Hidup Kudus - Pencinta Suara Kebenaran

Hidup Kudus - Pencinta Suara Kebenaran Mitra atau agen sukarelawan dari Suara Kebenaran dengan berbagi trimmed video khotbah Suara Kebenaran

21/09/2026

*REHOBOT YOUTH DAILY DEVOTIONAL*
21 September 2026

*TETAP BIJAKSANA DI TENGAH PENDERITAAN*

Ayub 12:13
_“Tetapi pada Allahlah hikmat dan kekuatan, Dialah yang mempunyai pertimbangan dan pengertian.”_

_Hi,_ Rehobot _Youth!_ Tidak ada seorang pun yang ingin mengalami kegagalan atau penderitaan. Gagal dalam ujian, ditolak di tempat yang diimpikan, kehilangan seseorang yang dikasihi, atau menghadapi masalah yang tidak kunjung selesai sering kali membuat kita bertanya, “Mengapa ini terjadi?” Dalam situasi seperti itu, kita bisa merasa bingung dan berusaha mencari jawaban dengan kemampuan kita sendiri.

Ayub mengalami hal yang sangat berat dalam hidupnya. Ia kehilangan banyak hal dan menghadapi penderitaan yang tidak mudah dipahami. Namun, di tengah situasi tersebut, Ayub menyadari bahwa hikmat dan kekuatan sejati hanya berasal dari Allah. Tuhan memiliki pengertian yang jauh melampaui pemahaman manusia.

Sering kali ketika menghadapi masalah, kita hanya mengandalkan logika atau perasaan kita. Kecerdasan intelektual _(IQ)_ dapat membantu kita mencari solusi, dan kecerdasan emosional _(EQ)_ membantu kita memahami perasaan. Namun, spiritualitas _(SQ)_ atau kedekatan dengan Allah memberikan dasar yang lebih dalam, yaitu hikmat untuk tetap percaya kepada Tuhan meskipun kita belum mengerti seluruh rencana-Nya.

Rehobot _Youth,_ kedekatan dengan Tuhan tidak selalu membuat semua penderitaan langsung hilang. Tetapi Tuhan memberikan kekuatan untuk menjalaninya dengan iman. Ketika kita datang kepada-Nya melalui doa dan firman Tuhan, kita belajar melihat masalah bukan hanya dari sudut pandang manusia, tetapi dari _perspektif_ Allah yang penuh hikmat.

Karena itu, jangan biarkan penderitaan membuatmu menjauh dari Tuhan. Justru dalam masa-masa sulit, datanglah lebih dekat kepada-Nya. Percayalah bahwa Tuhan memiliki hikmat dan pengertian yang sempurna. Ketika kita bersandar kepada-Nya, Tuhan akan memberikan kekuatan untuk tetap berdiri dalam setiap musim kehidupan.

✅ WHAT TO DO?
1. Datanglah kepada Tuhan ketika menghadapi masalah dan pergumulan.
2. Belajarlah mengandalkan Tuhan bukan dengan kekuatan sendiri.
3. Percayalah bahwa Tuhan tetap bekerja meskipun kamu belum memahami prosesnya.

📖 BIBLE MARATHON:
Yesaya 26

21/09/2026

*REHOBOT YOUTH DAILY DEVOTIONAL* (ENGLISH)
September 21, 2026

*REMAINING WISE AMIDST SUFFERING*

Job 12:13
_“To God belong wisdom and power; counsel and understanding are His.”_

Hi, Rehobot Youth! No one wants to experience failure or suffering. Failing an exam, being rejected by a dream institution, losing a loved one, or facing a problem that never seems to end often makes us ask, “Why is this happening?” In situations like these, we can feel confused and try to find answers using only our own abilities.

Job experienced incredibly difficult things in his life. He lost so much and faced suffering that was hard to comprehend. Yet, in the midst of that situation, Job realized that true wisdom and strength come only from God. The Lord possesses understanding that far surpasses human comprehension.

Often, when facing problems, we rely solely on logic or our feelings. Intellectual intelligence (IQ) can help us find solutions, and emotional intelligence (EQ) helps us understand our feelings. However, spirituality (SQ)—or closeness to God—provides a deeper foundation: the wisdom to keep trusting the Lord even when we do not yet understand His entire plan.

Rehobot Youth, closeness to God does not always make all suffering vanish instantly. But God gives us the strength to endure it with faith. When we come to Him through prayer and His Word, we learn to view problems not merely from a human standpoint, but from God’s perspective, which is full of wisdom.

Therefore, do not let suffering drive you away from God. Instead, draw closer to Him during difficult times. Trust that God possesses perfect wisdom and understanding. When we lean on Him, He will grant us the strength to remain steadfast through every season of life.

✅ WHAT TO DO?
1. Come to God when facing problems and struggles.
2. Learn to rely on God, not on our own strength.
3. Trust that God is still at work, even if you do not yet understand the process.

📖 BIBLE MARATHON:
Isaiah 26

21/09/2026

𝐓𝐑𝐔✝️𝐇 𝐃𝐀𝐈𝐋𝐘
𝐄𝐍𝐋𝐈𝐆𝐇𝐓𝐄𝐍𝐌𝐄𝐍𝐓
21 September 2026

*MEMILIH DIA DI TENGAH PENCOBAAN*

Kalimat dalam Doa Bapa Kami yang tertuang dalam Matius 6:13, “Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami daripada yang jahat,” sering kali menimbulkan kebingungan bagi banyak orang, terutama jika dibandingkan dengan peristiwa dalam Matius 4:1 yang menyatakan bahwa Yesus sendiri dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis. Mengapa kita meminta Allah untuk tidak membawa kita ke dalam pencobaan, sementara Sang Anak Allah sendiri mengalaminya atas tuntunan Roh? Jika kita meneliti bahasa aslinya, kata yang digunakan dalam kedua teks tersebut adalah sama, yaitu peirazo. Namun, melalui perbandingan ini, kita justru menemukan sebuah kebenaran fundamental yang harus dihayati oleh setiap anak Allah: pencobaan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia di bumi, tetapi Allah tidak pernah memiliki tujuan untuk menjerumuskan kita ke dalam kebinasaan.

Tuhan memang mengizinkan kita masuk ke dalam keadaan di mana kita dicobai, tetapi Dia tidak akan membiarkan kita jatuh kepada keinginan-keinginan yang bertentangan dengan kehendak-Nya. Dalam setiap pencobaan yang datang melanda, sebenarnya kita sedang berada di sebuah persimpangan ujian: apakah kita mau hanyut ke dalam kehendak pribadi yang didorong oleh ego, atau tetap teguh berdiri di dalam kedaulatan kehendak Allah? Melalui doa ini, kita sebenarnya sedang menerima panggilan untuk tidak menyeret diri kita sendiri kepada keinginan, keputusan, dan pilihan hidup yang berseberangan dengan pikiran Allah. Kita memohon perlindungan agar di tengah tarikan dunia yang begitu kuat, hati kita tetap terpaut pada instruksi-Nya.

Realitas kehidupan Kristen sejati adalah sebuah pergumulan harian yang tak kunjung usai untuk memilih antara dua otoritas: kehendak Allah atau kehendak diri sendiri. Kita harus menyadari dengan sangat jernih bahwa jika sesuatu itu murni merupakan “kehendak kita” yang didorong oleh ambisi daging dan pemuasan hawa nafsu, maka secara otomatis itu bukanlah kehendak Allah. Secara radikal, pengajaran ini mengingatkan kita bahwa tidak ada wilayah netral dalam peperangan rohani ini. Jika pikiran kita tidak diwarnai oleh pikiran Allah, maka pikiran tersebut sedang berada di bawah pengaruh si jahat. Di sinilah pentingnya kita senantiasa memohon pelepasan dari pengaruh jahat tersebut agar roh kita tetap murni.

Melalui Doa Bapa Kami, kita diingatkan bahwa tujuan hidup kita adalah melakukan apa yang dikehendaki Tuhan, bukan apa yang menyenangkan diri kita sendiri. *Selama kita masih bersikeras melakukan apa yang memuaskan ego tanpa memedulikan rencana Bapa, kita sebenarnya sedang melakukan pemberontakan yang halus, tetapi fatal.* Pada saat itu, kita sedang mencoba menjadi “tuhan” atas hidup kita sendiri. Bahayanya, ketika seseorang sudah menjadi tuhan bagi dirinya sendiri, ia akan cenderung bertindak sewenang-wenang terhadap orang lain yang lebih lemah. Inilah akar dari segala kejahatan yang merusak martabat manusia sebagai ciptaan ilahi.

Oleh karena itu, *permohonan agar dilepaskan dari yang jahat adalah permohonan agar kita dimerdekakan dari belenggu kehendak diri yang liar.* Kita meminta agar Allah menjaga seluruh lubuk hati dan pikiran kita supaya tetap tertuju pada kedaulatan-Nya yang kudus. Mari kita jalani hari ini dengan kesadaran penuh bahwa setiap ujian yang datang adalah kesempatan emas untuk membuktikan bahwa Allah adalah satu-satunya Penguasa dalam hidup kita. Pilihlah kehendak-Nya di atas segala-galanya, maka Anda akan menemukan kemenangan serta damai sejahtera yang sejati, bahkan di tengah badai pencobaan dunia yang paling hebat sekalipun.

Tuhan Yesus memberkati🙏🏻

*Permohonan agar dilepaskan dari yang jahat adalah permohonan agar kita dimerdekakan dari belenggu kehendak diri yang liar.*

21/09/2026

𝐓𝐑𝐔✝️𝐇 𝐃𝐀𝐈𝐋𝐘
𝐄𝐍𝐋𝐈𝐆𝐇𝐓𝐄𝐍𝐌𝐄𝐍𝐓 (ENGLISH)
September 21, 2026

*CHOOSING HIM AMID TEMPTATION*

The phrase in the Lord’s Prayer found in Matthew 6:13, “And lead us not into temptation, but deliver us from the evil one,” often confuses many, especially when compared with the event in Matthew 4:1, which states that Jesus himself was led by the Spirit into the wilderness to be tempted by the devil. Why do we ask God not to lead us into temptation, while the Son of God experienced it under the Spirit’s guidance? If we examine the original language, the same word peirazo is used in both passages. Yet from this comparison we discover a fundamental truth every child of God must embrace: temptation is an inseparable part of human life on earth, but God never intends to drag us into destruction.

God does allow us to enter situations where we are tempted, but He will not let us fall into desires that contradict His will. In every temptation that assails us, we stand at a testing crossroads: will we be swept into personal desires driven by the ego, or will we remain steadfast in the sovereignty of God’s will? Through this prayer, we are in fact accepting a call not to drag ourselves into impulses, decisions, and life choices that run counter to God’s mind. We ask for protection so that amid the strong pulls of the world our hearts remain anchored to His instructions.

The reality of true Christian life is a daily struggle to choose between two authorities: God’s will or our own will. We must clearly realize that if something is purely our “will,” driven by the ambitions of the flesh and the gratification of cravings, then it is not God’s will. Radically, this teaching reminds us that there is no neutral ground in this spiritual warfare. If God’s thoughts do not shape our mind, then it is under the influence of the evil one. This is why it is important to constantly pray for deliverance from that evil influence so our spirit remains pure.

Through the Lord’s Prayer we are reminded that our life’s purpose is to do what God desires, not merely what pleases ourselves. *As long as we stubbornly pursue what satisfies the ego without caring for the Father’s plan, we are actually committing a subtle but fatal rebellion.* At that point we are trying to be the “god” of our own life. The danger is that once a person becomes a god unto themselves, they tend to act arbitrarily toward the weaker. This is the root of many evils that undermine the dignity of humans as divine creation.

Therefore, *the plea to be delivered from the evil one is a request to be freed from the shackles of untamed self-will.* We ask God to guard the depths of our hearts and minds so they remain fixed on His holy sovereignty. Let us live today with full awareness that every trial is a golden opportunity to prove that God alone rules our lives. Choose His will above all else, and you will find true victory and peace—even in the midst of the fiercest worldly temptations.

May The Lord Jesus bless you🙏🏻

*The plea to be delivered from the evil one is a request to be freed from the shackles of untamed self-will.*

21/09/2026

*REHOBOT KIDS DAILY DEVOTIONAL* (ENGLISH)
September 21, 2026

*BUILDING “FAITH MUSCLES”*

Romans 12:12
_“Be joyful in hope, patient in affliction, faithful in prayer.”_

Hi, Rehobot Kids! What do you usually do to make your body strong and healthy? Of course, by eating nutritious food and exercising regularly, right? Did you know that faith is also like a muscle that needs to be trained every day? One way to strengthen faith is by being persistent in prayer, as taught in Romans 12:12.

Perseverance means continuing to do it faithfully and not easily giving up. Perseverance in prayer means getting used to talking to God every day, for example, when waking up in the morning, before studying, when facing difficulties, and before sleeping. We do not only pray when we need help, but also when we give thanks, praise God, and entrust every step of our lives to Him.

The more diligently we pray, the stronger our faith becomes. Prayer is like charging a battery to keep it full. When we are close to God, our hearts are strengthened to face challenges, not easily discouraged, and increasingly sensitive to His guidance. God greatly values prayers offered with a sincere and loving heart toward Him.

Come on, Rehobot Kids, make prayer a daily habit. Consider prayer as the breath of our spiritual life, a place where we speak, give thanks, and surrender our lives to God. By continuing to live in prayer, our faith will grow stronger and we will develop into faithful children walking with God.

21/09/2026

*REHOBOT KIDS DAILY DEVOTIONAL*
21 September 2026

*MEMBANGUN “OTOT IMAN”*

Roma 12:12
_“Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!”_

_Hai,_ Rehobot _Kids!_ Apa yang biasanya kalian lakukan agar tubuh menjadi kuat dan sehat? Tentu dengan makan makanan bergizi dan berolahraga secara teratur, bukan? Tahukah kalian bahwa iman juga seperti otot yang perlu dilatih setiap hari? Salah satu cara melatih iman adalah dengan bertekun dalam doa, seperti yang diajarkan dalam Roma 12:12.

Bertekun berarti terus melakukannya dengan setia dan tidak mudah menyerah. Bertekun dalam doa berarti membiasakan diri berbicara dengan Tuhan setiap hari, misalnya saat bangun pagi, sebelum belajar, ketika menghadapi kesulitan, dan sebelum tidur. Kita tidak hanya berdoa saat membutuhkan pertolongan, tetapi juga saat mengucap syukur, memuji Tuhan, dan menyerahkan setiap langkah hidup kita kepada-Nya.

Semakin kita tekun berdoa, semakin kuat p**a iman kita. Doa seperti mengisi daya baterai agar tetap penuh. Ketika kita dekat dengan Tuhan, hati kita dikuatkan untuk menghadapi tantangan, tidak mudah putus asa, dan semakin peka mendengar tuntunan-Nya. Tuhan sangat menghargai doa yang dinaikkan dengan hati yang tulus dan penuh kasih kepada-Nya.

_Yuk,_ Rehobot _Kids,_ jadikan doa sebagai kebiasaan setiap hari. Anggaplah doa sebagai napas kehidupan rohani kita, tempat kita berbicara, bersyukur, dan menyerahkan hidup kepada Tuhan. Dengan terus hidup dalam doa, iman kita akan semakin kuat dan kita akan bertumbuh menjadi anak-anak yang setia berjalan bersama Tuhan.

21/09/2026

𝕽𝖎𝖌𝖍𝖙𝖊𝖔𝖚𝖘𝖓𝖊𝖘𝖘 𝕺𝖋 𝕮𝖍𝖗𝖎𝖘𝖙:

Selama kita masih bersikeras melakukan apa yang memuaskan ego tanpa memedulikan rencana Bapa, kita sebenarnya sedang melakukan pemberontakan yang halus, tetapi fatal.

21 September 2026
Pdt. Dr. Erastus Sabdono

21/09/2026

𝐐𝐮𝐨𝐭𝐞 𝐨𝐟 𝐭𝐡𝐞 𝐝𝐚𝐲:

Kalau kita memiliki niat untuk berubah, maka setiap peristiwa hidup akan mulai berbicara.

21 September 2026
Pdt. Dr. Erastus Sabdono

20/09/2026

𝐓𝐑𝐔✝️𝐇 𝐃𝐀𝐈𝐋𝐘
𝐄𝐍𝐋𝐈𝐆𝐇𝐓𝐄𝐍𝐌𝐄𝐍𝐓 (ENGLISH)
September 20, 2026

*PREPARING THE HEART BEFORE PRAY*

We may have prayed earnestly, yet somehow our heart feels numb, as if something is lodged inside that cannot be explained. Perhaps the cause lies in Jesus’ own words. When teaching about prayer, Jesus pointed to the state of our hearts as we stand before the Father. We may pray with beautiful words, a gentle voice, even tears. But if there remains a grievance in our heart toward someone, we cannot draw near to God sincerely.

Mark 11:24–26 invites us to see that faith in prayer cannot be separated from a heart willing to forgive. The Lord never taught prayer as if we might ask anything of God while closing our eyes to the responsibility of making peace with others. Our relationship with God is always linked to our relationship with people.

Sometimes, without realizing it, we make prayer an escape from the duty of reconciliation. We come to God seeking peace but are unwilling to let Him touch the root of hidden bitterness. We ask for blessing, help, and a way out, yet avoid it whenever the name of someone who caused our inner wound comes to mind. At that point, prayer loses its meaning as surrender and quietly becomes a subtle way to keep control of our own hearts.

Certainly, forgiving does not mean that all problems are instantly resolved. Not every relationship can be restored in the same way or at the same time. Some wounds require a long process, some boundaries must be kept for mental health, and some justice still needs to be served. However, one thing must not be compromised: do not let the heart continue to refuse forgiveness. Do not stand before God while secretly still holding the right to hate. *Do not ask for His mercy while you yourself shut the door of mercy to others.*

Approaching God truly means valuing the price of Christ’s blood that was poured out. We can come to the Father not because of our worthiness, but because Christ opened the way through His costly sacrifice. *If we have been accepted by such grace, how can we still hold on to others’ faults?*

Therefore, before praying, take a moment to examine your heart. Don’t rush to present your list of requests. Be still before the Lord, then ask yourself honestly: who still makes this heart hard? Who do we still speak of inwardly with a bitter tone? Whose name alone causes us to want to withdraw, retaliate, or punish? If there are any, bring those names into prayer. Admit honestly that our heart is not yet wholly clean, and ask for the courage to take real steps toward reconciliation as far as we are able.

A forgiving heart not only makes our prayer more genuine before God but also makes our life a blessing to those around us. A person whose heart has been touched by God’s mercy will bring a different atmosphere wherever they go. They will no longer live from old wounds but from grace that is continually renewed. True prayer is not born from a heart that preserves resentment, but from a heart willing to be cleansed before God and ready to display gentleness born of obedience.

So do not separate prayer from the ongoing housekeeping of life. *Spiritual courage is not merely daring to ask for miracles, but also daring to let God expose the parts of the heart we have hidden.* There, prayer becomes true worship—not merely an expression of need, but sincere surrender to the Father’s will. Perhaps some of our prayers have been hindered because we have refused to clear our hearts toward someone. Today, let us stand honestly before God. Release what must be released. Allow the Lord to form our hearts to be able to forgive. For God not only hears our words; He sees the heart we bring each time we kneel to pray.

The Lord Jesus bless you🙏🏻

*If there remains a grievance in our heart toward someone, we cannot draw near to God sincerely.*

20/09/2026

𝐓𝐑𝐔✝️𝐇 𝐃𝐀𝐈𝐋𝐘
𝐄𝐍𝐋𝐈𝐆𝐇𝐓𝐄𝐍𝐌𝐄𝐍𝐓
20 September 2026

*MEMBERESKAN HATI SEBELUM BERDOA*

Kita mungkin pernah berdoa dengan sungguh-sungguh, tetapi entah mengapa hati terasa hambar, seperti ada sesuatu yang mengganjal dan tidak bisa dijelaskan. Barangkali penyebabnya terletak pada perkataan Tuhan Yesus sendiri. Ketika mengajar tentang doa, Tuhan Yesus menunjuk pada keadaan hati yang kita bawa ketika berdiri di hadapan Bapa. Kita bisa saja berdoa dengan kalimat yang indah, suara yang lembut, bahkan diiringi air mata. Namun, jika di dalam hati masih tersimpan ganjalan terhadap seseorang, kita tidak dapat menghampiri Allah dengan tulus.

Markus 11:24–26 mengajak kita melihat bahwa iman dalam doa tidak dapat dipisahkan dari hati yang mau mengampuni. Tuhan tidak pernah mengajarkan doa seakan-akan kita boleh meminta apa saja kepada Allah sambil menutup mata terhadap tanggung jawab untuk berdamai dengan sesama. Relasi kita dengan Allah selalu bertautan dengan relasi kita dengan manusia.

Terkadang, tanpa sadar, doa kita jadikan tempat pelarian dari kewajiban untuk berdamai. Kita datang kepada Tuhan mencari ketenangan, tetapi enggan membiarkan Dia menyentuh akar kepahitan yang tersembunyi. Kita meminta berkat, pertolongan, dan jalan keluar, namun menghindar setiap kali nama seseorang yang masih kita simpan sebagai penyebab luka batin muncul dalam ingatan. Di titik inilah doa kehilangan maknanya sebagai penyerahan diri, lalu diam-diam berubah menjadi cara halus untuk tetap memegang kendali atas hati sendiri.

Tentu, mengampuni bukan berarti semua persoalan langsung selesai begitu saja. Tidak semua hubungan dapat dipulihkan dengan cara dan waktu yang sama. Ada luka yang membutuhkan proses panjang, ada batas yang tetap harus dijaga demi kesehatan jiwa, dan ada keadilan yang tetap perlu ditegakkan. Namun, ada satu hal yang tidak boleh kita tawar: jangan biarkan hati terus menolak untuk mengampuni. Jangan berdiri di hadapan Allah sambil diam-diam masih menggenggam hak untuk membenci. *Jangan meminta kemurahan-Nya, sementara kita sendiri menutup pintu kemurahan bagi orang lain.*

Menghampiri Allah sejatinya berarti menghargai harga darah Kristus yang telah tercurah. Kita boleh datang kepada Bapa bukan karena kelayakan kita, melainkan karena Kristus sudah membuka jalan itu melalui pengorbanan-Nya yang mahal. *Kalau kita sudah diterima oleh anugerah sebesar itu, bagaimana mungkin kita masih menyimpan kesalahan orang lain?*

Karena itu, sebelum berdoa, luangkanlah waktu sejenak untuk memeriksa hati. Jangan terburu-buru menyampaikan daftar permohonan. Diamlah dahulu di hadapan Tuhan, lalu tanyakan dengan jujur kepada diri sendiri: siapa yang masih membuat hati ini keras? Siapa yang masih kita bicarakan dalam batin dengan nada pahit? Siapa yang namanya saja sudah membuat kita ingin menjauh, membalas, atau menghukum? Kalau masih ada, bawalah nama-nama itu dalam doa. Akui dengan jujur bahwa hati kita belum sepenuhnya bersih, dan mintalah keberanian untuk mengambil langkah nyata menuju perdamaian, sejauh yang dapat kita lakukan.

Hati yang mau mengampuni bukan hanya membuat doa kita lebih benar di hadapan Allah, tetapi juga menjadikan hidup kita berkat bagi orang-orang di sekitar kita. Orang yang hatinya telah disentuh kemurahan Allah akan membawa suasana yang berbeda ke mana pun ia pergi. Ia tidak lagi hidup dari luka lama, melainkan dari anugerah yang terus diperbarui. Doa yang benar tidak lahir dari hati yang mempertahankan dendam, tetapi dari hati yang rela dibereskan di hadapan Allah serta kesediaan untuk menghadirkan kelembutan yang lahir dari ketaatan.

Maka, jangan pisahkan doa dari pemberesan hidup sehari-hari. *Keberanian rohani bukan sekadar berani meminta mukjizat, melainkan juga berani membiarkan Allah membongkar bagian hati yang selama ini kita sembunyikan.* Di sanalah doa sungguh menjadi ibadah yang sejati, bukan sekadar ungkapan kebutuhan, melainkan penyerahan diri yang tulus kepada kehendak Bapa. Barangkali ada doa-doa kita yang selama ini terhalang karena kita menolak membereskan hati terhadap seseorang. Hari ini, mari berdiri di hadapan Allah dengan jujur. Lepaskan apa yang harus dilepaskan. Biarkan Tuhan membentuk hati kita agar sanggup mengampuni. Sebab Allah tidak hanya mendengar kata-kata kita; Ia melihat hati yang kita bawa setiap kali kita berlutut untuk berdoa.

Tuhan Yesus memberkati🙏🏻

*Jika di dalam hati masih tersimpan ganjalan terhadap seseorang, kita tidak dapat menghampiri Allah dengan tulus.*

Address

Artha Gading
Jakarta

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Hidup Kudus - Pencinta Suara Kebenaran posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share