Kencan Dengan Tuhan. Pak Doddy Albertus

Kencan Dengan Tuhan. Pak Doddy Albertus page Kencan Dengan Tuhan; catatan renungan harian karya Pak Doddy Albertus, SPd.

Sebuah untaian kisah atau kejadian sehari-hari yang ditautkan dengan ajaran Tuhan Yesus untuk direfleksikan dalam pemeriksaan batin pribadi kita.

https://youtu.be/vZK7GtKZitE?si=u3pfChiP-oxnyVgBSabtu, 27 Juni 2026Amsal 11:6"Orang yang jujur dilepaskan oleh kebenaran...
26/06/2026

https://youtu.be/vZK7GtKZitE?si=u3pfChiP-oxnyVgB

Sabtu, 27 Juni 2026

Amsal 11:6
"Orang yang jujur
dilepaskan oleh kebenarannya,
tetapi pengkhianat
tertangkap oleh hawa nafsunya."

Ada sebuah kisah yang menceritakan ketika Abraham Lincoln bekerja sebagai penjaga toko di New Salem, Illinois, jauh sebelum Abraham Lincoln terjun di dunia politik.
Suatu sore, saat mencatat neraca keuangan, Lincoln mendapati bahwa ia telah memungut bayaran 6 sen lebih banyak dari seorang pelanggan.

Sebenarnya bisa saja Lincoln tutup mata soal itu karena nilainya tidak seberapa dan pelanggan tersebut juga tidak merasa kehilangan.
Namun yang dilakukan Lincoln sungguh baik. Malam itu juga ia berjalan kaki beberapa mil ke rumah pelanggan untuk mengembalikan kelebihan uang tersebut!

Integritas dan sikap jujur inilah yang akhirnya membawa Abraham Lincoln dipercaya dan menjadi salah satu presiden Amerika Serikat yang berhasil dan dicintai rakyatnya.

Sesungguhnya kejujuran menjadi hal yang langka di zaman modern seperti sekarang. Kalau menerima kelebihan pembayaran, banyak orang "tutup mata".

Banyak alasannya. Pertama, ia merasa kadang juga dirugikan, jadi kalau gantian dapat "untung", apa salahnya?

Kedua, salah sendiri mereka yang tidak teliti dalam menghitung.

Ketiga, buat apa repot-repot mengurus kembalian kalau konsumen bahkan tidak merasa bayar lebih mahal.

Keempat, nilainya tidak seberapa, buat apa dipersoalkan.

Firman Tuhan dalam Amsal 11:6 mengatakan, "Orang yang jujur dilepaskan oleh kebenarannya, tetapi pengkhianat tertangkap oleh hawa nafsunya."

Kejujuran akan menolong kita, sebaliknya kecurangan akan mencelakakan kita. Kejujuran akan menjadi "pembela" bagi kita, sedangkan kecurangan akan menjerumuskan kita. Orang dunia mungkin akan mentertawakan kebodohan kita di saat kita bersikap jujur. Mereka mungkin saja tidak percaya masih ada orang jujur di dunia ini. Walau demikian, sebagai murid Kristus marilah kita tunjukkan gaya hidup yang berbeda dari orang dunia. Jadilah orang yang punya integritas dan bisa dipercaya. Semakin kita dipercaya, semakin besar promosi itu akan datang kepada kita.

Tuhan Yesus memberkati.

Doa:
Tuhan Yesus,
sejak aku
mengenal-Mu
hatiku
begitu tenang.
Ketenangan
itu juga
yang membuat
karakter ku
berubah.
Bantu aku
untuk terus
mempertahankan
kejujuran
sebagai bagian
dari pengenalanku
akan Engkau.
Amin. (Dod).

https://youtu.be/_kwnaFZxhSk?si=qJCMKS4efS5m7wtGJumat, 26 Juni 20261 Tesalonika 5:14"Sabarlah terhadap semua orang. "Ban...
25/06/2026

https://youtu.be/_kwnaFZxhSk?si=qJCMKS4efS5m7wtG

Jumat, 26 Juni 2026

1 Tesalonika 5:14
"Sabarlah terhadap
semua orang. "

Banyak orang punya masalah dengan emosi. Sangat temperamental dan gampang meledak.

Orang seperti ini bisa termasuk tipe gunung merapi yang mudah meletus. Kalau "gunung berapi" ini sudah meletus, keluarlah lahar perkataan yang panas, pedas, tajam, dan menyakitkan.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Secara ilmiah, di bagian otak kita ada amygdala yang kerap disebut otak emosi. Amygdala bekerja 80.000 kali lebih cepat dibandingkan otak besar. Karena amygdala bekerja lebih cepat, logika jadi dikalahkan emosi. Untuk mencapai kecepatan yang sama dengan amygdala, otak besar butuh waktu enam detik. Dari perhitungan inilah para ahli jiwa menemukan teori "Jeda Enam Detik", yaitu mengambil jeda selama 6 detik sebelum bicara dan mengambil keputusan saat kita marah atau sedang emosi.

Jauh sebelum teori Jeda Enam Detik ditemukan, firman Tuhan sudah memberi nasihat kepada kita yang memiliki problem emosi temperamental. 1 Tesalonika 5:14b mengatakan, "Sabarlah terhadap semua orang."

Ketika seseorang menyulut sumbu kemarahan kita, kita tidak akan langsung meledak sebaliknya kita berusaha mengulur-ulur waktu sangat lama untuk kita menjadi marah dan mendidih. Karena waktu "mendidihnya" lama maka kita punya banyak kesempatan untuk menguasai diri, menenangkan diri, dan berpikir jernih sebelum mengambil keputusan yang bodoh.

Jadilah sabar. Sabar membebaskan kita dari amarah yang tak terkontrol dan tak terkendali. Sabar menghindarkan kita dari kekeliruan. Dalam Amsal 14:17 dikatakan, "Siapa lekas naik darah, berlaku bodoh, tetapi orang yang bijaksana, bersabar."

Apakah kita orang yang bijak ataukah orang yang bodoh, ditentukan oleh seberapa kita sabar.

Jadilah pengikut Yesus yang perlu waktu lama untuk mendidih, bukan seperti gunung berapi yang meledak-ledak.

Setiap kali hendak meledak, ingatlah untuk mengambil jeda selama enam detik untuk menenangkan diri.

Tuhan Yesus memberkati.

Doa:
Tuhan Yesus,
berikanlah aku
kesabaran,
sehingga
masalah
apapun
yang terjadi
dalam
hidupku,
hatiku
dapat
tetap tenang
menghadapinya.
Amin. (Dod).

https://youtu.be/igR9GNP5nLo?si=P3AgcmAO6I7qZqCmKamis, 25 Juni 2026Lukas 6:33"Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada ora...
24/06/2026

https://youtu.be/igR9GNP5nLo?si=P3AgcmAO6I7qZqCm

Kamis, 25 Juni 2026

Lukas 6:33
"Sebab jikalau kamu berbuat baik
kepada orang yang berbuat baik kepada kamu,
apakah jasamu?
Orang-orang berdosapun berbuat demikian."

Senyum adalah salah satu gestur universal manusia. Bahasa manusia boleh berbeda-beda, budaya juga bisa beragam macamnya, tapi di hampir semua tempat, senyuman dimengerti sebagai tanda kegembiraan, keramahan, dan penerimaan.

Ketika kita melakukan kebaikan kepada seseorang, maka senyuman dan ucapan terima kasih darinya bukanlah hal yang mengejutkan. Namun ketika kita melakukan kesalahan, ketika kita menumpahkan minuman ke baju seseorang, kita datang terlambat ke satu pertemuan penting, kita berbelok di tikungan yang salah saat mengantarkan seseorang yang sedang buru-buru, tapi orang itu tetap memberikan senyuman, maka perasaan kita akan sangat berbeda dengan situasi pertama tadi. Kita jelas lebih lega. Senyuman itu menjadi lebih berkesan karena kita akan mengingat orang tersebut sebagai orang yang baik, sabar, rendah hati, dst.

Ketika kebaikan tampak sulit didapatkan tapi kita justru menerimanya, saat itu akan menjadi momen yang tak terlupakan.

Inilah yang diajarkan Yesus kepada kita. Bukan hanya berbuat baik kepada mereka yang baik kepada kita, tapi juga kepada mereka yang telah melukai atau berbuat jahat pada kita.

Bukan memberi sesuai apa yang diperintahkan, tapi memberi lebih dari itu. Bukan memberkati dan mendoakan orang yang kita sayangi saja, tapi memberkati dan mendoakan mereka yang mengutuki dan memusuhi kita.

Jika itu semua yang kita lakukan, percayalah tindakan itu akan jauh lebih diingat orang.

Itulah sesungguhnya yang disebut hidup yang menjadi berkat.

Jika kita ingin hidup kita bisa menjadi berkat bagi orang lain, itu tidak cukup dengan banyak memberi atau berbuat baik saja. Tapi, berilah, nyatakan kasih, dan buatlah kebaikan juga kepada mereka yang seolah tidak pantas untuk menerimanya, yaitu mereka yang membenci, memusuhi, dan menyakiti kita.

Tuhan Yesus memberkati.

Doa:
Tuhan Yesus,
penuhilah aku
dengan
cinta-Mu,
agar aku
dapat
membagikan
cinta-Mu itu
kepada
orang lain
tanpa
memandang
apakah dia
baik bagiku
atau
mengecewakanku.
Amin. (Dod).

https://youtu.be/x46Q60O__Ew?si=4w41oqil9Ju0yQQmRabu, 24 Juni 2026Lukas 6:31"Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang...
23/06/2026

https://youtu.be/x46Q60O__Ew?si=4w41oqil9Ju0yQQm

Rabu, 24 Juni 2026

Lukas 6:31
"Dan sebagaimana kamu kehendaki
supaya orang perbuat kepadamu,
perbuatlah juga demikian
kepada mereka."

Seorang pria bercerita:
"Waktu kecil, aku ingat suatu malam ketika Ibu menyiapkan makan malam setelah seharian kerja yang melelahkan.
Saat itu, la menghidangkan telur dadar, sosis, dan beberapa biskuit gosong di hadapan ayahku. Aku menunggu reaksi kaget atau protes ayahku.
Tapi, yang Ayah lakukan saat itu justru langsung mengambil biskuit itu, memakannya, sambil bertanya apa yang terjadi di sekolahku hari itu.
Sesaat setelah itu, aku mendengar Ibu meminta maaf pada Ayah karena biskuitnya sedikit gosong. Dan Ayah menjawab: 'Tidak apa-apa Sayang, enak kok biskuitnya.’
Penasaran, aku pun bertanya pada Ayah mengenai apakah ia benar-benar menyukai biskuit gosong ketika kami hanya berdua di kamar.
Ayah pun memelukku sambil menjawab:
'Ibumu sudah bekerja keras seharian dan ia sudah lelah. Lagip**a, biskuit yang sedikit gosong juga tidak akan membuat perut Ayah atau perutmu sakit, kan?'"

Dalam hidup keseharian, kita akan sering menemukan ketidaksempurnaan seperti itu. Biskuit gosong di atas adalah perlambang dari segala kelemahan/perbedaan orang-orang yang ada di sekitar kita.

Orang tua kita mungkin bukanlah orang kaya yang bisa memberi kita berbagai macam fasilitas. Sahabat kita orangnya mungkin sedikit lemot. Teman sekolah kita mungkin punya hobi s**a menggosip. Atau, rekan kantor kita mungkin ada yang maunya di zona aman terus, cenderung pasif, dan susah diajak maju.

Tapi, coba lihat diri kita sendiri, bukankah kita juga punya kelemahan? Sebagai rekan kerja, misalnya, kita mungkin cenderung berani dan punya ambisi kuat, tapi di sisi lain kita mungkin adalah seorang pelupa. Atau sebagai sahabat, kita mungkin pinter, tapi di sisi lain kita orangnya kurang tepat waktu. Maka, lebih baik syukuri kelemahan dan perbedaan itu daripada mengeluhkan apalagi mengutukinya.

Kita tidak mungkin berharap semua orang punya karakter yang baik dan sesuai keinginan kita. Menerima kelemahan orang-orang yang ada di sekitar kita dan perbedaan yang ada, adalah salah satu kunci penting buat menciptakan relasi atau hubungan yang sehat, selalu bertumbuh, dan bertahan lama.

Yang penting bukan "biskuit gosongnya", tapi "relasi" kita dengan orang-orang yang ada di sekitar kita.

Tuhan Yesus memberkati.

Doa:
Tuhan Yesus,
berilah aku
rahmat
kerendahan hati
sehingga dapat
menerima
kekurangan
orang-orang
di sekitarku
dan mampu
memotivasi
mereka
untuk
melangkah
lebih maju.
Amin. (Dod).

https://youtu.be/TBM6SJ18Cn0?si=kBnlOspngn5yGj5NSelasa, 23 Juni 2026Keluaran 4:10 Lalu kata Musa kepada TUHAN: "Ah, Tuha...
22/06/2026

https://youtu.be/TBM6SJ18Cn0?si=kBnlOspngn5yGj5N

Selasa, 23 Juni 2026

Keluaran 4:10
Lalu kata Musa kepada TUHAN:
"Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara,
dahulu pun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mu pun tidak,
sebab aku berat mulut dan berat lidah."

Rowan Atkinson lahir dalam keluarga ekonomi menengah dan mengalami banyak kesulitan ketika kanak-kanak karena masalah gagapnya.

Di sekolah, ia sering kali di bully dan dianggap seperti alien.
Ketika ia fokus di bidang ilmu pengetahuan, gurunya pun berkata kalo ia sama sekali tidak menonjol.

Tapi di kemudian hari, ia berhasil membuktikan diri. la diterima di Universitas Oxford dan meraih gelar master dalam bidang teknik elektro.

Setelah itu, ia mulai mengejar kemampuannya dalam bidang akting. Lagi-lagi karena masalah gagapnya, ia banyak ditolak oleh stasiun televisi.

Tapi ia tidak pernah menyerah terhadap kemampuannya. la terus mengembangkan gaya komedinya sendiri dan akhirnya terciptalah karakter Mr. Bean yang mendunia.

Rowan secara tidak langsung sudah membuktikan bahwa tanpa tubuh kekar dan wajah Hollywood pun, ia bisa menjadi aktor yang disayangi dan dihormati di dunia perfilman.

Kisah hidup Mr. Bean bener-bener menunjukkan kalau hal yang terpenting untuk meraih keberhasilan adalah kemampuan, kerja keras, dan sikap pantang menyerah.

Dalam Alkitab, ada juga seorang tokoh yang punya masalah dalam hal komunikasi. la adalah Musa.

Waktu Tuhan memintanya memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir, ia sendiri yang mengakui kelemahannya itu: "Ya, Tuhan, saya bukan orang yang pandai bicara, baik dahulu maupun sekarang, sesudah TUHAN bicara kepada saya. Saya berat lidah, bicara lambat dan tidak lancar."

Tapi Tuhan sendiri kemudian yang meyakinkan dan memampukannya.
Kelemahannya ini nggak jadi masalah sebab Musa sendiri akhirnya berhasil memimpin bangsa Israel selama puluhan tahun.

Tidak ada orang yang lahir sempurna. Semua orang pasti punya kelemahannya masing-masing. Bahkan orang berhasil yang kita kenal sekarang pun pasti punya kelemahan. Yang kita lakukan seharusnya bukanlah fokus pada kelemahan, tapi pada kemampuan yang diimbangi dengan kerja keras, dan sikap pantang menyerah.

Asal kita punya semua itu, ditambah dengan penyertaan Tuhan tentunya, maka kita bisa jadi apa pun yang kita mau. Tiap orang punya kelemahan, tapi tiap orang juga bisa berhasil.

Tuhan Yesus memberkati.

Doa:
Tuhan Yesus,
kuserahkan
keterbatasanku
ke dalam
tangan-Mu.
Aku percaya
melalui
berkat-Mu
maka
keterbatasanku
akan
Kau ubah
menjadi
kekuatanku.
Amin. (Dod).

https://youtu.be/ZV-Hn0rvM0c?si=agNs0CWtw9fKh1xySenin, 22 Juni 2026Efesus 5:15-16"Karena itu, perhatikanlah dengan saksa...
21/06/2026

https://youtu.be/ZV-Hn0rvM0c?si=agNs0CWtw9fKh1xy

Senin, 22 Juni 2026

Efesus 5:15-16
"Karena itu, perhatikanlah dengan saksama,
bagaimana kamu hidup,
janganlah seperti orang bebal,
tetapi seperti orang arif,
dan pergunakanlah waktu yang ada,
karena hari-hari ini adalah jahat."

Manusia memiliki banyak cara menghitung waktu. Kita juga mengenal banyak alat untuk melakukan itu semua, mulai dari kalender, jam, hingga stopwatch. Bahkan sebagian orang mengeluarkan uang berjuta-juta hingga milyaran rupiah untuk sebuah arloji saja.

Apakah orang yang memiliki arloji senilai milyaran rupiah pasti lebih menghargai waktu daripada mereka yang melihat waktu hanya dari jam di ponsel? Belum tentu.

Orang bisa menghargai waktu ketika ia bisa melihat waktu dengan cara yang benar. Sayang, masih banyak yang melihat waktu dengan cara salah.

Ada yang memakai seluruh waktunya hanya untuk melakukan satu hal (misal: bekerja terus menerus, atau berhura-hura tak ada habisnya). Ada juga yang terpaku pada masa lalu. Ada yang hanya fokus pada hal-hal jangka pendek sehingga tidak siap menghadapi masa depan.

Ada yang menilai seluruh waktunya dengan apa yang terjadi di satu waktu saja. Jika gagal, ia merasa hidupnya akan selalu gagal. Jika berhasil, ia sombong karena merasa tak akan bisa gagal.

Tidak sedikit juga yang gagal menikmati masa sekarang. Daripada menikmati hal-hal yang ada di hadapan mereka, mereka lebih terpaku pada masa lalu ataupun terus mengejar ini itu dengan beralasan semuanya demi masa depan.

Satu yang harus kita pahami adalah bahwa setiap waktu adalah berharga. Itu sebabnya kita harus belajar menghitung hari (Mazmur. 90:12).

Ya, hari, bukan bulan atau tahun. Artinya, hargai setiap waktu, dari waktu terkecil.

Setiap waktu adalah berharga, bukan karena waktu adalah uang seperti pepatah dunia. Waktu berharga karena apa yang kita lakukan di setiap waktu kita di dunia ini akan berdampak pada waktu kita di kekekalan nanti. Karena itu, hanya memakai waktu untuk urusan dunia, mengejar kesuksesan jasmani atau ambisi pribadi, tentu tidak bijak.

Memakai waktu untuk bersekutu dengan Allah, mengasihi keluarga, melayani sesama, serta juga beristirahat dan menjaga kesehatan, itu yang juga harus dilakukan.

Hiduplah dengan fokus untuk melakukan kehendak Allah dalam segala hal, baik itu di pekerjaan, pergaulan, hingga waktu pribadi. Itulah cara bijak menghargai waktu.

Tuhan Yesus memberkati.

Doa:
Tuhan Yesus,
berilah aku
hikmat-Mu
agar aku
dapat
menghargai
waktuku.
Sehingga apapun
yang aku lakukan
semua dapat
bermanfaat
bagi hidupku
saat ini
maupun untuk
persiapan
masa depanku.
Amin. (Dod).

https://youtu.be/9nxzkDkOd1Q?si=-q_ljKCegfSLw_13Minggu, 21 Juni 20262 Samuel 15:6"Cara yang demikianlah diperbuat Absalo...
20/06/2026

https://youtu.be/9nxzkDkOd1Q?si=-q_ljKCegfSLw_13

Minggu, 21 Juni 2026

2 Samuel 15:6
"Cara yang demikianlah diperbuat Absalom
kepada semua orang Israel
yang mau masuk menghadap
untuk diadili perkaranya oleh raja,
dan demikianlah Absalom
mencuri hati orang-orang Israel."

Kita sering mendengar peribahasa ada udang di balik baru. Jika seseorang terlihat baik, belum tentu ia benar-benar baik. Kita tidak pernah tahu kalau saja ia punya maksud tersembunyi.

Berbuat baik, tapi tidak tulus. Berbuat baik tapi ada maunya. Bukan berarti kita harus curiga kalau melihat seseorang melakukan perbuatan baik. Daripada sibuk menilai dan mencari tahu motivasi orang dalam melakukan kebaikan, lebih baik kita menjaga hati kita supaya tidak melakukan hal seperti ini.

Setiap kali kita akan melakukan perbuatan baik, cobalah kita jujur kepada diri kita sendiri, "Apakah kita melakukan kebaikan karena didasari kasih yang tulus, ataukah sebenarnya kita punya agenda tersembunyi?"

Absalom itu punya modal yang komplit untuk menjadi pemimpin besar Israel. Punya perawakan yang gagah, elok rupanya, cakap, dan terutama: pintar mengambil hati rakyat! Maka rakyat pun tertarik dengan kebaikan yang ditunjukkan oleh Absalom.

Betapa tidak? Dengan telaten Absalom mengambil hati rakyat Israel dengan kebaikan-kebaikan yang dilakukannya. Tidak main-main, "udang itu bersembunyi di balik batu" hingga empat tahun!

Betapa telatennya Absalom membangun citranya demi mengumpulkan massa. Begitu mayoritas orang Israel berpihak kepadanya, barulah ketahuan sifat asli Absalom, yaitu ia ingin memberontak dan mengkudeta ayahnya sendiri!

Baik tanpa disertai dengan ketulusan itu berbahaya. Cobalah jujur kepada diri kita sendiri, apakah kita tulus dalam melakukan kebaikan, ataukah sebenarnya kita punya maksud tersembunyi?

Sebagai anak-anak Tuhan, sungguh tidak pantas kalau kebaikan kita sebenarnya memiliki agenda terselubung. Bagaimana mungkin kita berharap Tuhan memberkati kebaikan yang kita lakukan, jika sebenarnya kita punya maksud yang tersembunyi, terlebih lagi jika kita punya maksud yang jahat seperti halnya yang dilakukan oleh Absalom!

Jadilah orang yang baik tapi tulus. Menolong tanpa pamrih. Memberi tanpa berharap imbalan. Murah hati tanpa berharap kembali.

Ketika kita tulus dalam berbuat baik, maka Tuhan sendiri yang akan membalas setiap kebaikan kita.

Tuhan Yesus memberkati.

Doa:
Tuhan Yesus,
murnikanlah
setiap kebaikan
yang sedang
aku rencanakan
maupun
yang akan
aku lakukan,
sehingga
semua nya itu
aku lakukan
dengan
tulus hati
tanpa ada
rencana
yang tidak baik
di baliknya.
Amin. (Dod).

https://youtu.be/NmTpouQADGo?si=q4_5bcUfPkec9YXHSabtu, 20 Juni 2026Roma 10:14"Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepa...
19/06/2026

https://youtu.be/NmTpouQADGo?si=q4_5bcUfPkec9YXH

Sabtu, 20 Juni 2026

Roma 10:14
"Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia?
Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia,
jika mereka tidak mendengar tentang Dia.
Bagaimana mereka mendengar tentang Dia,
jika tidak ada yang memberitakan-Nya?"

Shoichi Yokoi adalah salah satu serdadu Jepang yang bertempur di Perang Dunia II.

Pada tahun 1944, Yokoi berada di Guam saat pas**an Amerika menyerang dan merebut p**au itu. Yokoi enggan menyerah dan memilih bersembunyi di hutan dengan beberapa temannya.

Meski satu persatu temannya pergi atau wafat, Yokoi terus bertahan di hutan itu hingga 27 tahun, tanpa tahu Jepang telah menyerah pada 1945.

Ketika ditemukan oleh beberapa nelayan, Yokoi sempat memberontak karena mengira ia akan ditawan musuh (sesuatu yang dianggap memalukan bagi prajurit Jepang). Sampai akhimya ia diberi tahu bahwa perang sudah berakhir beberapa dekade lalu.

Saat Proklamasi Kemerdekaan dibacakan pada 17 Agustus 1945, mereka yang tinggal di pedesaan apalagi yang berada di p**au-p**au paling ujung Indonesia jelas belum tahu bahwa mereka telah menjadi bangsa merdeka. Teknologi dan komunikasi masih jauh dari saat ini. Harus ada orang yang memberi tahu mereka. Hingga akhirnya, cepat atau lambat berita tentang kemerdekaan Indonesia sampai ke telinga rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Kini semua rakyat Indonesia telah mengetahui bahwa mereka adalah bagian dari sebuah bangsa yang berdaulat.

Demikian p**a dengan berita tentang kemerdekaan yang lebih penting, yakni kemerdekaan manusia dari kutuk dosa.

Dua ribu tahun lalu, di atas kayu salib, Yesus telah memerdekakan kita dari belenggu dosa. Namun hingga kini, masih banyak orang yang belum pernah mendengar kabar tentang hal itu.
Seperti prajurit Yokoi tadi, mereka masih hidup dalam ketakutan, ketidakpastian, dan penderitaan. Ya, inilah tugas kita!

Kita harus menyebarkan kabar tentang keselamatan itu kepada mereka yang belum juga mendengarnya. Cukup beritahukan kabar gembira ini kepada mereka. Jelaskan ketika mereka ingin lebih tahu tentang siapa Yesus. Tunjukkan kasih-Nya melalui sikap hidup kita.

Mengenai respons mereka, itu urusan mereka dengan Tuhan. Inilah yang Tuhan mau untuk kita lakukan?

Tuhan pun berjanji bahwa la akan menyertai kita, yang artinya la akan memampukan kita. Jadi, tunggu apa lagi?

Tuhan Yesus memberkati.

Doa:
Tuhan Yesus,
berilah aku
kemauan
untuk
memberitakan
tentang kasih-Mu
kepada
orang lain
melalui
perkataan
dan
perbuatanku,
sehingga
semakin banyak
orang
mengenal Engkau
melalui
kehadiranku.
Amin. (Dod).

https://youtu.be/2D4rQXhQhQc?si=HJOsjXuPGK4oR7EHJumat, 19 Juni 2026Kejadian 16:9Lalu kata malaikat TUHAN itu kepadanya: ...
18/06/2026

https://youtu.be/2D4rQXhQhQc?si=HJOsjXuPGK4oR7EH

Jumat, 19 Juni 2026

Kejadian 16:9
Lalu kata malaikat TUHAN itu kepadanya:
"Kembalilah kepada nyonyamu,
biarkanlah engkau ditindas
di bawah kekuasaannya."

Bisakah kita membayangkan situasi ini? Di saat kita sedang menghadapi pergumulan besar, tiba-tiba Tuhan menjumpai kita melalui sebuah penglihatan.

Apa yang kita harapkan dari perjumpaan itu? Tentu saja kita yang sakit, ingin Tuhan memberi mukjizat kesembuhan. Kita yang sedang kekurangan berharap Tuhan akan mencukupkan, bahkan memberikan kelimpahan. Kita yang tidak tahu jalan keluar, tentu berharap Tuhan akan memberikan petunjuk kepada kita.

Perjumpaan dengan Tuhan sering dimaknai bahwa Tuhan pasti menjawab pergumulan umat-Nya.

Sekarang kita beralih pada kisah Hagar yang pergi meninggalkan rumah Abraham dan Sara karena tidak tahan ditindas oleh nyonyanya itu.

Ketika Hagar sampai di padang gurun, maka Malaikat Tuhan menjumpainya. Hagar mungkin membayangkan bahwa Tuhan akan memberikan tuan dan nyonya baru, yang lebih baik dari Sara. Hagar mungkin membayangkan bahwa Tuhan akan membawa ke tempat atau keadaan yang lebih baik dari sebelumnya.

Nyatanya bukan seperti itu yang dikatakan oleh Tuhan. Tuhan berkata, "Kembalilah kepada nyonyamu...".

Mendengar kalimat ini, Hagar mungkin berpikir kalau Tuhan menyuruh untuk kembali kepada nyonyanya, karena Tuhan akan melembutkan hati Sara supaya tidak menindas dia lagi.

Tapi kalimat berikutnya sungguh mengejutkan, karena Tuhan berkata, biarkanlah engkau ditindas di bawah kekuasaannya." (ayat 9).
Bayangkan, disuruh kembali untuk ditindas lagi!

Mengapa Tuhan menyuruh Hagar kembali kepada Sara? Karena prosesnya memang belum selesai! Tuhan memang mengizinkan Sara menindas Hagar, tapi pada saat yang sama Tuhan memberikan kekuatan kepada Hagar untuk kuat menanggung segala penindasan itu.

Hal yang sama juga berlaku dalam hidup kita.

Jika memang proses yang kita jalani belum selesai, jangan buru-buru keluar dari rencana Tuhan. Pastikan kita setia menjalani proses itu hingga tuntas.

Percayalah kalau waktunya sudah tiba, Tuhan sendiri yang akan mengeluarkan kita dari semua proses itu dan karakter kita pun akan menjadi lebih indah dari sebelumnya.

Tuhan Yesus memberkati.

Doa:
Tuhan Yesus,
terima kasih
untuk masalah
yang Kau
izinkan terjadi
dalam hidupku.
Aku percaya
melalui
masalah
tersebut,
Engkau
sedang
membentuk
aku
menjadi pribadi
yang kuat
dan tahan uji.
Amin. (Dod).

https://youtu.be/NaEQwQhZfOQ?si=mG26rfIRpgl39MXSKamis, 18 Juni 2026Yesaya 26:3Yang hatinya teguh Kaujagai dengan denai s...
17/06/2026

https://youtu.be/NaEQwQhZfOQ?si=mG26rfIRpgl39MXS

Kamis, 18 Juni 2026

Yesaya 26:3
Yang hatinya teguh Kaujagai dengan denai sejahtera,
sebab kepada-Mulah ia percaya."

Hidup adalah sekump**an pilihan. Banyak alasan untuk membuat kita tertawa, tapi banyak orang memilih untuk kecewa. Banyak hal yang seharusnya membuat kita tersenyum, tapi banyak orang justru memilih untuk bersedih.

Banyak hal yang seharusnya kita abaikan, tapi banyak orang justru mempersoalkan. Banyak hal yang seharusnya mudah dan sederhana untuk dijalani, tapi banyak orang memilih untuk ribet dan mempersulitnya.

Banyak hal yang seharusnya kita syukuri, tapi banyak orang memilih untuk mengeluhkan hal-hal yang tidak ia miliki.

Jika kita mau merenungkan lebih dalam, sesungguhnya hidup kita penuh dengan kebahagiaan, sayangnya kita tidak menyadarinya. Sebagai gantinya, kita justru memandang bahwa hidup kita seolah-olah hanya berisi penderitaan dan masalah saja. Lupa bahwa di dalam penderitaan sekalipun, kita bisa menemukan kekuatan dan penghiburan dari Tuhan.

Pilihlah yang baik, bukan yang buruk. Pilihlah yang mendatangkan s**acita, bukan yang mengundang kecemasan. Pilihlah untuk berbahagia, bukan takut dan khawatir.

Semuanya itu mungkin terjadi kalau kita bisa menguasai hati.
Menguasai hati untuk terus bersyukur, dan bukan iri karena membandingkan diri dengan orang lain.

Bukankah berkat tidak selalu urusan materi? Di saat jiwa kita tenang dan hati kita damai, bukankah itu kebahagiaan yang jauh lebih berharga daripada sekadar kekayaan dan materi saja? Itulah sebabnya untuk bahagia tidak selalu berarti harus memiliki segalanya, melainkan bersyukur untuk semuanya.

Seperti halnya sebuah kalimat bijak berkata, "Bukan karena bahagia yang membuat kita bersyukur, tetapi karena kita bersyukur maka kita jadi bahagia."

Jika kita mengerti rahasia kehidupan ini, tidak ada alasan untuk kita melupakan segala kebaikan dan kasih karunia Tuhan yang telah kita terima. Bahkan, di saat kita mengalami masa-masa yang paling sulit sekalipun, kita akan tetap merasakan ketenangan di dalam Tuhan. Di tengah badai kita merasakan damai!

Apakah kita ketenangan jiwa seperti ini terjadi dalam hidup kita? Marilah kita ubah cara pandang kita.

Tuhan Yesus memberkati.

Doa:
Tuhan Yesus,
berilah
aku
ketenangan,
bahkan
di masa-masa
sulit pun
aku
rindu
Engkau
hadir
untuk
memberi
ketenangan
padaku.
Amin. (Dod).

Address

Jakarta
12970

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Kencan Dengan Tuhan. Pak Doddy Albertus posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share