GBI SHINE Jakarta

GBI SHINE Jakarta MENJADI GEREJA YANG MENGHIDUPI DAN MEMBERITAKAN INJIL YESUS KRISTUS SAMPAI KE UJUNG BUMI

Ibadah Minggu pukul 10.00
Persekutuan Doa Rabu pukul 20.00
Persekutuan Doa Sabtu pukul 20.00

Link Zoom untuk PD & Pemuridan :
https://zoom.us/j/6957105512?pwd=RXF3dCs3UWlmbHJVS1drT3lHZWN1dz09

Link Zoom untuk Doa Pagi :
https://us02web.zoom.us/j/3353968144?pwd=YVEzNXpUeHNGNWdWYjdRbWJXcnhqQT09

04/06/2026

Siapa yang Bertanggung Jawab Mengajarkan Jalan Tuhan kepada Anak?

Oleh Patricia Batten

Pernahkah Anda merasa kesulitan mengajari anak Anda tentang Tuhan dan iman Kristen? Saya pernah, bahkan sering sekali.

Suatu pagi, saat anak saya yang berusia tiga tahun melangkah ke dapur dengan ogah-ogahan, saya langsung tahu ada yang salah, karena biasanya ia lincah dan banyak tingkah. Lalu, saya mendengarnya: ia sedang pilek.

Putra saya mendekat sambil mengangkat hidungnya tinggi-tinggi. “Lihat, ma,” katanya. “Aku pilek.” Hidungnya kemerahan dan berkerak, juga mampat dan meler. “Mama mau dengar?” lanjutnya. (Ya, tentu saja. Ibu mana yang tidak mau mendengar suara hidung tersumbat?)

“Ya, nak,” saya membalasnya sambil berusaha mengumpulkan semangat. “Coba, seperti apa bunyinya.”

Anak saya kemudian mengangkat bahu hingga mendekati telinganya, seolah-olah ingin menghisap semua udara di dapur. Namun, musuhnya “Si Mampat” menghalangi usahanya. Hidungnya yang mampat melawan aliran udara yang masuk dan menolaknya. Pilek menang telak.

“Tuh, kan, hidungku mampat,” gumamnya.

Lalu, si bocah mengatakan sesuatu yang tidak bisa saya lupakan: “Tuhan tidak dengar doaku tadi malam.”

“Oh, ya?” jawab saya.

“Ya, ma. Aku sudah minta Tuhan sembuhkan aku dari pilek. Tapi aku masih sakit. Tuhan tidak dengar doaku. Kenapa begitu, ya?”

Anak dengan p**i merah dan mata yang mengantuk ini, di usianya yang belum cukup untuk masuk TK, merasa kecewa kepada Tuhan, dan meminta jawaban dari saya. Saya pun hanya bisa mengeluh dan diam-diam protes kepada Allah: Mengapa tidak Engkau sembuhkan pileknya, Tuhan? Atau paling tidak meringankannya? Aku sedang berusaha mengajarinya tentang Engkau. Ia sudah berdoa kepada-Mu! Andai Engkau menyembuhkan pileknya, ia akan tahu Engkau itu benar ada dan mengasihinya. Ia juga akan memuji-Mu. Jadi sekarang, bagaimana aku harus menjawabnya?

Walau pernah bertahun-tahun belajar teologi secara formal, saya menyadari bahwa saya tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan jujur dari anak saya sendiri. Saya hanya bisa memberikan jawaban seadanya sebelum kemudian memikirkannya selama 48 jam. Saya merasa kalah. Apakah saya gagal mengajarkan iman kepadanya?

Perintah yang Menantang

Bagaimana dengan Anda? Pernahkah Anda menjawab pertanyaan jujur dengan seadanya (atau mempertanyakan jawaban Anda sendiri)? Pernahkah Anda berpikir jangan-jangan jawaban yang Anda berikan itu kurang tepat?

Sejak zaman Musa hidup, Allah sudah memerintahkan para orang tua untuk mengajarkan iman kepada anak-anak mereka.

Pada saat-saat seperti itu, mungkin Anda terpikir bahwa sebaiknya orang tua menyerahkan masalah pengajaran iman kepada para ahli agama—pendeta, pengkhotbah, pembina rohani, atau guru sekolah Minggu.

Akan tetapi, sejak zaman Musa hidup, Allah sudah memerintahkan para orang tua untuk mengajarkan iman kepada anak-anak mereka.

Sebelum umat Israel memasuki tanah perjanjian, Musa mengingatkan mereka pada perintah dan hukum Allah, dengan berkata: “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun” (Ulangan 6:6-7).

Ucapan Musa menegaskan bahwa orang tua bertanggung jawab atas pendidikan iman anak-anaknya. Mandat bagi para ibu dan ayah sudah jelas: Ajari anak-anak tentang Allah.

Saya membayangkan banyak ibu dan ayah merasakan beratnya tanggung jawab yang mereka emban. Mengajarkan perintah Tuhan secara berulang-ulang kepada anak-anak? Bagaimana caranya?

Selain itu, kata-kata “mengajarkan berulang-ulang” menyiratkan ketajaman dan kedalaman. Bayangkanlah ini seperti mengukir Sepuluh Perintah Allah pada loh-loh batu. Pengajaran tersebut tidak akan membekas dalam semalam; tetapi perlu diulang-ulang, sedikit demi sedikit, untuk membentuk kesan yang mendalam dan tahan lama.

Kita tidak sedang mengukir daftar panjang aturan dan peraturan pada diri anak-anak kita, melainkan menanamkan kasih kepada Allah sebagai tanggapan terhadap kasih karunia-Nya.

Sebagai orang tua Kristen di abad ke-21, kita mengemban tanggung jawab yang sama untuk meneruskan iman kepada anak-anak kita. Namun, ada beberapa perbedaan.

Pertama, orang tua masa kini hidup di bawah kasih karunia, bukan di bawah hukum Taurat. Kita tidak sedang mengukir daftar panjang aturan dan peraturan pada diri anak-anak kita, melainkan menanamkan kasih kepada Allah sebagai tanggapan terhadap kasih karunia-Nya.

Kedua, kita tidak memikul tanggung jawab ini sendirian. Roh Kudus membimbing dan menguatkan kita di setiap langkah kita.

* * *

Ketika putra saya bertanya mengapa Tuhan tidak menjawab doanya dengan menyembuhkan pileknya, saya terdiam. Saya sempat kecewa pada diri saya sendiri. Saya berpikir, bagaimana bisa saya membesarkan anak-anak saya dalam iman jika menjawab pertanyaan mengenai pilek yang tidak sembuh-sembuh saja saya tidak mampu?

Lalu saya pun tersadar: putra saya telah berdoa sendiri kepada Allah! Anak berusia tiga tahun itu datang kepada Tuhan dalam doa dan meminta pertolongan-Nya. Dari mana ia belajar melakukan hal itu? Dari saya. Saya, orang tua yang tidak sempurna, tetapi yang telah diajar tentang Allah dan menyadari kebutuhan kami akan Dia.

Ketika Allah sungguh-sungguh hidup di dalam hati Anda, anak-anak akan belajar tentang Dia dari Anda.

Renungkan

Luangkan waktu untuk merenungkan Ulangan 6:20-25. Bagaimana cara Anda menerapkan instruksi-instruksi dalam perikop tersebut pada masa kini?
Bagaimana perasaan Anda tentang tanggung jawab untuk mengajari anak-anak Anda tentang Allah? Mintalah hikmat dari Allah dalam upaya Anda mengajarkan jalan Tuhan secara berulang-ulang kepada anak-anak Anda.


Dikutip dan diadaptasi dari Seri Terang Ilahi, Membesarkan Anak yang Mengenal dan Mengasihi Tuhan oleh Patricia Batten, terbitan PT Duta Harapan Dunia

30/05/2026

MENJADI SALURAN KASIH ALLAH

Baca : 2 Raja-raja 5 : 1-3, 9-11, 13-14
Ayat Pokok : Sekiranya tuan pergi menemui nabi yang tinggal di Samaria. –2 Raja-Raja 5:3 (BIMK)

Semasa remaja, relasi saya dengan teman gereja saya, Lisa, sempat retak. Karena itu, saya cemas ketika mengetahui bahwa kami akan tinggal sekamar di sepanjang kamp musim panas. Namun, seminggu pertama kamp berlalu dengan lancar, karena kami berdua memilih untuk bersikap sopan.

Acara yang paling dinantikan dalam kamp itu adalah pesta api unggun di akhir pekan. Sayangnya, malam itu saya terserang demam dan tidur lebih awal. Namun, saya masih mendengar suara tawa dan musik di luar. Satu jam kemudian, saya terkejut ketika mengetahui bahwa Lisa mengecek suhu tubuh saya. “Aku tidak ikut pesta api unggun,” katanya. “Karena kamu sakit, aku perlu menemanimu.” Lisa bisa saja bersikap tidak peduli, tetapi ia memilih untuk merawat saya. Tindakannya sungguh menguatkan hati.

Contoh kepedulian serupa terlihat dalam kisah Naaman. Naaman, panglima tentara Aram, memiliki seorang gadis Israel yang ditawan dan kini “menjadi pelayan bagi istri Naaman” (2 Raj. 5:2 BIMK). Dalam keadaan terpisah dari keluarga dan terpaksa menjadi budak, gadis itu bisa saja menolak untuk menolong tuannya yang sakit kusta. Namun, iman si gadis menggerakkannya untuk memberikan pertolongan: “Berkatalah pelayan itu kepada majikannya, ‘Nyonya, sekiranya tuan pergi menemui nabi yang tinggal di Samaria, pastilah nabi itu akan menyembuhkan tuan’” (ay. 3 BIMK). Memang benar, Allah memakai Nabi Elisa untuk menyembuhkan Naaman (ay. 8-14).

Lisa dan gadis Israel dalam kisah tadi memilih untuk menolong, dan Allah pun bekerja melalui diri mereka. Mari memohon kepada Allah agar Dia menunjukkan siapa yang perlu menerima kasih-Nya melalui kehadiran kita, dan agar Dia memberi kita hikmat untuk tahu cara melakukannya.

RENUNGKAN DAN DOAKAN
Mengapa adakalanya Anda menolak untuk membantu orang lain? Bagaimana perbuatan kita menolong orang lain dapat membuat mereka menyadari bahwa Allah mempedulikan mereka?

Ya Allah, aku telah menerima begitu banyak pertolongan dari-Mu. Pakailah aku untuk menolong orang lain.

WAWASAN
Pada masa pelayanan Nabi Elisa, hanya Naaman yang pernah disembuhkan dari penyakit kusta (2 Raja-Raja 5:1-4; bandingkan Lukas 4:27). Seorang gadis Israel diculik dan melayani sebagai budak di rumah tangga Naaman (2 Raja-Raja 5:2). Secara manusiawi, wajar jika ia bersukacita melihat musuhnya menderita karena kusta. Namun, ia berkata bahwa Allah Israel—melalui Nabi Elisa—berkuasa untuk menyembuhkan tuannya (ay. 3).

Sikapnya adalah contoh nyata dari prinsip “[mengalahkan] kejahatan dengan kebaikan” (Roma 12:21). Kitab Galatia mengingatkan kita untuk “berbuat baik kepada semua orang” (6:10). Hari ini, marilah kita meminta Allah untuk menunjukkan bagaimana kita dapat meneruskan kasih-Nya kepada orang lain. –K.T. Sim

Dikutip dari santapanrohani.org

27/05/2026

ITU SALAH SAYA

Baca: IMAMAT 26:40-45
Bila mereka mengakui kesalahan mereka . . . Aku akan mengingat perjanjian-Ku dengan Yakub. –Imamat 26:40-42

Dalam sebuah film komedi lama, seorang pemrogram komputer yang ceroboh nan jenius terpilih untuk mengikuti misi berawak manusia pertama ke planet Mars. Meski terus membuat kesalahan-kesalahan konyol, ia punya kebiasaan spontan untuk berseru, “Bukan salahku!” Sewaktu awak pesawat luar angkasa itu mendarat di Mars, sang pemrogram tergelincir dari atas tangga dan jatuh ke permukaan planet, tepat sebelum rekannya menjejakkan kaki di sana. Jadi, kata-kata pertama yang terucap di Mars adalah, “Bukan salahku!”

Kisahnya memang mengada-ada, tetapi frasa yang diucapkan tokoh itu terasa begitu nyata. Setiap kali ada kesalahan yang perlu dipertanggungjawabkan, kita sering bereaksi dengan berkata, “Bukan salah saya!”

Allah menghendaki ketaatan kita. Namun, Dia juga tahu bahwa hati kita cenderung menolak untuk taat kepada-Nya. Dalam Imamat 26:1-13, Allah menjelaskan rencana-Nya bagi Israel. Jika mereka mematuhi perintah-Nya, Ia berkata, “Aku akan berpaling kepadamu dan akan membuat kamu beranak cucu serta bertambah banyak” (ay. 9). Namun, ketidaktaatan yang berlarut-larut akan mendatangkan kutukan dan penderitaan yang dimaksudkan untuk membawa mereka kepada pertobatan. Kemudian, Allah berkata bahwa jika Israel yang tidak taat itu mau “mengakui kesalahan mereka dan kesalahan nenek moyang mereka” (ay. 40), Dia akan mengingat perjanjian-Nya dengan mereka.

Kunci untuk memulihkan hubungan kita dengan Allah adalah pengakuan atas kesalahan yang telah kita perbuat. Sikap menyalahkan orang lain hanya akan membuat kita terjebak dalam siklus kesalahan dan usaha sia-sia untuk membenarkan diri.

Apakah Anda merasa sudah jauh dari Allah? Mari berbalik kepada-Nya, dengan mulai berkata, “Itu salah saya.”

RENUNGKAN DAN DOAKAN
Apa reaksi spontan Anda, ketika Anda seharusnya bertanggung jawab atas suatu kesalahan? Ingatlah suatu waktu ketika Anda benar-benar jujur kepada Allah. Seperti apa rasanya?

Allah Maha Kasih, aku ingin jujur kepada-Mu tentang _____________.

WAWASAN
Kata Ibrani yadah, yang diterjemahkan sebagai “mengakui” di Imamat 26:40, juga dapat diterjemahkan “bersyukur” (Kejadian 29:35; Mazmur 18:50) atau “memuji” (Kejadian 49:8). Namun, ketika pertama kali muncul dalam Alkitab, kata ini digunakan dalam konteks pengakuan dosa: “Apabila ia bersalah dalam salah satu perkara itu, haruslah ia mengakui dosa yang telah diperbuatnya itu (Imamat 5:5).

Prinsipnya jelas: Jika sebuah dosa tersingkap, maka itu harus disadari dan diakui. Terkadang, Kitab Suci dan Roh Kudus menegur kita dari dalam batin. Di lain waktu, Allah memakai orang lain atau keadaan untuk menunjukkan apa yang tidak kita sadari atau tidak ingin kita lihat. Apa pun cara penyingkapannya, respons kita tetap sama: Hubungan kita dengan Allah baru dipulihkan ketika kita mengakui dan mempertanggungjawabkan dosa itu. Ini seperti kata Rasul Yohanes, “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” (1 Yohanes 1:9). –Arthur Jackson

Dikutip dari warungsatekamu.org

17/05/2026

AKAR YANG DALAM

Baca: Yeremia 17:5-8
Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan. —Yeremia 17:7

Douglas Kent, seorang arsitek lanskap, menelusuri lingkungan Los Angeles yang hangus setelah dilanda kebakaran dahsyat tahun 2025. Ia menemukan sesuatu yang mengejutkan: ada pohon-pohon yang tetap hidup dan menghijau, tepat di samping mobil-mobil yang meleleh dan bangunan yang terbakar. Banyak di antaranya bahkan berdaun lebat, berbuah banyak, serta memiliki batang dan cabang yang kuat. Bagaimana bisa?

Setelah melewati dua kali musim dingin dengan curah hujan yang tinggi, akar pohon-pohon itu telah menembus kedalaman tanah untuk menyerap air, lalu menyalurkannya ke seluruh dahan dan daun. Inilah yang membuat pohon-pohon itu mampu bertahan saat kebakaran terjadi. “Saya belajar,” kata Kent, “bahwa jika berakar dengan dalam, kita dapat bertahan hidup.”

Di tengah tekanan hidup yang melanda, iman kita dapat mengalami hal serupa. Ketika akar rohani kita menancap kuat dalam Kristus dan kasih-Nya, kita menjadi “seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah” (Yer. 17:8).

Nabi Yeremia, yang selalu berbicara dengan blak-blakan, memperingatkan bahwa mereka yang “mengandalkan kekuatannya sendiri” itu “terkutuk” (ay.5). Orang itu “akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik.” Sebaliknya, “ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk” (ay.5-6). Alangkah jauh lebih baik untuk mengandalkan Allah! Dengan aliran kasih-Nya yang memelihara kita, kita dapat bertahan, bahkan bertumbuh di masa-masa sulit, sambil menghasilkan buah rohani yang berkenan bagi-Nya. —Patricia Raybon

WAWASAN
Yeremia memperingatkan bangsa Yehuda yang tidak mau bertobat dan menyembah berhala bahwa Allah akan membuang mereka ke Babel karena ketidaksetiaan mereka (Yeremia 25:8-11). Meski demikian, Allah dengan sabar terus mengingatkan mereka untuk bertobat sebelum terlambat (35:15), dan Dia juga menjanjikan pemulihan serta berkat setelah hukuman itu tuntas (31:23-28).

Dalam pasal 17, Yeremia membedakan kutuk bagi orang fasik dengan berkat bagi orang benar (ay. 5-8). Dengan gaya bahasa yang mirip Mazmur 1:1-3, sang nabi berkata, “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN . . . Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air” (Yeremia 17:7-8). Sebaliknya, terkutuklah mereka yang “hatinya berpaling dari Allah . . . tanpa harapan untuk masa depan” (ay. 5-6 FAYH).

Tema kutuk dan berkat ini juga sejalan dengan konsekuensi perjanjian yang dijabarkan dalam Ulangan 28. Di tengah berbagai kesulitan, Yeremia mengingatkan bahwa keamanan, kestabilan, kesetiaan, dan buah kehidupan kita didasarkan pada iman kepada Allah, bukan kepada manusia. K.T. Sim

Sedalam apa akar kamu tertancap dalam Kristus? Bagaimana kamu dapat mempercayai-Nya di tengah kesulitan hidup yang melanda?

Ya Allah, saat dunia di sekelilingku seakan terbakar, ingatkanlah aku untuk tetap percaya kepada-Mu.

Dikutip dari https://warungsatekamu.org/2026/05/akar-yang-dalam-2/

DIA NAIK UNTUK MENDEKAP LELAHMU, BAHKAN LEBIH DARI ITU!Oleh Dhimas AnugrahPernahkah Anda merasa kewalahan?  Sepanjang ha...
15/05/2026

DIA NAIK UNTUK MENDEKAP LELAHMU, BAHKAN LEBIH DARI ITU!

Oleh Dhimas Anugrah

Pernahkah Anda merasa kewalahan?

Sepanjang hari sibuk bekerja dengan deadline yang tiada habisnya, lalu pulang menembus kemacetan jalanan yang melelahkan. Tiba di rumah, masih harus berjibaku dengan urusan rumah tangga. Lalu, di tengah itu semua Anda teringat akan cicilan yang belum lunas, biaya hidup yang membengkak, ditambah lagi konflik relasi yang belum reda. Semua ini tampaknya hal-hal wajar dalam kehidupan orang dewasa, tapi Anda merasa seperti terpojok di titik nadir—cemas, sedih, bahkan kesepian. Jika pernah merasakannya, Anda tidak sendirian.

WHO mencatat satu dari delapan orang di dunia hidup dengan kendala kesehatan mental seperti di atas. Menariknya, ini bukan masalah eksklusif orang dewasa. Kemajuan zaman turut membuat anak-anak dan remaja juga merasakannya. Di Indonesia sendiri, ada sekitar 15,5 juta remaja yang bergumul dengan kecemasan, depresi, hingga stres berat.

Statistik itu bukanlah angka yang kecil, juga bukan sekadar catatan di atas kertas. Di baliknya, bisa jadi ada teman sepelayanan, rekan kerja, pasangan, atau bahkan diri kita sendiri yang bergumul. Dari luar mungkin kelihatan baik-baik saja, tetapi di dalam sedang bergumul dengan keras.

Memikirkan fenomena ini membuat saya menoleh kembali pada satu momen di kalender yang sering kali kita anggap sebagai tanggal merah di tengah minggu yang padat: Kenaikan Tuhan Yesus.

Bagaimana peristiwa kenaikan ini—yang mungkin kalah meriah dari Natal atau Paskah — ternyata memberikan jawaban dan pengharapan paling jujur akan pergumulan kita?

Dia Terangkat Bukan untuk Meninggalkan Kita

Peristiwa kenaikan Tuhan Yesus ke surga terjadi di Bukit Zaitun. Mari kita bayangkan suasananya. Selama empat puluh hari sebelumnya, para murid mengalami berbagai spektrum emosi yang luar biasa. Mereka melihat bagaimana Sang Guru mereka disiksa, disalibkan, dan mati. Mereka berduka. Namun, dukacita itu berubah jadi ledakan sukacita karena Tuhan Yesus bangkit dan menemani mereka kembali. Mungkin mereka saat itu berpikir bahwa Yesus akan tetap selamanya berada bersama mereka, memulihkan segalanya saat itu juga.

Namun, Tuhan Yesus justru mengajak mereka keluar kota sampai dekat Betania. Tanpa peringatan yang panjang, Dia mengangkat tangan-Nya, memberkati para murid, lalu perlahan terangkat ke surga hingga awan menyembunyikan-Nya.

Saya membayangkan bagaimana dinamika perasaan para murid di sana. Ada suatu ketegangan manusiawi yang sangat indah. Di satu sisi, Injil Lukas mencatat bahwa setelah menyaksikan Yesus terangkat, para murid sujud menyembah Dia dan pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita (Lukas 24:52 TB2). Tapi, di sisi lain, Kisah Para Rasul 1 ayat 9 hingga 11 mencatat bahwa mereka “menatap ke langit” hingga dua orang yang berpakaian putih menegur mereka, “Hai orang-orang Galilela, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang diangkat ke surga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke surga.”

Tatapan murid bukan sekadar tatapan kagum, tapi menyiratkan suatu perasaan yang campur aduk. Benar ada kekaguman di sana melihat Sang Guru sungguh hidup dan terangkat ke surga sebagai Allah dan manusia seutuhnya, tapi mungkin juga ada perasaan bingung, takut, atau bahkan sedih karena ditinggalkan. Ketika dua orang berpakaian putih menegur mereka dengan pertanyaan “mengapa kamu melihat ke langit?” ini bukan sekadar pertanyaan retoris atau basa-basi, melainkan pernyataan untuk membangunkan mereka dari kelumpuhan emosional.

Kita tahu kelanjutan kisah para murid dari Lukas yang mencatat bahwa mereka lalu pulang dengan sangat bersukacita. Sukacita ini bukanlah rasa bahagia yang dipaksakan, melainkan sebuah kepastian baru. Kelumpuhan emosional para murid pudar ketika mereka menyadari satu hal bahwa Kristus kini duduk di sebelah kanan Allah (Markus 16:19).

Bayangkan transisi batin ini: dari perasaan kehilangan sosok fisik yang bisa disentuh, menjadi kesadaran bahwa Sang Guru mereka kini bertakhta di tempat tertinggi. Sukacita itu lahir karena mereka menyadari bahwa Yesus tidak sedang meninggalkan mereka sendirian untuk menghadapi dunia, melainkan sedang memosisikan diri-Nya sebagai Raja yang memegang kendali atas segalanya. Pesan malaikat itu seolah berkata, "Jangan terpaku pada kehilanganmu hari ini, karena Dia yang naik ini adalah Dia yang sama yang akan menuntaskan segala sesuatu."

Inilah yang menjadikan momen kenaikan Tuhan Yesus begitu krusial tak hanya bagi pemahaman iman kita, tapi juga bagi cara kita menghadapi kehidupan kita saat ini. Mengapa? Karena Tuhan Yesus naik ke surga sebagai Allah sejati sekaligus manusia seutuhnya. Ini berarti, ada jejak akan kemanusiaan kita di surga. Segala rasa lelah, sesak napas karena cemas, dan air mata kita bukan hal yang asing bagi-Nya. Dia naik untuk menjadi Pengantara yang mengerti setiap jengkal kerapuhan kita.

Inilah yang membuat para murid bisa pulang dengan sukacita meski Yesus secara fisik tidak ada lagi di samping mereka. Mereka tidak lagi mengandalkan kehadiran yang terlihat, tetapi mengandalkan janji kehadiran-Nya yang lebih dalam melalui Roh Kudus. Mereka menyadari bahwa di tengah dunia yang belum pulih ini, mereka tidak dibiarkan sebagai yatim piatu emosional. Ada Penolong yang menetap, dan ada Raja yang mendoakan mereka di takhta-Nya (Roma 8:34; Ibrani 7:25).

Dikutip dari https://www.odbm.org/id/artikel/dia-naik-untuk-mendekap-lelahmu-bahkan-lebih-dari-itu

12/05/2026

MENUNGGU PANEN

Baca: Galatia 6:7-10
Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. —Galatia 6:9

Pada tahun 1962, Joanne Shetler dan Anne Fetzer menempuh perjalanan yang berat dengan bus dan berjalan kaki menuju daerah pegunungan terjal di Filipina demi memberitakan Injil kepada penduduk yang belum pernah mendengar tentang Tuhan Yesus.

Selama lima tahun, mereka menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa setempat, tetapi penduduk desa Balangao tidak menerima pesan yang mereka beritakan. Meski demikian, mereka ikut membangun landasan pesawat sederhana supaya pasokan baru bisa diterbangkan masuk ke daerah tersebut. Suatu hari, mendaratlah sebuah pesawat, yang disebut penduduk lokal sebagai “keajaiban dari dunia lain.” Sang pilot kemudian membawa seorang perempuan desa yang hamil dan sakit parah ke suatu klinik yang jauh. Ketika pesawat itu kembali bersama perempuan yang sudah sembuh dan bayinya yang sehat, penduduk desa itu mulai bertanya tentang “Allah” yang pernah mereka dengar. Tidak lama kemudian, desa tersebut memiliki sebuah gereja yang dipenuhi orang-orang yang percaya kepada Kristus.

Setiap dari kita yang membagikan kabar baik tentang Yesus pernah merasa patah semangat ketika orang-orang tampak tidak mau menerimanya. Rasul Paulus memahami hal ini. Setelah menjelaskan kepada jemaat di Galatia tentang pentingnya menabur dan menuai Injil, ia menyadari bahwa sang penabur bisa menjadi lelah. Karena itu, ia mendorong mereka agar tidak “jemu-jemu berbuat baik” (Gal. 6:9).

Lima tahun pertama masa pelayanan Joanne dan Anne pasti membuat mereka kecil hati. Namun, mereka setia menabur, dan akhirnya menuai hasilnya. Demikian juga kita: janganlah menjadi “lemah” (ay.9), karena berita keselamatan pasti akan “menuai hidup yang kekal” (ay.8). —Dave Branon

WAWASAN
Dalam Galatia 6:7-10, Paulus menegaskan tema tabur-tuai, yaitu bagaimana setiap pilihan membawa konsekuensi nyata. Hidup yang dipimpin oleh “daging” (kecenderungan manusiawi untuk mengandalkan diri sendiri dan mengejar kepuasan pribadi; lihat 5:16-21) pasti berujung dengan “kebinasaan.” Sebaliknya, hidup yang dipimpin oleh Roh Kristus akan menghasilkan “hidup yang kekal” (6:8) dan “menuai” hasil yang berlimpah (ay. 9).

Prinsip ini memberi kekuatan dan ketekunan bagi orang percaya, terutama saat mereka berusaha “[melayani] seorang akan yang lain oleh kasih” (5:13). Setiap perbuatan yang dipimpin oleh Roh sangatlah berarti. Terkadang, upaya membagikan Injil dan hidup seperti Kristus bisa terasa melelahkan, dan hasilnya tidak langsung terlihat. Namun, orang percaya dapat meyakini bahwa kesaksian mereka tentang kasih Yesus, lewat perkataan maupun gaya hidup mereka, akan menghasilkan buah yang bersifat kekal. Monica La Rose

Mengapa adakalanya kamu menjadi jemu dalam memberitakan Injil? Pengharapan pasti apa yang terus kamu pegang?

Ya Allah, mampukanlah aku tetap bertahan dan setia menabur ketika orang-orang yang kukasihi tampaknya tidak tertarik pada Injil.

Dikutip dari https://warungsatekamu.org/2026/05/menunggu-panen/

DIGERAKKAN OLEH IMANBaca: Matius 15:21-28Yesus . . . berkata kepadanya: “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu se...
05/05/2026

DIGERAKKAN OLEH IMAN

Baca: Matius 15:21-28
Yesus . . . berkata kepadanya: “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” —Matius 15:28

J.D. menyaksikan banyak hal menakjubkan dalam perjalanannya ke beberapa negara Afrika. Pesan singkat yang dikirimnya dari Zambia Timur memperlihatkan foto para wanita beriman yang memaparkan rencana penginjilan mereka untuk tiga tahun mendatang. “Itu salah satu pemaparan strategi paling berkesan yang pernah saya dengar. Alih-alih memakai papan tulis, mereka menggambar di tanah. Rencana yang mereka bagikan tidak dibuat di atas kertas yang rapi, melainkan pada kertas kusut seukuran poster yang dipegang oleh dua orang. Sungguh luar biasa!”

Para wanita itu menunjukkan jenis iman yang dipuji Tuhan Yesus. Matius 15:21-28 mencatat contoh serupa. Karena kondisi anak perempuannya, seorang ibu datang kepada Yesus: “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita” (ay.22). Yesus menjawabnya, “Hai ibu, besar imanmu” (ay.28). Iman wanita itu bertolak belakang dengan ketidakpercayaan para pemimpin Yahudi yang hatinya jauh dari Allah (ay.8). Walaupun Kristus mengakui garis keturunan orang Yahudi secara lahiriah dari Abraham, pujian-Nya justru diberikan kepada wanita non-Yahudi yang memiliki iman seperti Abraham.

Apa yang mendorong kamu datang kepada Yesus hari ini? Apakah itu kebutuhan pribadi, keluarga, atau komunitas? Apa pun alasannya, datanglah kepada-Nya, meski dengan langkah tertatih. Sebab yang terpenting bukanlah besar-kecilnya iman, melainkan objek iman itu: Yesus, dan hanya Yesus.

—Arthur Jackson

WAWASAN
Pertemuan Yesus dengan perempuan Kanaan sering membingungkan para ahli Alkitab. Perlakuan Yesus tampak tidak lazim: mengapa Dia begitu keras terhadap perempuan yang sedang terluka? Mungkin cara Yesus berinteraksi dengannya lebih ditujukan kepada murid-murid-Nya, agar mereka menyadari kerasnya hati mereka sendiri–karena mereka berkali-kali mendesak Yesus untuk mengusir perempuan itu (Matius 15:23).

Dengan berinteraksi di depan para murid, Yesus memberi mereka contoh yang indah tentang kebesaran iman (ay. 28). Hal itu dilakukan-Nya dengan menyembuhkan anak perempuan itu karena iman sang ibu kepada-Nya. Kisah ini menjadi semakin bermakna karena terjadi setelah perdebatan antara Yesus dan para pemimpin agama, kalangan yang Dia sebut terlalu kaku dalam beragama dan jauh dari hati Allah (ay. 1-14).

Saat ini, dengan memusatkan perhatian pada Yesus, kita dapat menyerahkan seluruh kekhawatiran kita kepada-Nya. Bill Crowder

Bagaimana kamu menggambarkan kondisi iman kamu saat ini? Bagaimana kepercayaan kamu kepada Yesus dapat diteguhkan kembali?

Tuhan Yesus, tolonglah aku untuk bertumbuh dalam iman dengan percaya bahwa Engkau menyediakan semua yang kuperlukan.

Dikutip dari

SANTAPAN ROHANI. Rabu, 6 Mei 2026. Baca: Matius 15:21-28 J.D. menyaksikan banyak hal menakjubkan dalam perjalanannya ke beberapa negara Afrika. Pesan singkat yang dikirimnya dari Zambia Timur memperlihatkan foto para wanita ber...

PERTAHANAN YANG KOKOHBaca: 1 Petrus 5:8-11Sadarlah dan berjaga-jagalah! —1 Petrus 5:8Tim basket cucu kami yang duduk di ...
01/05/2026

PERTAHANAN YANG KOKOH

Baca: 1 Petrus 5:8-11
Sadarlah dan berjaga-jagalah! —1 Petrus 5:8

Tim basket cucu kami yang duduk di kelas tujuh berusaha keras mencetak angka di lapangan. Mereka begitu bersemangat menyerang. Namun, setiap kali berhasil mencetak angka, pelatih segera mendesak mereka kembali ke area pertahanan untuk menjaga lawan—sesuatu yang sering kali enggan mereka lakukan. Semua ingin mencetak angka, tetapi tampaknya tidak ada yang mau bekerja keras untuk bertahan.

Menurut pelatih, kunci permainannya adalah mengantisipasi pergerakan lawan. Mencegat operan atau tembakan akan menggagalkan upaya lawan mencetak angka dan membantu tim meraih kemenangan.

Strategi bertahan yang mengantisipasi pergerakan lawan juga dapat menolong kita dalam kehidupan rohani. Siapakah lawan kita? Surat Petrus mengingatkan orang percaya: “Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya” (1Ptr. 5:8). Karena itu, “sadarlah dan berjaga-jagalah!” tulis Petrus. Ya, kita dipanggil untuk melawan musuh rohani kita dengan “iman yang teguh” (ay.9).

Menerapkan sikap yang aktif bertahan akan menolong kita sebagai orang percaya untuk hidup lebih efektif dan berbuah bagi kerajaan-Nya. Lalu, saat kita mengalami kemunduran rohani, Allah sumber kasih karunia “akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan” kita (ay.10). Dialah yang menegakkan kita dan membangun pertahanan kita yang kokoh di dalam-Nya.

—Patricia Raybon

Dalam hal apa kamu pernah mengalami kejatuhan dan gagal bertahan secara rohani? Bagaimana kamu dapat lebih sadar dan berjaga-jaga?

Ketika aku lengah secara rohani, ingatkanlah aku, ya Allah, akan perlindungan-Mu atas hidupku.

WAWASAN
Orang percaya dinasihati, “Lawanlah Iblis! Berdirilah teguh dalam iman” (1 Petrus 5:9 AYT). Yesus pun berkata kepada para murid, “Orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat” (Matius 10:22; 24:13; Markus 13:13). Rasul Paulus mengingatkan, “Hendaklah kalian waspada dan teguh dalam hidupmu sebagai orang Kristen. Bertindaklah dengan berani dan jadilah kuat” (1 Korintus 16:13 BIMK). Ia juga menegaskan bahwa Allah saja yang memampukan kita tetap berdiri dalam Kristus melalui iman (2 Korintus 1:21,24).

Kita dapat menjadi kuat dalam peperangan melawan Iblis dengan mengenakan “seluruh perlengkapan senjata Allah” (Efesus 6:13). Kita juga memiliki Roh Kudus di dalam kita yang menguatkan dan memimpin kita (Roma 8:26). Strategi pertahanan terbaik dalam menghadapi godaan adalah dengan membaca Alkitab, berdoa, dan meminta pertolongan Allah. Alyson Kieda

Dikutip dari

SANTAPAN ROHANI. Sabtu, 2 Mei 2026. Baca: 1 Petrus 5:8-11 Tim basket cucu kami yang duduk di kelas tujuh berusaha keras mencetak angka di lapangan. Mereka begitu bersemangat menyerang. Namun, setiap kali berhasil mencetak angka,...

MELAYANI SEPERTI KRISTUSBaca: Filipi 2:3-8Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdap...
25/04/2026

MELAYANI SEPERTI KRISTUS

Baca: Filipi 2:3-8
Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus. —Filipi 2:5

Saat mengunjungi seorang rekan yang dirawat di rumah sakit, saya terkesan dengan tindakan seorang dokter muda yang hadir bersama rekan-rekan dokter muda lainnya. Mereka sedang mendengarkan penjelasan seorang dokter senior tentang kondisi pasien. Tiba-tiba, rekan saya dengan cemas berkata bahwa ia perlu ke kamar mandi, tetapi kesulitan untuk bangun. Ia bahkan tidak sanggup menunggu perawat untuk datang membantunya.

Di tengah situasi panik itu, dokter muda tadi segera mengambil pispot dari rak dan membantu si pasien. Ketika akhirnya perawat tiba, ia terkejut mendapati pasien sudah ditolong. Dokter senior pun dengan bangga memuji tindakan sigap dokter muda itu.

Yesus tidak memegang erat-erat keilahian-Nya dan menolak menolong umat manusia. Meski “dalam rupa Allah, [Dia] tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan” (Flp. 2:6). Datang sebagai manusia, Kristus rela menjadi korban penghapus dosa kita dengan mempersembahkan diri-Nya. Dia melihat bahwa kita membutuhkan pertolongan dan keselamatan, jadi Dia merendahkan diri dengan menyerahkan nyawa-Nya (ay.8). Paulus menulis, “[Yesus] telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba” (ay.7).

Dalam hubungan dengan orang lain, kita pun dipanggil untuk meneladan sikap Yesus dan kerelaan-Nya untuk berkorban. Dengan pertolongan-Nya, marilah kita rela melayani sesama, apa pun caranya, bahkan sekalipun itu dianggap rendah di mata manusia. —Katara Patton

WAWASAN
Ada sejumlah perdebatan tentang makna Filipi 2:7, yang menyatakan bahwa Yesus “telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” Kata “mengosongkan” berasal dari bahasa Yunani kenoo, yang menjadi dasar dari apa yang dikenal sebagai teori kenosis. Jika Kristus “mengosongkan diri-Nya sendiri” (atau “membuat diri-Nya tidak memiliki apa-apa” AYT), apakah yang sebenarnya dikosongkan dari diri-Nya?

Sebagian berpendapat bahwa Dia melepaskan ketuhanan atau sifat ilahi-Nya. Namun, jika demikian, pengorbanan-Nya di salib takkan memiliki kuasa. Kolose 2:9 menegaskan, “Dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan.” Jadi, yang Yesus kosongkan atau lepaskan adalah hak untuk memilih cara hidup dan menerapkan sifat-sifat ilahi-Nya. Sebaliknya, Dia memilih untuk tunduk sepenuhnya kepada kehendak Bapa dan “mengambil rupa seorang hamba” (Filipi 2:7).

Saat ini, kita dapat mengikuti teladan kerendahan hati-Nya, dengan melayani sesama dalam kerelaan berkorban bagi mereka. Bill Crowder

Bagaimana kamu dapat mencerminkan sikap dan cara hidup Yesus? Seperti apa pelayanan yang dapat kamu lakukan dengan rela bagi seseorang hari ini?

Terima kasih, Tuhan Yesus, karena Engkau telah merendahkan diri-Mu hingga mati demi dosaku. Tunjukkanlah kepadaku bagaimana aku dapat melayani sesama dengan hati yang rela.

Dikutip dari

SANTAPAN ROHANI. Sabtu, 25 April 2026. Baca: Filipi 2:3-8 Saat mengunjungi seorang rekan yang dirawat di rumah sakit, saya terkesan dengan tindakan seorang dokter muda yang hadir bersama rekan-rekan dokter muda lainnya. Mereka s...

Address

Gang Kabel VI No. 10, RT. 9/RW. 2, Cemp. Baru, Kec. Kemayoran, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Jakarta
10640

Opening Hours

Monday 09:00 - 17:00
Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 17:00
Friday 09:00 - 17:00
Saturday 09:00 - 17:00
Sunday 09:00 - 17:00

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when GBI SHINE Jakarta posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to GBI SHINE Jakarta:

Share