GPIB Nazareth

GPIB Nazareth page GPIB Nazareth adalah Pusat Informasi Jemaat

Halo Oma/Opa, Ibu/Bapak, Adik/Kakak, Tante/ Om πŸ‘‹πŸ»Panitia perayaan HUT GPIB Nazareth yang ke-55 turut mengajak seluruh je...
08/05/2024

Halo Oma/Opa, Ibu/Bapak, Adik/Kakak, Tante/ Om πŸ‘‹πŸ»
Panitia perayaan HUT GPIB Nazareth yang ke-55 turut mengajak seluruh jemaat untuk berpartisipasi dalam HUT tahun ini! Mari kita sambut HUT tahun ini dengan tema β€œ'Gerejaku, Rumahku, Keluargaku”. Banyak lomba yang dapat diikuti lho! Yuk ikut turut meramaikan! Hadiah menarik menanti! 🎁✨

Selebihnya dapat dicek postingan diatasπŸ‘†πŸ»

Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi:
CP Lomba Posting Foto Bersyair: Mima (0878-7800-0899)
CP Lomba Dance Group: Cynthia (0812-1022-2500)

Ditunggu partisipasinya dan menangkan hadiahnya! πŸ₯³

Tuhan Yesus Memberkati!

"Dilema Pontius Pilatus"NZ NEWS, JAKARTA – GPIB menggunakan Kalender Gerejawi untuk memperkaya spiritualitas umat. Karen...
08/04/2023

"Dilema Pontius Pilatus"

NZ NEWS, JAKARTA – GPIB menggunakan Kalender Gerejawi untuk memperkaya spiritualitas umat. Karena itu, Komisi Teologi Nz menyelenggarakan Penelaahan Alkitab (PenA) mulai Sabtu pertama sesudah Rabu Abu (25/03/2023) hingga Sabtu Sunyi (08/04/2023). PenA mengangkat tema tentang tokoh-tokoh Alkitab yang berperan dalam proses penyaliban Tuhan Yesus. Hasil dalam PenA tersebut, akan menjadi bahan refleksi pada saat Ibadah Keluarga (IK) setiap hari Rabu yang disampaikan oleh beberapa reflektor dari warga jemaat GPIB Nazareth.

Pada minggu IV Pra Paskah, tokoh keempat yang diangkat untuk dijadikan sebagai bahan refleksi adalah Pontius Pilatus, hasil PenA Sabtu (18/03/2023) dengan fasilitator Pdt. Izzak Lattu. Bahan refleksi tersebut disampaikan oleh Adik Matthew Graciano Joseph, Adik Jo Ann C. Tarigan, Adik Jordine Simanjuntak, Adik Otniel Emmanuel Pieritsz, dan Sdr. Jonathan Marvin Simatupang.

Berdasarkan hasil refleksi dari adik Matthew dan adik Otniel, Pontius Pilatus dipaksa oleh rakyat sekaligus di bawah hukum Romawi untuk membunuh Yesus. Keputusan ini bertentangan dengan hati nurani Pilatus. Seperti yang dikatakan juga oleh adik Jo Ann bahwa Pilatus tahu kalau Yesus tidak bersalah, namun Pilatus tidak ingin daerah yang ia pimpin terjadi pemberontakan atau kekacauan sehingga ia memilih menyalibkan Yesus sesuai keinginan para imam-imam atau tuan-tuan. Adik Jordine pun menyampaikan jika Pontius Pilatus menyerahkan Yesus dengan berat hati, tetapi ia memiliki tugas untuk membangun hubungan baik dengan para pemuka agama Yahudi serta untuk menghindari konflik. Maka dari itu, ia tidak dapat menyelamatkan Yesus, padahal Pilatus mempunyai kuasa besar untuk menyelamatkan Yesus.

Setiap orang selalu memandang Pontius Pilatus adalah sosok yang jahat. Namun apakah kita pernah melihat sisi lain dari seorang Pilatus? Sdr. Jonathan menyampaikan bahwa Pontius Pilatus tidak serta merta jahat. Pada saat itu ia pun dilema untuk memilih pilihan apa yang harus ia ambil. Lalu Mengapa Pontius Pilatus β€˜mencuci tangan’? Sdr. Jonathan mengatakan bahwa Pilatus bukan orang Kristen karena ia tidak percaya tentang keberadaan Tuhan. Ia β€˜mencuci tangan’ demi keamanan dirinya sendiri agar tidak dijatuhkan oleh rakyatnya dan menghindari terjadinya kericuhan,.

Pernahkah kita berpikir apa yang akan terjadi jika Pontius Pilatus tidak β€˜mencuci tangan’? Sdr. Jonathan mengatakan bahwa tidak akan ada kekristenan jika Pilatus tidak melakukan hal demikian. Dengan perlakuan Pilatus ini, Yesus pun mengalami kematian di kayu salib, lalu bangkit ke Sorga untuk menebus umat manusia dari belenggu dosa. Ketika kita mengingat tokoh Pontius Pilatus, janganlah kita berpikir dari aspek kesalahannya dan kemudian menyudutkannya. Karena perilaku tersebut dapat terjadi juga di dalam kehidupan kita. Kesalahan-kesalahan yang sering kita jumpai di dalam kehidupan sesama manusia, kiranya tidak mengurangi nilai kasih kita kepada mereka. Ketika sesama umat manusia melakukan kesalahan, maka itu akan menjadi urusannya bersama dengan Tuhan dan aspek hukum lain yang berlaku di dalam kehidupan. Tanggung jawab kita hanya menghargainya dan mendukungnya sebagai sesama manusia.

β€’β€’β€’
Penulis: Anabel Lerrick - Komisi Bid. Komunikasi IL
β€’β€’β€’
Sumber (gambar cover): Artnet
(artnet.com/artists/george-hinke/pontius-pilate-washes-his-hands-FZdImtKTwLbznrzNnawOwg2)

"Penyangkalan Dalam Pergumulan"NZ NEWS, JAKARTA – GPIB menggunakan Kalender Gerejawi untuk memperkaya spiritualitas umat...
07/04/2023

"Penyangkalan Dalam Pergumulan"

NZ NEWS, JAKARTA – GPIB menggunakan Kalender Gerejawi untuk memperkaya spiritualitas umat. Karena itu, Komisi Teologi Nz menyelenggarakan Penelaahan Alkitab (PenA) mulai Sabtu pertama sesudah Rabu Abu (25/03/2023) hingga Sabtu Sunyi (08/04/2023). PenA mengangkat tema tentang tokoh-tokoh Alkitab yang berperan dalam proses penyaliban Tuhan Yesus. Hasil dalam PenA tersebut, akan menjadi bahan refleksi pada saat Ibadah Keluarga (IK) setiap hari Rabu yang disampaikan oleh beberapa reflektor dari warga jemaat GPIB Nazareth.

Pada minggu IV Pra Paskah, tokoh ketiga yang diangkat untuk dijadikan sebagai bahan refleksi adalah Simon Petrus, hasil PenA Sabtu (15/03/2023) dengan fisiliator Pdt. Margie Ririhena – de Wanna. Bahan refleksi tersebut disampaikan oleh Sdr. Seraya Polii dan Ibu Paula Madethen-Kasenda.

Berdasarkan hasil refleksi dari Sdr. Seraya Polii, Simon Petrus atau Kefas adalah nama yang diberikan Tuhan Yesus kepada salah satu dari dua belas murid-Nya. Ia merupakan seorang nelayan dari Galilea yang diberi posisi sebagai pemimpin oleh Tuhan Yesus. Dari kisah Petrus Sdr. Seraya menyampaikan dua poin besar, yaitu Yesus maha mengetahui dan penyesalan Petrus atas perbuatannya.

Poin pertama yang disampaikan adalah Tuhan Yesus sudah memberi β€œkode” bahwa Petrus akan menyangkal-Nya sebanyak tiga kali. Artinya, setiap kejadian yang kita lakukan, Yesus sudah tahu. Jadi, kita harus tetap berpegang teguh pada iman percaya dan berserah pada kehendakNya apapun yang nanti terjadi. Poin kedua mengenai penyesalan Petrus adalah keadaan umum yang terjadi pada sifat manusia. Atas setiap kesalahan pada Tuhan, selayaknya kita mengaku, menyesal, memohon pengasihan, pengampunan dan bimbingan dari Tuhan.

Di sisi lain, Ibu Paula mengaitkan kisah Simon Petrus ke dalam pengalaman pribadinya, yaitu dalam konteks penyangkalan Tuhan Yesus. Suatu ketika, anaknya pernah mengamati Ibu Paula tidak berdoa sebelum makan. Ketika anaknya bertanya mengapa Ibu Paula tidak berdoa sebelum makan, Ibu Paula menjawab bahwa ia sudah berdoa di dalam hati. Kemudian anaknya menegur dan memberi nasihat kepada Ibu Paula agar selalu berdoa sebelum makan. Hal ini membuat Ibu Paula malu dan sedih karena ia menyadari sebagai orangtua tidak memberikan contoh yang baik kepada anaknya. Ia dengan mudahnya menunjukkan sikap menyangkal Tuhan Yesus dengan tidak mengucap syukur atas berkat yang diberikan oleh Tuhan Yesus melalui makanan yang ia makan.

Mengucap syukur adalah hal yang paling mudah dan paling sederhana untuk kita lakukan sebagai umat manusia, sekaligus sebuah bentuk pengakuan akan keberadaan Tuhan Yesus di dalam hidup kita. Ketika kita lupa atau bahkan enggan untuk bersyukur, kita sama saja menyangkal kehadiran Tuhan Yesus, seperti penyangkalan yang pernah Petrus lakukan saat sebelum Tuhan Yesus disalib. Ketika kita menyadari kesalahan yang kita lakukan tersebut, segeralah mengaku dan memohon pengasihan serta pengampunan dari Tuhan. Tetap berpegang teguh pada iman percaya kita kepada kehendak-Nya untuk semua hal yang akan terjadi nantinya.

β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”
Penulis: Anabel Lerrick - Komisi Bid. Komunikasi IL
β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”
Sumber (gambar cover): Wikipedia
(id.wikipedia.org/wiki/Petrus_menyangkal_Yesus)

06/04/2023
Siapa Sebenarnya Tokoh Hanas?NZ NEWS, JAKARTA – GPIB menggunakan Kalender Gerejawi untuk memperkaya spiritualitas umat. ...
06/04/2023

Siapa Sebenarnya Tokoh Hanas?

NZ NEWS, JAKARTA – GPIB menggunakan Kalender Gerejawi untuk memperkaya spiritualitas umat. Karena itu, Komisi Teologi Nz menyelenggarakan Penelaahan Alkitab (PenA) mulai Sabtu pertama sesudah Rabu Abu (25/03/2023) hingga Sabtu Sunyi (08/04/2023). PenA mengangkat tema tentang tokoh-tokoh Alkitab yang berperan dalam proses penyaliban Tuhan Yesus.
Hasil dalam PenA tersebut, akan menjadi bahan refleksi pada saat Ibadah Keluarga (IK) setiap hari Rabu yang disampaikan oleh beberapa reflektor dari warga jemaat GPIB Nazareth.

Pada minggu V Pra Paskah, tokoh kedua yang diangkat untuk dijadikan sebagai bahan refleksi adalah Hanas, hasil PenA Sabtu (04/03/2023) dengan fisiliator Pdt. Dr. John C. Simon, M.Th, M.Hum. Bahan refleksi tersebut disampaikan oleh Sdr. Mario Piri dan Bpk. James Tumbuan. Lalu siapa sebenarnya tokoh Hanas? Apa peran Hanas dalam proses penyaliban Tuhan Yesus?

Berdasarkan hasil refleksi yang disampaikan oleh Sdr. Mario, Hanas adalah orang yang sangat kaya namun tidak bermoral dan berasal dari kaum Aristokrat Saduki. Hanas mempunyai sifat yang arogan, cerdik, dan ambisius walaupun sebenarnya arti nama Hanas adalah β€œTuhan telah berbelas kasihan”. Tokoh Hanas muncul saat penangkapan Yesus di taman Getsemani. Setelah penangkapan itu, Yesus dibawa menghadap ke Hanas, padahal yang menjadi Imam Besar saat itu adalah Kayafas. Hanas kemungkinan adalah imam yang menginterogasi Yesus di pengadilan. Pengaruh Hanas masih diakui dalam tugas di pengadilan. Hal ini sesuai tradisi hukum Yahudi bahwa Imam Besar adalah jabatan seumur hidup dan Hanas kemungkinan adalah ketua Sanhendrin (Penasehat Imam Besar), dan yang menjabat Imam Besar saat itu adalah Kayafas, yang juga merupakan menantu dari Hanas. Inilah tangan-tangan yang tak terlihat, yaitu kondisi yang menggambarkan ada sosok yang sangat berpengaruh besar, tapi dia bermain di belakang layar. Orang ini mempunyai pengaruh yang sangat besar, sehingga mampu menekan penguasa yang sedang menjabat untuk memenuhi keinginannya.

Poin refleksi berikutnya disampaikan oleh Bpk. James, Hanas yang digambarkan sebagai tokoh yang korup dan contoh buruk bagi anak-anaknya. Hal ini dibuktikan oleh adanya kegiatan perdagangan hewan korban di sekitar bait suci Allah, dimana hal ini membuat Tuhan Yesus sangat marah saat melihat hal itu terjadi. Perilaku Hanas jelas menjadi introspeksi diri bagi kita sebagai orang tua ataupun sebagai warga gereja pada umumnya. Apakah GPIB Nazareth sebagai bait suci kita untuk bersekutu dengan umat Allah telah cukup melengkapi jemaatnya agar setiap orang tua dapat menjadi contoh hidup taat kepada Tuhan? Apakah Imam Besar kita di GPIB Nazareth, yang dalam hal ini adalah para Presbiter, telah memberi contoh hidup taat kepada ajaran Tuhan Yesus? Lalu bagian mana dalam kehidupan kita yang perlu diperbaiki agar kita bisa hidup taat dan tidak seperti pribadi Hanas? Ini adalah sebagian pertanyaan yang harus dijawab, baik secara pribadi maupun secara bersama, agar proses perbaikan diri dapat kita lakukan untuk lebih taat kepada Tuhan Yesus.

β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”
Penulis: Anabel Lerrick - Komisi Bid. Komunikasi IL
β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”
Sumber (gambar cover): All Saints Anglican Church
(www.allsaintscville.org/sermon-trinity-vi/jesus-arrest/)

β€œAdakah Tokoh Yudas Iskariot di Masa Kini?”NZ NEWS, JAKARTA – GPIB menggunakan Kalender Gerejawi untuk memperkaya spirit...
05/04/2023

β€œAdakah Tokoh Yudas Iskariot di Masa Kini?”

NZ NEWS, JAKARTA – GPIB menggunakan Kalender Gerejawi untuk memperkaya spiritualitas umat. Karena itu, Komisi Teologi Nz melakukan Penelaahan Alkitab (PenA) mulai Sabtu pertama sesudah Rabu Abu (25/03/2023) hingga Sabtu Sunyi (08/04/2023). PenA mengangkat tema tentang tokoh-tokoh Alkitab yang berperan dalam proses penyaliban Tuhan Yesus. Hasil dalam PenA tersebut, akan menjadi bahan refleksi pada saat Ibadah Keluarga (IK) setiap hari Rabu yang disampaikan oleh beberapa reflektor dari warga jemaat GPIB Nazareth.

Pada minggu VI Pra Paskah, Tokoh pertama yang diangkat untuk dijadikan sebagai bahan refleksi adalah Yudas Iskariot. Hasil PenA Sabtu (25/02/2023) dengan fisiliator Pdt. Jeniffer F.P Pelupessy-Wowor, M.A. Bahan refleksi tersebut disampaikan oleh Adik Leticia Dimu Hau, Sdri. Venomenia Kiriwenno, Ibu Lisbeth Hutapea, dan Bpk. Jefriansen Damanik.

Yudas Iskariot dikenal sebagai salah satu murid Tuhan Yesus yang berkhianat dan dengan tega menjual Tuhan Yesus kepada ahli Taurat yang berhati bejat. Bahkan anak sekecil Leticia menyampaikan pandangan serupa, yaitu Yudas Iskariot adalah murid yang tidak baik. Sdri. Venomenia dan Ibu Lisbeth mengatakan bahwa Yudas adalah orang yang sangat mencintai uang dan menjual Tuhan Yesus hanya dengan imbalan tiga keping perak. Yudas Iskariot memiliki mulut manis namun berhati busuk, ia selalu mencuri uang kas yang dipegangnya sebagai bendahara kepercayaan Tuhan Yesus. Menurut Bpk. Damanik, Yudas yang telah mengkhianati Tuhan Yesus dengan semua sikap buruknya adalah masa lalu dan kita tidak perlu lagi menghakimi Yudas. Tetapi dari semua sikap buruk Yudas Iskariot, seperti tidak jujur, s**a korupsi, menyangkal Tuhannya, berkhianat, dan lain-lain, menyadari kesalahan dari perbuatannya di masa akhir hidupnya. Ia pun mengakui semua dosa-dosanya dan pada akhirnya mati dengan penuh rasa bersalah.

Pada refleksi Ibu Lisbeth, kisah Yudas Iskariot mengajarkan para orang tua untuk membentuk karakter anak dengan menanamkan kejujuran dan tidak gila jabatan. Meski era Yudas sudah berlalu sangat jauh, tetapi tidak menutup kemungkinan terdapat orang-orang seperti Yudas di masa kini. Seperti yang disampaikan oleh Bpk. Damanik, jangan-jangan kita adalah Yudas di masa kini. Kita menggunakan berbagai alasan dan cara untuk menyangkal Tuhan Yesus. Mari kita perhatikan, adakah Yudas di sekitar kita? Apakah di tempat bekerja kita bisa menyangkal Tuhan dengan alasan pekerjaan dan jabatan untuk mendapatkan kekayaan, dengan cara mencuri atau korupsi? Lalu adakah Yudas di lingkungan keluarga kita? Untuk mendapatkan pasangan hidup, kita terpaksa meninggalkan Tuhan Yesus. Adakah Yudas di lingkungan gereja kita yang memiliki mulut manis namun berhati busuk? Kita yang percaya Yesus saat ini bisa belajar dari pengalaman hidup Yudas masa lalu agar jangan ada lagi tokoh seperti Yudas di masa kini.

Keadaan kita saat ini juga sama, yakni sama-sama telah berdosa kepada Tuhan. Bagaimana reaksi dan tindakan kita? Bagi yang pernah mengkhianati Yesus jangan hanya menyesal, tetapi juga bertobatlah. Mohon ampun kepada Tuhan dan kembalilah ke jalan yang benar mengikut Yesus. Bantu dan doakanlah orang-orang di sekitar kita untuk tidak menjadi Yudas masa kini.

β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”
Penulis: Anabel Lerrick - Komisi Bid. Komunikasi IL
β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”
Sumber (gambar cover): Lihtaryk (lihtaryk.com.ua/dzhotto-di-bondone/)

Address

Jalan Sunan Drajat No. 27-29, Rawamangun
Jakarta
13220

Opening Hours

Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 09:00
Friday 09:00 - 17:00
Saturday 09:00 - 17:00
Sunday 09:00 - 17:00
18:00 - 19:00

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when GPIB Nazareth posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to GPIB Nazareth:

Share