04/06/2026
Siapa yang Bertanggung Jawab Mengajarkan Jalan Tuhan kepada Anak?
Oleh Patricia Batten
Pernahkah Anda merasa kesulitan mengajari anak Anda tentang Tuhan dan iman Kristen? Saya pernah, bahkan sering sekali.
Suatu pagi, saat anak saya yang berusia tiga tahun melangkah ke dapur dengan ogah-ogahan, saya langsung tahu ada yang salah, karena biasanya ia lincah dan banyak tingkah. Lalu, saya mendengarnya: ia sedang pilek.
Putra saya mendekat sambil mengangkat hidungnya tinggi-tinggi. “Lihat, ma,” katanya. “Aku pilek.” Hidungnya kemerahan dan berkerak, juga mampat dan meler. “Mama mau dengar?” lanjutnya. (Ya, tentu saja. Ibu mana yang tidak mau mendengar suara hidung tersumbat?)
“Ya, nak,” saya membalasnya sambil berusaha mengumpulkan semangat. “Coba, seperti apa bunyinya.”
Anak saya kemudian mengangkat bahu hingga mendekati telinganya, seolah-olah ingin menghisap semua udara di dapur. Namun, musuhnya “Si Mampat” menghalangi usahanya. Hidungnya yang mampat melawan aliran udara yang masuk dan menolaknya. Pilek menang telak.
“Tuh, kan, hidungku mampat,” gumamnya.
Lalu, si bocah mengatakan sesuatu yang tidak bisa saya lupakan: “Tuhan tidak dengar doaku tadi malam.”
“Oh, ya?” jawab saya.
“Ya, ma. Aku sudah minta Tuhan sembuhkan aku dari pilek. Tapi aku masih sakit. Tuhan tidak dengar doaku. Kenapa begitu, ya?”
Anak dengan p**i merah dan mata yang mengantuk ini, di usianya yang belum cukup untuk masuk TK, merasa kecewa kepada Tuhan, dan meminta jawaban dari saya. Saya pun hanya bisa mengeluh dan diam-diam protes kepada Allah: Mengapa tidak Engkau sembuhkan pileknya, Tuhan? Atau paling tidak meringankannya? Aku sedang berusaha mengajarinya tentang Engkau. Ia sudah berdoa kepada-Mu! Andai Engkau menyembuhkan pileknya, ia akan tahu Engkau itu benar ada dan mengasihinya. Ia juga akan memuji-Mu. Jadi sekarang, bagaimana aku harus menjawabnya?
Walau pernah bertahun-tahun belajar teologi secara formal, saya menyadari bahwa saya tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan jujur dari anak saya sendiri. Saya hanya bisa memberikan jawaban seadanya sebelum kemudian memikirkannya selama 48 jam. Saya merasa kalah. Apakah saya gagal mengajarkan iman kepadanya?
Perintah yang Menantang
Bagaimana dengan Anda? Pernahkah Anda menjawab pertanyaan jujur dengan seadanya (atau mempertanyakan jawaban Anda sendiri)? Pernahkah Anda berpikir jangan-jangan jawaban yang Anda berikan itu kurang tepat?
Sejak zaman Musa hidup, Allah sudah memerintahkan para orang tua untuk mengajarkan iman kepada anak-anak mereka.
Pada saat-saat seperti itu, mungkin Anda terpikir bahwa sebaiknya orang tua menyerahkan masalah pengajaran iman kepada para ahli agama—pendeta, pengkhotbah, pembina rohani, atau guru sekolah Minggu.
Akan tetapi, sejak zaman Musa hidup, Allah sudah memerintahkan para orang tua untuk mengajarkan iman kepada anak-anak mereka.
Sebelum umat Israel memasuki tanah perjanjian, Musa mengingatkan mereka pada perintah dan hukum Allah, dengan berkata: “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun” (Ulangan 6:6-7).
Ucapan Musa menegaskan bahwa orang tua bertanggung jawab atas pendidikan iman anak-anaknya. Mandat bagi para ibu dan ayah sudah jelas: Ajari anak-anak tentang Allah.
Saya membayangkan banyak ibu dan ayah merasakan beratnya tanggung jawab yang mereka emban. Mengajarkan perintah Tuhan secara berulang-ulang kepada anak-anak? Bagaimana caranya?
Selain itu, kata-kata “mengajarkan berulang-ulang” menyiratkan ketajaman dan kedalaman. Bayangkanlah ini seperti mengukir Sepuluh Perintah Allah pada loh-loh batu. Pengajaran tersebut tidak akan membekas dalam semalam; tetapi perlu diulang-ulang, sedikit demi sedikit, untuk membentuk kesan yang mendalam dan tahan lama.
Kita tidak sedang mengukir daftar panjang aturan dan peraturan pada diri anak-anak kita, melainkan menanamkan kasih kepada Allah sebagai tanggapan terhadap kasih karunia-Nya.
Sebagai orang tua Kristen di abad ke-21, kita mengemban tanggung jawab yang sama untuk meneruskan iman kepada anak-anak kita. Namun, ada beberapa perbedaan.
Pertama, orang tua masa kini hidup di bawah kasih karunia, bukan di bawah hukum Taurat. Kita tidak sedang mengukir daftar panjang aturan dan peraturan pada diri anak-anak kita, melainkan menanamkan kasih kepada Allah sebagai tanggapan terhadap kasih karunia-Nya.
Kedua, kita tidak memikul tanggung jawab ini sendirian. Roh Kudus membimbing dan menguatkan kita di setiap langkah kita.
* * *
Ketika putra saya bertanya mengapa Tuhan tidak menjawab doanya dengan menyembuhkan pileknya, saya terdiam. Saya sempat kecewa pada diri saya sendiri. Saya berpikir, bagaimana bisa saya membesarkan anak-anak saya dalam iman jika menjawab pertanyaan mengenai pilek yang tidak sembuh-sembuh saja saya tidak mampu?
Lalu saya pun tersadar: putra saya telah berdoa sendiri kepada Allah! Anak berusia tiga tahun itu datang kepada Tuhan dalam doa dan meminta pertolongan-Nya. Dari mana ia belajar melakukan hal itu? Dari saya. Saya, orang tua yang tidak sempurna, tetapi yang telah diajar tentang Allah dan menyadari kebutuhan kami akan Dia.
Ketika Allah sungguh-sungguh hidup di dalam hati Anda, anak-anak akan belajar tentang Dia dari Anda.
Renungkan
Luangkan waktu untuk merenungkan Ulangan 6:20-25. Bagaimana cara Anda menerapkan instruksi-instruksi dalam perikop tersebut pada masa kini?
Bagaimana perasaan Anda tentang tanggung jawab untuk mengajari anak-anak Anda tentang Allah? Mintalah hikmat dari Allah dalam upaya Anda mengajarkan jalan Tuhan secara berulang-ulang kepada anak-anak Anda.
Dikutip dan diadaptasi dari Seri Terang Ilahi, Membesarkan Anak yang Mengenal dan Mengasihi Tuhan oleh Patricia Batten, terbitan PT Duta Harapan Dunia