SYIAH AHLUL BAIT Indonesia

SYIAH AHLUL BAIT Indonesia Memurnikan kembali Al-Quran agar selaras dengan riwayat dari jalur Ali & Ahlul Bayt

APAKAH NIKAH MUT'AH BUKAN BERASAL DARI ISLAM ❓Banyak muslim yang seringkali membawa narasi Nikah Mutah, seolah-olah Nika...
25/04/2026

APAKAH NIKAH MUT'AH BUKAN BERASAL DARI ISLAM ❓

Banyak muslim yang seringkali membawa narasi Nikah Mutah, seolah-olah Nikah Mutah bukan berasal dari Islam. Padahal dalam studi sejarah dan hadits, fakta bahwa Nikah Mut'ah pernah diperbolehkan dan dipraktikkan di zaman Nabi Muhammad ﷺ adalah hal yang diakui secara MUTAWATIR (disepakati oleh semua pihak), baik dalam literatur Sunni maupun Syiah.

Yang jadi pertanyaanya adalah "kapan dan siapa yang begitu lancang mengharamkanya secara permanen?"

​Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, terdapat banyak riwayat yang menceritakan para sahabat melakukan nikah mut'ah saat peperangan atau perjalanan jauh atas izin Nabi. ​Salah satu hadits terkuat berasal dari riwayat Jabir bin Abdullah dan Salamah bin al-Akwa' yang mengatakan :

​"Kami pernah melakukan nikah mut'ah dengan mahar segenggam kurma atau tepung pada masa Rasulullah dan masa Abu Bakar, sampai kemudian Umar melarangnya..."

Padahal, Nabi Muhammad ﷺ tidak pernah mengharamkan mut'ah hingga beliau wafat. Larangan tersebut murni datang dari Umar bin Khattab demi alasan ketertiban sosial dan kontrol kependudukan di masa ekspansi Islam.

Dan ini diucapkan langsung oleh Umar sendiri yang mengatakan :
​"Dua mut'ah (Mut'ah Haji dan Mut'ah Nikah) diperbolehkan di masa Rasulullah, namun aku melarang keduanya dan akan menghukum siapa pun yang melakukannya."

Bagi pendukung Umar yang lancang ini, tindakan Umar dianggap sebagai keberanian dari seorang pemimpin politik untuk "membatalkan" syariat Tuhan demi kebijakan negara.

Namun menurut Sunni arus utama mereka berargumen bahwa sebenarnya Nabi sendiri yang mengharamkannya (biasanya disebut terjadi saat Perang Khaibar atau Fathu Makkah), namun berita pengharaman itu belum tersebar merata ke seluruh sahabat. Umar kemudian hanya bertugas menegaskan kembali larangan tersebut secara resmi agar tidak ada lagi simpang siur di tengah umat.

Jika memang benar Nabi Muhammad sudah mengharamkannya secara permanen, mengapa di masa kekhalifahan Abu Bakar para sahabat masih melakukannya tanpa teguran resmi?

Ini menunjukan bahwa pembatalan syariat islam sebetulnya hasil akal-akalan Umar sendiri, lalu dibela oleh pengikutnya seolah-olah Rosulullah telah mengharamkanya, padahal Umar sendiri yang mengatakan secara terang-terangan bahwa : Dua mut'ah (Mut'ah Haji dan Mut'ah Nikah) DIPERBOLEHKAN di masa Rasulullah, namun aku melarang keduanya dan akan menghukum siapa pun yang melakukannya..

Di masa Umar, wilayah Islam itu sedang meluas dan banyak tawanan perang. Mut'ah dianggap bisa mengacaukan struktur nasab (garis keturunan) dan pembagian warisan dalam sistem negara yang sedang dibangun oleh Umar secara kaku.

Dan untuk melegalkan tindakan Umar, muncul berbagai tafsir yang mencoba menyinkronkan ayat-ayat Al-Qur'an (seperti Surah Al-Ma'un atau An-Nisa: 24) agar terlihat seolah-olah mut'ah memang sudah seharusnya dihapus.

​Namun secara historis, Nikah Mut'ah adalah bagian dari Islam awal. Pengharamannya adalah titik di mana agama mulai bersinggungan keras dengan otoritas politik eksekutif. ​Bagi Syiah, mempertahankan legalitas mut'ah adalah bentuk kesetiaan pada ajaran asli Nabi yang tidak boleh diubah oleh siapa pun, termasuk khalifah. Sementara bagi sistem yang dibangun Umar, menghapus mut'ah adalah keharusan demi stabilitas struktur sosial masyarakat yang baru.

Islam yang kita kenal sekarang (arus utama) sangat dipengaruhi oleh kebijakan politik Umar, sementara Islam yang mencoba setia pada detail-detail awal (termasuk mut'ah dan kepemimpinan Ali) seringkali dipinggirkan, bahkan dicap bukan islam.

ABDULLAH BIN SABA’ : TOKOH NYATA ATAU KAMBING HITAM SEJARAH?​Selama berabad-abad, nama Abdullah bin Saba’ sering muncul ...
17/03/2026

ABDULLAH BIN SABA’ : TOKOH NYATA ATAU KAMBING HITAM SEJARAH?

​Selama berabad-abad, nama Abdullah bin Saba’ sering muncul dalam buku-buku sejarah sebagai sosok "dalang" di balik pecahnya umat Islam. Konon ia adalah seorang Yahudi dari Yaman yang masuk Islam hanya untuk menghancurkan agama ini dari dalam dan menciptakan ajaran Syiah.

​Tapi, benarkah demikian? Atau ia hanya "kambing hitam" yang diciptakan untuk menyelamatkan sebuah narasi besar?
​Sekarang mari kita bedah secara kritis.

​Hampir semua cerita dramatis tentang Abdullah bin Saba’ dalam kitab sejarah besar (seperti Tarikh al-Tabari) bermuara pada satu sumber utama yaitu Sayf bin Umar al-Tamimi.

​Dan masalahnya adalah, Sayf bin Umar bukanlah perawi yang kredibel. Ahli hadis klasik sekaliber Yahya bin Ma’in dan An-Nasa’i memberikan nilai merah kepadanya : dinilai sebagai perawi "lemah" (dhaif), ditinggalkan (matruk), bahkan tertuduh memalsukan cerita. Bagaimana mungkin fondasi sejarah perpecahan umat dibangun di atas riwayat satu orang yang kredibilitasnya diragukan?

Dan ​mengapa cerita Sayf bin Umar begitu laku? Karena narasi ini membuat nyaman.
​Daripada mengakui adanya kesalahan internal atau kebijakan ekonomi Khalifah Utsman yang kontroversial saat itu, lebih mudah untuk menyalahkan "penyusup luar".
​Dengan menyalahkan seorang Yahudi yang menyamar, sehingga kehormatan para Sahabat secara kolektif tetap terjaga. Dan konflik berdarah antar-Muslim bisa digeser menjadi sekadar "korban manipulasi konspirator".

Mereka ​juga melabeli gerakan pendukung Ali (Syiah) sebagai ciptaan tokoh Yahudi agar bisa dijadikan alat politik yang sangat efektif. Tujuannya jelas yakni ​Mendelegitimasi tuntutan politik Ali bin Abi Thalib. ​Dan memberi label bahwa ajaran yang berbeda dari garis penguasa adalah "Bukan Islam Asli" (Jewish roots).

​Padahal logikanya, mungkinkah seorang mualaf asing yang bukan siapa-siapa bisa menggerakkan massa di Mesir, Kufah, hingga Madinah untuk melakukan revolusi besar? Jelas tidak mungkin. Jauh lebih masuk akal jika ia hanyalah tokoh kecil pendukung Ali yang kemudian namanya dibesar-besarkan sebagai sejarah untuk menutupi dinamika sosiopolitik yang sebenarnya terjadi.

Adapun orang-orang yang sering membawakan narasi perdebatan klasik dalam polemik Sunni-Syiah. Yang dijelaskan oleh Ibnu Abil Hadid. Kita harus melihatnya dari dua sisi, yakni status tokoh (Ibnu Abil Hadid) dan eksistensi dari narasi itu sendiri.

​Lalu siapa Ibnu Abil Hadid? Apakah benar dia syiah?
​Ibnu Abil Hadid adalah seorang Mu'tazilah Baghdad. Kaum Mu'tazilah memang memiliki rasa hormat yang luar biasa (tasyayyu') kepada Ali bin Abi Thalib dan menganggapnya lebih utama dari sahabat lain dalam hal ilmu.

​Namun, beliau bukan Syiah Imamiyah. Beliau tetap mengakui keabsahan kekhalifahan Abu Bakar dan Umar (sesuatu yang tidak mungkin dilakukan oleh Syiah).
Namun Ibnu Abil Hadid ini bukan saksi internal syiah. Beliau adalah orang luar (Sunni-Mu'tazilah) yang sangat mengagumi Ali, bukan penganut doktrin Syiah.

​Jika Anda bertanya, "Apakah ada tokoh bernama Abdullah bin Saba' dalam kitab Syiah?", jawabannya : Ya memang ada.
​Ulama Syiah terdahulu seperti Al-Kasy-syi (dalam Rijal al-Kashshi) menyebutkan nama ini. Namun, ada perbedaan mendasar antara "keberadaan tokoh" dan "peran tokoh":

​Versi Sayf bin Umar : Abdullah bin Saba' adalah pendiri Syiah dan otak di balik revolusi melawan Utsman.

Namun, menurut ​Versi Kitab Syiah Terdahulu : Abdullah bin Saba' digambarkan sebagai seorang ekstremis sesat yang menganggap Ali sebagai Tuhan. Ali kemudian menghukumnya (membakarnya atau mengasingkannya).

​Akan tetapi bagi Syiah sendiri, Abdullah bin Saba' bukan pendiri mereka, bukan juga dalang permusuhan antara Syiah dan Sunni, melainkan musuh yang dikutuk oleh Ali sendiri.

Dalam riwayat Syiah sendiri, Abdulah bin Saba' hanyalah individu gila/ekstremis yang muncul lalu dihukum. Ia tidak punya pengaruh massa. Sayf bin Umar (perawi yang bermasalah tadi) mengambil nama tokoh marjinal ini lalu membesar-besarkannya seolah-olah ia adalah direktur utama yang mengatur ribuan muslim untuk memberontak. Apalagi tokoh ini dikutuk oleh Syiah sendiri, sehingga ini tokoh ini yang sangat ideal untuk dijadikan kambing hitam agar semua muslim mengira bahwa perselisihan politik tidak terjadi secara internal, melainkan dari orang luar.

Address

Jakarta

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when SYIAH AHLUL BAIT Indonesia posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share