GKMI Anugerah Rayon Kembangan

GKMI Anugerah Rayon Kembangan ELEGANT (Engaged, Loyal, Endurant, Grateful, Authentic, conteNT) We are a small yet dynamic Church which stands firm to the 5 Solas:

1.

Sola Scriptura ("by Scripture alone")

2. Sola Fide ("by Faith alone")

3. Sola Gratia ("by Grace alone")

4. Solus Christus or Solo Christo ("Christ alone" or "through Christ alone")

5. Soli Deo Gloria ("Glory to God alone")

03/08/2026
Renungan Mezbah KeluargaSelasa, 4 Agustus 2026Bacaan Alkitab: Yesaya 31–35Perenungan: Yesaya 32:17; 33:2; 35:3–4========...
03/08/2026

Renungan Mezbah Keluarga
Selasa, 4 Agustus 2026
Bacaan Alkitab: Yesaya 31–35
Perenungan: Yesaya 32:17; 33:2; 35:3–4
=====================

*“Kekuatan yang Memulihkan”*

Saudara....
Kalau melihat seorang tukang bangunan yang membangun rumah, kita sering memperhatikan saat ia mengangkat batu bata, mencampur semen, atau memasang atap. Dan untuk merenovasi rumah, biasanya mereka akan segera memperhatikan tembok yang retak, dan segera memperbaikinya.

Retakan kecil sering kali kita anggap sepele. Padahal kalau dibiarkan, lama-kelamaan retakan itu melebar, air hujan mulai merembes masuk, dan akhirnya tembok bangunan rumah kita menjadi berjamur dan mulai rapuh.

Begitu p**a dengan kehidupan. Sering kali yang melemahkan kita bukan satu masalah besar, melainkan luka-luka kecil yang dibiarkan menumpuk. Kekecewaan hati akibat omongan pasangan yang tidak diselesaikan. Ketakutan akan masa depan yang terus dipelihara. Bahkan kebiasaan ritual yang perlahan mulai memudar.

Nah... itulah yang sedang dialami Yehuda. Pada pasal-pasal sebelumnya mereka lebih mengandalkan kekuatan Mesir daripada Tuhan. Kini Yesaya kembali mengingatkan bahwa pertolongan sejati hanya datang dari Allah.

_"Celakalah orang-orang yang pergi ke Mesir meminta pertolongan..."_ (Yesaya 31:1)

Perhatikan...
Masalahnya bukan karena Mesir itu kuat. Masalahnya, mereka lebih dikuasai oleh ketakutan dan lebih percaya kepada kekuatan manusia daripada kepada Tuhan.

Lalu Yesaya mulai mengingatkan kembali apa yang akan terjadi ketika Tuhan diandalkan.

_"Di mana ada kebenaran, di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya."_ (Yesaya 32:17)

Nah...
Kita sering mengejar kenyamanan sesaat, yang kita bisa adalkan dari orang yg kuat. Padalah Yesaya mengingatkan bahwa ketenangan dan damai sejahtera bukanlah sesuatu yang dikejar dari jaminan manusia.

Damai sejahtera itu *buah* dari kehidupan yang tekun dan benar di hadapan Tuhan. Kalau akar hidup kita benar, buahnya pasti damai sejahtera.

Kemudian di pasal 33, di tengah ancaman dan ketidakpastian, umat berseru:

_"Ya TUHAN, kasihanilah kami! Kepada-Mulah kami berharap..."_ (Yesaya 33:2)

Inilah perubahan yang seharusnya terjadi. Kalau sebelumnya mereka mencari pertolongan ke sana-sini, sekarang mereka mulai kembali kepada Tuhan. Sering kali Tuhan mengizinkan jalan buntu dan kejatuhan agar kita menemukan kembali jalan p**ang.

Lalu pasal 35 menjadi penutup yang sangat indah. Setelah begitu banyak teguran dan penghukuman, Yesaya menulis:

_"Kuatkanlah tangan yang lemah lesu dan teguhkanlah lutut yang goyah. Katakanlah kepada orang-orang yang tawar hati: 'Kuatkanlah hati, janganlah takut!'"_ (Yesaya 35:3–4)

Jadi...
Tuhan bukan hanya menegur. Ia juga siap menolong dan menguatkan. Tuhan bukan hanya menghukum kesalahan. Ia juga memulihkan orang yang mau bertobat.

Itulah hati Allah.

Saudara...
Kalau kita mengikuti alur bacaan hari ini, Tuhan sedang membawa umat-Nya melalui sebuah perjalanan.

Dari *bergantung kepada manusia...*

menjadi *berharap kepada Tuhan...*

lalu akhirnya *mengalami pemulihan.*

Bukankah itu juga perjalanan kita? Ada masa ketika kita terlalu mengandalkan kemampuan sendiri. Lalu Tuhan mengizinkan kita mengalami sakit penyakit, kegagalan demi kegagalan dalam usaha, sampai kita menyadari keterbatasan kita.

Dan ketika kita kembali kepada-Nya, kita akan dipulijkan dan menemukan kekuatan yang baru.

Karena itu, kalau hari ini tangan kita terasa lemah dan lutut kita mulai goyah, jangan menyalahkan siapa siapa... jangan mengandalkan harta atau kekuatan masa muda. Datanglah kepada Tuhan, sebab Iq menunggumu p**ang.

Ingat... kekuatan terbesar orang percaya bukanlah kehebatannya untuk memikul semua beban, lolos dari semua persoalan. Melainkan keberanian untuk bertobat dan menyerahkan semuq bebannya kepada Tuhan.

*Pertanyaan Refleksi*

1. Dalam hal apa kita masih lebih mengandalkan kemampuan sendiri daripada bersandar kepada Tuhan?

2. Bagian hidup mana dari hidup kita yang mulai retak dan perlu dikuatkan kembali oleh Tuhan?

*Mari kita berdoa:*

"Tuhan, kami mengaku bahwa kami sering lebih percaya kepada kekuatan kami sendiri daripada kepada-Mu. Ampunilah kami. Ajarlah kami berharap hanya kepada-Mu. Kuatkanlah tangan kami yang lemah, teguhkanlah lutut kami yang goyah, dan penuhilah hati kami dengan damai sejahtera yang berasal dari-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin."

TAD – Ani

https://open.spotify.com/episode/7betF46gfNp2GM10ogqLSe?si=A8cff30mTPeB7-MJ1NC81Q&utm_source=whatsapp&sci=spotify%3Acard-config%3A09tPpsNKKfaBYJSxqgDcwN

ARK Podcast · Episode

Renungan Mezbah KeluargaSenin, 3 Agustus 2026Bacaan Alkitab: Yesaya 28–30Perenungan: Yesaya 28:16; 30:15; 30:21=========...
02/08/2026

Renungan Mezbah Keluarga
Senin, 3 Agustus 2026
Bacaan Alkitab: Yesaya 28–30
Perenungan: Yesaya 28:16; 30:15; 30:21
=====================

*“Jangan Tergesa-gesa”*

Saudara....
Kalau sedang menanak nasi dengan dandang atau rice cooker, kita tidak bisa membukanya setiap dua menit sambil bertanya, "Sudah matang belum?" Justru kalau terus dibuka, prosesnya menjadi lebih lama.

Ada saatnya kita harus menunggu dan percaya saja pada proses. Dan tidak tergesa-gesa nengak nengok atau mengambil kesimp**an.

Bukankah hidup juga sering demikian?

Ketika masalah datang, kita ingin semuanya segera selesai. Kita ingin jawaban Tuhan datang hari itu juga. Kalau tidak, kita mulai gelisah, ndak sabar...lalu mencari jalan keluar sendiri.

Nah... itulah yang sedang terjadi pada Yehuda. Ancaman Asyur semakin dekat. Mereka panik. Mereka lebih memilih mencari bantuan kepada Mesir daripada menantikan pertolongan Tuhan.

Menurut mereka, itu keputusan yang paling masuk akal. Tetapi jalan dan cara Tuhan itu sering berbeda dengan cara dan waktu kita. Nah, di tengah keadaan itu, Yesaya menyampaikan firman Tuhan:

_"Sesungguhnya, Aku meletakkan sebagai dasar di Sion sebuah batu... Barangsiapa percaya, ia tidak akan gelisah."_ (Yesaya 28:16)

Perhatikan teman..
Tanda orang percaya bukanlah tidak memiliki persoalan, tetapi ia tidak dikuasai kepanikan saat menghadapi masalah.

Mengapa?
Karena ia tahu bahwa panik tidak menyelesaikan masalah. Maka tenanglah dan cari jalan Tuhan.

Coba cek lagi jalan hidup kita..dan coba dengan cara Tuhan :

_"Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu..."_ (Yesaya 30:15)

Nah...
Ayat ini terasa bertentangan dengan cara berpikir dunia, yang pinginnya serba cepat.

Dunia berkata, "Cepat ambil tindakan, nanti tetlambat, nanti makin parah!" Tuhan berkata, _"Datanglah dahulu kepada-Ku, cek hidupmu."

Tentu bukan berarti kita tidak boleh bekerja atau mengambil keputusan yang cepat. Tetapi Tuhan mengingatkan agar keputusan kita lahir dari kejernihan hati, bukan dari kepanikan.

Lalu perhatikan nasehat Yesaya :

_"Apabila engkau menyimpang ke kanan atau ke kiri, telingamu akan mendengar perkataan ini dari belakangmu: Inilah jalan, berjalanlah mengikutinya!"_ (Yesaya 30:21)

Jadi...
Tuhan tidak hanya menunjukkan tujuan keluar buat masalah kita, Ia juga menuntun langkah demi langkah. Kadang kita ingin Tuhan memperlihatkan seluruh perjalanan hidup kita. Yang salah.. diperbaiki, yang sembrono.. ditata dengan hati hati.

Saudara...
Perhatikan alur bacaan hari ini.

Pasal 28 mengajak kita membangun *hidup di atas dasar yang benar.*

Pasal 29 menunjukkan bahwa *ibadah tanpa hati yang taat* tidak akan berkenan kepada Tuhan.

Lalu pasal 30 mengajarkan bahwa di tengah krisis, kekuatan kita bukan terletak pada kepanikan, melainkan pada *ketenangan dan kepercayaan kepada Tuhan.*

Bukankah banyak keputusan yang kita sesali justru lahir ketika hati sedang panik? Karena itu, sebelum mengambil keputusan yang besar, belajarlah untuk diam, tenang.. di hadapan Tuhan.

Bukan diam karena menyerah. Tetapi diam karena percaya dan mengkoreksi diri.

Sebab hati yang tenang lebih mudah mendengar suara Tuhan daripada hati yang dipenuhi ketakutan.

*Pertanyaan Refleksi*

1. Apakah akhir-akhir ini kita sedang mengambil keputusan berdasarkan iman atau berdasarkan kepanikan?

2. Dalam pergumulan yang sedang kita hadapi, bagaimana kita dapat belajar "tinggal tenang dan percaya" kepada Tuhan?

*Mari kita berdoa:*

"Tuhan, ampunilah kami ketika kami lebih mudah panik daripada percaya kepada-Mu. Ajarlah kami membangun hidup di atas dasar yang kokoh, yaitu firman-Mu. Berikan kami hati yang tenang untuk mendengar suara-Mu dan keberanian untuk melangkah di jalan yang Engkau tunjukkan. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin."

TAD – Ani

https://open.spotify.com/episode/1yytpS6Q7FFzr8k9MuA2d6?si=1O3p0OktTmuJ5uCVes04sA&utm_source=whatsapp&sci=spotify%3Acard-config%3A6gYavf33wnmt0IiLQwVSdc

ARK Podcast · Episode

Renungan Mezbah KeluargaMinggu, 2 Agustus 2026Bacaan Alkitab: Yesaya 23–27Perenungan: Yesaya 25:8–9; 26:3–4; 27:6=======...
01/08/2026

Renungan Mezbah Keluarga
Minggu, 2 Agustus 2026
Bacaan Alkitab: Yesaya 23–27
Perenungan: Yesaya 25:8–9; 26:3–4; 27:6
=====================

*“Sesudah Badai Berlalu”*

Saudara....
Kalau musim hujan tiba, kita sering merasa seolah-olah matahari sudah tidak ada lagi. Apalagi kalau hujannya hampir tiap hari. Langit gelap, angin bertiup kencang, jalanan tergenang. Para penarik ojek banyak yang memilih berteduh dibawah flyover jalan sambil menunggu hujan reda.

Padahal kita tahu, matahari sebenarnya tidak pernah hilang. Ia hanya tertutup awan untuk sementara. Begitu p**a dalam kehidupan.

Ketika masalah datang bertubi-tubi, kita mudah berpikir bahwa Tuhan sedang jauh. Karena pikiran kita digelapkan oleh awan awan kekuatiran.

Nah... setelah Yesaya berkali-kali berbicara tentang penghukuman atas bangsa-bangsa, mulai pasal 23 sampai 27 suasananya perlahan berubah.

Memang, masih ada berita tentang penghakiman, tetapi di balik semuanya, Tuhan mulai memperlihatkan tujuan gambaran visi dari pekerjaan-Nya.

Ternyata bukan kehancuran, melainkan pemulihan.

Pada pasal 25 kita menemukan janji yang sangat menghiburkan.

_"Ia akan meniadakan maut untuk seterusnya; dan Tuhan ALLAH akan menghapus air mata dari segala muka..."_ (Yesaya 25:8)

Jadi...
Di tengah dunia yang penuh peperangan, penderitaan, dan kematian, Tuhan tidak berkata bahwa semua itu akan berlangsung selamanya. Ada hari ketika air mata dihapus. Ada hari ketika maut dikalahkan.

Kita yang hidup setelah kebangkitan Kristus melihat bahwa janji ini mulai digenapi melalui Yesus dan akan mencapai kepenuhannya ketika Ia datang kembali.

Kemudian pasal 26 memberikan sebuah rahasia yang indah.

_"Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya."_ (Yesaya 26:3)

Lihat...
Yesaya tidak berkata bahwa damai datang karena keadaan menjadi tenang... atau ketika utang sudah terlunaskan.
Damai itu bisa lahir karena hati kita yang tetap tertuju kepada Tuhan.

Itulah sebabnya dua orang bisa menghadapi persoalan yang sama, tetapi memiliki ketenangan yang berbeda. pBukan karena masalahnya berbeda. Melainkan karena tempat mereka menaruh kepercayaan berbeda.

Lalu pasal 27 menutup bagian ini dengan sebuah gambaran yang penuh harapan.

_"Pada masa yang akan datang Yakub akan berakar, Israel akan berbunga dan bertunas, serta memenuhi seluruh dunia dengan buah-buahnya."_ (Yesaya 27:6)

Nah...
Sesudah Tuhan memangkas, Ia kini mulai menumbuhkan. Sesudah Tuhan mendisiplin, Ia mengangkat memulihkan.

Bukankah itu cara Tuhan bekerja sejak dahulu? Air bah berakhir dengan pelangi. Pembuangan berakhir dengan kep**angan. Salib berakhir dengan kebangkitan.

Saudara...
Perhatikan alur bacaan hari ini.

Pasal 23–24 mengingatkan bahwa kemuliaan dunia ini tidak akan bertahan.

Pasal 25 menghadirkan pengharapan bahwa Tuhan akan mengalahkan maut.

Pasal 26 mengajar kita tetap percaya di tengah penantian.

Lalu pasal 27 menunjukkan bahwa tujuan akhir Tuhan adalah menghasilkan kehidupan yang berbuah.

Artinya, Tuhan tidak sedang membentuk kita untuk sekadar mampu bertahan. Ia sedang membentuk kita supaya bertumbuh dan berkemenangan.

Karena itu, kalau hari ini hidup kita masih seperti berada di tengah badai, jangan kehilangan pengharapan. Awan dsn hujan tidak akan tinggal selamanya. Dan badai pasti berlalu..

Selama Tuhan memegang hidup kita, selalu ada fajar di balik gelapnya malam, dan selalu ada tunas baru sesudah musim hujan yang panjang.

*Pertanyaan Refleksi*

1. Apakah ada "badai" dalam hidup kita yang membuat kita sulit melihat pengharapan Tuhan?

2. Bagaimana kita dapat tetap menjaga hati kita tetap tertuju kepada Tuhan di tengah pergumulan saat ini?

*Mari kita berdoa:*

"Tuhan, terima kasih karena Engkau adalah Allah yang menghadirkan pengharapan di tengah badai kehidupan. Ketika hati kami mulai gelisah, tolonglah kami tetap percaya kepada-Mu. Jagalah hati kami dengan damai sejahtera-Mu dan tumbuhkanlah kehidupan yang berbuah melalui setiap proses yang kami jalani. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin."

TAD – Ani

https://open.spotify.com/episode/2Yz8fqMWiirdDEwoS5ffJ4?si=x7m59_ggSN2qCKaFB3aRmA&utm_source=whatsapp&sci=spotify%3Acard-config%3A0lQykA2xUFy3ciejPZHvX5

ARK Podcast · Episode

Renungan Mezbah KeluargaSabtu, 1 Agustus 2026Bacaan Alkitab: Yesaya 18–22Perenungan: Yesaya 22:22–23====================...
31/07/2026

Renungan Mezbah Keluarga
Sabtu, 1 Agustus 2026
Bacaan Alkitab: Yesaya 18–22
Perenungan: Yesaya 22:22–23
=====================

*“Tempat Bersandar”*

Saudara....
Kalau kita masuk ke sebuah rumah yang sudah tua, biasanya ada satu bagian yang pertama kali diperiksa oleh tukang bangunan, yaitu tiangnya. Dinding mungkin masih tampak bagus. Catnya masih rapi. Tetapi kalau tiangnya mulai rapuh, seluruh bangunan itu sebenarnya sedang berada dalam bahaya.

Yang menentukan kuat atau tidaknya sebuah rumah ternyata bukan apa yang terlihat dari luar, melainkan apa yang menopangnya dari dalam.

Bukankah hidup kita juga demikian?

Orang bisa melihat tampilan kita yang full senyum, pekerjaan kita yang kelihatannya moncer, bahkan pelayanan kita yg super sibuk. Namun tidak banyak yang tahu, kepada siapa sebenarnya kita bersandar ketika tekanan bertubi datang.

Nah... Yesaya 18–22 berbicara tentang bangsa-bangsa yang sibuk mencari tempat bersandar. Ada yang mengandalkan kekuatan militernya. Ada yang membangun persekutuan politik. Ada yang merasa kotanya cukup kuat untuk menghadapi ancaman.

Tetapi Tuhan menunjukkan bahwa semua sandaran itu pada akhirnya akan goyah.

Puncaknya ada di pasal 22.

Ketika Yerusalem menghadapi ancaman, mereka sibuk memperkuat tembok, membuat persediaan air, dan menyiapkan pertahanan kota. Memang..semuanya itu penting. Tetapi Yesaya memberikan teguran pada umat:

_"Tetapi kamu tidak memandang kepada Dia yang membuat semuanya itu dan tidak melihat kepada Dia yang telah merencanakannya sejak dahulu."_ (Yesaya 22:11)

Jadi...
Masalahnya bukan karena mereka bekerja keras atau membuat persiapan. Masalahnya adalah mereka sibuk mengurus semuanya, tetapi lupa mencari dan bersandar pada Tuhan. Mereka memperkuat kota, tetapi tidak memperkuat relasi dengan Tuhan.

Bukankah itu juga bisa terjadi pada kita?

Dalam kesukaran, kita sibuk mencari solusi, sibuk mencari kolusi dan menghitung biaya. Sedihnya, doa justru menjadi pilihan terakhir.

Kemudian pada bagian akhir pasal 22, Tuhan berbicara tentang Elyakim. Tentang dia Tuhan berkata:

_"Aku akan menaruh kunci keluarga Daud ke atas bahunya; apabila ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila ia menutup, tidak ada yang dapat membuka."_ (Yesaya 22:22)

Lihat...
Yang membuka dan menutup jalan kehidupan bukanlah manusia. Tuhanlah yang memegang kunci itu. Ayat ini juga mengarahkan kita kepada Kristus, yang dalam Perjanjian Baru digambarkan sebagai Dia yang memegang kunci Daud (Wahyu 3:7).

Artinya, pengharapan kita bukan pada kemampuan kita membuka jalan sendiri. Pengharapan kita ada pada Tuhan yang memegang segala kuasa.

Saudara...
Perhatikan alur bacaan hari ini.

Bangsa-bangsa sibuk mencari perlindungan.
Yerusalem sibuk memperkuat pertahanan.
Tetapi Tuhan mengingatkan bahwa benteng yang paling kuat bukanlah tembok batu.
Benteng yang paling kuat adalah Tuhan sendiri.

Karena itu, bekerja keraslah. Rencanakanlah hidup dengan bijaksana. Lakukan bagian kita dengan sungguh-sungguh. Tetapi jangan pernah menggantikan Tuhan dengan kemampuan kita sendiri. Sebab ketika Tuhan menjadi tempat kita bersandar, kita akan tetap memiliki damai, sekalipun keadaan di sekitar kita belum berubah.

*Pertanyaan Refleksi*

1. Ketika menghadapi persoalan, kepada siapa kita pertama kali bersandar: kemampuan sendiri atau Tuhan?

2. Adakah kesibukan yang membuat kita lebih banyak mengatur hidup daripada mencari wajah Tuhan?

*Mari kita berdoa:*

"Tuhan, sering kali kami sibuk menguatkan 'tembok-tembok' kehidupan kami, tetapi lupa memperkuat hubungan kami dengan-Mu. Ajarlah kami bekerja dengan bijaksana, namun tetap menjadikan Engkau sebagai tempat perlindungan dan sandaran kami. Sebab hanya Engkaulah yang memegang kunci kehidupan kami. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin."

TAD – Ani

https://open.spotify.com/episode/0hA7YYAeZVG1xhOW8o4IrT?si=8gBbnC3_QI6OpdI2BhH0aA&utm_source=whatsapp&sci=spotify%3Acard-config%3A4j6CRyfZiONML2XxPrYy97

ARK Podcast · Episode

Renungan Mezbah KeluargaJumat, 31 Juli 2026Bacaan Alkitab: Yesaya 13–17Perenungan: Yesaya 14:27; 16:5; 17:7=============...
30/07/2026

Renungan Mezbah Keluarga
Jumat, 31 Juli 2026
Bacaan Alkitab: Yesaya 13–17
Perenungan: Yesaya 14:27; 16:5; 17:7
=====================

*“Tidak Ada yang Terlalu Besar bagi Tuhan”*

Saudara....

Kalau kita melihat sebuah gedung yang tinggi atau sebuah perusahaan yang sangat besar dan kokoh, kadang muncul perasaan, "Wah... rasanya tidak mungkin itu bisa runtuh."

Begitu p**a ketika melihat negara yang kuat seperti Amerika, teknologi yang canggih, atau orang-orang yang memiliki kuasa. Semua tampak begitu kokoh, seolah akan bertahan selamanya.

Tetapi sejarah mengajarkan sesuatu yang berbeda. Kerajaan-kerajaan besar datang silih berganti. Bangsa yang pernah berjaya akhirnya tinggal menjadi catatan dalam buku sejarah.

Catat! Apa yang tampak tidak tergoyahkan, pada akhirnya tetap berlalu. Nah... itulah yang sedang dinyatakan Tuhan melalui Yesaya.

Mulai pasal 13, Tuhan menyampaikan firman kepada bangsa-bangsa di sekitar Yehuda. Ada Babel, Asyur, Filistea, Moab, Damsyik, dan bangsa-bangsa lainnya.

Simak...
Mengapa Tuhan berbicara kepada mereka? Karena Tuhan bukan hanya Allah bagi Israel. Dialah Tuhan atas seluruh bumi. Tidak ada satu bangsa pun yang berada di luar kekuasaan-Nya.

Di tengah nubuat itu, Yesaya berkata:

_"TUHAN semesta alam telah merancang, siapakah yang dapat menggagalkannya? Tangan-Nya yang teracung, siapakah yang dapat membuatnya surut?"_ (Yesaya 14:27)

Lihat...
Yang menentukan arah sejarah bukanlah raja-raja. Bukan p**a kekuatan militer, teknologi atau keuangannya. Melainkan Tuhan sendiri.

Manusia boleh merancang. Bangsa boleh bermegah. Tetapi keputusan Tuhanlah yang akan tetap berdiri.

Namun menariknya, di tengah berita penghukuman itu, Tuhan masih memperlihatkan kasih-Nya. Tentang Moab, Yesaya berkata:

_"Suatu takhta akan ditegakkan berdasarkan kasih setia..."_ (Yesaya 16:5)

Seolah-olah Tuhan berkata bahwa tujuan akhir-Nya bukan sekadar menghukum. Ia sedang mempersiapkan pemerintahan yang dipenuhi keadilan, kasih setia, dan kebenaran.
Kita tahu, nubuat ini mencapai kepenuhannya di dalam Kristus, Sang Raja yang memerintah dengan kasih.

Kemudian pasal 17 memberikan sebuah harapan yang sederhana namun indah:

_"Pada waktu itu manusia akan memandang kepada Penciptanya dan matanya akan melihat kepada Yang Mahakudus, Allah Israel."_ (Yesaya 17:7)

Nah...
Kadang Tuhan mengizinkan manusia kehilangan tempat bergantung supaya akhirnya mereka kembali memandang kepada-Nya.

Sering kali, ketika semua pegangan kita hilang, barulah kita menyadari bahwa Tuhan adalah satu-satunya Pegangan yang tidak pernah berubah.

Saudara...
Perhatikan alur bacaan hari ini.

Pasal-pasal ini menunjukkan bahwa emperium yang besar pun dapat runtuh. Tetapi di tengah semuanya, Tuhan tetap memanggil manusia untuk kembali kepada-Nya.

Jadi pusat perhatian Yesaya bukanlah kehancuran bangsa-bangsa. Pusatnya adalah kebesaran Tuhan. Kalau Tuhan sanggup mengatur perjalanan bangsa-bangsa, tentu Ia juga sanggup memimpin perjalanan hidup kita.

Karena itu, jangan terlalu takut kepada kekuatan bohir, kejayaan emperium. Jangan p**a terlalu kagum kepada kebesaran manusia. Semua itu ada batasnya. Tetapi kuasa Tuhan tidak pernah berakhir.

Dan ketika hati kita tetap tertuju kepada-Nya, kita akan menemukan ketenangan, sekalipun dunia di sekitar kita terus berubah.

*Pertanyaan Refleksi*

1. Apakah kita lebih mudah kagum kepada kekuatan manusia daripada mempercayai kuasa Tuhan?

2. Dalam pergumulan yang sedang kita hadapi, bagaimana kita dapat semakin mengarahkan pandangan kepada Tuhan?

*Mari kita berdoa:*

"Tuhan, Engkaulah Raja atas seluruh bumi dan Penguasa atas segala zaman. Ampunilah kami jika kami lebih takut kepada kekuatan dunia daripada percaya kepada-Mu. Ajarlah kami mengarahkan pandangan kepada-Mu, sebab hanya Engkaulah tempat perlindungan yang tidak pernah berubah. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin."

TAD – Ani

https://open.spotify.com/episode/3mf1V50wPHdM6gJDJWEcfx?si=d7idTMPuTi-1_3Yhk8K1fg&utm_source=whatsapp&sci=spotify%3Acard-config%3A5BzAEKlzBAHRtl0t5EXRvS

ARK Podcast · Episode

Renungan Mezbah KeluargaKamis, 30 Juli 2026Bacaan Alkitab: Yesaya 9–12Perenungan: Yesaya 9:5–6; 11:1–2; 12:2============...
29/07/2026

Renungan Mezbah Keluarga
Kamis, 30 Juli 2026
Bacaan Alkitab: Yesaya 9–12
Perenungan: Yesaya 9:5–6; 11:1–2; 12:2
=====================

*“Tunas dari Tunggul”*

Saudara....
Kalau kita melihat sebuah pohon besar ditebang, yang tertinggal biasanya hanya tunggulnya. Sekilas tidak ada lagi harapan. Pohon itu sudah berakhir. Tinggal menunggu lapuk dimakan waktu.

Tetapi kita tahu, tidak semua tunggul mati. Ada kalanya, beberapa waktu kemudian muncul tunas kecil dari sampingnya. Mula-mula hampir tidak terlihat. Namun perlahan-lahan tunas itu tumbuh menjadi pohon yang baru.

Harapan ternyata sering lahir bukan dari sesuatu yang besar, tetapi dari sesuatu yang dianggap sudah berakhir. Nah... itulah yang sedang Tuhan tunjukkan kepada Yehuda.

Pada pasal-pasal sebelumnya Yesaya banyak berbicara tentang dosa, penghukuman, dan ancaman perang. Rasanya kok pesis.. gelap, seolah tidak ada lagi masa depan bagi umat Tuhan.

Tetapi tiba-tiba, pada pasal 9, Yesaya membawa sebuah kabar yang mencerahkan.

_"Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putra telah diberikan untuk kita..."_ (Yesaya 9:5)

Perhatikan...
Di tengah berita tentang peperangan dan kehancuran, Tuhan tidak menjanjikan pertolongan pasukan yang lebih kuat. Di tengah kekacauan politik, Tuhan tidak menjanjikan seorang ratu adil yang hebat menurut ukuran pengharapan kita sendiri. Tuhan justru memberikan *seorang Anak.* Yup... pertolongan dari Allah sering datang dengan cara yang tidak diduga manusia.

Kemudian pasal 11 melanjutkan gambaran itu.

_"Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai..."_ (Yesaya 11:1)

Lihat...
Bukan dari pohon besar yang sedang subur. Bukan dari wangsa kerajaan yang sedang berjaya. Tetapi dari sebuah tunggul, phon yang sdh dianggap mati. Dari kehidupan yang tampaknya sudah habis.

Bukankah Tuhan sering bekerja seperti itu?
Ketika Abraham dan Sara merasa sudah terlalu tua.
Ketika Yusuf berada di penjara.
Ketika Daud hanya seorang gembala muda.
Ketika Yesus lahir di sebuah kandang.

Tuhan seringkali menumbuhkan harapan di tempat yang tidak disangka-sangka.

Lalu pasal 12 menjadi jawaban umat terhadap karya Tuhan itu.

_"Sungguh, Allah itu keselamatanku; aku percaya dengan tidak gementar..."_ (Yesaya 12:2)

Nah...
Inilah perubahan yang terjadi. Jika pada pasal-pasal sebelumnya, umat dipenuhi ketakutan, sekarang mereka dipenuhi pujian.

Mengapa?

Karena mereka mulai melihat bahwa keselamatan bukan berasal dari kekuatan mereka. *Keselamatan berasal dari Tuhan.*

Saudara...
Perhatikan alur bacaan hari ini.

Pasal 9 menghadirkan *janji.*

Pasal 10 menunjukkan bahwa *kesombongan manusia tidak akan bertahan.*

Pasal 11 memperlihatkan *tunas harapan* yang Tuhan tumbuhkan.

Dan pasal 12 ditutup dengan *nyanyian syukur*.

Seolah Yesaya ingin berkata,

_"Hqbis gelap terbitlah terang...sesudah hujan ada pelangi"_

Mungkin hari ini hidup kita juga seperti tunggul.
Ada impian yang patah. Ada pelayanan yang melelahkan. Ada keluarga yang sedang bergumul hebat. Ada doa yang belum terjawab.

Tetapi jangan lupa...

Tuhan sanggup menumbuhkan tunas dari tunggul yang kelihatannya sudah mati.
Karena pengharapan orang percaya tidak bergantung pada keadaan. Pengharapan kita bertumbuh karena Tuhan masih bekerja. Dan selama Tuhan masih bekerja, tidak ada kehidupan yang terlalu hancur untuk dipulihkan.

*Pertanyaan Refleksi*

1. Adakah bagian hidup kita yang terasa seperti "tunggul", seolah-olah sudah tidak ada harapan lagi?

2. Bagaimana janji Tuhan dalam bacaan hari ini menguatkan kita untuk tetap berharap kepada-Nya?

*Mari kita berdoa:*

"Tuhan, terima kasih karena ketika kami melihat jalan buntu, Engkau masih sanggup menumbuhkan harapan. Tolong kami untuk tidak menyerah pada keadaan, tetapi terus percaya kepada janji-Mu. Tumbuhkanlah tunas pengharapan di dalam hati kami, sehingga kami tetap setia berjalan bersama-Mu dan memuliakan nama-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin."

TAD – Ani

https://open.spotify.com/episode/6yBPJeM8WHpevDAHhlQ2oW?si=zBqblN9PT5-TqpMi34vqCg&utm_source=whatsapp&sci=spotify%3Acard-config%3A2tTPgn49fPwEacKY7xUVDJ

ARK Podcast · Episode

Renungan Mezbah KeluargaRabu, 29 Juli 2026Bacaan Alkitab: Yesaya 5–8Perenungan: Yesaya 5:20; 6:8; 8:12–13===============...
28/07/2026

Renungan Mezbah Keluarga
Rabu, 29 Juli 2026
Bacaan Alkitab: Yesaya 5–8
Perenungan: Yesaya 5:20; 6:8; 8:12–13
=====================

*“Suara Mana yang Kita Ikuti?”*

Saudara....
Pernahkah kita mengendarai motor atau mobil, lalu hendak berpindah jalur atau berbelok?

Hal pertama yang biasanya kita lakukan adalah melihat kaca spion. Bukan karena kita ragu dengan jalan di depan, tetapi karena kita sadar ada sisi-sisi yang tidak dapat dilihat hanya dengan mata kita.

Banyak kecelakaan terjadi bukan karena orang tidak bisa mengemudi, melainkan karena merasa sudah melihat semuanya. Padahal masih ada "titik buta" (blind spot) yang luput dari pandangannya.

Bukankah hidup kita juga sering demikian? Kita merasa keputusan kita sudah benar. Penilaian kita sudah tepat. Cara hidup kita sudah tidak bermasalah. Padahal ada bagian-bagian hidup yang tidak sanggup kita lihat sendiri... kita butuh orang lain untuk membantu kita melihat apa yang tidak kita sadari.

Karena itu Tuhan mengutus para nabi. Mereka menjadi seperti "kaca spion" yang menolong umat melihat apa yang selama ini mereka abaikan. Nah... dalam Yesaya 5–8, Tuhan sedang membuka "titik buta" bangsa Yehuda. Mereka merasa hidupnya baik-baik saja, tetapi ternyata hati mereka sudah jauh dari Tuhan.

Yesaya berkata:

_"Celakalah mereka yang menyebut yang jahat itu baik dan yang baik itu jahat..."_ (Yesaya 5:20)

Jadi...
Masalahnya bukan karena mereka tidak mengenal Tuhan. Masalahnya adalah ukuran (standart) moral mereka sudah berubah. Apa yang dulu dianggap dosa, sekarang dianggap biasa... karena semua orang melakukannya.

Apa yang dulu dianggap benar, sekarang justru ditolak, bahkan dimanip**asi. Bukankah keadaan seperti ini juga banyak kita jumpai pada zaman sekarang? Apa yang benar dibuat salah dan apa yang salah dijual sebagai kebenaran.

Lalu pada pasal 6, Yesaya melihat Tuhan yang Mahakudus bertakhta. Di hadapan kekudusan itu ia tidak berkata, "Aku siap dipakai." Justru ia berseru,

_"Celakalah aku! Aku binasa!"_

Mengapa?
Karena semakin dekat seseorang kepada Tuhan, semakin ia menyadari betapa ia membutuhkan anugerah.. tuntunan hidup kudus.

Baru setelah bibirnya disucikan, Tuhan bertanya,

_"Siapakah yang akan Kuutus?"_

Dan Yesaya menjawab,

_"Ini aku, utuslah aku!"_ (Yesaya 6:8)

Nah...
Urutannya jangan dibalik ya... Bukan diutus lalu disucikan. Tetapi disucikan lebih dahulu, baru diutus.

Pesannya: Pelayanan selalu lahir dari hati yang telah disentuh dan dibersihkan oleh kasih karunia Tuhan.

Lalu pasal 7 dan 8 membawa Yehuda pada sebuah krisis. Bangsa itu ketakutan menghadapi ancaman musuh. Dalam ketakutan itu mereka tergoda mencari pegangan selain Tuhan.

Namun Yesaya berkata:

_"Janganlah kamu menyebut persepakatan segala apa yang disebut persepakatan oleh bangsa ini... TUHAN semesta alam, Dialah yang harus kamu akui sebagai Yang Kudus."_ (Yesaya 8:12–13)

Lihat...
Ketika rasa takut menguasai hati, manusia biasanya mencari tempat aman untuk berlindung.

Ada yang berlindung pada uang, ada yang pada jaminan investasi, pada obat obatan..ada yang cari orang pinter, dukun dll. Bahkan ada yang mencari pertolongan ke pesugihan dan penyembahan berhala, tetapi lupa datang kepada Tuhan.

Padahal Tuhan berkata,
_"Datanglah kepada-Ku."_

Saudara...
Perhatikan alur bacaan hari ini.

Pasal 5 menunjukkan bahwa manusia mulai kehilangan arah karena ukuran moralnya berubah.

Pasal 6 menunjukkan bahwa arah itu ditemukan kembali ketika kita berjumpa dengan Tuhan yang kudus.

Lalu pasal 7–8 mengajarkan bahwa setelah mengenal Tuhan, kita dipanggil untuk tetap percaya kepada-Nya, sekalipun keadaan belum berubah.

Memang.. Iman bukan berarti tidak ada rasa takut.. tetapi iman itu memilih mendengar suara Tuhan di tengah begitu banyak suara yang ingin membuat kita cemas dan menguasai pikiran kita.

Maka setiap hari, sebenarnya kita sedang menentukan siapa yang akan kita ikuti...Suara cemas? Suara ketakutan? suara kegagalan?

Atau suara Tuhan.

Kiranya Roh Kudus menolong kita melihat "titik-titik buta" dalam hidup kita, sehingga kita terus berjalan di dalam terang dan kebenaran-Nya.

*Pertanyaan Refleksi*

1. Apakah ada "titik buta" dalam hidup kita yang selama ini tidak kita sadari, tetapi sedang Tuhan tunjukkan melalui firman-Nya?

2. Suara siapa yang lebih banyak memengaruhi keputusan-keputusan kita: suara Tuhan atau suara godaan dunia?

*Mari kita berdoa:*

"Tuhan, terima kasih karena Engkau tidak membiarkan kami berjalan dengan mata yang tertutup. Melalui firman-Mu, Engkau menunjukkan bagian-bagian hidup yang perlu kami benahi. Kuduskan hati kami, bukalah mata rohani kami, dan ajarlah kami lebih mendengar suara-Mu daripada suara dunia. Pakailah hidup kami menjadi alat-Mu, seperti Engkau telah memanggil Yesaya. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin."

TAD – Ani

https://open.spotify.com/episode/7vHYe3sA4Wg7wGUeUg5PBX?si=vWTKf841SFmc8I1mJmGLrA&utm_source=whatsapp&sci=spotify%3Acard-config%3A0GiFiH33XfmvAt6h7iKWUF

ARK Podcast · Episode

Address

Ruko Puri Sentra Niaga Blok T2. No. 10, 11, Jalan Puri Indah Raya No. 12A, RT. 1/RW. 2, South Kembangan, Kembangan, West Jakarta City
Jakarta
11610

Opening Hours

08:00 - 10:00

Telephone

+62215813489

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when GKMI Anugerah Rayon Kembangan posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to GKMI Anugerah Rayon Kembangan:

Share