31/03/2022
Turunnya wahyu adalah peristiwa yang dahsyat. Nabi Muhammad ﷺ mengalami ‘hal yang tidak biasa’ saat wahyu turun.
Sampai-sampai beliau menyatakan bahwa setiap kali menerima wahyu maka dirinya selalu menyangka rohnya hendak dicabut. Lantas, bagaimana saja kondisi Nabi Muhammad ketika wahyu turun?
Ketika wahyu pertama turun di gua Hira, Jibril masuk ke Gua Hira lalu memerintahkan Muhammad ﷺ untuk membaca. Hingga turunlah surah al-Alaq 1-5.
Mungkin ada yang bertanya, mengapa Jibril mendekap Nabi Muhammad ﷺ dan membuat beliau kepayahan? Mengapa beliau merasakan ketakutan?
Di antara faidahnya adalah Nabi ﷺ begitu sadar bahwa keanehan yang beliau alami adalah sesuatu yang hakiki, beliau ﷺ merasakan sakit yang bisa dirasakan inderanya. Sehingga tak ada rasa ragu atau menerka itu adalah khayalan atau menduga-duga. Kemudian hal ini juga menjadi pelajaran kepada beliau bahwa tahapan-tahapan wahyu berikutnya akan turun dalam keadaan berat seperti ini. Sebagaimana firman Allah dalam Qur'an Surah Al-Muzzammil ayat 5 yang artinya:
“Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat.”
Kata berat dalam ayat ini bukan hanya mengandung pengertian secara maknawi. Atau hanya berarti makna yang mendalam dan penuh hikmah. Berat tersebut adalah dalam arti sebenarnya. Yang dirasakan oleh panca indera.
Hal ini dipertegas lagi oleh pengalaman sahabat Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu. Ia mengatakan, “Sesungguhnya Rasulullah ﷺ sedang mendapat wahyu:
“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah…” (QS:An-Nisaa | Ayat: 95).
Kemudian datang Ibnu Ummi Maktum yang menyebutkan ayat itu padaku. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, seandainya aku bisa berjihad, pasti aku akan berjihad’. Ia adalah seorang laki-laki buta. Kemudian Allah Tabaraka wa Ta’ala menambahkan ayat kepada Rasul-Nya ﷺ. Saat itu paha beliau berada di atas pahaku. Aku merasa begitu keberatan. Sampai-sampai aku khawatir pahaku remuk. Setelah itu dilanjutkan kepada beliau, Allah menurunkan:
“yang tidak mempunyai uzur”
(QS:An-Nisaa | Ayat: 95).
(HR. al-Bukhary, Kitab al-Jihad wa as-Siyar, 2677, at-Turmudzi 3033, dan an-Nasa-I 4308).
Hadits ini menjelaskan kepada kita perkataan berat yang dimaksud dalam surat al-Muzammil mencakup berat dalam arti hakiki. Bukan hanya secara maknawi. Sebagaimana yang dirasakan oleh Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu. Demikian juga Aisyah radhiallahu ‘anha meriwayatkan,
“Apabila Rasulullah ﷺ menerima wahyu saat berada di atas tunggangannya (ontanya), maka bagian perut onta itu akan menempel ke tanah.” (HR. Ahmad 24912).
Dahsyat dan beratnya peristiwa menerima wahyu ini berbeda-beda. Wahyu yang satu bisa lebih berat dari wahyu lainnya. Al-Harits bin Hisyam radhiallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ, “Wahai Rasulullah, bagaimana cara wahyu datang kepadamu?” Rasulullah ﷺ menjawab,
“Terkadang wahyu itu datang kepadaku seperti suara lonceng. Inilah yang terberat bagiku. Dia memberitakan sesuatu dan aku memahami apa yang ia ucapkan. Dan terkadang malaikat datang dalam wujud seorang laki-laki, lalu dia berbicara padaku dan aku paham apa yang diucapkannya.”
(HR. al-Bukhari 3043 dan Muslim 2333).
Jadi, tingkat kesulitan penerimaan wahyu itu berbeda-beda. Dan yang paling berat adalah seperti gemerincing lonceng. Aisyah radhiallahu ‘anha paham betul tentang beratnya wahyu itu. ia menuturkan bagaimana keadaan Nabi ﷺ saat turun wahyu di musim dingin.
“Sungguh aku melihat wahyu turun kepada beliau di hari yang sangat dingin namun beliau tidak merasa kedinginan. Bahkan dari dahi beliau mengeluarkan keringat.”
(HR. al-Bukhari 2, at-Turmudzi 3634, an-Nasai- 1006, dan Ahmad 26241).
Di ruang ber-AC dengan suhu 20°c saja, kita sudah tidak berkeringat. Sedangkan dinginnya Kota Madinah bisa mencapai 10°c bahkan lebih rendah lagi. Dalam kodisi seperti itu, Rasulullah ﷺ berkeringat. Terbayang, betapa berat keadaan yang dialami Nabi ﷺ saat menerima wahyu.
Setidaknya, Nabi Muhammad ﷺ mengalami lima kondisi saat menerima wahyu. Pertama, wajahnya memerah. Saking dahsyatnya turunnya wahyu, wajah Nabi Muhammad sampai memerah. Kedua, berkeringat. Seperti yang disinggung di atas, manakala wahyu turun dalam bentuk lonceng maka Nabi Muhammad bercucuran keringat meski turunnya saat musim dingin.
Ketiga, sempoyongan. Turunnya wahyu juga membuat Nabi Muhammad ﷺ sempoyongan, meski kesadaran dan kestabilan beliau tidak sampai hilang. Keempat, tubuh Nabi Muhammad ﷺ menjadi berat. Kelima, Nabi Muhammad ﷺ seperti mendengar suara gerombolan lebah.
Itulah tadi beberapa kondisi Nabi Muhammad ﷺ ketika wahyu yang agung dari Allah yang Maha Agung itu turun kepada beliau ﷺ.
Memang cara cara wahyu itu turun berbeda beda, bisa berupa mimpi yang diilhami oleh Allah sebagaimana Nabi Ibrahim as yang bermimpi untuk mengorbankan anaknya Ismail as, malaikat yang menjelma menjadi Dihyah Al Khalbi salah satu sahabat Nabi dari kalangan Anshar yang disaksikan oleh Aisyah ra, menjelma sebagai seorang musafir yang tidak lazim karena pakaian nya yang bersih seperti orang yang tidak berpergian jauh yang disaksikan para sahabat Nabi, malaikat datang dengan wujud aslinya yang hanya bisa dilihat oleh beliau ﷺ seorang, diajak bicara langsung oleh Allah SWT tanpa perantara malaikat ketika mi'raj ke langit itu pun kudu pembelahan dada lagi biar suci bersih kalbu nya ketika menghadap pada sosok Tuhan semesta alam yang Maha Agung.
Wallahu alam bishawab
-Jejeff