30/04/2017
Renungan Minggu Paskah III (30 April 2017)
Oleh: Fr. Patris, SDB
Pada akhir tahun 1970-an, pernah beredar sebuah film yang berjudul "Jesus Christ Superstar". Film itu berusaha melukiskan kehidupan yesus kristus dalam bentuk nyanyiannyanyian dan tarian-tarian. Dalam film itu terdapat beberapa pertanyaan yang tidak terjawab, seperti, "yesus kristus, adakah engkau itu betul seperti yang orang pikirkan?" musiknya pun bagus dan mempesona, seperti lagu yang dinyanyikan oleh maria magdalena, "saya tidak tahu bagaimana mencintai-nya." namun, terkadang ia membuat lucu apa yang sebetulnya dianggap suci, seperti ketika maria magdalena bernyanyi, "dia hanyalah seorang pria biasa dan saya telah mengenal begitu banyak pria sebelumnya." maklum, maria magdalena adalah seorang wanita dengan reputasi buruk.
Kesalahan paling besar yang dibuat oleh film itu ialah ia tidak melukiskan kebangkitan Kristus. Ia menyajikan begitu banyak adegan, mulai dari kelahiran sampai dengan kematian. Dan semuanya berakhir di sana sehingga orang bisa saja tidak melihat aspek superstar Yesus di dalam film itu. Film itu sama sekali tidak mempedulikan tujuan akhir dari seluruh perjalanan Kristus sampai di kayu salib, yaitu kebangkitan-Nya. Justru oleh karena kebangkitan-Nya itu, umat manusia percaya bahwa Yesus Kristus sungguh-sungguh Allah dan semua orang yang percaya kepadaNya juga akan mengalami kebangkitan seperti Dia. Bagi kita orang Kristen, Yesus Kristus menjadi Superstar justru karena Ia mati dan bangkit lagi.Kesalahan serupa dibuat oleh kedua murid dari Emaus sebagaimana kita dengar dalam Injil hari ini. Keduanya berpikir bahwa segala sesuatu telah berakhir dengan kematian Yesus di kayu salib. Hal itu tampak jelas dalam kata-kata mereka yang bernada putus asa tentang Yesus. "Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami. Namun, imam-imam kepala dan pemimpinpemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padahal, kami dahulu mengharapkan bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan Israel" (Luk 24:19-21). Kedua murid itu meninggalkan Yerusalem sebelum berita tentang kebangkitan Yesus tersebar luas. Itulah sebabnya mereka menjadi sangat sedih.
Namun, sebagaimana tampak dalam cerita itu, Yesus membimbing kedua murid itu untuk masuk secara perlahan-lahan ke dalam misteri kebangkitan-Nya. Dia melakukan hal itu dengan dua cara, yakni melalui sabda dan sakramen. Bimbingan melalui sabda terjadi ketika Yesus "menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari Kitabkitab Musa dan segala Kitab Nabi-nabi" (Luk 24:27). Sementara tuntunan melalui sakramen terjadi ketika Yesus "mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka" (Luk 24:30). Dalam peristiwa pemecahan roti itulah, kedua murid itu mengenal Yesus yang bangkit. Namun, pada waktu itu, Yesus lenyap dari hadapan mereka.
Peristiwa penampakan Yesus kepada murid-murid dari Emaus mengajarkan kita untuk tidak berhenti pada hal-hal yang kelihatannya gagal atau menyebabkan frustrasi, kesedihan, putusasa, kekecewaaan, atau penderitaan. Di balik peristiwa-peristiwa itu pasti ada titik terang dan hikmahnya. Setelah dibimbing oleh Yesus melalui sabda dan sakramen-Nya, kedua murid dari Emaus yang kelihatan sudah putus-asa dan frustrasi itu kembali mengalami sukacita dan kegembiraan karena mereka telah bertemu dengan Yesus Kristus yang sudah bangkit. Sebagaimana di balik kematian ada kebangkitan, demikian p**a di balik setiap pengalaman yang kurang menyenangkan pasti ada hikmah bagi kehidupan kita selanjutnya.
Semoga! Amin.