14/07/2026
Bila Keadaan Tidak Berubah, Masihkah Kita Tetap Berharap?
Oleh Dhimas Anugrah
Apa harga yang paling mahal yang pernah kita bayar untuk mengikut Kristus?
Pertanyaan itu membuat ingatan saya terbang kembali ke sebuah rumah kontrakan sederhana bertahun-tahun lalu. Di sana, seorang ibu mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya untuk mengikut Tuhan Yesus. Konsekuensinya tidak main-main. Dia harus kehilangan pernikahan yang selama ini menjadi tempatnya bergantung. Malam itu, dengan tangan yang masih gemetar, dia mengunci pintu dari dalam. Tak ada lagi sosok suaminya yang p**ang. Yang dia lihat hanyalah dua anaknya yang masih kecil, tidur lelap di atas kasur tipis. Hari esok pun bagaikan kabut tebal: uang untuk bayar kontrakan belum ada. Segala kemudahan dan kenyamanan di masa lalu ikut hilang. Namun, dia memilih untuk berharap pada Allah yang memegang hari esok.
Kisah ibu di atas yang tiba-tiba hidupnya berubah drastis memperlihatkan pada kita sisi sunyi dari sebuah kebajikan yang sering kita bicarakan namun sulit kita hidupi: pengharapan. Ketika keadaan mendesak kita untuk menyerah, dari mana datangnya kekuatan untuk tetap melangkah? Viktor Frankl, seorang psikiater Yahudi pernah mengalami masa-masa kelam di mana kesempatan untuk hidup rasanya hampir mustahil. Dia ditawan dan dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi N**i. Di tengah penyiksaan dan kengerian itu, Frankl menyaksikan fenomena unik: mereka yang mampu bertahan hidup bukanlah orang yang fisiknya paling kuat, melainkan mereka yang jiwanya masih merawat harapan. Frank yakin bahwa harapan memberi manusia kekuatan untuk terus melangkah, bahkan ketika hampir semua alasan untuk menyerah terasa lebih masuk akal.
Pengalaman putus asa atau hilang harapan tidak hanya dialami oleh mereka yang berada di tengah peperangan atau kehilangan besar. Hampir setiap orang pernah menghadapi masa ketika masa depan tampak tidak pasti, doa terasa belum dijawab, atau jalan keluar belum terlihat. Pada saat-saat seperti itulah muncul pertanyaan yang paling mendasar: apa sebenarnya arti berharap? Apakah berharap hanya berarti tetap berpikir positif bahwa keadaan akan membaik, atau adakah dasar yang lebih kukuh ketika kenyataan hidup justru bergerak ke arah yang sebaliknya?
Pengamatan Frankl menunjukkan betapa besar kuasa harapan dalam kehidupan manusia. Namun, Alkitab mengajak kita mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar. Jika harapan begitu penting bagi kehidupan manusia, dari manakah pengharapan yang sejati berasal? Apa yang membuat orang percaya tetap berharap ketika keadaan tidak berubah, doa belum terjawab, bahkan penderitaan terus berlangsung? Untuk menemukan jawabannya, kita perlu melihat bagaimana Alkitab memahami pengharapan.
Salah satu potret terbaik untuk memahami pengharapan adalah dari kehidupan gereja mula-mula. Mereka hidup di bawah bayang-bayang tekanan, penolakan, dan penganiayaan berat. Secara manusia, mereka memiliki seribu satu alasan untuk menyerah pada ketakutan. Namun, sejarah mencatat hal yang sebaliknya: mereka justru menjadi saksi nyata tentang bagaimana pengharapan kepada Kristus bekerja aktif saat realitas hidup sama sekali tidak berpihak pada mereka.
Apa rahasia di balik keteguhan itu?
Pengalaman jemaat mula-mula ini sangat krusial karena mereka adalah generasi yang paling dekat dengan pelayanan, wafat, dan kebangkitan Kristus. Pengharapan yang mereka hidupi bukanlah hasil spekulasi filsafat atau tradisi yang baru tumbuh belakangan, melainkan buah langsung dari kesaksian para saksi mata kebangkitan. Lewat keseharian mereka yang kontras—di mana mereka ditolak, dipenjara, bahkan kehilangan nyawa—kita dapat melihat bagaimana pengharapan yang diajarkan Kitab Suci itu mewujud nyata di dunia yang retak. Bagi mereka, berharap kepada Allah bukanlah mantra pelarian agar hidup otomatis menjadi lebih mudah, melainkan keberanian untuk memegang janji Allah di tengah penderitaan.
Keyakinan radikal ini bertumpu pada satu peristiwa yang mengubah arah sejarah, yaitu kebangkitan Yesus Kristus. Karena Yesus bangkit dan hidup, gereja mula-mula percaya bahwa dosa, penderitaan, dan kematian bukanlah akhir dari cerita mereka. Itulah mengapa Rasul Petrus menegaskan bahwa Allah "telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan" (1 Ptr. 1:3).
Dalam Perjanjian Baru, kata Yunani untuk pengharapan —elpis—sama sekali tidak merujuk pada angan-angan kosong atau sekadar kata "mudah-mudahan". Elpis adalah keyakinan yang teguh dan pasti bahwa Allah akan menepati janji-Nya. Karena itu, pengharapan Kristiani tidak dibangun di atas kemungkinan bahwa situasi besok akan membaik, melainkan di atas kepastian bahwa Allah telah bertindak melalui Kristus. Tidak heran jika penulis Ibrani menyebut pengharapan ini sebagai “sauh yang kuat dan aman bagi jiwa” (Ibr. 6:19). Seperti sauh yang menjaga kapal tetap tegap menerjang badai, demikian p**a pengharapan menopang hati kita agar tidak karam saat diguncang berbagai pencobaan.
Inilah batas tegas yang membedakan pengharapan Kristiani dari optimisme biasa. Optimisme manusiawi bersandar pada situasi dan berkata, "Semoga keadaan segera membaik." Sebaliknya, pengharapan iman bersandar pada Pribadi Allah dan berani berkata, "Apa pun yang terjadi, Allah tetap setia menggenapi setiap janji-Nya" (Mzm. 25:10; 73:26; Hab. 3:17). Rasul Paulus bahkan menyebut Dia sebagai "Allah sumber pengharapan" (Rm. 15:13).
Gereja mula-mula mungkin tidak pernah tahu bagaimana akhir dari setiap persoalan mereka, tetapi mereka mengenal dengan intim Siapa yang memegang masa depan. Ketika dunia melihat salib sebagai lambang kekalahan yang memalukan, mereka melihat salib dan kubur yang kosong sebagai fajar dari ciptaan yang baru. Dari sanalah lahir kekuatan yang menopang orang percaya, dahulu hingga hari ini.
Pengharapan yang lahir dari kebangkitan Kristus ini tidak berhenti menjadi catatan sejarah masa lalu. Ia terus bergerak melintasi abad, membentuk cara hidup orang percaya dari generasi ke generasi. Pengharapan Kristen tidak hanya bertanya dari mana ia berasal, melainkan bagaimana ia mengubah cara kita menjalani hari ini.
Berabad-abad kemudian, realitas ini dihidupi oleh Jürgen Moltmann. Setelah mengalami kelamnya Perang Dunia II dan menjalani hari-hari sebagai tawanan perang, Moltmann menyadari satu hal krusial: manusia tidak akan bisa bertahan hidup tanpa harapan. Melalui adikaryanya, Theology of Hope, ia menegaskan dalam Theology of Hope: "Christian faith lives from the raising of the crucified Christ, and strains after the promises of the universal future of Christ" (Moltmann, 1967, 16). Iman Kristen itu hidup dari kebangkitan Kristus yang disalibkan, dan bergerak maju menyambut masa depan yang dijanjikan-Nya.
Bagi Moltmann, kebangkitan Kristus bukanlah dogma kuno yang statis. Kebangkitan adalah fajar masa depan yang masuk ke masa kini, memberi kita kekuatan untuk tetap mengasihi ketika kasih tidak dibalas, tetap mengampuni saat hati terluka, tetap melayani meski tidak dihargai, dan tetap setia ketika hasilnya belum kelihatan.
Tetap Melangkah dalam Pengharapan
Pengharapan yang radikal seperti inilah yang sebenarnya menyelimuti rumah kontrakan sederhana yang saya ceritakan di awal.
Bertahun-tahun kemudian, keputusan iman dari ibu yang gemetar mengunci pintu malam itu menghasilkan buah yang tidak pernah dia bayangkan. Kedua anaknya bertumbuh dalam iman. Salah satunya menjadi seorang pendidik, dan anak yang satunya lagi... adalah saya, orang yang menulis artikel yang sedang Anda baca ini. Lebih dari itu, dua minggu sebelum ayah saya berp**ang, dia membuka hatinya dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya.
Kisah hidup ibu saya menjadi bukti nyata bagi saya bahwa pengharapan di dalam Kristus tidak menjanjikan hilangnya penderitaan dalam sekejap. Pengharapan itu bekerja dengan cara memberikan kekuatan untuk tetap melangkah di tengah badai, sampai Allah menyelesaikan karya-Nya yang indah.
Mungkin saat ini keadaan Anda belum berubah. Mungkin doa yang Anda panjatkan dengan derai air mata terasa belum mendapatkan jawaban. Namun, jangkar iman gereja mula-mula, ruang tawanan Moltmann, dan malam-malam sepi di rumah kontrakan ibu saya memberikan kita sekelumit bukti nyata bahwa pengharapan kita tidak pernah bersandar pada situasi, melainkan pada Kristus yang telah bangkit.
Karena Kristus hidup, kita selalu punya alasan untuk tetap melangkah, tetap setia, dan tetap berharap. Sebab, Dia yang memberikan janji adalah setia (Ibr. 10:23).
Dikutip dari https://www.odbm.org/id/artikel/bila-keadaan-tidak-berubah-masihkah-kita-tetap-berharap?utm_source=Apps&utm_medium=InApp&utm_campaign=Spotlight