30/07/2026
Renungan Mezbah Keluarga
Jumat, 31 Juli 2026
Bacaan Alkitab: Yesaya 13–17
Perenungan: Yesaya 14:27; 16:5; 17:7
=====================
*“Tidak Ada yang Terlalu Besar bagi Tuhan”*
Saudara....
Kalau kita melihat sebuah gedung yang tinggi atau sebuah perusahaan yang sangat besar dan kokoh, kadang muncul perasaan, "Wah... rasanya tidak mungkin itu bisa runtuh."
Begitu p**a ketika melihat negara yang kuat seperti Amerika, teknologi yang canggih, atau orang-orang yang memiliki kuasa. Semua tampak begitu kokoh, seolah akan bertahan selamanya.
Tetapi sejarah mengajarkan sesuatu yang berbeda. Kerajaan-kerajaan besar datang silih berganti. Bangsa yang pernah berjaya akhirnya tinggal menjadi catatan dalam buku sejarah.
Catat! Apa yang tampak tidak tergoyahkan, pada akhirnya tetap berlalu. Nah... itulah yang sedang dinyatakan Tuhan melalui Yesaya.
Mulai pasal 13, Tuhan menyampaikan firman kepada bangsa-bangsa di sekitar Yehuda. Ada Babel, Asyur, Filistea, Moab, Damsyik, dan bangsa-bangsa lainnya.
Simak...
Mengapa Tuhan berbicara kepada mereka? Karena Tuhan bukan hanya Allah bagi Israel. Dialah Tuhan atas seluruh bumi. Tidak ada satu bangsa pun yang berada di luar kekuasaan-Nya.
Di tengah nubuat itu, Yesaya berkata:
_"TUHAN semesta alam telah merancang, siapakah yang dapat menggagalkannya? Tangan-Nya yang teracung, siapakah yang dapat membuatnya surut?"_ (Yesaya 14:27)
Lihat...
Yang menentukan arah sejarah bukanlah raja-raja. Bukan p**a kekuatan militer, teknologi atau keuangannya. Melainkan Tuhan sendiri.
Manusia boleh merancang. Bangsa boleh bermegah. Tetapi keputusan Tuhanlah yang akan tetap berdiri.
Namun menariknya, di tengah berita penghukuman itu, Tuhan masih memperlihatkan kasih-Nya. Tentang Moab, Yesaya berkata:
_"Suatu takhta akan ditegakkan berdasarkan kasih setia..."_ (Yesaya 16:5)
Seolah-olah Tuhan berkata bahwa tujuan akhir-Nya bukan sekadar menghukum. Ia sedang mempersiapkan pemerintahan yang dipenuhi keadilan, kasih setia, dan kebenaran.
Kita tahu, nubuat ini mencapai kepenuhannya di dalam Kristus, Sang Raja yang memerintah dengan kasih.
Kemudian pasal 17 memberikan sebuah harapan yang sederhana namun indah:
_"Pada waktu itu manusia akan memandang kepada Penciptanya dan matanya akan melihat kepada Yang Mahakudus, Allah Israel."_ (Yesaya 17:7)
Nah...
Kadang Tuhan mengizinkan manusia kehilangan tempat bergantung supaya akhirnya mereka kembali memandang kepada-Nya.
Sering kali, ketika semua pegangan kita hilang, barulah kita menyadari bahwa Tuhan adalah satu-satunya Pegangan yang tidak pernah berubah.
Saudara...
Perhatikan alur bacaan hari ini.
Pasal-pasal ini menunjukkan bahwa emperium yang besar pun dapat runtuh. Tetapi di tengah semuanya, Tuhan tetap memanggil manusia untuk kembali kepada-Nya.
Jadi pusat perhatian Yesaya bukanlah kehancuran bangsa-bangsa. Pusatnya adalah kebesaran Tuhan. Kalau Tuhan sanggup mengatur perjalanan bangsa-bangsa, tentu Ia juga sanggup memimpin perjalanan hidup kita.
Karena itu, jangan terlalu takut kepada kekuatan bohir, kejayaan emperium. Jangan p**a terlalu kagum kepada kebesaran manusia. Semua itu ada batasnya. Tetapi kuasa Tuhan tidak pernah berakhir.
Dan ketika hati kita tetap tertuju kepada-Nya, kita akan menemukan ketenangan, sekalipun dunia di sekitar kita terus berubah.
*Pertanyaan Refleksi*
1. Apakah kita lebih mudah kagum kepada kekuatan manusia daripada mempercayai kuasa Tuhan?
2. Dalam pergumulan yang sedang kita hadapi, bagaimana kita dapat semakin mengarahkan pandangan kepada Tuhan?
*Mari kita berdoa:*
"Tuhan, Engkaulah Raja atas seluruh bumi dan Penguasa atas segala zaman. Ampunilah kami jika kami lebih takut kepada kekuatan dunia daripada percaya kepada-Mu. Ajarlah kami mengarahkan pandangan kepada-Mu, sebab hanya Engkaulah tempat perlindungan yang tidak pernah berubah. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin."
TAD – Ani
https://open.spotify.com/episode/3mf1V50wPHdM6gJDJWEcfx?si=d7idTMPuTi-1_3Yhk8K1fg&utm_source=whatsapp&sci=spotify%3Acard-config%3A5BzAEKlzBAHRtl0t5EXRvS
ARK Podcast · Episode