SYIAH AHLUL BAIT Indonesia

SYIAH AHLUL BAIT Indonesia Memurnikan kembali Al-Quran agar selaras dengan riwayat dari jalur Ali & Ahlul Bayt

Sekedar mengingatkan kembali fakta sejarah tentang perilaku Sahabat Utama Nabi saw sebagai pelaku bid'ah dan pelanggar s...
21/04/2024

Sekedar mengingatkan kembali fakta sejarah tentang perilaku Sahabat Utama Nabi saw sebagai pelaku bid'ah dan pelanggar sunnah Nabi !

BID'AH-BID'AH SAHABAT UTAMA
NABI SAW !!!
-------------------------------------------------------
Siapa sebenarnya para pelaku bid'ah yg diancam masuk neraka oleh Al-Qur'an dan Rasul-Nya ?
-------------------------------------------------------

Tuduhan bahwa Syiah mengkafir kan semua sahabat Nabi saw dan memvonis sahabat murtad terus bergulir di manapun dan sampai kapanpun.

Belajar sejarah Islam sangat penting. Kita jadi terhindar dari fanatik buta terhadap beberapa tokoh sahabat yang "dimuliakan" SUNNI berdasarkan doktrin palsu. Memuja dan mengkultuskan mereka secara membabi buta tanpa fakta shahih membuat kita terjerumus ke dalam jurang kesesatan.

Ternyata faktanya "sahabat mulia" yang dipuja-puja setinggi langit sampai mengalahkan kemuliaan Rasulullah saw sendiri adalah para pelaku bid'ah, pelanggar Sunnah Nabi dan pendzalim keluarga suci Rasulullah saw.

Dan semua itu diungkap oleh Ahli Hadis Ahlusunnah sendiri Imam Bukhori, Muslim dan selainnya dalam kitab shohih mereka.

Simaklah bahwa yang menyebut kan sahabat Nabi saw masuk Neraka dan telah murtad, adalah hadis Bukhori sendiri, kitab hadis yang dijamin shohih setelah Al-Qur'an.

Tapi selalu saja yang dituduh dan jadi pesakitan adalah Syiah.

----------------------------------------------------------
"PERINGATAN KERAS BAHAYA BID'AH" dari Rasulullah Saw.
----------------------------------------------------------
Apa itu Bid'ah ?
Siapakah Para Pencetus Bid'ah ?
---------------------------------
"Ternyata para pencetus bid'ah adalah para sahabat Nabi saw generasi awal". ---------------------------------

Dalam suatu riwayat disebutkan, bahwa Rasulullah saw mengatakan akan terjadinya perselisihan yang banyak dan dahsyat dalam agama baik dalam ranah politis suksesi kepemimpinan maupun pada ranah pemahaman dan pelaksanaan ajaran agama.

Dan akibat perselisihan tersebut akan muncul bid'ah-bid'ah yang menyesatkan dalam agama.

Nabi saw memperingatkan akan bahaya tersebut dengan bersabda :

"Dan hati-hatilah kamu dari perkara-perkara yang baru karena ia adalah kesesatan".

Dalam riwayat Abu Daud :
"Dan hati-hatilah kalian dari hal-hal baru, karena setiap yang baru itu bid'ah dan setiap yang bid'ah itu sesat".
(Sunan Abu Daud dengan komentar Izzat Ubaid ad-Da'as dan Adil as-Sayyid, 5/3 hadis no. 4607 bab Fi Luzumi as-Sunnah).

Tentu yang dimaksud dengan bid'ah-bid'ah dan perkara-perkara baru adalah hal-hal baru yang dilakukan atas nama agama, penambahan atau pengurangan dalam materi agama yang tidak pernah diwahyukan atau disunnah kan (diajarkan) oleh Rasulullah saw sebagai wakil Allah SWT di muka bumi ini.

Dan perbuatan mengatas-nama kan agama ini akan berlangsung sepanjang zaman selama masih bertebarannya para pemalsu dan orang-orang yang merasa peduli atas "kekurangan" syariat agama, kendati Allah SWT melalui Rasul saw telah menyempurnakannya.

Menurut pensyarah Sunan Abu Daud, Abu Thayyib al-Azhim Abadi dan pensyarah Sunan At-Turmudzi, Al-Mubarakfuri, menjelaskan makna hadis tersebut sebagai berikut :

"Al-Hafidz Ibnu Rajab berkata,
"Peringatan bahwa setiap hal baru adalah bid'ah', menjelaskan yang dimaksud dengan bid'ah adalah apa-apa yang diada-adakan tetapi tidak memiliki dasar dalam syariat.

Adapun sesuatu yang memiliki dasar dalam syariat maka ia bukan bid'ah dalam istilah syariat meski secara bahasa disebut bid'ah.

Demikian Al-Azhim Abadi dan Al-Mubarakfuri menukil dari Al-Khaththabi. ('Aun al-Ma'bud, Al-Azhim Abadi, 12/360, Tuhfah al-Ahwadzi, 7/439-440).

Jadi, pada dasarnya semua bid'ah itu adalah kesesatan. Bid'ah tidak dapat dibagi-bagi dan diklasifikasi menjadi : "bid'ah hasanah (baik) dan bid'ah sayyiah (buruk)", sebab bid'ah adalah lawan dari petunjuk Allah dan sunnah Rasul-Nya. Bid'ah tidak mengenal pembagian seperti itu.

Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa mengada-ada dalam urusan kami ini (agama Islam), apa-apa yang tidak termasuk darinya maka ia tertolak".

(Sunan Abu Daud dengan syarah 'Aun al-Ma'bud, 12/358 hadis no 4582).

Ibnu Umar berkata, "Semua bid'ah itu adalah dholalah (kesesatan) walaupun ia dianggap orang hasanah".

(Hadis riwayat Ad-Darimi dengan sanad hasan menurut Al-Qaisi, dan oleh Masyhur Hasan Sulaiman digolongkan shahih).

Imam Malik berkata, "Barangsiapa mengada-ada (bid'ah) dalam Islam yang ia pandang hasanah (baik), maka ia benar-benar telah menganggap Muhammad telah menghianati "Risalah", karena Allah telah berfirman :

"Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Aku telah ridhai Islam sebagai agama bagimu". (QS 5 Al-Maidah ayat 3).

Maka apa-apa yang pada hari itu bukan termasuk dari bagian agama, maka ia hari ini juga bukan dari agama". (Al-Qaisi, Ma'alim at-Tauhid, 72).

----------------------------------------------------------
"Para Pencetus Bid'ah" :
----------------------------------------------------------
Siapakah para pencetus bid'ah dalam ajaran Islam ?

Ternyata yang menanam dan menyuburkan bid'ah-bid'ah atas nama agama yang kemudian "disakralkan dan dikultuskan" oleh sekelompok umat Islam, sampai-sampai disejajarkan dengan firman Allah dan sunnah Nabi saw, adalah mereka-mereka yang dimuliakan dan dipuja-puji dalam pandangan sebagian besar umat (golongan Sunni), yaitu sahabat Nabi saw generasi pertama.

Kalau kita mau mencari tahu siapa saja pelopor pencetus gelombang bid'ah dalam ajaran Islam ?

Imam Bukhori menginformasikan kepada kita bahwa generasi pertama Islam lah yang bertanggung jawab.

Bukhori meriwayatkan dalam shohihnya, "Dari Abi Wa'il, ia berkata, "Abdullah berkata : "Nabi saw bersabda,

"Aku akan mendahuluimu sampai di telaga Haudh dan akan dihadapkan kepadaku banyak orang dari kalian. Lalu, tatkala aku hendak memberi minum, mereka terpelanting, maka aku bertanya : "Wahai Tuhanku, selamatkan sahabat-sahabatku. Dia menjawab, "Kamu tidak tahu ihdats (bid'ah) apa yang telah mereka perbuat sepeninggalmu".

(Shahih Bukhori, 9/58, Kitabu al-Fitan dan 8/148. Ia juga meriwayat kan dari Huzaifah dalam Musnad Ahmad, 1/439 dan 455).

Dari Abdullah bin Mas'ud, ia mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda :

"Aku akan mendahuluimu sampai di telaga (Haudh) dan aku akan menarik beberapa kelompok manusia, akan tetapi aku dikalah- kan olehnya, lalu aku serukan, "Wahai Tuhanku, selamatkan sahabat-sahabatku". Ia menjawab, "Engkau tidak tahu ihdats (bid'ah) apa yang telah mereka perbuat sepeninggalmu".

(Musnad Ahmad, 1/402, 406, 407, 384, 425 dan 453. Shahih Muslim, 7/68).

Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda, :

"Akan datang dihadapanku kelak pada hari kiamat sekelompok dari sahabatku, tapi kemudian mereka dihalau. Aku bertanya, "Wahai Tuhanku, selamatkan sahabat- sahabatku". Lalu dikatakan, "Kamu tidak mengetahui ihdats (bid'ah) apa yang telah perbuat sepeninggal mu. Sesungguhnya mereka murtad dan berpaling (dari agama)". (Shahih Bukhori, 8/150).

Dari Abu Bakrah, Rasulullah saw bersabda :

"Akan datang menjumpaiku di telaga (Haudh) orang-orang yang pernah bersahabat dan melihatku. Ketika mereka dihadapkan kepada ku, dan aku kenali mereka, mereka terpelanting dariku".

"Maka aku berseru, "Ya Rabbi, selamatkan sahabatku. Lalu dijawab, "Engkau tidak mengetahui ihdats (bid'ah) apa yang mereka perbuat sepeninggalmu".

Dari Abu Hazim, ia berkata, "Aku mendengar Sahl bin Sa'ad berkata, "Aku mendengar Nabi saw bersabda :

"Aku akan mendahului datang di Haudh, siapa yang mendatangi nya ia pasti akan minum darinya, dan siapa yang mereguk darinya ia tidak akan haus selamanya, dan akan datang kepadaku beberapa kelompok yang sudah aku kenali mereka, lalu mereka dihalau dariku".

Abu Hazim berkata, "Ketika aku menyampaikan dihadapan orang-orang, Nu'man bin Abi 'Iyasy bertanya kepadaku, "Apakah demikian kamu mendengar dari Sahl ?" Aku menjawab, "Ya, benar". Lalu ia berkata, "Aku bersaksi bahwa Abu Said al-Kudri menyampaikan tambahan :

"Mereka adalah sahabatku. Maka dijawab, "Kamu tidak tahu apa yang sudah mereka ubah sepeninggal mu". Lalu aku berkata, "Celakalah, celakalah, orang-orang yang mengubah-ubah (agamaku) sepeninggalku".

(Shahih Bukhori, 9/58-59, Kitabul-fitan dan 8/150, Shahih Muslim, 7/96, Musnad Ahmad, 5/33 dan 3/28, Al-Isti'ab (dipinggir al-Ishabah), 1/159).

Imam Malik dalam Al-Muwaththa nya meriwayatkan sebuah hadis dari maula Umar bin Ubaidillah :

"Seusai mengebumikan para syuhada yang gugur dalam pertempuran Uhud, Rasulullah saw bersabda, "Aku bersaksi kebaikan untuk mereka".

Mendengar kesaksian Rasulullah saw tersebut, Abu Bakar berkata, "Wahai Rasulullah, bukankah kami juga saudara mereka ? Kami juga memeluk Islam sebagai mana mereka ? Dan juga berjihad sebagaimana mereka berjihad ?"

Abu Bakar memohon agar Rasulullah saw juga memberikan kesaksian akan kesudahan mereka yang khusnul khatimah, dan permohonan ini sangat wajar.

Menanggapi permohonan Abu Bakar tersebut Rasulullah saw menjawab, "Benar kalian seperti mereka. Namun aku tidak mengetahui ihdats (bid'ah) apa yang akan kalian kerjakan sepeninggalku".

Mendengar jawaban itu, Abu Bakar, sahabat yang sangat sensitif dan lembek hatinya itu menangis".

(Al-Muwaththa', Kitabul Jihad bab asy-Syuhada fi Sabilillah).

-----------------------
Para ulama Ahlusunnah wal Jamaah dibuat pusing dengan hadis-hadis diatas, karena selama ini sudah tertanam kuat dalam pikiran mereka sebuah doktrin yang mengatakan bahwa "semua sahabat itu 'udul, baik, mulia dan teladan dalam agama". Hadis-hadis di atas meruntuhkan pondasi akidah agama mereka.
-----------------------

Maka dicarilah segala cara untuk menyelamatkan doktrin mereka dengan menta'wilkan hadis-hadis diatas bahwa "yang dimaksudkan mereka adalah kaum munafik, atau sesekali mengatakan bahwa yang dimaksudkan adalah sahabat yang murtad".

Padahal cara pembenaran yang demikian malahan memunculkan kontroversi baru, apakah kaum munafik di zaman Nabi saw bukan sahabat Nabi saw ?

Demikianlah bahwa, dalam berbagai kesempatan, Nabi saw telah memprediksikan banyaknya penyimpangan dalam ajaran agama sepeninggalnya.

Nabi saw telah mengingatkan para sahabatnya agar tidak mengada-ada hal-hal baru dalam agama, yang tidak pernah diwahyukan atau bukan berasal darinya.

Dan pada kenyataannya memang para sahabat melakukan ihdats (bid'ah) dan merubah-rubah agama yang dibawa Rasulullah saw, sebagaimana pengakuan para sahabat sendiri.

Imam Bukhori meriwayatkan dari Al-'Ala' bin al-Musayyib dari ayahnya, ia berkata :

"Aku bertemu al-Barra' bin Azib lalu aku berkata, "Selamat bagi Anda yang telah bersahabat dengan Nabi saw dan berbai'at kepadanya di bawah pohon".

Maka ia berkata, "Wahai anak saudaraku, kamu tidak mengerti ihdats apa yang kami perbuat sepeninggal beliau".

(Shahih Bukhori, Kitab al-Maghazi, bab Ghazwah al-Hudaibiyah. Lihat Fath al-Bari, 16/25 hadis no 4170).

Ibnu Hajar juga meriwayatkan dari Al-'Ala' bin al-Musayyib dari ayah nya dari Abu Said, kami berkata kepadanya, "Selamat atasmu dengan menyaksikan Rasulullah saw dan bersahabat dengan beliau".

Maka ia menjawab, "Kamu tidak mengetahui apa yang kami ada-ada kan, "ahdatsna" sepeninggal beliau. (Al-ishabah, 3/84).

Jabir bin Abdillah berkata, "Tiada dari seorang dari kami (para sahabat Nabi saw) melainkan telah mengada-ada dalam agama".
(Al-Mustadrak, 3/560).

Menjelang wafatnya, Isteri Nabi saw Aisyah binti Abu Bakar berpesan agar tidak dikebumikan disamping pusara Rasulullah saw, Aisyah berpesan, "Aku telah melakukan ihdats (perubahan dalam agama) sepeninggal Rasulullah saw, maka kebumikan saja aku bersama isteri-isteri Nabi".

(Thabaqat Ibnu Sa'ad, 8/51 dengan sanad bersambung kepada Ismail Ibn Qais dan Ahmad Syibli Mausu'ah at-Tarikh al-Islami, menukil dari Al-'Iqdu al-Farid, 4/231).

Dari dokumen-dokumen di atas seluruhnya mengatakan kepada kita bahwa para sahabat mengakui telah melakukan bid'ah, perubahan dalam agama sebagaimana yang diberitakan oleh Rasulullah saw dalam sabda-sabdanya.

Karena itu dalam berbagai kesempatan, Rasulullah saw selalu berpesan agar jika terjadi perselisihan yang banyak dan dahsyat termasuk penyimpangan dalam ajaran agama, maka beliau saw mewasiatkan untuk berpegang teguh kepada sunnah Nabi saw dan pewaris beliau, para Imam Ahlulbait beliau saw.

Rasulullah saw bersabda :

مَنْ اَحَبَّ اَنْ يَحْيَا حَيَاتِي وَيَمُوْتَ مَيْتَتِيْ وَيَدْخُلَ الجَنَّةَ الَّتِي وَعَدَنِي رَبِّي وَهِيَ جَنَّةُ الخُلْدِ فَالْيَتَوَلَّ عَلِيًّا وَذُرِّيَتَهُ مِنْ بَعْدِهِ فَإِنَّهُمْ لَنْ يُخْرِجُوكُمْ بَابَ هُدًي وَ لَنْ يُدْخِلُوكُمْ بَابَ ضَلاَلَةٍ.

Artinya:" Siapa yang ingin hidup seperti hidupku, wafat seperti
wafatku serta masuk ke surga yang telah dijanjikan kepadaku oleh Tuhanku yaitu Jannatul Khuld, maka hendaklah ia berwilayah (mengakui kepemimpinan) kepada ‘Ali dan keturunan sesudahnya, karena sesungguhnya mereka tidak akan mengeluarkan kamu dari pintu
petunjuk dan tidak akan memasuk kan kamu ke pintu kesesatan".

Masih banyak lagi hadis-hadis Nabi saw akan kami ungkapkan yang mewasiatkan umat untuk mengikuti Ahlulbait Nabi saw.

----------------------------------------------------------
Bid'ah-bid'ah dan penyimpangan apa saja yang dilakukan oleh para sahabat Nabi saw :
----------------------------------------------------------

Kita bisa buka rekam jejak mereka sejak mereka bersama Nabi saw dan setelah kewafatan beliau saw.

---------------------------------------
Abu Bakar dan Umar bin Khattab :
---------------------------------------
- Abu Bakar dan Umar adalah dua
tokoh utama suku Quraisy yang
menjadi penentang wasiat Nabi
saw dengan menyingkirkan Ali
as dari kepemimpinan atas umat
menggantikan Nabi saw setelah
nya, dalam peristiwa "Saqifah",
dimana saat itu jenazah suci
Nabi saw belum dimakamkan.

- Umar bin Khattab melarang dan
menentang Nabi saw menulis
wasiat menjelang wafat beliau
dengan berkata bahwa Nabi saw
sedang meracau (mengingau)
dan Umar berkata, "Cukuplah
bagi kami kitabullah".

Baca "Tragedi Hari Kamis" dalam
kitab shohih "Bukhori dan
Muslim".

- Di awal jabatannya sebagai
khalifah, Abu Bakar didukung
oleh Umar menyerang dan
mendrobrak pintu rumah putri
Nabi saw, Fathimah Zahra as
untuk memaksa bai'at dari
Imam Ali as dan pendukung
nya. Dalam peristiwa itu, sayidah
Fathimah Zahra terluka patah
tulang rusuknya akibat dobrakan
pintu oleh para pengikut khalifah
sampai menderita sakit yang
menyebabkan kematiannya.

Inilah kezaliman luar biasa Abu Bakar dan Umar terhadap Ahlulbait Nabi saw, yaitu putri tercintanya sayidah Fathimah Zahra as.

Senada dengan para ulama di atas, sejarawan Yaqubi dalam Tarikh-nya, volume 2, halaman 137, dicetak di Beirut, dengan judul “Pemerintahan Abu Bakar”, menuliskan sebagai berikut :

“Ketika Abu Bakar menderita sakit keras, penyakit yang akhirnya menggiring kepada kematian, Abdurrahman Ibn Auf datang menjengguknya dan bertanya kepadanya, “Wahai khalifah Rasulullah! Apa kabar gerangan tuan?”

Abu Bakar menjawab, “Tentu saja baik. Aku tidak pernah menyesal kan apapun yang kulakukan kecuali tiga hal dan aku berharap aku tidak pernah melakukannya … !

Tiga hal yang telah aku lakukan dan aku berharap tidak pernah melakukannya ialah :

1. Aku berharap aku tidak tidak
pernah memakai belenggu
kekhalifahan ini !
2. Aku berharap aku tidak pernah
ikut menyerbu rumah
Fathimah !
3. Aku berharap aku tidak pernah
menyerang para pengikutnya,
bahkan meskipun mereka
menyerangku terlebih dahulu
dan menyatakan peperangan
denganku!”

Seperti kita ketahui banyak hadis Nabi saw yang antara lain menyatakan bahwa :

"Siapa yang menyakiti Fathimah sama dengan menyakiti aku, sama dengan menyakiti Allah Swt".
Atau : "Murka Fathimah adalah murkaku dan murka Allah Swt".

- Abu Bakar didukung oleh Umar
bin Khattab, merampas hak
milik Fathimah as yaitu "Tanah
Fadak", yang didapatnya dari
pemberian Nabi saw sewaktu
hidupnya.
Perbuatan itu membuat
Fathimah murka kepada mereka
berdua sampai wafatnya.

- Umar bin Khattab membuat
bid'ah memerintahkan sholat
sunnah malam ramadhan
dilaksanakan secara berjama'ah,
pada paruh kedua masa
kekuasaannya, sehingga sampai
sekarang dikenal dengan sholat
taraweh. Pada dasarnya sholat
sunnah tidak boleh dilakukakan
berjama'ah.

Umar sendiri malah berkata bahwa, "Inilah bid'ah yang paling indah yang pernah aku lakukan". Karena hal tersebut memang tidak pernah dilakukan di zaman Nabi saw dan Abu Bakar.

- Umar bin Khattab melarang
"Nikah Mut'ah", padahal Al-
Qur'an menghalalkannya.

Imam Ali as pernah berkata, "Jika seandainya Umar tidak melarang nikah mut'ah, niscaya perzinahan tidak akan merajalela".

Itulah beberapa contoh yang bisa kami tukilkan. (Riwayat lengkap dari peristiwa di atas di lain tulisan dengan rujukan Ulama Sunni).

---------------------------------------
Usman bin Affan :
---------------------------------------
Dimasa jabatannya sebagai Khalifah ketiga, Usman bin Affan banyak melanggar sunnah Nabi saw, antara lain :

- Menguasai harta Baitul Mal
sebagai milik pribadi, dan
membagikannya kepada
keluarga dan kroninya.

- Menyiksa sahabat Nabi saw
yang berani protes atas perilaku
nya.

Abu Dzar Gifari diasingkan
sampai wafat di pengasingan,
Ibnu Mas'ud disiksa sampai
cacat tubuhnya.

- Saling menghujat dan caci maki,
saling mengkafirkan dengan
Aisyah.

- Banyak melanggar sunnah Nabi.
Antara lain, Usman melaksana
kan sholat safar dhuhur ketika di
Mekah 4 rokaat, melanggar
sunnah Nabi saw.

- Merubah cara wudhu ajaran
Nabi saw yang sesuai alQur'an
(QS) 5, Surat Al-Maidah ayat 6)
menjadi cara wudhu mayoritas
umat Islam (Sunni) sekarang,
yang menyalahi ayat Al-Qur'an
tersebut.

Akibat perilakunya itulah, Usman bin Affan kemudian terbunuh dalam pemberontakan umat Islam. (Tulisan lengkap tentang Usman dibahas di bab lain dgn sumber rujukan ulama Sunni).

---------------------------------------
Aisyah binti Abu Bakar :
---------------------------------------
- Yang paling mencolok adalah
penyimpangannya sepeninggal
Nabi saw dengan melakukan
pemberontakan berdarah
dibantu sahabat Nabi saw
Tholhah, Zubair dan Marwan
Bani Umayah melawan Imam Ali
as dalam "Perang Unta sehingga
menyebabkan terbunuhnya
ribuan kaum muslimin.

Sebagaimana diketahui bahwa peperangan melawan Imam Ali as lebih jahat daripada peperangan di zaman Rasulullah saw oleh kaum kafir musyrik Quraisy. Kenapa ?

Dii zaman Imam Ali as menjabat Kalifah keempat, terjadi perang yang dilakukan oleh beberapa sahabat, yaitu :

- Perang Jamal oleh Aisyah yang
didukung oleh Thalhah, Zubair,
Marwan dari Bani Umayah.

- Perang Shiffin oleh Muawiyah
yang didukung Amr bin Ash,
Marwan dll.

- Perang Nahrawan oleh Kaum
Kawarij yang sebelumnya adalah
pendukung Imam Ali as ketika
melawan Muawiyah di Shiffin.

Yahya dari Abdullah bin Maskan dari Dharis :
"Orang ramai berdebat sesama mereka tentang manakah yang lebih jahat antara "perang melawan Imam Ali as atau perang melawan Rasulullah saw" ?

Imam Abu Ja'far Muhammad al- Baqir as (Imam Ahlulbait ke 5) berkata :

"Perang terhadap Ali as lebih jahat daripada perang terhadap Rasulullah saw".

Sesungguhnya perang terhadap Rasulullah saw dilakukan oleh mereka yang tidak mengakui Islam (Inna harb Rasulillah saw lam yuqirru bi al-Islam), dan sesungguh nya perang terhadap Imam Ali as dilakukan oleh mereka yang telah mengakui Islam (Inna harb Ali as aqarruu bi al-Islam thumma jahaduuhu)".

"Penentang-penentang terhadap Imam Ali as dalam perang Jamal dan Shiffin yang terdiri dari kalangan sahabat (termasuk Aisyah isteri Nabi saw) dan tabi'iin adalah lebih buruk dari para penentang Rasulullah saw.

Justru mereka itu telah mengakui Islam dan telah mengakui Muhammad saw adalah sebenar-benar Rasul Allah. Karena itu mereka, para penentang Ali as dilaknati oleh Allah, Rasul-Nya dan para malaikat-Nya".

Allah SWT berfirman:

كَيْفَ يَهْدِى اللّٰهُ قَوْمًا كَفَرُوْا بَعْدَ اِيْمَانِهِمْ وَشَهِدُوْۤا اَنَّ الرَّسُوْلَ حَقٌّ وَّجَآءَهُمُ الْبَيِّنٰتُ ۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ

"Kaifa yahdillaahu qoumang kafaruu ba'da iimaanihim wa syahiduuu annar-rosuula haqquw wa jaaa`ahumul-bayyinaat, wallohu laa yahdil-qoumazh-zhoolimiin"

"Bagaimana Allah akan memberi petunjuk kepada suatu kaum yang kafir setelah mereka beriman, serta mengakui bahwa Rasul (Muhammad) itu benar-benar (rasul), dan bukti-bukti yang jelas telah sampai kepada mereka? Allah tidak memberi petunjuk kepada orang zalim." (QS. Ali 'Imran 3: Ayat 86).

اُولٰٓئِكَ جَزَآ ؤُهُمْ اَنَّ عَلَيْهِمْ لَعْنَةَ اللّٰهِ وَالْمَلٰٓئِكَةِ وَالنَّاسِ اَجْمَعِيْنَ

"Ulaaa`ika jazaaa`uhum anna 'alaihim la'natallohi wal-malaaa`ikati wan-naasi ajma'iin"

"Mereka itu, balasannya ialah ditimpa laknat Allah, para malaikat, dan manusia seluruhnya,"
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 87).

Dalam banyak hadis-hadis Rasul Saw disebutkan antara lain :

"Barangsiapa membenci mereka Ahlulbaitku berarti sama dengan membenciku dan membenci Allah, barangiapa memusuhi dan memerangi mereka sama dengan memerangiku dan memerangi Allah Swt.

"Wahai Ali, tidak ada seseorang yang mencintai engkau kecuali mukmin dan tidak ada seseorang yang membenci engkau kecuali munafik".

Silahkan berpikir jernih, golongan yang menuduh Syiah kafir dan sesat bukan Islam, karena melaknat dan mengkafirkan sahabat Nabi saw, ternyata menohok diri sendiri.

Ternyata sahabat Nabi saw saling laknat dan saling bunuh antar sesama mereka, sesungguhnya golongan ini sama saja dengan melaknat dan mengkafir kan sahabat Nabi saw.

Semoga mencerahkan dan membuka wawasan keber"agama"an kita.

26/01/2023

Mayoritas selalu salah dalam memahami syiah. Mereka mengira syiah dominan seperti yang mereka fikir.
Padahal syiah tidak selalu seperti itu.

Pernahkah mereka berfikir bagaimana orang lain dalam memandang firqah mereka.
Apakah mereka tahu firqah yang pertama mentakwil sebagian hadits & kitab.
Jika tidak ada syiah maka tidak akan ada tassawuf .

= HAKIKAT AHLUL BAIT =Siapakah sebenarnya Ahli Bait itu? Apakah Ahli bait akan muncul dari keturunan (kerabat dekat) saj...
26/12/2022

= HAKIKAT AHLUL BAIT =

Siapakah sebenarnya Ahli Bait itu? Apakah Ahli bait akan muncul dari keturunan (kerabat dekat) saja?

" Sungguh Rasulullah SAW telah ditanya : “Hai Rasulullah apakah Allah mempunyai Ahli? Rasulullah Saw. Menjawab :”Ya, ahlul Qur’an, merekalah ahlullah dan orang yang dikhususkannya”.

= RUKUN IMAN SYIAH =Syiah memiliki rukun iman, sama halnya dengan aliran islam lainnya .Syiah memiliki 5 rukun iman dian...
02/12/2022

= RUKUN IMAN SYIAH =

Syiah memiliki rukun iman, sama halnya dengan aliran islam lainnya .
Syiah memiliki 5 rukun iman diantaranya :

▪At - Tauhid
▪An Nubuwah
▪Al - Imamah
▪Al - Adlu
▪Al - Ma'ad .

= NIKAH MUT'AH =Nikah Mut'ah adalah nikah atau perkawinan yang dilakukan antara laki-laki dan wanita dengan akad dan jan...
26/11/2022

= NIKAH MUT'AH =

Nikah Mut'ah adalah nikah atau perkawinan yang dilakukan antara laki-laki dan wanita dengan akad dan jangka waktu tertentu.

Nikah mutah merupakan sebuah pernikahan dengan karakteristik batasan waktu tertentu yang menjadi salah satu ajaran Syiah dalam kajian fikihnya. Sebagaimana yang terjadi di kota Pekalongan, praktek nikah mutah sebagian dilakukan oleh penganut Syiah.

= Apa itu KARBALA ? =Tradisi kaum Syiah saat Hari Asyura yang biasa dinamakan ritual Karbala merupakan hari yang menanda...
23/11/2022

= Apa itu KARBALA ? =

Tradisi kaum Syiah saat Hari Asyura yang biasa dinamakan ritual Karbala merupakan hari yang menandai peristiwa syahidnya cucu Nabi Muhammad SAW , Husein bin Ali bin Abi Thalib dan para sahabatnya dalam perang Karbala.

Asyura adalah hari ke-10 Muharram . Ini merupakan peringatan yang penting bagi umat Syiah.

MENAGAPA IMAM HUSAIN DIBUNUH?

Ibnu Taimiyah menjelaskan, peristiwa terbunuhnya Husein RA dilatarbelakangi oleh surat dari orang-orang Kufah yang mengklaim akan berbaiat atau mendukung Husein.

Husein lalu mengutus sepupunya, Muslim bin Aqil RA untuk memastikan kebenaran surat tersebut

Address

Jakarta

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when SYIAH AHLUL BAIT Indonesia posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share