)

*Feni:*
Min, kemarin Ahun telepon aku.

*Amin:*
Wah... ada kabar apa? 😄

*Feni:*
Dia cerita soal waktu baca Nehemia 8. Katanya tiba-tiba matanya berkaca-kaca dan hampir menangis. Terus dia tanya, pernah gak sih baca Firman atau dengar lagu rohani lalu air mata keluar sendiri.

*Amin:*
Oh... pertanyaan bagus itu.

*Feni:*
Aku bilang pernah. Kadang waktu Tuhan menyentuh hati, memang susah dijelaskan dengan kata-kata. Nah, aku jadi kepikiran terus sejak kemarin.

*Amin:*
Tentang apa?

*Feni:*
Tentang kenapa orang bisa menangis waktu dengar Firman Tuhan.

Amin:
Karena hati disentuh Tuhan. Tapi aku tadi sudah baca Nehemia 10. Dan aku melihat sesuatu yang menarik.

*Feni:*
Apa?

*Amin:*
Bangsa Israel tidak berhenti pada tangisan pasal 8.

*Feni:*
Maksudnya?

*Amin:*
Coba bayangkan. Pasal 8 mereka menangis. Pasal 9 mereka mengaku dosa. Tapi kalau berhenti di situ saja, hidup mereka tidak berubah.

*Feni:*
Hmm...

*Amin:*
Makanya pasal 10 penting sekali. Mereka membuat komitmen. Mereka mengambil keputusan. Mereka berjanji mau hidup berbeda.

*Feni:*
Wah iya ya...

*Amin:*
Kadang kita juga begitu. Habis retret terharu. Habis dengar khotbah KKR menangis... Tapi seminggu kemudian kembali seperti semula. 😅

*Feni:*
Hahaha...kayak kamu ya? 😆

Amin:
Haha.. km juga.. 😄 Menurutku emosi yang kuat tidak selalu menghasilkan perubahan lho..

*Feni:*
Nah ini menarik.

*Amin:*
Yang menghasilkan perubahan adalah keputusan. Komitmen!Kesediaan untuk melangkah.

*Feni:*
Jadi air mata itu awalnya ya?

*Amin:*
Persis. Air mata bisa membuka hati. Tapi keputusan mengubah arah hidup.

*Feni:*
Aku s**a kalimat itu.

*Amin:*
Lihat pasal 11 juga. Ada orang-orang yang bersedia tinggal di Yerusalem. Padahal itu bukan pilihan paling nyaman.

*Feni:*
Iya. Mereka harus mengambil tanggung jawab.

*Amin:*
Nah. Iman selalu akhirnya terlihat dalam keputusan. Bukan hanya perasaan.

*Feni:*
Jadi kalau aku terharu waktu dengar Firman Tuhan... aku harus bertanya:

_"Tuhan, sekarang aku harus melakukan apa?"_

Amin:
Ya..iyalah.. 😄 kita harus berani berkata:

_"Tuhan, aku mau berubah di bagian mana?"_

Feni:
Wah... kayaknya Ahun perlu dengar obrolan kita ini. 😂

*Amin:*
Tenang. Nanti pasti dia telepon lagi. 😆

(Pagi itu mereka berdua menyadari bahwa air mata rohani adalah anugerah yang indah. Namun Tuhan tidak memanggil umat-Nya hanya untuk tersentuh. Tuhan memanggil mereka untuk berubah. Karena tujuan Firman bukan sekadar membuat hati bergetar sesaat, melainkan membentuk kehidupan yang semakin serupa dengan kehendak-Nya. Dan itulah yang dilakukan bangsa Israel dalam Nehemia 10–11.)

*Pertanyaan Refleksi*

1. Kapan terakhir kali Firman Tuhan menyentuh hati saya? Perubahan apa yang lahir dari pengalaman itu?

2. Apakah saya hanya menikmati momen rohani yang mengharukan, atau sungguh mengambil keputusan untuk hidup lebih taat kepada Tuhan?

*Mari kita berdoa:*

"Tuhan, terima kasih untuk setiap kali Engkau menyentuh hati kami melalui Firman-Mu. Jangan biarkan kami berhenti pada rasa haru dan air mata saja. Berikan kami keberanian untuk mengambil komitmen dan langkah nyata dalam ketaatan kepada-Mu. Bentuklah hidup kami bukan hanya menjadi pendengar Firman, tetapi juga pelaku Firman. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin."

TAD – Ani

https://open.spotify.com/episode/7FI81t2ysR7itPpR66h9pt?si=EoQnB0W6ScCQm0NFWicZ_g

ARK Podcast · Episode

Renungan Mezbah KeluargaRabu, 27 Mei 2026Bacaan Alkitab: Nehemia 8–9Perenungan: Nehemia 8:9–10; 9:16–17=================...
26/05/2026

Renungan Mezbah Keluarga
Rabu, 27 Mei 2026
Bacaan Alkitab: Nehemia 8–9
Perenungan: Nehemia 8:9–10; 9:16–17
=====================

*“Mengapa Air Mata Itu Mengalir?”*

(Sore hari..Feni sedang bersih bersih rumah ketika teleponnya berdering. Ternyata Ahun yang menelepon.)

*Feni:*
Halo Hun... 😄

*Ahun:*
Halo Fen. Aku mau tanya sesuatu..d**g?

*Feni:*
Waduh... kalau nadanya serius begini biasanya pertanyaannya berat. 😆

*Ahun:*
Enggak berat kok.
Aku cuma mau tanya... Pernah gak sih kamu lagi baca Alkitab... atau dengar khotbah...atau bahkan dengar lagu rohani... terus tiba-tiba air mata keluar sendiri?

*Feni:*
😶..Pernah. Beberapa kali malah.

*Ahun:*
Nah kan! Aku kira cuma aku yang begitu.

*Feni:*
Memangnya habis nangis kenapa? 😄

*Ahun:*
Tadi pagi baca Nehemia 8. Terus entah kenapa pas baca bagian bangsa Israel menangis waktu Firman Tuhan dibacakan... aku jadi teringat beberapa pengalaman hidup. Tiba-tiba mataku basah. Padahal gak ada masalah apa-apa saat itu.

*Feni:*
Iya sih... Kadang bukan karena kita sedang sedih.

*Ahun:*
Nah itu..Aku juga bingung menjelaskannya.

*Feni:*
Menurutku ada saat-saat ketika Firman Tuhan menyentuh bagian hati yang paling dalam. Bagian yang bahkan mungkin selama ini tidak kita sadari.

*Ahun:*
Hmm... gitu ya..

*Feni:*
Coba lihat Nehemia 8. Bangsa Israel mendengar Taurat dibacakan. Mereka tidak sedang mendengar cerita baru kan?..Banyak dari mereka mungkin pernah mendengarnya. Tapi hari itu berbeda.

*Ahun:*
Karena firman itu masuk ke hati mereka?

*Feni:*
Iya..Tiba-tiba mereka melihat hidup mereka dengan lebih jelas. Mereka melihat kasih Tuhan...Mereka melihat kesetiaan Tuhan...Mereka juga melihat betapa sering mereka menjauh dari Tuhan. Dan hati mereka tersentuh.

*Ahun:*
Jadi air mata itu bukan selalu tanda kesedihan ya?

*Feni:*
Belum tentu...Kadang itu tanda hati yang terharu disentuh Tuhan.

*Ahun:*
Wah... aku s**a itu.

*Feni:*
Aku pernah mengalami waktu mendengar lagu lama di gereja. Lagu itu biasa saja.. Tapi hari itu pas Perjamuan Kudus.. tiba-tiba aku menangis.

*Ahun:*
Kenapa?

*Feni:*
Karena aku teringat bagaimana Tuhan memelihara keluargaku selama bertahun-tahun. Ada begitu banyak pertolongan dan pengorbanan Tuhan yang sudah aku lupakan. Hari itu seperti Tuhan mengingatkanku kembali.

*Ahun:*
Nah... mungkin itu yang terjadi sama bangsa Israel.

*Feni:*
Persis...Pasal 9 bahkan berisi mereka mengingat kembali perjalanan panjang bersama Tuhan. Tentang bagaimana Tuhan memimpin mereka...Memberi makan di padang gurun...Mengampuni ketika mereka memberontak...Tetap setia ketika mereka tidak setia.

*Ahun:*
Kalau dipikir-pikir ya... kadang kita menangis bukan karena hidup berat. Tapi karena sadar Tuhan terlalu baik kepada kita.

*Feni:*
Betul..Dan menariknya, Nehemia tidak membiarkan mereka berhenti di air mata.

*Ahun:*
Iya ya... dia bilang:

_"Jangan berdukacita, sebab s**acita karena TUHAN adalah perlindunganmu."_

*Feni:*
Karena tujuan Firman Tuhan bukan membuat kita tenggelam dalam rasa bersalah. Tapi membawa kita kembali kepada s**acita dalam Tuhan.

*Ahun:*
Wah... km kok makin pinter tho Fen..😄

*Feni:*
Ah.. biasa aja 😄

*Ahun:*
Kalau suatu hari aku menangis saat membaca Firman... belum tentu karena aku sedang lemah. Bisa jadi Tuhan sedang berbicara lebih dalam daripada yang bisa dijelaskan dengan kata-kata.

*Feni:*
Amin. 😄

(Setelah telepon ditutup, Ahun membuka kembali Alkitabnya. Ia membaca perlahan bagian yang tadi menyentuh hatinya. Dan ia mengerti bahwa tidak semua pekerjaan Tuhan terjadi melalui mujizat besar. Kadang Tuhan bekerja melalui satu ayat sederhana... satu lagu yang sudah sering didengar... atau satu kalimat khotbah...yang tiba-tiba membuat hati yang keras menjadi lembut dan mata menjadi basah. Karena ketika Firman Tuhan sungguh menyentuh hati manusia, seringkali air mata menjadi bahasa yang tidak mampu diucapkan oleh kata-kata).

*Pertanyaan Refleksi*

1. Kapan terakhir kali Firman Tuhan sungguh menyentuh hati saya, bukan hanya pikiran saya?

2. Apakah hati saya masih cukup lembut untuk mendengar suara Tuhan dan diubahkan oleh-Nya?

*Mari kita berdoa:*

"Tuhan, jangan biarkan hati kami menjadi keras dan terbiasa dengan Firman-Mu. Berikan kami hati yang peka untuk mendengar suara-Mu. Ketika Engkau berbicara melalui Firman, lagu, atau khotbah, biarlah kami tidak hanya memahami dengan pikiran, tetapi juga mengalami sentuhan kasih-Mu di dalam hati kami. Dan biarlah s**acita karena Engkau menjadi kekuatan dan perlindungan kami setiap hari. Amin."

TAD – Ani

https://open.spotify.com/episode/5tJCjpE8gWdGPYli4JMrd3?si=Q3OAz2PEQ7mypW-z2A0g5A

ARK Podcast · Episode

Address

Ruko Puri Sentra Niaga Blok T2. No. 10, 11, Jalan Puri Indah Raya No. 12A, RT. 1/RW. 2, South Kembangan, Kembangan, West Jakarta City
Jakarta
11610

Opening Hours

08:00 - 10:00

Telephone

+62215813489

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when GKMI Anugerah Rayon Kembangan posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to GKMI Anugerah Rayon Kembangan:

Share