NU Tanah Abang

NU Tanah Abang Ahlussunah Waljama'ah

19/04/2024

عَلِمَ وُجُوْدَ الضَّعْفِ مِنْكَ فَقَلَّلَ أَعْدَادَهَا وَ عَلِمَ احْتِيَاجَكَ إِلَى فَضْلِهِ فَكَثَّرَ أَمْدَادَهَا.

“Allah telah mengetahui kelemahanmu, maka Ia menyederhanakan bilangannya (yaitu hanya lima waktu).
Dan Allah juga mengetahui bahwa engkau sangat membutuhkan anugerah-Nya,
maka ia memperbanyak dan melipat-gandakan pahalanya.”

14/04/2024

Setia adalah hal istimewa,
hanya mereka yg berwatak mulia dan hidupnya bahagia yg mampu menjalaninya.
Setia adalah madzhabnya imam Syafi'i.

09/04/2024

KITAB AN-NASHAIH DINIYAH BAB PUASA (13)
Karya Al Imam Al Habib Abdullah bin Alawy al Haddad رحمه الله تعالى

﷽ PUASA RAMADHAN ADALAH YANG PALING AFDHAL

قال المصنف رحمه الله تعالى ونفعنا بعلومه وأَمَدَّنا بأسراره واعادنا من بركاته في الدارين ... امـــــــــين

واعلم أن أفضل الصيام صيام شهر رمضان، وكذلك يكون الأمر في جميع الفرائض، أعني أنها تكون أفضل من الفرئض التي من جنسها بشيء كثير،

_🔹 Ketahuilah bahwa puasa yang paling utama adalah puasa di bulan Ramadhan. Begitu p**a halnya dalam seluruh amalan fardhu dan amalan sunnah yakni amalan-amalan itu lebih utama daripada amalan-amalan sejenisnya di bulan lainnya dengan kelebihan yang banyak_

لقوله عليه الصلاة والسلام عن الله تعالى : (ما تقرّبَ المتقرّبونَ إلي بمثل أداءِ ما أفترضتُه عليهم، ولا يزال العبد يتقرَّبُ إليَّ بالنوافل حتى أُحِبَّهُ) رواه البخاري في الكتاب الرقاق، باب: التواضع

_Nabi ﷺ bersabda dalam hadist qudsy : “Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang paling Aku cintai selain apa yang Aku wajibkan baginya. Hamba-Ku senantiasa mendekat diri kepada-Ku dengan amalan sunnah sehingga Aku mencintainya”_

والله أعلم

01/04/2024

قال أبو هريرة رضي الله عنه : إن أهل السماء ليتراءون بيوت أهل الأرض التي يذكر فيها اسم الله تعالى كما تتراءى النجوم.‏

Para malaikat sungguh melihat rumah-rumah Ahli dzikir seperti kita melihat bintang-bintang dilangit.

Humaira🖋️:📜 SYEKH ARSYAD DAN LAILATUL QADAR================================Ratusan tahun yang lalu, sepasang suami istri...
29/03/2024

Humaira🖋️:
📜 SYEKH ARSYAD DAN LAILATUL QADAR
================================
Ratusan tahun yang lalu, sepasang suami istri dari Negeri Banjar yang bernama Abdullah dan Aminah, mendapati malam Lailatul Qadar, malam 21 Ramadhan 1121 H.

Keduanya melihat kayu dan batu sujud kepada Allah, air sungai membeku. Keduanya memohon kepada Allah SWT agar anak yang dikandung sang istri menjadi seorang yang alim lagi zahid.

Manakala sempurna masa hamilnya, lahirlah anak laki-laki pada malam Kamis jam 3 pagi tanggal 13 Shafar 1122 H. Anak itu diberi nama Muhammad Arsyad.

Anak ini sangat cerdas, di usia 8 tahun sudah terlihat bakatnya, beda dengan anak-anak seusianya, ia pandai melukis.

Saat itu kebetulan Raja Banjar Sultan Tahmidullah bin Sultan Tamjidillah sedang berkeliling negeri. Ia terhenti kagum ketika melihat lukisan indah yang dibuat seorang anak kecil.

Sultan pun meminta izin pada orang tuanya agar ia tinggal di istana, dididik dan diajari oleh pihak kerajaan. Raja menjanjikan dirinya ketika dewasa nanti untuk berangkat memperdalam ilmu agama Islam di Makkah Mukarramah.

Suatu malam, Muhammad Arsyad kecil tidur di istana bersama para menteri. Aneh tapi nyata, seorang menteri terbangun, dan melihat jasad Muhammad Arsyad terangkat dari tepat tidurnya sekitar satu hasta. Menteri pun langsung memegang anak ini.

Arsyad terbangun lalu menangis. Ketika ditanya oleh menteri apa sebab menangis? Anak ini menjawab bahwa ia bermimpi seorang lelaki yang membawanya naik ke langit. Ketika menteri memegangnya, ia pun terjaga.

Anak ini dikirim raja ke Makkah ketika berusia 30 tahun. Ia menimba ilmu di Makkah selama 30 tahun, menguasai semua disiplin ilmu, hingga diberikan izin oleh gurunya Syekh Athaillah untuk mengajar dan berfatwa di Masjidil Haram.

Dari Makkah, ia berangkat ke Madinah, menimba ilmu kurang lebih 5 tahun, berguru dengan Syekh Muhammad Samman al-Madani (Muassis Tarekat Sammaniyah). Syekh Samman ini murid dari Syekh Sulaiman al-Kurdi (ulama besar fiqh abad 12 H).

Syekh Arsyad meminta izin kepada Syekh Samman untuk ikut hadir di majlis Syekh al-Kurdi. Beliau pun diizinkan Syekh Samman.

Suatu ketika, Syekh al-Kurdi menemukan persoalan yang dianggap pelik, kemudian ia memberikan kesempatan kepada semua muridnya agar menjawabnya. Tapi tak ada yang menjawab. Hingga kemudian, datang sepucuk ke hadapan Syekh al-Kurdi, yang tak lain adalah jawaban atas persoalan tersebut.

Maka Syekh al-Kurdi bertanya siapa yang menulis surat itu, maka dijawab para santri tidak tahu, tapi didapat dari belakang, setelah ditanya terus ke belakang shaf, ternyata yang menjawab adalah Syekh Muhammad Arsyad, seorang santri baru di majlis itu.

Al-Kurdi bertanya kepada santri yang menjawab ini, "min aina anta?", lalu dijawab olehnya, "ana min Banjar". Kemudian ditetapkan oleh al-Kurdi, Anta Banjari. Beliau lah yang kita kenal Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.

Al-Kurdi kemudian meminta kepada para santri agar mencium tangan Syekh Arsyad, dan menyatakan bahwa Syekh Arsyad adalah muridnya yang paling alim. Setelah kejadian ini, Syekh Arsyad diminta al-Kurdi untuk duduk di depan dalam majlisnya.

Kembali ke Lailatul Qadar. Ketika bertemu Lailatul Qadar, Syekh Arsyad meminta agar diberikan dzuriat yang alim lagi sholeh hingga tujuh turunan.

Dalam karya monumentalnya, Sabilal Muhtadin, beliau mengutip pendapat Imam Syafi'i bahwa di sepuluh malam terakhir hendaklah i'tikaf memperbanyak ibadah, sedekah, dan membaca Alquran.

Dan di siang harinya mengisi berbagai ibadah dengan penuh keikhlasan dan sungguh-sungguh, karena malam Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Hadis Nabi, siapa yang menghidupkan malam lailatul qadar dengan ibadah karena iman dan mengharap keridhoan Allah, maka Allah ampuni dosa-dosanya yang terdahulu (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Tirmidzi, Nasa'i, Abu Daud, dari Abu Hurairah).

Aisyah istri Rasulullah SAW bertanya, wahai Rasul, bila aku menemui Lailatul Qadar, doa apa yang mestinya aku panjatkan? Rasul menjawab: Allahumma innaka 'afuwwun karim, tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni. (HR. Tirmizi, Ahmad, dan Ibnu Majah).
Di antara tanda-tanda lailatul qadar yang disebutkan dalam Sabilal Muhtadin, antara lain: malam itu tidak terlalu panas, tidak terlalu dingin, dan pada keesokan harinya matahari terbit warnanya putih bersih, tidak banyak mengelurkan cahaya karena banyaknya para malaikat yang turun dan naik ke langit, karena itu cahaya matahari terlindung dengan sayap malaikat dan dengan tubuhnya yang halus, dan tidak diketahui malam lailatul qadar melainkan orang yang tahu tentang ciri malam Lailatul Qadar.

Wallahu a'lam.

Dikutip dari Sabilal Muhtadin karya Syekh Muhammad, dan Syajaratul Arsyadiyah karya Syekh Abdurrahman Shiddiq.

MAJELIS AZZAHRO ALBANJARI
اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آله سيدنا محمد

Kiyai agung syekh Asnawi Caringin Pandeglang Banten
29/03/2024

Kiyai agung syekh Asnawi Caringin Pandeglang Banten

"Satu-Satunya Orang Indonesia yang ber-Khutbah di atas Mimbar Mesjid Al-Azhar"_____pada Kunjungan pertama Sukarno ke Mes...
23/03/2024

"Satu-Satunya Orang Indonesia yang ber-Khutbah di atas Mimbar Mesjid Al-Azhar"
_____
pada Kunjungan pertama Sukarno ke Mesir, tepatnya 18-24 Juli 1955
Ada peristiwa menarik yang tercatat dalam sejarah, yaitu seorang warga Indonesia yang ikut serta dalam iring-iringan Sukarno ke Mesir diberikan kesempatan untuk menyampaikan Khutbah Jum'at dan sekaligus menjadi Imam Shalat jumat di mesjid Azhar (22 Juli 1955).
______
Beliau adalah KH. Anwar Musaddad.
Beliau satu-satunya orang Indonesia yang diberikan kesempatan untuk berkhutbah di atas mimbar Azhar.
Seorang ulama terkemuka yang berkharismatik tinggi yang dilahirkan di tanah Garut Jawa Barat.
_____
Khutbah yang beliau sampaikan saat itu adalah tentang pentingnya mempererat tali persaudaraan.

Sejarah singkat & Perjuangan Ajengan KH Anwar Musaddad Abdullah Alawi

KH Anwar Musaddad lahir 3 April tahun 1910 M. Sejak berusia 4 tahun, ia telah menjadi yatim. Ia bersama adik-adiknya dibesarkan oleh ibunya, Siti Marfu’ah, seorang wiraswasta pengusaha batik Garutan dan dodol Garut “Kuraesin”.

Pada waktu usia sekolah, ia masuk HIS (setingkat SD) Kristen karena sebagai pribumi yang bukan anak pegawai negeri (ambtenar) dan bukan dari kalangan bangsawan (menak), ia tidak dapat masuk HIS Negeri. Kemudian masuk MULO (setingkat SMP) di Kristelijk di Garut, dan AMS (setingkat SMA) Kristelijk di Sukabumi.

Setelah menamatkan sekolah menengah, ia kemudian belajar di Pesantren Darussalam Wanaraja, Garut, selama dua tahun. Pada tahun 1930, ia menimba ilmu ke Mekkah selama 11 tahun di Madrasah Al-Falah. Di Makkah, ia memuntut ilmu kepada para ulama terkenal Makkah masa itu. Antara lain Sayyid Alwi al Maliki, Syekh Umar Hamdan, Sayyid Amin Qubti, Syekh Janan Toyyib (Mufgi Tanah Haram asal Minang), Syekh Abdul Muqoddasi (M***i Tanah Haram asal Solo).

Pulang ke tanah air, masa berakhirnya penjajahan Belanda. Pada masa penjajahan Jepang, ia diangkat menjadi kepala Kantor Urusan Agama Priangan. Pada masa revolusi kemerdekaan (1945-1949), bersama KH Yusuf Taujiri dan KH Mustofa Kamil, ia memimpin pasukan Hizbullah, melawan agresi Belanda yang ingin kembali menjajah RI. Sempat ditangkap Belanda (1948) dan mendekam di penjara.Baru dibebaskan setelah pengakuan kedaulatan (1950).

Pesantren Cipari, tempat Anwar Musaddad menutut ilmu sebelum berangkat ke Mekkah, adalah sebuah pesantren multifungsi. Selain mendidik para santri menyelami ilmu-ilmu agama Islam, untuk mencapai taraf tafaquh fiddin (ahli agama), juga menggembleng para santri untuk mencintai tanah air dan siap melawan penjajah.

Pada tahun 1953, ia mendapat tugas dari Menteri Agama KH Fakih Usman untuk mendirikan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAIN) di Yogyakarta, yang menjadi cikal-bakal Institut Agama Islam Negeri (IAIN), yang kini berkembang menjadi Universitas Islam Negeri (UIN).

Ia diangkat menjadi guru besar dalam bidang Ushuluddin di IAIN Yogyakarta dan menjadi fakultas tersebut pada tahun 1962-1967. Dalam Dies Natalis IAIN Al-Jami’ah ke-5 ia menyampaikan pidato berjudul Peranan Agama dalam Menyelesaikan Revolusi. Kemudian di tahun 1967, ia ditugaskan merintis IAIN Sunan Gunung Djati Bandung. Ia kemudian menjadi rektor pertamanya hingga tahun 1974.

Kiprahnya di NU ia pernah menjadi Wakil Rais ‘Am PBNU pada Muktamar NU di Semarang (1980).

Di bidang pendidikan, untuk menggembleng sumber daya manusia yang lengkap sempurna, ketika menjadi Rektor IAIN Sunan Gunung Jati, Anwar Musaddad juga mendirikan Sekolah Persiapan IAIN (SP IAIN) di Garut, Cipasung Tasikmalaya, Cilendek Bogor, Ciparay Bandung, Majalengka.Tujuannya, agar jumlah mahasiswa IAIN meningkat. Tujuan lainnya, sebagai perwujudan obsesi Anwar Musaddad “mengulamakan intelektual” dan “mengintelktualkan ulama”.

Sejak tahun 1976, Anwar Musaddad tinggal di Garut dengan mendirikan Pesantren Al-Musaddadiyah yang mengelola pendidikan tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Kiai yang terkenal sebagai ahli perbandingan agama, khususnya kristologi ini wafat pada tahun 2000 dalam usia 91 tahun.
Walahualam....

Lahul fatihah

KH. Hasbiyallah (1913-1982)KH. Hasbiyallah dilahirkan di Klender pada 29 Oktober 1913. Ia adalah putra kedua dari KH.Anw...
16/01/2024

KH. Hasbiyallah (1913-1982)

KH. Hasbiyallah dilahirkan di Klender pada 29 Oktober 1913. Ia adalah putra kedua dari KH.Anwar (Muallim H. Gayar) bin H. Abdurrahim bin Ali Basa bin Jamaludin. Ibunya adalah Hj. Mamnin binti Ja’man bin Supariman.
Pada masa kecil ia diajarkan oleh ayahnya sendiri, H. Gayar, tetapi karena kesibukan ayahnya dalam berdagang, ia kemudian diserahkan kepada Guru Marzuqi Cipinang Muara. H. Gayar berkata kepada Guru Marzuqi, “Gua ama Sa’id banyak ngurus dagang, ngajarnya kagak kayak elu. Elu aja yang jadi ulama. Kalo kita jadi ulama bertiga, entar kita pada berebutan berkat”.Sejak itu Hasbiyallah belajar kepada Guru Marzuqi untuk memperdalam kitab-kitab kuning sampai Guru Marzuqi wafat pada tahun 1934.

Selanjutnya Hasbiyallah melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Buntet Cirebon yang diasuh oleh KH. Abbas untuk mempelajari qiraat sab ’ah.
KH. Hasbiyallah juga mengaji kepada Guru Muhammad Thohir Cipinang Muara (menantu Guru Marzuqi), Guru Khalid Gondangdia, Guru Majid Pekojan, Guru Babah, Habib Ali Al- Habsyi Kwitang dan Habib Ali Al-Attas Bungur. Kemudian ia menyusul kakaknya KH. Hasbullah untuk meneruskan pendidikannya ke Makkah.

Di Makkah, ia mengaji kepada ulama terkemuka di antaranya Syaikh Ali Al-Maliki, Sayyid Alwi bin Abbas Al-Maliki, Syaikh Muhammad Habibullah As-Sanqithi, Syaikh Muhammad Amin Kutbi, Syaikh Umar Hamdan, Syaikh Hasan Al-Masysyath, Syaikh Ali Al-Yamani, Syaikh Zakariya Bila, Syaikh Ahmad Fathoni dan Syaikh Umar At-Turki.

Semasa hidup ia memiliki karya tulis yang berjudul Risalah Kaifiyah Sembahyang Tarawih, Pedoman Ziyarah Kubur, Sholat Al- ‘Aidaindan Penolakan Putusan Muktamar Alim Ulama di Palembang.Ia kerapkali menjadi rujukan dan pendapat para ulama Betawi lainnya seperi KH. Abdurrahman Nawi (Pendiri Perguruan Al-Awwabin) yang meminta KH. Hasbiyallah untuk mentashih risalah karangannya yang berjudul Manasik Haji.

KH. Hasbiyallah adalah tipikal ulama yang moderat di zamannya. Ketika KH. Zayadi Muhajir (yang kemudian hari menjadi menantunya) mengharamkan menonton TV dan radio, tetapi ia tidak mengharamkannya, bahkan sesekali ia menonton pertandingan sepakbola dan tinju di televisi.

Sikap moderat KH. Hasbiyallah juga ditunjukkan dalam buku Penolakan Putusan Muktamar Alim Ulama di Palembang. Buku itu merupakan tulisan penolakan KH. Hasbiyallah dan Habib Salim bin Jindan atas keputusan Muktamar Alim Ulama di Palembang pada 11 September 1957 yang mengharamkan Kabinet Gotong Royong dan Dewan Nasional yang terdiri dari berbagai macam aliran partai politik, seperi aliran agama, nasionalis dan sosialis. Menurut KH. Hasbiyallah, Kabinet Gotong Royong dan Dewan Nasional adalah hukumnya mubah saja karena hanya bertujuan demi kepentingan dan kemaslahatan masyarakat umum dalam Negara RI. Tidak ada alasan mengharamkan kecuali ada alasan dalil qur’an, hadist yang sohih dan ijma ulama.

Tidak diketahui secara pasti, organisasi Islam mana yang mengadakan Muktamar di Palembang pada 1957 karena KH. Hasbiyallah tidak menyebutnya secara jelas, akan tetapi, penolakannya membuktikan bahwa KH. Hasbiyallah adalah tipikal ulama yang berani melawan arus dan tampil beda dengan yang lain.

Karakter tersebut yang menyebabkan banyak muridnya yang ingin belajar kepada KH. Hasbiyallah. Ia selalu berpesan kepada murid-muridnya agar membangun madrasah di daerah masing-masing. “Bikin madrasah di rumah luh, walau dari tiang atau kayu kedongdong, Beri nama Wathoniyah ”Berangkat dari pesan tersebutlah kini perguruan Al-Wathoniyah telah memiliki 61 cabang yang didirikan oleh murid-muridnya. Murid-murid KH. Hasbiyallah yang menjadi ulama Betawi terkemuka antara lain KH. Muhadjirin Amsar Ad-Dary, KH. Abdul Rasyid Ramli dan KH. Ahmad Sodri dan lain-lain.

KH. Hasbiyallah wafat pada 24 Rabiul Tsani 1403 bertepatan dengan 18 Februari 1982 dan dimakamkan di komplek Masjid Al-Makmur Klender Jakarta Timur.

15/01/2024

Address

Jakarta

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when NU Tanah Abang posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share