AG TV

AG TV Ali Imran : 19) https://sociabuzz.com/agtelevision
untuk berbagi kopi

Media Pendidikan Agama & Da'wah
sarana diskusi agama
Silahkan Share kepada Kawan, Saudara & Keluarga
AG TV = AGama TeleVisi
Agama hanya 1= Islam
Sesungguhnya Agama di Sisi ALLAH ialah Islam (QS.

Di Kondisi Sulit, Perlu Nggak Sih Nanya Agama & Status Dulu?​Belakangan muncul diskusi soal kalimat "Di kondisi sulit ti...
05/09/2026

Di Kondisi Sulit, Perlu Nggak Sih Nanya Agama & Status Dulu?

​Belakangan muncul diskusi soal kalimat
"Di kondisi sulit tidak perlu bertanya agamamu apa, cukup kemanusiaan."

​Diskusi makin tajam ketika muncul kecurigaan, jangan-jangan ini akal-akalan kelompok liberal/sekuler (SIPILIS) buat menyudutkan Islam atau alat framing Islamophobia?

​Mari kita bedah secara objektif, lengkap dengan panduan dalil sahih agar kita tidak terjebak dalam framing, tapi juga tidak kehilangan adab:

​1️⃣. Islam Mengajarkan Kemanusiaan & Tolong-Menolong Tanpa Pandang Bulu (Kecuali Musuh yang Memerangi)
Islam tidak perlu menunggu diajarkan oleh paham sekuler atau liberal untuk menjadi humanis.
Al-Qur'an sudah menegaskan bagaimana kita harus bersikap kepada sesama manusia dalam urusan muamalah dan sosial.
​🔊 "Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (p**a) mengusir kamu dari negerimu.
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil."
(QS. Al-Mumtahanah: 8)
​Ayat ini sangat jelas. Selama orang tersebut bukan kombatan yang memerangi umat Islam, berbuat baik, adil, dan menolong mereka dalam urusan kemanusiaan adalah hal yang dianjurkan.

​2️⃣. Bahkan, Menolong Hewan Saja Bernilai Pahala, Apalagi Nyawa Manusia
Dalam kondisi darurat (seperti kelaparan, musibah, atau kecelakaan), menyelamatkan nyawa adalah prioritas utama dalam Islam (prinsip hifzhun nafs / penjagaan jiwa). Bahkan, dalam hadis sahih, kebaikan kepada makhluk hidup secara umum mendatangkan ampunan Allah

​🔊 Rasulullah SAW bersabda,
“Ada seorang pelacur yang melihat seekor anjing di hari yang panas mengitari sebuah sumur sambil menjulurkan lidahnya karena kehausan.
Maka wanita itu melepas sepatunya lalu mengambil air dengannya (untuk memberi minum anjing tersebut), maka Allah mengampuni dosanya karena perbuatan itu.” (HR. Muslim no. 2245)

​Renungan Jika saja menolong anjing yang kehausan bisa menjadi sebab diampuninya dosa seorang pendosa, bagaimana lagi dengan menolong manusia yang sedang berada di ambang penderitaan ekstrem?

​3️⃣. Waspada Framing & Islamophobia, tapi Jangan Hilang Akal Sehat

Kecurigaan bahwa narasi "kemanusiaan tanpa batas" kadang dijadikan alat pukul untuk mendiskreditkan syariat Islam (standar ganda kaum sekuler) memang ada dasarnya.
Sering kali Islam dipojokkan seolah kejam, padahal umat Islam adalah yang paling depan dalam aksi kemanusiaan global.

​Namun, kita harus bisa membedakan antara jebakan ideologis dan panggilan nurani. Ketika ada manusia yang butuh pertolongan darurat di depan mata kita, perintah agama kita adalah menolongnya.

Kita menolong bukan demi mengikuti standar kelompok liberal, melainkan karena kita sedang menjalankan perintah Allah untuk memuliakan anak cucu Adam
(QS. Al-Isra': 70).

​Kesimp**an:

Jangan sampai ketakutan kita terhadap sebuah "paham" membuat kita kehilangan empati dasar sebagai seorang Muslim.

Islam adalah agama yang utuh, tegas dalam akidah, tapi sangat luhur dan welas asih dalam urusan kemanusiaan.

​Bagaimana menurut teman-teman? Yuk, diskusikan secara santai dan santun di kolom komentar! 👇




🚫 HATI-HATI! NIAT BAIK TIDAK CUKUP JIKA MENINGGALKAN SUNNAH 🚫​Sahabat fillah, pernahkah mendengar kisah 3 orang sahabat ...
03/09/2026

🚫 HATI-HATI! NIAT BAIK TIDAK CUKUP JIKA MENINGGALKAN SUNNAH 🚫

​Sahabat fillah, pernahkah mendengar kisah 3 orang sahabat yang mendatangi rumah Nabi SAW?

​Mereka merasa ibadah mereka masih sangat sedikit dibanding Rasulullah.
Maka, dengan niat yang murni karena ingin taqwa, mereka membuat tekad yang luar biasa (di mata kita):

​1️⃣ Satu orang ingin Shalat Malam selamanya tanpa tidur.
2️⃣ Satu orang ingin Puasa setiap hari tanpa berbuka selamanya.
3️⃣ Satu orang ingin tidak akan menikah agar bisa fokus ibadah.

​👉 Dilihat sekilas, niat mereka MULIA. Mereka ingin pol-polan ibadah.
Tapi tahukah apa reaksi Nabi SAW? Beliau MARAH! 😠

​Mengapa?

Karena mereka telah melewati batas dan Ghuluw (berlebih-lebihan). Nabi SAW bersabda:
​"...Maka siapa yang membenci Sunnahku, dia bukanlah dari golonganku." (HR. Bukhari no. 5063 & Muslim no. 1401)

​Sahabat, Sunnah Nabi SAW bukan hanya Shalat & Puasa.

Sunnah adalah jalan hidup beliau yang sempurna yakni beribadah tapi juga menjaga hak tubuh, istirahat, dan berumah tangga.

​Inilah Akar Bidah yaitu menganggap suatu cara ibadah lebih baik atau lebih khusus daripada contoh yang diberikan oleh Rasulullah.

​Kualitas ibadah bukan hanya dilihat dari kuantitasnya, tapi seberapa sesuai ia dengan TUNTUNAN NABI SAW.

​Ayo, kita koreksi diri. Jangan sampai kita berniat baik, tapi malah tertolak amalannya karena tak mengikuti petunjuk Nabi.

​👇 Cek dalil lengkapnya di poster di bawah!




​

Banyak dari kita sering kagum melihat orang yang tak henti-hentinya shalat malam atau berpuasa sunnah setiap hari. Namun...
01/09/2026

Banyak dari kita sering kagum melihat orang yang tak henti-hentinya shalat malam atau berpuasa sunnah setiap hari.

Namun, tahukah kamu bagaimana Rasulullah ﷺ menilai kedudukan orang yang menyibukkan diri dengan ilmu syar'i dibanding hanya berfokus pada ibadah fisik?

​Rasulullah ﷺ bersabda:

​"Keutamaan ilmu lebih aku sukai daripada keutamaan ibadah, dan agama kalian yang paling baik adalah al-wara' (kehati-hatian dari dosa)."

(HR. Al-Hakim, Al-Bazzar & Ath-Thabrani. Disahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

​💡 Mengapa Ahli Ilmu Lebih Tinggi Derajatnya?

​1️⃣ Cahaya untuk Orang Banyak (Muta'addi)

Ibnu Darda' RA meriwayatkan bahwa keutamaan orang berilmu atas ahli ibadah itu bagaikan bulan purnama di atas bintang-bintang.
Bintang memang bersinar, tapi hanya untuk dirinya sendiri.
Sedangkan bulan purnama memberi petunjuk arah bagi seluruh bumi di tengah gelapnya malam.

​2️⃣ Benteng dari Kesesatan

Ahli ibadah tanpa ilmu mudah terkecoh oleh syubhat atau amalan tanpa tuntunan. Sebaliknya, pemahaman (fikh) melengkapi seorang hamba dengan perisai untuk membedakan mana kebenaran dan kebathilan.

​3️⃣ Tanda Kebaikan dari Allah

​"Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah akan berikan kefahaman (fikh) mendalam dalam agama." (HR. Bukhari & Muslim)

​📌 Pelajaran Penting:

Bukan berarti ibadah itu tidak penting, melainkan ilmulah yang menjadi ruh dan pondasi keabsahan ibadah kita.

Shalat, puasa, dan zakat tanpa ilmu berisiko sia-sia.

​Yuk, luangkan waktu setiap hari untuk menuntut ilmu—baik lewat majelis, membaca buku agama yang mu'tabar, atau mendengarkan kajian para ulama yang terpercaya!

​👇 Bagikan postingan ini jika bermanfaat untuk menjadi ladang pahala jariyahmu!




​ 'i

📌 Lisan Terpeleset, Umat Terbelah? Menimbang Blunder Dakwah dalam Kaca Mata Salaf​Pernahkah kita melihat seorang ustadz ...
30/08/2026

📌 Lisan Terpeleset, Umat Terbelah? Menimbang Blunder Dakwah dalam Kaca Mata Salaf

​Pernahkah kita melihat seorang ustadz atau dai terpeleset lisan saat berdakwah?

​Di era media sosial hari ini, tangkapan layar dan potongan video 15 detik bisa dengan cepat berbuntut ke heboh nasional.

Sebagian orang langsung buru-buru menyebarkan tahzir (peringatan) secara terbuka, sementara sebagian lagi sibuk membela mati-matian.

​Lantas, bagaimana para Salafus Shalih menyikapi blunder dan kesalahan dalam dakwah secara adil?

​🔹 1. Hukum Asal yaitu Menasihati Secara Rahasia (Nashihat Sirriyyah)

​Imam Asy-Syafi'i rahimahullah pernah berwasiat:

​"Barangsiapa menasihatimu secara tersembunyi, maka ia sungguh telah menasihati dan menghiasimu.
Namun barangsiapa menasihatimu di hadapan khalayak ramai, maka ia telah membongkar aibmu dan menelanjangimu."

​Jika kesalahan terjadi karena keterlanjuran lisan, kurang tepat memilih kata, atau kekhilafan dai yang lurus akidahnya, para salaf mengedepankan tabayyun dan nasihat empat mata.
Menjaga keutamaan dan nama baik dai adalah bagian dari menjaga kehormatan dakwah itu sendiri.

​🔹 2. Kapan Tahzir Terbuka (Tahzir 'Alaniyyah) Menjadi Perlu?

​Para Salaf tidak membiarkan kekeliruan merusak pemahaman umat.

Peringatan terbuka dilakukan jika memenuhi kriteria ketat:

​Paham Tersebar Luasnya Kesalahan akidah/penyesatan yang dipublikasikan secara masif dan berpotensi menyesatkan masyarakat umum.

​Membangkang setelah Dinasihati dimana Pelaku bersikap sombong, menolak koreksi, atau justru aktif membela kesalahannya.

​Bukan Ahlinya yaitu Orang bodoh (jahil) yang nekat tampil menyampaikan syubhat tanpa dasar ilmu.

​Tujuan tahzir terbuka bukan untuk menjatuhkan personal, melainkan Himayatud Din (melindungi agama dan membentengi umat dari pemahaman yang keliru).

​💡 Catatan Penting untuk Kita:

​Jangan sampai niat kita "membela sunnah" justru berubah menjadi melampiaskan emosi dan membongkar aib saudara sendiri.
Selalu timbang maslahat dan mudharat sebelum membagikan tulisan atau kritik di media sosial.
​ilmu + kelembutan = hikmah.




​

Memang menggelitik kalau ada yang mengaku "lama ngaji" tapi cara menyimpulkan masalahnya justru terkesan menyederhanakan...
27/08/2026

Memang menggelitik kalau ada yang mengaku "lama ngaji" tapi cara menyimpulkan masalahnya justru terkesan menyederhanakan peta pemikiran para ulama.
Ngaku dulu salafi sekarang mengagumi asyari, memuji idrus ramli ,lagu lama kaset kusut.

​​Pernyataannya bahwa maulid adalah masalah khilafiyah memang tidak salah secara umum dalam diskursus fikih lintas mazhab, karena mayoritas ulama (seperti Imam As-Suyuthi dan Ibn Hajar) membolehkannya dengan syarat tertentu.

Namun, mengaitkan hal ini dengan dakwah Salafi menunjukkan kurangnya pemahaman terhadap metodologi (manhaj) mereka.

​Prinsip Manhaj Salafi dimana Ustadz-ustadz bermanhaj Salaf melarang peringatan maulid bukan karena "ikut arus mainstream salafi" atau tidak tahu adanya perbedaan pendapat.

Pendekatan mereka berpatokan pada kaidah ittiba' (meneladani) dimana jika suatu amalan ibadah/keagamaan tidak dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ, Para Sahabat, maupun generasi Salafus Shalih (tiga generasi terbaik), maka amalan tersebut tidak dijadikan ritual rutin, terlepas dari seberapa banyak orang yang melakukannya saat ini.

​Konsep Khilafiyah vs. Muta'atibar

Tidak semua perbedaan pendapat (khilaf) memiliki bobot yang sama (mu'tabar).
Bagi kalangan Salafi, ritual keagamaan yang baru muncul bertahun-tahun setelah masa sahabat tidak dikategorikan sebagai khilaf yang bisa ditoleransi dalam bab tata cara peribadatan (ta'abbudi).

​Bukan Masalah "Ikut-Ikutan" bahkan menuduh para dai atau ustaz baru hanya "ikut arus" justru menunjukkan kenaifan.

​Ulama Salaf melarang amalan ibadah rutin yang tidak ada contohnya dari Nabi ﷺ dan para Sahabat bukan karena tidak tahu ada khilaf, melainkan karena mereka memilih prinsip 'ittiba' (mengikuti dalil terkuat dan contoh generasi terbaik) daripada sekadar bertoleransi pada hal yang baru dalam agama.

Jadi ittiba kedudukannya diatas bermazhab

Jadi ini soal konsistensi metodologi dalil, bukan ikut-ikutan."




Seringkali kita mendengar alasan,"Ini sudah tradisi nenek moyang kita," sebagai pembenaran atas sebuah praktik ibadah at...
26/08/2026

Seringkali kita mendengar alasan,

"Ini sudah tradisi nenek moyang kita," sebagai pembenaran atas sebuah praktik ibadah atau ritual.
Padahal, Allah SWT telah memperingatkan kita agar tidak sekadar ikut-ikutan tanpa dalil yang benar.

Allah SWT berfirman tentang orang-orang yang tetap berpegang pada tradisi nenek moyang meskipun mereka berada dalam kesesatan

​"Dan apabila dikatakan kepada mereka: 'Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,' mereka menjawab: '(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.' (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?"
(QS. Al-Baqarah: 170)

​Poin Penting untuk Renungan:

​Tradisi Bukanlah Dalil, Kebiasaan atau adat istiadat (tradisi) tidak bisa dijadikan standar kebenaran dalam perkara agama jika tidak memiliki dasar syariat dari Al-Qur'an dan Sunnah.
​Kritis terhadap Ilmu, Jika nenek moyang kita dahulu melakukan sesuatu tanpa petunjuk ilmu (wahyu), maka mengikuti mereka justru menjerumuskan kita ke dalam kesesatan yang sama.

​Prioritaskan Syariat dimana Islam datang untuk memurnikan tauhid.
Rasulullah SAW adalah satu-satunya teladan dalam beribadah.
Apa yang tidak disyariatkan beliau, maka itu bukanlah bagian dari agama kita.
​Mari kita berani untuk bersikap kritis dan kembali kepada ajaran murni Nabi Muhammad SAW.

Tradisi yang baik adalah yang sejalan dengan syariat, dan tradisi yang menyimpang wajib ditinggalkan.

Yuk Berpikir mendalam tentang ini jangan sampai karena kesalahan Kakek Nenek Moyang kita maka kita mewariskannya




​

📌 Hanya Ada Dua Hari Raya dalam Islam​Meninjau Batasan Perayaan, Tasyabuh, & Hak Tetangga​1. Hanya Ada 2 Hari Raya Resmi...
19/08/2026

📌 Hanya Ada Dua Hari Raya dalam Islam

​Meninjau Batasan Perayaan, Tasyabuh, & Hak Tetangga

​1. Hanya Ada 2 Hari Raya Resmi

​Dalam Islam, perayaan hari besar yang bersifat ibadah/ritual hanya ada dua. Di luar itu, tidak ada contoh pensyariatan hari raya baru.

Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata: "Dulu bangsa Jahiliyah memiliki dua hari dalam setahun di mana mereka bermain-main di dalamnya. Ketika Nabi SAW datang ke Madinah, beliau bersabda:
'Dulu kalian memiliki dua hari yang kalian isi dengan bermain-main. Padahal Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik darinya, yaitu Hari Raya Idulfitri dan Hari Raya Iduladha.'"
(HR. Abu Dawud no. 1134, An-Nasa'i no. 1556; disahihkan oleh Al-Albani).

​2. Ketiadaan Contoh & Ancaman Bidah

​Rasulullah SAW dan Salafusshalih tidak pernah merayakan maulid, tahun baru islam, isra miraj, dan perayaan2 lainnya.

Menciptakan ritual ibadah baru bertentangan dengan prinsip ketundukan mutlak pada sunnah.
​
"Barangsiapa yang membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak." (HR. Bukhari no. 2697 & Muslim no. 1718).

​3. Unsur Tasyabuh (Menyerupai Tradisi Lain)

​Mengkhususkan hari kelahiran tokoh tertentu untuk dirayakan secara ritual menyerupai kebiasaan di luar Islam.

Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka."
(HR. Abu Dawud no. 4031).

​4. Menjaga Hak Tetangga

​Keramaian acara seremonial, pengeras suara berlebihan, hingga penutupan jalan sering kali mengganggu ketenangan dan menyakiti tetangga sekitar.
​
"Demi Allah, tidak beriman! ... Orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatannya." (HR. Bukhari no. 6016).

​✨ Kesimp**an

​Cinta kepada Nabi Muhammad SAW dibuktikan dengan mengikuti sunnah dan batasan syariat, bukan dengan mengadakan perayaan baru yang tidak dicontohkan.

​Bagaimana pandangan Anda tentang pentingnya tetap berpegang pada dua hari raya yang telah ditetapkan syariat?




Sering kali ada stereotip keliru bahwa makin paham agama seseorang, makin kaku, suram, atau "menjauhi dunia" cara hidupn...
18/08/2026

Sering kali ada stereotip keliru bahwa makin paham agama seseorang, makin kaku, suram, atau "menjauhi dunia" cara hidupnya.
Dugaan/prasangka Ini tidakkah benar

Padahal, pemahaman agama (tafaqquh fiddin) yang mendalam justru melahirkan pribadi yang seimbang, hangat, dan penuh kedamaian.

​2 poin utama mengapa pemahaman agama yang benar justru membuat seseorang tetap bisa menikmati hidup dan menjadi pribadi yang menyenangkan:

​1️⃣. Agama Diajarkan Lewat Akhlak yang Menyenangkan

​Rasulullah sendiri dikenal sebagai pribadi yang humoris, sering tersenyum, hangat pada anak-anak, serta menghargai keindahan.

Pemahaman agama yang utuh menekankan bahwa akhlak mulia adalah cerminan utama iman.

Orang yang paham agama justru menjadi sosok yang paling ramah, fleksibel, dan enak diajak berinteraksi.

​2️⃣. Menikmati Dunia yang Halal Adalah Bagian dari Ibadah

​Islam tidak menyuruh pemeluknya membuang dunia, melainkan menempatkan dunia di tangan, bukan di hati.

​Menikmati makanan lezat, menekuni hobi, bersantai bersama keluarga, hingga meraih prestasi adalah hal yang dianjurkan selama dalam batasan halal.

​Niat yang benar membuat aktivitas duniawi yang menyenangkan berbuah pahala.

​Ketika seseorang paham agama dengan benar, ia tidak akan menjadi ekstrem kiri (menjauhi dunia sepenuhnya) atau ekstrem kanan (tenggelam dalam dunia tanpa aturan).

Ia menjadi pribadi yang tawazun (seimbang) taat kepada ALLAH, berguna bagi sesama, dan tetap tahu caranya menikmati keindahan hidup.

​Menurut Anda, apa tantangan terbesar yang paling sering membuat orang merasa ragu atau takut untuk mulai belajar agama lebih dalam saat ini?




🛑 Berhenti Sejenak merenung Sudahkah Kita Bijak Mengelola Titipan-Nya? 🛑​Pernahkah kita merasa rezeki selalu cepat habis...
13/08/2026

🛑 Berhenti Sejenak merenung
Sudahkah Kita Bijak Mengelola Titipan-Nya? 🛑

​Pernahkah kita merasa rezeki selalu cepat habis padahal pendapatan dirasa cukup?

Mungkin saatnya kita merenung dan mengevaluasi gaya hidup kita sehari-hari. 💭
​Seperti pengingat penting dalam gambar poster di bawah, mari kita kembali melatih diri untuk tidak berlebihan dan boros dalam makan, minum, maupun belanja.

​Agama kita telah mengatur pedoman yang indah agar kita tidak terjebak dalam sifat konsumtif. Allah ﷻ secara tegas melarang sifat berlebihan (israf) dan menghamburkan harta (tabdzir):

​📖 Larangan Berlebihan Makan & Minum:

​"Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan."
(QS. Al-A'raf: 31)

​📖 Larangan Bersifat Boros:

​"Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya."
(QS. Al-Isra': 26-27)

​Di era modern yang serba mudah ini, godaan belanja sangatlah besar.
Padahal, kunci utama ketenangan finansial sejati adalah memiliki sifat Qana'ah—yaitu merasa cukup dan ridha atas rezeki yang telah Allah gariskan.

​Rasulullah ﷺ memberikan kabar gembira bagi mereka yang hidup qana'ah:

​"Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya merasa puas (qana'ah) dengan apa yang diberikan kepadanya."
(HR. Muslim no. 1054 Shahih] ✨

​Ingatlah selalu, keberkahan harta bukan terletak pada banyaknya jumlah, tetapi pada cara kita menggunakannya.

​Mari ubah prioritas pengeluaran kita dari sekadar menuruti hawa nafsu duniawi, menjadi investasi abadi untuk akhirat:

​🕌 Mendukung dakwah Islam agar kebaikan terus tersebar.

​🤲 Memperbanyak sedekah untuk meringankan beban sesama.

​🌱 Membangun amal jariyah yang pahalanya akan terus mengalir meski kita telah tiada.

​Semoga Allah SWT senantiasa melembutkan hati kita untuk menjadi hamba yang pandai bersyukur, memiliki sifat qana'ah, dan bijaksana dalam mengelola setiap keping rezeki yang dititipkan-Nya. Aamiin Yaa Rabbal 'Aalamiin. 🤲
​



Seringkali kita berhadapan dengan orang—bahkan orang terdekat seperti orang tua atau rekan kerja—yang tidak pernah mau d...
10/08/2026

Seringkali kita berhadapan dengan orang—bahkan orang terdekat seperti orang tua atau rekan kerja—yang tidak pernah mau disalahkan dan enggan meminta maaf.

Saat ditegur, mereka pandai berkelit, memutarbalikkan fakta, atau menyalahkan balik.

​Sebenarnya, apa pandangan Islam terhadap karakter seperti ini? Mari kita renungkan bersama.

​📌 1. Menolak Kebenaran itu Kesombongan (Kibr)
Rasulullah SAW bersabda,
“Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”
(HR. Muslim).

Sikap enggan mengakui kesalahan, terutama saat sudah ditunjukkan kebenaran secara santun, adalah bentuk kesombongan.

Ini bertentangan dengan hakikat Islam yang berarti ketundukan hati.

​📌 2. Tidak Fair Adalah Kezaliman (Dzulm)
Allah SWT memerintahkan kita untuk menegakkan keadilan, bahkan terhadap diri sendiri, kerabat, atau pihak yang tidak kita sukai.
Bertindak berat sebelah dan tidak fair adalah perbuatan zalim yang dampaknya sangat berat di akhirat.

​📌 3. Ciri Kemunafikan dalam Perbuatan
Ketika berselisih, orang yang enggan disalahkan seringkali memenuhi ciri munafik amali: "...dan apabila berbantah/berselisih ia berbuat curang (fajara)."

Mereka memutarbalikkan narasi (gaslighting) demi mempertahankan gengsi.

​💡 Catatan Penting

Bodoh dan Keras Kepala Bukanlah Tameng!
Banyak yang beralasan, "Ya maklum, dia kan bodoh/keras wataknya."

Ketidaktahuan yang diudzurkan adalah yang benar-benar tidak tahu dan tidak mampu mengakses ilmu.

Namun, jika ketidaktahuan itu karena enggan belajar dan menolak nasihat karena gengsi, maka dosa tetap melekat.

Watak keras adalah ujian, bukan alasan untuk menzalimi orang lain.

​Semoga kita dijauhkan dari sifat-sifat ini dan diberikan taufik untuk selalu memiliki kerendahan hati (tawadhu') serta keberanian untuk mengakui kesalahan dan memperbaiki diri.

​Aamiin.




​

Address

Jakarta

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when AG TV posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to AG TV:

Shortcuts

Share