10/08/2017
Dokter Tanpa Kaki
1 Korintus 10:13, Filipi 4:13
Li Juhong wanita asal Chongqing, Tiongkok, pada Maret 1983 silam, di usianya yang masih 4 tahun, mengalami peristiwa tragis, yang membuatnya harus kehilangan kedua kakinya. Saat itu, dalam perjalanan berangkat ke sekolah, di tabrak oleh truk. Karena terlindas, kedua kakinya harus diamputasi. Para dokter yang telah menyelamatkan nyawanya, memberikan semangat tersendiri baginya. Merek menginspirasi Li untuk menjadi seorang dokter saat beranjak dewasa. Sejak itu ia berkeinginan agar bisa membantu orang-orang sakit dan menyelamatkan nyawa mereka. Ia pun tidak mau tinggal dalam keterbatasannya, ia mulai belajar berjalan dengan menggunakan bangku kayu. Kegigihannya berlatih membuahkan hasil, di usia 8 tahun ia sudah terbiasa berjalan dengan bantuan bangku kayu.
Keterbatasan fisik tidak bisa memberangus impian Li, terbukti ia akhirnya menjadi dokter, setelah lulus sekolah, di tahun 2001, ia mulai berkerja di klinik kesehatan di Desa Wadian. Dengan bantuan bangku kayu sebagai ganti kakinya, Li mendatangi rumah pasien satu per satu untuk mengobati mereka. Dua tahun kemudian, ia menikah dengan Liu Xingyan, Suaminya sangat mendukungnya, bahkan ia berhenti berkerja dan mengurusi kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan istrinya, semua dilakukannya. Terkadang ia menggendong Li di punggung dan mengantarkannya ke klinik atau rumah pasien.
Hampir setiap hari Li melayani pasien di rumah-rumah mereka dan hingga kini ia telah menyelamatkan nyawa ribuan orang. Sealama 15 tahun sejak menjadi dokter, ia sudah menangani sekitar 6.000 orang pasien. Kebaikan hati serta keteguhan Li tidak hanya menginspirasi banyak orang, tetapu juga menginspirasi putranya. Putranya yang masih berusia 12 tahun, bercita-cita menjadi seorang dokter. Ia ingin mengikuti jejak sang ibu. Rahasia yang membuat Li tetap tegar, selalu berjuang, dan terus mendatangi rumah para pasien, karena ia yakin Tuhan akan menolongnya. "Jika dibandingkan dokter lainnya, kusulitan saya lebih banyak. Tetapi, saya selalu berbisik pada diri saya sendiri bahwa Tuhan membantu orang yang menolong dirinya sendiri. Itulah yang membuat saya terus maju" ujar Li.
Tuhan menghendaki kita untuk selalu berusaha menjadi pribadi yanb memiliki kedewasaan rohani, bahkan memiliki kasih dan kepedulian terhadap sesama, seperti halnya yang dilakukan oleh Li Juhong. Meski dalam keadaan terbatas Ia bahkan berorientasi terus menolong orang lain. Tidak ada alasan bagi kita untuk menolak melakukan kebaikan bagi orang lain, sebab ternyata Li yang memiliki keterbatasan pun mampu melakukan sesuatu di luar logika kita. Karena itu, mulailah hari ini dengan bersyukur kepada Tuhan atas keberadaan kita, dan mintalah kemampuan dari Tuhan agar kita bisa melakukan kabaikan, menolong, atau melakukan hal yang bermanfaat bagi banyak orang melalui apa yang ada pada kita.
Tuhana Yesus Memberkati