12/04/2026
ABAD 4 - 7 DIPERKIRAKAN KEKRISTENAN SUDAH MASUK KE NUSANTARA.
Penelitian mengenai sejarah Kristen awal di Situs Bongal, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, merupakan temuan arkeologis yang relatif baru dan signifikan.
Selama ini kita hanya mendengar bahwa kekristenan ada dan datang sejak Nusantara di jajah oleh Eropa, padahal fakta arkheologis membuktikan bahwa interaksi orang-orang kristen sudah ada antara abad 4 -7 Masehi. Situs Bongal di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, menyimpan bukti arkeologis penting yang menunjukkan kemungkinan jejak penyebaran kekristenan awal (Nestorian) pada abad ke-4 hingga ke-5 Masehi. Temuan artefak seperti cincin bersimbol salib, manik-manik Romawi, dan sendok liturgi Bizantium mengindikasikan adanya interaksi perdagangan dan keagamaan kuno di kawasan ini.
Berikut adalah poin-poin penting sejarah Kristen di Situs Bongal:
Temuan Arkeologis Awal: Penelitian menemukan artefak dari masa Bizantium awal, termasuk batu berukir salib dan objek liturgi yang menunjukkan adanya komunitas Kristen atau pedagang Kristen.
Koneksi dengan Barus (Fansur): Sumber tertulis menunjukkan gereja Nestorian telah berkembang hingga ke daerah Fansur (Barus), dan temuan di Bongal mendukung adanya permukiman kuno yang berinteraksi dengan komunitas ini.
Signifikansi Situs: Situs ini memberikan wawasan baru bahwa kekristenan mungkin telah mencapai pantai barat Sumatera jauh lebih awal dari perkiraan sebelumnya.
Temuan ini memposisikan Situs Bongal sebagai area penting dalam sejarah interaksi awal kekristenan dan perdagangan di Nusantara.
Sejarah penyebaran agama Kristen kuno pada abad ke-4-5 Masehi ke Sumatra masih menjadi misteri di kalangan sejarawan. Sumber tertulis menyebutkan bahwa gereja Nestorian telah berkembang hingga Fansur atau Barus di pantai barat Sumatra. Penelitian itu telah mengungkap jejak kedatangan agama Kristen kuno pada awal Masehi melalui penemuan berbagai artefak Kristen di Situs Bongal. Berdasarkan analisis komparatif yang telah dilakukan, tampak bahwa terdapat kesamaan antara temuan artefak Kristen di Situs Bongal dan artefak Kristen Bizantium dan Kekaisaran Romawi pada awal Masehi.
Sebuah penelitian menyajikan temuan dari Situs Bongal sebagai sumber pelajaran penting untuk mata pelajaran Sejarah di Sekolah Menengah Atas, khususnya dalam mengeksplorasi dinamika interaksi budaya dan penyebaran agama di kep**auan Indonesia pada zaman kuno. Metodologi: Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif, mengintegrasikan pendekatan historis dan arkeologis. Pendekatan historis digunakan untuk merekonstruksi proses kedatangan Kekristenan di pantai barat Sumatra. Pada saat yang sama, data arkeologis didukung oleh tinjauan pustaka yang ekstensif dan observasi lapangan. Temuan Utama: Temuan menunjukkan bahwa penyebaran Kekristenan awal di Sumatra, perdebatan memang ada di kalangan sejarawan, namun bukti yang menunjukkan keberadaan Gereja Nestorian di wilayah Fansur (Barus) itu ada.
Berikut adalah beberapa penelitian dan penulis yang mengeksplorasi topik tersebut:
1.) Rosmaida Sinaga, dkk. (2024): Peneliti utama dalam artikel "Tracing Early Christianity at the Bongal Site, Central Tapanuli District, North Sumatra". Penelitian ini mengungkap jejak Kristen kuno melalui artefak seperti cincin berukir salib, manik-manik Romawi, dan sendok liturgi Bizantium yang diperkirakan berasal dari abad ke-4 hingga ke-5 Masehi.
2.) Ery Soedewo: Arkeolog dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang terlibat dalam studi situs Bongal. Ia meneliti data geologi dan geomorfologis situs, yang menunjukkan interaksi maritim di pesisir barat Sumatera Utara pada masa klasik, termasuk keberadaan pengaruh Kristen.
3.) Studi Early Christianity in Central Tapanuli: The Bongal Site (2025): Penelitian ini (dipublikasikan di Journal Evaluation in Education) menyoroti artefak situs Bongal sebagai bukti aktivitas perdagangan maritim yang membawa pengaruh Kristen awal, yang berbeda dengan teori kedatangan misionaris pada abad ke-17.
4.) J. Bakker, SJ (Catatan mengenai Gereja Nasara): Meskipun lebih lama, catatan Bakker mengenai keberadaan Gereja Nasara Nasathirah (Gereja Nestorian) di Fansur/Barus pada abad ke-7 sering dirujuk dalam penelitian modern mengenai sejarah kekristenan awal di wilayah Barus dan Tapanuli.
Situs Bongal, yang berada di Desa Jago-jago, Tapanuli Tengah, diyakini menjadi titik awal masuknya Kristen melalui jalur perdagangan laut yang terhubung dengan Bizantium dan Roma.
5.) Masuknya Kekristenan (khususnya Nestorian) ke Barus, Sumatera Utara, sering dikaitkan dengan catatan penjelajah Armenia, Mabousahl, dan referensi buku kuno dari Shaikh Abu Salih al-Armini yang menyebutkan adanya Gereja Nestorian di Barus pada abad ke-12.
6.) Literatur Umum Barus: Buku "Lobu Tua: Sejarah Awal Barus" dan "Barus Seribu Tahun yang Lalu" sering menjadi acuan mengenai peradaban kuno di wilayah
Tonton p**a pembahasan ini di youtube :
https://youtu.be/gO-5K9WZGqY?si=lMEHopvjQSPXLehc