02/05/2022
Seth Horton - My Easter Homecoming: Saya menjadi Katolik karena mempelajari ajaran paus Yohanes Paulus II tentang Teologi Tubuh
Saya tumbuh dibesarkan di New Hampshire dalam sebuah keluarga yang sangat rukun dan penuh pengabdian pada Gereja Kristen non denominasi. Sebuah keluarga yang penuh kasih. Orangtua yang sangat baik hati. Saudara-saudara kandung yang sangat baik hati.
Mereka mengajarkan pada saya tentang iman mereka dan mereka juga mengajarkan pada saya agar mengasihi Yesus dan mengasihi Tuhan. Dan mereka membantu saya untuk mengembangkan relasi saya sendiri dengan Yesus.
Mereka memberi saya banyak peluang untuk belajar tentang iman saya lewat liburan Kitab Suci di sekolah dan awana, dan Sekolah Minggu serta berbagai kegiatan yang kami lakukan untuk membantu saya mengerti tentang iman saya dan untuk mengerti siapa Yesus itu, dan apa itu Kekristenan secara umum.
Iman saya yang sesungguhnya dimulai pada saat saya remaja. Sebelum masa itu, saya belajar banyak tentang Yesus dan tentang Tuhan, namun saya belum menjadikan iman sebagai milik saya sendiri.
Barulah pada saat saya berusia 13 tahun, saya mulai menyelami ayat-ayat Kitab Suci itu sendiri untuk memahami siapa Tuhan itu.
Dan ada satu titik pada masa itu ketika sungguh mengena pada saya dan saya mulai mengembangkan relasi dengan Tuhan dan mulai menghabiskan waktu bersama firman-Nya.
Dan pada titik itulah saya memutuskan yang berasal dari latar belakang non denominasi, pembaptisan adalah pilihan bagi banyak orang, dan sekitar pada masa itulah saya memutuskan untuk dibaptis.
Saya dibaptis di sebuah danau di dekat rumah dan itu sungguh pengalaman yang mengesankan. Tapi saat itu usia saya masih sangat muda jadi saya tak ingat banyak tentang detilnya. Yang saya ingat waktu itu airnya hangat, dan tak lama sesudah itu terjadi hujan badai dengan petir.
Pengalaman itu sungguh berkesan dan itu sungguh awal dari kehidupan Kristen saya pada umumnya dan di titik itulah saya ingat saya banyak menghabiskan waktu untuk bertumbuh dalam iman.
Pada titik itu, saya sudah tak asing lagi dengan Gereja Katolik secara umum, dan saya belajar tentang itu. Dan di sekolah baptis non denominasi saya,....
Kali pertama saya belajar tentang Gereja Katolik adalah saat kelas kitab suci, kami mempelajari sebuah buku berjudul “Kingdom of the Cults” Dan dalam buku itu Gereja Katolik disebut sebagai salah satu sekte, jadi saya belajar banyak tentang apa pandangan Protestan tentang yang diyakini oleh Katolik, dan banyak diseputar tentang karya keselamatan, menyembah Bunda Maria, berdoa kepada orang-orang kudus, dan bukan kepada Tuhan.
Dan saya banyak belajar hal yang sama dari guru-guru saya di sekolah itu dan juga hal-hal yang sama dari Gereja saya di New Hampshire juga.
Baru saat saya berusia 15 tahunlah saya pertama kali berjumpa dengan seorang wanita Katolik. Saya bertanya dengan gamblang, mengapa dia tidak berdoa kepada Tuhan? Dan dia terkejut dengan pertanyaan saya, lalu mengkoreksi dengan mengatakan bahwa dia berdoa kepada Tuhan. Namun saya menyanggahnya.
Dan itulah cara saya untuk menunjukkan apa yang saya yakini tentang Katolik. Saya berpikir bahwa umat Katolik itu bukan umat Kristen dan bahwa itu hanya...tentu saja ada sebagian kecil umat Katolik yang orang Kristen, namun sebagian besar tidak. Karena mereka yakin akan masuk surga lewat perbuatan-perbuatan baik yang mereka lakukan.
Kali pertama saya berkontak dengan ajaran Gereja Katolik itu adalah lewat gadis yg kemudian menjadi istri saya. Saya mengenalnya pertama kali dan saya mendapati bahwa dia seorang Katolik, persis sebelum kami mulai berpacaran.
Pada hari pertama, saya tidak begitu membahasnya, tapi pada kencan kedua saya masuk dan mulai mengajukan berbagai pertanyaan tentang apa yang dia yakini. Dengan maksud untuk mencoba membuatnya mengerti tentang apa yang dia yakini dan mengapa dia meyakininya. Dan mengapa itu salah.
Jadi saya banyak mengajukan pertanyaan yang bersifat mengarahkan, untuk membantunya mengerti dimana dia salah. Dan seperti yang kita tahu dalam relasi, ini bukan cara yang baik untuk menjalin komunikasi.
Ketika saya pertama kali berjumpa dengan istri saya, saya langsung tahu bahwa dia punya Roh Kudus, dari cara dia menjalani hidupnya. Jadi, saya tahu bahwa meski apa yang saya yakini saat itu tentang Kekatolikan sedemikian, namun dia seorang Kristen, bahwa dia mengasihi Tuhan dan percaya kepada Yesus. Saya menganut perspektif yang sangat berbeda dengan apa yang dia yakini, meski saya melihat apa yang dia lakukan itu sungguh baik.
Saya tahu bahwa dia orang Kristen dan itu sangat penting dan tak dapat ditawar bagi saya, ketika saya mau berkencan dengannya.
Menurut saya, kami banyak berdiskusi panjang lebar tentang teologi dan hal pertama yang sungguh membuat saya bisa menangkap adalah, ketika kami bergabung dengan sebuah kelompok diskusi tentang Yohanes Paulus II. Tentang “Theology of the Body.”
Dan lewat kelompok itulah mereka menunjukkan pada saya tentang kedalaman teologi, yang diluar jangkauan umat Protestan.
Tentang masalah seksualitas yang kita punya dalam kultur kita di era kini. Yohanes Paulus II memberi respons pada itu lewat Theology of the Body. Dan orang Protestan sudah melakukan yang terbaik dari ayat-ayat Alkitab dan mereka sudah melakukan tugas yang baik dalam mengangkat masalah seksualitas yang kita punya. Tapi itu masih tak dapat dibandingkan dengan kedalaman dan keindahan dari Theology of the Body sebagaimana dikemukakan oleh Yohanes Paulus II.
Jadi, lewat mempelajari Theology of the Body saya mulai menghargai teologi Gereja Katolik dan saya mulai memperdalam iman saya sendiri lewat mempelajari Theology of the Body.
Kali pertama saya mulai ada dorongan untuk bergabung dengan Gereja Katolik adalah saat kami pergi ke acara Christopher West, di Ann Arbor, Michigan. Kami duduk di baris pertama terdepan di gereja. Dan mereka mengadakan acara itu di sebuah c***r alam.
Saya masih belum menghargai gagasan bahwa Yesus hadir dalam Ekaristi. Tapi Yesus memang hadir dalam Ekaristi pada saat itu bersama kami. Dan saat itu Dia mengatakan sesuatu, dan tiba-tiba saja semuanya masuk akal, masuk ke dalam tempatnya yang pas.
Bahwa Theology of the Body itu memang masuk di akal. Yang ada dikepala saya waktu itu adalah bahwa jika apa yang telah saya pelajari tentang Theology of the Body itu memang benar, maka Yesus haruslah hadir dalam Ekaristi.
Karena ajaran kunci dalam Theology of the Body adalah bahwa relasi antara Tuhan dan manusia adalah sebuah relasi pernikahan, dan bahwa Tuhan telah memberikan seluruh diri-Nya kepada umat manusia dalam relasi pernikahan dan sungguh-sungguh dalam Ekaristi.
Dari imam kepada orang-orang beriman.
Dan jika Theology of the Body itu memang benar, maka Yesus haruslah hadir dalam Ekaristi. Dan saat itulah semuanya dapat dimengerti saat saya duduk di sana, dan satu-satunya yang saya pikirkan adalah, jika Yesus hadir dalam Ekaristi, maka saya tak perlu pergi ke lain tempat selain ke Gereja Katolik.
Saat itu saya tidak membuat keputusan apa pun dan tidak memberitahu siapa pun apa yang saya alami, saya duduk merenungkan sekitar dua hingga tiga bulan dan pada saat itu saya tidak lagi melontarkan argumentasi dan hanya memikirkannya dalam benak saya. Tentang apa artinya sesungguhnya itu dan apa artinya itu buat saya.
Hingga saat itu hingga bulan berikutnya, saya tidak berkata apa-apa kepada pacar saya, Sarah.
Dan ketika sekitar masa Paskah, Gereja saya saat itu di Bowling Green dan Gereja saya memutuskan untuk tidak mengadakan kebaktian saat Paskah sehingga setiap orang bisa berkumpul bersama keluarga mereka. Bahkan sebagai seorang umat Protestan saya merasa bahwa itu tidaklah benar. Dan tak lama sekitar itu, saya bersama istri pergi ke Gereja Protestan bersama dan kami juga akan pergi ke misa bersama di Gereja Katolik.
Dan pada suatu hari Minggu kami pergi ke Gereja Katolik dan saya mengatakan bahwa tidak apa-apa kalau kita tidak ke Gereja Protestan karena kita sudah ke Gereja hari itu. Dan itulah mungkin indikasi pertama bahwa saya mulai mengalami perubahan dalam proses berpikir dan sekitar sebulan kemudian setelah acara Christopher West, saya mengatakan padanya dan tentu saja dia adalah orang pertama yang saya beritahu.
Sudah barang tentu bahwa ketika saya ke Gereja, saya sudah siap untuk terus dan masuk dalam minggu itu.
Setelah saya pikirkan dan pertimbangkan sekali lagi, saya memutuskan untuk masuk ke Gereja dan saya ingin melakukannya karena setelah mempelajari begitu banyak dan riset begitu banyak, juga berbagai percakapan dengan para imam serta teman-teman, saya sudah mantap itu masuk ke Gereja.
Dan saya bertanya kepada imam apakah saya boleh masuk dan dia mengatakan bahwa saya harus ikut RCIA (Rite of Christian Initiation of Adults) dan pada awalnya saya hanya ingin masuk dan tidak mengikuti ritus inisiasi kristen bagi orang dewasa (di Indonesia sama dengan masa katekumenat sebelum menjadi Katolik), saya ingin bisa masuk jauh lebih cepat. Namun imam itu menegaskan bahwa saya harus mengikuti RCIA. Maka, saya pun taat dan mengikutinya.
Bapa Jeff Walker adalah orang yang memimpin RCIA dan itu adalah pengalaman yang luar biasa.
Karena tadinya saya berpikir bahwa saya sudah paham Kitab Suci, bahwa tadinya saya kita saya sudah tahu banyak tentang teologi tapi ternyata masih jauh dari itu.
Dia membuka Kitab Suci dan saya pun memikirkan tentang bacaan Kitab Suci tentang “Perjalanan menuju Emaus”, ketika Yesus berjalan bersama dua orang murid dan Dia membuka pikiran mereka untuk dapat memahami Kitab Suci. Itulah ketika saya merasa bahwa RCIA memang untuk saya.
Dan ini menjadi sarana yang bagus sekali untuk mengubah pikiran saya dari perspektif Protestan yang memang baik namun kurang ada kepenuhan iman dibanding yang kita miliki di Gereja Katolik. Dan kita mengembangkan pandangan dunia yang selama ini saya anut sedemikian rupa sehingga ini jadi jauh lebih harmonis dengan Gereja dan dengan Yesus sendiri.
Datang ke Gereja selama pekan suci adalah pengalaman paling luar biasa dalam hidup saya. Dan seperti halnya persiapan Paskah yang saya tidak pernah mengalami secara sesungguhnya di Gereja saya sebelumnya, dan merayakan Paskah pertama di Gereja Katedral sungguh luar biasanya. Mendengarkan bunyi-bunyian dan aneka macam event liturgis, sungguh memukau.
Dan akhirnya tibalah saat Vigili Paskah, dan saya sungguh bergairah dan terpukau saat duduk di sana, dimana ini adalah liturgi terindah selama sepanjang tahun.
Dan ketika saya akhirnya dibaptis dan maju ke depan untuk menerima Ekaristi, saya mengalami kedamaian paling mendalam yang penah saya alami. Ini adalah perasaan bahwa saya sudah “pulang ke rumah” dan memperoleh pengalaman paling menyentuh hati dengan Yesus yang pernah saya alami.
Saya sudah punya banyak pengalaman dengan Yesus hingga waktu itu, tapi saat itu sama sekali berbeda, ketika Anda menyambut Yesus kedalam tubuh Anda. Dan saya pun menangis dan merasa bahwa keseluruhan misa itu indah dan menggairahkan.
Dan tujuh hari setelah Vigili Paskah, saya menikah dengan istri saya. Satu hal yang saya dan istri saya sama-sama inginkan adalah bahwa ketika kami menikah, kami sudah ada di lembaran yang sama.
Saat kami dulu berpacaran, kami masih belum terlalu mengerti tentang ini, namun kami membuka hati terhadap apa yang hendak Tuhan berikan pada kami.
Dan itu ternyata bahwa saya harus jadi umat Katolik. Dan tujuh hari setelah saya menjadi umat katolik, kami pun menikah. #
Salam ApiK
Diterjemahkan Tim ApiK dari sumber:
Seth Horton was a strong Evangelical Christian who grew up assuming that Catholicism was a cult. Later when he started dating a Catholic, he spent time tryin...